Tuesday, 3 March 2020

Bandara Kediri, Siapa Yang Menikmati?




Bandara Kediri yang diinisiasi perusahaan rokok PT Gudang Garam Tbk (GGRM) akan mulai dibangun pada April 2020. Bandara baru ditargetkan bisa melayani 2,5 juta penumpang, lalu berkembang bertahap hingga 10 juta penumpang per tahun. Pembangunan diperkirakan berlangsung dua tahun dengan target bandara beroperasi pada 2022. Gudang Garam menjadi investor berkolaborasi dengan pemerintah, baik pusat maupun pemda, dalam proyek pembangunan Bandara Kediri. Pembangunan bandara itu menggunakan skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), dimana dana pembangunan bandara seluruhnya dibiayai Gudang Garam. “Pertama kali swasta full menginvestasikan suatu bandara. Dan inipun dilakukan dengan KPBU. Artinya bagian tanah-tanah tertentu diserahkan ke kita, terus Gudang Garam mendapatkan suatu konsesi bisa 30 tahun atau 50 tahun,” kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dalam keterangannya, Minggu (16/2/2020). (Kompas.com)[1]. Dari rencana tersebut, setidaknya ada tiga hal yang perlu dikritisi dari pembangunan bandara ini, pertama terkait pelibatan penuh swasta, kedua skala prioritas pembangunan dan ketiga lepasnya negara dari peran mengurusi rakyat.

Swasta Menguasai Infrastruktur
Pembangunan bandara Kediri yang seluruh dananya dibiayai oleh swasta yang dalam hal ini adalah Gudang Garam adalah bukti nyata bahwa pembangunan infrastuktur dikuasai oleh swasta, maka jelas yang akan mengambil keuntungan lebih adalah pihak swasta bukan negara. Ini bukan hal pertama di Indonesia. Sudah banyak infrastruktur yang dibangun dengan menggunakan dana swasta atau bahkan investasi asing. Untuk bandara Kediri memang kesepakatannya adalah konsensi antara 30 hingga 50 tahun. Maka selama itu pula pihak swasta lah yang akan sangat diuntungkan. Dan bukan rahasia lagi, ketika swasta menguasai pengelolaan infrastruktur maka hilanglah fungsi pelayanan publik, yang ada relasi antara perusahaan dengan konsumen, yaitu hitungan untung rugi, bukan mengabdi demi kepentingan seluruh rakyat. Iming-iming keberadaan bandara akan berkontribusi pada kesejahteraan warga sekitar, akan mendongkrak roda perekonomian sejatinya hanyalah pemanis saja, jika pun ada keuntungan maka rakyat hanya menikmati recehan atau bahkan tetesan keuntungan yang kecil sekali jika dibandingkan dengan keuntungan yang didapatkan perusahaan swasta pengelola.

Masyarakat Kediri harusnya belajar dan membuka mata dengan fakta penguasaan pembangunan dan pengelolaan infrastruktur oleh swasta atau asing di negeri ini. Dengan penguasaan swasta atau asing maka mereka pulalah yang menjadi penentu kebijakan pengelolaan, maka jangan heran ketika suatu saat nanti komersialisasi fasilitas yang dibutuhkan rakyat akan menguras kantong rakyat. Dan rakyat yang merasa butuh tanpa bisa berbuat apa-apa hanya bisa menerima. Tidak hanya itu, penguasaan infrastruktur oleh sekelompok orang saja juga akan sangat mungkin terjadi, Gudang Garam berhak memilih pihak yang akan diajak kerjasama dalam mengelola bandara, boleh menggandeng PT Angkasa Pura boleh juga bekerjasama dengan konsorsium yang dibentuk oleh Gudang Garam. Lagi-lagi ini juga bukan rahasia lagi, dalam sistem kapitalisme tidak mungkin relasi antar perusahaan pengelola sebatas tolong-menolong tanpa imbalan, namun jelas demi mengejar keuntungan sebesarnya. Dan rakyat hanya bisa gigit jari. Masyarakat harus membuka mata dengan keputusan pemerintah yang telah banyak menyerahkan pengelolaan berbagai infrastruktur ke tangan  BUMN, swasta atau asing. Penyerahan kepada BUMN pun masih membuka celah penguasaan saham oleh swasta asing meski tidak mendominasi, apalagi jika pengelolaan infrastruktur diserahkan kepada swasta atau asing sepenuhnya.

Bisa jadi pemerintah akan berkelit menggunakan alasan bahwa pengelolaan swasta pada infrastruktur strategis hanya sebatas Hak Pengelolaan Terbatas (Limited Concession Scheme/LCS). Yang berarti pemerintah masih menjadi pemilik sah infrastruktur. Tentu saja alasan ini tak seindah faktanya, pemerintah hanya sebagai pemilik di atas kertas selama masa konsensi belum berakhir, dengan kata lain memiliki namun tak menikmati. Ini dari aspek keuntungan pengelolaan. Sedangkan dari pemanfaatan, tentu tidak semua warga Kediri dan sekitarnya membutuhkan keberadaan bandara. Malah dengan adanya bandara penguasaan swasta pada perekonomian juga akan semakin menguat. Roda perekonomian yang digerakkan oleh para pemilik modal diprediksi akan semakin kencang berputar, arus investasi dan pengelolaan  SDA  di jalur selatan semisal potensi emas di Trenggalek dan potensi bentang alam di Tulungagung akan semakin mudah. Tentu ini menguntungkan perusahaan yang telah mendapatkan hak untuk mengelola dan mengeruk kekayaan alam. Dengan demikian bisa disimpulkan, yang menikmati bandara Kediri bukanlah seluruh warga Kediri dan sekitarnya, bukan rakyat namun segelintir konglomerat.

Bandara, Perlu Namun Belum Penting
Dinas Kesehatan Jawa Timur pada April 2019 merilis data  12  kabupaten di Jawa Timur yang mengalami stunting, 3 di antaranya adalah Kediri, Nganjuk dan Trenggalek[2]. Memang sudah ada upaya untuk menurunkan angka stunting, akan tetapi ketiga kabupaten yang masuk 12 besar Jawa Timur tersebut adalah wilayah yang menjadi sasaran pengaruh pembangunan Bandara Kediri. Artinya, ada permasalah penting yang seharusnya menjadi perhatian, yaitu memastikan tidak adanya kasus stunting, karena membiarkan kasus stunting berarti telah mengabaikan hak warga dan menggadaikan masa depan generasi.

Tidak hanya masalah stunting, pembangunan yang belum merata di daerah seharusnya menjadi skala prioritas. Pembangunan jalan yang layak hingga seluruh pelosok desa, menambah fasilitas kesehatan, pendidikan dan memberikan dukungan dana untuk pengembangan dan peningkatan kualitas SDM lebih dibutuhkan rakyat daripada sekadar rasa bangga memiliki bandara. Menambah jumlah puskemas yang memiliki sarana lengkap, RS dengan fasilitas terbaik namun bisa dijangkau rakyat, pemberian gaji terbaik untuk tenaga kesehatan dan sebagainya. Mengingat pula Kediri dan sekitarnya adalah wilayah yang menjadi langganan beberapa penyakit semisal DBD. Berikutnya adalah memperbaiki dan melengkapi fasilitas pendidikan. Tidak bisa ditutupi, banyak sekolah negeri yang hanya menikmati fasilitas seadanya, sedangkan sekolah swasta harus mati-matian bertahan, jika ingin melengkapi fasilitas hanya bisa membebankan kepada orang tua siswa. Sedangkan kebutuhan SDM di beberapa bidang juga sangat diperlukan, terutama di bidang kesehatan dan pendidikan. Dokter yang diberi gaji tinggi oleh pemerintah akan lebih tenang saat bertugas, begitu pula pentingnya penambahan dokter spesialis yang masih menjadi rebutan di banyak RS. Begitu juga dengan perhatian di bidang pendidikan, mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi, semisal pemerintah yang seharusnya menjamin pendidikan murah namun berkualitas, diharapkan bisa mencetak SDM yang berkualitas yang dibutuhkan rakyat. Inilah yang seharusnya menjadi skala prioritas pembangunan, membangun yang dibutuhkan rakyat banyak, bukan membangun infrastruktur yang hanya menguntungkan pengusaha saja.

Negara Lepas Tangan Dari Mengurusi Rakyat
Bandara adalah salah satu fasilitas yang dibutuhkan rakyat di bidang transportasi, keberadaannya memang tidak boleh diabaikan. Bandara adalah fasilitas umum yang seharusnya dibangun Negara untuk dinikmati oleh seluruh rakyatnya. Maka penyerahan pembangunan dan pengelolaan infrastruktur penting kepada swasta adalah bentuk lepas tangannya negara. Fungsi negara sebagai pelayan, pengayom dan pengurus urusan rakyat sedikit demi sedikit menghilang, berganti dengan relasi yang dijiwai aspek kewirausahaan (untung-rugi), dan minus aspek pelayanan, ketulusan, dan kasih sayang. Ini merupakan hal yang wajar terjadi dalam system sistem politik demokrasi dan sistem ekonomi kapitalisme. Pengelolaan kekuasaan dan wewenang negara yang dilandaskan pada paradigma sekularisme Good Governance atau Reinventing Government, atau konsep New Public Management, yang ketiganya mengandung muatan paradigma yang sama. Yakni berintikan dua pandangan berbahaya kapitalisme. Yaitu pertama, barang pemenuh hajat hidup publik seperti pangan, air bersih, perumahan, energi, dan transportasi; maupun jasa seperti kesehatan dan pendidikan hanyalah komoditas ekonomi untuk dikomersialkan. Sehingga harganya terus bergejolak. Demi harga, meski banyak yang membutuhkan, para korporasi tak segan-segan melakukan pemusnahan. Seperti akan ada pemusnahan 10 juta bibit ayam atau “day old chick” (DOC) per minggu, di tengah puluhan juta orang yang kelaparan di Indonesia dan ratusan juta di dunia. Kedua, kewirausahaan atau untung rugi harus dijadikan spirit yang menjiwai hubungan pemerintah terhadap rakyat dan kehadiran pemerintah adalah untuk pelayanan korporasi. Kedua pandangan ini adalah inti paradigma good governance, reinventing government dan melahirkan sejumlah konsep berbahaya. Perusak fungsi asli negara sebagai pelayanan (raa’in) dan pelindung rakyat (junnah).[3]

Matinya fungsi negara sebagai pelayan dan pengurus rakyat adalah konsekuensi dari penerapan sistem kapitalisme di negeri ini, yang juga berpengaruh hingga ke daerah, termasuk dalam hal pembangunan bandara Kediri. Harus disadari bahwa Kediri dan sekitarnya saat ini sedang menjadai sasaran empuk untuk semakin mengukuhkan jati diri penguasa yang liberal dan sekular. Kebijakan yang diambil sama sekali bukan demi kepentingan seluruh rakyat, namun hanya demi kepentingan melanggengkan kekuasaan dan bersimbiosis mutualisme dengan para pemilik modal untuk menghisap potensi sumber daya alam dan ekonomi di seluruh penjuru negeri, tanpa lagi mempedulikan rakyat yang sebelumnya telah memberikan kepercayaan melalui pemilu.

Penutup
Pembangunan bandara Kediri saat ini perlu dipertimbangkan secara mendalam jika perlu ditunda, diperlukan kajian menyeluruh terkait dampak lingkungan, baik dari aspek alam maupun sosial kemasyarakatan. Bahkan jika perlu dihentikan jika masih bergantung pada swasta karena pasti bukan rakyat yang akan menikmati. Masih ada prioritas yang harus didahulukan untuk merealisasikan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia, yaitu dengan jaminan pemenuhan kebutuhan pokok sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan yang murah atau bahkan gratis dengan pelayanan terbaik. Memang permasalahan yang menimpa negeri ini adalah permasalahan sistemik, akibat penerapan sistem kapitalisme yang batil, oleh karena itu diperlukan upaya yang serius pula untuk mewujudkan sistem sahih yang menjamin kesejahteraan seluruh rakyat, yang mewujudkan peran negara sebagai pengurus urusan umat, mengurus umat sesuai dengan aturan terbaik dari Allah SWT, sistem itu adalah sistem Islam. Sistem Islam hanya akan terwujud dengan dakwah terus menerus untuk membentuk kesadaran umat, bahwa umat butuh untuk diatur dengan aturan Allah dan rasulNya. Maka hanya ada satu pilihan, terus menyampaikan Islam, menjadikan Islam sebagai standard dan solusi atas semua permasalahan, tidak hanya masalah bandara Kediri yang terselesaikan, namun permasalahan sebagai akibat penerapan sistem kapitalisme akan teratasi. Wallahu a’lam

Oleh : Nur Aini, S. Si


[1] https://money.kompas.com/read/2020/02/16/162624326/fakta-bandara-kediri-dibangun-perusahaan-rokok-pernah-ditolak-jokowi
[2] https://jatim.idntimes.com/news/jatim/ardiansyah-fajar/12-kabupaten-ini-miliki-angka-stunting-tertinggi-di-jatim
[3] https://www.muslimahnews.com/2019/12/11/reinventing-government-matinya-fungsi-negara/



Friday, 21 February 2020

Materi pelajaran agama Madrasah Ibtidaiyah




Materi pelajaran agama Madrasah Ibtidaiyah semester genap

Kelas 6

Fikih
1. Jual beli dan riba
2. Pinjam-meminjam
3. Barang temuan

Qur'an Hadits
1. Surah Al Bayyinah
2. Hadits tentang amal saleh

Aqidah Akhlaq
1. Kalimat thayyibah : istighfar
2. Asmaul Husna : al ghafur, al afuwwu, ash shabur, al haliim
3. Meneladi sifat sabar dan taubat nabi Ayyub as dan nabi Adam as
4. Akhlaq yang baik terhadap hewan dan tumbuhan

Kelas 5
Qur'an Hadits
1. Surah Al Qadr
2. Surah Al Alaq
3. Waqaf dan washal
4. Hadits tentang ciri orang munafik

Sejarah Kebudayaan Islam
1. Peristiwa di akhir hayat Rasulullah saw
2. Meneladani Khalifah Abu Bakar ash shiddiq
3. Meneladani khalifah Umar bin Khaththab

Materi pelajaran yang luar biasa, namun sayang dalam sistem kapitalisme sekular yang diterapkan di negeri ini, dimana aturan Islam dicampakkan, tsaqafah Islam banyak yang sebatas teori belaka. Sulit diterapkan. Namun bukan berarti tidak dipelajari, tetap ada kewajiban menuntut ilmu, dan diiringi dengan usaha mewujudkan sistem yang bisa menerapkan Islam kaffah, yaitu #Khilafah

Thursday, 20 February 2020

Terowongan Silaturahim, Mengukuhkan Liberalisasi Agama

Sumber gambar : Republik.co.id, Israel menghancurkan terowongan di Palestina yang menewaskan warga Palestina 
(Untuk mengingat umat membutuhkan persatuan bukan gelar toleran semata) 

Pemerintah kembali mengeluarkan gagasan yang menimbulkan kegaduhan. Yaitu disetujuinya renovasi Masjid Istiqlal dengan salah satunya membangun terowongan yang menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral yang memang  berdekatan. “Rencana pembangunan terowongan Masjid Istiqlal-Gereja Katedral disambut baik para kedua agama, yakni Islam dan Kristen. Nantinya, terowongan tersebut diproyeksi bakal menjadi ikon toleransi dan kerukunan umat beragama di Indonesia. Wakil Kepala Humas Masjid Istiqlal Abu Hurairah mengatakan, ikon toleransi di Indonesia memang diperlukan. Dia menyebut, rencana pembangunan terowongan yang dinamai Terowongan Silaturrahim ini akan masuk dalam tahap kajian detail.” (Republika.co.id, 7/2). Membangun terowongan sebagai ikon toleransi tentu alasan yang sangat klise. Bukankah selama ini meski tanpa terowongan toleransi dan kerukunan umat beragama telah terwujud? Jika pun ada gesekan antar umat beragama bukan karena masyarakat yang intoleran namun lebih disebabkan karena ketidakbecusan pemerintah dan aparat menciptakan kehidupan yang nyaman untuk semua umat beragama. Ada tujuan lain pembangunan terowongan silaturahim yang patut diwaspadai oleh umat khususnya, yaitu mengukuhkan keberpihakan pemerintah pada liberalisasi beragama. Toleransi yang seharusnya dimaknai dengan menghormati keyakinan tanpa perlu dicampuradukkan, tanpa perlu dicari kesamaannya dimaknai secara serampangan, seolah harus ada hubungan erat dalam masalah keyakinan. Inilah ciri khas kebijakan liberal, membuat kebijakan dengan mengabaikan syariat. Lebih jauh lagi, atas nama toleransi yang kebablasan jauh ke depan akan semakin marak kampanye pluralisme agama, menganggap semua agama sama, tak perlu berpegang teguh pada keyakinan agama, terima dan jika perlu ikutilah ajaran agama lain, jangan merasa benar sendiri.

Umat Islam harus waspada dengan mulut manis para pengusung liberalisasi agama. Mereka dengan nyata menyerang negeri muslim terbesar ini dengan menggiatkan proyek moderasi agama dengan dalih demi kemajuan umat Islam. Jelas salah besar. Kemajuan umat Ilsam bukan dengan langkah moderasi Islam versi Barat yang tak lebih dari upaya liberalisasi agama. Namun kemajuan umat Islam hanya akan terwujud saat Islam diterapkan secara menyeluruh dalam semua aspek kehidupan. Bukan dengan mencampakkan aturan Islam sebagaimana yang diinginkan kaum liberal. Yang mereka lakukan malah sebaliknya, membuat umat Islam semakin tersesat, mencampuradukkan antara yang haq dengan batil, dan tujuan jangka panjangnya adalah menjauhkan umat Islam dari syariat Islam serta membendung kebangkitan dan kemajuan umat Islam.

Tentang toleransi, umat Islam cukup meneladani Nabi.  Menghormati keyakinan pemeluk agama lain, tidak mencampuradukkan ajaran agama, tetap menjalin hubungan baik dalam hal muamalah dan aspek kemanusiaan. Rasulullah adalah teladan sejati, berhasil menciptakan kehidupan yang damai di Madinah yang dihuni oleh umat Islam,kaum musyrikin dan ahlul kitab. Jika pun ada perselisihan bisa diselesaikan dengan cepat.

Nur Aini - Guru
Pare Kediri Jawa Timur

Wednesday, 19 February 2020

Tentang Wortel


Curcol dulu tentang wortel, dahulu mendampingi orang tua opname di RS. Sakit dengan salah satu rekomendasi mengatur menu makanan, wajib diet. Selama di RS benar-benar memperhatikan menu yang diberikan kepada pasien, ada salah satu bahan yang hampir selalu ada, wortel. Sup, sayur asem, soto, lodeh seringkali ada wortel yang tak pernah absen. Menyimpulkan sendiri, berarti wortel rekomended, aman. Setelah keluar RS diberi daftar menu harian, lumayan membantu biar tidak pusing mau masak apa, sekaligus tetap sesuai dengan kebutuhan. Karena memang wajib diet. Hikmahnya, semoga mengingat untuk makan makanan yang halal dan thayyib, tidak asal kenyang. Namun apalah daya, memang tak semua bisa mengatur menu makanan, terkadang masih banyak yang tak peduli, jangankan mikir menu, bisa makan saja sudah alhamdulillah luar biasa.

Dan nyatanya, wortel memang cocok untuk dimasak apa saja. Oseng, tumis, sup, soto, sayur asem, direbus saja dicolek ke sambel, campuran rolade, nugget, ditambah ke mie, isian tahu-pastel-resoles-lumpia-arem-arem, acar, manisan, kimci dan sebagainya. Silakan coba. Memang ada sedikit perbedaan perlakuan dan irisan. Dari segi rasa wortel juga tidak terlalu khas, dengan irisan yang kreatif dan lucu, insya Allah anak kecil tambah suka. Sekalian buat cerita pas menyuapi, iris wortel dengan bentuk bunga, lingkaran, segi empat, segi tiga, memanjang dst, biar ada bahan ngecipris saat menyuapi, biar anak focus makan dan lumayan memberi informasi, ngerti ga ngerti yang penting kasih informasi yang baik dan anak juga tertarik serta tahu makanan yang dia makan.

Berdasar pengalaman, ada tips seputar wortel :
1.       Menyimpan wortel : kupas wortel, cuci bersih, biarkan kering, pastikan air tidak menggenang, buang bagian yang berpotensi busuk. Setelah kering baru ditempatkan di tempat tertutup yang kering juga, baru dimasukkan ke kulkas. Dengan cara ini wortel agak lebih awet, dan saat akan mengolah tinggal potong saja.
2.       Akan memasak : jika wortel dari kulkas dan tersimpan lama maka bagian luar wortel seperti kering, maka bisa direndam air dingin sebentar sebelum diiris. Sebelum dimasak memang sebaiknya dibiarkan sebentar, jika langsung masuk masakan kemungkinan lama lunaknya dan teksturnya kaku.
3.       Saat merebus : di antara banyak sayuran, wortel terkategori keras dan tidak cepat lunak. Terkadang wortel adalah bahan yang pertama masuk agar lunak dahulu. Ketika air mendidih tambahkan sedikit garam ke air, baru masukkan wortel. Dengan menambahkan sedikit garam warna wortel akan tetap jingga cerah merona.

4.       Selain direbus untuk sayur wortel juga bisa dimasak dengan sistem kukus, bisa untuk dicolek ke saus atau sambal atau bisa dimakan langsung, jika dimakan langsung agar tidak hambar saat mengukus bisa ditaburi garam, merica bubuk, pala, ketumbar atau irisan bawang putih. Rasa wortel akan lebih gurih.

Mie-bihun pedas ayam geprek



1 bungkus mie instan ayam geprek
1,5 potong bihun (biasanya beli yang sebungkus isi 4 potong)
Bawang putih dan merah, merica sesuai selera
Kecap
Tomat
Seledri
Bawang pre
Wortel iris kecil

Rebus wortel sampai lunak
Masukkan mie instan tunggu 1 menit, masukkan bihun

Seledri dan bawang pre bisa sebagian direbus atau digoreng dengan bumbu

Tiriskan mie

Bumbu yang digoreng : bawang merah dan putih, garam, merica dihaluskan, tumis dengan minyak sedikit, irisan tomat bisa agak ditekan biar hancur sebagai ganti saus, beri kecap(kecap dimasukkan saat bumbu ditumis dahulu itu rasanya beda jika dimasukkan terakhir bersama mie, ada rasa kecap yang menyengat)

Masukkan bahan yang sudah ditiriskan, goreng dengan api kecil. Taburi bawang goreng

Sengaja difoto beserta wajan yang berdiameter 30 cm. 1 bungkus mie instan itu rasa penyedapnya tetap terasa menyengat meski mie ditambah hingga setengah wajan

Barangkali ada yang butuh resep, biar gaul. Pernah tau ada yang masak mie eee semua bahan dimasukkan bersamaan, ya Ambyar.

Monday, 17 February 2020

Jamilah Tak Butuh Skin Care


Jika di tulisan Jamilah Level 5 saya kaget dengan aplikasi di HP yang bisa digunakan untuk edit foto hingga tampilan beauty level 5, sekarang terkaget lagi, HP jaman now secara otomatis jika tidak diatur terlebih dahulu, kamera depan alias selfie langsung menghasilkan foto yang jahat. Bagaimana ga jahat, foto yang dihasilkan secara otomatis adalah foto yang diedit, kulit nampak halus, kerutan hilang, noda di wajah tak tampak, beberapa bagian wajah semisal bibir nampak menawan. Ah..semakin tak ingin iri dengan postingan orang lain yang menampakkan wajah begitu mempesona, jangan-jangan pakai kamera jahat?

Sepertinya skin care agar wajah halus tanpa noda tidak terlalu penting dech, udah pakai kamera jahat aja, dijamin bisa tampil jamilah. Lagian skin care itu mahal. Terakhir mendapat promo, facial murah katanya, jelaslah tetap mikir beribu kali jika mau ambil, semurah-murahnya facial lebih memuaskan buat belanja makanan, hasilnya nyata, kenyang di perut. Apalagi belanja bahan untuk dimasak, cukup buat tiga hari.

Jadi jamilah tak butuh skin care kan? Butuhnya android dengan kamera ajaibnya.

Entahlah, apa yang merasuki manusia saat ini, selfie seolah menjadi kebiasaan, apapun ingin di selfiekan. Sedikit-sedikit selfie, dan tak hanya berhenti sebatas ambil foto, berlanjut hingga upload di medsos. Teringat dengan sebuah nasihat, muslimah jangan mudah posting foto close up di medsos, jangan suka selfie dan share foto diri, jangan mengikuti life style wanita barat, jaga kehormatan. Cukuplah muslimah menjadi wanita salehah dalam kehidupan nyata, yakin saja malaikat sudah mencatat, tak perlu berlomba menampakkan amal.

Muslimah juga jangan pusing dengan tampilan yang menurut standar manusia yang terkontaminasi standar kapitalisme adalah jika memenuhi kriteri cantik secara fisik. Laki-laki juga seperti itu, tak perlu terpesona dengan kecantikan wanita yang tersebar di social media, tundukkan pandangan, nikmati yang halal. Jangan sampai jadi korban kamera jahat.

Teruslah mengingat, kemuliaan itu bukan ditentukan dari wajah, namun ditentukan oleh ketakwaan.
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. (QS Al Hujurat ayat 13)



Sunday, 16 February 2020

Sayur Bening Daun Kelor





Sayur bening kunci kelor, kayu, dan wortel

Bumbunya : bawang merah, kunci, kemangi, garam, gula

Rebus air sampai mendidih, masukkan bawang merah yg sudah diiris, kunci, beri garam sedikit agar warna sayuran tetap cerah, masukkan wortel

Masukkan daun kelor dan katu
Masukkan tomat dan kemangi
Beri garam dan gula secukupnya


Daun Kemangi, tomat, bawang merah, kunci, daun bawang merah muda (senthir)

Kiri : daun katu, kanan : daun kelor


 Daun kelor


 Daun Katu



Terong goreng, tahu isi siomay, sambel bajak (tomat, cabe, garam, trasi, teri goreng, bawang merah, bawang putih ), lalap kemangi. Lauk, sambel dan sayur yang ga nyambung, tetap enak jika makan saat lapar


Sambel yang cocok untuk sayur bening : sambel bumbu kacang Memasak Dengan Cinta
Resep sambel lain : Sambel

Saturday, 15 February 2020

Waspadai Komunitas Kaum Menyimpang

sumber gambar : republika.co.id

4.       Waspadai Komunitas Kaum Menyimpang (Sejatinya jiwa mereka pengecut, beraninya rame-rame dan mewarisi sifat iblis, tak mau masuk neraka sendiri)

Tulisan keempat dari rencana delapan tulisan

Tertangkapnya ketua ikatan gay di Tulungagung karena telah banyak mencabuli dan melakukan aksi kekerasan seksual adalah bukti nyata bahwa kaum menyimpang ini tidak sendirian, mereka mempunyai komunitas. Bahkan mempunyai kegiatan yang terorganisir meski dengan komunitas bayangan, mereka masih butuh  kamuflase untuk mendapatkan ijin kegiatan. Maka benarlah sebuah nasehat, kebaikan yang tidak teroganisir akan mudah dikalahkan oleh kejahatan yang teroganisir. Komunitas kaum menyimpang ini secara langsung semakin menguatkan eksistensi dan keberanian mereka. Bahkan komunitas ini dengan bangganya merasa bergabungnya mereka dalam sebuah komunitas  adalah bagian dari upaya melindungi agar kebutuhan seks mereka terjamin dan aman karena dilakukan dengan orang yang berada dalam komunitas. Agar mereka tidak “jajan” di luar dan tidak memangsa korban sembarangan. Sekilas masuk akal apa yang disampaikan, namun ini hanya alasan klise saja. Justru ini menampakkan sifat asli mereka, iblis, sebagaimana perilaku mereka yang memang hanya mengikuti bisikan setan untuk menuruti hawa nafsu belaka. Iblis dahulu divonis masuk neraka, dan berkomitmen untuk menggoda manusia, agar kelak di nereka mereka tak sendirian. Begitu pula dengan komunitas ini, sejatinya mereka sadar bahwa apa yang dilakukan menyimpang dan pasti berakhir di neraka, maka tak heran mereka sekuat tenaga mencari mangsa untuk menemani ke neraka.

Adanya komunitas bagi kaum menyimpang sangatlah berbahaya dan sama sekali tidak ada jaminan dari apa yang hendak mereka cegah. Berbahaya karena akan membuat mereka merasa kuat, merasa ada yang akan membela, bahaya karena lama-kelamaan akan berusaha merekrut anggota baru. Dan tidak ada jaminan bahwa perilaku menyimpang dan “ seks aman” hanya berkutat pada sesame anggota komunitas. Lagi-lagi bukti nyatanya adalah kasus di Tulungagung. Jelas yang terjadi adalah mereka menyasar setiap mangsanya yang terlihat lemah dan bukan dari orang juga dari kalangan menyimpang. Mereka pasti tidak akan puas hanya bergaul dengan orang dalam komunitas, secara naluri, mereka akan terus mencari korban, baik dengan iming-iming uang maupun kesengajaan untuk menambah jumlah korban yang secara historis kelak akan menjadi bagian dari komunitas, sudah bukan rahasia lagi, kaum menyimpang ini selalu lahir dari kasus sebelumnya, dahulu mereka korban sekarang mencari korban.

Oleh karena itu, jika ingin memutus mata rantai kejahatan yang jelas pelakunya dilaknat ini, salah satunya adalah dengan tidak memberikan sama sekali kesempatan bagi mereka untuk berkumpul sesama golonganntya. Harus ada tindakan tegas menolak keberadaan komunitas LGBT, bahkan kelompok pembela hak mereka pun juga tak layak ada. Setidaknya ini yang bisa dilakukan saat system yang diterapkan di negeri ini sangat mengagungkan kebebasan berperilaku. Memang sangat jauh berbeda jika sistemnya adalah khilafah, sanksi tegas sudah diberikan sebelum mereka sempat untuk berkelompok.

Pare, 15 Februari 2020

Alternatif tulisan lanjutan, silakan jika ada yang melanjutkan
5.       Homoseksual Itu Pilihan Bukan Paksaan Apalagi Anugrah Terindah Dari Tuhan (Omong kosong jika ini adalah takdir Tuhan, mereka hanya menjalani garis kehidupan, dimana iman kepada qadla dan qadar)
6.       Sadarlah, Mereka Itu Jahat Sekali, Tak Ada Kebaikan Tulus (kebaikan mereka selalu berbalut akal bulus, terus mencari korban dan kemarahan mereka begitu kejamnya, melebihi binatang, studi kasus mutilasi dan pembunuhan kaum homo)
7.       Homoseksual Semakin Eksis dalam sistem kapitalis (sudah jadi bawaan sistem ini, merusak umat manusia dari seluruh sisi kehidupan)

8.       Hanya Hukuman Mati Yang Bisa Menghentikan (hanya mungkin terjadi dalam sistem khilafah)

Sunday, 9 February 2020

Rahasia Wanita : Karena Wanita Ingin Dimengerti

Sumber gambar : ibnudin.net

Bisa jadi bukan rahasia lagi, namun bisa jadi banyak yang tak menyadari. Ini juga belum tentu benar, bukan hasil survey bukan pula hasil sampling, sebatas pengamatan dan pegalaman, tak perlu ditanya berapa yang diamati, sudah uji sample yang diamati atau belum, beraapa yang diamati, berdisrtibusi normal atau tidak, homogen atau tidak. Percaya Alhamdulillah, tidak percaya ya sudah tak masalah.

Wanita itu mempunyai masa sensitif, perasaannya begitu peka, terkadang baper tingkat dewa. Mungkin tingkat sensitive dan bapernya berbeda, mungkiin juga penampakannya tidak sama. Masa itu adalah masa menjelang menstruasi. Setidaknya seminggu sekitar menjelang menstruasi, dan masa itu berlangsung selama seminggu tersebut, tidak hanya satu dua hari saja. Di masa sensitive ini emosi wanita terkadang tidak stabil, mudah tersinggung, berucap tanpa berpikir mendalam, mendapat masalah kecil serasa menghadapi masalah raksasa. Sensitive dengan perkataan dan sikap orang lain. Masa sensitive ini adalah masa yang normal, bukan sesuatu yang perlu disikapi berlebihan, wajar terjadi pada manusia. Yang bisa dilakukan adalah mengantisipasi, meminimalisir dampak negative dan menyadari bahwa sedang pada masa sensitive.

Cara yang paling mudah adalah dengan mengetahui siklus menstruasi. Banyak keuntungan ketika kita hafal sengan siklus menstruasi. Pertama bisa memprediksi kapan datangnya haid, mencegah bocor di tengah jalan atau saat tidak di rumah, bisa menyiapkan mental. Kedua, mengetahui kebiasaan jumlah  hari haid, ini bermanfaat saat kita punya hutang puasa atau saat hendak memutuskan menerima amanah yang ada kaitannya dengan larangan bagi wanita haid. Ketiga, mengetahui masa subur, untuk merencanakan kehamilan.

Kembali pada masa sensitive, dengan tahu datangnya masa ini setidaknya kita bisa menyiapkan diri, merencanakan kegiatan yang bisa mengalihkan rasa yang begitu peka, memaklumi dan bisa berpikir jernih ketika hendak membuat keputusan, tidak mudah terbawa emosi, agar tidak menyesal di kemudian hari. Mengidentifikasi masa ini selain dengan menghafal siklus haid juga bisa dengan mengingat tanda fisik, semisal badan terasa sakit, nafsu makan meningkat atau hilang sama sekali, ada bagian tubuh yang sakit semisal payudara, mudah capek, mudah terserang sakit, pusing dan sebagainya.


Berkaitan dengan orang lain, maka terkadang kita juga perlu memaklumi bahkan ikut menyikapi dan tidak malah terbawa emosi ketika berhadapan atau berurusan dengan wanita yang sedang sensi. Tidak ikutan baper, pahami perasaannya, nyamankan perasaan dirinya, bantu memberi solusi dengan berpikir jernih, husnudzan itu bukan karakter biasanya. Jika perlu ikut menghafal kapan masa sensi ini datang, hafalkan masa sensi orang-orang yang kita hadapi setiap harinya. Niatkan sebagai bentuk perhatian kepada sesama, niatkan semata karena Allah saja, karena terkadang kita juga terkena imbasnya.

Terakhir, jurus ampuh bagi wanita, baik di masa biasa atau sensi adalah senantiasa ingat kepada Allah, mendekat kepada Allah, perbanyak dzikir, isi waktu dengan kebaikan, jangan menyendiri, tak perlu mencari pelarian diri. Tetap bersama dengan orang-orang saleh, tetap sibukkan dengan aktivitas dakwah. Hadapai semua hari dengan penuh keridhoan, yakinkan diri, selama terikat pada syariat apapun yang terjadi bisa terasa nikmat.


Pare, 9 Februari 2020

Thursday, 30 January 2020

Kamuflase Komunitas Homoseksual, Bersembunyi Di Balik Seni

travel.kompas.com


3.       Kamuflase Komunitas Homoseksual, Bersembunyi Di Balik Seni
Para penyuka sesama jenis gay tidak semuanya identik dengan kaum yang lemah gemulai, tak jarang yang penampakan fisiknya macho, namun tak bisa dipungkiri keberadaan mereka tak terlepas dari “pasangan” yang berstatus sebagai lawan jenis, pasangan mereka inilah yang lahir dari salahnya jalan yang mereka pilih. Yang berawal sebagai korban namun tak punya kesadaran untuk segera bertaubat dan segera berlepas dari komunitas salah akan terus berputar kembali mencari mangsa. Yang salah jalan memilih dunia feminism terus lestari dengan kegiatan bermotif seni. Karnawal peragaan busana, fashion show, parade busana yang dinisbatkan sebagai kreatifitas tak jarang menjadi topeng eksistensi kaum homoseksual. Maka tak heran jika mereka seringkali menginisiasi kegiatan semacam ini. Lihat saja, mereka kaum lelaki yang begitu bangganya tampil dengan busana wanita, tampil lemah gemulai.

Ada pula yang berlindung di balik topeng seni tari, baik tarian adat maupun modern. Memang tak semuanya otomatis menjadi penyuka sesama jenis, akan tetapi ini adalah jalan untuk sedikit demi sedikit mengubah perilaku mereka yang maskulin menjadi feminine. Bahkan eskistensi mereka pun juga merambah dunia perfilman. Memang sulit diendus, namun keberadaan mereka terlihat dari jalan cerita sebuah film, baik mereka sendiri yang membuat atau bisa dibuat oleh para pendukung kebebasan, termasuk bebas menyukai sesama jenis. Film adalah alat propaganda ampuh untuk membentuk opini di tengah masyarakat, dengan film mereka berharap masyarakat semakin mengenal mereka dan pada akhirnya menerima keberadaan mereka.

Melalui agenda seni, mereka berusaha menutupi penyimpangan yang dilakukan, mencari dalih bahwa keberadaan mereka tidak mengganggu bahkan menjadi kaum yang kreatif dan berjiwa seni, masih bisa bertahan hidup, masih bisa berprestasi dalam sudut pandang mereka. Benarkah ini adalah prestasi yang layak dibanggakan? Tidak.


Memang bukan seninya yang salah, selama tidak melanggar hukum syara’ tidak masalah terlibat dalam aktivitas seni. Namun tidak dengan kaum gay yang tak sedikit berkecimpung di dunia seni, hampir semua aktivitas seni yang mereka lakoni melanggar hukum syara’,  menyerupai lawan jenis hukumnya haram, menyukai sesama jenis apapun topengnya juga haram. Harus ada komitmen untuk kembali kepada kodrat Allah, Allah menciptakan manusia dengan fitrah menyukai lawan jenis. Jenis kelamin yang diakui dalam hukum syara’ hanya 2, bukan 3. Jika pun ada yang berkelamin ganda maka medis akan menentukan alat kelamin yang dominan, dan hakim pun akan menetapkan jenis kelamin yang akan digunakan sebagai identitas selanjutnya, jadi bukan sekehendak diri mengubah tubuh. Tidak pula sekehendak hati menuruti hawa nafsu. Melampiaskan nafsu dengan cara maksiat. 

Alternatif tulisan lanjutan, silakan jika ada yang melanjutkan
4.       Waspadai Komunitas Kaum Menyimpang (Sejatinya jiwa mereka pengecut, beraninya rame-rame dan mewarisi sifat iblis, tak mau masuk neraka sendiri)
5.       Homoseksual Itu Pilihan Bukan Paksaan Apalagi Anugrah Terindah Dari Tuhan (Omong kosong jika ini adalah takdir Tuhan, mereka hanya menjalani garis kehidupan, dimana iman kepada qadla dan qadar)
6.       Sadarlah, Mereka Itu Jahat Sekali, Tak Ada Kebaikan Tulus (kebaikan mereka selalu berbalut akal bulus, terus mencari korban dan kemarahan mereka begitu kejamnya, melebihi binatang, studi kasus mutilasi dan pembunuhan kaum homo)
7.       Homoseksual Semakin Eksis dalam sistem kapitalis (sudah jadi bawaan sistem ini, merusak umat manusia dari seluruh sisi kehidupan)

8.       Hanya Hukuman Mati Yang Bisa Menghentikan (hanya mungkin terjadi dalam sistem khilafah)

Friday, 24 January 2020

Jangan Tertipu Kebaikan Kaum Homoseksual


2. Jangan Tertipu Kebaikan Kaum Homoseksual

Tidak sedikit yang menganggap bahaya kaum homoseksual, alasannya klise, selama tidak mengganggu kepentingan umum dan orang lain tidak masalah, selama mereka tetap bersikap baik di tengan masyarakat tidak ada kepentingan melarang mereka. Dan memang faktanya tak jarang mereka yang berani menunjukkan penyimpangan seksual mereka juga dikenal sebagai orang yang dermawan, ramah, ringan membantu dan mudah bergaul di lingkungan. Tak jarang pula dikenal sebagai orang yang supel, pandai menyampaikan argument dan berkelit agar perilaku buruknya tersamarkan. Atau bahkan untuk membuktikan bahwa perilaku menyimpangnya tidak mengganggu lingkungan. Bahkan ada pula yang dengan bangganya merasa sebagai orang yang baik hati menolong banyak orang.

Begitu pula dengan yang terjadi pada kasus terakhir di Tulungagung. Sang Ketua Ikatan Gay merasa apa yang dilakukan bukanlah pencabulan atau tindakan seks yang haram, dia berdalih malah menolong para anak yang membutuhkan uang, maka tak heran setelah memuaskan nafsunya anak-anak yang dicabulinya diberi imbalan sejumlah uang, tidak sedikit bagi anak yang tak berpenghasilan, imbalannya mulai Rp 150.000 hingga Rp 250. 000. Tidak hanya merasa membantu berupa materi, terkadang para predator ini malah berdalih mereka menyediakan seks aman karena hubungan seks dilakukan dengan pertimbangan keamanan dan dengan orang tertentu saja. Sungguh alasan yang dibuat-buat, sejatinya mereka adalah para pembeli layanan seksual.

Kejahatan mereka terus ditutupi dengan kebaikan yang mereka tebar, mereka sadar sebenarnya apa yang dilakukan adalah salah dan menyalahi kodrat, namun mereka berupaya berlindung di balik pemikiran kapitalistik sekular, menjadikan uang dan kepuasan sebagai standar, asal senang dianggap sah dilakukan.

Kurang ajarnya lagi, mereka bertopeng dengan perilaku sok humanis dengan tanpa sungkan mengadakan acara kemanusiaan, social dan pembekalan pemberdayaan ekonomi. Tak tanggung-tanggung lembaga resmi dan formal pemerintah pun dilibatkan. Penyuluhan HIV/AIDS menggandeng puskemas atau dinas kesehatan, pelatihan ekonomi kreatif, bakti sosial dan lain sebagainya. Mereka menjalankan berbagai cara agar dalam kehidupan dianggap normal, bias jadi dibutuhkan suatu saat ketika pada akhirnya mereka terjerat kasus, mereka akan meminta empati bahwa mereka bukan makhluk yang bermasalah. Benarkah kaum Sodom ini telah melakukan kebaikan? Jawabannya jelas tidak. Standar baik buruk, terpuji tercela itu bukan dari manusia, namun dari Allah SWT dan RasulNya. Penyimpangan seks homoseksual adalah kemaksiatan, butuk, melanggar syariat. Maka menutupi kemaksiatan dengan kebaikan agar tersamarkan adalah kejahatan pula, mereka tidak meniatkan perbuatan sebagai amal saleh namun sekadar bersembunyi saja. Sama sekali tak ada kebaikan dari mereka. Mereka tak berhak hidup meski untuk melakukan kebaikan, mereka hanya berhak dihukum mati, untuk menebus dosanya, untuk mencegah yang lain berbuat sama.

Perilaku homoseksual adalah perbuatan haram, pelaku dan korbannya yang dengan sadar berbuat layak dihukum mati. Jika dibiarkan tidak hanya semakin memakan korban namun juga akan merusak umat manusia. Solusinya, kembalikan pada aturan Islam. Atur semua lini kehidupan dengan syariah, sempurnakan dengan tegaknya khilafah. Edukasi umat dengan akidah dan tsaqafah Islam. Berikan pemahaman yang benar terkait potensi kehidupan yang salah satunya adalah naluri. Allah menciptakan untuk manusia maka Allah pula yang memberikan aturan. Dan Allah memberi pilihan bagaimana mereka memenuhinya, serta memberitakan konsekuensi perbuatan di dunia hingga ke akhirat. Mengatur perekonomian sesuai syariat, hingga tak ada lagi dalih menjajakan diri, mencari uang dan membeli layanan yang diharamkan. Meminimalisir factor pemicu, mengatur tayangan atau informasi yang bisa dikonsumsi public. Semua dilakukan demi menjaga martabat manusia, mengembalikan tujuan penciptaan manusia, beribadah kepad Allah SWT.

Bersambung

Alternatif tulisan lanjutan, silakan jika ada yang melanjutkan

3. Kamuflase Komunitas Homoseksual, Bersembunyi Di Balik Seni (Mereka sejatinya kaum hipokrit yang hanya bisa eksis di balik topeng acara budaya dan seni, studi kasus eksisnya komunitas homoseksual di Jember paska launcing perdana JFC)

4. Waspadai Komunitas Kaum Menyimpang (Sejatinya jiwa mereka pengecut, beraninya rame-rame dan mewarisi sifat iblis, tak mau masuk neraka sendiri)

5. Homoseksual Itu Pilihan Bukan Paksaan Apalagi Anugrah Terindah Dari Tuhan (Omong kosong jika ini adalah takdir Tuhan, mereka hanya menjalani garis kehidupan, dimana iman kepada qadla dan qadar)

6. Sadarlah, Mereka Itu Jahat Sekali, Tak Ada Kebaikan Tulus (kebaikan mereka selalu berbalut akal bulus, terus mencari korban dan kemarahan mereka begitu kejamnya, melebihi binatang, studi kasus mutilasi dan pembunuhan kaum homo)

7. Homoseksual Semakin Eksis dalam sistem kapitalis (sudah jadi bawaan sistem ini, merusak umat manusia dari seluruh sisi kehidupan)

8. Hanya Hukuman Mati Yang Bisa Menghentikan (hanya mungkin terjadi dalam sistem khilafah)

Thursday, 23 January 2020

Tak Ada Ruang Bagi Kaum Menyimpang



1. Tak Ada Ruang Bagi Kaum Menyimpang

Kasus kejahatan yang melibatkan kaum homoseksual belum juga berhenti, Juli 2019 Tulungagung digemparkan dengan terungkapnya fakta  ratusan pelajar  terindikasi menjadi penyuka sesama jenis, dan yang terakhir penangkapan ketua komunitas gay Tulungagung. Di berbagai tempat, banyak dirilis informasi penyuka sesama jenis mendominasi penderita penyakit AIDS. Dan yang tak kalah menghebohkan adalah vonis seumur hidup pada mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Inggris. Jika dirunut dan dicermati, bisa dipastikan negeri ini tidak pernah sepi dari pemberitaan kasus homoseksual, ini yang terendus media, yang tidak tentu juga ada.

Untuk kasus di Tulungagung, bukan kasus baru yang tiba-tiba muncul. Tulungagung dengan kondisi geografis yang terdiri dari pegunungan dan mempunyai pantai, pernah digunakan sebagai tempat berkumpulnya komunitas internasional world rainbow gathering pada tahun 2017. Jangan dikira ini adalah acara gathering biasa yang hanya diam saja di tenda. Acara tersebut jelas merupakan wadah berkumpulnya para turis dari berbagai negara yang membawa serta gaya hidup liberal mereka. Acara satu bulan tentu berpengaruh pada masyarakat sekitar, setidaknya budaya kebebasan semakin mudah diindera.

Jauh hari, sejak lama Tulungagung adalah salah satu daerah pengirim TKI terbanyak di Jawa Timur. Kondisi perekonomian yang tidak merata membuat warganya lebih memilih bekerja di luar negeri, imbasnya kecukupan materi memang terpenuhi namun keadaan sosial kemasyarakat menjadi karut-marut. Pergaulan bebas mendominasi, suami selingkuh, istri dihamili orang lain, anak hamil di luar nikah menjadi fakta menjamur di kalangan keluarga TKI. Lama-kelamaan kebiasaan buruk merambah ke lingkungan, maka meratalah kejahatan di masyarakat. Permasalahan ini tidak didukung dengan pembekalan akidah masyarakat. Karakter warga dan pemerintah daerah yang mayoritas muslim namun abangan atau bahkan sekular liberal menjadikan kondisi masyarakat Tulungagung semakin parah dari aspek sosial kemasyarakatan.

Ditambah lagi sikap represif sebagian besar pejabat dan petinggi ormas kepada kajian keislaman menjadikan Tulugangung sangat jauh dari suasana keimanan. Adat berbau klenik dan syirik dibiarkan bahkan dilestarikan namun pengajian yang bertujuan mencerdaskan umat dilarang dan dipersekusi dengan tuduhan klasik, radikal. Acara berbalut seni budaya padahal jelas dalam rangka membumikan nilai kebebasan malah diberi ruang.

Kejahatan kaum homoseksual adalah kejahatan hina sekaligus merusak umat manusia, tidak ada sedikitpun kebaikan yang bisa dipersembahkan oleh kaum terlaknat ini. Apa yang dilakukan kaum homoseksual adalah pelanggaran terhadap fitrah manusia, perilaku menyimpang yang melanggar ketentuan Allah. Eksisnya mereka karena dukungan sistem yang diterapkan di negeri ini, sistem kapitalisme sekular yang menjadikan materi dan kepuasan sebagai standar perbuatan.  HAM, kebebasan berekspresi dan kebebasan berbuat menjadi pelindung yang menyuburkan perilaku menyimpang kaum homoseksual. Ironinya Indonesia sebagai negeri mayoritas muslim melahapnya begitu saja, dan memang inilah jahatnya kapitalisme, tak hanya menancapkan hegemoninya namun juga merusak umat Islam, tujuan jangka panjangnya adalah menghambat kebangkitan Islam.

Oleh karena itu harus ada upaya serius untuk menghentikan penyebaran virus hina kaum homoseksual. Penguatan akidah, menjadikan Islam sebagai standar pemikiran dan perbuatan, ketegasan masyarakat menolak dan sanksi berat bagi pelaku homoseksual. Itu semua bisa dilakukan selama individu, masyarakat dan pemerintah mempunyai satu pandangan yang sama tentang haram dan bahayanya perilaku homoseksual. Jangan memberi ruang bagi perilaku menyimpang, cegah dengan berbagai cara agar mereka tak berkembang.  Memang tidak akan semudah membalikkan tangan, karena ada banyak motif di balik maraknya perilaku dan korban homoseksual. Motif ekonomi, motif sosial kemasyarakatan, hingga motif ideologis. Butuh diselesaikan semua secara tuntas, jika benar-benar menginginkan ada pencegahan maksimal, tak bisa dipungkiri, harus ada perubahan sistemik, karena negeri ini sudah rusak dari pondasinya. Rusaknya pondasi tentu akan berimbas pada seluruh aspek yang kehidupan, kasus kejahatan homoseksual hanya salah satu contoh saja. Dengan demikian juga diperlukan solusi jangka panjang, yaitu penerapan sistem Islam, melanjutkan kehidupan Islam dengan tegaknya khilafah.

Bersambung

Alternatif tulisan lanjutan, silakan jika ada yang melanjutkan
2. Jangan Tertipu Kebaikan Kaum Homoseksual (Katanya mereka dalam kesehariannya sangat baik sekali, murah hati dan dermawan)

3. Kamuflase Komunitas Homoseksual, Bersembunyi Di Balik Seni (Mereka sejatinya kaum hipokrit yang hanya bisa eksis di balik topeng acara budaya dan seni, studi kasus eksisnya komunitas homoseksual di Jember paska launcing perdana JFC)

4. Waspadai Komunitas Kaum Menyimpang (Sejatinya jiwa mereka pengecut, beraninya rame-rame dan mewarisi sifat iblis, tak mau masuk neraka sendiri)

5. Homoseksual Itu Pilihan Bukan Paksaan Apalagi Anugrah Terindah Dari Tuhan (Omong kosong jika ini adalah takdir Tuhan, mereka hanya menjalani garis kehidupan, dimana iman kepada qadla dan qadar)

6. Sadarlah, Mereka Itu Jahat Sekali, Tak Ada Kebaikan Tulus (kebaikan mereka selalu berbalut akal bulus, terus mencari korban dan kemarahan mereka begitu kejamnya, melebihi binatang, studi kasus mutilasi dan pembunuhan kaum homo)

7. Homoseksual Semakin Eksis dalam sistem kapitalis (sudah jadi bawaan sistem ini, merusak umat manusia dari seluruh sisi kehidupan)

8. Hanya Hukuman Mati Yang Bisa Menghentikan (hanya mungkin terjadi dalam sistem khilafah)

Wednesday, 22 January 2020

Mencegah Perundungan Di Sekolah Dengan Penguatan Akidah

sumber gambar : tribunnews.com

Dunia pendidikan kembali berduka,seorang siswa SMP di Jakarta melompat dari lantai empat di sekolahnya. Setelah dirawat nyawa siswa tersebut akhirnya tidak terselamatkan. Dugaan awal, siswa melompat dalam rangka bunuh diri karena tidak tahan dengan perundungan yang dialami. Ironi, sekolah yang seharusnya menjadikan siswa mendapat bekal kehidupan malah menjadi tempat yang mencelakakan. Ini bukan hal yang mengherankan. Dengan kondisi negeri yang semakin liberal, dimana kebebasan begitu mudahnya dijumpai, maka sekolah pun akhirnya menjadi tempat pelampiasan perilaku kebebasan, bahkan tidak memungkinkan menjadi tempat bertemunya berbagai karakter anak yang terasah dengan pola pengasuhan yang serba bebas. Kehidupan yang liberal yang dijalani anak di lingkungannya akan mudah diekspresikan di sekolah, apalagi saat ini teman di sekolah adalah orang yang paling berpengaruh bagi anak. Baik buruknya anak bisa dikatakan sangat tergantung pada komunitas temannya, salah satunya teman sekolah. Oleh karena itu perlu adanya pencegahan sejak dini perilaku perundungan di sekolah dan penguatan mental anak agar tidak mudah menyerah saat mengalami masalah.
Mengatasi kasus perundungan di sekolah, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengusulkan pembentukan sistem pengaduan  korban dan saksi perundungan. Memang usul yang patut dipertimbangkan, namun ini sebatas upaya kuratif. Yang tak kalah pentingnya adalah langkah preventif. Jika tidak ada perundungan maka sistem perlindungan korban dan saksi perundungan tidak diperlukan. Yaitu mencegah anak dari perilaku yang tidak layak semisal melakukan perundungan. Upaya preventif ini memang membutuhkan peran serta banyak pihak, karena tidak dipungkiri perilaku perundungan lahir dari lingkungan anak dibesarkan. Untuk itu pihak yang harus bekerjasama untuk mencegah perundungan adalah orang tua dan keluarga, masyarakat serta sekolah, dan yang tak kalah pentingnya adalah pemerintah. Pihak-pihak tersebut memang mempunyai peran masing-masing, akan tetapi dibutuhkan kerjasama dan mempunyai satu visi, yakni menguatkan akidah anak, agar anak siap menjalani kehidupan, mengetahui tujuan hidup, dan tidak putus asa ketika masalah menyapa.
Pertama, orang tua dan keluarga, adalah tempat pertama bagi anak mengenal kehidupan. Maka bekal pertama yang perlu diberikan adalah penguatan akidah dasar. Diantaranya adalah pengenalan kepada Allah SWT, cara mendekat kepada Allah, agar anak mengetahui mengapa dia diciptakan dan sadar harus menjalani kehidupan dengan aturan yang telah ditetapkan Sang Pencipta, ini berfungsi untuk mencegah agar anak tidak dengan mudah berbuat sesuka hati apalagi ringan melakukan pelanggaran dan membuat masalah bagi dirinya serta orang lain. Dengan teladan orang tua dan keluarga yang selalu mempertimbangkan akidah, yaitu pertimbangan akhirat, kemungkinan anak tak terkendali akan bisa diminimalisir. Semua anggota keluarga akan mempertimbangkan dosa dan pahala bukan sekadar menuruti hawa nafsu belaka. Kedua, sekolah dan masyarakat, di era kapitalisme seperti saat ini, orang tua tak jarang lebih memberikan curahan perhatian berupa pemenuhan materi dan tak punya waktu yang proporsional menemani anak karena lebih banyak kesibukan mencari penghidupan di luar rumah, di sinilah waktu anak lebih banyak dihabiskan di lingkungan, baik di sekolah maupun di masyarakat. Maka sekolah dan lingkungan juga perlu dipastikan menjadi tempat penguatan akidah bagi anak. Penguatan akidah di sekolah menjadi bekal anak agar menjalani hidup dengan iman dan takwa, menuntut ilmu dengan dorongan yang benar, yaitu untuk meninggikan derajat sebagai manusia, bukan demi kepentingan dunia semata. Maka selain fungsi sekolah sebagai tempat transfer ilmu, sekolah juga menjadi tempat pembentukan kepribadian siswa, dan modal utama pembentukan kepribadian adalah kekuatan akidah, keyakinan bahwa manusia mempunyai kewajiban untuk terikat syariat dan kesadaran pertanggungjawaban di akhirat. Untuk itu, pemikiran sekular yang menjauhkan siswa dari suasanan keimanan harus dibuang jauh-jauh, akidah harus menjadi standar perbuatan.
Yang terakhir adalah pentingnya peran pemerintah, pemerintah adalah pihak yang bertanggungjawab atas semua yang terjadi pada warga negaranya. Kebijakannya akan menentukan masa depan bangsa. Kebebasan arus informasi harus dihentikan, pemerintah harus tegas dengan berbagai kontain media online yang begitu mudahnya merusak pemikiran anak. Pemerintah juga harus memastikan bahwa sekolah adalah tempat yang aman dan nyaman bagi siswa, memberikan fasilitas terbaik agar siswa mendapat bekal utuh, ilmu, iman dan takwa. Oleh karena itu, semua kegiatan dan hal yang membuat siswa jauh dari ilmu, iman dan takwa tidak perlu ada di sekolah. Sebaliknya, pemerintah memberikan fasilitas penuh agar siswa menikmati proses transfer ilmu serta mendapat bekal iman dan takwa. Maka perlu menjadi pertimbangan bagi Kemenag dan Kemendikbud, sebagai pihak yang bersentuhan langsung dengan dunia pendidikan untuk fokus pada pemastian bahwa siswa di sekolah benar-benar mendapat ilmu dan menjadi manusia yang berakhlak mulia, bukan malah menjauhkan sekolah dari suasana keimanan atas nama pencegahan radikalisme dan tindakan terorisme dengan membatasi kegiatan kegamaan yang bertujuan memperkuat akidah siswa. Mencegah perundungan di sekolah karena pengaruh liberalisme yang menguat dalam sistem kapitalisme lebih penting daripada sebatas jualan radikalisme yang begitu absurd. Masa depan anak bangsa harus menjadi pertimbangan utama, bukan malah sibuk dengan agenda pesanan asing semisal radikalisme. Dengan demikian, perlu gerak cepat dari keluarga, sekolah dan masyarakat serta negara, menguatkan akidah seluruh warga, memperbaiki sistem yang karut marut, dan melakukan perubahan sistemik demi keselamatan dan keberkahan seluruh bangsa Indonesia.

Nur Aini, Guru
Pare Kediri Jawa Timur


Thursday, 9 January 2020

Resolusi 2020 : Mulia, Jaya dan Sejahtera Dengan Khilafah


Tahun baru 2020, saatnya menetapkan resolusi baru. Bukan sembarang resolusi, bukan resolusi recehan, namun resolusi yang akan membuat umat mulia, jaya dan sejahtera. Resolusi di tahun baru ini sangat penting mengingat tahun sebelumnya umat ini selalu didera persoalan. Tahun baru disambut dengan naiknya berbagai tarif dan harga , rakyat dikejutkan dengan skandal Jiwasraya, dan dibuka dengan bencana. Jelas ini akibat ulah manusia, telah abai dengan aturan Sang Pencipta, maka satu-satunya solusi adalah kembali pada ketentuanNya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Ar Ruum ayat 41 yang artinya : “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Bangsa ini harus bersegera menyelesaikan persoalan dengan Islam.
Penyelesaian dengan solusi Islam tentu bukan hanya berharap aspek maslahat dan diiambil secara parsial di satu aspek. Misal, di bidang ekonomi dengan meninggalkan praktik bancassurance agar tidak terulang kasus Jiwasraya, atau melakukan dedolarirasi dan menggunakan dinar agar nilai tukar uang kita stabil dan sebagainya. Solusi Islam harus diambil total mulai akar hingga daun, dari asas dan seluruh sistemnya, yang hanya akan  terwujud dengan adopsi sistem politik Islam yaitu khilafah. Mengapa harus khilafah, setidaknya karena dua alasan. Pertama, secara iman dan keyakinan tegaknya seluruh syariat Allah akan mendatangkan kemaslahatan, tidak ada keraguan sedikitpun. Kedua, secara empiris maupun historis, khilafah adalah sistem politik yang  terbukti mengatasi beragam krisis yang hari ini tidak mampu diatasi. Hasil pemberlakuan khilafah adalah kehidupan sejahtera, mulia dan membuat umat meraih kejayaan.
Kemuliaan dalam naungan khilafah adalah hal yang pasti. Mulia karena taat pada hukum Allah dan RasulNya, serta mulia karena dengan penerapan hukum Allah semua kebaikan di dunia akan terwujud. Sebagaimana kemuliaan dan kejayaan yang telah dibuktikan Rasulullah yang mengeluarkan masyarakat Arab dari kejahiliyahan, juga dibuktikan oleh khalifah pengganti Rasululllah mulai dari khulafa’ ar rasyidin, khilafah Bani Umayah, Abasiyah hingga Utsmaniah. Sedangkan fitnah terhadap khilafah sebagai biang kekacauan cukuplah dianggap sebagai pernik-pernik kebodohan orang munafik dan orang kafir.
Resolusi 2020 menuju tegaknya khilafah harus terus digaungkan hingga umat semakin rindu berada dalam naungan khilafah. Dimulai dengan menyampaikan berbagai solusi Islam dalam semua permasalahan, membekali diri dengan ilmu dan tsaqafah Islam, mengajak umat bersama mengkaji Islam kaffah dan terus maju melangkah meski khilafah dikriminalkan. Yakin akan pertolongan Allah dengan terus berusaha dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT, terus berjuang karena kemenangan ini pasti, dan perjuangan di jalan Allah adalah amal yang tak pernah sia-sia, kapanpun kemenangan itu diberikan balasan bagi setiap mukmin yang menolong agama Allah telah disiapkan, kemuliaan di dunia dan keselamatan di akhirat. Wallahu a’lam.



Menyiapkan Putri Kita Menuju Masa Baligh : Siaga Haid Datang Kapan Saja.


Allah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk, Allah adalah Dzat Yang Maha Pencipta. Tidak hanya sekadar menciptakan Allah juga mendesain makhluknya dengan bentuk terbaik dan memberinya aturan-aturan yang tidak akan bisa dibuat manusia. Begitu juga dengan tubuh manusia, termasuk mengatur siklus haid pada wanita.

Haid bukanlah peristiwa yang tiba-tiba, namun ada rangkaian peristiwa lain yang menyertai, oleh karena itu dalam keadaan normal datangnya haid bisa diantisipasi. Tetapi terkadang banyak yang kurang peduli akhirnya tidak siap ketika haid datang. Untuk itu, salah satu upaya untuk mengantisipasi ketika haid datang terasa tiba-tiba adalah dengan menyiapkan beberapa perlengkapan. Terutama untuk anak remaja putri yang masih belum terbiasa dengan kondisi pra menstruasi. Perlengkapan standar yang selalu ada dalam tas agar tidak bingung setiap saat dibutuhkan.

Salah satu perlengkapan yang selalu ada di tas :.
1. Pouch , dompet kecil, pilih yang unyu-unyu biar ga malu bawanya
2. Pembalut biasa
3. Fresh liner
4. Tisu
5. Sabun cair
6. Minyak angin
7. Celana dalam
8. Plastik

Pembalut regular dan fresh liner untuk persiapan ketika haid awal sedang tidak berada di rumah, namun ini bagi yang haid awal hanya keluar darah sedikit atau sekadar noda, jika awal haid sudah banyak mengeluarkan darah maka yang disiapkan adalah pembalut ekstra large.

Sabun cair untuk menghilangkan bau amis darah baik di tangan maupun dalam kamar mandi, plastic untuk mengamankan celana dalam yang terkena noda maupun pembalut habis pakai, biasakan anak menjaga kesucian dari barang najis, membiasakan untuk menjaga kebersiahan.

Minyak angin untuk mengantisipasi perut yang tidak nyaman di awal haid.

Itulah beberapa perlengkapan yang sebaiknya ada di dalam tas, siap dibawa kemana saja. Jika tidak dibutuhkan sendiri bisa juga diberikan orang lain yang sedang membutuhkan.


Monday, 6 January 2020

Jika bisa dibuat ribet kenapa dibikin mudah?

Jika bisa dibuat ribet kenapa dibikin mudah?
(Moto pelayanan jaman now)


Di tempat fotokopi, bersamaan dengan banyak siswa SMA. Fotokopi rapor jaman now yang berlembar-lembar. Ada yang mau dipakai daftar ke PTN, ada yg dipakai untuk arsip.

Di sinilah saya terkadang ikut bingung.

Rapor berlembar-lembar gitu pas dipakai daftar ke PTN benarkah terverifikasi semua isinya? Membayangkan verifikatornya puyeng lihat nilai dan deskripsi berlembar-lembar. Belum lagi yang harus dicek dari ribuan pendaftar.

Era digital R.I 4.0 hal-hal teknis yang bisa dibuat sederhana dan cepat, masih saja manual tapi ribet. Dan yang pontang-panting tetap saja rakyat kecil. Tidak bisa cepat paham dengan perkembangan karena terbatasnya kesempatan akses informasi ditambah sudah pusing memikirkan kebutuhan hidup.

Sudahlah kurikulum sering ganti, tapi tak diiringi bimtek dan pendanaan yang maksimal. Jadilah kita yang di bawah seperti kelinci percobaan.

Rapor digital belum diiringi sarpras yang memadai, belum disertai dengan bimtek yang mudah dipahami guru, siswa dan orang tua. Apalagi rapor online, peluang suksesnya di negeri dengan penguasa oligarkis itu sangat kecil. Ga bakalan peduli dengan pelayanan yang mudah, cepat dan terintegrasi.

Ditambah dengan pejabat yang individualis, tidak punya wawasan pelayanan, pengayoman dan ilmu teknis yang dibutuhkan, dipastikan karut-marut ini akan semakin akut. Lihat saja mendikbud dan menag yang di awal sudah koar-koar radikalisme dan gaya kebijakan liberal, mana bisa diandalkan. Cuma bisa bikin kehebohan. Landasan berpikir pejabat dalam sistem kapitalisme itu rusak, batil, sekular, tidak mungkin membawa kebaikan. Beda jauh dengan sistem khilafah.

Dalam khilafah, kekuasaan itu untuk menjalankan hukum syara', memastikan rakyat dilayani sesuai syariat. Negara sebagai ra'in (pengurus urusan rakyat) juga sebagai junnah (pelindung, pengayom), negara sebagai penyelesai masalah, bukan malah kasih masalah ke rakyat.

Jadi, jika mau negeri ini lebih baik, hanya dengan khilafah.

Bagaimana caranya? Yuuk baca artikel-artiket seputar islam dan cara khilafah mengatasi berbagai masalah di web muslimahnews.com. 

Lebih praktis lagi, yuuk mengkaji islam kaffah.

Minimal biar tidak menelan mentah-mentah fitnah terhadap khilafah, yang jelas ajaran islam dan warisan Rasulullah saw.

Btw, selalu saja terbengong-bengong di depan laptop saat mau input nilai, saat mencoba menggunakan rapor digital offline yang rencananya bisa diakses online. Aplikasi yang layout nya bikin mata berkunang-kunang, tidak support untuk semua piranti dan software pendukungnya. Menduga, yang buat aplikasi kurang bisa mengaitkan dengan realitas pendidikan dan penilaiannya di lapangan.
Dan meskipun terbengong-bengong, tetap mantap dengan perjuangan dakwah khilafah.

Pare, 3 Januari 2020

Mengejar Gelar Toleran Namun Menggadaikan Akidah


Setiap akhir Desember menjelang dan sesudah natal masih saja terjadi pro-kontra seputar ucapan natal seorang muslim kepada orang kristiani. Sebenarnya ini adalah permasalahan mudah yang cukup diselesaikan dengan kembali berpedoman kepada keyakinan agama masing-masing, cukup sebatas menghormati dalam hal akidah. Tak perlu menuntut lebih tak perlu meminta yang melanggar aturan agama.  Namun tetap saja permasalahan ucapan natal ini seringkali menimbulkan kegaduhan, terutama dengan masifnya orang-orang liberal dan moderat yang meminta umat Islam untuk toleran hingga memasuki ranah keyakinan. ini bukanlah hal yang tanpa sengaja, kegaduhan diciptakan untuk mengejar suatu tujuan, semisal membuat umat Islam menggadaikan akidahnya demi menghindar dari cap intoleran, di sisi lain kegaduhan sengaja dibuat agar umat terpalingkan dari permasalahan utama di negeri ini, karut-marut berbagai bidang dan semakin mengenaskannya kasus tindak korupsi yang melibatatkan orang di seputar kekuasaan.

Kembali pada sikap toleran yang diidentikkan dengan kesediaan mengucap natal, menjaga gereja, bahkan hingga bersama merayakannya, ini adalah perbuatan yang sama sekali tidak dicontohkan Nabi Muhammad saw. Memang benar, Nabi adalah orang yang penuh kasih sayang, namun bukan berarti Nabi bersikap lunak dalam hal akidah, bahkan dalam hal akidah ini Nabi sangat tegas, tidak boleh mencampuradukkan keyakinan. Tidak hanya itu, di dalam Alquran di Surah Al Maidah ayat 72-77 ada peringatan keras terutama terkait agama Kristen, haram mengakui Nabi Isa as sebagai Tuhan, haram mengatakan Tuhan itu tiga, maka haram pula mengakui akidah yang mengambilnya. Maka sebagai umat Islam, cukup menghormati akidah Kristen tidak mengganggu ibadahnya. Dan selebihnya tetap bersikap sewajarnya, tidak ada permusuhan karena perbedaan agama, tidak pelu saling mencaci dalam hal akidah. Umat Islam juga tak perlu berlebihan meramaikan natal dengan salawatan, mengiringi perayaan dengan rebana dan lain sebagainya, tak perlu mencampuradukkan yang benar dengan yang salah.

Umat Islam jangan sampai menggadaikan akidahnya demi mengejar gelar toleran, toleran tetap ada batasnya. Jangan terjebak dengan para pemikir liberal yang hendak mengaburkan ajaran dan ketegasan Islam dalam hal akidah. Begitu pula dengan nonmuslim, mari tetap menjaga kedamaian bekerjasama dalam hal yang memang tak melanggar syariat. Dan yang tak kalah pentingnya adalah bersama memberikan kesempatan pada penerapan Islam kaffah agar Indonesia menjadi berkah, karena Islam adalah rammat untuk sleuruh alam. Ketika Islam diterapkan secara sempurna semua akan bahagia.