Thursday, 11 April 2019

Mendamaikan Cebong dan Kampret (2)



Sumber gambar : kaskus.co.id


Sudahlah, akhiri pemusuhan kalian. Ingat kalian itu sama-sama binatang, tak perlu berseteru lagi.

Eeh.. sudah ya, tidak ingin pake istilah cebong dan kampret lagi.

Jauh hari sebelum tanggal 17, mendekati tanggal 17 dan setelah tanggal 17 April nanti, ada yang perlu kita ingat bersama. Ada banyak yang menyatukan kita, ada banyak hal yang sama di antara kita.

Setidaknya kita sama-sama rakyat Indonesia, tak perlu main kasar apalagi mengusir untuk keluar. Mari bersama menyelamatkan negeri ini dari kehancuran. Hukum tegas para koruptor, jangan beri ruang para perusak moral, jangan beri ampun antek asing, jangan beri kesempatan asing merampok  SDA.

Lebih khusus lagi, ada banyak di antara kita yang disatukan dengan akidah Islam. Umat Islam itu ibarat satu tubuh, ibarat satu bangunan, harusnya saling menguatkan, harusnya tak boleh saling menyakiti. Tak layak demi sekerat kekuasaan diperebutkan melalui euphoria pesta demokrasi jelas bukan teladan Nabi. Maka, ingatlah! Sukakah Nabi dengan tingkah kita yang sering mengolok satu sama lain? Sukakah Nabi dengan umatnya yang menjadikan agama sebagai kedok belaka? Memikat rakyat dalam waktu sekejap namun setelahnya mendzaliminya? Ridhakah Nabi melihat umatnya melempar tuduhan murahan menghina khilafah yang merupakan warisannya?

Bagaimanapun juga kita akan tetap bertetangga, kita akan tetap bersaudara, kita akan tetap  hidup dalam negeri yang sama. Tak  layak perbedaan pilihan menghancurkan segalanya.
Tidakkah sadar ada pihak lain yang bertepuk tangan dengan perpecahan kita? Para dalang yang sembunyi di balik kekuasaan, para cukong yang menanti aliran materi, para kaki tangan asing yang hendak memuluskan langkah penjajah penjarah. Mereka menanti Indonesia yang tak damai. Sehingga kerakusan, ketamakan,kejahatan mereka tak terendus.

Maka, cukup mendengar, merenungi dan pasrah taat saja dengan manusia agung, kekasih Allah, manusia pilihan, Nabi Muhammad saw  : Telah aku tinggalkan dua perkara yang apabila kalian berpegang teguh pada keduanya, niscaya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya , yaitu kitabullah dan sunah (hadits)

Dan ingat..ingat! Sistem yang bisa  menerapkan  islam kaffah, Alquran dan Hadits hanya khilafah saja, bukan yang lainnya.

Jadi, apapun pilihanmu, yuuuk mari berjuang demi tegaknya khilafah. Dijamin akuur.


Pare, 11 April 2019

Wednesday, 10 April 2019

Pendidikan Murah, Hanya Dengan Sistem Khilafah


Sumber gambar : indovoice.com

Permasalahan kembali mendera pendidikan tinggi. Penerapan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) ketika masuk perguruan tinggi masih dipenuhi masalah ketersediaan fasilitas. Saat meninjau simulasi Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di lokasi tes Kampus Universitas Diponegoro (Undip) di Semarang, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir meminta Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) dan panitia UTBK lokal untuk menginstall aplikasi UTBK dan mengunduh seluruh soal sebelum Tes Gelombang Pertama UTBK dilakukan. Hal ini untuk mengantisipasi koneksi internet yang terlalu padat apabila semua lokasi tes mengunduh soal menjelang atau pada saat tanggal tes (ristekdikti.go.id). dan lagi-lagi permasalahannya adalah minimnya biaya yang digelontorkan pemerintah demi peningkatan fasilitas pendidikan.
Permasalahan mahalnya biaya pendidikan di perguruan tinggi pun masih mendominasi alasan lulusan SMA/SMK tidak melanjutkan kuliah.  Seperti yang diberitakan Riset yang dilakukan Haruka Evolusi Digital Utama (HarukaEDU) di 2018 menyebutkan, 79% lulusan SMA/SMK yang sudah bekerja tertarik untuk melanjutkan kuliah lagi.  Namun 66% responden di antaranya urung kuliah karena mengaku terkendala biaya. Seperti hasil survei yang dimuat di m.medcom.id : CEO HarukaEDU, Novistiar Rustandi mengungkapkan, tingkat aksesibilitas masyarakat terhadap dunia pendidikan tergolong masih rendah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah siswa di Indonesia yang melanjutkan ke perguruan tinggi meningkat setiap tahunnya, yakni pada tahun ajaran 2010/2011 terdapat 1,08 juta mahasiswa baru dan di tahun 2014/2015 mencapai 1,45 juta mahasiswa baru. "Namun, hanya 8,15 persen dari total penduduk usia 15 tahun ke atas yang berhasil menyelesaikan pendidikannya ke tingkat perguruan tinggi," kata Novistiar, di Jakarta, Senin 24 Desember 2018. Salah satu kendala yang banyak ditemui oleh para lulusan SMA dan SMK untuk langsung melanjutkan ke perguruan tinggi di antaranya adalah persoalan biaya.  Bahkan persoalan biaya juga masih membayangi para lulusan SMA/SMK tersebut, meskipun mereka telah bekerja dan memiliki penghasilan. "Dari hasil riset kami, ada 66% pekerja lulusan SMA/SMK kesulitan biaya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. meskipun mereka ingini sekali kuliah lagi," terang Dia.
Solusi yang ditawarkan pemerintah, di antaranya adalah program Bidikmisi dan beasiswa LPDP belum dinikmati oleh seluruh lulusan SMA/SMK. Bidikmisi sebagai implementasi Program Indonesia Pintar (PIP)  dan Program Keluarga Harapan (PKH) masih sebatas ajang pencitraan, seolah pemerintah peduli dengan pendidikan, padahal nyatanya program ini masih dipenuhi permasalahan minimnya penerima dan tidak tepat sasaran untuk tujuan pendidikan. Sedangkan beasiswa LPDP juga hanya dinikmati segelintir orang saja. Tentu semua ini sangat kontradiktif dengan amanah undang-undang yang seharusnya pendidikan adalah hak seluruh warga negara, tanpa pandang bulu, negara wajib menjamin seluruh rakyatnya untuk mengenyam pendidikan setinggi mungkin.
Permasalahan pembiayaan bidang pendidikan tidak bisa dilepaskan dari tata kelola APBN negeri ini. Kebijakan rezim kapitalistis membuat negara menganaktirikan bidang pendidikan. Karena pendidikan tidak terlalu memberikan kontribusi keuntungan berupa masuknya pundi-pundi uang ke dalam APBN, yang ada malah menggerogoti APBN. Akar masalahnya belum berhenti sampai di sini. Pembangunan berbasis utang dan pemasukan yang ditopang pajak menjadi salah satu pemicu masalah minimnya anggaran pendidikan. Belum lagi utang berkedok investasi yang semakin membelit pemasukan negara. Sumber daya alam yang banyak dikuasai swasta dan asing, infrastruktur yang dikelola asing membuat negara tidak mempunyai kewenangan penuh untuk mengelola ditambah lagi dengan semakin tersanderanya negara oleh utang luar negeri yang semakin membuat kebijakan negara didikte lembaga pemberi utang.
Oleh karena itu, ketika negeri ini menginginkan pendidikan murah, sudah tentu tidak boleh tetap menggunakan solusi tambal sulam yang tidak menyelesaikan permasalahan utama, yaitu kesalahan tata kelola perekonomian negara. Untuk mewujudkan pendidikan murah diperlukan gebrakan, perubahan mendasar yang bersifat sistemik. Dan satu-satunya alternatife adalah dengan menggunakan cara yang telah diwariskan Rasulullah saw dan dilanjutkan para khalifah setelah beliau, yaitu dengan menerapkan sistem islam, baik dalam pembiayaan pendidikan maupun sistem pendidikan itu sendiri. System yang berpijak pada syariat Islam yang digali dari Alquran, Hadits dan Ijma’ sahabat.
Dalam sistem islam, pendidikan dipandang sebagai kebutuhan mendasar seluruh warga negara, maka negara berkewajiban untuk menjamin dan memastikan seluruh warga negaranya memperoleh pendidikan setinggi mungkin. Pembiayaan pendidikan diambilkan dari baitul mal. Ada beberapa pos pemasukan yang bisa dibelanjakan untuk kepentingan kemaslahatan rakyat, di antaranya adalah pendidikan. Di antara pos yang tersebut yaitu fa’i, kharaj dan pemasukan dari pengelolaan kepemilikan umum. Jika dari pos-pos tersebut belum mencukupi maka diperbolehkan menarik pajak, dengan catatan pajak hanya ditarik sementara sesuai kebutuhan, bukan seperti sistem saat ini yang menjadikan pajak sebagai penopang utama pemasukan APBN.
Untuk saat ini, di saat khilafah belum tegak, pos yang bisa dijadikan sebagai sumber pembiayaan adalah pos kepemilikan umum. Jika negara benar-benar peduli dengan pendidikan, maka akan segera mengevaluasi tata kelola kepemilikan umum yang salah satunya adalah sumber daya alam yang melimpah, atau SDA yang mengusai hajat hidup rakyat Indonesia. Memang ini membutuhkan kemauan luat dari pemerintah untuk mengambil alih pengeloaan SDA dari swasta-asing. Namun dengan karakter penguasa yang menerapkan sistem kapitalis-sekular, memang peluangnya sangat kecil. Oleh karena itu jika menginginkan perubahan total hanya bisa diwujudkan dengan sistem khilafah yang akan menerapkan Islam secara kaffah dan menjadikannya rahmat bagi seluruh alam. Wallahu a’lam bishawab.











Tuesday, 9 April 2019

Mendamaikan Cebong dan Kampret (1)

Sumber gambar : Kompasiana.com

Insya Allah amat sangat menghindari menggunakan istilah cebong dan kampret. Agar sama persepsinya, cebong adalah olokan-julukan atau apalah yang disematkan kepada pendukung paslon 01 pilpres, sedangkan kampret paslon 02. Cebong sering diembel-embeli IQ 200 sekolam, otaknya kecil ga bisa mikir. Sedangkan kampret otaknya terbalik , apa yang dipikirkan terbalik antara fakta dan hoaks. Itu yang setidaknya sering terlontar dan berseliweran di media social.

Jika dalam sebuah status, berita, komentar ada hujatan tentang cebong dan kampret, memilih untuk tak melihat lebih jauh lagi, tidak tertarik dengan olokan rendahan.

Oleh karena itu, perlu diluruskan. Karena kita manusia dikaruniakan akal untuk berpikir, tidak asal ucap, tidak asal bertindak. Apapun perbedaannya, cebong dan kampret sama-sama hewan, makas ecara fisik tak layak disamakan dengan manusia. Memang ada kesamaannya, yaitu mempunyai otak. Namun ketika mendifinisikan otak sebagai saatu-satunya hal yang berkaitan dengan kemampuan berpikir, maka saya sarankan untuk membaca dua buku yang secara khusus membahas tentang definisi berpikir dan seluk-beluknya. Buku Hakikat Berfikir (at tafkir) dan Panduan Berpikir Cepat dan Produktif (Sur’atul Badihah). Untuk at tafkir saya ada filenya (arab-indonesia), silakan japri yang minat.

Dengan membaca dua kitab tersebut, akan menjadi jelas bahwa berpikir tidak hanya membutuhkan otak, namun butuh alat indera, fakta yang terindera dan informasi pendahulu. Dan juga tentang konsep IQ, IQ tak selalu berbanding lurus dengan mulianya manusia, karena manusia mulia hanya dengan takwa.

Maka, mari akhiri perseteruan antara cebong dan kampret, hentikan olokan rendahan. Dahulukan berpikir, terutama untuk seorang muslim, berpikirlah cemerlang, jadikan hukum syara’ sebagai informasi pendahulu, jadikan syariat sebagai standar. Tak perlu mengikuti hawa nafsu, sebenci apapun kepada paslon lawan, tetaplah kedepankan keterikatan pada hukum Allah. Secinta apapun pada paslon, jangan sampai cinta buta.

Tak perlu lagi olokan cebong, kampret, kardus, sumbu pendek jika hanya demi melampiaskan euphoria dukungan paslon dalam pilpres. 

Kembalilah menjadi manusia seutuhnya, berjuang untuk meraih ridhoNya
Menerapkan Islam kaffah dalam naungan khilafah, wujudkan islam sebagai rahmat untuk seluruh alam

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami dan mereka mempunyai mata tidak dipergunakannya untuk melihat , dan mereka mempunyai telinga tidak dipergunakannya untuk mendengar . Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al A’raf [7] : 179)




pare, 9 April 2019

Thursday, 4 April 2019

Khilafah dan Pahala Jariyah



Mendirikan rumah tahfidz yang mencetak jutaan hafidz itu amal mulia
Seorang ibu yang fokus pada mendidik anak, melayani dan berbakti kepada suami hingga mengurus seluruh keperluan keluarganya adalah amalan yang tinggi pahalanya
Membuat layanan sedekah untuk orang-orang yang membutuhkan adalah amal mulia juga
Mendirikan panti asuhan, sering melakukan bakti social adalah amal yang tak ternilai pahalanya
Mendirikan sekolah dengan harapan bias  mencetak generasi berilmu dan bertaqwa adalah amal kebaikan
Membuat usaha yang menyerap banyak tenaga kerja adalah kebaikan tak terkira
Mengurus majelis taklim yang focus pada penguatan tazkiyatun nafs adalah ibadah yang luar biasa
Membentuk jamaah dzikir yang membludak jamaahnya juga bukan amal yang sia-sia
Semua itu pasti ada balasannya selama dilakukan semata lillahi ta’ala

Namun jangan berhenti sampai di sini, jangan berpuas diri
Masih ada lagi amalan yang akan membuat semua kebaikan di atas semakin mudah diwujudkan.
Amalan yang akan memastikan semua kebaikan dalam Islam akan diterapkan. Tidak hanya kebaikan yang mencakup hubungan manusia dengan dirinya atau dengan Allah saja, namun juga mewujudkan pengamalan syariat Islam dalam seluruh bidang. Karena memang islam agama sempurna, apapun diatur olehnya.

Amalan itu adalah perjuangan menegakkan khilafah
Khilafah adalah warisan Rasulullah
Khilafah adalah pemersatu umat
Khilafah adalah perisai umat
Khilafah adalah penerap seluruh syariah
Akan ada banyak kebaikan yang terwujud ketika khilafah tegak
Maka upaya menegakkan khilafah adalah mahkota kewajiban, puncak perjuangan untuk memastikan yang wajib sempurna dilakukan, yang sunah ringan diamalkan, yang mubah tak menjadi pilihan, yang makruh berlomba ditinggalkan dan yang haram sedikitpun tak diingankan.
Dan bagi pejuangnya tak pernah berakhir sia-sia.
Karena khilafah adalah kemenangan yang telah dijanjikan
Khilafah itu pasti
Tidak akan ada yang bisa menghalangi
Jika kemenangan itu datangnya nanti
Tetap ada balasannya meski kita telah mati

Perjuangan menegakkan khilafah pahalanya akan menjadi amal jariyah, amalnya terus mengalir meski pejuangnya mati sebelum khilafah tegak. Dakwahnya menyeru kebaikan akan terus mengalirkan pahala, karena khilafah tegak dalam rangka menyemputnakan kebaikan.

Oleh karena itu, teruslah berjuang
Jangan hiraukan celaan, apalagi yang menuduh khilafah dengan tuduhan murahan tanpa bukti. Khilafah tak akan laku katanya, khilafah akan men-Suriah-kan, khilafah akan seperti ISIS, khilafah membasmi non muslim dan lain sebagainya. Sudahlah, biarkan saja. Bersabar menyampaikan dan bersambar menambah bekal ilmu. Nikmati saja, karena semuanya tak pernah sia-sia.


Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).(TQS: Yasin [36] : 12)


Pare, 4 April 2019

Wednesday, 3 April 2019

Reportase Peringatan Isra’ Mi’raj : Sambutan dan Materi – Hikmah Isra’ Mi’raj


Seharusnya menjadi dua tulisan, namun tak terasa sudah mendekati akhir bulan Rajab dan tulisan belum tuntas.
Sambutan dari Ketua Majelis Taklim penyelenggara acara peringatan menyampaikan latar belakang diadakannya acara dan sedikit mengingatkan tentang peristiwa isra’ mi’raj Nabi Muhammad saw. Juga peristiwa penting  yang terjadi di bulan Rajab, salah satunya runtuhnya khilafah pada tahun 1924.

Sedangkan para pembicara, yaitu 6 pembicara secara beruntun menyampaikan materi yang berkelanjutan. Tentu berkaita dengan tema utama : Sebuah Momentum Kebangkitan dan Persatuan Umat.

Diawali dengan fakta yang  musibah menimpa rakyat Indonesia hingga nasib saudara seiman di berbagai belahan dunia, yang terakhir adalah penembakan brutal di Selandia  Baru. Bukti bahwa umat Islam sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Semakin mengukuhkan kebutuhan umat akan pelindung , perisai dan pengayom. Yaitu khilafah, yang akan menerapkan Islam kaffah. Maka dimulailah dengan dalil-dalil seputar kewajiban menegakkan khilafah dan berbagai pendapat ulama, yang memang hamper tidak ada yang berselisih pendapat  tentang wajibnya khilafah.
Dilanjutkan dengan fakta kekuatan khilafah yang akan menjadi pelindung umat, akan bisa menjadi pelindung umat di seluruh penjuru dunia. Menjadi pengayom seluruh warga negaranya, muslim dan non muslim. Fakta tentang sigapnya para khalifah terdahulu ketika ada warga negaranya yang membutuhkan.

Tak hanya berhenti pada romantisme sejarah, saat ini umat terpecah belah dirundung berbagai masalah.maka harus ada upaya untuk membangkitkan umat Islam, harus ada yang mengawali. Namun sayang, di saat ada dakwah yang menyampaikan khilafah sebagai jalan menuju kebangkitan umat, masih saja ada yang berusaha untuk menghalangi, menjegal bahkan memfitnah.

Hampir sama ketika Rasulullah saw menyampaikan peristiwa isra’ mi’raj. Masyarakat terpecah menjadi tiga golongan. Pertama golongan mukmin, tanpa banyak kata cukup iman dan percaya karena memang berawal dari keyakinan bahwa yang disampaikan Rasulullah saw pasti sebuah kebenaran. Memang tak mudah, apalagi bagi hati yang keras dan sombong, mengikuti apa yang disampaikan Rasulullah pastilah berat di hati. Kedua, golongan munafik. Di satu sisi mengaku mempercayai Rasulullah namun tak jarang meragukan beliau. Bisa jadi karena kepentingan, dengan ringannya menolak apa yang berasal dari Nabi. Ketiga, golongan kafir. Tidak mengherankan, orang kafir sejak awal memang tak mengimanai Rasulullah maka wajar apapun yang berasal dari beliau akan dibantah mentah-mentah.

Dn seperti itu pula masyarakat ketika menyikapi khilafah. Ada yang semangat memperjuangkannya, ada yang mengatakan sebagai hal yang tak laku, da nada yang tak mempercayainya. Sebagaimana menyikapi semua yang berasal dari Allah dan RasulNya, bagi orang yang bertaqwa sederhana saja, sami’na wa ‘atha’na, kami mendengar dan kami taat, tak perlu banyak alasan menghindar.

Khilafah adalah sebagaimana ajaran islam yang lainnya. Megakkan salat wajib, menegakkan khilafah juga wajib, karena hanya dengan system khilafah saja seluruh syariat bisa diterapkan. Mengerjakan satu kewajiban saja harus berusaha sekuat tenaga, apalagi hendak menegakkan institusi yang akan menyempurnakan semua kewajiban, harus lebih ekstra lagi mengerahkan seluruh daya dan upaya. Mengorbankan apapun yang dimiliki. Tak berhenti meski kebangkitan umat Islam juga dihalang sekuat tenaga oleh musuh-musuh, meski kedazaliman luar biasa menimpa.  

Dan yang tak kalah pentingnya, perjuangan khilafah adalah kewajiban seluruh umat islam, bukan kewajiban ormas tertentu. Sinergi menegakkan hokum Allah dimuka bumi menjadi prioritas.  Ukhuwah islamiyah harus diutamakan, politik adu domba tak layak dilayani dan dibiarkan.

Khilafah urgen dibutuhkan umat. Ibarat bangunan, akidah adalah pondasi, syatiat adalah tiang dan khilafah adalah atap yang melindungi. Masing-masing penting, tidak boleh diabaikan salah satunya.

Dan tentu semua itu tidak semudah membalikkan tangan. Memperbaiki umat, membangkitkan umat, mengajak untuk bersama menegakkan khilafah bukanlah aktivitas sepele, remeh temeh atau layak dihentikan hanya karena tuduhan murahan. Perjuangan menegakkan khilafah di saat pemikiran kapitalis  secular liberal menguasai umat manusia termasuk umat muslim, ibarat memegang bara api. Bersabar dalam perjuangan yang penuh rintangan seperti ini pahalanya sepadan dengan 50 orang sahabat. Tidakkah ingin pahala yang luar biasa seperti ini? Jika memang tak menginginkannya janganlah menambah dosa dengan menghalanginya.


Pare, 3 April 2019

Wednesday, 27 March 2019

Reportase Peringatan Isra’ Mi’raj : Pembacaan Alquran – Tak Hanya Dibaca, Amalkan, Dakwahkan



Rencana tulisan reportase ini adalah :
Pembukaan
Pengumuman
Pembacaan Alquran
Sambutan
Materi
Kreasi
Serba-serbi

Setelah pengantar dari pembawa acara dan pengumuman dari tim media, pembawa acara secara resmi membuka acara Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw : Sebuah Momentum Kebangkitan dan Persatuan Umat.
Dan setelah pembukaan acara berikutnya adalah pembacaan ayat suci Alquran. Seharusnya hamper semua muslim tahu, surat apa yang dibaca saat Peringatan Isra’ Mi’raj. Jangan kalah dengan murid saya di madrasah ibtidaiyah, selalu ada murid yang siap membaca Alquran meski diberi tugas mendadak, dan mereka tahu surat apa yang dibaca, menyesuaikan acaranya.

Ya, yang dibaca adalah awal surah Al isra’ atau surah Bani Israil. Surah yang mengabarkan tentang peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw. Insya Allah kupasan tentang peristiwa ini ada di tulisan materi.
Begitulah, ada ayat-ayat “langganan” , peringatan Isra’ Mi’raj yang dibaca awal surat al Isra’, maulid Nabi yang dibaca Al Ahzab 21, saat pernikahan Ar Ruum 21 dan An Nisa’ 1, saat hari ibu baca  Luqman 14, saat menjelang dan sepanjang Ramadan Al baqarah 183,  dan lain sebagainya. Ada banyak ayat yang familiar diperdengarkan dalam acara tertentu. Namun saying, tak semua disampaikan, cenderung terbiasa dengan ayat yang sebatas mengatur kehidupan pribadi. Ayat tentang qisas, rajam, potong tangan, perang, keharaman pemimpin kafir, kewajiban penguasa menarik zakat, peringatan bagi orang yang tak berhukum dengan hukum Allah dan sebagainya, yang berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara seringkali “disembunyikan”. Tabu untuk disampaikan, dianjurkan untuk diamalkan dan didakwahkan. Banyak hal menjadi alasan. Perbaiki diri saja dahulu, yang penting diri sendiri, jangan disampaiakan khawatir menyinggung, melanggar HAM hingga tuduhan kejam, ayat yang sudah tak relevan. Yang pasti akar darisemua  alasan  tersebut adalah merasuknya pemikiran secular alias mengabaikan syariat salah satunya yang ada dalam Alquran. Cukup amalkan syariat dalam ranah individu saja, agama jangan mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Memang sekularisasi ini dampaknya luar biasa. Ribuan ayat kalamullah seolah sah untuk diabaikan, tak perlu diterapkan cukup dibaca, dihafalkan bahkan dilombakan, tapi tak boleh diterapkan secara menyeluruh. Maka tak heran jika ribuan rumah tahfidz dibiarkan, musabaqah tilawatil quran diselenggaran secara besar-besaran, namun itu semua sebatas bacaan, maka tentu dibiarkan.

Berbeda halnya ketika terkait hukum publik, pemerintahan, perekonomian dan ayat lain yang memang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Satu ayat saja terlarang untuk disampaikan secara masif. Al Maidah 51 membuat seseorang gerah hingga berakhir pada opini haram pemimpin kafir, dan ketika terjungkal dalam pilkada, ormas Islam pengusung penerapan islam kaffah dalam naungan khilafah pun menjadi korban. Atau ayat tentang orang kafir tak perlu diumbar, bahkan sebutan kafir yang berulang di Alquran pun diminta untuk diganti. Ayat tentang permusuhan Allah dan Rasul terhadap pelaku riba jarang disampaikan, ayat tentang waris dianggap tak relevan emarginalkan perempuan.

Seharusnya umat Islam sadar, memelihara Alquran itu bukan sekadar membaca dan menghafalkan, namun memahami, merenungkan dan mengamalkan dalam kehidupan, totalitas, bukan prasmanan, diambil yang disukai dan dianggap menguntungkan saja. Seharusnya umat sadar bahwa system secular yang saat ini diterapkan membuat umat islam tak bisa menjadi muslim kaffah sebagaimana Rasulullah, para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabiin dahulu menjadi umat terbaik hanya dengan Islam, bukan dengan demokrasi bukan dengan kapitalisme, bukan dengan social komunis.

Maka untuk bisa menjadikan Alquran sebagai rahmat dalam kehidupan, hanya dengan menerapkannya secara kaffah dalam semua lini kehidupan, yang memang nyata tak mungkin terwujud dalam system secular, umat butuh khilafah untuk bisa menerapkan Alquran dan islam secara kaffah, sekali lagi kaffah, bukan setengah-setengah.



Pare, 27 Maret 2019

Tuesday, 26 March 2019

Demi Nasionalisme Saudi Membela China Yang Menumpahkan Darah Saudaranya

kompas.com

Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) mendukung hak China untuk melakukan langkah-langkah "anti-terorisme" dan "de-ekstremisme". Para aktivis mencerca komentarnya dan dianggap sebagai pembelaan terhadap tindakan keras Beijing terhadap minoritas Muslim Uighur. Komentar Pangeran Mohammed disampaikan kepada Presiden China Xi Jinping pada hari Jumat selama kunjungan ke Beijing. Lawatan itu merupakan bagian terakhir dari tur Asia yang mencakup Pakistan dan India. Dalam pembicaraannya dengan Xi, MBS memuji hubungan Saudi dengan China yang bebas dari masalah. Mengutip Xinhua, Minggu (24/2/2019), Xi mendesak upaya bersama untuk melawan ekstremisme dan terorisme.(sindonews.com, 24/2/2019).
Begitu nyata sikap Putra Mahkota Saudi MBS. Memberi dukungan pemerintah China yang jelas menyengsarakan umat Islam Uighur. Padahal banyak negara yang mengecam tindakan kejam pemerintah China tersebut, bahkan PBB dan Human Right Watch sudah sama-sama memberikan peringatan keras kepada China. Sungguh ironi apa yang menjadi langkah MBS.
Mengapa MBS begitu teganya membiarkan darah saudara seakidah tertumpah? Setidaknya ada dua hal yang melatar belakangi. Pertama kentalnya nasionalisme dan kepentingan nasional,.sekat semu ini seolah menghapus pesan Rasulullah saw bahwa muslim bersaudara, ibarat satu tubuh. Mana mungkin saudara membiarkan saudaranya yang lain menderita, mana mungkin satu tubuh saling melukai. Namun ini menjadi hal yang lumrah ketika umat Islam telah tersekat nasionalisme. Ikatan nasionalisme adalah ikatan yang reaksioner, didominasi pada kepentingan mempertahankan negerinya. Maka tak heran jika keputusan MBS mendukung langkah pemerintah China terhadap muslim Uighur semata karena kepentingan calon penguasa Saudi saja, tanpa mempedulikan nasib umat Islam di Uighur.
Kedua, kepentingan para pemilik modal yang menjadi kaki tangan ideologi kapitalisme. Dukungan MBS terhadap pemerintah China bukanlah tanpa imbalan. Melalui MBS, Saudi meneken kerja sama bilateral dengan China.  “Pangeran Mohammed Bin Salman, meneken kerja sama senilai US$10 miliar atau sekitar Rp140 triliun dengan pemerintah Cina. Kerja sama ini termasuk pembangunan kompleks petrokimia dan penyulingan minyak di Cina. Penandatanganan ini dilakukan dalam kunjungan dua hari Pangeran Salman ke Beijing dan diakhiri dengan bertemu Presiden Cina, Xi Jinping, pada Jumat, 22 Februari 2019. (Tempo.co, 23/2/2019). Maka dukungan kepada pemerintah China juga dalam rangka menciptakan iklim investasi dan kerjasama perekonomian yang kondusif, dan kondisi ini akan tercipta ketika ada upaya untuk mencegah cikal-bakal ekstrimisme dan terorisme yang disematkan kepada muslim Uighur. Maka lagi-lagi semakin terlihat dengan jelas bahwa terorisme diidentikkan dengan Islam.
            Baik latar belakang nasionalisme dan kepentingan nasional serta kepentingan agen kapitalisme, itu semua hanya terjadi ketika umat Islam tercerai berai dalam ikatan nasionalisme dan tidak bersatu dalam satu kepemimpinan. Selama ini terjadi, umat Islam akan terus dihinakan dan menjadi bulan-bulanan penguasa muslim yang berkhianat. Oleh karena itu, umat Islam membutuhkan perisai dan pelindung, untuk menyatukan umat Islam dan membela umat Islam. Perisai itu adalah khilafah. Sebuah system pemerintahan yang tegak untuk menerapkan Islam secara kaffah, menyatukan umat Islam dalam satu kepemimpinan. Dengan khilafah, semua umat Islam akan ada yang membela. Sebagaimana  Rasulullah yang tegas mengusir Bani Qainuqa’ yang berkhianat dan mengganggu kehormatan seorang muslimah, Khalifah Umar bin Khathab dan Shalahudin Al Ayubi yang membela Palestina. Sebagaimana Khalifah Mu’tashim Billah yang mengirim ribuan tentara untuk menghukum tentara Romawi yang menghinakan seorang muslimah. Dengan khilafah darah dan kehormatan umat Islam akan terjaga.


Tuesday, 19 March 2019

Reportase Peringatan Isra’ Mi’raj : Pengumuman – Mode Pesawat

Sumber gambar :didno76.com




Reportase sebelumnya ada di tulisan : Pengumuman - Bahasa Arab
Rencana tulisan reportase ini adalah :
Pembukaan
Pengumuman
Pembacaan Alquran
Sambutan
Materi
Kreasi
Serba-serbi

Setelah beberapak ali menyapa peserta dan memberikan pengantar, pembawa acara mempersilakan perwakilan dari Tim Media untuk memberi pengumuman dan arahan.

Sebelum dimulai semua peserta diminta untuk mengatur HP yang dibawa menjadi mode pesawat. Maka secara otomatis koneksi dan jaringan tidak aktif. Peserta dihimbau untuk hanya mengambil foto saja, menyimpan dulu. Tidak terburu untuk diunggah ke media social. Tujuannya apa ? Insya Allah ada di reportase  tentang serba-serbi. Dan pengauran mode pesawat pun tidak sampai pada akhir acara, hanya sementara.

Begitulah, ketika pembawa acara membuka acara dengan salam, yang memegang HP hanya sebatas mengambil foto, tidak lebih.

Sekali lagi terasa nyaman berada dalam forum dengan HP tidak terkoneksi dengan internet. Hampir semua peserta memanfaatkan kesempatan untuk serius mengikuti acara, sambil sesekali mengabadikan peristiwa istimewa.

Jika HP tetap  terkoneksi dengan internet bisa jadi akan ada peserta  tidak  tahan untuk update status atau story. Sedikit-sedikit upload foto, sedikit-sedikit update status, atau ngecek ada yang like tidak, atau balas komentar. Atau malah ada yang bosan dengan acara akhirnya berselancar di dunia maya. Dan  bisa jadi mengurangi konsentrasi mengikuti rangkaian acara. Dan hanya berbagi bicara dengan teman di dekatnya, bukan malah sibuk dengan HP masing-masing.

Memang Allah memberi manusia naluri atau  gharizah, salah satunya adalah  gharizah baqa’. Yaitu naluri untuk menunujukkan eksistensi dirinya kepada dunia. Dan salah satu perwujudannya adalah memberitahukan aktivitasnya kepada orang lain. Memang tidak selalu berakhir dengan maksud pamer, ada banyak latar belakang orang menginfokan apa yang dia lakukan di media social. Ini adalah perkara yang alami. Namun baru menjadi masalah ketika tidak bisa memilah kapan dan apa yang akan dibagi.

Tentang berbagi di media social, mengingatkan diri sendiri lagi, menata hati, meniatkan agar tidak terjerumus pada amalan sia-sia, terbersit niat untuk pamer. Semoga terhindar dari hal yang demikian. Bagaimanapun juga semua aktivitas kita di dunia akan dimintai pertanggungjawabkan di akhirat kelak, dan pasti ada malaikat yang sudah mencatat. Jadi tidak semua hal bisa kita bagi di media social, pilah apa yang akan dibagi, berpikir ulang akankan mendatangkan kemaslahatan, atau malah mengakibatkan kemudharatan. Benarkah ikhlas untuk kebaikan atau hanya sekadar memuaskan keinginan.

Tentang sibuk dengan media social, pertimbangkan waktu yang digunakan. Jangan sampai aktif di media social namun lupa untuk bersosialisasi dengan orang di sekitar. Jangan sampai sering berbagai di media social namun orang di dekatnya terabaikan.

Jadi, tak masalah sesekali menikmati waktu  saat beragenda tanpa koneksi internet, tanpa update status tanpa sedikit-sedikit upload kegiatan, apapun di upload tanpa berpikir dampaknya.

Dan semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang senantiasa berbagi dalam kebaikan. Memanfaatkan sarana yang ada untuk semakin meningkatkan takwa, menyebar opini dakwah di dunia maya dan dunia nyata. Menyampaikan kepada dunia tentang Islam, syariah dan khilafah. Menjadi pejuang khilafah yang akan menerapkah islam kaffah dan menjadikan islam sebagai berkah untuk seluruh penjuru dunia. Aamiin


Pare, 19  Maret 2019

Monday, 18 March 2019

Reportase Peringatan Isra’ Mi’raj : Pembukaan - Bahasa Arab


Alhamdulillah masih diberi kesempatan menghadiri peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw dengan tema : Sebuah Momentum Kebangkitan dan Persatuan Umat.

Memasuki ruangan, masih belum banyak peserta, sebagian besar kursi belum terisi, mencari tempat duduk dan mengkondisikan semua anggota rombongan. Masih ada rombongan Pare yang belum datang. Karena yang ketinggalan salah satunya adalah anak kursusan yang notabene belum kenal medan, berinisiatif untuk menunggu mereka di dekat pintu masuk.

Peserta lain sudah mulai memenuhi kursi yang tersedia. Pembawa acara pun menyapa peserta. Tidak dengan bahasa Indonesia, menggunakan Bahasa Arab. Dan sepanjang acara pun juga lebih banyak menggunakan bahasa Arab sebagai pengantar.

Alhamdulillah, mendengar sapaan dan deskripsi acara dalam bahasa Arab itu terasa beda.

Ya, bahasa Alquran, bahasa Hadits. Bahasa yang istimewa bagi umat Islam.
Ada banyakkeutamaan dan alasan pentingnya belajar Bahasa Arab, di antaranya sebagai berikut (diambil dari materi belajar bahasa Arab dalam 11 pertemuan, materi berupa PPT lupa dapat darimana, silakan kirim alamat email jika menginginkan filenya) :

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa
Al-Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (TQS. Yusuf [12]: 2)
“dan Sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, * Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), * ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, * dengan bahasa Arab yang jelas.”
(TQS. Asy-Syu’ara [26]: 192-195)

Imam Asy-Syafi’i: “Hendaknya setiap muslim mempelajari lisan Arab (bahasa Arab) sampai batas usaha keras yang dia bisa.” (Ar-Risalah: 48)

Ibn Taimiyyah: “Sesungguhnya bahasa Arab itu adalah bagian dari agama, dan mengetahuinya adalah keharusan yang wajib, (karena) sesungguhnya memahami Al-Qur’an dan Hadits adalah fardhu, yang tidak dapat dipahami kecuali dengan memahami Bahasa Arab (terlebih dahulu), dan setiap perkara yang suatu kewajiban tidak sempurna tanpanya maka hukum perkara tersebut adalah wajib.”  (Iqtidhâ’ Ash-Shirâth Al-Mustaqîm: 207)

Syaikh Taqyuddin An-Nabhani: “Adapun penyebab kemunduran (dunia Islam) ini maka kembali kepada satu hal, yaitu sangat lemahnya pemahaman terhadap Islam. Kelemahan ini disebabkan karena pemisahan antara KEKUATAN ARAB dengan KEKUATAN ISLAM, yaitu dengan diremehkannya peran bahasa Arab dalam memahami dan menerapkan Islam sejak awal abad VII Hijriyyah. Selama kekuatan Arab tidak disatukan dengan kekuatan Islam, yaitu dengan cara menempatkan bahasa Arab –yang merupakan bahasa Islam- sebagai unsur yang sangat penting yang tidak terpisahkan dari Islam, maka kemuduran akan tetap melanda kaum muslim.” (Mafâhîm Hizb At-Tahrîr: 1)

Asy-Syafi’i ra berkata: “Saudaraku, engkau tidak akan pernah mendapatkan ilmu kecuali dengan enam perkara, saya akan merincinya dengan jelas, (yaitu): kecerdasan, ketamakan, kesungguhan, harta, bergaul dengan ustadz, dan (menyediakan) waktu yang panjang.” (Diwan Asy-Syafi’i)

Semoga Allah masih memberi kesempatan kepada kita untuk terus istiqamah dalam belajar Bahasa  Arab. Aamiin.

Pare, 18 Maret 2019

Thursday, 14 March 2019

Miss, Mister, Hei Tayo!


Awalnya tidak nyaman dengan panggilan Miss atau Mister, terasa asing di telinga tapi akhirnya terbiasa juga. Tapi saya tetap tidak mau dipanggil Ms, tetap tidak nyaman.

Di Pare, yang memang banyak tempat kursus bahasa Inggris panggilan Miss dan Mister sudah biasa. Terutama untuk memanggil pengajar kursus.  Namun lama-kelamaan panggilan itu digunakan secara umum di antara sesama teman yang sedang kursus. Bahkan meluas kepada siapapun yang terlibat di kursusan.

Terlepas panggilan Miss dan Mister sudah menjadi kebiasaan, tetap saja ada pembedaan, tidak sembarangan digunakan. Masih memandang siapa yang akan disapa. Intinya kondisional saja. Ga usah dibikin ribet.

Meski kadang kurang tepat, karena sudah biasa akhirnya memaklumi saja. Entah menggunakan sapaan Mr, Mrs, Miss, Ms sudahlah intinya mereka hendak memanggil.

Itu tentang pilihan kata panggilan dan sapaan. Semua orang pasti berusaha menyesuaikan, tidak berucap sembarangan.

Tentang Hei Tayo
Beberapa waktu lalu sempat tren memanggil seseorang dengan hei, namun bukannya melanjutkan dengan nama, dan benar-benar sengaja memanggil, hanya berakhir dengan candaan dan ketidakseriusan. Hanya sebatas candaan dan menggoda saja karena, akhirnya berkata : Hei,Tayo!

Di kelas saya, jika ada yang menyengaja menggoda temannya dengan panggilan “ Hei, Tayo!” maka akan mendapat peringatan, jika berulang akan diberi sanksi, untuk memberi pelajaran agar tidak sembarangan memanggil orang lain, tidak iseng.

Dan yang sebelumnya heboh, usulan penggunaan kata nonmuslim untuk menggantikan kata kafir. Kata kafir dianggap intoleran dan membahayakan kesatuan serta kebhinekaan bangsa.

Terlepas dari kontroversi yang muncul, mari mengembalikan bagaimana seharusnya bersikap dalam kehidupan bermasyarakat.

Saat ini, dimana Islam belum diterapkan secara kaffah, belum tegak khilafah bukan berarti seorang muslim tidak memperhatikan adab dalam pergaulan.

Insya Allah muslim yang paham adab, tidak akan memanggil kerabat, tetangga atau teman yang tidak beragama Islam dengan embel-embel kafir. Karena ini dalam ranah akidah, selama tidak ada pemaksaan, wajib saling menghormati, tidak boleh mencampuradukkan akidah. Tidak perlu menjadi sebab permusuhan. Dalam realitas, tidak pernah menjumpai orang memanggil dengan kata “ Hei, kafir!”

Berbeda ketika berbicara terkait pembahasan akidah, terutama dalam majelis ilmu. Baik majelis homogen muslim maupun heterogen. Pandangan tentang iman dan kafir harus dikembalikan pada dalil, mendefinisikan kafir secara istilah syara’, bukan sesuai keinginan semata.

Sedangkan ketika system khilafah yang diterapkan, ada kejelasan posisi orang kafir. Islam mempunyai pandangan yang jelas tentang kedudukan orang kafir. Orang kafir yang tunduk di bawah aturan Islam dan menjadi warga Negara khilafah adalah kafir dzimmi. Secara umum mempunyak hak dan kewajiban yang sama dengan muslim dalam konteks sama-sama sebagai warga Negara. Kafir dzimmi dijamin keamanan, kehormatan, dilindungi harta dan nyawanya.

Kafir musta’min, orang kafir yang memasuki wilayah khilafah dengan aman. Sesuai dengan namanya, maka ketika berada dalam wilayah khilafah, keamanan kafir musta’min dijamin oleh Negara khilafah.

Kafir mu’ahid, orang kafir yang sedang mengikat perjanjian dengan Negara khilafah, maka akan diperlakukan sesuai dengan isi perjanjian.

Kafir harbi, orang kafir yang memusuhi Islam dan khilafah. Terbagi menjadi 2, kafir harbi secara hukum yang sedang mengikat perjanjian, diperlakukan sesuai perjanjian yang ada batasnya dan kafir harbi hakiki secara nyata memusuhi Negara Khilafah, tidak ada kerjasama dengan kafir harbi hakiki.

Maka jika ingin memperjelas posisi nonmuslim, terapkan saja system khilafah, standarnya jelas, hukum syara’. Bukan HAM apalagi sentimen politik. Sungguh usulan rendahan yang penuh intrik kepentingan, seolah nampak toleran di permukaan, namun sejatinya mereka sedang mengobok-obok ajaran Islam.

Jadi, belajar saja, tambah ilmu, luruskan niat semata untuk menaikkan derajat takwa agar tidak mudah menimbulkan kegaduhan. Tidak memecah belah umat.

Terus belajar Islam kaffah, mendakwahkan khilafah agar semua diatur sesuai syariah, bukan seperti saat ini, hidup dalam naungan kapitalisme, memisahkan agama dari kehidupan, hanya akan menimbulkan kebingungan dan berakhir pada kesengsaraan.


Di tulisan Nonmuslim Juga Sepakat saya memilih menggunakan kata nonmuslim, bukan kafir. Tetapi di tulisan Puteri Muslimah vs Putri Kafir ? dan Menghormati Akidah Orang Kafir saya menggunakan kata kafir, karena konteksnya berbeda. 


Pare, 14 Maret 2019






Thursday, 28 February 2019

Daftar Isi Buku

Dahulu mempunyai komitmen untuk menulis daftar isi buku yang baru dibeli, dengan harapan meski belum bisa menghabiskan isi buku setidaknya bisa sedikit mengingat pokok bahasan dalam buku. namun apa daya, istiqamah itu susah. 

Berikut adalah daftar isi 3 kitab yang semuanya dikaji di Hizbut Tahrir. Benar-benar dikaji ya, dibaca, dijelaskan. Yang menjelaskan pun juga yang diberi kewenangan, bukan sembarang orang, jadi sanadnya terjaga. Kajiannya pakai kitab berbahasa Arab.

Sistem Pergaulan Dalam Islam

DAFTAR ISI
Mukadimah ............................................................................... 9
Pria dan Wanita......................................................................... 20
Pengaruh Pandangan terhadap Hubungan Pria dan Wanita ...... 27
Pengaturan Hubungan Pria dan Wanita ..................................... 34
Kehidupan Khusus ..................................................................... 44
Kewajiban Memisahkan Pria dan Wanita dalam Kehidupan
Islam .......................................................................................... 51
Melihat Wanita .......................................................................... 56
Wanita Muslimah Tidak Wajib Menutup Wajahnya .................... 85
Kedudukan Wanita dan Pria di Hadapan Syariah ...................... 118
Aktivitas Kaum Wanita ............................................................... 134
Jamaah Islam ............................................................................. 114
Pernikahan ................................................................................. 173
Wanita-wanita yang Haram Dinikahi .......................................... 202
Poligami ..................................................................................... 211
Pernikahan Nabi SAW ................................................................ 225
Kehidupan Suami Isteri .............................................................. 241
‘A z l. .......................................................................................... 256
Talak .......................................................................................... 270
Nasab......................................................................................... 286
Li’an .......................................................................................... 290
Perwalian Ayah .......................................................................... 297
Pengasuhan Anak ...................................................................... 299
Silaturahim ................................................................................ 308

Catatan daftar isi buku Sistem Keuangan Negara Khilafah 18 April 2011, padahal beli bukunya 21 April 2010 setahun sebelumnya, dan sekarang 9 tahun berlalu, dan masih juga belum selesai membaca

Sistem Keuangan Negara Khilafah

MUKADIMAH CETAKAN KEDUA                                              
MUKADIMAH                                                                           
BAITUL MAL                                                                            
BAGIAN-BAGIAN BAITUL MAL                                                           
Bagian-bagian Baitul Mal yang Paling Awal Terbentuk         
PEMBAGIAN DEWAN BAITUL MAL                                         
PENDAPATAN NEGARA                                                           
Bagian Fai dan Kharaj                                                             
Bagian Pemilikan Umum                                                         
Bagian Shadaqah                                                                    
BELANJA NEGARA                                                                   
HARTA                                                                                     
ANFAL, GHANIMAH, FAI, DAN KHUMUS                                 
Anfal dan Ghanimah                                                               
Pembagian Ghanimah, Pengeluaran dan Pihak Penerimanya            
Harta Fai                                                                                 
Harta Khumus                                                                         
KHARAJ                                                                                    
Kharaj ‘Unwah (Kharaj Paksaan)                                            
Kharaj Sulhi (Kharaj Damai)                                                    
Berkumpulnya Kharaj dan ‘Usyur                                            
Tindakan yang Wajib Dilakukan Saat Ini                                
Cara Penentuan Kharaj                                                           
Pengukuran Kharaj                                                                  
Pembelanjaan Kharaj                                                              
UKURAN PANJANG, LUAS, TAKARAN, DAN TIMBANGAN       
Ukuran Panjang dan Luas                                                       
Ukuran Takaran dan Timbangan                                             
JIZYAH                                                                                     
Pihak Pembayar Jizyah                                                            
Penghentian Jizyah                                                                 
Besarnya Penentuan Jizyah                                                    
Lamanya Jizyah                                                                       
Penggunaan Jizyah                                                                 
HARTA MILIK UMUM DAN JENIS-JENISNYA                            
Jenis Pertama Harta Milik Umum                                           
Jenis Kedua Harta Milik Umum                                               
Jenis Ketiga Harta Milik Umum                                              
Pemanfaatan Harta Milik Umum dan Pendapatannya           
Pinjaman dari Negara-negara Asing                                       
Penguasaan/Pemagaran atas Sebagian Harta Milik Umum  
MILIK NEGARA YANG BERUPA TANAH, BANGUNAN, SARANA UMUM, DAN PENDAPATANNYA                                                            
Jenis-jenis Milik Negara                                                         
Pengelolaan Harta Milik Negara                                            
Marafiq                                                                                   
‘USYUR                                                                                    
Komoditi Apa yang Terkena ‘Usyur dan Waktu Pungutannya            
HARTA TIDAK SAH DARI PARA PENGUASA DAN PEGAWAI NEGARA, HARTA HASIL USAHA YANG TERLARANG DAN DENDA                                               
KHUMUS RIKAZ (BARANG TEMUAN) DAN BARANG TAMBANG         
HARTA YANG TIDAK ADA AHLI WARISNYA                                         
HARTA
ORANG-ORANG MURTAD                                                                   
PAJAK                                                                                                  
ZAKAT                                                                                                  
ZAKAT TERNAK                                                                                    
Unta                                                                                                    
Sapi                                                                                                     
Kambing/Domba                                                                                 
Bagian yang Ditetapkan, yang Diambil, dan yang tidak Diambil pada Zakat Kambing                                                                                                                    
Hukum Berserikat pada Ternak Kambing                                           
ZAKAT TANAMAN DAN BUAH-BUAHAN                                             
Jenis Tanaman dan Buah-buahan yang Wajib Zakat                         
Nishab Zakat Tanaman dan Buah-buahan                                         
Waktu Tercapainya Zakat Biji-bijian dan Buah-buahan                     
Penghitungan Buah-buahan                                                               
Ukuran Zakat yang Diambil dari Tanaman dan Buah-buahan            
Cara Pemungutan Zakat Tanaman dan Buah-buahan                        
ZAKAT EMAS DAN PERAK                                                                    
Ukuran Nishab Perak                                                                          
Kadar Zakat Perak                                                                               
Kadar Nishab Emas dan Kewajiban Zakatnya                                                
Zakat Uang Kertas                                                                              
ZAKAT PERDAGANGAN                                                                       
Zakat Hutang                                                                                      
PERHIASAN                                                                                          
PEMBAYARAN ZAKAT KEPADA KHALIFAH                                           
Hukum Orang yang Menolak Membayar Zakat                                  
POS-POS PENGELUARAN ZAKAT                                                         
MATA UANG DI DALAM ISLAM                                                           
Timbangan Dinar dan Dirham                                                             
SISTEM MATA UANG                                                                           
SISTEM MATA UANG LOGAM                                                             
Sistem Mata Uang Logam Tunggal                                                     
Sistem Dua Logam                                                                              
SISTEM UANG KERTAS                                                                        
PENERBITAN MATA UANG                                                                  
Bobot (Kadar) Emas dan Perak                                                           
Rasio Emas terhadap Perak                                                                
KEUNTUNGAN SISTEM EMAS DAN PERAK                                          
Ketersediaan Emas yang Ada di Dunia                                               
Tata Cara Kembali Kepada Kaedah Emas                                           


Kepribadian Islam 1

Daftar isi

Syakhshiyah (Kepribadian Manusia)....................................      1
Syakhshiyah Islam...............................................................  6
Pembentukan Syakhshiyah..................................................    13
Kejanggalan-Kejanggalan Perilaku........................................   17
Akidah Islam....................................................................... 22
Makna Iman Terhadap Hari Kiamat.....................................    45
Asal Usul Mutakallimin dan Metodologinya.........................       53
Kesalahan Metode Mutakallimin..........................................   64
Munculnya Masalah Qadla dan Qadar.................................     76
Al-Qadar..............................................................................               93
Al-Qadla..............................................................................             103
Al-Qadla dan Al-Qadar........................................................   108
Petunjuk dan Kesesatan......................................................   124
Sebab Kematian Adalah Berakhirnya Ajal............................      136
Rizki Berada di Tangan Allah...............................................    148
Sifat-Sifat Allah.................................................................... 155
Filosof-Filosof Muslim..........................................................   169
Nabi-Nabi dan Rasul...........................................................   175
Kema’shuman Para Nabi.....................................................   182
Wahyu................................................................................              185
Rasul Bukan Mujtahid..........................................................  794
Al-Quran Al-Karim...............................................................  215
Pengumpulan Al-Quran.......................................................   221
Penulisan Mushaf.................................................................              230
Kemukjizatan Al-Quran........................................................  233
As-Sunnah..........................................................................  253
Sunnah Adalah Dalil Syara’ Sebagaimana Al-Qur’an...........    260
Berdalil Kepada Sunnah......................................................    266
Khabar Ahad Tidak Bisa Menjadi Hujjah
             Dalam Masalah Akidah..............................................   271
Perbedaan Akidah Dengan Hukum Syara’........................... 278
Ijtihad dan Taqlid................................................................  281
Ijtihad.................................................................................             287
Syarat-Syarat Ijtihad............................................................ 299
Taqlid..................................................................................             310
Fakta Tentang Taqlid............................................................              317
Kondisi Muqallid Dan Pentarjihnya......................................     328
Berpindah-Pindah Antar Para Mujtahid................................    332
Mempelajari Hukum Syara’.................................................   335
Kekuatan Dalil..................................................................... 339
Asy-Syuraa atau Pengambilan Pendapat Dalam Islam...........      350
Ilmu Dan Tsaqafah..............................................................  372
Tsaqafah Islam.................................................................... 376
Metode Pembelajaran Islam..................................................              378
Perolehan Tsaqafah dan Ilmu Pengetahuan.........................      383
Gerakan Tsaqafah...............................................................  385
Sikap Kaum Muslim Terhadap Tsaqafah Selain Islam...........   386
Ilmu-Ilmu Islam................................................................... 400
Tafsir....................................................................................           403
Uslub Ahli Tafsir dalam Penafsiran.......................................     409
Sumber-Sumber Tafsir.........................................................  417
Kebutuhan Umat Saat Ini Kepada Ahli Tafsir........................      425
Ilmu Hadits..........................................................................             455
Hadits.................................................................................             456
Para Perawi Hadits.............................................................   458
Orang Yang Diterima Periwayatan-Nya Dan Orang
             Yang Tidak Diterima Periwayatannya Serta
             Penjelasan Tentang Jarh Wa Ta’dil..............................   460
Periwayatan Kelompok-Kelompok Islam...............................     463
Periwayatan Hadits Dengan Makna Dan Ringkasannya........ 465
Pembagian Hadits...............................................................  466
Pembagian Khabar Ahad.....................................................   471
Hadits Maqbul dan Hadits Mardud......................................     474
Hadits Mursal......................................................................              479
Hadits Qudsi.......................................................................  482
Ketidaktsabitan Hadits dari Segi Sanadnya
             Tidak Menunjukkan Lemahnya Hadits Tersebut......... 484
Anggapan Suatu Hadits Menjadi Dalil Dalam Hukum Syara’    485
Sirah dan Tarikh.................................................................   493
Ushul Fiqh........................................................................... 500
Fiqih....................................................................................             509
Perkembangan Fiqih............................................................  512
Implikasi Perselisihan dan Perbedaan Perspektif
             Dalam Fiqih Islam......................................................  524
Kemajuan Fiqih Islam..........................................................   537
Kemunduran Fiqih Islam......................................................   543
Implikasi Khurafat Fiqih Romawi Terhadap Fiqih Islam........ 547