Thursday, 30 January 2020

Kamuflase Komunitas Homoseksual, Bersembunyi Di Balik Seni

travel.kompas.com


3.       Kamuflase Komunitas Homoseksual, Bersembunyi Di Balik Seni
Para penyuka sesama jenis gay tidak semuanya identik dengan kaum yang lemah gemulai, tak jarang yang penampakan fisiknya macho, namun tak bisa dipungkiri keberadaan mereka tak terlepas dari “pasangan” yang berstatus sebagai lawan jenis, pasangan mereka inilah yang lahir dari salahnya jalan yang mereka pilih. Yang berawal sebagai korban namun tak punya kesadaran untuk segera bertaubat dan segera berlepas dari komunitas salah akan terus berputar kembali mencari mangsa. Yang salah jalan memilih dunia feminism terus lestari dengan kegiatan bermotif seni. Karnawal peragaan busana, fashion show, parade busana yang dinisbatkan sebagai kreatifitas tak jarang menjadi topeng eksistensi kaum homoseksual. Maka tak heran jika mereka seringkali menginisiasi kegiatan semacam ini. Lihat saja, mereka kaum lelaki yang begitu bangganya tampil dengan busana wanita, tampil lemah gemulai.

Ada pula yang berlindung di balik topeng seni tari, baik tarian adat maupun modern. Memang tak semuanya otomatis menjadi penyuka sesama jenis, akan tetapi ini adalah jalan untuk sedikit demi sedikit mengubah perilaku mereka yang maskulin menjadi feminine. Bahkan eskistensi mereka pun juga merambah dunia perfilman. Memang sulit diendus, namun keberadaan mereka terlihat dari jalan cerita sebuah film, baik mereka sendiri yang membuat atau bisa dibuat oleh para pendukung kebebasan, termasuk bebas menyukai sesama jenis. Film adalah alat propaganda ampuh untuk membentuk opini di tengah masyarakat, dengan film mereka berharap masyarakat semakin mengenal mereka dan pada akhirnya menerima keberadaan mereka.

Melalui agenda seni, mereka berusaha menutupi penyimpangan yang dilakukan, mencari dalih bahwa keberadaan mereka tidak mengganggu bahkan menjadi kaum yang kreatif dan berjiwa seni, masih bisa bertahan hidup, masih bisa berprestasi dalam sudut pandang mereka. Benarkah ini adalah prestasi yang layak dibanggakan? Tidak.


Memang bukan seninya yang salah, selama tidak melanggar hukum syara’ tidak masalah terlibat dalam aktivitas seni. Namun tidak dengan kaum gay yang tak sedikit berkecimpung di dunia seni, hampir semua aktivitas seni yang mereka lakoni melanggar hukum syara’,  menyerupai lawan jenis hukumnya haram, menyukai sesama jenis apapun topengnya juga haram. Harus ada komitmen untuk kembali kepada kodrat Allah, Allah menciptakan manusia dengan fitrah menyukai lawan jenis. Jenis kelamin yang diakui dalam hukum syara’ hanya 2, bukan 3. Jika pun ada yang berkelamin ganda maka medis akan menentukan alat kelamin yang dominan, dan hakim pun akan menetapkan jenis kelamin yang akan digunakan sebagai identitas selanjutnya, jadi bukan sekehendak diri mengubah tubuh. Tidak pula sekehendak hati menuruti hawa nafsu. Melampiaskan nafsu dengan cara maksiat. 

Alternatif tulisan lanjutan, silakan jika ada yang melanjutkan
4.       Waspadai Komunitas Kaum Menyimpang (Sejatinya jiwa mereka pengecut, beraninya rame-rame dan mewarisi sifat iblis, tak mau masuk neraka sendiri)
5.       Homoseksual Itu Pilihan Bukan Paksaan Apalagi Anugrah Terindah Dari Tuhan (Omong kosong jika ini adalah takdir Tuhan, mereka hanya menjalani garis kehidupan, dimana iman kepada qadla dan qadar)
6.       Sadarlah, Mereka Itu Jahat Sekali, Tak Ada Kebaikan Tulus (kebaikan mereka selalu berbalut akal bulus, terus mencari korban dan kemarahan mereka begitu kejamnya, melebihi binatang, studi kasus mutilasi dan pembunuhan kaum homo)
7.       Homoseksual Semakin Eksis dalam sistem kapitalis (sudah jadi bawaan sistem ini, merusak umat manusia dari seluruh sisi kehidupan)

8.       Hanya Hukuman Mati Yang Bisa Menghentikan (hanya mungkin terjadi dalam sistem khilafah)

Friday, 24 January 2020

Jangan Tertipu Kebaikan Kaum Homoseksual


2. Jangan Tertipu Kebaikan Kaum Homoseksual

Tidak sedikit yang menganggap bahaya kaum homoseksual, alasannya klise, selama tidak mengganggu kepentingan umum dan orang lain tidak masalah, selama mereka tetap bersikap baik di tengan masyarakat tidak ada kepentingan melarang mereka. Dan memang faktanya tak jarang mereka yang berani menunjukkan penyimpangan seksual mereka juga dikenal sebagai orang yang dermawan, ramah, ringan membantu dan mudah bergaul di lingkungan. Tak jarang pula dikenal sebagai orang yang supel, pandai menyampaikan argument dan berkelit agar perilaku buruknya tersamarkan. Atau bahkan untuk membuktikan bahwa perilaku menyimpangnya tidak mengganggu lingkungan. Bahkan ada pula yang dengan bangganya merasa sebagai orang yang baik hati menolong banyak orang.

Begitu pula dengan yang terjadi pada kasus terakhir di Tulungagung. Sang Ketua Ikatan Gay merasa apa yang dilakukan bukanlah pencabulan atau tindakan seks yang haram, dia berdalih malah menolong para anak yang membutuhkan uang, maka tak heran setelah memuaskan nafsunya anak-anak yang dicabulinya diberi imbalan sejumlah uang, tidak sedikit bagi anak yang tak berpenghasilan, imbalannya mulai Rp 150.000 hingga Rp 250. 000. Tidak hanya merasa membantu berupa materi, terkadang para predator ini malah berdalih mereka menyediakan seks aman karena hubungan seks dilakukan dengan pertimbangan keamanan dan dengan orang tertentu saja. Sungguh alasan yang dibuat-buat, sejatinya mereka adalah para pembeli layanan seksual.

Kejahatan mereka terus ditutupi dengan kebaikan yang mereka tebar, mereka sadar sebenarnya apa yang dilakukan adalah salah dan menyalahi kodrat, namun mereka berupaya berlindung di balik pemikiran kapitalistik sekular, menjadikan uang dan kepuasan sebagai standar, asal senang dianggap sah dilakukan.

Kurang ajarnya lagi, mereka bertopeng dengan perilaku sok humanis dengan tanpa sungkan mengadakan acara kemanusiaan, social dan pembekalan pemberdayaan ekonomi. Tak tanggung-tanggung lembaga resmi dan formal pemerintah pun dilibatkan. Penyuluhan HIV/AIDS menggandeng puskemas atau dinas kesehatan, pelatihan ekonomi kreatif, bakti sosial dan lain sebagainya. Mereka menjalankan berbagai cara agar dalam kehidupan dianggap normal, bias jadi dibutuhkan suatu saat ketika pada akhirnya mereka terjerat kasus, mereka akan meminta empati bahwa mereka bukan makhluk yang bermasalah. Benarkah kaum Sodom ini telah melakukan kebaikan? Jawabannya jelas tidak. Standar baik buruk, terpuji tercela itu bukan dari manusia, namun dari Allah SWT dan RasulNya. Penyimpangan seks homoseksual adalah kemaksiatan, butuk, melanggar syariat. Maka menutupi kemaksiatan dengan kebaikan agar tersamarkan adalah kejahatan pula, mereka tidak meniatkan perbuatan sebagai amal saleh namun sekadar bersembunyi saja. Sama sekali tak ada kebaikan dari mereka. Mereka tak berhak hidup meski untuk melakukan kebaikan, mereka hanya berhak dihukum mati, untuk menebus dosanya, untuk mencegah yang lain berbuat sama.

Perilaku homoseksual adalah perbuatan haram, pelaku dan korbannya yang dengan sadar berbuat layak dihukum mati. Jika dibiarkan tidak hanya semakin memakan korban namun juga akan merusak umat manusia. Solusinya, kembalikan pada aturan Islam. Atur semua lini kehidupan dengan syariah, sempurnakan dengan tegaknya khilafah. Edukasi umat dengan akidah dan tsaqafah Islam. Berikan pemahaman yang benar terkait potensi kehidupan yang salah satunya adalah naluri. Allah menciptakan untuk manusia maka Allah pula yang memberikan aturan. Dan Allah memberi pilihan bagaimana mereka memenuhinya, serta memberitakan konsekuensi perbuatan di dunia hingga ke akhirat. Mengatur perekonomian sesuai syariat, hingga tak ada lagi dalih menjajakan diri, mencari uang dan membeli layanan yang diharamkan. Meminimalisir factor pemicu, mengatur tayangan atau informasi yang bisa dikonsumsi public. Semua dilakukan demi menjaga martabat manusia, mengembalikan tujuan penciptaan manusia, beribadah kepad Allah SWT.

Bersambung

Alternatif tulisan lanjutan, silakan jika ada yang melanjutkan

3. Kamuflase Komunitas Homoseksual, Bersembunyi Di Balik Seni (Mereka sejatinya kaum hipokrit yang hanya bisa eksis di balik topeng acara budaya dan seni, studi kasus eksisnya komunitas homoseksual di Jember paska launcing perdana JFC)

4. Waspadai Komunitas Kaum Menyimpang (Sejatinya jiwa mereka pengecut, beraninya rame-rame dan mewarisi sifat iblis, tak mau masuk neraka sendiri)

5. Homoseksual Itu Pilihan Bukan Paksaan Apalagi Anugrah Terindah Dari Tuhan (Omong kosong jika ini adalah takdir Tuhan, mereka hanya menjalani garis kehidupan, dimana iman kepada qadla dan qadar)

6. Sadarlah, Mereka Itu Jahat Sekali, Tak Ada Kebaikan Tulus (kebaikan mereka selalu berbalut akal bulus, terus mencari korban dan kemarahan mereka begitu kejamnya, melebihi binatang, studi kasus mutilasi dan pembunuhan kaum homo)

7. Homoseksual Semakin Eksis dalam sistem kapitalis (sudah jadi bawaan sistem ini, merusak umat manusia dari seluruh sisi kehidupan)

8. Hanya Hukuman Mati Yang Bisa Menghentikan (hanya mungkin terjadi dalam sistem khilafah)

Thursday, 23 January 2020

Tak Ada Ruang Bagi Kaum Menyimpang



1. Tak Ada Ruang Bagi Kaum Menyimpang

Kasus kejahatan yang melibatkan kaum homoseksual belum juga berhenti, Juli 2019 Tulungagung digemparkan dengan terungkapnya fakta  ratusan pelajar  terindikasi menjadi penyuka sesama jenis, dan yang terakhir penangkapan ketua komunitas gay Tulungagung. Di berbagai tempat, banyak dirilis informasi penyuka sesama jenis mendominasi penderita penyakit AIDS. Dan yang tak kalah menghebohkan adalah vonis seumur hidup pada mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Inggris. Jika dirunut dan dicermati, bisa dipastikan negeri ini tidak pernah sepi dari pemberitaan kasus homoseksual, ini yang terendus media, yang tidak tentu juga ada.

Untuk kasus di Tulungagung, bukan kasus baru yang tiba-tiba muncul. Tulungagung dengan kondisi geografis yang terdiri dari pegunungan dan mempunyai pantai, pernah digunakan sebagai tempat berkumpulnya komunitas internasional world rainbow gathering pada tahun 2017. Jangan dikira ini adalah acara gathering biasa yang hanya diam saja di tenda. Acara tersebut jelas merupakan wadah berkumpulnya para turis dari berbagai negara yang membawa serta gaya hidup liberal mereka. Acara satu bulan tentu berpengaruh pada masyarakat sekitar, setidaknya budaya kebebasan semakin mudah diindera.

Jauh hari, sejak lama Tulungagung adalah salah satu daerah pengirim TKI terbanyak di Jawa Timur. Kondisi perekonomian yang tidak merata membuat warganya lebih memilih bekerja di luar negeri, imbasnya kecukupan materi memang terpenuhi namun keadaan sosial kemasyarakat menjadi karut-marut. Pergaulan bebas mendominasi, suami selingkuh, istri dihamili orang lain, anak hamil di luar nikah menjadi fakta menjamur di kalangan keluarga TKI. Lama-kelamaan kebiasaan buruk merambah ke lingkungan, maka meratalah kejahatan di masyarakat. Permasalahan ini tidak didukung dengan pembekalan akidah masyarakat. Karakter warga dan pemerintah daerah yang mayoritas muslim namun abangan atau bahkan sekular liberal menjadikan kondisi masyarakat Tulungagung semakin parah dari aspek sosial kemasyarakatan.

Ditambah lagi sikap represif sebagian besar pejabat dan petinggi ormas kepada kajian keislaman menjadikan Tulugangung sangat jauh dari suasana keimanan. Adat berbau klenik dan syirik dibiarkan bahkan dilestarikan namun pengajian yang bertujuan mencerdaskan umat dilarang dan dipersekusi dengan tuduhan klasik, radikal. Acara berbalut seni budaya padahal jelas dalam rangka membumikan nilai kebebasan malah diberi ruang.

Kejahatan kaum homoseksual adalah kejahatan hina sekaligus merusak umat manusia, tidak ada sedikitpun kebaikan yang bisa dipersembahkan oleh kaum terlaknat ini. Apa yang dilakukan kaum homoseksual adalah pelanggaran terhadap fitrah manusia, perilaku menyimpang yang melanggar ketentuan Allah. Eksisnya mereka karena dukungan sistem yang diterapkan di negeri ini, sistem kapitalisme sekular yang menjadikan materi dan kepuasan sebagai standar perbuatan.  HAM, kebebasan berekspresi dan kebebasan berbuat menjadi pelindung yang menyuburkan perilaku menyimpang kaum homoseksual. Ironinya Indonesia sebagai negeri mayoritas muslim melahapnya begitu saja, dan memang inilah jahatnya kapitalisme, tak hanya menancapkan hegemoninya namun juga merusak umat Islam, tujuan jangka panjangnya adalah menghambat kebangkitan Islam.

Oleh karena itu harus ada upaya serius untuk menghentikan penyebaran virus hina kaum homoseksual. Penguatan akidah, menjadikan Islam sebagai standar pemikiran dan perbuatan, ketegasan masyarakat menolak dan sanksi berat bagi pelaku homoseksual. Itu semua bisa dilakukan selama individu, masyarakat dan pemerintah mempunyai satu pandangan yang sama tentang haram dan bahayanya perilaku homoseksual. Jangan memberi ruang bagi perilaku menyimpang, cegah dengan berbagai cara agar mereka tak berkembang.  Memang tidak akan semudah membalikkan tangan, karena ada banyak motif di balik maraknya perilaku dan korban homoseksual. Motif ekonomi, motif sosial kemasyarakatan, hingga motif ideologis. Butuh diselesaikan semua secara tuntas, jika benar-benar menginginkan ada pencegahan maksimal, tak bisa dipungkiri, harus ada perubahan sistemik, karena negeri ini sudah rusak dari pondasinya. Rusaknya pondasi tentu akan berimbas pada seluruh aspek yang kehidupan, kasus kejahatan homoseksual hanya salah satu contoh saja. Dengan demikian juga diperlukan solusi jangka panjang, yaitu penerapan sistem Islam, melanjutkan kehidupan Islam dengan tegaknya khilafah.

Bersambung

Alternatif tulisan lanjutan, silakan jika ada yang melanjutkan
2. Jangan Tertipu Kebaikan Kaum Homoseksual (Katanya mereka dalam kesehariannya sangat baik sekali, murah hati dan dermawan)

3. Kamuflase Komunitas Homoseksual, Bersembunyi Di Balik Seni (Mereka sejatinya kaum hipokrit yang hanya bisa eksis di balik topeng acara budaya dan seni, studi kasus eksisnya komunitas homoseksual di Jember paska launcing perdana JFC)

4. Waspadai Komunitas Kaum Menyimpang (Sejatinya jiwa mereka pengecut, beraninya rame-rame dan mewarisi sifat iblis, tak mau masuk neraka sendiri)

5. Homoseksual Itu Pilihan Bukan Paksaan Apalagi Anugrah Terindah Dari Tuhan (Omong kosong jika ini adalah takdir Tuhan, mereka hanya menjalani garis kehidupan, dimana iman kepada qadla dan qadar)

6. Sadarlah, Mereka Itu Jahat Sekali, Tak Ada Kebaikan Tulus (kebaikan mereka selalu berbalut akal bulus, terus mencari korban dan kemarahan mereka begitu kejamnya, melebihi binatang, studi kasus mutilasi dan pembunuhan kaum homo)

7. Homoseksual Semakin Eksis dalam sistem kapitalis (sudah jadi bawaan sistem ini, merusak umat manusia dari seluruh sisi kehidupan)

8. Hanya Hukuman Mati Yang Bisa Menghentikan (hanya mungkin terjadi dalam sistem khilafah)

Wednesday, 22 January 2020

Mencegah Perundungan Di Sekolah Dengan Penguatan Akidah

sumber gambar : tribunnews.com

Dunia pendidikan kembali berduka,seorang siswa SMP di Jakarta melompat dari lantai empat di sekolahnya. Setelah dirawat nyawa siswa tersebut akhirnya tidak terselamatkan. Dugaan awal, siswa melompat dalam rangka bunuh diri karena tidak tahan dengan perundungan yang dialami. Ironi, sekolah yang seharusnya menjadikan siswa mendapat bekal kehidupan malah menjadi tempat yang mencelakakan. Ini bukan hal yang mengherankan. Dengan kondisi negeri yang semakin liberal, dimana kebebasan begitu mudahnya dijumpai, maka sekolah pun akhirnya menjadi tempat pelampiasan perilaku kebebasan, bahkan tidak memungkinkan menjadi tempat bertemunya berbagai karakter anak yang terasah dengan pola pengasuhan yang serba bebas. Kehidupan yang liberal yang dijalani anak di lingkungannya akan mudah diekspresikan di sekolah, apalagi saat ini teman di sekolah adalah orang yang paling berpengaruh bagi anak. Baik buruknya anak bisa dikatakan sangat tergantung pada komunitas temannya, salah satunya teman sekolah. Oleh karena itu perlu adanya pencegahan sejak dini perilaku perundungan di sekolah dan penguatan mental anak agar tidak mudah menyerah saat mengalami masalah.
Mengatasi kasus perundungan di sekolah, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengusulkan pembentukan sistem pengaduan  korban dan saksi perundungan. Memang usul yang patut dipertimbangkan, namun ini sebatas upaya kuratif. Yang tak kalah pentingnya adalah langkah preventif. Jika tidak ada perundungan maka sistem perlindungan korban dan saksi perundungan tidak diperlukan. Yaitu mencegah anak dari perilaku yang tidak layak semisal melakukan perundungan. Upaya preventif ini memang membutuhkan peran serta banyak pihak, karena tidak dipungkiri perilaku perundungan lahir dari lingkungan anak dibesarkan. Untuk itu pihak yang harus bekerjasama untuk mencegah perundungan adalah orang tua dan keluarga, masyarakat serta sekolah, dan yang tak kalah pentingnya adalah pemerintah. Pihak-pihak tersebut memang mempunyai peran masing-masing, akan tetapi dibutuhkan kerjasama dan mempunyai satu visi, yakni menguatkan akidah anak, agar anak siap menjalani kehidupan, mengetahui tujuan hidup, dan tidak putus asa ketika masalah menyapa.
Pertama, orang tua dan keluarga, adalah tempat pertama bagi anak mengenal kehidupan. Maka bekal pertama yang perlu diberikan adalah penguatan akidah dasar. Diantaranya adalah pengenalan kepada Allah SWT, cara mendekat kepada Allah, agar anak mengetahui mengapa dia diciptakan dan sadar harus menjalani kehidupan dengan aturan yang telah ditetapkan Sang Pencipta, ini berfungsi untuk mencegah agar anak tidak dengan mudah berbuat sesuka hati apalagi ringan melakukan pelanggaran dan membuat masalah bagi dirinya serta orang lain. Dengan teladan orang tua dan keluarga yang selalu mempertimbangkan akidah, yaitu pertimbangan akhirat, kemungkinan anak tak terkendali akan bisa diminimalisir. Semua anggota keluarga akan mempertimbangkan dosa dan pahala bukan sekadar menuruti hawa nafsu belaka. Kedua, sekolah dan masyarakat, di era kapitalisme seperti saat ini, orang tua tak jarang lebih memberikan curahan perhatian berupa pemenuhan materi dan tak punya waktu yang proporsional menemani anak karena lebih banyak kesibukan mencari penghidupan di luar rumah, di sinilah waktu anak lebih banyak dihabiskan di lingkungan, baik di sekolah maupun di masyarakat. Maka sekolah dan lingkungan juga perlu dipastikan menjadi tempat penguatan akidah bagi anak. Penguatan akidah di sekolah menjadi bekal anak agar menjalani hidup dengan iman dan takwa, menuntut ilmu dengan dorongan yang benar, yaitu untuk meninggikan derajat sebagai manusia, bukan demi kepentingan dunia semata. Maka selain fungsi sekolah sebagai tempat transfer ilmu, sekolah juga menjadi tempat pembentukan kepribadian siswa, dan modal utama pembentukan kepribadian adalah kekuatan akidah, keyakinan bahwa manusia mempunyai kewajiban untuk terikat syariat dan kesadaran pertanggungjawaban di akhirat. Untuk itu, pemikiran sekular yang menjauhkan siswa dari suasanan keimanan harus dibuang jauh-jauh, akidah harus menjadi standar perbuatan.
Yang terakhir adalah pentingnya peran pemerintah, pemerintah adalah pihak yang bertanggungjawab atas semua yang terjadi pada warga negaranya. Kebijakannya akan menentukan masa depan bangsa. Kebebasan arus informasi harus dihentikan, pemerintah harus tegas dengan berbagai kontain media online yang begitu mudahnya merusak pemikiran anak. Pemerintah juga harus memastikan bahwa sekolah adalah tempat yang aman dan nyaman bagi siswa, memberikan fasilitas terbaik agar siswa mendapat bekal utuh, ilmu, iman dan takwa. Oleh karena itu, semua kegiatan dan hal yang membuat siswa jauh dari ilmu, iman dan takwa tidak perlu ada di sekolah. Sebaliknya, pemerintah memberikan fasilitas penuh agar siswa menikmati proses transfer ilmu serta mendapat bekal iman dan takwa. Maka perlu menjadi pertimbangan bagi Kemenag dan Kemendikbud, sebagai pihak yang bersentuhan langsung dengan dunia pendidikan untuk fokus pada pemastian bahwa siswa di sekolah benar-benar mendapat ilmu dan menjadi manusia yang berakhlak mulia, bukan malah menjauhkan sekolah dari suasana keimanan atas nama pencegahan radikalisme dan tindakan terorisme dengan membatasi kegiatan kegamaan yang bertujuan memperkuat akidah siswa. Mencegah perundungan di sekolah karena pengaruh liberalisme yang menguat dalam sistem kapitalisme lebih penting daripada sebatas jualan radikalisme yang begitu absurd. Masa depan anak bangsa harus menjadi pertimbangan utama, bukan malah sibuk dengan agenda pesanan asing semisal radikalisme. Dengan demikian, perlu gerak cepat dari keluarga, sekolah dan masyarakat serta negara, menguatkan akidah seluruh warga, memperbaiki sistem yang karut marut, dan melakukan perubahan sistemik demi keselamatan dan keberkahan seluruh bangsa Indonesia.

Nur Aini, Guru
Pare Kediri Jawa Timur


Thursday, 9 January 2020

Resolusi 2020 : Mulia, Jaya dan Sejahtera Dengan Khilafah


Tahun baru 2020, saatnya menetapkan resolusi baru. Bukan sembarang resolusi, bukan resolusi recehan, namun resolusi yang akan membuat umat mulia, jaya dan sejahtera. Resolusi di tahun baru ini sangat penting mengingat tahun sebelumnya umat ini selalu didera persoalan. Tahun baru disambut dengan naiknya berbagai tarif dan harga , rakyat dikejutkan dengan skandal Jiwasraya, dan dibuka dengan bencana. Jelas ini akibat ulah manusia, telah abai dengan aturan Sang Pencipta, maka satu-satunya solusi adalah kembali pada ketentuanNya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Ar Ruum ayat 41 yang artinya : “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Bangsa ini harus bersegera menyelesaikan persoalan dengan Islam.
Penyelesaian dengan solusi Islam tentu bukan hanya berharap aspek maslahat dan diiambil secara parsial di satu aspek. Misal, di bidang ekonomi dengan meninggalkan praktik bancassurance agar tidak terulang kasus Jiwasraya, atau melakukan dedolarirasi dan menggunakan dinar agar nilai tukar uang kita stabil dan sebagainya. Solusi Islam harus diambil total mulai akar hingga daun, dari asas dan seluruh sistemnya, yang hanya akan  terwujud dengan adopsi sistem politik Islam yaitu khilafah. Mengapa harus khilafah, setidaknya karena dua alasan. Pertama, secara iman dan keyakinan tegaknya seluruh syariat Allah akan mendatangkan kemaslahatan, tidak ada keraguan sedikitpun. Kedua, secara empiris maupun historis, khilafah adalah sistem politik yang  terbukti mengatasi beragam krisis yang hari ini tidak mampu diatasi. Hasil pemberlakuan khilafah adalah kehidupan sejahtera, mulia dan membuat umat meraih kejayaan.
Kemuliaan dalam naungan khilafah adalah hal yang pasti. Mulia karena taat pada hukum Allah dan RasulNya, serta mulia karena dengan penerapan hukum Allah semua kebaikan di dunia akan terwujud. Sebagaimana kemuliaan dan kejayaan yang telah dibuktikan Rasulullah yang mengeluarkan masyarakat Arab dari kejahiliyahan, juga dibuktikan oleh khalifah pengganti Rasululllah mulai dari khulafa’ ar rasyidin, khilafah Bani Umayah, Abasiyah hingga Utsmaniah. Sedangkan fitnah terhadap khilafah sebagai biang kekacauan cukuplah dianggap sebagai pernik-pernik kebodohan orang munafik dan orang kafir.
Resolusi 2020 menuju tegaknya khilafah harus terus digaungkan hingga umat semakin rindu berada dalam naungan khilafah. Dimulai dengan menyampaikan berbagai solusi Islam dalam semua permasalahan, membekali diri dengan ilmu dan tsaqafah Islam, mengajak umat bersama mengkaji Islam kaffah dan terus maju melangkah meski khilafah dikriminalkan. Yakin akan pertolongan Allah dengan terus berusaha dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT, terus berjuang karena kemenangan ini pasti, dan perjuangan di jalan Allah adalah amal yang tak pernah sia-sia, kapanpun kemenangan itu diberikan balasan bagi setiap mukmin yang menolong agama Allah telah disiapkan, kemuliaan di dunia dan keselamatan di akhirat. Wallahu a’lam.



Menyiapkan Putri Kita Menuju Masa Baligh : Siaga Haid Datang Kapan Saja.


Allah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk, Allah adalah Dzat Yang Maha Pencipta. Tidak hanya sekadar menciptakan Allah juga mendesain makhluknya dengan bentuk terbaik dan memberinya aturan-aturan yang tidak akan bisa dibuat manusia. Begitu juga dengan tubuh manusia, termasuk mengatur siklus haid pada wanita.

Haid bukanlah peristiwa yang tiba-tiba, namun ada rangkaian peristiwa lain yang menyertai, oleh karena itu dalam keadaan normal datangnya haid bisa diantisipasi. Tetapi terkadang banyak yang kurang peduli akhirnya tidak siap ketika haid datang. Untuk itu, salah satu upaya untuk mengantisipasi ketika haid datang terasa tiba-tiba adalah dengan menyiapkan beberapa perlengkapan. Terutama untuk anak remaja putri yang masih belum terbiasa dengan kondisi pra menstruasi. Perlengkapan standar yang selalu ada dalam tas agar tidak bingung setiap saat dibutuhkan.

Salah satu perlengkapan yang selalu ada di tas :.
1. Pouch , dompet kecil, pilih yang unyu-unyu biar ga malu bawanya
2. Pembalut biasa
3. Fresh liner
4. Tisu
5. Sabun cair
6. Minyak angin
7. Celana dalam
8. Plastik

Pembalut regular dan fresh liner untuk persiapan ketika haid awal sedang tidak berada di rumah, namun ini bagi yang haid awal hanya keluar darah sedikit atau sekadar noda, jika awal haid sudah banyak mengeluarkan darah maka yang disiapkan adalah pembalut ekstra large.

Sabun cair untuk menghilangkan bau amis darah baik di tangan maupun dalam kamar mandi, plastic untuk mengamankan celana dalam yang terkena noda maupun pembalut habis pakai, biasakan anak menjaga kesucian dari barang najis, membiasakan untuk menjaga kebersiahan.

Minyak angin untuk mengantisipasi perut yang tidak nyaman di awal haid.

Itulah beberapa perlengkapan yang sebaiknya ada di dalam tas, siap dibawa kemana saja. Jika tidak dibutuhkan sendiri bisa juga diberikan orang lain yang sedang membutuhkan.


Monday, 6 January 2020

Jika bisa dibuat ribet kenapa dibikin mudah?

Jika bisa dibuat ribet kenapa dibikin mudah?
(Moto pelayanan jaman now)


Di tempat fotokopi, bersamaan dengan banyak siswa SMA. Fotokopi rapor jaman now yang berlembar-lembar. Ada yang mau dipakai daftar ke PTN, ada yg dipakai untuk arsip.

Di sinilah saya terkadang ikut bingung.

Rapor berlembar-lembar gitu pas dipakai daftar ke PTN benarkah terverifikasi semua isinya? Membayangkan verifikatornya puyeng lihat nilai dan deskripsi berlembar-lembar. Belum lagi yang harus dicek dari ribuan pendaftar.

Era digital R.I 4.0 hal-hal teknis yang bisa dibuat sederhana dan cepat, masih saja manual tapi ribet. Dan yang pontang-panting tetap saja rakyat kecil. Tidak bisa cepat paham dengan perkembangan karena terbatasnya kesempatan akses informasi ditambah sudah pusing memikirkan kebutuhan hidup.

Sudahlah kurikulum sering ganti, tapi tak diiringi bimtek dan pendanaan yang maksimal. Jadilah kita yang di bawah seperti kelinci percobaan.

Rapor digital belum diiringi sarpras yang memadai, belum disertai dengan bimtek yang mudah dipahami guru, siswa dan orang tua. Apalagi rapor online, peluang suksesnya di negeri dengan penguasa oligarkis itu sangat kecil. Ga bakalan peduli dengan pelayanan yang mudah, cepat dan terintegrasi.

Ditambah dengan pejabat yang individualis, tidak punya wawasan pelayanan, pengayoman dan ilmu teknis yang dibutuhkan, dipastikan karut-marut ini akan semakin akut. Lihat saja mendikbud dan menag yang di awal sudah koar-koar radikalisme dan gaya kebijakan liberal, mana bisa diandalkan. Cuma bisa bikin kehebohan. Landasan berpikir pejabat dalam sistem kapitalisme itu rusak, batil, sekular, tidak mungkin membawa kebaikan. Beda jauh dengan sistem khilafah.

Dalam khilafah, kekuasaan itu untuk menjalankan hukum syara', memastikan rakyat dilayani sesuai syariat. Negara sebagai ra'in (pengurus urusan rakyat) juga sebagai junnah (pelindung, pengayom), negara sebagai penyelesai masalah, bukan malah kasih masalah ke rakyat.

Jadi, jika mau negeri ini lebih baik, hanya dengan khilafah.

Bagaimana caranya? Yuuk baca artikel-artiket seputar islam dan cara khilafah mengatasi berbagai masalah di web muslimahnews.com. 

Lebih praktis lagi, yuuk mengkaji islam kaffah.

Minimal biar tidak menelan mentah-mentah fitnah terhadap khilafah, yang jelas ajaran islam dan warisan Rasulullah saw.

Btw, selalu saja terbengong-bengong di depan laptop saat mau input nilai, saat mencoba menggunakan rapor digital offline yang rencananya bisa diakses online. Aplikasi yang layout nya bikin mata berkunang-kunang, tidak support untuk semua piranti dan software pendukungnya. Menduga, yang buat aplikasi kurang bisa mengaitkan dengan realitas pendidikan dan penilaiannya di lapangan.
Dan meskipun terbengong-bengong, tetap mantap dengan perjuangan dakwah khilafah.

Pare, 3 Januari 2020

Mengejar Gelar Toleran Namun Menggadaikan Akidah


Setiap akhir Desember menjelang dan sesudah natal masih saja terjadi pro-kontra seputar ucapan natal seorang muslim kepada orang kristiani. Sebenarnya ini adalah permasalahan mudah yang cukup diselesaikan dengan kembali berpedoman kepada keyakinan agama masing-masing, cukup sebatas menghormati dalam hal akidah. Tak perlu menuntut lebih tak perlu meminta yang melanggar aturan agama.  Namun tetap saja permasalahan ucapan natal ini seringkali menimbulkan kegaduhan, terutama dengan masifnya orang-orang liberal dan moderat yang meminta umat Islam untuk toleran hingga memasuki ranah keyakinan. ini bukanlah hal yang tanpa sengaja, kegaduhan diciptakan untuk mengejar suatu tujuan, semisal membuat umat Islam menggadaikan akidahnya demi menghindar dari cap intoleran, di sisi lain kegaduhan sengaja dibuat agar umat terpalingkan dari permasalahan utama di negeri ini, karut-marut berbagai bidang dan semakin mengenaskannya kasus tindak korupsi yang melibatatkan orang di seputar kekuasaan.

Kembali pada sikap toleran yang diidentikkan dengan kesediaan mengucap natal, menjaga gereja, bahkan hingga bersama merayakannya, ini adalah perbuatan yang sama sekali tidak dicontohkan Nabi Muhammad saw. Memang benar, Nabi adalah orang yang penuh kasih sayang, namun bukan berarti Nabi bersikap lunak dalam hal akidah, bahkan dalam hal akidah ini Nabi sangat tegas, tidak boleh mencampuradukkan keyakinan. Tidak hanya itu, di dalam Alquran di Surah Al Maidah ayat 72-77 ada peringatan keras terutama terkait agama Kristen, haram mengakui Nabi Isa as sebagai Tuhan, haram mengatakan Tuhan itu tiga, maka haram pula mengakui akidah yang mengambilnya. Maka sebagai umat Islam, cukup menghormati akidah Kristen tidak mengganggu ibadahnya. Dan selebihnya tetap bersikap sewajarnya, tidak ada permusuhan karena perbedaan agama, tidak pelu saling mencaci dalam hal akidah. Umat Islam juga tak perlu berlebihan meramaikan natal dengan salawatan, mengiringi perayaan dengan rebana dan lain sebagainya, tak perlu mencampuradukkan yang benar dengan yang salah.

Umat Islam jangan sampai menggadaikan akidahnya demi mengejar gelar toleran, toleran tetap ada batasnya. Jangan terjebak dengan para pemikir liberal yang hendak mengaburkan ajaran dan ketegasan Islam dalam hal akidah. Begitu pula dengan nonmuslim, mari tetap menjaga kedamaian bekerjasama dalam hal yang memang tak melanggar syariat. Dan yang tak kalah pentingnya adalah bersama memberikan kesempatan pada penerapan Islam kaffah agar Indonesia menjadi berkah, karena Islam adalah rammat untuk sleuruh alam. Ketika Islam diterapkan secara sempurna semua akan bahagia.

Monday, 23 December 2019

Menikmati Lupa



Keluar kota naik motor lanjut naik bis. Seperti biasa menitipkan motor. Dan alhamdulillah mengikuti acara dengan tenang hingga selesai.

Perjalanan pulang naik bis, mendekati tempat turun, menyiapkan barang-barang, mencari kunci motor. Geledah sana-sini, berusaha mengingat kembali sejak awal berangkat. Kunci tidak ada. Hanya berharap kunci masih tertinggal di motor. Jika hilang di jalan malah pusing. Pasrah, sambil mikir alternatif jika kunci benar tidak ada.

Sampai di tempat penitipan, masih harap-harap cemas, menunggu antrian dilayani, yang jaga sudah beda dengan tadi siang. Melihat ada motor lain yang juga kuncinya tergantung, ada sedikit harapan, semoga demikian juga.

Giliran diminta no parkir, Menyampaikan bla...bla... Alhamdulillah ternyata benar kunci tertinggal di motor, masih menggantung. Sepertinya SOP memang begitu, kunci tidak diambil dari motor. Mungkin mengantisipasi tertukar, juga ganti penjaga. Selama pengambil motor punya no parkir, bisa menunjukkan stnk bisa ambil, dan sebaliknya.

Bersyukur, alhamdulillah baru ingat jika kunci tidak ada, tidak kepikiran. Mungkin jika sadar kunci tidak ada sejak berangkat mungkin akan sulit konsentrasi selama acara. Memang manusia, tempat salah dan lupa.

Namun ada banyak perkara yang kita tidak boleh lupa bahkan menikmati lupa.

Hal yang tidak boleh dilupakan semisal janji manis rezim saat kampanye pemilihan, komitmen penguasa saat disumpah jabatan, kebijakan rezim yang menyengsarakan. Semua itu tak boleh dilupakan, malah harus diingat sambil berpikir penyebab kegagalan rezim memenuhi janjinya. Listrik naik, BPJS naik, utang naik, biaya hidup naik, impor naik, ekspor salah kaprah dsb. Itu semua adalah akibat rezim yang salah langkah, rezim dzalim, abai dengan syariah. Rezim liberal jelas gagal.

Ada hal lain yang harus juga diingat, ada kewajiban untuk tunduk pada aturan Al Khaliq, ada kewajiban untuk menerapkan syariah kaffah. Ada janji Allah tentang tegaknya khilafah. Dan bukan sekadar mengingat, tapi berusaha berjuang untuk meujudkannya.

Pare, 23 Desember 2019

Thursday, 19 December 2019

Menyiapkan Putri Kita Menuju Masa Baligh : Mandiri Mengurus Diri Sendiri


Bagi seorang anak, menghadapi masa haid adalah bukanlah hal mudah. Tidak semua anak siap dengan hadirnya haid. Kaget dan takut ketika di awal melihat darah haid, merasakan tubuh yang tidak nyaman hingga merasa asing dengan perubahan fisik yang dihadapi. Tentu ini bukan hal yang aneh, wajar ketika menghadapi sesuatu yang baru. Oleh karena itu persiapan teknis untuk menghadapi hari pertama haid juga tidak boleh dispelekan. Dan lagi-lagi ini juga membutuhkan persiapan jauh hari.
Memberikan informasi yang benar seputar darah haid, tidak boleh memberikan informasi bohong atau bahkan membuat anak takut. Untuk itu diperlukan informasi seputar tanda baligh, proses terjadinya haid, hal-hal yang mungkin menyertai datangnya haid. Penting untuk diingat, penyampaian informasi seputar hal ini juga diiringi dengan bekal akidah. Menyampaikan haid sebagai tanda kebesaran Allah yang harus dihadapi dengan syukur dan penerimaan sepenuh hati. Agar pertanyaan semisal mengapa hanya perempuan yang mengeluarkan darah haid, mengapa saat haid terkadang merasa kesakitan, mengapa ada larangan-larang tertentu bagi wanita haid dan seterusnya. Kemudian juga menyiapkan hal teknis ketika haid. Semisal menghadapi perubahan emosional menjelang haid, menyiapkan fisik, hingga hal teknis taharah membersihkan najis dan seputar mandi wajib.
Persiapan fisik dan emosional. Haid adalah tanda perubahan anak menuju masa remaja, pada masa puber ini anak akan cenderung tidak nyaman urusannya terlalu dicampuri, maka sebelum perasaan ini menjadi dominan pada anak, orang tua terutama ibu sudah menjadi sahabat bagi anak sejak jauh hari sebelum masa puber. Dengan begitu anak akan memberikan kepercayaan kepada orang tua ketika menghadapi hal baru. Perubahan fisik tubuh dihadapi dengan bijaksana, ibu memberikan arahan terkait perubahan fisik semisal bentuk tubuh dan perawatannya serta cara mengatasi emosionalyang labil menjelang haid. Hal ini juga diiringai dengan pembiasaan hidup sehat baik dari pola makanan maupun aktivitas, terkadang jika tidak ada pembiasaan menjelang dan di saat masa haid anak lebih sering mengikuti hawa nafsunya dengan makan dan beraktivitas  sesuka hatinya.
Persiapan teknis, mulai dari hal sederhana membiasakan mencuci pakaian dalam disertai dengan arahan teknis mencuci pakaian dari najis, membersihkan noda darah, membereskan pembalut bekas pakai. Membawa persediaan pembalut, celana dalam dan sabun ketika bepergian. Tidak panik ketika haid datang sedang tidak di rumah, peka dengan tanda-tanda menjelang haid hingga ke teknis taharah mandi wajib ketika selesai haid. Khusus mandi wajib, maka orang tua harus mendetaili satu persatu teknisnya, memastikan rukun mandi wajib terpenuhi.
Terakhir, persiapan teknis menjalani masa haid. Tak jarang remaja yang haid menghabiskan waktu untuk hal-hal mubah bahkan cenderung sia-sia, merasa tidak perlu beribadah. Untuk konsep ibadah perlu diluruskan sejak dini, ibadah tidak hanya sebatas ibadah mahdhah saja, namun ada banyak aktivitas kebaikan yang bisa bernilai ibadah. Anak harus paha hanya beberapa aktivitas saja yang terlarang bagi wanita haid, maka di luar larangan tersebut anak tetap bisa mengamalkannya. Dengan begitu kedekatan anak kepada Allah SWT tetap terjaga meski saat menjalani masa haid. Dan ini juga tergantung pada pembiasaan sebelum haid, ketika pra haid anak sudah biasa melakukan banyak kebaikan maka di saat haid pun anak sudah punya cara pandang bahwa kebaikan itu juga akan dijaga meski di masa haid.

Dengan persiapan anak mandiri mengurusi diri sendiri akan meminimalisir ketergantungan anak saat remaja kepada orang lain. Bisa mengatasi permasalahan yang secara rutin akan mereka hadapi. Setidaknya satu permasalahan sudah tertangani.

Menyiapkan Putri Kita Menuju Masa Baligh : Menanggung Konsekuensi Amal


Tanda baligh pada perempuan adalah dengan datangnya haid atau mesntruasi. Dan umur haid untuk anak perempuan saat ini terjadi semakin dini. Jika pada generasi terdahulu usia awal haid di atas 12 tahun misalnya, maka saat ini anak yang masih berumur  10 tahun pun ada yang sudah haid.  Tak jarang banyak keluhan dari orang tua, sudah haid tapi masih belum mengerti apa-apa. Oleh karena itu, menjadi kewajiban orang tua untuk mendampingi, membimbing dan menyiapkan anak untuk siap dengan konsekuensi datangnya haid.
                Islam sebagai agama yang sempurna  juga mengatur masalah haid, dan menetapkan haid sebagai tanda baligh bagi seorang perempuan,yang konsekuensi bagi seorang perempuan yang sudah haid adalah dia  bertanggungjawab atas semua amal perbuatannya, apayang dilakukan sudah tercatat utuk dihisab di akhirat. Sebagaimana sabda Rasulullah saw : Telah diangkat pena (beban hukum) dari tiga golongan: dari orang gila hingga ia sembuh; dari orang yang tidur hinggaia bangun; dan dari anak-anak hingga ia balig.  (HR  Abu Dawud).
                Persiapan menghadapi haid dilakukan jauh hari, jangan sampai orang tua dan anak merasa tidak siap saat haid dating untuk pertamakalinya. Tidak hanya menyiapkan konsekuensi hukum, namun juga menyiapkan anak secara fisik, mental dan teknis.
                Sejak dini anak sudah dibiasakan untuk terikat pada hukum syara;, dimulai dari yang teringan hingga yang membutuhkan pengorbanan lebih. Biasa salat lima waktu, biasa berpuasa, biasa menutup aurat, menjaga lisan, berlomba dalam kebaikan dan sebagainya. Membiasakan dengan memberi pemahaman bahwa ada kewajiban bagi seorang muslim untuk terikat pada syariat Allah dan RasulNya. Pada fase ini penguatan akidah adalah yang utama, memahamkan akan tentang konsekuensi iman kepada semua hal yang terdapat dalam rukun iman. Termasuk pula menyiapkan agar anak ridha dengan ketetapan Allah pada makhluknya yang salah satunya adalah haid.  Ini adalah bekal yang harus diberikan orang tua sebagai orang yang terdekat dengan anak. Jangan sampai anak mendapatkan informasi yang kurang  tepat, jika harus melalui orang lain maka orang tua harus memastikan anak mendapat bimbingan dari orang yang amanah dan berilmu.
                Target dari penyiapan anak perempuan menghadapi haid sejak dini ini adalah agar ketika dewasa anak sudah tidak membutuhkan paksaan, dengan kesadaran sendiri melakukan kewajiban sebagai seorang muslim dan menjauhi larangan dengan sukarela, paham konsekuensi amal di dunia yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak, ada surga atau neraka yang menanti mereka.
               




Mendidik Anak Laki-laki Calon Imam



Berita-berita yang membuat prihatin, tawuran siswa SD, keroyokan siswa SD, terkadang meski hanya sebatas candaan akhirnya ada yang menangis ada yang berujung pertaruhan nyawa dan mayoritas pelakunya adalah anak laki-laki. Namanya anak-anak, perilaku mereka yang seringkali tanpa pikir panjang melakukan sesuatu, tanpa berpikir akibat terburuk. Selain di dunia nyata, tak sedikit  dari anak-anak SD yang sudah aktif di medsos, bahkan bertngkar dengan temannya di medsos, terutama anak usia antara 10-12 tahun, memang berbeda dengan anak laki-laki jaman dahulu. Ada yang sudah baligh, dan bisa dibilang mereka saat ini menuju masa puber. Emosinya tak terkendali, maunya menang sendiri, tak mendengar ketika dinasehati. Masa dimana eksistensinya minta diakui. Lucunya kalo merasa tersakiti baik sakit fisik maupun sakit hati, masih saja mereka menangis tersedu-sedu. Secara fisik mereka menuju masa puber, namun secara pemikiran, masih seperti anak kecil.
Mendampingi anak laki-laki tentu tidak sama dengan anak perempuan, namun dari aspek hamba ada kesamaan, mendidik mereka untuk sama-sama taat kepada Allah, sama-sama siap mengemban tugas sebagai hamba Allah. Akan tetapi dari aspek tanggungjawab, ada perbedaan, laki-laki adalah imam dalam rumah tangga, laki-laki menjadi imam di masjid mengimami jamaah laki-laki dan perempuan, imam bagi semua jamaah, laki-laki berhak menjadi khalifah, wali dan pejabat pemerintahan yang tidak boleh dijabat wanita, laki-laki wajib menafkahi. Maka menyiapkan mereka untuk siap menerima tanggung jawab kelak ketika dewasa mau tidak mau harus dimulai sejak dini.
Namun tantangan mendidik anak, terutama anak laki-laki saat ini bukan perkara yang mudah diselesaikan, tapi meski tidak mudah pasti bisa, optimis. Menjelang dan saat masa puber gharizah nau’ dan baqa’ nya  begitu dominan. Terutama terkait rasa suka pada lawan jenis dan eksistensi diri. Sukanya tebar pesona meski dengan modal dengkul, sukanya umbar tantangan, petantang-petenteng ngajak duel. Tapi urusan belajar, menuntut iilmu, menambah tsaqafah malasnya luar biasa. Mau sekolah jika dibelikan kendaraan ( kalo SD masih minta sepeda, kalo SMP SMA bisa-bisa minta motor baru yang kece badai), dibelikan HP di belikan ini itu, ga cukup dibelikan, jatah perawatan motor, pulsa dan paket data pun menjadi imbalan kepergian mereka ke sekolah. Emang yang butuh belajar dan menuntut ilmu siapa? Pengorbanan dan kerja keras orang tua seolah tak ada nilainya.
Di antara yang bisa dilakukan dalam rangka mendidik anak adalah bekal iman, terus menguatkan aqidah, mengingatkan Allah Maha Segalanya, mengingatkan malaikat yang selalu mencatat. Agar tidak terus mengancam dengan hukuman, agar tidak kepo memeriksa speedometer tiap hari, sudah main sejauh mana. Memberi bekal ilmu dengan mengajak ke majelis ilmu, menyediakan majelis ilmu, memberi ilmu secara langsung jika memang mumpuni. Dan yang tak kalah pentingnya adalah sedini mungkin mengenalkan Alquran pada anak, memperbaiki bacaan dan terus menambah hafalan. Tidak berhenti sampai sekadar hafal, memberi pemahaman Alquran sesuai dengan usia juga sangat penting.
Ya, dekat dengan Alquran adalah bekal selanjutnya untuk anak. Dekat dengan Alquran bermakna bisa membaca, menghafalkan, mentadaburi ayat-ayatnya, memahami,mengamalkan dan menyampaikan kepada orang lain, mendakwahkannya agar diterapkan secara kaffah. Memang butuh proses, perlu langkah bertahap. Untuk anak-anak setidaknya bisa membaca dan menghafal, dengan modal minimal ini paling tidak anak laki-laki sudah disiapkan menjadi calon imam salat. Mumpung masih kecil segera perbaiki kualitas bacaan anak, mumpung masih belum banyak memori yang terisi segera targetkan hafalan Alquran, usia-usia keemasan “ golden age” tak seharusnya dilewatkan. Dan yang juga penting meski tidak semuanya bias menjadi imam, setidaknya anak laki-laki mempunyai keberanian untuk adzan dan iqamah di masjid atau mushala. Karena terkadang ada anak laki-laki yang tidak bisa dan tidak berani tampil untuk adzan dan iqamah. Ini juga bagian dari menyiapkan mental anak agar percaya diri.
Selain peningkatan kualitas ruhiyah, bekal kesehatan dan kekuatan fisik juga tidak boleh diabaikan. Sebagaimana pesan Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam, anak-anak sejak dini dengan menyesuaikan umur, segera dikenalkan dengan olehraga berkuda, berenang dan memanah.  Dan tentu aktivitas fisik lain yang melatih raga, dalam rangka menyiapkan generasi pejuang.

Untuk mendampingi anak laki-laki dan mendidiknya, tentu dibutuhkan orang tua tangguh, lingkungan yang kondusif dan sistem kehidupan berbangsa dan bernegara yang terbaik. Anak kita bukanlah robot yang bisa dikendalikan dengan remote control, bukan benda mati yang tak punya hati, fisik dan pikiran mereka akan terus berkembang serta dipengaruhi lingkungan mereka tinggal. Maka menyiapkan berbagai hal agar upaya mendidik anak tidak sia-sia dan semakin berat juga merupakan hal yang sangat penting. Melakukan perubahan dengan dakwah amar makruf nahi munkar dalam setiap bidang, agar kebaikanlah yang dijumpai anak-anak kita. Sebagaimana generasi salaf terdahulu dididik dalam suasana sistem Islam, menjadi ulama dunia dan akhirat, menjadikan mereka umat terbaik. Maka saat ini pun juga juga dibutuhkan sistem yang sama, sistem yang memberikan kesempatan diterapkannya secara kaffah, yaitu sistem khilafah. Sistem yang nyata mencetak generasi terbaik dalam sepanjang masa, generasi mujtahid, generasi ilmuwan dalam segala bidang. Maka perjuangan untuk mewujudkan sistem Islam tidak bisa diabaikan, selain sebagai konsekuensi keimanan, juga untuk memastikan anak-anak kita menjalani masa depan mereka dalam naungan aturan Allah subhanahu wata’ala. Wallahu a’lam bishawab.

Ketika Jagoan Kecil Kita Jatuh Cinta


Cinta monyet adalah istilah yang sering dipakai untuk percintaan-pacaran remaja, dahulu cinta monyet diperuntukkan bagi anak SMA atau paling tidak anak SMP. Dahulu persepsi cinta monyet hanya sebatas cinta main-main saja, tidak serius. Ketika putus ya cari lagi, mungkin seperti itu. Namun saat ini. Seiring dengan semakin cepatnya perpindahan informasi, akibat tayangan TV yang tidak mendidik, akibat orang tua yang cenderung membebaskan anaknya, akibat buruknya teladan dari generasi sebelumnya, cinta monyet sudah menjalar kepada anak-anak SD, maka tak salah jika disebut sebagai cinta anak monyet. Pelakunya semakin kecil. Fenomena cinta anak monyet ini tentu membuat kita prihatin, pacaran yang merupakan pendekatan pada pintu zina jelas haram. Baik pelakunya anak SD, remaja, dewasa maupun sudah tua.
Fakta berbicara, usia baligh anak saat ini semakin cepat. Tak jarang anak perempuan kelas 4 SD sudah haid, tak jarang anak laki-laki kelas 5 SD sudah ihtilam. Secara fisik anak sudah dewasa namun secara pemikiran mereka belum mengerti konsekuensi dari baligh adalah dimulainya hisab atas amal mereka. Sebaliknya yang lebih dominan pada anak yang baligh di usia dini adalah ketidakmampuan mereka mengendalikan perasaan, terutama perasaan tertarik kepada lawan jenis. Jadilah kecil-kecil sudah  menjadi pelaku pacaran. Karena pelakunya masih kecil, dari segi keilmuaan mereka sangat minim. Namun dari segi gelora perasaan sulit dikendalikan, maka peluang mereka jatuh dalam dosa maksiat yang lebih besar lagi akan semakin terbuka lebar. Fenomen cinta anak monyet juga akan berpengaruh pada kualitas generasi yang akan datang. Potensi anak dalam memanfaatkan waktu untuk menimba ilmu akan terganggu, pikiran mereka terbelah.

Ketika Anak Jatuh Cinta
Kecil-kecil sudah pacaran, memang sangat membuat kita sebagai orang tua merasa prihatin. Namun menghadapi fakta seperti ini sebagai orang tua kita tidak akan bertindak gegabah apalagi mengambil tindakan keras penuh paksaan. Kita berusaha menyelami pikiran anak-anak kita, berusaha memahami apa yang mereka rasakan, bukan dalam rangka memaklumi namun untuk mencari solusi terbaik agar mereka tidak terus berada dalam masalah.
Jatuh cinta adalah salah satu naluri yang diberikan Allah SWT kepada makhluknya, yaitu sebagai bagian dari naluri melestarikan jenis, tanpa cinta dan kasih saying mungkin dunia ini akan kacau balau. Ketertarikan kepada lawan jenis adalah hal yang normal, namun bukan berarti boleh diumbar. Karena naluri adalah karunia dari Allah SWT maka sudah seharusnya pengaturan dan pemenuhannya juga disesuaikan dengan aturan dari Sang Pencipta. Termasuk pula menyikapi fenomena kecil-kecil sudah jatuh cinta dan berpacaran.
Oleh karena itu, ketika anak jatuh cinta, salah satu hal yang peru kita pahami adalah karakter naluri ini. Karakter naluri salah satunya adalah muncul karena adanya rangsangan dari luar. Tidak mungkin anak jatuh cinta jika belum mengenal lawan jenis, tidak mungkin anak tiba-tiba jatuh cinta tanpa didahului informasi pendukung, misal dari tayangan televisi yang hanya dihiasi tayangan sampah, bukannya menyajikan informasi bermanfaat, sinetron tak berkualitas dengan setting dunia remaja yang mengumbar perasaan. Apapun latar settingnya, mau sekolah, mau di rumah, mau di jalanan semuanya bercerita tentang cinta-cintaan. Tidak hanya TV, kebebasan mengakses internet juga memudahkan anak mendapatkan informasi termasuk pula tayangan-tayang vulgar yang menyebar dimana-mana. Maka, salah satu upaya yang bisa dilakukan oleh orang tua adalah meminimalisir anak untuk bersentuhan dengan informasi sampah. Ada banyak cara, mulai dari membatasi pemakaian telepon pintar, membatasi waktu menonton TV hingga memberikan pendampingan optimal, dengan kata lain kontrol orang tua sangatlah berperan. Jangan sampai orang tua malah senang dan tenang melihat anak nyaman dengan gadget di tangan atau duduk manis di depan TV.
Solusi lainnya adalah mengalihkan kesibukan anak kepada hal-hal positif dan produktif. Bermain bersama, belajar bersama, menghafal Alquran, menyibukkan diri dengan olahraga, mengikutkan anak pada kajian keislaman disesuaikan dengan umur dan lain sebagainya, inti dari solusi ini adalah tidak membiarkan anak menikmati dunianya sendiri, melibatkan mereka dalam interaksi social yang sehat sesuai syariat.
                Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah, menjadi sahabat bagi anak. Memberikan waktu terbaik kita untuk mendampingi buah hati. Memberikan informasi yang benar, memberikan ilmu sebagai bekal dalam kehidupan. Dengan kedekatan orang tua dan anak, anak tidak akan mencari tempat mencurahkan isi hati kepada orang lain apalagi kepada lawan jenis. Tidak mengekang anak namun tidak mengumbar anak, orang tua menjadi tempat curhat yang menyenangkan bagi anak, tidak langsung memarahi dan memvonis anak bersalah, namun berusaha menasehati dengan kasih sayang.
                Memang, saat ini tantangan dalam mendidik anak sangatlah luar biasa. Maka dibutuhkan kesungguhan orang tua dalam mendidik anak, memposisikan anak sebagai amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Juga diperlukan kepeduliaan lingkungan dan masyarakat, menciptakan masyarakat yang bersahabat dengan anak mutlak diperlukan. Masyarakat yang mempunyai visi mengedapankan berlomba dalam kebaikan, menyerukan yang makruf dan bersama mencegah kemungkaran. Dan yang tak kalah pentingnya adalah peran Negara. Kebijakan Negara yang membuat para orang tua sibuk mengejar materi, memberikan kebebasan akses informasi tanpa batas, dan ketidaktegasan dalam sistem sanksi sangat berpengaruh pada pola pengasuhan anak serta kualitas anak saat ini. Negara dengan kebijakan semakin liberal akan berdampak buruk pada proses pendidikan anak. Tentu hal ini tidak boleh kita biarkan. Pembiaran pada pelaksanaan sistem kapitalistik secular sama saja dengan mempertaruhkan masa depan bangsa ini, alih-alih melahirkan generasi beriman dan bertakwa, yang terjadi malah sebaliknya, melahirkan generasi yang menuntut kebebasan dan tidak mau terikat pada aturan Allah SWT, generasi yang maunya mengumbar hawa nafsu.

                Oleh karena itu, untuk melindungi generasi dari kerusakan moral dan menyelamatkan generasi demi masa depan diperlukan individu-individu yang bertakwa mempunyai komitmen untuk melaksanakan perntah Allah dan menjauhi seluruh laranganNya, masyarakat yang menjadikan syariat sebagai standar perbuatan dan Negara sebagai institusi utama menerapkan syariat terbaik dari Allah SWT secara menyeluruh. Dan ini membutuhkan perjuangan untuk melakukan perubahan. Maka harus kita mulai dari detik ini juga, demi masa depan di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam bishawab.

Wednesday, 18 December 2019

English Area, Honor Yourself By Speaking English




Judulnya buat keren-kerenan saja. Membaca di salah satu camp kursus b.inggris di Pare. Tulisan yang mantab.

Memang sudah biasa, banyak camp di Pare yang mewajibkan member camp untuk menggunakan bahasa inggris saat di english area. Bahkan terkadang ada sanksi “kejam”  bagi pelanggarnya.

Awal membaca tulisan tersebut, tersenyum saja. Tapi jujur bikin iri, sampai segitunya. Dan suasana  di camp pun ramai dengan obrolan berbahasa inggris, dan saya tambah diam seribu bahasa, tidak tahu harus ngomong apa.

Mengapa bikin iri? Membayangkan seandainya yang  banyak adalah arabic  area, pasti seru.

Seharusnya, jika muslim lebih semangat belajar bahasa arab. Karena bahasa arab adalah bahasa Alquran dan hadits, pedoman tertinggi seorang muslim. Bagaiman maksimal menjadikannya pedoman jika bahasanya tak dikuasai. Terutama bagi muslim yang bahasa induknya bukan bahasa arab.

Yang pasti, diabaikannya bahasa  arab adalah satu keberhasilan barat. Ada kesengajaan untuk membuat umat islammenjauh bahkan tak mengenal bahasa arab, minimal mengabaikannya. Setidaknya mereka berhasil membuat persepsi, yang  terpenting adalah belajar bahasa inggris, bukan bahasa arab. Ditambah dengan kelalaian umat islam dan keasyikan belajar bahasa selain arab, maka semakin sempurnalah bahasa arab jauh dari umat Islam.

 Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? ( QS : Al  Qamar [54] : 17) 

Terus apa yang harus dilakukan? Ya belajar bahasa arab mulai sekarang. Bulatkan tekad, niatkan dan berdoa semoga istiqamah dalam belajar. Tidak harus setiap hari, tapi pastikan menyediakan waktu khusus untuk belajar. Jangan terbelenggu dengan stigma bahasa arab itu sulit, husnudzan belajar bahasa itu mudah, nikmati proses belajarnya. Untuk yang sudah mempunyai sedikit ilmu, amalkan dan ajarkan, insya Allah akan semakin lekat dalam ingatan.


Pare, 18 Desember 2019

Tuesday, 10 December 2019

Belajar Khilafah Tidak Haram



Akhirnya, materi khilafah dan jihad sebagai salah satu syariat Islam dihilangkan dari materi pelajaran di sekolah.  Katanya tidak dihilangkan total, sekadar direvisi saja, atau tidak lagi masuk bahasan Fikih namun menjadi bahasan sejarah. Benar-benar rezim sekular, sedikitpun tidak menyisakan ajaran agama Islam untuk sekadar dipelajari atau bahkan untuk diterapkan. Memang sebuah kesengajaan, agar umat Islam tidak mengenal hukum Islam seputar khilafah dan jihad.  Untuk itu  tuduhan keji terus dilontarkan, di antaranya adalah khilafah sebagai sumber pepecahan dan jihad sebagai inspirasi terorisme. Opini negatif terus digulirkan kepada orang yang menyampaikan khilafah, sekadar mengkaji atau memperjuangkannya. Dibentuk stigma negatif bahwa orang yang menyampaikan khilafah telah melakukan hal jahat dan kriminal. Lagi-lagi sungguh narasi yang sangat keji. Padahal tidak ada satu aturan pun di negeri ini yang menyatakan bahwa khilafah dan jihad adalah hal yang terlarang untuk disampaikan. Namun  bisa jadi selanjutnya rezim akan menyiapkan aturan agar bisa menjatuhkan sanksi kepada orang yang menyampaikan khilafah.

Penguasa  semakin mengukuhkan diri sebagai rezim anti Islam. Mengapa bisa demikian? Padahal wakil presidennya adalah seorang yang digelari sebagai ulama. Jawabnya sederhana, karena negeri ini menerapkan sistem kapitalisme. Sistem yang lahir dari ideologi kapitalisme, mengambil sekularisme sebagai akidahnya dan menentukan aturan berdasarkan liberalisme. Aturan agama dipisahkan dari kehidupan dan kebebasan menjadi pijakan. Agamanya boleh Islam, namun tak boleh menerapkan syariat islam kaffah dalam kehidupan. Sehingga wajar, bagi rezim kapitalis, keberadaan Islam yang akan utuh diterapkan dalam naungan khilafah dianggap sebagai ancaman serius. Karena Islam adalah rival dari kapitalisme juga sosialisme-komunisme. Jika khilafah tegak, penguasa tidak akan bisa seenaknya sendiri bermesraan dengan pengusaha, tidak bisa lagi menjual kekayaan alam kepada asing, tidak akan bisa lagi menikmati banyak kemaksiatan yang legal di negeri ini, tidak akan bisa terus memalak rakyat, tidak bisa terus mengeruk keuntungan demi kepentingan pribadi dan kelompoknya. Ya, khilafah hanya akan menjadi ancaman bagi orang-orang yang tidak mau taat syariat.

Dengan masifnya upaya mencegah kebangkitan Islam, apa yang harus dilakukan? Bagi seorang mukmin, dunia adalah ujian, akankah menjadikan semakin dekat kepada Allah atau malah sebaliknya. Begitu juga ujian dalam dakwah menyampaikan khilafah yang resikonya memang berhadapan langsung dengan penguasa dzalim. Penguasa yang tidak segan mendzalimi, menyengsarakan dan jika perlu membinasakan rakyatnya sendiri meski dengan cara perlahan. Oleh karena itu, yangharus dilakukan adalah mempertebal keimanan, keyakinan bahwa khilafah adalah perintah Allah dan RasulNya, dan apa yang diperintah Allah dan RasulNya pasti sebuah kebaikan yang tidak akan pernah sia-sia. Semata meminta pertolongan kepada Allah, sekuat apapun tekanan manusia pasti ada batasnya.

Menyampaikan khilafah itu bukan perbuatan haram, sebaliknya, melarang menyampaikan khilafah adalah tindakah hina dan haram. Inilah pegangan yang tidak boleh lepas. Tunjukkan bahwa seorang muslim tidak akan mundur hanya karena gertakan manusia, buktikan bahwa perjuangan menyampaikan khilafah tidak akan berhenti. Buktikan bahwa buka khilafah yang membahayakan, namun kebijakan penguasa yang berdasar kapitalis-sekular yang sejatinya membuat dunia ini akan hancur.

Oleh karena itu, teruslah menyampaikan khilafah, belajar bagaimana khilafah menjadi solusi atas permasalahan umat, dan terus berjuang menegakkan khilafah, meski khilafah tegak saat nyawa sudah tidak dikandung badan, Allah sudah mencatat amal kita, dan begitu pula dengan bekas amal kita, akan tetap menjadi pahala untuk kita.


Pare, 10 Desember 2019 


Monday, 9 December 2019

Penderita AIDS Meningkat Saatnya Kembali Pada Syariat


Hari AIDS selalu diperingati setiap tahunnya, kampanye penanggulangan HIV/AIDS dan sosialisasi hak ODHA adalah dua agenda yang hampir tak pernah terlewatkan. Namun faktanya, bukannya menurun jumlah penderita HIV/AIDS dari tahun ke tahun malah semakin meningkat. Dan mirisnya penularan HIV/AIDS banyak terjadi di kalangan pelaku seks menyimpang terutama pelaku Lelaki Seks Lelaki (LSL) atau pasangan gay. Semakin membuktikan bahwa perilaku maksiat masih menjadi penyumbang utama angka penderita HIV/AIDS, juga menjadi evaluasi terhadap langkah pencegahan yang selama ini telah diambil, belum membuahkan hasil.

Dalam peringatan hari AIDS, juga selalu digembor-gemborkan tentang HAM bagi ODHA, kita selalu diingatkan agar tidak diskriminatif pada ODHA, juga termasuk di dalamnya menghormati keputusan penderita dari kalangan LSL atas pilihan hidup mereka. Sungguh kampanye dan ajakan yang sangat di luar nalar. Sudahlah nyata bermaksiat menjadi penderita penyakit menular namun masih saja minta diakui perilaku menyimpangnya. Maka ini pulalah yang membuat virus HIV/AIDS terus menular dengan lancar, karena rantai penularan yang utama, yaitu perilaku seks menyimpang juga penyalahgunaan jarum suntik narkoba tidak diputus. Malah diberi ruang.

Meningkatnya penderita HIV/AIDS yang didominasi pelaku maksiat atau korban dari perilaku maksiat seharusnya menjadi renungan bersama. Harus ada langkah tegas untuk mengatasi penularan penyakit mematikan ini. Negara sebagai pengurus rakyatnya secepatnya mengambil tindakan serius untuk memberikan perawatan maksimal kepada penderita HIV/AIDS, yang beresiko tinggi menularkan dikarantina untuk mendapatkan perawatan terbaik. Sedangkan rakyat yang sehat dijamin agar tidak tertular. Oleh karena itu, juga perlu tindakan tegas kepada pelaku kemaksiatan yang beresiko tingga tertular. Tentu bukan menjadikan HAM sebagai pertimbangan, namun menjadikan syariat sebagai acuan. Pelaku seks menyimpang tidak boleh dibiarkan, LSL adalah aktivitas maksiat yang pelakunya bisa dihukum mati, para pengguna narkoba juga layak mendapatkan sanksi, juga pelaku zina seharusnya dicambuk atau dirajam. Semua pintu penularan harus ditutup rapat. Dan jika masih saja ada yang tertular maka Negara wajib menjamin perawatannya, agar tidak menularkan kepada orang lain dan agar tetap menjalankan kewajiban sebagai seorang hamba, jika tidak bisa terselamatkan pun dalam kondisi yang terbaik, tetap mendapatkan hak sebagai manusia dan jika sebagai pelaku kemaksiatan meninggal setelah bertaubat. Semua warga negara pun bekerja sama semaksimal mungkin agar penyakit ini tidak terus menular, dengan aktif saling mengingatkan agar tidak terjerumus dalam kemaksiatan, saling menasehati untuk meraih ketakwaan. Semua mempunyai kesadaran untuk terikat syariat, tidak abai dengan larangan. Dengan keyakinan syariat pasti membawa maslahat kehidupan pun akan selamat.

Nur Aini, Guru
Pare Kediri Jawa Timur


Sunday, 8 December 2019

Khilafah Memang Diajarkan Di Sekolah


Heboh soal Fikih kelas 12 Madrasah Aliyah di Kediri yang memuat pertanyaan seputar khilafah, ada banyak tuduhan dan asumsi yang lucu bahkan malah dibua-buat atau memang berdasarkan informasi yang salah.

Soal disusupi ajaran HTI
Jelas sekali tidak ada tulisan HTI, namun dengan mudahnya menyalahkan HTI. Jika soal berisi pertanyaan seputar khilafah langsung dituduhkan sebagai bentuk penyusuan ide HTI maka ini sungguh salah kaprah. Khilafah adalah ajaran Islam, bukan ajaran HTI, bukan karangan HTI, HTI hanya menyampaikan saja. Maka jelas ini hendak mengkerdilkan khilafah sebagai bagian dari ajaran Islam. Seolah dengan dicabutnya BHP HTI yang dilakukan dengan dzalim, tanpa putusan pengadilan, maka ide yang didakwahkan HTI otomatis menjadi terlarang. Tidak. Khilafah adalah ajaran Islam, kewajiban dari Allah SWT, warisan Rasulullah saw. Sampai kiamat akan tetap seperti itu. Menuduh soal disusupi ide HTI hanya sebagai bukti kesengajaan pihak yang mempermasalahkan untuk menolak ajaran Islam. Pertanyaannya siapakah yang paling bernafsu memusuhi ajaran Islam? Tidak mungkin orang Islam yang saleh dan hanif.

Tentang Khilafah terus muncul dalam soal
Bagi guru yang biasa membuat soal, pengulangan kata apalagi menjadi judul sebuah bab dalam pelajaran itu hal yang lumrah. Bayangkan jika dalam satu mata ujian ada  50 soal sedangakan bahan ujian hanya  5 bab saja (padahal 5 bab dalam 1 semester itu sudah banyak), maka jika proporsional akan ada 10 soal dalam tiap babnya. Oleh karena itu jika bab yang dibahas adalah khilafah, maka sangat wajar jika kata khilafah terus berulang dan muncul. Ya memang babnya khilafah.

Khilafah kok masuk Fikih bukan SKI (Sejarah Kebudayaan Islam)
Khilafah adalah ajaran Islam, ada hukumnya, dan islam mengaturnya. Maka wajar khilafah masuk pelajaran Fikih, karena karakter pelajaran Fikih adalah mengupas hukum seputar perbuatan, benda atau ajaran. Beda dengan pelajaran SKI, lebih fokus pada sejarah. Membahas kronologis sebuah peristiwa. Jadi tidak perlu heran jika di pelajaran Fikih ada bab khusus seputar khilafah. Dan alur pelajaran Fikih adalah membahas definisi, dalil, hukum, dan tatacara. Sehingga jika babnya adalah khilafah maka yang akan dibahas adalah definisinya, dalil-dalil ,hukum menegakkannya, tata cara menegakkan, mengangkat khalifah sebagai pemimpin khilafah, hingga hikmah yang bisa diambil dari pelajaran yang telah dibahas. Kan lucu jika setelah membahas dalil, tata caranya kemudian disimpulkan kepada siswa : “Anak-anak pelajaran ini memang pernah dicontohkan dan diamalkan oleh Rasulullah dan para sahabat, tapi tidak perlu kita amalkan ya. Ini ajaran HTI, ini terlarang di Indonesia”. Paradox, orang Islam kok tidak boleh mengamalkan ajaran Islam, tidak boleh meneladani Rasulullah saw. Emang ini negara komunis? Emang ini negara secular? Jujur saja.

Mengajarkan Khilafah di Sekolah memang Mau bikin Indonesia seperti Suriah
Kalau ini adalah paranoid tingkat dewa, sudahlah tidak tahu realitas di Suriah malah membuat asumsi khayal. Bisa jadi memang kurang info, tidak paham bahwa yang membuat porak-poranda Suriah bukanlah Islam apalagi khilafah namun persaingan negara Barat yang sedang memanfaatkan situasi. Atau bisa jadi orang yang menuduh demikian telah terkontaminasi dengan informasi salah dan menisbatkan kekacauan di Suriah kepada ISIS yang mendeklarasikan sebagai Daulah Islam. Padahal bagi siapa saja yang mau berpikir sedikit mendalam, akan mudah mengetahui, salah satu tujuan isu ISIS diangkat adalah untuk memfitnah khilafah. Dan ini memang wajar, karena khilafah adalah momok yang ditakuti oleh musuh Islam. Maka musuh Islam akan berusahan sekuat tenaga untuk mencegahnya. Sudahlah dahulu khilafah dilenyapkan, dikubur di lubang yang sangat dalam agar tidak muncul ke permukaan bumi, masih saja ditambah dengan fitnah bahaya ketika khilafah bangkit. Khilafah itu sejatinya ajaran Islam, institusi yang bisa menyatukan umat Islam dan memfasilitasi penerapan Islam kaffah, menyeluruh. Dan saat Islam diterapkan secara kaffah akan mengantarkan rahmat untuk seluruh alam, bukan malah menghancurkan. Jadi siapa yang tidak senang khilafah tegak mewujudkan rahmat? Ya pasti orang yang sesungguhnya berbuat kerusakan.


Dan akhirnya, kehebohan soal ujian tentang  khilafah di Kediri semakin memantabkan langkah kemenag untuk menghapus materi khilafah dan perang dari pelajaran. Sungguh manusia lancang, ajaran Islam, syariat Allah dan RasulNya pun disembunyikan. Mengapa ini gencar dilakukan? Sambil menyelam minum air. Menghapus materi khilafah dan perang bertujuan menjauhkan umat Islam dari ajarannya, mencegah umat Islam mengenal dan menerapkannya, dan ini adalah kesempatan yang tepat untuk membuat kehebohan di tengah masyarakat, agar masyarakat tidak sempat memikirkan kegagalan rezim mengurus negara. 

Dengan langkah penghapusan materi khilafah di kurikulum, dengan stigma negatif terhadap khilafah dan para pengembannya apakah menghentikan dakwah menyampaikan khilafah? Jelas, TIDAK. Justeru dakwah khilafah akan semakin gencar, khilafah akan semakin menjadi perbincangan. Tekanan pun akan semakin dzalim, namun pertolongan Allah akan semakin dekat. Jadi, pilihannya hanya satu, terus maju untuk meraih kemenangan.

Pare, 8 Desember 2019



Tanggapan Tentang Hebohnya Soal Penilaian Akhir Semester Ganjil Fikih Kelas 12 di Kediri Yang Dimuat di FB Ag243


Pembuatan soal penilaian akhir semester itu biasanya ada ketentuan teknisnya. Pertama pembagian tugas penulis soal. Penentuan pembuat soal melalui rapat Kelompok Kerja Madrasah (KKM). Guru yang mendapat tugas akan diberikan pedoman penulisan, minimal berupa format kisi-kisi, dalam kisi-kisi setidaknya terdapat kompetensi dasar dan indikator. Yang keduanya merupakan bagian dari silabus mata pelajaran, sedangkan silabus pada umumnya guru langsung mengambil dari peraturan menteri yang sudah ada. Kedua, setelah selesai menulis soal, soal akan dikumpulkan ke KKM untuk selanjutnya ditelaah oleh tim khusus yang dibuat oleh KKM, cara paling mudah adalah melalui Kelompok Kerja Guru (KKG) mata pelajaran, yang memang sudah terbiasa mengajar pelajaran soal yang akan ditelaah. Telaah soal meliputi kesesuaian soal dengan kisi-kisi, bobot soal, proporsi soal, proporsi opsi pilihan ganda , kaidah EYD, hingga kunci soal dan lain sebagainya. Setelah ditelaah akan dikembalikan lagi kepada KKM. Ketiga, proses penggandaan. Yang berikutnya disalurkan kepada sekolah anggota KKM.

Jadi, ketika ada protes atau tuduhan sebuah soal fikih yang telah beredar di sekolah disusupi muatan yang dianggap tidak sesuai, maka yang perlu dievaluasi adalah peraturan menteri agama terkait pengembangan kurikulum, kerja KKM setempat, kerja KKG setempat, baru guru yang membuat soal. Tidak langsung terburu menuduh dan berpolemik tanpa memikirkan akibatnya. Usulan penarikan soal, pembuatan soal, ujian ulang itu usulan yang mengada-ada, mempersulit semua pihak. Seharusnya yang mengawali polemik tersebut mengedepankan proses pengkajian mendalam, bukan malah menimbulkan kontroversi yang sebenarnya tidak perlu bahkan berlebihan. 


Sedangkan kritik bagi pelapor pertama di antaranya, LBHNU ini seringkali menimbulkan kegaduhan mengatasnamakan banyak orang, misal dalam kasus PAS Ganjil Fikih kelas 12, menyatakan banyak keluhan dari wali siswa, harus diungkap berapa wali yang menolak dan berapa wali yang tidak mempermasalahkan. Pola ini menjadi kebiasaan LPBHNU, sekadar mengingatkan, beberapa waktu waktu yang lalu LPBHNU juga mengajukan penolakan terhadap sebuah acara kajian islam di Pare, yang berakhir pada pembatalan kajian, hampir sama salah satu alasannya, ditolak masyarakat sekitar, tidak sesuai dengan karakter masyarakat sekitar dan dikaitkan dengan HTI. Jelas seperti ini adalah alasan sepihak, penulis yang tinggal tidak jauh dari tempat acara, serta warga asli yang lama tinggal di sekitar tempat acara tidak menjumpai fakta asumsi tersebut. Apakah sebegitu rendahnya proses berpikir sebuah LBH?


Oleh karena itu, mari membiasakan diri untuk menelaah terlebih dahulu, tidak terjebak pada pendapat tanpa ilmu dan informasi. Untuk redaksi Ag243, jika memang apa yang ditayangkan di laman tersebut adalah tulisan jurnalistik, maka juga mempunyai kewajiban untuk memastikan apakah tulisan tersebut sudah sesuai dengan kaidah jurnalistik, sudahkah dimuat dengan kaidah berimbang, akurat dan bisa dipertanggungjawabkan? Semoga bisa menjadi bahan renungan kita semua untuk menuju Kediri lebih bermartabat. Aamiin.

Pare, 5 Desember 2019