Saturday, 27 February 2021

Karena Kita Bukan Hewan

 



Bunda kenapa tidak boleh telanjang di luar?


Bunda kenapa harus menutup aurat?


Kucing tidak apa-apa ya tidak pake baju?


Kucing kan sudah punya bulu, ga perlu pake baju ya?


Karena telanjang itu membuka aurat


Karena Allah memerintahkan kita menutup aurat


Tidak apa-apa karena kucing itu hewan


Karena kita manusia 

Karena kita tidak sama dengan hewan

Karena manusia diberi akal 

Karena manusia bisa berpikir, bisa membedakan mana perintah mana larangan 


Karena kucing tidak punya akal

Karena kucing tidak bisa membedakan yang baik dengan yang buruk


Jika manusia tidak mau menutup aurat apa bedanya dengan hewan? 



Kediri, 27 Februari 2021

Thursday, 18 February 2021

Terimakasih Nussa Rara

 



Di masa pandemi saat HP menjadi sarana utama PJJ dan hiburan, ada ujian berat bagi orang tua ketika sekejap saja anak tak terkontrol memegang HP. Asyik main game offline maupun online, asyik menikmati tayangan youtube. Memanfaatkan HP sebagai hiburan atau bahkan hal yang menghabikan waktu lebih mendominasi daripada belajar, menambah ilmu maupun mengerjakan tugas. Menghentikan total penggunaan HP juga sepertinya kurang bijak, karena bagaimana pun HP adalah madaniyah, hukum asalnya mubah. Maka sebagai salah satu alternatifnya adalah tetap mengenalkan HP beserta apapun yang bisa dinikmati dengan HP dengan catatan tentunya. Pendampingan, memberikan penjelasan, membatasi sesuai dengan perkembangan anak. Tetap berikan hak anak untuk mendapat hiburan namun tidak mengorbankan masa keemasan mereka.jadikan HP sebagai sarana untuk membuat anak semakin mengenal Allah, mengenal syariat dan siap menghadapi realitas kehidupan dunia dengan terus mengenalkan visi akhirat kepada anak.

Yang tidak boleh dilupakan adalah, jangan mengorbankan masa depan anak dengan membiarkan mereka asyik dengan gawai tanpa pendampingan meski seakan hati tenang karena mereka tak rewel. Pastikan apa yang mereka nikmati adalah segala sesuatu yang membantu membentuk kepribadian Islam, membekali anak dengan pemikiran yang sahih, memberikan informasi yang seiring dengan aturan Allah. Bukan sebaliknya, membiarkan anak menikmati semua tanpa saringan dan pendampingan. Jangan rusak akal anak kita dengan informasi sampah, jangan rusak anak kita dengan permainan yang melalaikan. Isi waktu mereka dengan kebaikan dan terus belajar melakukan kebaikan.

Salah satu alternative tontonan anak yang bisa dinikmati adalah channel Nussa Official dengan tokoh utama Nussa dan Rara. Alhamdulillah ada banyak ilmu dan pengalaman yang didapatkan, banyak sekali. Tidur sendiri tidak takut, makan jangan asal makan, belajar ikhlas, toleransi, rara sakit, rukun iman, rukun islam, adab minta ijin, ambil gak, sikat gigi bulat-bulat, ayo olahraga, dan sebagainya. Semua materi video sangat mendidik dan membantu orang tua untuk mendidik anak, membantu menyampaikan banyak informasi dengan bahasa ringan dan tayangan menyenangkan. Yang jelas semua materi bermanfaat untuk tumbuh kembang anak, meski terkadang orang tua harus berpikir keras untuk menjelaskan sesuai bahasa dan kebiasaan anak. Alhamdulillah, setidaknya orang tua terbantu, daripada menikmati tayangan sampah yang merusak akal anak, yangmelalaikan anak, menjauhkan mereka dari predikat anak saleh.

Maka, sungguh kejam pihak yang menuduh tayangan Nussa dan Rara sebagai tayangan radikal, intoleran dan hanya merusak anak. Jelas tuduhan yang keji. Bisa jadi untuk membunuh karakter anak muslim, atau bahkan tuduhan datang dari musuh islam atau dari pihak yang islamophobia. Apapun yang berbau islam pasti ditolak. Yang pasti tujuan akhirnya adalah tak ingin umat Islam semakinmengenal ajarannya, tak ingin umat Islam mulia dengan syariat agamanya. 

Apa yang harus dilakukan? Tetap bertahan dengan identitas Islam. Tidak mundur menyampaikan ajaran Islam. Menyampaikan Islam sebagai penyelamat umat, meyakinkan bahwa Islam adalah agama terbaik dari Allah yang maha segalanya. Menggunakan berbagai sarana untuk terus berdakwah, demi menyelamatkan generasi, demi menyelamatkan umat manusia, demi meraih keselamatan di dunia dan akhirat. Abaikan tuduhan dan celaan para pembenci.


Kediri, 18 Februari 2021

Thursday, 28 January 2021

Tempat Singgah



Perjalanan Pare Kediri dan sebaliknya dengan motor, saat badan tidak fit, saat bawa anak biasanya membutuhkan setidaknya satu kali istirahat.


Lebih sering memilih masjid atau mushola untuk transit. Atau pom bensin. Diutamakan yang searah, tidak menyeberang jalan. 


Untuk masjid atau mushola yang pernah disinggahi antara lain, dari arah Pare : masjid setelah RS Khadijah Gurah (terkadang jika dari arah Kediri juga mampir terutama jika sudah masuk waktu salat), pom bensin sebelum SLG.


Dari arah Kediri : masjid setelah perempatan Katang, mushala setelah perempatan Wonokasihan (sebelum jembatan-pasar), masjid di perempatan Gayam, masjid Adan-adan.


Pertimbangan utama memilih tempat singgah tersebut adalah tidak sepi, di pinggir jalan, kamar mandi bersih, ada  tempat parkir atau berteduh. Pertimbangan lain, ada yang jualan atau dekat dengan penjual makanan dan minuman.P

aling nyaman itu ketika nyaman untuk salat, tempat wudhu terpisah total, suasana tenang, ramah anak. 


Semoga pengelola tempat-tempat tersebut terus memberikan fasilitas yang ramah untuk para musafir baik menempuh perjalanan dekat maupun jauh, semoga terus memberikan fasilitas yang terbaik. Aamiin 



Kediri, 28 Januari 2021

Wednesday, 27 January 2021

Generasi Z Mau Diapakan?

 



Hasil survei penduduk yang dilakukan BPS tahun 2020 telah dipublikasikan. Hasilnya, jumlah penduduk Indonesia adalah 270, 20 juta jiwa, dari jumlah tersebut komposisi terbesar ditempati oleh generasi Z sebanyak 27,94%. Generasi Z adalah generasi yang lahir antara tahun 1997-2012 atau saat ini berumur antara 8-23 tahun. Dengan kata lain generasi Z saat ini menempati posisi usia sekolah dan kuliah. Maka aktivitas terbanyak yang seharusnya dilakukan oleh generasi Z adalah belajar, memperbanyak ilmu dan pengalaman sebagai bekal kehidupan, sebagai bekal penerus masa depan bangsa. Namun bagaimana realita penyiapan dan pembinaan generasi Z saat ini? Apalagi di masa pandemi yang telah berlangsung hampir setahun.

Fakta yang tak terbantahkan, nasib generasi Z saat ini sedang di ujung tanduk. Kerusakan moral menggerogoti generasi ini. Kriminalitas yang dilakukan anak dan remaja semakin meningkat. Pembunuhan, perampokan, pemerkosaan tawuran tak jarang melibatkan generasi Z. Ini terjadi jauh hari sebelum pandemi. Sedangkan saat pandemi, nasib generasi Z semakin terabaikan.

Lihat saja fakta dunia  pendidikan yang belum menemukan pola terbaik untuk dinikmati seluruh pelajar dan mahasiswa. Yang pasti fasilitas tidak merata, tidak semua menikmati fasilitas belajar daring saat pandemi. Tidak ada jaminan semua mendapatkan akses pendidikan terbaik.

Parahnya lagi, yang mendapatkan fasilitas akses internet pun juga bukan tanpa masalah. Mental hedonis yang telah terpatri karena sistem sekular membuat pembelajaran daring tidak maksimal. Porsi pemanfaatan internet untuk belajar masih kalah jauh dengan bermain online yang seringkali membuat ketagihan, malas beraktivitas, malas gerak dan jauh dari aktivitas produktif di dunia nyata.

Perhatian negara pada pendidikan dan pembinaan generasi Z masih belum maksimal, terbukti pemerintah masih sibuk dengan urusan seputar ekonomi makro yang tak banyak menyentuh rakyat kecil hanya menguntungkan para pemilik modal. Beberapa waktu lalu pemerintah nekat mengesahkan UU Cipta Kerja yang terindikasi menguntungkan para pemilik modal, padahal rakyat banyak menolak. Santai membuka kran impor berbagai barang padahal belum memaksimalkan potensi dalam negeri. Pemerintah sibuk memperketat aktivitas rakyat namun longgar dengan WNA, terutama WNA China yang masuk untuk mengisi lapangan pekerjaan, kucuran dana tunai hasil utang pun terus dilakukan untuk menggerakkan roda perekonomian. Dan lagi-lagi pendidikan belum mendapatkan perhatian serius. Akibatnya tak sedikit pelajar yang masih belum mendapatkan ilmu secara optimal, bahkan ada yang stres dengan metode pembelajaran online saat ini. Ironinya pemerintah juga malah sibuk dengan isu radikalisme, intoleransi, dan membungkam rakyat yang kritis, seolah mendeklarasikan diri menjadi penguasa anti kritik, menutup telinga dengan masukan. 

Yang seharusnya dilakukan agar generasi Z siap menjadi generasi penerus bangsa adalah memberikan perhatian penuh dan sungguh-sungguh untuk membina generasi Z, membekali mereka dengan pemikiran yang sahih. Memang sebuah usaha yang tidak menghasilkan materi kekayaan secara langsung, karena membina generasi bukan lahan bisnis melainkan sebagai bentuk tanggung jawab negara pada masa depan generasi. Maka sudah seharusnya porsi perhatian dan keseriusan negara untuk memastikan generasi Z mendapatkan fasilitas terbaik untuk membina kepribadian menuju kepribadian luhur sebagai hamba Allah, yang diciptakan semata untuk beribadah kepada-Nya. Namun hal ini tidak bisa hanya berharap pada sistem demokrasi sekular yang nyata tak membawa kebaikan, saatnya kita memilih sistem terbaik untuk menyelamatkan generasi Z dan umat manusia secara umum agar kelak saat menikmati bonus demografi kita juga memanen kebaikan, sistem yang dibutuhkan tak lain adalah sistem Islam, yang memandang generasi sebagai aset hingga ke akhirat, tentu dengan pengerahan seluruh waktu, tenaga dan pikiran, semuanya demi terwujudnya generasi Z yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. 


Saturday, 23 January 2021

Musibah Silih Berganti Saatnya Muhasabah Negeri

 

       Pesawat jatuh, gempa bumi, banjir, tanah longsor, gunung meletus datang bertubi-tubi di awal tahun 2021. Memang bencana adalah kehendak Tuhan karena tak ada satupun peristiwa di dunia ini terjadi tanpa kehendak-Nya, maka manusia wajib menerima dengan ikhlas semua yang menimpa dirinya, termasuk musibah. Namun di sisi lain manusia juga harus mengevaluasi pemicu terjadinya bencana atau setidaknya menyiapkan segala sesuatu untuk memperkecil dampak negatif bencana.

       Gempa bumi sering datang tiba-tiba namun upaya untuk meminimalisir korban dengan memastikan bangunan yang dibuat tahan gempa atau ramah gempa, teknis evakuasi yang cepat dan ketersediaan fasilitas medis juga kecukupan pangan adalah hal yang bisa dipikirkan manusia, maka pada wilayah inilah manusia wajib berusaha. Dan yang tak kalah pentingnya adalah tindakan recovery semua bidang, jadi korban bisa secepatnya kembali ke kondisi normal, bukan malah ditinggalkan dan dibiarkan menderita sendiri

       Apalagi banjir dan tanah longsor, tanda primernya sangat mudah dikenali, diantaranya curah hujan di atas normal, hilangnya daerah resapan, dan  rusaknya lingkungan.

       Seharusnya musibah banjir dan tanah longsor lebih mudah diantisipasi. Namun sayang, musibah berupa bencana alam yang sering memakan korban ini seolah tak begitu mendapat perhatian dari penguasa. Jika ada, itu pun belum maksimal, tidak sebanding dengan perhatian untuk terus mengeksploitasi alam atas nama pembangunan dan investasi yang jelas hanya menguntungkan para pemilik modal.

       Hal ini wajar dalam sistem kapitalisme, apapun yang mendatangkan keuntungan materi meski itu hanya dinikmati segelintir rakyat lebih diperhatikan daripada urusan seluruh rakyat semisal antisipasi bencana dan penanggulangan bencana yang secara hitungan malah menguras keuangan negara.

       Oleh karena itu, datangnya musibah yang bertubi-tubi seharusnya menjadi bahan evaluasi untuk semua, mengevaluasi perilaku individu, masyarakat hingga kebijakan penguasa. Dan evaluasi yang hakiki adalah benar-benar menyadari bahwa musibah ini tidak terjadi tanpa tujuan, setidaknya menyadari bahwa manusia sangat lemah, berikutnya berusaha maksimal mencari penyebab datangnya musibah yang bisa jadi merupakan teguran sekaligus hukuman dari Allah agar manusia mengingat kembali semua kesalahan yang telah dilakukan. Muhasabah diri, jangan-jangan ini terjadi karena banyaknya kemaksiatan di muka bumi, yang tentu solusinya adalah bertaubat dan kembali taat pada syariat Allah.

Thursday, 31 December 2020

KHILAFAH DINANTI UNTUK ATASI PANDEMI

 

Setahun sudah virus corona mengguncang dunia, bukannya mereda malah ditemukan virus yang semakin mudah penularannya. Di Indonesia, sejak kasus pertama di awal 2020 belum juga menunjukkan tanda kasus puncak untuk kemudian berkurang kasusnya, jumlah orang yang tertular terus naik dan belum menemui titik puncak. Semakin banyak yang meninggal, dan ironinya penambahan tenaga medis dan akademisi yang meninggal karena corona terus saja berlangsung. Tenaga medis sebagai garda terdepan penanganan covid dan kalangan akdemisi yang merupakan kekayaan tak ternilai bagi suatu bangsa. Tak berhenti sampai di sini, perekonomian pun dibuat tergoncang. Badai resesi menyapu semua lini, pegerakan roda ekonomi semakin pelan . Pendek kata, corona telah membuat semua sendi kehidupan terkena dampak. Sungguh kenyataan pahit yang harus ditelan semua manusia.

Namun sayang, kesadaran akan Maha Besarnya Allah yang telah mengirim makhluk mikro yang memporak-porandakan kehidupan umat manusia belum disertai dengan perubahan menuju taubat dan ketaatan total. Sejak awal kasus corona terdeteksi di Indonesia, kejumawaan terus menghiasi kebijakan penguasa. Kedzaliman tidak berkurang namun sebaliknya malah bertambah, pengesahan UU omnibus law yang kedok jahatnya semakin terlihat nyata, kebijakan yang menguntungkan pengusaha dan asing terus berlanjut sedangkan rakyat kecil dibiarkan menantang maut. Hingga saat ini pun kesungguhan pemerintah untuk menjamin kesehatan dan hak hidup seluruh rakyat belum dilakukan secara totalitas. Kemiskinan semakin meningkat, tindak kriminal, perceraian hingga bunuh diri semakin sering menghiasi layar kaca informasi. Kedzaliman terus berlangsung, kesewenangan terhadap pihak yang kontra penguasa semakin ditunjukkan. Belum lagi di kancah internasional. Timbangan hubungan dengan luar negeri semakin memberat dengan pihak luar negeri yang semakin untung, sedangkan Indonesia semakin buntung dengan terjebak pada utang luar negeri dan penjajahan berkedok investasi. Bukannya meringankan beban rakyat, ke depan rakyat akan terus terbebani akibat keputusan pemerintah yang tidak tepat mengelola anggaran dan terus berutang apapun bentuknya.

Memang sudah menjadi tabiatnya, solusi berbasis prinsip sekular kapitalisme tidak akan pernah memberi solusi, malah sebaliknya akan terus menuai masalah. Harus ada perubahan yaitu dengan menerapkan sistem terbaik dari Allah, yaitu penerapan syariah kaffah dalam naungan khilafah. Khilafah dengan tuntas akan menyelesaikan masalah berdasarkan aturan dari Sang Pencipta, hasilnya semua masalah teratasi dan keberkahan menaungi. Untuk penanganan pandemic, khilafah akan mengambil kebijakan dengan prinsip mendahulukan keselamatan nyawa seluruh rakyat di atas segalanya. Tegas mencegah penularan wabah. 

Langkah penting yang harus dilakukan adalah memastikan dan memisahkan penderita dari rakyat yang sehat. Mengeluarkan dana untuk menyediakan tes gratis sehingga ada kepastian rakyat yang sehat dengan rakyat yang terkena virus. Dengan langkah ini yang sakit wajib diisolasi dengan tetap dipenuhi kebutuhannya dan yang sehat tetap bisa beraktivitas secara normal. Berikutnya memastikan roda perekonomia terus berputar, dengan menyusun ulang anggaran. Pengeluaran yang tidak urgen dihentikan sementara, pengelolaan SDA yang melimpah ditata ulang , tidak diserahkan kepada swasta bahkan asing. Menghentikan utang ribawi yang membawa petaka dunia akhirat. Memenuhi kepbutuhan rakyat yang terpaksa harus isolasi sehingga tidak bisa mencari nafkah. Meningkatkan intensitas pembiayaan penelitian para ilmuwan untuk segera mendapatkan vaksin, khilafah akan terus menempuh cara halal agar nyawa rakyat tidak di ujung kematian, karena dalam sistem khilafah, nyawa warga Negara sangatlah berharga. Maka upaya maksimal untuk melindungi nyawa pun menjadi lengkah utama, bukan untuk kepentingan bisnis, akan tetapi semata agar rakyat selamat. Maka wajar jika saat ini umat terus berharap pada tegaknya khilafah, sistem warisan Rasulullah saw yang wajib ditegakkan dan sangat dibutuhkan umat, agar selamat di kehidupan dunia dan akhirat 


Puncak kesewenangan itu akan segera berakhir dengan kejatuhan

  

Akhir tahun 2020, di saat semua memutar kaleidoskop tentu dalam rangka muhasabah langkah dzalim malah menghiasi kebijakan pemerintah.


Setelah dengan keji membunuh 6 orang dengan informasi simpang siur, kedzaliman penguasa terus dipertontonkan, salah satunya dengan pelarangan aktivitas FPI. Dan seperti pendahulunya, HTI, FPI dibubarkan tanpa peringatan dan   keputusan pengadilan. Dan memang seperti itulah kesewenangan rezim melalui hasil revisi UU ormas. Asal ada alasan tidak suka sudah sah bagi penguasa membubarkan sebuah ormas. Alasan lain tinggal dicari-cari.


Keberadaan anggota FPI (atau mungkin sudah tidak aktif?) yang terlibat kasus terorisme bukan alasan kuat. Partai yang oknum pengurusnya banyak terlibat korupsi tidak diusik.


Tindakannya sering mengambil alih wewenang aparat terutama dalam hal sweeping harusnya menjadi evaluasi, ternyata aparat belum maksimal membasmi kemaksiatan. 


Sedangkan alasan membahayan minoritas, maka harus diperjelas. Minoritas yang mana? Tukang maksiat, PSK, LGBT? Jika benar, siapa sesungguhnya yang dirugikan?

Mungkin penguasa merasa jumawa kebijakannya begitu tegas dan tak bisa ditawari padahal sejatinya tak lebih dari kebijakan dzalim. Parahnya, kedzaliman terus saja dilakukan. Belum lagi kekonyolan di bidang ekonomi, kesehatan dan pendidikan, terlalu banyak kebijakan yang mengabaikan kepentingan rakyat.

Karena kedzaliman itu bukti ketidakmampuan, dan rezim lemah. Maka bisa dipastikan tidak lama lagi akan mengalami kehancuran. Oleh karena itu, pihak yang didzolimi selayaknya tak perlu bersedih hati, terus istiqamah, menanti kemenangan yang tak lama lagi.


Kediri, 31 Desember 2020

Wednesday, 9 December 2020

Penguasa Rakus, Habitat Hewan Diberangus?

 

 

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan menegaskan tetap akan mempromosikan proyek wisata Taman Nasional Komodo (TNK), Nusa Tenggara Timur (NTT). Alasannya, komodo merupakan hewan yang hanya ada di Indonesia sehingga memiliki nilai jual tinggi. "Karena saya pikir komodo ini cuma satu satunya di dunia, jadi kita harus jual," katanya dalam Rakornas Percepatan Pengembangan 2 Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP), Jumat (27/11). Ia mengakui jika proyek ini memang bersifat komersil. Namun, tujuannya adalah untuk menjaga keberlangsungan hewan langka tersebut.(cnnindonesia.com).

Langkah pemerintah ini bisa dibilang sangat nekat, hanya demi segenggam rupiah alam pun dikorbankan. Pemasukan negara di sektor pariwisata tidak akan sebanding dengan dampaknya terhadap lingkungan karena proyek menjual kawasan wisata alam sudah terbukti mengganggu habitat makhluk hidup, tidak ada ceritanya pariwisata membuat lingkungan semakin baik, yang ada hanyalah kerusakan lingkungan meskipun dampaknya dalam jangka panjang. Proyek ini jelas akan merugikan. Pembangunan pariwisata tidak hanya merugikan manusia dan alam tapi juga mengalihkan dari pengelolaan SDA yang memberi pemasukan besar. Seharusnya pemerintah lebih fokus pada pengelolaan SDA untuk memenuhi kebutuhan rakyat, pemasukannya bisa dikembalikan untuk kepentingan rakyat. Sedangkan proyek pariwisata hanya akan mengutungkan para pemilik modal, rakyat hanya menikmati recehan dan remah-remahnya.  Keputusan ini membuktikan kerakusan pemerintah yang terpilih dalam sistem demokrasi. Apapun dilakukan demi meraup pundi-pundi rupiah yang hanya dinikmati segelintir orang. Rezim rakus, kebijakannya berpotensi memberangus habitat makhluk hidup.

Keputusan untuk menjual proyek wisata di Pulau Komodo adalah bukti rusaknya dasar kebijakan dalam sistem demokrasi, lingkungan tak dipedulikan, halal haram diabaikan demi mengejar keuntungan materi semata. Memang kebijakan yang bisa dimaklumi apalagi saat kondisi pandemi, pemerintah sudah mulai kelimpungan, selain menambah utang juga menjual semua potensi yang dimiliki. Wajar, solusi yang menyisakan permasalahan sudah bawaan dalam sistem demokrasi seperti saat ini. Beda halnya dengan pengaturan Islam. Islam mengatur tentang wilayah konservasi (hima). Hima adalah wilayah khusus yang ditetapkan negara untuk keperluan perlindungan hewan dan tumbuhan. Bahkan terlarang memburu atau menebang pohon dikawasan hima. Negara juga tidak mengijinkan semua pihak merusak fungsi hima. Tidak boleh mengubah hima hanya demi materi belaka. Sedangkan dalam urusan pemasukan yang menjadi sumber pendapatan negara, kebijakan yang diambil adalah dengan pengelolaan SDA, salah satunya yang merupakan kepemilikan umum, haram SDA dieksploitasi oleh swasta atau individu. Tidak boleh merusak lingkungan dan hasilnya pun semata demi kepentingan seluruh rakyat bukan segelintir golongan.




Wednesday, 25 November 2020

Fokuslah Pada Kenikmatan




Manusia hidup pasti tak terlepas dari masalah. Meski sedikit, meski kecil, masalah dan ujian pasti ada, karena memang begitulah hidup.


Maka ketika menemui masalah harusnya sudah tertancap kuat, bahwa ini adalah bagian dari dinamika hidup. Tinggal menjalani, menghadapi, menyelesaikan atau bahkan cukup diabaikan. Tak perlu merasa menjadi manusia yang paling sengsara di dunia.

Begitu pula dengan kenikmatan, terkadang manusia merasa nikmat itu mudah dihitung, merasa tidak banyak mendapat kenikmatan, bahkan bisa jadi iri dengan kenikmatan orang lain.


Jika manusia hidup pasti ada masalah, maka tak jauh berbeda, manusia hidup juga diberikan kenikmatan yang tak terhitung jumlahnya. Namun memang terkadang ada yang kurang puas, ada yang terus meminta, meminta dan meminta lagi. Atau bahkan protes, mengeluh dan iri. Jika demikian wajar ketika telah mendapatkan kenikmatan masih saja merasa hidup tanpa kenikmatan.

Bersyukur dengan nikmat yang telah diberikan, manfaatkan untuk semakin mendekat kepada Allah. Semakin taat kepada Allah. Begitu pula saat ada masalah. Sabar, ikhlas, berusaha mencari solusi dan tawakal.


Semoga di saat nikmat didapat kita semakin taat, dan saat masalah menyapa usaha juga semakin kuat, menjalani semua dengan ikhlas, terus mengingat dunia hanya sementara dan akhirat kekal adanya.



Menulis ini saat mengingat ada banyak kenikmatan yang telah diberikan, meski masalah  selalu ada. Di saat berpapasan dengan mereka yang tak bisa melihat namun terus semangat dalam kehidupan.


Pare, 25 November 2020

Thursday, 19 November 2020

Teruntuk Para Jomblo

 


Bukan untuk mensupport agar para jomblo tetap pada statusnya, hanya ingin menasihati diri semoga selalu ingat, qadla Allah adalah yang terbaik untuk kita.



Selalu husnudzan, sedikit pun jangan terbersit bahwa Allah tidak adil karena hingga detik ini Allah belum juga memberi jodoh, selalu meyakini, qadla baik buruk dalam persangkaan manusia itu adalah yang terbaik, terimalah dengan sabar dan ikhlas.


Yakin  status jomblo bukan aib, justru harus selalu memanfaatkan status ini untuk terus berbuat baik, memberi manfaat terbaik kepada manusia, memberikan dedikasi optimal untuk agama Allah, terus memperbaiki diri, terus menambah ilmu, terus mendekat kepada Allah, hingga di saat terbaik nanti kita siap menerima jodoh kita, siap untuk terus bertahan dalam kebaikan, bahkan ketika menikah dan sesudahnya kita bisa menambah kebaikan, bukan malah sebaliknya.



Selagi masih ada waktu teruslah menuntut ilmu, teruslah memberikan ilmu, hingga saatnya nanti semua itu sulit direalisasikan karena ada segudang masalah rumah tangga yang bisa jadi membuat kita semakin sulit untuk menuntut ilmu, semakin sempit berainteraksi dengan orang lain.


Tak perlu iri dengan orang lain yang terlihat mudah bertemu jodoh, terlihat bahagia bersama pasangannya, yakin saja semua bisa bahagia asal selalu taat padaNya.


Isi waktu untuk kebaikan, untuk perjuangan. Ketika masih punya orang tua, manfaatkan waktu yang kita tak tahu sampai kapan diberikan untuk berbakti kepada orang tua. Berikan yang terbaik selagi orang tua masih ada, seringlah mengunjungi saudara, keluarga, kerabat, dan sahabat.


 Menambah ilmu apapun itu, seputar keluarga hingga ilmu agama. Belajar bahasa Arab, perbaiki bacaan Al Qur'an, tambah hafalan, jika kita bekerja pastikan hasilnya untuk bekal di akhirat.


Agar kelak ketika jodoh itu datang sudah tak ada alasan apalagi mengkambinghitamkan keluarga, merasa sibuk hingga hanya memberikan waktu sisa untuk menuntut ilmu, untuk berdakwah atau bahkan melalaikannya karena alasan keluarga, naudzubillah. Ingatlah, pada saat Allah mempertemukan kita dengan jodoh kita, seharusnya kita semakin bersyukur, semakin mendekat kepada Allah, semakin semangat berjuang di jalan dakwah.


Terakhir, terus memohon kepada Allah, terus meminta kepada Allah agar diberikan jodoh yang mengantarkan kita bahagia dunia akhirat. Jangan menyerah, jangan merasa lelah, karena Allah Maha segalanya tak ada yang tak mungkin bagiNya


Kediri, 19 November 2020

Tuesday, 3 November 2020

Rapor Merah PJJ : Cacat Sistemik

 

Pelaksanaan Pembelajaran Jarak jauh (PJJ) di tahun 2020/2021 sudah melewati penilaian tengah semester di tingkat pendidikan dasar dan menengah. Tentu bukan waktu yang singkat, mengingat PJJ juga sudah berlangsung sejak akhir tahun pelajaran 2019/2020. Dan hasilnya adalah rapor merah. Ya, rapor merah layak diberikan saat menilai PJJ, mengingat masalah yang terus mendera dunia pendidikan. Fakta di lapangan berbicara, tidak semua peserta didik mempunyai fasilitas PJJ dengan berbagai alasan. Dan hampir sebagian besar karena keterbatasan dana membeli fasilitas dan tidak sedikit yang terjangkau sinyal. Bahkan keironian terus mengiringi pelaksanaan PJJ. Kecelakaan saat mencari sinyal di tempat tinggi, ayahmencuri HP demi pembelajaran anaknya, siswa rela menjadi kuli demi membeli HP hingga bunuh diri karena tak sanggup menghadapi PJJ. Proses PJJ pun juga penuh dengan lika-liku, ketidakjelasan zona suatu wilayah, penilaian dan evaluasi belajar yang kevalidan hasilnya diragukan, hingga pendidikan yang jauh dari realisasi pembentukan karakter mulia untuk peserta didik. Ini masih sebagian kecil permasalahan seputar PJJ.  Belum lagi masalah dana, terutama disunatnya dana BOS di madrasah, juga kuota belajar yang belum dinikmati semua pelajar dan pengajar. Maka layaklah PJJ yang digawangi Kemendiknas dan Kemenag diberi rapor merah.

Rapor merah ini jelas karena kesalahan sistemik, dalam sistem pendidikan di negeri ini pendidikan tidak sepenuhnya ditempatkan sebagai bidang yang menjadi prioritas utama, jelas karena bukan lahan bisnis yang menjanjikan menghasilkan uang yang melimpah, bahkan bisa dikatakan menghabiskan anggaran menurut kacamata kapitalis, maka wajar kesungguhan untuk memberikan pelayan maksimal di bidang pendidikan pun patut dipertanyakan. Jika pun ada perhatian khusus malah sebaliknya, demi mencetak generasi berkarakater liberal, sejalan dengan ideologi kapitalisme yang mencengkeram pemikiran para pengelola negara. Dan ironinya lagi, kesempatan PJJ dalam suasana wabah ini tak luput dari sasaran kapitalisasi. Lihat saja bagaimana komersialisasi beberapa layanan belajar online dan penyediaan kuota internet, dan yang pasti lagi-lagi yang diuntungkan adalah para pemilik modal, rakyat hanya bisa gigit jari. Penyediaan layanan juga bukan karena kepeduliaan, namun lebih karena melanggengkan hubungan simbiosis mutualisme penguasa dan pengusaha. Akhirnya, tujuan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa pun sangat jauh api dari panggang. Sudahlah ilmu tak dapat, karakter generasi pun semakin amburadul, tak jelas kemana arahnya. 

Rapor merah ini akibat sistem yang batil. Menjadikan kebebasan dan materi sebagai pedoman, maka tak heran akan terus menimbulkan kerusakan. Oleh karena itu dibutuhkan perubahan sistemik pula. Dan satu-satunya system alternative yang layak untuk diandalkan hanyalah system pendidikan Islam yang berjalan sempurna dalam naungan system khilafah. Dalam sistem Islam, pendidikan adalah adalah kebutuhan mendasar bagi seluruh warga negara, maka penguasa akan mengerahkan seluruh tenaga agar semua mendapat pendidikan , dan tujuannyapun juga mulia, pendidikan untuk membentuk manusia berkepribadian Islam yang luhur, siap mewujudkan peradaban gemilang.


Saturday, 31 October 2020

Tak perlu ragu, terus menyampaikan khilafah

 Sebuah pertanyaan, apa yang harus kami lakukan ketika di tempat kami kerja ada peringatan untuk tidak menyampaikan ide khilafah?



Itu adalah pertanyaan berdasarkan fakta di lapangan, di negeri mayoritas penduduk muslim. Sangat ironi memang. Hingga seorang muslim pun merasa bingung, padahal khilafah adalah ajaran Islam, seharusnya apapun yang terjadi tetap percaya diri mendakwahkan Islam. 


Dan memang itulah salah satu tujuannya, membuat muslim ragu, bimbang dengan slah satu ajaran Islam meski hanya sekadar menyampaikan. 


Tidak hanya untuk membuat umat bimbang, bahkan menjadikan umat alergi, takut dengan syariat Islam dan lebih jauh lagi, membuat umat menolak dan menentang dakwah khilafah. 



Jadi tak perlu bertanya lagi, teruslah berdakwah menyampaikan khilafah. 


Karena khilafah adalah janji Allah, kewajiban dan warisan Rasulullah saw. Tak perlu ragu mendakwahkannya. Terus dakwah hingga maut menjemput



Kediri, 31 Oktober 2020

Sunday, 27 September 2020

Nekat Pilkada Di Tengah Pandemi, Demi Apa?

 

Komisi Pemilihan Umum sepertinya terus melangkah maju dalam pelaksanaan pilkada serentak 2020 ini, meski ada berbagai usulan agar pilkada ditunda, langkah persiapan penyelenggaraan pilkada tidak surut, bahkan meski dua ormas besar di negeri ini menyarankan agar pilkada ditunda. Memang tekat untuk terus menggelar pilkada sudah sejak jauh hari diwacanakan. Salah satunya oleh Menteri Dalam Negeri, “Pilkada Saat Pandemi untuk Cari Pemimpin Kuat Tangani Covid-19

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menegaskan, pelaksanaan Pilkada di 270 wilayah Indonesia yang dilakukan saat pandemi adalah untuk mencari pemimpin yang kuat menangani Covid-19. Penegasan itu dikatakan Mendagri saat Rakor Kesiapan Pilkada Serentak Tahun 2020 di Kantor Gubernur Kalteng di Kota Palangka Raya, Minggu (19/7). "Pilkada yang saat ini di tengah pandemi adalah yang pertama dalam sejarah dan belum pernah dilakukan oleh pemerintah manapun sebelumnya," ujarnya. (mediaindonesia.com/19/07). Tentu alasan mendagri tersebut saat inisudah tidak relevan lagi. Saat ini kasus positif covid-19 tetus meningkat, kematiannya pun terus bertambah, bukannya terpilih pemimpin kuat, bias-bisa akan membuat kondisi semakin parah, pilkada bisa jadi menjadi kluster baru penularan covid-19. Bukan pilkada yang dibutuhkan, namun keseriusan pemerintah yang saat ini berkuasa yang dibutuhkan rakyat. Pemimpin baru belum tentu mempunyai kebijakan yang jitu, jika pun ada yang mempunyai ide pamungkas maka tetap bisa memberi masukan penanganan covid-19 meski belum berada di lingkaran kekuasaan. 

Belum lagi biaya yang dikeluarkan dalam penyelenggaran pemilu yang membengkak, pasti pembiayaan ini akan menguras kas yang ada. Bagaimana tidak membengkak, penyelenggaraan pemilu menuntut adanya penambahan TPs, secara otomatis akan menambah perangkat yang dibutuhkan. Lagi-lagi di sini rakyat harusnya bertanya, bukankah lebih bermanfaat jika dana digunakan untuk fokus menyelamatkan rakyat dari wabah, untuk menangani dampak langsung wabah. 

Alasan pilkada dibutuhkan untuk memilih pemimpin kuat adalah alasan klise. Sudah menjadi rahasia umum, proses pilkada baik bagi penyelenggara maupun kontestan bukanlah proses tanpa biaya, terutama bagi kontestan. Sejak awal tahapan, untuk menjadi bakal calon saja membutuhkan dana yang tidak sedikit, apalagi saat menuju pilkada, pasti dibutuhkan dana besar. Maka tak heran pernah ada kepala daerah yang mengungkapkan bahwa gaji sebagai kepala daerah besarnya tak seberapa. Maka tak heran pula jika saat menjabat para kepala daerah berlomba untuk minimalmengembalikan modal atau membalas budi, tak berhenti sampai di sini, upaya menjalankan proyek demi pundia rupaiah yang masuk ke kantong pribadi pun kerap menjadi sarana untuk mengembalikan modal, tentu proyek yang menguntungkan kepala daerah, kroninya dan para penyokong modal. Sedangkang bagi penyelenggara, pilkada hanyalah alat untuk mengukuhkan suksesi pergantian kepala daerah ala demokrasi kapitalisme, alih-alih menghasilkan pemimpin kuat, pilkada saat ini hanya sebatas melanggengkan cengkeraman system demokrasi kapitalisme di negeri ini, dan jelas ini berbahaya, peilkada hanya alat legitimasi bagi pihak yang berkuasa, atas nama rakyat membuat kebijakan khianat kepada rakyat, namun menyenangkan para konglomerat yang siap berpesta pora menikmati proyek yang menanti.

Maka, sungguh tak layak pilkada serentak masih diselenggarakan di tengah pandemi apalagi diharapkan memberi solusi. Pilkada akan semakin menambah panjang rantai penularan covid-19, dan pilkada pun tak akan memberi solusi, yang ada hanya mewujudkan pemimpin yang meneruskan system kekuasaan oligarki. Penguasa yang berkolaborasi dengan kroninya demi kepentingan mereka saja, bukan kepentingan seluruh rakyat.

Saturday, 19 September 2020

Merencanakan Kebaikan

 



Tugas belajar online suka - suka hari ini adalah merencanakan 10 kebaikan yang akan dilaksanakan


Dan mengirimkan 5 foto kebaikan yang telah dilakukan


Ada yang bertanya kegiatan pakai seragam apa tidak 


Memang dalam juknis tugas tidak menyebutkan pakai baju apa, alhamdulillah ada  yang bertanya. Begitulah murid MI masih butuh keterangan sejelasnya.


Tentang tugas hari ini, Sabtu di kelas saya tidak ada materi berkaitan pelajaran. Lebih banyak praktik, setor hafalan, evaluasi melalui VC grup bergiliran. Dan khusus hari ini merencanakan kebaikan.


Ya, kebaikan meski sebatas rencana dan niat insyaallah akan mendapat balasan sebagai catatan kebaikan, jika terealisasi maka akan mendapat pahala kebaikan jika dilakukan dengan ikhlas. Tentu saja ikhlas itu ada awalnya, pembiasaan melakukan kebaikan.


Setidaknya dengan merencanakan kebaikan, meski pada akhirnya tidak semua terlaksana sudah berencana dan berniat untuk berbuat baik, juga barangkali itu adalah rencana terakhir yang bisa dibuat, bisa jadi belum sempat melaksanakan maut sudah menjemput.


So, sudah merencanakan kebaikan apa saja hari ini?


Kediri, 19 September 2020

Friday, 18 September 2020

Daring yang Garing

 



Belajar daring kelas 6 hari ini pelajaran PPKn dan Bahasa Arab


Bahasa Arab masih membahas tentang waktu, fiil mudhorik dan fiil amr, alhamdulillah sudah selesai tinggal mengerjakan tadrib


Yang bikin kecut itu pas menyampaikan materi PPKn, bab nya adalah keberagaman kegiatan ekonomi.


Membahas jenis bidang usaha kegiatan ekonomi dan macam kegiatan ekonomi sih no problem


Giliran menerangkan mencintai produk dalam negeri yang bikin keki, sulit kasih contohnya, sulit cari fakta riil dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat apalagi bernegara


Lha wong seisi tas murid saja banyak yang made in luar negeri, lha wong toko serba empat puluh ribu saja banyak di Pare (yang hampir semuanya produk impor), apalagi contoh kebijakan negara, tambah pusing pale berbie dech, lha wong negara hobinya impor dan mengandalkan asing.


Daring yang garing, mencetak manusia hipokrit? Belajar sekadar formalitas ilmu saja, sebatas teori indah, namun realitasnya penuh masalah


Tapi saya sih woles, ngajar tetap pegang prinsip, tetap ngajak taat syariah, insyaallah hidup jadi berkah


Kediri, 18 September 2020

Saturday, 29 August 2020

Dua ratus enam puluh delapan juta jiwa diurus semua





BLT, tunjangan buruh bergaji di bawah 5 juta, kuota untuk siswa. Itu menjangkau berapa penduduk Indonesia?


Berapa persen dari seluruh penduduk Indonesia?


Entahlah, nyatanya saya dan beberapa orang yang saya kenal tak dapat semuanya.


Sudahlah jangan mengeluh, jangan terus menuntut kepada penguasa, yang kreatif jadi rakyat. Pemerintah banyak urusannya jangan menuntut semua diurusi negara. Mungkin ada yang bilang seperti itu.


Ah...tanpa diingatkan kami rakyat sudah berjuang demi hidup, sudah berusaha sekuat tenaga menjalankan kewajiban sebagai warga negara, sudah bertahan demi kehidupan yang semakin tertekan.


Tak usah menyuruh kami kreatif, tak usah menuduh kami hanya bisa berkeluh kesah, sudah banyak yang kami lakukan sebagai warga negara.


Namun, terlepas dari itu semua, ada kewajiban untuk mengingatkan bahwa penguasa itu memegang amanah untuk mengurusi rakyatnya, bahwa pemimpin itu menjadi pelindung rakyatnya. Negara tak boleh menuntut rakyat menyelesaikan kewajibannya namun abai memenuhi hak rakyat.


O...ya..lupa. Kita kan memang hidup di negeri kapitalis sekular. Negeri yang tak peduli dengan aturan Allah Sang Maha Pencipta. Menjadikan rakyat sebagai sapi perah, penguasa memposisikan diri sebagai regulator saja, hanya melihat dan bahkan memberi fasilitas kepada para konglomerat untuk mengerat kekayaan rakyat.


Negeri yang penguasanya tak punya kewenangan sejati yang ada hanya menjadi boneka dari pemilik modal.


Penguasa yang berkolaborasi dengan pengusaha, memposisikan hubungan rakyat dan negara sebatas relasi untung rugi, bukan memberi pelayanan semaksimal dan setulus hati.


Rasulullah Saw bersabda, «Ø¥ِÙ†َّÙ…َا الْØ¥ِÙ…َامُ جُÙ†َّØ©ٌ ÙŠُÙ‚َاتَÙ„ُ Ù…ِÙ†ْ ÙˆَرَائِÙ‡ِ ÙˆَÙŠُتَّÙ‚َÙ‰ بِÙ‡ِ» “Imam/Khalifah itu laksana perisai. Dia akan dijadikan perisai, di mana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng.” (HR. Muslim)


Itulah peran negara yang seharusnya. Menjadi perissi, pelindung dan pengatur urusan umat.

Sebuah tanggung jawab berat untuk mengurus seluruh warganya, bukan segelintir saja.


Indah bukan jika ada khalifah yang memimpin khilafah

Friday, 21 August 2020

Ironi Negeri Demokrasi

 


Hari ini menambah daftar panjang bukti hipokritnya demokrasi. Kebebasan yang terus didengungkan lagi-lagi diingkari sendiri. Terbukti dengan langkah nekad rezim yang memblokir tayangan film Jejak Khilafah di Nusantara (JKDN) yang tayang perdana hari ini. Padahal semua orang tahu, JKDN adalah film dokumenter sejarah saja, bukan film propaganda. Jelas seluruh tayangan berdasarkan bukti nyata. Namun tetap saja dipandang melanggar aturan, entah aturan yang mana.


Hipokritnya terlihat nyata. Tayangan yang jelas merusak bangsa dibiarkan namun tayangan edukasi diblokir sesuka hati. Sudahlah munafik alias hipokrit tambah tidak adil, lengkap sudah dzalimnya rezim.


Pemerintah harusnya fokus memblokir tayangan merusak yang tak bermanfaat bukan malah kurang kerjaan memblokir film sejarah. Atau jangan-jangan ini sebuah kesengajaan? Sengaja membiarkan rakyat buta sejarah? Dan sepertinya aroma kesengajaan ini tercium sangat kuat. Mengingat rekam jejak pemerintah yang berusaha menyembunyikan bahkan menstigma negatif ajaran khilafah.



Iya kesengajaan kan?

Sebelumnya pemerintah sengaja mencabut BHP HTI yang lantang mendakwahkan khilafah, kemudian merevisi ratusan buku dengan alasan memicu radikalisme, kemudian merevisi kurikulum PAI, menghilangkan kata khilafah dan jihad di semua buku sumber ajar.  Menghilangkan materi khilafah di pelajaran Fikih, membahasnya sebatas pelajaran sejarah.


Namun ternyata belum cukup juga dzalimnya penguasa. Hari ini dengan sengaja memblokir film dokumenter sejarah. Benar kesengajaan kan?


Mengapa?

Jelas karena mereka sadar eksistensi mereka terancam ketika khilafah tegak, kedzaliman mereka tak akan bertahan. Karena rezim paham Khilafah akan mempunyai kebijakan yang berseberangan dengan penguasa saat ini.


Saat ini, riba dipelihara nanti saat khilafah tegak dilarang, kemaksiatan dibiarkan nanti dilarang , penguasa korup sekarang bebas nanti diberantas, pajak menjadi penopang nanti hilang, SDA untuk konglomerat nanti semua dikembalikan untuk rakyat.


Intinya rezim sengaja mencegah bangkitnya kembali sistem yang merugikan kepentingan jahatnya, mereka berusaha mempertahankan kedzaliman dengan memfitnah khilafah.


Tapi lihat saja, usaha mencegah tegaknya khilafah ala minhajinnubuwwah pasti gagal total, jadi sia-sia saja semua yang telah dan yang akan dilakukan dalam rangka membendung perjuangan khilafah.


Khilafah pasti tegak dan pejuangnya akan terus bergerak. Dan ironi negeri demokrasi kan semakin memuncak, hingga hancur lembur karena kesalahan merek sendiri. 



Kediri, 21 Agustus 2020

Thursday, 20 August 2020

Khilafah Tidak Akan Pernah Hilang Dari Sejarah




Upaya merevisi 155 buku yang menyampaikan materi khilafah dan jihad, juga upaya merevisi kurikulum Pendidikan Agama Islam hingga berbuntut tuntutan memusnahkan buku lama, tidak akan bisa menghilangkan fakta bahwa khilafah pernah ada dalam sejarah. Dan tidak akan membuat hukum wajibnya menegakkan khilafah menghilang, dan bahkan tidak akan berhasil menghalangi tegaknya khilafah.


Dan hari ini sedang viral di jagad nusantara, baik di dunia maya maupun dunia nyata, penayangan perdana film Jejak Khilafah di Nusantara. Sebuah film yang telah dikupas sejak awal Agustus lalu akhirnya akan tayang secara penuh. Film luar biasa hasil dari karya ilmiah seorang mahasiswa, tentu bukan film dengan skenario yang murahan, namun skenario yang telah lolos dalam ujian skripsi. Tak hanya itu, film ini juga menayangkan bukti nyata dari berbagai penjuru nusantara bahwa khilafah pernah ada dalam wilayah nusantara. Maka upaya untuk mengubur dan mengaburkan sejarah khilafah di nusantara pasti akan gagal total.


Film Jejak Khilafah di Nusantara (JKDN) sesungguhnya hanya secuil bukti bahwa Nusantara tak bisa dipisahkan dari khilafah. Tak perlu jauh-jauh, hingga saat ini dalam pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di madrasah pun dengan gamblang terpampang peran khilafah dalam menyebarkan Islam di Nusantara. Buka saja  buku SKI kelas 6 MI. Di bab pertama sudah menyampaikan materi tentang Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim, beliau merupakan salah satu wali dari 9 wali yang terkenal dengan sebutan Wali Songo. Wali yang mendakwahkan Islam di Pulau Jawa bahkan hingga menyebar ke penjuru Nusantara.


Maulana Malik Ibrahim bukanlah orang asli Indonesia, beliau keturunan Arab sekaligus keturunan Baginda Nabi Muhammad saw. Beliau juga menikah dengan muslimah Champa yang saat ini menjadi wilayah Kamboja dn Vietnam. Maulana Malik Ibrahim tentu bukan seseorang yang iseng main ke Nusantara, atau sekadar mencari peruntungan dalam dunia perniagaan dan menjadikan dakwah sebagai sambilan.


Maulana Malik Ibrahim adalah utusan khilafah, membawa misi khusus untuk semakin mengenalkan Islam kepada penduduk Nusantara pada tahun 1392, yang jauh hari sudah terjalin hubungan antara khilafah dengan Nusantara.


Maulana Malik Ibrahim, juga bukan orang yang berdakwah tanpa visi dn misi jangka panjang. Beliau mengkader putranya, salah satunya adalah Sunan Ampel yang kelak menjadi punggawa berdirinya Kesultanan Demak, institusi resmi yang mengambil alih kekuasaan Majapahit, untuk selanjutnya menjadikan Islam tegak dalam bingkai pemerintahan, ini juga membuktikan bahwa Islam bukan sekadar agama ruhiyah, namun juga agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk dalam hal bernegara.


Jika ditulis, materi SKI kelas 6 MI tentu akan sangat panjang, akan ada banyak lagi bukti bahwa khilafah ada di Nusantara.


Agar tidak menambah panjang tulisan, maka sangat layak kita menonton penuh film Jejak Khilafah di Nusantara yang akan tayang hari ini pukul 09.00 WIB.


Tinggal duduk manis di depan HP atau laptop sambil ditemani secangkir minuman manis, keluarga, saudara dan juga ditemani secara virtual oleh seluruh kaum muslimin di penjuru tanah air.


Kediri, 20 Agustus 2020


20 menit menuju tayang perdana JKDN

Thursday, 30 July 2020

Ikuti saja petunjukNya


Alhamdulillah
Laporan pengamatan pertumbuhan kacang hijau selama 6 hari.
Dengan bekal pesan suara dan petunjuk tahapan apa yang harus dilakukan

Kuncinya : ikuti saja petunjuknya, meski tak bertemu insyaallah pasti bisa melaksanakan.

Begitu juga dalam hidup, sederhana saja. Ikuti petunjuk hidup dari pembuat hidup kita, Allah SWT dan RasulNya . Al Qur'an dan Hadits. InsyaAllah pasti sukses, dunia dan akhirat.


Tidak perlu neko-neko bikin aturan sendiri atau malah sombong tidak percaya dengan aturan Tuhan seperti yang dilakukan orang kapitalis juga sosialis komunis.

Dan #Khilafah ada untuk bisa menerapkan petunjuk hidup kita, menerapkan aturan yng terdapat di Al Qur'an dan Hadits juga semu yang digali dari keduanya.

Belajar daring suka-suka tanpa kepedulian maksimal kemenag dan kemendikbud itu gimana rasanya, suka-suka gue mau ngajar apa 😔

Pelajaran BI laporan pengamatan, IPA perkembangbiakan generatif, AA asmaul husna Al muhyi

Kediri, 30 Juli 2020

Thursday, 23 July 2020

Moderasi Kurikulum PAI Menyesatkan Generasi


Mulai tahun pelajaran 2020/2021, Kementerian Agama RI mulai memberlakukan Keputusan Menteri Agama (KMA) 183 tahun 2019. KMA ini menggantikan KMA 165 tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab pada Madrasah. Perubahan yang signifikan tentang kurikulum PAI dan Bahasa Arab ini menekankan pada pembentukan sikap moderasi dalam beragama, merevisi materi ajar tentang jihad dan khilafah. Dan alas an kementerian Agama dalam melakukan perubahan ini selalu saja klise, agar generasi yang tercetak dari madrasah menjadi generasi yang moderat dan siap membangun masyarakat modern yang sesuai perkembangan jaman. Benarkah Kementerian Agama mempunyai niat yang tulus demi generasi? Jawabannya jelas, tidak.
Moderasi Kurikulum PAI hanya akan menyesatkan generasi, materi jihad yang direduksi hanya sebatas keteladanan personal Rasulullah saw hanya akan membuat sosok Rasulullah sebagai teladan terbaik bagi umat manusia hanya pantas diambil dalah ranah personal saja, sosok  Rasulullah sebagai kepala Negara, sebagai panglima perang, sebagai pengobar semangat jihad hanya dijadikan romantisme sejarah yang tak layak dijadikan panutan karena membawa nilai yang bertentangan dengan pemikiran Barat yang dengan sengaja membuat umat Islam semakin jauh dari potret Islam kaffah. Jihad bermakna perang disingkirkan jauh-jauh karena dianggap memunculkan benih terorisme dan sikap intoleran. Kemudian tentang materi khilafah yang disembunyikan dari materi Fikih dan dialihkan menjadi bagian dari materi Sejarah Kebudayaan Islam juga bertujuan untuk membuat generasi semakin buta akan salah satu ajaran Islam, yaitu kewajiban menegakkan khilafah. Lag-lagi khilafah hanya diceritakan sebatas bagian dari sejarah, bukan sebagai syariat Islam yang wajib diperjuangkan. Tujuannya jelas, membutakan generasi dari konsep system pemerintahan warisan Rasulullah saw. Dan akhirnya generasi semakin asing dengan khilafah dan tujuan jangka panjangnya adalah generasi sama sekali tak merindukan kembalinya sistem terbaik ini, bahkan menjadi pembenci dan penghalang tegaknya khilafah.
Sedangkan sikap moderat yang diinginkan jelas bertentangan dengan pandangan Islam dan malah membuat kaum sekular bertepuk tangan. Sikap moderat yang sesuai arahan Barat adalah sikap yang menjadikan Islam sesuai perkembangan jaman, yang diinginkan diambil yang tidak sesuai diabaikan jika perlu dibuang jauh-jauh. Sikap moderat ini bertujuan menjauhkan umat Islam dari Islam kaffah. Jelas tujuan jangka panjangnya adalah menghalangi kebangkitan peradaban Islam yang akan tegak dalam naungan khilafah.
Dengan demikian, moderasi agama melaui kurikulum PAI dan Bahasa Arab tak boleh dibiarkan. Selain daram rangka mengukuhkan rezim sekular juga berbahaya untuk generasi. Kementerian Agama seharusnya meninjau ulang, jika perlu membatalkannya, bahkan jika diperlukan merevisi kurikulum agar bias mencetak generasi yang berkepribadian Islam, menguasai IPTEK dan generasi yang siap menyambut kegemilangan peradaban Islam dalam naungan khilafah. Jika kurikulum ini tetap dijalankan, maka menjadi PR besar bagi para pengemban dakwah ideologis, untuk terus menggencarkan dakwah menyampaikan Islam kaffah, tidak  menyembunyukan ajaran Islam sekecil apapun. Wallahu a’lam.


Nur Aini, S.Si
Guru Madrasah Ibtidaiyah
Tinggal di Pare Kediri Jawa Timur