Wednesday, 18 October 2017

Sayang, opo kowe krungu jerite atiku ?



Awal kali penasaran dengan lagu ini ketika ada paduan suara saat wisuda di sebuah universitas, ternyata ini lagunya.

Syairnya menurut saya ya retoris belaka, tak perlu ditanyakan lagi ,jeritan hati yang sangat mungkin tidak diketahui orang lain. Mau orang lain tau apa isi hati kita atau pikiran kita ya ucapkan secara lisan atau tulisan, tidak semua orang ngerti ilmu batin, apa yang tidak disampaikan ya tidak akan dimengerti.

Dan saat ini mungkin ada banyak jeritan rakyat yang  tak terucapkan, sudah bosan menyampaikan keluhan. Sekeras apapun jeritan rakyat sudah tak bisa menembus  pendengaran penguasa. Dan akhirnya bisa menjerit dalam hati saja.

Data terbaru dari BI per Agustus 2017 utang luar negeri Indonesia tercatat 4.590,9 triliun rupiah, tumbuh 4,7 persen  dibandingkan Juli 2017. Lagi-lagi rakyat kecil tak bisa membayangkan sebanyak apa uang 4500 triliun. Yang ditahu hanya pemerintah terus membangun infrastruktur yang tidak semuanya bisa dinikmati seluruh rakyat, rakyat tahunya kehidupan semakin sempit, pajak semakin melangit, rakyat tidak tahu apa saja yang sudah dujual pemerintah untuk membayar utang beserta bunganya.

Rakyat semakin sering disuguhi pencitraan dan pengalihan isu. Rakyat seringkali disuguhi ketidakadilan penguasa menegakkan hukum, rakyat seringkali disuguhi polemic kebijakan yang dikeluarkan dengan seenaknya sendiri.

Dan saat ini rakyat juga dimanfaatkan, dibenturkan agar tidak terjadi keharmonisan dalam kehidupan. Pengajian dibubarkan dibiarkan, Ustadz diusir dibiarkan, gesekan antar rakyat digalakkan. Biarlah rakyat sibuk dengan perpecahan sehingga tidak sempat mengalihkan pandangan terhadap kebijakan pemerintah.

Penguasa saat ini benar-benar semena-mena, syariat Allah diabaikan, hukum Allah dijadikan bahan olokan. Dan  salah satu kekejaman adalah pembubaran ormas HTI. Dengan semenang-menang  tanpa memberikan alasan yang jelas dan sah di pengadilan HTI langsung dibubarkan. Padahal tidak ada bukti kader HTI korupsi, tidak ada bukti anggota HTI menjual asset Negara, tidak ada bukti HTI berpihak pada asing. Sungguh kejam nian penguasa yang disetir kemauan para pemilik modal. Padahal ada banyak parpol yang kadernya jelas banyak terlibat korupsi, ada banyak ormas yang seringkali semena-mena, ada ormas yang nyata berbuat rusuh namun dibiarkan begitu saja. 

Maka, upaya untuk terus menolak PERPPU Ormas yang menjadai salah satu bukti kedzaliman penguasa akan terus dilakukan.

Aksi massa menolak PERPPU, menggalang dukungan masyarakat dan para tokoh, harus terus dilaksanakan. Bukan karena sakit hati, tetapi mencegah kemungkaran adalah sebuah kewajiban, menasehati agar tidak dzalim adalah sebuah kewajiban. Dakwah amar makruf nahi mungkar adalah perintah Allah, legalitasnya dari Allah, tidak akan berhenti meski manusia menghalangi.

Perlawanan nyata melawan kedzaliman penguasa akan terus dilakukan, perlawanan itu tidak akan berubah menjadi sekadar jeritan hati,menyampaikan opini dakwah secara nyata dengan selalu memohon kepada Allah, perlawanan penduduk bumi dan perlawanan dengan bantuan langit, pasti akan membuahkan hasil, karena Allah tidak akan pernah mengingkari janji.