Tuesday, 14 April 2015

Belajar dari Perang Mu’tah Menuju Rapat dan Pawai Akbar 1436






Perang Mu’tah terjadi pada bulan Jumadil Ula tahun ke-8 setelah hijrah. Perang Mu’tah merupakan tindak lanjut dari pengiriman para utusan Rasulullah saw ke berbagai negara-negara  tetangga dan juga sebagai pembuka jalan dakwah ke luar Jazirah Arab dengan Syam sebagai sasaran pertama.

Dalam perang ini, kekuatan pasukan kaum muslimin dengan musuh sangatlah tidak berimbang. 3000 kaum muslimin menghadapi 200.000 pasukan musuh. Dan memang banyak kaum muslimin yang syahid dalam perang ini. Dengan strategi yang diambil Khalid bin Walid yaitu memecah pasukan kaum muslimin untuk menggentarkan musuh, kaum muslimin berhasil membuat musuh mundur tanpa berperang lagi. Dengan strategi ini kaum muslimin berhasil membuktikan bahwa mereka terus berusaha membuat musuh gentar.

Perang ini juga membuktikan betapa kaum muslimin siap berperang menyongsong maut. Bahkan maut yang dilihat di depannya malah diterjang. Mereka terjun ke medan perang dan siap  terbunuh dan memang terbunuh. Mereka berani  melakukannya  karena  Islam  memerintahkan  setiap  Muslim berperang  di  jalan-Nya,  sehingga  mereka berhasil  membunuh  atau dibunuh. Sesungguhnya perang adalah jual-beli yang  menguntungkan karena perang adalah jihad di jalan Allah.

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; lalu mereka membunuh atauterbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalamTaurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar”  (TQS at-Taubah[9]: 111).

Mereka berperang meskipun maut menjemput mereka. Semua Muslim berperang tanpa melihat lagi apakah maut akan mengakhirinya ataukah tidak? Dalam peperangan dan jihad semua perkara tidak bias diukur dengan jumlah musuh, banyak atau sedikitnya.Akan tetapi, diukur dengan  hasil-hasil yang dikeluarkannya,  tanpa melihat lagi berbagai tuntutan yang berhubungan dengan pengorbanan atau keberhasilan yang menjadi target dari peperangan. Kaum Muslim berperang menghadapi pasukan Romawi di Mu’tah yang memang wajib bagi kaum Muslim untuk berperang, begitu pula wajib bagi komandan-komandanpasukan untuk terjun ke  medan  perang seseuai dengan tujuan kedatangan mereka,walaupun kematian yang disodorkan oleh orang-orang berkulit merah itu tengah menyongsong di hadapan mereka.

Karena itu, wajib bagi setiap Muslim untuk tidak takut mati dan mereka tidak perlu memperhitungkan faktor lainnya di jalan Allah. Rasul saw mengetahui  bahwa pengiriman pasukannya  ke  negara Romawi berada dalam batasan-batasan yang sangat mengkhawatirkan dan penuh bahaya. Akan tetapi, kekhawatiran dan bahaya ini harus menimbulkan rasa takut pada  pasukan  Romawi,  tatkala  mereka melihat semangat tempur pasukan kaum Muslim dan semangatnya mencari  mati, meski jumlah mereka  sedikit. Kekhawatiran ini  harus  mampu merumuskan (menciptakan)  jalan  bagi  kaum  Muslim  untuk  jihad  dalam  rangka menyebarkan Islam dan menerapkannya di negara-negara yang hendak dimasukinya. Kekhawatiran atau bahaya ini justru menguntungkan kaum Muslim, karena menjadi jalan pembuka perang Tabuk. Untuk selanjutnya berhasil memukul Romawi.  Hal ini berdampak dengan  kekhawatiran mereka  menghadapi  kaum  Muslim,  sehingga  wilayah  Syam  dapat dibebaskan.

Menuju Rapat dan Pawai Akbar 1436
Dan salah satu agenda pada bulan Rajab 1436 nanti adalah Rapat dan Pawai Akbar. Agenda akbar yang diikuti kaum muslimin se-Jawa Timur. Dan juga diselenggaran di berbagai kota di Indonesia.  Tentu bukan agenda yang penuh kesenangan, namun agenda yang membutuhkan banyak pengorbanan. Sebuah acara dalam rangka mengajak umat untuk menyelamatkan Indonesia yang saat ini terancam neoliberalisme dan neoimperialisme. Menyelamatkan negeri tercinta dengan penegakkan syari’ah secara kaffah dalam naungan khilafah.

Kegiatan yang tidak hanya euphoria belaka, tetapi kegiatan yang didahului dengan berbagai aktivitas berinteraksi dengan umat tentang fakta negeri ini yang semakin terpuruk dengan kebijakan yang sangat kental dengan agenda neoliberalisme dan neoimperialisme.

Neoliberalisme membuat Negara bukan hanya tidak boleh mengatur harga tetapi juga tidak boleh mengatur kepemilikan. Semua hal boleh dijadikan alat ekonomi termasuk yang vital bagi rakyat seperti air, listrik,migas, tambang dan lain lain semua boleh diprivatisasi (dikuasai dan dikelola) oleh swasta untuk kemudian dijual kepada rakyat.

Neoimperialisme, bentuk kolonialisme baru dimana uang menjadi senjatanya. Istilah ini juga merujuk kepada perusahaan multinasional dan juga lembaga ekonomi dunia seperti Bank Dunia dan IMF yang beroperasi di Negara-negara berkembang atau miskin. Tujuannya tetap sama dengan imperialisme  lama, yakni mengendalian pemerintahan suatu Negara untuk menguasai aset-aset ekonomi di Negara tersebut.

Adapaun tanda sebuah Negara dikuasai oleh neoliberalisme dan neoimperialisme adalah semua kebijakan yang tercermin di dalam undang-undang dan peraturan pemerintahan yang sangat memihak kepentingan asing. Konsekuensinya, pemerintah Negara tersebut menjadi pelayan (jongos) asing. Negara dibuat tidak becus di dalam mengurus sumberdayanya (tambang mineral dan migas) serta dibuat tidak becus dalam mengelola barang public ( air, listrik dll) sebagai sarana memberi jalan bagi swasta khususnya asing untuk mengambil alih sector-sektor tersebut. Lebih parahnya lagi mereka mempersilakan asing untuk mengelola infrastruktur vital Negara seperti pelabuhan laut dan bandara dengan alasan sama, yakni perlu bantuan dana investasi atau karena tidak becus menjalankannya.

Harus ada aktivitas dakwah untuk menyadarkan umat tentang apa sebenarnya yang mengancam negeri ini. Berusaha sekuat tenaga memahamkan umat dengan bahasa dan contoh yang bisa dimengerti umat di dekat kita. Menyesuaikan dengan fakta yang paling dekat dengan umat di sekitar kita.

Harus ada aktivitas memahamkan umat tentang gambaran yang benar tentang khilafah sebagai penyelamat negeri ini. Mengajak belajar bersama, memahami kewajiban menerapkan syariah Allah SWT, mengajak umat untuk menjadi bagian dalam perjuangan.

Jelas, itu semua bukan aktivitas semudah membalikkan tangan. Membutuhkan pengorbanan yang luar biasa, membutuhkan kesiapan fisik dan mental. Siap dengan semua risiko, hambatan dan tantangan yang menghadang. Membutuhkan kesabaran dan keikhlasan. Sabar dengan celaan, sabar dengan cemoohan, sabar dengan ketidaksabaran umat dan ikhlas menjalani semuanya, lillahi ta’ala. Karena tak ada imbalan materi sedikitpun. Dan sebuah agenda yang tidak seberapa jika dibandingkan dengan Perang mu’tah.




Pare, 14 April 2015

Sumber :
Daulah Islam bab Perang Mu’tah
Materi Kampanye #IndonesiaKitaTerancam Neoliberalisme dan Neoimperialisme
 #SelamatkanIndonesiadenganSyariahdanKhilafah