Sunday, 27 September 2020

Nekat Pilkada Di Tengah Pandemi, Demi Apa?

 

Komisi Pemilihan Umum sepertinya terus melangkah maju dalam pelaksanaan pilkada serentak 2020 ini, meski ada berbagai usulan agar pilkada ditunda, langkah persiapan penyelenggaraan pilkada tidak surut, bahkan meski dua ormas besar di negeri ini menyarankan agar pilkada ditunda. Memang tekat untuk terus menggelar pilkada sudah sejak jauh hari diwacanakan. Salah satunya oleh Menteri Dalam Negeri, “Pilkada Saat Pandemi untuk Cari Pemimpin Kuat Tangani Covid-19

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menegaskan, pelaksanaan Pilkada di 270 wilayah Indonesia yang dilakukan saat pandemi adalah untuk mencari pemimpin yang kuat menangani Covid-19. Penegasan itu dikatakan Mendagri saat Rakor Kesiapan Pilkada Serentak Tahun 2020 di Kantor Gubernur Kalteng di Kota Palangka Raya, Minggu (19/7). "Pilkada yang saat ini di tengah pandemi adalah yang pertama dalam sejarah dan belum pernah dilakukan oleh pemerintah manapun sebelumnya," ujarnya. (mediaindonesia.com/19/07). Tentu alasan mendagri tersebut saat inisudah tidak relevan lagi. Saat ini kasus positif covid-19 tetus meningkat, kematiannya pun terus bertambah, bukannya terpilih pemimpin kuat, bias-bisa akan membuat kondisi semakin parah, pilkada bisa jadi menjadi kluster baru penularan covid-19. Bukan pilkada yang dibutuhkan, namun keseriusan pemerintah yang saat ini berkuasa yang dibutuhkan rakyat. Pemimpin baru belum tentu mempunyai kebijakan yang jitu, jika pun ada yang mempunyai ide pamungkas maka tetap bisa memberi masukan penanganan covid-19 meski belum berada di lingkaran kekuasaan. 

Belum lagi biaya yang dikeluarkan dalam penyelenggaran pemilu yang membengkak, pasti pembiayaan ini akan menguras kas yang ada. Bagaimana tidak membengkak, penyelenggaraan pemilu menuntut adanya penambahan TPs, secara otomatis akan menambah perangkat yang dibutuhkan. Lagi-lagi di sini rakyat harusnya bertanya, bukankah lebih bermanfaat jika dana digunakan untuk fokus menyelamatkan rakyat dari wabah, untuk menangani dampak langsung wabah. 

Alasan pilkada dibutuhkan untuk memilih pemimpin kuat adalah alasan klise. Sudah menjadi rahasia umum, proses pilkada baik bagi penyelenggara maupun kontestan bukanlah proses tanpa biaya, terutama bagi kontestan. Sejak awal tahapan, untuk menjadi bakal calon saja membutuhkan dana yang tidak sedikit, apalagi saat menuju pilkada, pasti dibutuhkan dana besar. Maka tak heran pernah ada kepala daerah yang mengungkapkan bahwa gaji sebagai kepala daerah besarnya tak seberapa. Maka tak heran pula jika saat menjabat para kepala daerah berlomba untuk minimalmengembalikan modal atau membalas budi, tak berhenti sampai di sini, upaya menjalankan proyek demi pundia rupaiah yang masuk ke kantong pribadi pun kerap menjadi sarana untuk mengembalikan modal, tentu proyek yang menguntungkan kepala daerah, kroninya dan para penyokong modal. Sedangkang bagi penyelenggara, pilkada hanyalah alat untuk mengukuhkan suksesi pergantian kepala daerah ala demokrasi kapitalisme, alih-alih menghasilkan pemimpin kuat, pilkada saat ini hanya sebatas melanggengkan cengkeraman system demokrasi kapitalisme di negeri ini, dan jelas ini berbahaya, peilkada hanya alat legitimasi bagi pihak yang berkuasa, atas nama rakyat membuat kebijakan khianat kepada rakyat, namun menyenangkan para konglomerat yang siap berpesta pora menikmati proyek yang menanti.

Maka, sungguh tak layak pilkada serentak masih diselenggarakan di tengah pandemi apalagi diharapkan memberi solusi. Pilkada akan semakin menambah panjang rantai penularan covid-19, dan pilkada pun tak akan memberi solusi, yang ada hanya mewujudkan pemimpin yang meneruskan system kekuasaan oligarki. Penguasa yang berkolaborasi dengan kroninya demi kepentingan mereka saja, bukan kepentingan seluruh rakyat.

Saturday, 19 September 2020

Merencanakan Kebaikan

 



Tugas belajar online suka - suka hari ini adalah merencanakan 10 kebaikan yang akan dilaksanakan


Dan mengirimkan 5 foto kebaikan yang telah dilakukan


Ada yang bertanya kegiatan pakai seragam apa tidak 


Memang dalam juknis tugas tidak menyebutkan pakai baju apa, alhamdulillah ada  yang bertanya. Begitulah murid MI masih butuh keterangan sejelasnya.


Tentang tugas hari ini, Sabtu di kelas saya tidak ada materi berkaitan pelajaran. Lebih banyak praktik, setor hafalan, evaluasi melalui VC grup bergiliran. Dan khusus hari ini merencanakan kebaikan.


Ya, kebaikan meski sebatas rencana dan niat insyaallah akan mendapat balasan sebagai catatan kebaikan, jika terealisasi maka akan mendapat pahala kebaikan jika dilakukan dengan ikhlas. Tentu saja ikhlas itu ada awalnya, pembiasaan melakukan kebaikan.


Setidaknya dengan merencanakan kebaikan, meski pada akhirnya tidak semua terlaksana sudah berencana dan berniat untuk berbuat baik, juga barangkali itu adalah rencana terakhir yang bisa dibuat, bisa jadi belum sempat melaksanakan maut sudah menjemput.


So, sudah merencanakan kebaikan apa saja hari ini?


Kediri, 19 September 2020

Friday, 18 September 2020

Daring yang Garing

 



Belajar daring kelas 6 hari ini pelajaran PPKn dan Bahasa Arab


Bahasa Arab masih membahas tentang waktu, fiil mudhorik dan fiil amr, alhamdulillah sudah selesai tinggal mengerjakan tadrib


Yang bikin kecut itu pas menyampaikan materi PPKn, bab nya adalah keberagaman kegiatan ekonomi.


Membahas jenis bidang usaha kegiatan ekonomi dan macam kegiatan ekonomi sih no problem


Giliran menerangkan mencintai produk dalam negeri yang bikin keki, sulit kasih contohnya, sulit cari fakta riil dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat apalagi bernegara


Lha wong seisi tas murid saja banyak yang made in luar negeri, lha wong toko serba empat puluh ribu saja banyak di Pare (yang hampir semuanya produk impor), apalagi contoh kebijakan negara, tambah pusing pale berbie dech, lha wong negara hobinya impor dan mengandalkan asing.


Daring yang garing, mencetak manusia hipokrit? Belajar sekadar formalitas ilmu saja, sebatas teori indah, namun realitasnya penuh masalah


Tapi saya sih woles, ngajar tetap pegang prinsip, tetap ngajak taat syariah, insyaallah hidup jadi berkah


Kediri, 18 September 2020

Saturday, 29 August 2020

Dua ratus enam puluh delapan juta jiwa diurus semua





BLT, tunjangan buruh bergaji di bawah 5 juta, kuota untuk siswa. Itu menjangkau berapa penduduk Indonesia?


Berapa persen dari seluruh penduduk Indonesia?


Entahlah, nyatanya saya dan beberapa orang yang saya kenal tak dapat semuanya.


Sudahlah jangan mengeluh, jangan terus menuntut kepada penguasa, yang kreatif jadi rakyat. Pemerintah banyak urusannya jangan menuntut semua diurusi negara. Mungkin ada yang bilang seperti itu.


Ah...tanpa diingatkan kami rakyat sudah berjuang demi hidup, sudah berusaha sekuat tenaga menjalankan kewajiban sebagai warga negara, sudah bertahan demi kehidupan yang semakin tertekan.


Tak usah menyuruh kami kreatif, tak usah menuduh kami hanya bisa berkeluh kesah, sudah banyak yang kami lakukan sebagai warga negara.


Namun, terlepas dari itu semua, ada kewajiban untuk mengingatkan bahwa penguasa itu memegang amanah untuk mengurusi rakyatnya, bahwa pemimpin itu menjadi pelindung rakyatnya. Negara tak boleh menuntut rakyat menyelesaikan kewajibannya namun abai memenuhi hak rakyat.


O...ya..lupa. Kita kan memang hidup di negeri kapitalis sekular. Negeri yang tak peduli dengan aturan Allah Sang Maha Pencipta. Menjadikan rakyat sebagai sapi perah, penguasa memposisikan diri sebagai regulator saja, hanya melihat dan bahkan memberi fasilitas kepada para konglomerat untuk mengerat kekayaan rakyat.


Negeri yang penguasanya tak punya kewenangan sejati yang ada hanya menjadi boneka dari pemilik modal.


Penguasa yang berkolaborasi dengan pengusaha, memposisikan hubungan rakyat dan negara sebatas relasi untung rugi, bukan memberi pelayanan semaksimal dan setulus hati.


Rasulullah Saw bersabda, «إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ» “Imam/Khalifah itu laksana perisai. Dia akan dijadikan perisai, di mana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng.” (HR. Muslim)


Itulah peran negara yang seharusnya. Menjadi perissi, pelindung dan pengatur urusan umat.

Sebuah tanggung jawab berat untuk mengurus seluruh warganya, bukan segelintir saja.


Indah bukan jika ada khalifah yang memimpin khilafah

Friday, 21 August 2020

Ironi Negeri Demokrasi

 


Hari ini menambah daftar panjang bukti hipokritnya demokrasi. Kebebasan yang terus didengungkan lagi-lagi diingkari sendiri. Terbukti dengan langkah nekad rezim yang memblokir tayangan film Jejak Khilafah di Nusantara (JKDN) yang tayang perdana hari ini. Padahal semua orang tahu, JKDN adalah film dokumenter sejarah saja, bukan film propaganda. Jelas seluruh tayangan berdasarkan bukti nyata. Namun tetap saja dipandang melanggar aturan, entah aturan yang mana.


Hipokritnya terlihat nyata. Tayangan yang jelas merusak bangsa dibiarkan namun tayangan edukasi diblokir sesuka hati. Sudahlah munafik alias hipokrit tambah tidak adil, lengkap sudah dzalimnya rezim.


Pemerintah harusnya fokus memblokir tayangan merusak yang tak bermanfaat bukan malah kurang kerjaan memblokir film sejarah. Atau jangan-jangan ini sebuah kesengajaan? Sengaja membiarkan rakyat buta sejarah? Dan sepertinya aroma kesengajaan ini tercium sangat kuat. Mengingat rekam jejak pemerintah yang berusaha menyembunyikan bahkan menstigma negatif ajaran khilafah.



Iya kesengajaan kan?

Sebelumnya pemerintah sengaja mencabut BHP HTI yang lantang mendakwahkan khilafah, kemudian merevisi ratusan buku dengan alasan memicu radikalisme, kemudian merevisi kurikulum PAI, menghilangkan kata khilafah dan jihad di semua buku sumber ajar.  Menghilangkan materi khilafah di pelajaran Fikih, membahasnya sebatas pelajaran sejarah.


Namun ternyata belum cukup juga dzalimnya penguasa. Hari ini dengan sengaja memblokir film dokumenter sejarah. Benar kesengajaan kan?


Mengapa?

Jelas karena mereka sadar eksistensi mereka terancam ketika khilafah tegak, kedzaliman mereka tak akan bertahan. Karena rezim paham Khilafah akan mempunyai kebijakan yang berseberangan dengan penguasa saat ini.


Saat ini, riba dipelihara nanti saat khilafah tegak dilarang, kemaksiatan dibiarkan nanti dilarang , penguasa korup sekarang bebas nanti diberantas, pajak menjadi penopang nanti hilang, SDA untuk konglomerat nanti semua dikembalikan untuk rakyat.


Intinya rezim sengaja mencegah bangkitnya kembali sistem yang merugikan kepentingan jahatnya, mereka berusaha mempertahankan kedzaliman dengan memfitnah khilafah.


Tapi lihat saja, usaha mencegah tegaknya khilafah ala minhajinnubuwwah pasti gagal total, jadi sia-sia saja semua yang telah dan yang akan dilakukan dalam rangka membendung perjuangan khilafah.


Khilafah pasti tegak dan pejuangnya akan terus bergerak. Dan ironi negeri demokrasi kan semakin memuncak, hingga hancur lembur karena kesalahan merek sendiri. 



Kediri, 21 Agustus 2020

Thursday, 20 August 2020

Khilafah Tidak Akan Pernah Hilang Dari Sejarah




Upaya merevisi 155 buku yang menyampaikan materi khilafah dan jihad, juga upaya merevisi kurikulum Pendidikan Agama Islam hingga berbuntut tuntutan memusnahkan buku lama, tidak akan bisa menghilangkan fakta bahwa khilafah pernah ada dalam sejarah. Dan tidak akan membuat hukum wajibnya menegakkan khilafah menghilang, dan bahkan tidak akan berhasil menghalangi tegaknya khilafah.


Dan hari ini sedang viral di jagad nusantara, baik di dunia maya maupun dunia nyata, penayangan perdana film Jejak Khilafah di Nusantara. Sebuah film yang telah dikupas sejak awal Agustus lalu akhirnya akan tayang secara penuh. Film luar biasa hasil dari karya ilmiah seorang mahasiswa, tentu bukan film dengan skenario yang murahan, namun skenario yang telah lolos dalam ujian skripsi. Tak hanya itu, film ini juga menayangkan bukti nyata dari berbagai penjuru nusantara bahwa khilafah pernah ada dalam wilayah nusantara. Maka upaya untuk mengubur dan mengaburkan sejarah khilafah di nusantara pasti akan gagal total.


Film Jejak Khilafah di Nusantara (JKDN) sesungguhnya hanya secuil bukti bahwa Nusantara tak bisa dipisahkan dari khilafah. Tak perlu jauh-jauh, hingga saat ini dalam pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di madrasah pun dengan gamblang terpampang peran khilafah dalam menyebarkan Islam di Nusantara. Buka saja  buku SKI kelas 6 MI. Di bab pertama sudah menyampaikan materi tentang Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim, beliau merupakan salah satu wali dari 9 wali yang terkenal dengan sebutan Wali Songo. Wali yang mendakwahkan Islam di Pulau Jawa bahkan hingga menyebar ke penjuru Nusantara.


Maulana Malik Ibrahim bukanlah orang asli Indonesia, beliau keturunan Arab sekaligus keturunan Baginda Nabi Muhammad saw. Beliau juga menikah dengan muslimah Champa yang saat ini menjadi wilayah Kamboja dn Vietnam. Maulana Malik Ibrahim tentu bukan seseorang yang iseng main ke Nusantara, atau sekadar mencari peruntungan dalam dunia perniagaan dan menjadikan dakwah sebagai sambilan.


Maulana Malik Ibrahim adalah utusan khilafah, membawa misi khusus untuk semakin mengenalkan Islam kepada penduduk Nusantara pada tahun 1392, yang jauh hari sudah terjalin hubungan antara khilafah dengan Nusantara.


Maulana Malik Ibrahim, juga bukan orang yang berdakwah tanpa visi dn misi jangka panjang. Beliau mengkader putranya, salah satunya adalah Sunan Ampel yang kelak menjadi punggawa berdirinya Kesultanan Demak, institusi resmi yang mengambil alih kekuasaan Majapahit, untuk selanjutnya menjadikan Islam tegak dalam bingkai pemerintahan, ini juga membuktikan bahwa Islam bukan sekadar agama ruhiyah, namun juga agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk dalam hal bernegara.


Jika ditulis, materi SKI kelas 6 MI tentu akan sangat panjang, akan ada banyak lagi bukti bahwa khilafah ada di Nusantara.


Agar tidak menambah panjang tulisan, maka sangat layak kita menonton penuh film Jejak Khilafah di Nusantara yang akan tayang hari ini pukul 09.00 WIB.


Tinggal duduk manis di depan HP atau laptop sambil ditemani secangkir minuman manis, keluarga, saudara dan juga ditemani secara virtual oleh seluruh kaum muslimin di penjuru tanah air.


Kediri, 20 Agustus 2020


20 menit menuju tayang perdana JKDN

Thursday, 30 July 2020

Ikuti saja petunjukNya


Alhamdulillah
Laporan pengamatan pertumbuhan kacang hijau selama 6 hari.
Dengan bekal pesan suara dan petunjuk tahapan apa yang harus dilakukan

Kuncinya : ikuti saja petunjuknya, meski tak bertemu insyaallah pasti bisa melaksanakan.

Begitu juga dalam hidup, sederhana saja. Ikuti petunjuk hidup dari pembuat hidup kita, Allah SWT dan RasulNya . Al Qur'an dan Hadits. InsyaAllah pasti sukses, dunia dan akhirat.


Tidak perlu neko-neko bikin aturan sendiri atau malah sombong tidak percaya dengan aturan Tuhan seperti yang dilakukan orang kapitalis juga sosialis komunis.

Dan #Khilafah ada untuk bisa menerapkan petunjuk hidup kita, menerapkan aturan yng terdapat di Al Qur'an dan Hadits juga semu yang digali dari keduanya.

Belajar daring suka-suka tanpa kepedulian maksimal kemenag dan kemendikbud itu gimana rasanya, suka-suka gue mau ngajar apa 😔

Pelajaran BI laporan pengamatan, IPA perkembangbiakan generatif, AA asmaul husna Al muhyi

Kediri, 30 Juli 2020

Thursday, 23 July 2020

Moderasi Kurikulum PAI Menyesatkan Generasi


Mulai tahun pelajaran 2020/2021, Kementerian Agama RI mulai memberlakukan Keputusan Menteri Agama (KMA) 183 tahun 2019. KMA ini menggantikan KMA 165 tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab pada Madrasah. Perubahan yang signifikan tentang kurikulum PAI dan Bahasa Arab ini menekankan pada pembentukan sikap moderasi dalam beragama, merevisi materi ajar tentang jihad dan khilafah. Dan alas an kementerian Agama dalam melakukan perubahan ini selalu saja klise, agar generasi yang tercetak dari madrasah menjadi generasi yang moderat dan siap membangun masyarakat modern yang sesuai perkembangan jaman. Benarkah Kementerian Agama mempunyai niat yang tulus demi generasi? Jawabannya jelas, tidak.
Moderasi Kurikulum PAI hanya akan menyesatkan generasi, materi jihad yang direduksi hanya sebatas keteladanan personal Rasulullah saw hanya akan membuat sosok Rasulullah sebagai teladan terbaik bagi umat manusia hanya pantas diambil dalah ranah personal saja, sosok  Rasulullah sebagai kepala Negara, sebagai panglima perang, sebagai pengobar semangat jihad hanya dijadikan romantisme sejarah yang tak layak dijadikan panutan karena membawa nilai yang bertentangan dengan pemikiran Barat yang dengan sengaja membuat umat Islam semakin jauh dari potret Islam kaffah. Jihad bermakna perang disingkirkan jauh-jauh karena dianggap memunculkan benih terorisme dan sikap intoleran. Kemudian tentang materi khilafah yang disembunyikan dari materi Fikih dan dialihkan menjadi bagian dari materi Sejarah Kebudayaan Islam juga bertujuan untuk membuat generasi semakin buta akan salah satu ajaran Islam, yaitu kewajiban menegakkan khilafah. Lag-lagi khilafah hanya diceritakan sebatas bagian dari sejarah, bukan sebagai syariat Islam yang wajib diperjuangkan. Tujuannya jelas, membutakan generasi dari konsep system pemerintahan warisan Rasulullah saw. Dan akhirnya generasi semakin asing dengan khilafah dan tujuan jangka panjangnya adalah generasi sama sekali tak merindukan kembalinya sistem terbaik ini, bahkan menjadi pembenci dan penghalang tegaknya khilafah.
Sedangkan sikap moderat yang diinginkan jelas bertentangan dengan pandangan Islam dan malah membuat kaum sekular bertepuk tangan. Sikap moderat yang sesuai arahan Barat adalah sikap yang menjadikan Islam sesuai perkembangan jaman, yang diinginkan diambil yang tidak sesuai diabaikan jika perlu dibuang jauh-jauh. Sikap moderat ini bertujuan menjauhkan umat Islam dari Islam kaffah. Jelas tujuan jangka panjangnya adalah menghalangi kebangkitan peradaban Islam yang akan tegak dalam naungan khilafah.
Dengan demikian, moderasi agama melaui kurikulum PAI dan Bahasa Arab tak boleh dibiarkan. Selain daram rangka mengukuhkan rezim sekular juga berbahaya untuk generasi. Kementerian Agama seharusnya meninjau ulang, jika perlu membatalkannya, bahkan jika diperlukan merevisi kurikulum agar bias mencetak generasi yang berkepribadian Islam, menguasai IPTEK dan generasi yang siap menyambut kegemilangan peradaban Islam dalam naungan khilafah. Jika kurikulum ini tetap dijalankan, maka menjadi PR besar bagi para pengemban dakwah ideologis, untuk terus menggencarkan dakwah menyampaikan Islam kaffah, tidak  menyembunyukan ajaran Islam sekecil apapun. Wallahu a’lam.


Nur Aini, S.Si
Guru Madrasah Ibtidaiyah
Tinggal di Pare Kediri Jawa Timur

Thursday, 9 July 2020

Rakyat Tangguh, Potret Lepas Tangannya Penguasa?


Dalam rangka menindaklanjuti program New Normal Life salah satu tuntutan kepada rakyat adalah menjadi rakyat yang tangguh, maka dicanangkanlah Desa Tangguh, Pasar Tangguh, Terminal Tangguh, Stasiun Tangguh dan sebagainya. Namun jangan salah, penyematan kata tangguh tidaklah semanis harapan. Lagi-lagi ini hanya akal-akalan penguasa untuk melepaskan tanggung jawabnya sebagai pengurus urusan rakyat, program tangguh ini hanyalah kamuflase untuk menyibukkan rakyat dengan urusannya sendiri-sendiri.

Memang benar, program rakyat tangguh bertujuan membentuk kemandirian rakyat menghadapi bencana, namun program ini bukan karena kebaikan hati penguasa yang peduli kepada rakyatnya akan tetapi menjadi bukti penguasa yang sudah tak mampu menjadi pengurus rakyat, sehingga rakyat diminta mandiri melindungi diri sendiri. Sayangnya latar belakang lepas tangan penguasa mengurus urusan rakyat bukan karena penguasa berada pada titik terlemah sehingga tidak bisa berbuat banyak, tetapi ini memang menjadi tabiat penguasa yang menerapkan sistem kapitalisme sekular yang naik pada tampuk kekuasaan semata karena dukungan kaum oligarki. Maka tak heran, kepentingan rakyat tak dipikirkan namun kepentingan para pebisnis begitu diistimewakan. Lihat saja, untuk program yang bersentuhan langsung dengan keperluan penanganan dampak langsung pemerintah setengah hati mengucurkan dana. Giliran program yang dijalankan kroninya pemerintah dengan longgarnya mengucurkan dana.

Rakyat tangguh memang diperlukan, namun bukan berarti negara lepas tangan. Dalam Islam seorang muslim wajib menghindarkan dirinya dari bahaya, di sisi lain negara juga wajib menjamin keselamatan warganya. Dengan demikian sinergi rakyat dengan penguasa sebagai pengayom mudah terwujud, sangat jauh berbeda dengan sistem kapitalisme sekular yang saat ini menjadi landasan kebijakan penguasa Indonesia. Relasi untung rugi menjadi pijakan sehingga pelayanan bukan karena kesungguhan hati. Oleh karena itu, yang dibutuhkan rakyat saat ini tidak hanya sekadar program yang indah didengar, nanti kebijakan nyata yang menjadikan kepentingan rakyat dan keterikatan terhadap hukum Allah menjadi pertimbangan utama, dan ini hanya akan terwujud dalam sistem Islam. Wallahu a’lam.

Nur Aini, S. Si
Pare Kediri Jawa Timu

Tuesday, 9 June 2020

Corona, Tahun Ajaran Baru Dan Masa Depan Anak


Salah satu wacana setelah penetapan  New Normal Life di tengah wabah corona adalah rencana masuk sekolah saat tahun pelajaran baru. Memang tidak masuk setiap hari, siswasecara bergilir tetap datang ke sekolah secara terjadwal. Jelas saja ini mengundang krontroversi di kalangan orang tua siswa yang sebagian besar masih khawatir dengan putra-putri mereka. Tidak hanya orang tua siswa, para pengamat dan pakar pun juga tak sedikit yang meminta pemerintah untuk meninjau ulang rencana ini, rencana yang jelas mempertaruhkan masa depan generasi.
Kekhawatiran para orang tua tentu bukannya tanpa alasan. Penetapan New Normal Life di saat kasus positif belum mencapai titik balik adalah langkah yang sangat nekat. Di saat pemerintah belum mempunyai formula tepat untuk membuat angka positif turuan malah membuat kebijakan yang beresiko menambah penularan. Dan ini pula yang akan menjadi resiko saat siswa masuk sekolah di tahun pelajaran baru nanti, tidak ada jaminan anak aman dari penularan corona. Tidak ada jaminan anak bisa mengganti masker sesuai ketentuan, mendapatkan lingkungan yang bersih, berada dalam pergaulan dan interaksi yang tidak membuat mereka tertular. Jika jaminan kesehatan anak dari tidak tertular tidak ada maka sama saja pemerintah telah membuat kebijakan yang mempertaruhkan kesehatan anak. Apalagi anak seharusnya mendapatkan jaminan kesehatan penuh mengingat mereka belum mempunyai hak untuk mendapatan pelayanan terbaik, mendapatkan jaminan kesehatan dan jaminan keamanan dari segala hal yang membahayakan nyawa mereka. Jika langkah nekat ini diteruskan maka sama saja dengan mempertaruhkan masa depan bangsa karena anak adalah aset negara yang menjadi generasi penerus, pemegang estafet kepemimpin bangsa.
Langkah nekat pemerintah memasukkan anak saat sekolah di tahun ajaran baru memang bukan langkah mengherankan, yang jelas bukan semata demi memenuhi hak anak untuk mendapatkan pendidikan, namun alasannya tidak jauh berbeda dengan alasan penetapan new normal life, yaitu untuk menggerakakan roda perekonomian. Lagi-lagi motif bisnis dan materi. Motif yag ental dengan kebijakan penguasa kapitalistis.
Di tengah pandemic corona, rakyat sejatinya menunggu kesungguhan pemerintah mengerahkan seluruh potensi yang dimiliki untuk memikirkan keselamatan rakyat. Termasuk pula dalam hal pendidikan anak. Langkah yang bisa diambil diantaranya adalah pertama, memastikan kebutuhan pokok seluruh rayat terpenuhi, baik anak maupun orang tua. Sehingga fwarga sudah tidak lagi kesulitan memikirkan cara memenuhi kebutuhan mereka. Langkah ini bisa ditempuh dengan menjadwal ulang seluruh proyek, menata ulang anggaran, menjadikan kepentingan seluruh rakyat sebagai pertimbangan utama. Kedua, menyiapkan langkah khusus agar pendidikan anak tetap dipenuhi dengan tanpa menjerumuskan mereka pada resio penularan, yaitu dengan menyiapkan semua fasilitas, sarana dan prasarana pelaksanaan pendiikan online juga pendidikan bersama keluarga di rumah. Kedua langkah ini lebih aman bagi anak. Anak tetap mendapatkan haknya dan negara tetap memberikan pelayanan terbaik meski dalam suasana pandemi.

Wednesday, 27 May 2020

Ibadah Diminta Bubar Kegiatan Ekonomi Diumbar


Setelah memutuskan kebijakan yang plin-plan  melonggarkan arus trasnportasi, pemerintah kembali berulah dengan kebijakan yang inkonsisten, yakni dengan membatasi aktivitas di tempat ibadah namun melonggarkan kegiatan ekonomi. Himbauan untuk tidak melaksanakan ibadah di masjid terus diumumkan, namun ironinya kerumunan masa di toko besar apalagi di mall seolah dibiarkan. Baik pelonggaran trasnportasi dan pembiaran aktivitas ekonomi masyarakat namun membatasi aktivitas tempat ibadah sebenarnya cukup menjadi bukti bahwa pemerintah sedang mengukuhkan posisi sebagai penguasa yang memegang teguh ideologi kapitalisme. Ideologi yang tegak atas sekularisme, dimana agama hanya formalitas belaka, tidak ada upaya serius untuk sekadar mengajak rakyat untuk taubat saat kondisi semakin gawat, yang ada malah mengejar materi, membuka keran kegiatan ekonomi selebarnya yang sejatinya bukan demi perputaran ekonomi rakyat, namun demi konglomerat.
Tidak hanya menunjukkan jati diri sebagai penguasa sekular, posisi pemerintah yang hanya sebatas sebagai regulator juga merupakan bukti ciri penguasa kapitalistis, tidak memberikan pelayanan terbaik dan maskimal atas urusan rakyat, hanya sebatas regulator yang nyatanya berlepas tangan atas urusan rakyat. Bukannya bertanggungjawab melindungi nyawa rakyat, pemerintah malah membiarkan rakyatnya berjibaku sendiri untuk bertahan dari virus sekaligus berjuang untuk bertahan hidup. Sungguh ironi, penguasa yang katanya dipilih rakyat dan ada untuk kepentingan rakyat keberadaannya malah membuat rakyat semakin sekarat. Semestinya pemerintah sadar, pelonggaran kegiatan ekonomi merupakan langkah yang tidak akan mengantarkan solusi apalagi ditambah dengan pembatasan kegiatan ibadah, sudahlah rakyat sengsara tak dapat menikmati suasan ibadah pula. Tidak mendapat dunia sekaligus akhirat. Nasib rakyat benar-benar dipertaruhkan oleh pemerintah.

Saatnya pemerintah menunjukkan itikad baik menyelesaikan wabah corona ini dengan cepat dan tepat. Dimulai dari komitmen menghentikan kebijakan kapitalistis, menjamin kesehatan rakyat dengan memberikan pelayan terbaik dan murah untuk rakyat yang sakit serta tenaga medisnya. Menjamin keamanan dan kesehatan warga yang sehat. Tegas membatasi gerak masyarakat namun siap mencukupi kebutuhan seluruh rakyat. Sehingga yang sakit tertangani, cepat sembuh dan tidak menularkan. Sedangkan yang sehat tidak tertular dan bisa berperan membantu apapun yang mungkin dilakukan agar setiap warga tak terabaikan haknya.  Berikutnya berusaha memperbaiki kebijakan dengan menjadi syariah kaffah sebagai pijakan. Kebijakan yang telah diambil saat ini tak pelak hanyalah kebijakan kapitalistik sekular yang hanya menguntungkan segelintir pemilik modal. Saatnya pemerintah mengambil lankgah perubahan yang dianggap tidak popular dalam kancah perpolitikan internasional, yaitu menerapkan Islam kaffah dalam seluruh aspek kehidupan, menjadikan Islam sebagai standar atas semua kebijakan, tidak hanya wabah corona yang terselesaikan akan tetapi seluruh permasalahan akan mendapatan solusi, dan hidup pun akan menjadi berkah. 

Saturday, 23 May 2020

Ramadhan Di Pare (2)


Ramadhan di Pare tahun lalu menjadi ramadhan yang istimewa : Ramadhan Di Pare . menyambut ramadahan dengan tarhib keliling beberapa ruas jalan sambil menyiarkan Islam dan mengenalkan panji rasulullah. Namun ramadhan tahun ini dipenuhi dengan suasana yang memprihatinkan karena wabah corona. Tak ayal, Pare seolah menjadi kota mati. Pare yang biasanya sangat ramai dengan keberadaan pendatang yang kursus di Pare, begitu sepi sejak tanggal 24 Maret 2020. Ya, sudah 2 bulan ini sepi menjadi teman kami di Kampung Inggris. Entah bagaimana ke depan, kapan Pare ramai kembali masih abu-abu. Mengingat kasus di Kabupaten Kediri semakin bertambah, mengingat kebijakan pemerintah yang sama sekali tak menunjukkan keadaan semakin membaik.

Namun seperti biasa, apapun yang terjadi, apapun suasananya ada sesuatu yang tetap akan terjaga. Suasana ibadah dan perjuangan menegakkan khilafah, apalagi di bulan ramadhan, bulan istimewa. Tetap memaksimalkan usaha untuk merealisasikan target ibadah personal apalagi dalam kondisi lebih banyak di rumah saja, meski tetap saja masih mengulang kesalahan yang sama, akhirnya target tak tercapai semua. Namun tetap ada rasa bahagia, meski dalam suasana duka ada banyak kajian yang tetap bisa diikuti, setidaknya suasana menuntut ilmu tetap terjaga, setidaknya masih bisa bersama menikmati majelis para penghuni surga meski tak berada dalam tempat yang sama, tetapi berada dalam suasana yang sama. Bedanya hanya antara offline dan online. Ramadhan ini bagi kami tetap istimewa, masih bisa bersama dalah ruh jamaah. Ramadhan istimewa untuk terus menambah semangat dijalan dakwah dan tetap istiqamah di jalan perjuangan menegakkan khilafah.

Sedangkan perjuangan menegakkan khilafah, apapun keadaannya sama sekali tidak akan pernah berhenti, meski terus saja dipersekusi. Kriminalisasi terus dilakukan rezim, dan terakhir surat edaran penghapusan materi khilafah di pelajaran fikih dan penggantian penggunakan kata khilafah dan jihad pun sudah sampai ke madrasah. Namun sekali lagi menegaskan, perjuangan menegakkan khilafah tidak akan berhenti, apalagi dengan fakta hari ini dimana rezim semakin abai dengan urusan umat, maka perjuangan itu harus semakin digencarkan. WHF, PSBB, physical distancing bahkan dibatasi aktivitas di masjid (namun kegiatan di mall, bahkan di bandara meski ramai berdesakan terkesan dibiarkan) tidak membuat langkah perjuangan menyampaikan khilafah menjadi surut. Insya Allah selalu ada jalan untuk sebuah perjuangan.

Tetap optimis menyongsong hari esok, ramadhan boleh berlalu namun semangat ramadhan akan terus dijaga. Perjuangan menegakkan khilafah boleh dihadang namun khilafah pasti datang.

Pare, 23 Mei 2020 / 30 Ramadhan 1441

Friday, 8 May 2020

Pahala Di Depan Mata


Sebuah pesan masuk : “ Mbak saya sudah mengajukan ke pengadilan”
Dada terasa sesak membaca pesan tersebut. Setelah lama tak banyak bertanya bagaimana kabarnya tiba-tiba saja memberikan berita singkat.
Dan saya pun membalas : “Iya, semoga menjadi keputusan terbaik, mantabkan hati,yakin ada kebaikan menanti. “

Sebuah pesan singkat yang saya sudah paham maksudnya, pesan yang memberitahukan keputusannya untuk menggugat cerai suaminya. Dan jawaban saya pun berusaha untuk memberi dukungan tanpa keraguan. Berharap dia akan mendapatkan peluang pahala dengan keputusannya.

Padahal sebelum-sebelumnya ketika ngobrol selalu meminta untuk bersabar, perbaiki hubungan, perbaiki komunikasi, saling mengerti, berkomitmen untuk bersama berubah, ingat anak,selesaikan pemicunya, ingat keluarga besar, mohon kepada Allah, dekatkan diri kepada Allah, intinya sabar dan pertahankan pernikahan.
Sebagaimana dahulu memutuskan untuk menikah dengannya, tentu ketika akan mengakhirinya juga tidak boleh berpikir sesaat, benar-benar berpikir dengan kepada dingin dan pikiran jernih.

Memang bagi sebagian orang pernikahan dan perceraian bisa jadi adalah perkara biasa dalam kehidupan, atau malah bagi yang lainnya bisa jadi merupakan perkara luar biasa yang menjadi perubahan kehidupan. Namun tak perlu risau dengan sebuah keputusan. Jika dalam rangka melakukan sebuah kebaikan cukup mengingat peluang pahala apa yang menanti?

Iya, dengan mengingat peluang pahala yang bisa didapatkan maka keputusan akan lebih ringan untuk dilakukan. Tentu dengan tetap mengingat, bisa jadi pahala itu sulit didapatkan. Namun lagi-lagi, cukup sikapi dengan sederhana, jalani dengan keikhlasan, pastikan berada dalam tuntunan syariah, sabar menjalaninya dan yakin dengan pertolongan Allah.

Ini berlaku untuk semua kebaikan, berupa ibadah , hubungan dengan sesama, peluang amanah dan kebaikan lain dalam seluruh aspek kehidupan, kebaikan dalam rangka taat kepada Allah dan RasulNya dan kebaikan dalam rangka menjauhi kemaksiatan. Ingatlah, ada pahala menanti, iringi dengan kesabaran dan keikhlasan.

Pare, 8 Mei 2020

Saturday, 2 May 2020

Homoseksual Itu Pilihan Bukan Paksaan Apalagi Anugrah Terindah Dari Tuhan



Tulisan sebelumnya : Waspadai komunitas kaum menyimpang

Tulisan ke - 5 dari rencana 8 tulisan

5. Homoseksual Itu Pilihan Bukan Paksaan Apalagi Anugrah Terindah Dari Tuhan (Omong kosong jika ini adalah takdir Tuhan, mereka hanya menjalani garis kehidupan, dimana iman kepada qadla dan qadar)

Tak jarang mereka bilang bahwa inilah garis yang sudah ditentukan Tuhan. Menjadi homoseks sudah ketetapan Tuhan bukan kemauan mereka. Sungguh kejam nian mereka menuduh Tuhan demikian. Jelas sejatinya mereka sama sekali tak mengenal siapa Tuhan.

Pelaku penyimpangan yang menggunakan alasan bahwa apa yang mereka lakukan adalah hal yang sudah ditetapkan atas mereka, mereka tak bisa memilih, mereka tinggal menikmatinya saja adalah potret manusia yang akidahnya rusak. Mereka tak paham sama sekali makna iman kepada qadla dan qadar. Dan ini sangat berbahaya, di satu sisi merusak keimanan di sisi lain telah menempatkan qadla dan qadar sebagai pembenaran atas kemaksiatan yang dilakukan.

Perbuatan homoseksual adalah pilihan bukan paksaan, memilih atau meninggalkan perbuatan tersebut ada pada wilayah yang dikuasai manusia, karena pilihan maka kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Berbeda halnya dengan jenis kelamin,ini bukan pilihan namun pemberian dari Allah yang manusia tidak bisa meminta. Menjadi lelaki atau perempuan itu sudah ketetapan Allah. Maka kelak kita tidak ditanya mengapa menjadi perempuan atau lelaki, namun yang dimintai pertanggungjawaban adalah  sudahkah terikat pada ketentuan Allah.
Sedangkan rasa suka kepada orang lain maka ini adalah naluri yang diberikan Allah kepada makhluknya. Salah satu naluri yang diberikan adalah gharizah nau’, tujuan dari pemberian naluri ini adalah untuk melestarikan jenis manusia. Perwujudan yang Nampak pada manusia antara lain rasa sayang kepada orang lain baik itu kerabat, orang tua, anak, sahabat juga ketertarikan pada lawan jenis. Ya, secara naluri Allah telah memberikan rasa tertarik pada lawan jenis, sehingga jika ada seseorang yang malah tertarik pada sesama jenis maka jelas dia telah menyalahi ketetapan Allah.

Kembali pada bahasan tentang naluri, naluri ini pemberian Allah, maka bagi orang yang beriman dan paham konsekuensi iman kepada Allah maka dia akan menjadikan Allah itu sebagai satu-satunya Al Khalik yang layak disembah sekaligus Al Mudabbir, Dzat Maha Pengatur yang ketika Allah menciptakan makhluk sekaligus Allah memberikan aturan bagi makhlukNya. Oleh karena itu, seorang muslim yang paham akan konsekuensi rukun iman akan selalu menyelaraskan perbuatannya dengan aturan Allah, bukan malah sebaliknya, abai. Allah memberikan aturan kepada manusia ketika hendak  memenuhi nalurinya, termasuk naluri melestarikan jenis (gharizah nau) ini. Menyukai orang lain, lawan jenis adalah satu hal yang normal, tinggal mencari aturan bagaimana tuntunan Islam memenuhinya. Singkatnya adalah dengan menikah, jika belum mampu maka menyibukkan diri dengan ibadah, tidak malah mengumbarnya, menyalurkan menuruti hawa nafsu.

Bagaimana dengan para penyuka sesama jenis? Manusia seperti ini adalah manusia yang tak paham jati dirinya, tak paham mengapa dia diciptakan, tak tahu tujuan hidup dan tak berpikir visi akhirat. Dia hanya menuruti hawa nafsunya, menuruti bisikan setan. Maka untuk menyadarkan perilaku menyimpang kaum homoseksual adalah dengan menguatkan akidahnya, memberikan pemahaman yang benar tentang tujuan hidup. Secara personal berusaha untuk memahamkan mereka, beri kesempatan untuk berpikir cemerlang, berpikir jauh ke depan hingga akhirat. Dan yang tak kalah pentingnya adalah memberikan sanksi tegas, karena yang telah dilakukan adalah pelanggaran hukum syara’, kriminalitas yang harus diberi sanksi. Jika terbukti melakukan hubungan sesama jenis hanya satu pilihannya, dihukum mati. Agar yang hidup mengambil pelajaran agar pelaku mendapat ampunan.


Rencana tulisan lanjutan

6. Sadarlah, Mereka Itu Jahat Sekali, Tak Ada Kebaikan Tulus (kebaikan mereka selalu berbalut akal bulus, terus mencari korban dan kemarahan mereka begitu kejamnya, melebihi binatang, studi kasus mutilasi dan pembunuhan kaum homo)

7. Homoseksual Semakin Eksis dalam sistem kapitalis (sudah jadi bawaan sistem ini, merusak umat manusia dari seluruh sisi kehidupan)

8. Hanya Hukuman Mati Yang Bisa Menghentikan (hanya mungkin terjadi dalam sistem khilafah)


Monday, 27 April 2020

Ramadhan, Saatnya Taubat Dan Taat


Sebuah nikmat yang luar biasa, bertemu kembali dengan bulan mulia penuh berkah. Maka ada kesempatan berlimpah selama satu bulan untuk mendapatkan kemuliaan dan keberkahannya. Namun ada yang istimewa dengan Ramadhan kali ini, kita sedang diuji dengan musibah wabah corona, yang tak bisa dipungkiri mempengaruhi suasana kekhusyukan Ramadhan. Akan tetapi apapun keadaannya, bagi seorang muslim musibah pun akan tetap bisa diambil hikmahnya. Musibah menjadi saat yang tepat bagi seorang muslim untuk muhasabah diri, jika benar telah banyak melakukan dosa maka Ramadhan ini saat yang tepat untuk bertaubat. Sebagaimana janji Allah yang akan membuka pintu taubat selebarnya di bulan mulia ini. Selanjutnya terus mengingat, bahwa taubat itu bermakna menyesali dan tak mengulangi. Maka langkah berikutnya adalah kita memastikan bahwa selanjutnya aktivitas kita adalah aktivitas semata taat kepada Allah.

Tak sekadar taubat secara personal, negeri ini juga membutuhkan taubat kolektif seluruh umat Islam, yang telah mengabaikan hukum Allah dan bisa jadi bergelimang dengan dosa atas kemaksiatan yang dilakukan. Ramadhan saat yang tepat bagi bangsa ini untuk bersama berkomitmen menerapkan syariat Allah secara menyeluruh dalam semua bidang kehidupan. Setidaknya bangsa in mendapat pahala atas kemauan untuk bertaubat, dan semoga dengan keyakinan akan pertolongan Allah bagi hambaNya yang bertaubat dan mempunyai komitmen untuk menjalankan syariat Allah akan mengantarkan pada solusi tuntas pada permasalahan dunia dan membawa obat bagi pandemic covid 19.

Ramadhan adalah saat yang tepat untuk menyempurnakan taubat dan  ketaatan kepada Allah dengan menerapkan Islam secara kaffah. Dan Islam kaffah hanya akan sempurna terlaksana dalam sistem khilafah. Oleh karena itu, di bulan yang mulia ini perjuangan untuk mengajak seluruh umat manusia untuk menerapkan Islam kaffah dalam naungan khilafah juga butuh untuk ditingkatkan. Agar kesadaran umat akan pentingnya perubahan menuju khilafah semakin kuat. Dan akhirnya kemenangan Islam pun semakin mendekat.

Tuesday, 14 April 2020

Ikan Pindang Bumbu Kemangi



Bahan dan bumbu
6 ekor ikan pindang ukuran sedang
Bawang putih
Bawang merah
Cabe rawit
Cabe merah besar
Cabe hijau besar
Kemiri
Lengkuas
Merica
Bawang pre
Daun bawang merah (senthir)
Daun salam
Tomat
Gula
Garam
Daun kemangi

Cabe menyesuaikan, pertimbangkan anggota keluarga yang balita, lansia, perut sensitif

Proses masak
Goreng pindang, bersihkan durinya, potong kecil, coba sedikit agar tahu pindang sudah asin atau belum, biar bisa menyesuaikan garamnya

Bumbu yang dihaluskan : bawang putih, bawang merah, kemiri, merica. Lengkuas cukup digeprek.

Bumbu yang dipotong kecil : semua cabe, tomat, daun bawang pre dan senthir

Goreng dengan api kecil bumbu yang sudah dihaluskan. Masukkan irisan cabe, tomat, Lengkuas, semua daun secara bertahap

Tambahi air, masukkan ikan pindang, tambahi gula, biarkan meresap, masukkan kemangi hingga layu, angkat

Monday, 13 April 2020

Bukan Omong Doank



******************************************

Buku Sistem Keuangan Negara Khilafah Bab Zakat

Hukum Orang yang Menolak Membayar Zakat

Jika seorang muslim mempunyai harta yang telah mencapai nishabnya, maka wajib atasnya zakat. Ia wajib menunaikan apa yang diwajibkan pada hartanya, berupa zakat. Jika ia menolak menunaikan kewajibannya, itu berarti dosa besar. Sebagaimana digambarkan di dalam hadits-hadits mengenai harta zakat. Di sana digambarkan bahwa orang-orang yang tidak menunaikan zakat dari harta mereka diancam dengan ancaman yang keras.

Orang yang menolak membayar zakat, harus dilihat dulu kenyataannya. Jika dia menolak membayar zakat akibat kebodohannya terhadap kewajiban zakat, maka kepadanya harus diberitahu tentang kewajibannya. Dia tidak dikafirkan dan tidak dicela, karena dia mempunyai udzur, tetapi zakat (tetap) diambil darinya.

Apabila ia menolak menunaikan zakat karena mengingkari kewajibannya, maka orang seperti ini dianggap murtad, yaitu diperlakukan seperti menghadapi orang murtad. Kepada orang ini diberi tenggat waktu tiga hari (untuk bertaubat dan kembali-peny). Jika ia bertaubat, maka diambil zakat darinya, dan dibiarkan. Jika menolak, ia dibunuh (diperangi). Karena wajibnya zakat merupakan perkara agama yang sudah lumrah diketahui (ma’lum minaddin bi adl-dlarurah). Lagi pula dalil-dalil tentang wajibnya zakat itu sangat jelas, baik di dalam al-Qur'an, Sunnah maupun ijma' sahabat. Dan tidak tersembunyi dari seorangpun kaum Muslim.

Jika ia menolak menunaikan zakat dengan keyakinan terhadap kewajibannya, maka zakat diambil darinya dengan cara paksa. Jika sekelompok orang menolak menyerahkan zakat kepada negara, mereka menolak mentaati negara dalam kewajiban membayar zakat, dan mereka menolak membayar zakat tersebut pada suatu daerah tertentu dan mereka membentengi daerah tersebut, maka negara memerangi mereka sebagaimana memerangi bughat (kaum pembangkang). Hal itu pernah dilakukan Abubakar dan para sahabatnya terhadap orang yang menolak membayar zakat.

*****************************************

Begitulah mekanisme perlakuan terhadap orang yang menolak membayar zakat, dicari tahu terlebih dahulu alasannya, baru diambil tindakan.


Bagaimana dengan kasus penolakan jenazah yang berakhir pada penangkapan beberapa orang ?
Hampir mirip, harus dicari dan diselidiki dulu. Memang mengurus jenazah dari jaman kecil sampai tidak muda, seorang muslim juga tahu hukumnya fardhu kifayah (selalu saja kalau menjelaskan tentang fardhu kifayah contohnya mengurus jenazah). Artinya seorang muslim insya Allah pasti tahu hokum mengurus jenazah, mulai dari awal hingga memakamkan.

Namun mengapa masih ada yang menolak jenazah? Kemungkinan besar karena erat kaitannya dengan wabah corona, sedangkan wabah corona adalah sesuatu yang baru di negeri ini. Sejak awal pemerintah sudah tidak serius, meremehkan, terutama terkait edukasi dan pemberian informasi yang benar ke tengah rakyat. Tidak heran, kebijakan dan perkataan antar pejabat saja saling-silang tidak kompak, apalagi informasi yang diterima rakyat, jadi simpang-siur dan diwarnai dengan hoax, maka wajar jika rakyat sendiri menjadi bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ketika informasi yang diterima tidak jelas atau bahkan salah, maka tentu akan berpengaruh pada sikap seseorang.

Oleh karena itu, edukasi, memberi tahu, memberi informasi, menyampaikan berita yang benar adalah perkara yang penting, tidak boleh diremehkan.

Termasuk pula di dalamnya adalah aktivitas dakwah. Dakwah pemikiran dan politik mengajak penerapan islam kaffah dalam naungan khilafah sering dianggap sebagai aktivitas omong doank belaka. Tapi jangan salah, dakwah pemikiran ini sejatinya yang akan mempengaruhi pemahaman dan selanjutkan akan mengubah sikap seseorang. Maka teruslah dakwah, teruslah menyampaikan. Menyampaikan informasi ke tengah umat, menyampaikan semua ajaran islam, menyampaikan ajakan menerapkan Islam kaffah dalam naungan khilafah.


Pare, 13 April 2020

Saturday, 11 April 2020

Jaring Pengaman Sosial Di Tengah Wabah Tak Menyelesaikan Masalah


Akhirnya presiden mengeluarkan program Jaring Pengaman Sosial (JPS) di tengah wabah corona  yang melanda Indonesia. Program JPS diimplementasikan dalam bentuk enam program.  Dengan program ini pemerintah ingin memastikan bahwa negara hadir untuk masyarakat dan ingin mengurangi beban dari masyarakat yang terdampak. Beberapa program jaring pengaman sosial yang mendapat stimulus dari pemerintah untuk menekan dampak virus Corona di antaranya Program Keluarga Harapan atau PKH; Kartu Sembako; Kartu Prakerja; penggratisan pelanggan listrik 450va dan diskon 50 persen untuk 900va; 25 triliun rupiah untuk operasi pasar dan logistik; dan keringanan pembayaran kredit bagi pekerja informal.

Banyak kalangan yang memprediksi program JPS ini tidak efektif, mengingat jumlah masyarakat yang terdampak semakin banyak dan jumlah penderita covid 19 belum ada tanda mengalami penurunan. Kebijakan ini malah memperjelas cuci tangannya negara dari mengurusi seluruh warga. Misalnya saja penggratisan dan diskon tariff listrik yang hanya berlaku untuk pelanggan 450 va dan diskon untuk pelanggan 900 va, tentu ini hanya akan dinikmati segelintir orang saja. Bagaimana dengan pelanggan 900 non subsidi juga 900 ke atas, padahal dahulu pemerintahlah yang terus mendorong agar masyarakat menambah daya. Selain itu JPS juga tidak akan berpengaruh di saat pemerintah hanya mengambil keputusan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), yang hanya memperpanjang masa wabah bukan menghentikannya. Kebijakan karantina wilayah jelas ditolak pemerintah karena minimnya dana untuk membiaya pemenuhan warga yang dikarantina, apalagi adanya sinyal bahwa saat ini negara sedang tak punya dana.  Ini terbukti dengan dibukanya rekening khusus untuk menampung donasi pengusaha. Maka sangat wajar jika banyak yang meragukan JPS akan terlaksana semua. JPS tak akan menjamin rasa aman, marga masih dihantui dengan kesimpang-siuran realisasi program ini. Misal keringanan kredit untuk pekerja informal, jelas ini akan terkatung-katung, karena sama sekali tidak ada data tentang pekerja informal ini. JPS hanyalah janji manis penguasa kepada rakyatnya agar sedikit terhibur di saat wabah semakin merajalela. Negara berlepas tangan dari tanggungjawabnya, dana yang seharusnya dikeluarkan negara untuk kepentingan rakyat seolah menguap begitu saja tanpa tahu digunakan untuk apa.

Kebijakan ini sangat jauh berbeda dengan kebijakan dalam sistem khilafah sebagai penjamin penerap Islam kaffah. Islam adalah agama yang sempurna, taka da satupun perkara di dunia yang lepas dari aturan Islam. Orang mati saja diatur dan dipenuhi haknya apalagi orang sakit dan orang hidup. Ketika wabah datang Islam menerapkan lockdown sesuai tuntunan syariah. Agar kehidupan terjaga, agar nyawa terlindungi, baik nyawa oranng muslim maupun nonmuslim. Khilafah adalah institusi yang wajib melindungi seluruh warga negaranya, negara tidak boleh ceroboh membuat kebijakan yang mengakibatkan bahaya bagi rakyatnya. Tidak boleh mempertaruhkan nyawa rakyatnya demi kepentingan ekonomi segelintir golongan, jika ekonomi mati masih bisa diperbaiki namun jika nyawa  hilang tentu tak bisa dikembalikan. Namun faktanya ini yang terjadi di negeri kapitalis ini, nyawa manusia begitu tak berharga karena ruh kapitalisme telah mengakar kuat.

Saturday, 4 April 2020

Dari masjid kami berjuang


Suasana masjid Darul Falah saat wabah corona

Tulisan sudah pernah diposting  di sini

Alhamdulilah dalam suasana musibah Corona masjid Darul Falah Tulungrejo Pare tetap mengadakan salat jamaah. Tentu dengan S & K berlaku. Memang tak banyak jamaah, karena masjid yang terletak di pusat kampung inggris sudah tak didatangi para pendatang yang sedang kursus di Pare, mengingat semua kursusan libur.

Sebuah masjid yang bersejarah, menjadi salah satu masjid yang dirintis oleh pasukan Pangeran Diponegoro yang sengaja berpencar menghindari kejaran pasukan Belanda.

Dan di masjid ini pula lahir para pejuang dan perintis kampung inggris. Adalah Ustadz Ahmad Yazid, beliau seorang tokoh ulama yang menguasai ilmu agama sekaligus banyak bahasa. Beliau pula yang menjadi guru Mr. Kalend, pendiri BEC pionir kursusan bahasa Inggris di Pare.

Dari masjid Darul Falah juga terlahir para pejuang, ilmuwan sekaligus politisi.

Siapa pun yang berkunjung ke Pare tidak afdhal jika belum mampir ke masjid Darul Falah.

Dan di masjid ini pula kami menggembleng siswa - siswi. Praktik latihan wudhu, salat hingga melaksanakan salat jamaah juga berbagai aktivitas lainnya. Memang tak semua anak bisa nyaman dan tenang di masjid. Kadang mereka berlarian, berkejaran, berguling-guling dan sebagainya. Tidak masalah, selama bisa menjaga diri, menjaga kebersihan dan kesucian masjid. Selama tidak ada kegiatan di masjid, siswa bebas masuk masjid.

Di masjid kami mengajarkan ibadah dan adab. Mengajarkan berbagai ilmu dan menyampaikan nasihat. Dengan harapan mereka kelak menjadi anak yang saleh, berguna bagi sesama manusia, agama dan bangsa.

Di masjid siswa belajar berjamaah, peduli dengan sesama, tampil saat giliran pidato, hingga sesekali menjadi tempat terlaksananya sanksi. Diam di masjid, membaca Al Qur'an, dzikir dan wirid. Tidak boleh beranjak dari masjid tanpa ijin. Tinggal  dipantau dari cctv.

Insya allah saat masuk nanti masjid Darul Falah akan ramai kembali, siap melahirkan generasi saleh.

Generasi pejuang penerus masa depan bangsa. Aamiin

Yang mau gabung di MI Al Hidayah YPSM silakan daftar di sini : http://bit.ly/daftarmialhidayahypsm



Friday, 3 April 2020

Rindu Bertemu

Tulisan sudah diposting di Fb https://www.facebook.com/nuraini.pare



16 Maret 2020, terakhir bertatap muka dengan mereka. Sehari sebelumnya sudah ada edaran bahwa pembelajaran siswa di sekolah di hentikan.

Tidak memungkinkan untuk mengumukan bahwa Senin pembelajaran di sekolah off. Ada wali murid yang tidak punya HP, atau no sudah ganti. Dan Senin juga bertepatan dengan jadwal uji coba ujian madrasah. Diputuskan Senin tetap masuk. Memasang papan pengumuman, pulang lebih awal.

Tidak seperti biasa, siswa langsung ke masjid salat dhuha, pengumuman bersama, masuk kelas pemberian tugas belajar di rumah.

Memanfaatkan waktu yang ada untuk memberikan arahan apa yang harus dilakukan selama di rumah, memberi arahan seputar virus corona. Alhamdulillah, berusaha mengantisipasi meski sama sekali tak menduga, corona begitu dekat dengan kami.

Entahlah bagaimana nasib mereka yang tak punya HP, bagaimana belajar mereka di rumah.

Dan minggu ini ternyata masa belajar di rumah diperpanjang.

Terus berdoa semoga ini segera berakhir.

Suasana yang tidak pasti sungguh menyesakkan hati.

Semoga kembali bertemu, dengan suasana baru. Sudah sedikit lelah menjawab pertanyaan : Bu kapan masuk sekolah?

InsyaaAllah masuk nanti ada yang beda, alhamdulillah pembangunan lantai dua MI Al Hidayah YPSM terus berlanjut.

Dan tahun ajaran baru siap menerima peserta didik baru.

Ceritane mau promo sekolahan 😊

Yuuk mari daftar di sini

http://bit.ly/daftarmialhidayahypsm

Abaikan typonya yang bikin  sepertinya sudah lelah 😊

Silakan temukan typonya