Monday, 25 November 2019

Penyesatan Ajaran Islam Melalui Perombakan Buku Agama



Kementerian Agama mulai meluncurkan langkah yang kontroversial, salah satunya adalah rencana perombakan 155 buku agama yang memiliki konten materi khilafah. Tanpa basa-basi buku yang disasar untuk dirombak adalah buku agama Islam,  dengan jelas kemenag menyatakan bahwa buku agama yang selama bertahun-tahun telah diajarkan sebagai materi yang tak layak disampaikan. Padahal buku agama yang telah lama beredar juga merupakan buku yang sesuai kurikulum yang dibuat oleh pemerintah. Maka secara tidak langsung kementerian agama saat ini telah menyalahkan kurikulum yang telah disusun sebelumnya. Dan lebih jauh lagi, semua buku agama yang dibuat adalah buku yang telah disusun berdasarkan sumber kitab yang dikarang para ulama terdahulu, maka bisa dikatakan perombakan ini juga bentuk pernyataan bahwa apa yang selama ini disampaikan para ulama tentang syariat Islam adalah ajaran yang salah.
Alasan bahwa buku-buku tersebut telah menciptakan umat yang radikal hanyalah kamuflase saja, ada latar belakang yang lebih dari sekadar upaya deradikalisasi. Yaitu upaya penyesatan ajaran Islam. Dengan merombak buku agama, maka kementerian agama hendak membatasi informasi tentang ajaran agama Islam yang lengkap dan sempurna. Atau memperbolehkan ajaran agama disampaikan namun sebatas pengetahuan saja sembari melabeli ajaran Islan saat ini tidak cocok diterapkan. Salah satu ajaran Islam yang hendak dirombak adalah materi tentang khilafah. Maka dengan kata lain kemenag telah menyatakan bahwa khilafah yang merupakan warisan Rasulullah saw sebagai ajaran sebatas sejarah belaka, tidak bisa menjadi solusi dalam kehidupan manusia.
Perombakan buku agama merupakan langkah yang wajar bagi penguasa sekular. Penguasa yang abai dengan dengan penerapan syariat secara kaffah. Di satu sisi penguasa takut dengan penerapan ajaran Islam dalam semua aspek kehidupan, di sisi lain penguasa berupaya mencegah agar kesadaran umat Islam untuk kembali pada ajarannya tidak semakin meluas. Bahkan jika perlu mengkriminalisasi para penyampai khilafah, menciptakan islamophobia agar masyarakat semakin ketakutan dengan ajaran Islam. Jika kebijakan perombakan buku agama tetap dilakukan, maka jelas sudah bahwa rezim saat ini adalah rezim anti Islam, sehingga tak layak dipertahankan.

Nur Aini – Guru Madrasah
Pare Kediri Jawa Timur


Thursday, 14 November 2019

Kejamnya BPJS, Sukarela Kok Main Denda


Akhirnya keputusan untuk menaikkan iuran BPJS diambil oleh Negara meski diberlakukan tahun depan. Tidak hanya itu, penentuan jenis sanksi dan denda bagi penunggak iuran pun terus menuai kontroversi. BPJS mulai menampakkan wajah kejamnya dan menampakkan kegagalannya. BPJS perlahan akan terus menimbulkan masalah, maka seharusnya ada evaluasi menyeluruh dalam pelaksanaan sistem BPJS ini. Dan jika perlu secepatnya BPJS dihentikan.
Sejak awal BPJS adalah bentuk dari lepas tangannya negara dari tanggung jawab pelayanan kesehatan kepada warga negaranya. Atas nama gotong royong, ta’awun dan bantuan sukarela kepada sesama, negara mengumpulkan dana dari masyarakat demi pelayanan kesehatan. Padahal seharusnya negaralah yang berupaya memenuhi pelayan kesehatan rakyat dengan pelayanan terbaik, dan murah, bahkan menggratiskan. Karena kesehatan adalah kebutuhan pokok yang wajib dijamin negara, dan negara wajib memanfaatkan sumber ekonomi yang terkait hajat hidup rakyat untuk kepentingan seluruh warga negara. Namun ironi, bukannnya meningkatkatkan pelayanan, negara malah semakin memalak rakyat dengan kenaikan iuran. Paradoks, yang awalnya memotivasi warga negara untuk saling membantu namun malah berakhir pada melambungnya iuran dan kejamnya ancaman sanksi yang diberikan. Maka jelas, ini adalah bentuk lepas tangannya negara, negara hanya sebatas regulator, dan ini adalah karakter negara yang berpijak pada sistem kapitalisme. Oleh karena itu, jika kita menginginkan terlepas dari konsep batil dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan, maka kita harus mencari alternatif sistem pelayanan kesehatan selain solusi dari sistem kapitalisme yang mempunyai asas pelayanan yang tidak memanusiakan manusia, melainkan memperlakukan manusia sesuai dengan kekayaannya. Alternative tersebut adalah  khilafah.
Adapun konsep tata kelola pelayanan dan sistem kesehatan khilafah adalah konsep yang terpancar dari aqidah Islam, berasal dari Allah SWT Al Quran dan As Sunnah, dan apa yang ditunjuki keduanya. Yang terpenting di antaranya, adalah,
Pertama, kesehatan/pelayanan kesehatan merupakan pelayanan dasar publik yang bersifat sosial, bukan komersial.  Yang demikian karena Rasulullah saw telah bertutur, artinya, “Siapa saja yang ketika memasuki pagi hari mendapai keadaan aman kelompoknya, sehat badanya, memiliki bahan makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah menjadi miliknya”.  (HR Bukhari).  Ini di satu aspek, aspek yang lain, didasarkan pada perbuatan Rasulullah saw.  Yaitu ketika beliau dihadiahi seorang dokter, dokter tersebut dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan kaum muslimin. Kedua, pemerintah/negara telah diamanahkan Allah swt sebagai pihak yang bertanggungjawab penuh  menjamin pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan setiap individu masyarakat.  Diberikan secara cuma-cuma dengan kualitas terbaik, tidak saja bagi yang miskin tapi juga yang kaya, apapun warna kulit dan agamanya.   Tentang tugas penting dan mulia ini telah ditegaskan Rasulullah dalam tuturnya, yang artinya,”Imam (Khalifah) yang menjadi pemimpin manusia, adalah (laksana) penggembala.  Dan hanya dialah yang bertanggungjawab terhadap (urusan) rakyatnya.” (HR Al- Bukhari). Ketiga, pembiayaan yang bersifat mutlak oleh Negara. Keempat, konsep kendali mutu yang mengacu pada tiga strategi utama. Yaitu administrasi yang simple, segera dalam pelaksanaan, dan dilaksanakan oleh personal yang kapabel.  Yang demikian karena Rasulullah saw telah bersabda, artinya, “Sesungguhnya Allah swt telah mewajibkan berbuat ihsan atas segala sesuatu….”. (HR Muslim).


Thursday, 7 November 2019

Ada Kebaikan Dalam Ujian, Ikhlas dan Sabar


Jam tangan , merk tertentu tidak terlalu mahal, gelang sudah tidak original. Tak sengaja terlempar dan terbanting. Jarum detik tak bergerak, seperti biasa mencoba  menormalkan dengan memutar pengatur jarum, tetap mati. Bismillah, akhirnya memukul-mukulkan jam tangan  ke meja. Alhamdulillah jarum detik kembali bergerak. Dan berputar normal, tepat waktu.

Mungkin seperti itu juga dalam kehidupan, terkadang ada ujian, ada cobaan, butuh ujian lagi, ujian yang terasa menyakitkan, namun dengan keyakinan semua bisa diselesaikan. Hadapi dengan kesabaran dan keikhlasan

Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan. (QS Ali Imran 186).

“Sungguh menakjubkan perkaranya orang mukmin. Segala sesuatu yang terjadi padanya semua merupakan kebaikan. Ini terjadi hanya pada orang mukmin. Jika mendapat sesuatu yang menyenangkan dia bersyukur, maka itu kebaikan baginya. Jika mendapat keburukan dia bersabar, maka itu juga kebaikan baginya“ (H.R Muslim).

Btw, ketika memukul jam tangan ke meja, sudah pasrah jika memang sudah tak bisa digunakan. Jika sempat membawa ke tukang servis dan berharap ada rejeki untuk membeli yang baru. Namun Alhamdulillah, rezeki tak kan kemana, masih bisa dipakai.




Wednesday, 6 November 2019

Melibatkan Anak Dalam Dakwah Berjamaah, Salahkah?



Suasana dakwah yang semakin menggelora nampaknya semakin membuat gerah para penentang dakwah. Berbagai dalih dikeluarkan untuk mencegah masifnya dakwah. Salah satunya adalah kritikan pada pelibatan anak dalam aksi dakwah. Namun ada pula yang membela bahwa anak pun berhak berada di muka umum untuk menyampaikan pendapat. Sebagai muslim tentu tidak akan terpengaruh dengan opini murahan dalam rangka menghentikan dakwah. Melibatkan anak dalam dakwah berjamaah sudah dilakukan Rasulullah saw jauh  hari.
Di awal dakwahnya, Rasulullah saw mengajak orang-orang telah siap menerima  dakwahnya  tanpa  melihat  usia,  kedudukan,  jenis kelamin, dan asal usulnya. Beliau tidak pernah memilih-milih orang yang akan diseru kepada Islam, beliau mengajak semua umat manusia, menuntut kesiapan mereka untuk menerima Islam.  Banyak  yang masuk Islam. Beliau sangat bersemangat membina semua orang yang memeluk Islam dengan hukum-hukum agama dan meminta mereka untuk menghapalkan al-Quran.
Rasulullah saw membina dan mengorganisir para sahabat. Tidak sedikit di antara mereka yang masih berusia belasan tahun. ‘Ali bin Abi Thalib 8 tahun, Zubair binal-Awwam 8 tahun, Thalhah bin ‘Ubaidillah 11 tahun,  Arqam bin Abi al-Arqam 12 tahun, ‘Abdullah bin Mas’ud 14 tahun, Sa’ad bin Abi Waqash 17 tahun, Mas’ud bin Rabi’ah 17 tahun dan masih banyak lagi para sahabat yang berusia di bawah 18 tahun, yang jika berdasar UU Perlindungan Anak masih terkategori sebagai anak. Dengan fakta ini, akankah kita menuduh Rasulullah telah abai dengan hak anak dan telah mengeksplotasi anak? 
Setelah tiga tahun membina para sahabat, Rasullullah yakin sahabat sudah matang, ‘aqliyah islamiyah dan nafsiyah islamiyah telah terbentuk. Kemudian turunlah Surah Al Hijr ayat 94 : Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah kamu dariorang-orang yang musyrik. Dan para sahabat yang di antaranya anak-anak pun siap keluar dalam dua barisan menyampaikan Islam secara terbuka di sekitar Ka’bah.


Tuesday, 5 November 2019

Langkah Mudah Memulai Dakwah


Terkadang  pengemban dakwah merasa bingung ketika hendak memulai dakwah. Halyang wajar, namun jika dibiarkan bisa jadi akan berakhir pada kejumudan. Tak perlu gundah, kita punya teladan terbaik, Rasulullah saw. Ketika Rasulullah menerima wahyu pertama kali, beliau mengajak Khadijah ra. Masuk Islam, kemudian sepupunya  Ali bin Abi Thalib, pelayannya , Zaid. Berlanjut pada sahabat terdekat, Abu Bakar.  Abu Bakar pun mengajak para sahabatnya, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqash dan Thalhah bin Ubaidillah. Setelah itu, susul-menyusul orang-orang di Makkah memeluk  Islam. Dakwah terus bergulir,  Rasulullah tanpa lelah berkeliling dari satu rumah ke rumah, memanfaatkan setiap kesempatan untuk  menyampaikan dan mengajak orang lain masuk Islam.

Tidak hanya mengajak masuk Islam, Rasulullah juga membina orang-orang yang masuk Islam, bersama melaksanakan salat meski sembunyi-sembunyi. Semua bertujuan untuk menguatkan dan membentuk suasana berjamaah. Rasulullah menggembleng para sahabat dengan pemikiran Islam, hingga saat Allah memerintahkan untuk menyeru manusia secara langsung, berbekal iman yang kuat siap menghadapi semua resiko dakwah.

Demikianlah  awal dakwah Rasulullah. Beliau menyeru yang ada di sekitarnya terlebih dahulu, memanfaatkan hubungan dekat dan komunitas, memanfaatkan setiap kesempatan bertemu dengan orang lain. Begitu pula dengan kita. Memulai dakwah dengan mengajak orang terdekat kita, keluarga, kerabat dan sahabat. Juga  berinteraksi dengan orang yang sering bertemu baik di lingkungan tempat tinggal hingga lingkungan kerja. Mendakwahi semua orang yang kita jumpai. Maka tidak ada lagi alasan untuk bingung memulai langkah dakwah, kita manusia dan pasti hidup di tengah manusia lainnya, dan semua manusia berpeluang untuk menerima dakwah kita. Dengan motivasi ruhiyah, bahwa dakwah adalah kewajiban, apapun hasilnya dan resikonya, dakwah akan terus dilaksanakan. Hingga kematian yang menghentikan





Thursday, 24 October 2019

Tanpa Aspirasi Perlahan Demokrasi Mati



Entah apa yang merasuki rezim ini. Semakin hari semakin represif dan melakukan apa saja untuk membungkam siapapun yang tak sejalan dengan penguasa. Peringatan keras kepada ASN yang mengkritik pemerintah melalui media sosial, pencopotan jabatan beberapa anggota TNI karena status para istri, hingga proses hukum yang cepat atas para pengkritik dengan alasan ujaran kebencian. Belum lagi tindakan represif aparat  saat demonstrasi menyampaikan aspirasi. Rentetan peristiwa yang sangat bertolak belakang dengan klaim sebagai penguasa yang demokratis dan terpilih melalui pesta demokrasi. Kebebasan berpendapat yang dijamin dalam sistem demokrasi seolah hanya omong kosong belaka, sebatas jargon pemanis kata.

Namun dibungkamnya kebebasan berpendapat, perlahan namun pasti akan terjadi meski berada dalam sistem demokrasi. Kedok jahat demokrasi yang menjadi andalan sistem pemerintahan kapitalis sekular akan semakin terbuka. Sejatinya tidak ada kebebasan menyampaikan aspirasi dalam demokrasi, yang ada adalah usaha mempertahankan kekuasaan dengan segala cara dan menjamin kepentingan para pemilik modal saja. Kepentingan dan suara rakyat sama sekali tak mendapat ruang selama tidak berpihak pada penguasa. Tirani minoritas yang berkuasa akan menindas mayoritas. Dengan demikian kita tinggal menanti lonceng kematian demokrasi berbunyi.

Memang inilah wajah asli demokrasi, jargon dari, oleh dan untuk rakyat hanya kedok belaka, sejatinya para pemilik modallah yang menentukan segalanya, kritik dari rakyat hanya akan dianggap sebagai angin lalu,  bahkan jika perlu dikriminalkan. Sangat berbeda jauh dengan sistem Islam yang  membuka lebar pintu kritik, masukan dan muhasabah kepada penguasa. Dalam Islam, selama masih dalam koridor akidah dan hukum Islam, kritik atau muhasabah adalah kontrol pada penguasa di saat menjalankan amanahnya sebagai pengurus urusan rakyat. Sebagaimana yang dilaksanakan Rasulullah dan para khalifah terdahulu. Rasulullah saw tak sungkan meminta masukan dari para sahabat, seabagaimana Umar Khattab ra. menerima kritikan atas kebijakannya membatasi mahar, Muawiyah ra. yang tak marah dikritik Jariyah bin Qudama as-Sa’adi di depan menteri Romawi yang sedang berkunjung, dan masih banyak lagi peristiwa lainnya, dengan kesimpulan yang satu, penguasa yang menjalankan sistem Islam bukanlah pemimpin yang alergi mendengarkan aspirasi.



Monday, 21 October 2019

Baca Saja Tulisannya : ISYARAT



Mungkin tak banyak yang menyadari ada yang tidak pas dengan tulisan di rambu lalu lintas yang lama terpampang, entahlah sejak kapan tulisan itu terpasang.

Tapi apapun yang tertulis, sudah baca saja :  ISYARAT.

Tidak usah protes, apalagi demo. Terima saja rambu itu, anggap tulisannya benar.

Hampir mirip dengan suasana hari ini.

Awas jangan demo, yang mengganggu pelantikan akan berhadapan dengan tentara, semua harus satu suara : kami bahagia, selamat bekerja.

Ribuan pasukan keamanan dikerahkan seolah akan ada yang berbuat kerusuhan. Kecurigaan kepada rakyatnya semakin memuncak, kawat berduri dan aparat bersenjata lengkap pun siap menghadang siapapun yang tidak berbahagia.

Semua dipaksa sama rasa, merasa baik-baik saja. Semua dipaksa melupakan darah yang tertumpah dan nyawa yang melayang selama pemilu hingga menjelang naik tahta.

Percaya saja dengan media corong mereka. Setuju saja dengan narasi berita yang dibangun istana. Semua diminta menerima dengan lapang dada dan mendukung programnya lima tahun ke depan.

Entahlah, apa yang telah menutup mata para pendukungnya, kesalahan yang berderet tak dipedulikan, kedzaliman nampak mata namun tak dianggap ada.

Namun kami, tidak akan berdiam diri. Tidak akan menjilat demi kue kekuasaan. Kami tetap setia, berjuang demi tegaknya khilafah rasyidah'ala minhajinnubuwah.

Pare, 20 Oktober 2019

Tulisan rambu lalin di perempatan Bogo Plemahan (pojok selatan barat)

Thursday, 3 October 2019

Guru, Operator, Mencari Pinjaman, Sekaligus Teknisi



Mulai tahun ini Penilaian Tengah Semester kelas 6 sudah menggunakan aplikasi, CBT. Jika tahun sebelumnya masih ujian akhir sekolah saja CBT, maka tahun ini jauh hari siswa disiapkan untuk biasa dengan ujian berbasis komputer. Minimal mereka sudah biasa menghadapi soal tanpa kertas. Memang CBT ini lebih hemat kertas, nilai bisa segera diketahui, kecepatan pengerjaan soal juga terukur.

Namun lagi-lagi kendala teknis fasilitas dan sarana menjadi masalah utama. Sekolah harus punya koneksi internet, punya alat agar koneksi internet bisa dinikmati banyak siswa. Dan siswa pun harus punya laptop atau smartphone.

Sudah bukan rahasia lagi, tidak semua sekolah punya fasilitas lengkap, tidak semua siswa punya laptop atau smartphone, tidak semua guru dan siswa melek teknologi. Tidak semua orang tua siswa peduli dan memfasilitasi.

Dan selama menjadi guru tak pernah menjumpai guru lain yang begitu mudahnya berlepas tangan membiarkan siswa berusaha sendiri. Selalu guru berusaha sekuat tenaga memberikan yang terbaik untuk siswanya. Jadilah dalam CBT ini, guru yang mempunyai laptop, smartphone lebih dari satu meminjamkan apa yang dipunya, bahkan mencarikan pinjaman kepada kerabat atau kenalannya. Yang penting siswanya bisa ujian.

Tidak berhenti sampai di sini. Dengan keterbatasan kemampuan akademik dan ekonomi siswa, guru lagi-lagi pontang-panting menghadapi masalah di lapangan. Maka bertambahlah tugas guru, menjadi operator dan teknisi. Memastikan semua siswa bisa akses soal, otak-atik laptop dan smartphone yang error, sampai memasang kabel sana-sini, nyambung kabel, mengamankan kabel yang berpotensi nyetrum dsb. Karena tidak semua siswa mandiri. Dan parahnya jika di sekolah swasta itu semua dilakukan oleh guru-guru honorer yang gajinya amat sangat di bawah UMR.

Di sinilah rasanya ingin menuntut penguasa dan pejabatnya. Rasangan marah banget ketika ada pejabat yang korupsi, enak nian mereka, padahal kami di bawah terus terengah-engah. Tata kelola negeri ini begitu amburadul, ketidakidealan terjadi di berbagai bidang.

Mohon tidak dengan ringan berucap : pindah sekolah aja kok repot, ya itu resiko jadi guru, usaha donk jangan mengeluh terus. Berucap gitu?  Ayo ketemuan! Tak klethak kon. Sadis? Yo bah!

Ya semua pasti ingin normal, ideal, cateris paribus. Outlier alias pencilan itu normal terjadi, tapi jika banyak outlier ya harus berpikir ada yang salah dengan proses. Harus ada perbaikan.

Sementara sampai di sini keluh kesah menghadapi CBT. Mau ngomel masalah lain yang berkaitan dengan problem pendidikan di negeri ini ya ga bakalan kelar seharian, sangking kompleksnya permasalahan yang dihadapi.

Dan saya memang masih memilih jadi guru. Namun tak berhenti sampai di sini, saya punya visi jangka panjang yang akan terus diperjuangkan, menegakkan khilafah. Dengan khilafah islam kaffah akan diterapkan. Yakin khilafah adalah ajaran Islam, sistem terbaik dari Allah dan RasulNya. Jika ada yang bilang : pengemban khilafah keluar saja dari Indonesia, akan disiapkan sanksi hukum bagi penyampai khilafah, bercita-cita khilafah tegak itu anti NKRI, mengkhianati pahlawan, anti Pancasila dll, biarin EGP.

Kok ngeyel khilafah terus sich? Ayo ketemuan, ngobrol diskusi, boleh sambil ngeteh atau ngopi dan makan weci. Santai saja, ga usah ngegas, terpengaruh dengan opini negatif tentang khilafah.

Terakhir, salam hormat untuk Bapak-Ibu Guru di seluruh pejuru Indonesia, jasamu memang tiada tara. Semoga tetap ikhlas beramal. Aamiin

Pare,  3 Oktober 2019

Wednesday, 2 October 2019

Ooh.. Ternyata Relawan Itu Dibayar?


Membaca sebuah komentar di link berita. Berita tentang para relawan dan buzzer yang berjuang menguasai media massa dengan tulisan dan informasi yang bersumber dari tim buzzer untuk membentuk opini sesuai keinginan atau semua hal yang menguntungkan pemesan sekaligus junjungan mereka. Bahkan hingga menyebarkan informasi hoax pun dilakukan.

Di komentar link tersebut ada yang berbagi informasi bahwa para buzzer relawan tersebut bekerja karena memang ada imbalan, ada bayaran. Dan yang lain pun menanggapi dengan nada heran, karena dalam persepsinya relawan itu bekerja karena murni setia bukan karena dibayar.

Memang selama ini relawan itu identik dengan keloyalan tanpa imbalan, maka wajar jika ada yang heran. Namun bagi yang paham dengan karakter orang kapitalis pasti tahu, mereka bekerja atas asas manfaat dan kepentingan. Selama ada jaminan manfaat dan kepentingan apapun rela dilakukan. Salah satunya adalah selama ada dana maka mereka akan terus bergerak. Maka untuk melangsungkan simbiosis mutualisme antara pemesan sekaligus penyandang dana, dengan para tim relawan maka dana terus dikucurkan. Penyandang dana akan terus mencari peluang mencari dana dan relawan akan terus melayaninya. Maka sebaliknya, kesetiaan para relawan akan berakhir seiring dengan seretnya aliran dana. Memang begitulah prinsip amal bagi pengemban ideologi kapitalisme.

Jelas sudah, mereka sejatinya bukan relawan, tapi bergerak karena tawaran materi. Jadi tinggal menunggu mereka kehabisan dana pasti gerak mereka akan berakhir juga.

Namun cukupkah menunggu saja? Jelas tidak. Butuh keyakinan dan aksi nyata. Pertama, butuh keyakinan, sebesar apapun dana yang dikerahkan orang kafir dan musuh Islam untuk menyerang Islam dengan opini hoax, juga sebesar apapun usaha untuk mengjamcurkan Islam, pasti kekalahan saja yang mereka dapatkan (Surah al anfaal 36). Kedua, butuh aksi nyata. Berupa langkah tandingan dalam rangka counter and attack. Tim relawan buzzer yang terus menggempur opini hoax harus dilawan dengan tulisan mencerahkan, tulisan ideologis dari sudut pandang syariat. Dan langkah nyata yang tak kalah pentingnya adalah menggencaran dakwah ideologis. Disadari atau tidak, relawan jahat itu mempunyai misi melanggengkan pemikiran berbasis kapitalisme dan ide lain yang bertentangan dengan Islam. Dan mereka juga punya misi menjauhkah umat dari pemikiran yang sahih dan akhirnya kebangkitan Islam pun hendak mereka hadang. Di sinilah urgensi dari mengerahkan seluruh upaya untuk berdakwah, baik secara lisan maupun lewat tulisan.

Yang pasti dakwah kita bukan sekadar karena materi, namun lebih dari itu. Dakwah ini semata lillah yang tak mengenal lelah hingga mati menghentikan langkah. Maka teruslah menyampaikan opini Islam, teruslah menyadarkan umat dengan dakwah Islam. Bukan bayaran yang menggerakkan kita, namun perintah dari Yang Maha Kaya cukup menjadi motivasi utama.

Pare, 2 Oktober 2019


Thursday, 19 September 2019

Mencegah Yang Mungkin Biasa Terjadi



Perjalanan naik kereta duduk di pinggir jendela, Jombang –Yogya. Bisa melihat kondisi di luar kereta. Sebelumnya tidak terlalu memperhatikan, sesekali suara khas kereta terdengar. Ternyata hanya dibunyikan beberapa saat sebelum lintasan penyeberangan rel. Baik yang resmi dengan penjaga dan palang pintu atau perlintasan kecil, sepi, tanpa palang pintu. Artinya masinis sudah hafal dengan jalur yang dilaluinya. Tahu kapan harus memberi tanda bahwa kereta sebentar lagi akan melintas. Berusaha mengingatkan agar bisa mencegah terjadinya kecelakaan. Jika masih saja ada kecelakaan karena tertabrak kereta bisa jadi lebih karena factor kelalaian penyeberang.

Maka jika masih saja terjadi kecelakaan salah satu hal yang harus ditingkatkan adalah kewaspadaan pengguna jalan selain kereta, karena bagaimanapun juga, kereta adalah salah satu kendaraan yang mendapat prioritas untuk melintas.

Begitulah, kewaspadaan dan usaha maksimal untuk mencegah kemungkinan musibah yang akan terjadi demi menyelamatkan nyawa manusia, wajib dilaksanakan. Jangan sampai kesalahan terus terulang tanpa ada upaya untuk mengantisipasi dan mencegah.

Dan saat ini, yang seharusnya bisa dicegah atau setidaknya diminimalisir adalah polusi berbahaya akibat kebakaran hutan dan lahan. Memang butuh keseriusan dan kepedulian semua pihak. Warga yang cepat tanggap, perusahaan yang berkepentingan pada pembukaan lahan dan keseungguhan pemerintah dalam mencegah dengan upaya preventif berupa antisipasi berdasarkan rekam data dan pemberian hukuman tegas agar berefek jera.

Terkadang warga lalai, perusahaan seenaknya sendiri hanya berfikir keuntungan materi pribadi dan negara tidak serius mengurusi urusan warganya.  Maka teruslah musibah berulang, dan akibatnya semua merasakan.

Pihak yang seharusnya paling mampu karena mempunyai kekuasaan adalah penguasa, pemimpin, terutama kepala Negara dengan dibantu aparaturnya. Pertanyaannya adalah benarkah penguasa peduli dan amanah dengan urusan rakyatnya? Atau sekadar mempunyai jabatan demi kepentingan pribadi dan golongan?

Kembali pada kebakaran hutan dan lahan, jika benar-benar peduli, asap akibat karhutla adalah bencana yang bisa diprediksi, maka bisa juga diantisipasi. Yang jelas adalah dengan meminimalisir titik api karena ulah manusia dan ini peran Negara dalam menegakkan hukum. Jika tidak ada kesadaran penguasa maka wajar jika masih ada yang memanfaatkan kelemahan ini. Kecuali jika penguasa bersimbiosis mutualisme dengan pengusaha, maka dalam system kapitalisme pasti rakyat yang menjadi korbannya.

Sedangkan adanya titik api akibat factor alam maka bisa dipantau dengan serius seperti apa yang dilakukan BMKG, dengan memantau fenomena alam. Sedangkan secara data, kemungkinan terjadinya kebakaran dan dampaknya juga bisa diprediksi. Ada beberapa bencana yang sifatnya musiman, karhutla berpeluang besar terjadi di musim kemarau panjang, sedangkan banjir berpeluang besar terjadi di musim hujan dengan bulan yang curah hujannya besar.

Dengan kolaborasi ilmuwan, aparat yang memegang amanat, dan penguasa yang takwa, semua menjadi mudah. Untuk pengolahan data prediksi bencana alam, cukup diserahkan pada mahasiswa statistic yang sudah dapat mata kuliah analisis time series. Tak perlu memberi imbalan melimpah, mahasiswa dapat data dan diberi kepercayaan mengolah data itu sudah menjadi kebahagiaan yang luar biasa. Apalagi dalam rangka membantu sesama pastilah akan membantu dengan suka cita. Memang pemanfaatan data untuk memprdediksi (forecasting) tidak selamanya akurat, namun setidaknya ada informasi awal agar bisa mencegah bencana.


Selanjutnya yang juga tak kalah penting adalah tindakan kuratif jika memang bencana tak bisa dihindari, lagi-lagi tetap membutuhkan kepedulian individu, gerak cepat masyarakat dan tentu yang paling penting adalah langkah nyata penguasa. 



Pare, 19 September 2019

Monday, 9 September 2019

Dakwah Kami Tetap Ada : Hijrah Menuju Syariah Kaffah


Alhamdulillah bisa menghadiri Tabligh Akbar dalam rangka menyambut 1 Muharram. Bersama saudara seperjuangan yang lama tak berjumpa.

Meski di jalan sempat gundah gulana, jantung berdebar begitu kerasnya, bukan karena ada pujaan hati, bukan. Tapi akibatnya luar biasa, hilang konsentrasi memilih jalan yang belum tau arahnya. Alhamdulillah sampai sesaat acara akan dimulai.

Sementara hanya hendak bercerita materi salah satu pembicara saja. Tentang ironi pulau penghasil aspal yang jalannya banyak belum beraspal. Itu hanya salah satu ironi yang terjadi di negeri ini, SDA melimpah namun rakyat tambah susah. Karena ada yang tidak tepat dengan negeri ini.

Kebijakan kapitalistis membuat para pemilik modal yang menguasai sebagian besar kekayaan. Pola pikir liberal yang membuat negara berlepas tangan atas fungsi sebagai pengurus urusan umat. Negara sebatas regulator. Rakyat dibiarkan bersaing dengan tidak adil, semua rakyat dituntut mandiri tanpa subsidi.

Sangat jauh dengan cara pandang Islam. SDA alam yang melimpah yang berkaitan dengan hajat hidup semua rakyat (kepemilikan umum)  tidak boleh dimiliki secara personal atau swasta bahkan asing. Negara sebagai wakil rakyat akan mengelola kepemilikan umum untuk kemaslahatan seluruh rakyatnya, semua hasilnya akan dikembalikan untuk melayani kebutuhan semua warga negara, bukan diserahkan kepada segelintir pemilik modal.

Bersambung

Pare, 3 September 2019

Banser Kuikhlaskan Syahidmu (2)



Kutahu hampir setiap hari kau latih badanmu
Kutahu kuatnya fisikmu

Tidakkah kau ingin membuktikan
Bahwa kekuatanmu bukan khayalan

Maka berjuanglah di Papua
Yang jelas terjadi huru-hara
Atau tak perlu ke timur Indonesia
Bantu aparat menjaga suporter bola
Agar tidak terjadi kerusuhan seperti di Kediri tercinta
Jelas nyata membuat kerusuhan karena membela idola

Berjuanglah dan jangan ragu
Sekali lagi kami ikhlaskan syahidmu

Jika engkau terus mengelak
Ijinkanlah kami tahu kenapa engkau menolak
Mengapa kepada perusuh kalian tak galak
Mengapa mempersekusi saudaramu cepat bergerak

Benarkah cintamu benar terpatri
Benarkah kesetiaanmu hanya untuk negeri
Atau jangan-jangan cinta kalian hanya di mulut tapi tak ada bukti
Atau jangan-jangan bergerak hanya karena iming-iming materi
Atau karena salah menyerap informasi
Entahlah tindakanmu seolah terselubung misteri

Namun sepertinya kalian begitu mudah dimanfaatkan
Begitu mudah dibenturkan

Jika benar cepatlah muhasabah
Jangan terus terjerumus dalam masalah

Masih ada waktu untuk berubah
Masih ada waktu untuk merajut  ukhuwah
Dan bersama berjuang menegakkan khilafah
Insya Allah semua akan menjadi indah

Pare, 3 September 2019

Mahasiswa, Kalian Di Kampus Ngapain Ajah Sich?



Dunia pertwiteran sedang ramai dengan kicauan tentang di DO nya seorang mahasiswa di IAIN Kendari. Tanpa SP, tanpa pembinaan tiba-tiba keluar keputusan DO. Jika mahasiswanya sukanya titip absen, ga lulus banyak matkul, sedikit memaklumi. Lha ini katanya malah mahasiswa berprestasi.

Tapi, bukannya tanpa alasan sich. Usut punya usut, mahasiswa tersebut adalah aktivis Islam. Vokal menyampaikan saran dan kritikan. Dan akhirnya, dengan cap terlibat pada aktivitas radikalisme, keluarlah keputusan DO. Lagi-lagi tanpa konfirmasi. Dzalim nian sang rektor.

Yang bikin tambah heran, itu kampus ada mahasiswanya ga sich, diam saja temannya didzalimi?

Emang di kampus ngapain aja? Beban S1 sekarang 300 SKS yach? Makanya ga sempat membela temannya, kerjaannya baca diktat, ngelab, praktikum gitchu terus setiap harinya? Atau terinspirasi jadi gamer seperti yang dibilang mukidi?

Udah pernah demo atau belum? Udah pernah turun ke jalan? Udah tapi protes parkiran kampus, protes hal remeh temeh icik kiwir? Gemes dech!

Udah itu ada aja berita mahasiswa bunuh diri, mahasiswa menghamili, mahasiswi dihamili berame-rame. Aduchh gaess, kamu itu agent of change, kamu tuch agen perubahan, masak di ospek ga dikasih tau sich? Eeh jangan-jangan, seniornya juga setali tiga uang, sami mawon.

Mahasiswa itu calon pemimpin bangsa, jadilah orang hebat, jadilah politisi sejati, ingat jangan jadi politisi yang mudah dibeli, jadilah politisi muslim yang berpegang teguh pada Alquran dan Sunah Nabi. Berjuanglah demi islam kaffah, terapkan islam dalam naungan khilafah.

Ingat itu!

Pare, 5 September 2019

Wednesday, 4 September 2019

Di Balik Foto





3 di antara banyak foto yang bertebaran di dunia maya
Bahkan salah satunya viral karena dipakai viva

Dalam salah satu komentar ada yang nyiyir berkata
Beraninya sebatas di dunia maya saja
Menang tagar hanya di sosial media

Sudah biarkan saja orang berkata apa
Memang tak hendak mengurus mereka

Hanya ingin menyampaikan sebuah rasa
Terimakasih untuk semua
Terutama untuk yang seolah tak terlihat dalam  agenda
Padahal karena mereka ada hasil karya
Mereka bersenjatakan kamera

Ada pula yang ikut lelah berkarya
Namun juga tak nampak dalam liputan agenda
Mereka berkorban harta, jiwa, raga dan tenaga

Itulah indahnya bersama jamaah
Masing-masing mempunyai amanah
Bekerja bersama dalam ikatan ukhuwah
Dan insya Allah akan mendapat pahala jariyah
Untuk semua kebaikan yang diamalkan semata lillah

Pare, 3 September 2019

#Muharram1441
#HijrahMenujuSyariahKaffah

Tuesday, 3 September 2019

Banser Kuikhlaskan Syahidmu(1)


Selalu nyaring dalam telinga
Sesumbarmu membela bangsa
Di depan menjadi garda
Menghadang semua bahaya
Semua demi negeri tercinta
Teriakanmu membahana
Menghalau semua di depan mata

Kami tahu kalian bukan aparat
Kami juga tahu kalian bukan orang jahat
Dan kami tahu kalian tidak akan berkhianat
Namun sekarang kalian  dibutuhkan umat
Menjadi pasukan penolong dan penyelamat

Papua membara
Meneriakkan tuntutan merdeka
Meminta pisah dari Indonesia
Jelas ini menjadi perpecahan nyata
Akankah kalian diam saja

Kami ikhlas dan rela
Melepasmu berjuang di Papua
Membela negara
Berangkat dan berjuanglah dengan taruhan nyawa
Darahmu tertumpah untuk membela bangsa
Dari rongrongan perusuh negara
Berkorbanlah sepenuh jiwa
Apabila syahid menyapa
Semoga dibalas dengan surga

Banser kuikhlaskan syahidmu berjuang demi keutuhan Indonesia



Bersambung

Pare, 30 Agustus 2019


Monday, 26 August 2019

Jangan Bubarkan Banser

Menyapa anggota Banser saat pengamanan peringatan Hari Santri 2016
(Barat Stadion Canda Bhirawa Pare Kediri)


Membaca berita, salah satu tuntutan pendemo di Sorong Papua Barat  adalah pembubaran ormas Banser. Belum tahu benar apakah Banser yang sama seperti yang ada dalam angan saya. Jika benar saya tidak sepakat jika Banser dibubarkan.

Dahulu pernah akan menghadiri pengajian akbar di Surabaya, memang sudah mendengar kabar jika pengajian tersebut akan digagalkan Banser. Sebagai orang yang pernah tinggal di Surabaya tidak yakin dengan kabar tersebut,tidak mungkin Banser sekejam itu,  maka berangkatlah dari Pare. Pengajian di Surabaya dimulai pagi, agar tidak telat berangkat dari Pare sebelum shubuh. Harapannya sudah sampai di Surabaya saat waktu shubuh dan bisa salat shubuh di tempat acara, namun apa dikata, tidak bisa tepat waktu. Akhirnya berusaha mencari masjid yang terdekat yang dilewati. Namun sungguh nestapa yang terasa, seolah tak percaya ini menimpa. Tidak boleh salat berhenti dan beristirahat menunggu waktu shuhuh yang sebentar lagi tiba. Pintu gerbang masjid tertutup, di luar dijaga Banser, mereka menghalau orang yang hendak masuk masjid. Seumur-umur merantau, apalagi di Surabaya baru kali ini tidak boleh salat. Banser pula yang tidak membolehkan. Hampir meneteskan mata, benar-benar tak percaya Banser begitu tega. Sesaat terasa sakit dan sesak di dada. Tapi terus mengingat sebuah nasehat, jaga ukhuwah islamiyah, jangan mau diadu domba dengan sesama muslim, serukan persatuan bukan perpecahan. Banser muslim, kita juga muslim, kita bersaudara, itu yang terus tertanam dalam pikiran. Dan di saat lain ketika masih saja mendengar kabar persekusi pengajian oleh Banser, pembakaran bendera tauhid oleh Banser, dan banyak lagi ulahnya, juga masih tetap tidak percaya itu benar-benar menjadi ulah Banser. Dan masih tetap optimis Banser tidak akan sekejam dan sebodoh itu. Jika pun ada, itu hanya oknum saja.

Banser, tak bisa dilepaskan dari NU. Sedangkan tetangga, kerabat, kenalan, saudara tidak sedikit yang aktif di NU. Memusuhi Banser bagi saya sama berarti memusuhi tetangga, kerabat, kenalan, bahkan keluarga. Maka juga tak berharap Banser dibubarkan. Namun tetap juga tidak sepakat dengan ulah oknum yang begitu brutalnya, seolah merasa benar sendiri, merasa paling kuat, paling berkuasa, boleh berbuat apa saja. Menduga mereka saat ini sedang diuji dengan itu semua. Apapun yang menjadi tindakannya seolah dibiarkan begitu saja oleh penguasa, mungkinkah ada simbiosis mutualisme dengan rezim yang berkuasa? Ada kedudukan, ada kucuran dana, ada kepercayaan namun semua harus dibayar dengan kesetiaan. Apapun yang diminta penguasa akan dilakukan dengan sukarela. Memang benar ada kewajiban taat kepada ulil amri, namun bukan sembarang ulil amri, hanya ulil amri yang taat kepada Allah dan RasulNya yang wajib ditaati. Bukan penguasa yang menerapakan system kapitalisme secular. Atau mungkin mereka berdalil, negera ini adalah wujud akad sepakat dari para ulama pendahulu, namun ini harus ditelusuri dengan jeli. Benarkah ulama final meyerah atau masih berusaha mengubah arah menuju penerapan syariah? Akad yang bagaimanakah yang boleh terus dilanjutkan?

Kembali pada pembubaran Banser, mungkinkah terjadi? Sangat mungkin, apalagi jika sikap arogan terus ditunjukkan, lama-lama masyarakat akan menuntut keadilan. Maka jika tidak ingin dibubarkan apa yang harus dilakukan? Yang pasti tidak boleh terus menjilat pada penguasa, berada di bawah ketiak penguasa, karena bagaimana pun juga mengandalkan keberadaan pihak lain (selain Allah) itu bukan sikap kesatria.

Catatan untuk Banser yang begitu mudah mempersekusi (tidak berlaku untuk Banser yang saya kenal yang insya Allah tidak pernah saya jumpai terlibat aksi persekusi) :
Banser harus mengubah diri, mendekat kepada umat, merangkul umat, bukan menjadi algojo penguasa yang legitimasinya rendah di mata rakyat. Banser harus mempunyai idealisme yang sahih, berpegang teguh pada Alquran dan Hadits, kembali belajar memperbanyak ilmu sebagaimana generasi ahlu sunah wal jamaah, mengabdi semata karena ilahi bukan karena dijanjikan materi dan kedudukan duniawi. Tidak mengandalkan kultus individu, tidak pula semata taat tanpa ilmu. Banser harus membiasakan berpikir cemerlang, fikrul mustaniir agar  tidak mudah terbawa arus atau maalah mudah disetir. Agar tidak mudah terdoktrin dan terdogma. Banser harus cerdas, jangan mau dibenturkan dengan sesama umat Islam. Harus menjadi pihak yang terdepan untuk mengajak umat bersatu, merangkul seluruh  umat Nabi Muhammad. Belajar memilah mana masalah ushul dan mana masalah furu’. Menambah cakrawala keilmuwan dengan ikut kajian tsaqafah Islam secara intensif, tidak melulu menjaga pengajian namun juga ikut dalam pengajian, dengan begitu ilmunya akan semakin bertambah dan bertambah, ibarat padi semakin berisi semakin merunduk, semakin tawadhuk, semakin mengayomi. Insya Allah dengan begitu umat akan semakin dekat dengan Banser.



Pare, 27 Agusutus 2019

Saturday, 17 August 2019

Takut HTI atau Islam ?


Sekali lagi menemui penolakan kajian dengan tuduhan yang tidak kreatif, dari dulu itu-itu saja, terlihat sekali gagal move on, kurang kerjaan atau hanya sekadar numpang tenar. Tanpa bukti menuduh pengisi kajian adalah eks HTI, menyampaikan ajaran yang meresahkan masyarakat, bertentangan dengan karakter masyarakat yang agamis, aliran sesat, Anti Pancasila, mengganti UUD 1945, menyampaikan ideology khilafah. Benar-benar tuduhan yang berat pertanggungjawabannya, tak hanya di dunia, juga di akhirat kelak.

Eks HTI, bagaimana membuktikannya? Hanya ikut euphoria yang mengenakan atribut kalimat tauhid, yang mengajak mengembalikan segala sesuatu pada timbangan syariah langsung auto HTI? Dangkal sekali mikirnya. Kalimat tauhid adalah identitas umat Islam, bukan HTI. Menerapkan syariah juga kewajiban semua muslim bukan hanya kewajiban HTI. Jadi sebenarnya yang ditolak itu HTI nya atau Islam?

Menyampaikan ajaran yang meresahkan masyarakat. Masyarakat yang mana, berapa banyak, apa buktinya? Jangan-jangan main asumsi saja. Harusnya dibuktikan dengan pengumpulan tanda tangan orang-orang yang menolak, dan isi penolakannya jelas juga tidak asal tanda-tangan. Misal menolak HTI, menolak bendera tauhid, menolak kajian Islam, menolak materi yang disampaikan (sebutkan dengan jelas juga, misal menolak contain materi kajian hijrah meneladani Rasulullah), menolak penerapan islam kaffah, ajarannya tidak sesuai dengan pemahaman kami dsb. Biar jelas, sebenarnya menolak HTI atau penerapan syariah?

Bertentangan dengan karakter masyarakat yang agamis. Ini juga butuh bukti dan data tidak asal tuduh. Benarkah masyarakat sekitar agamis? Jujur pernah mengetahui sebuah daerah yang menolak masjid digunakan kajian padahal jelas masyarakat sekitar jarang ke masjid, terkenal sebagai masyarakat abangan. Agamis dari Hongkong? Main klaim saja. Jadi yang ditolak HTI atau ajaran agama yang sebenarnya?

Aliran sesat. Wah ini tuduhan serius sekali. Harus membawa salinan putusan pengadilan atau setidaknya fatwa MUI, jangan main tuduh. Atau jangan-jangan semua yang tak sesuai keinginan para persecutor dianggap sesat. Lha katanya harus menghargai perbedaan, menjunjung tinggi  kebebasan berpendapat, harus toleran, ini kok malah intoleran, semua yang tak sepakat harus ditolak. Ini mau menolak HTI atau karena kepentingannya terusik?

Anti Pancasila. Tambah parah saja tuduhannya, tambah ngawur. Memangnya kajian Islam bertentangan dengan Pancasila? Sila berapa? Memangnya sekadar teriak saya Pancasila, Saya Indonesia tapi tertangkap KPK tidak anti Pancasila? Dan terus saja menyematkan anti Pancasila pada HTI. Sejak kapan HTI ateis, dari sisi mana HTI tidak berperikemanusiaan, kurang apa HTI mengingatkan persatuan, sejak kapan HTI melakukan tindakan kekerasan dengan mengenyampingkan musyawarah, sejak kapan HTI menyerukan keadilan tidak bagi seluruh rakyat Indonesia? Emang PKI atau anak PKI yang bangga jadi keturunan PKI? Emang HTI membantai, membunuh sana-sini? Emang HTI OPM , RMS atau pencetus lepasnya Timor-timur? Emang HTI sukanya membuli, mempersekusi dan membubarkan pengajian tanpa sedikitpun menyampaikan argument? Emang HTI yang menjual SDA kepada asing, yang ngundang TKA, yang impor semua hal?
Jadi ini menolak HTI atau membela kepentingan penguasa oportunis yang legitimasinya rendah di mata rakyatnya?

Mengganti UUD 1945. Sejak kapan UUD 1945 bisa diamandemen ormas? Terlihat serampangan tanpa ilmu. Memangnya UUD 1945 dari awal sampai sekarang sama sekali tidak berubah,  kok alergi sekali dengan perubahan. Ini sebenarnya menolak HTI atau takut posisi dalam kekuasaan, posisi di hadapan para penyandang dana terancam?

Menyampaikan ideology khilafah. Jelas ini perlu belajar lagi. Khilafah kok ideology, khilafah itu ajaran Islam, warisan Rasulullah. Kemarin Ramadhan terawih paham nggak sih ucapan bilal yang terus menyebut para khalifah pemimpin khilafah? Jadi ini menolak HTI atau menolak ajaran Islam?

Maka, jujur saja. Sebenarnya takut HTI, takut penerapan Islam kaffah, takut aliran dana terhenti, takut kepentingannya terusik. Itu kan yang ditakutkan? HTI sekadar alasan saja.

HTI hanyalah jamaah dakwah yang memilih aktivitas politik, berdakwah karena kewajiban yang telah jelas disebutkan dalam Alquran dan Hadits. HTI hanya menyampaikan ajaran Islam. Dan berdakwah-menyampaikan ajaran Islam itu bukan hanya kewajiban HTI, maka ketika ada muslim yang juga menyampaikan dakwah dan ajaran Islam sebagaimana yang disampaikan HTI ya memang sudah seharusnya bukan malah dituduh auto HTI.

Terakhir, ketika menghadapi orang-orang sesama muslim yang menolak kajian Islam, tidak boleh dengan emosi, tidak boleh langsung panas. Jangan mudah diadu domba. Kedepankan ukhuwah, dahulukan menyampaian argument dengan santun dan logis, berikan senyuman manis. Tak perlu terbawa narasi jahat orang-orang yang sengaja membenturkan umat Islam, sengaja menyibukkan umat Islam dengan perpecahan. 




Pare, 17 Agustus 2019


Thursday, 15 August 2019

Don’t Worry, Kami Bukan Tipe Yang Mudah Pindah Ke Lain Hati Apalagi Sekadar Karena Sepiring Nasi


Bendera tauhid terus dipermasalahkan, dikaitkan dengan radikalisme, dikatakan milik ormas terlarang. Jika tidak mengingat bahwa Allah itu Maha Sabar, jika tidak ingat ada kewajiban amar makruf nahi munkar, mungkin rasanya ingin menantang duel saja…eh ga sich, nantang ngerjakan soal olimpiade saja dech. Minimal biar otak terasah, terbiasa mikir.

Sepertinya mereka yang  terus mempermasalahkan itu semua seolah tak punya otak sebagai penyimpan memori, sehingga ketika sudah dijelaskan berungkali tetap saja bebal dan tak bisa mencerap informasi. Sudah dibilang berkali-kali bendera tauhid yang selama ini dikenalkan oleh HTI adalah bendera dan panji Rasulullah, tetap saja ngeyel itu bendera HTI, sudah dibilang  HTI itu aktivitasnya dakwah politik tetap saja dibilang radikal, sudah dijelaskan HTI adalah ormas tanpa BHP saja tidak otomatis jadi ormas terlarang  terus saja menyamakan dengan PKI yang jelas terang benderang terlarang karena ada TAP MPRS yang sifatnya tetap.

Dan terus saja stigma negative disematkan pada ide khilafah dan kepada pejuangnya, padahal nyata yang banyak membuat ulah merugikan rakyat, bangsa dan Negara adalah mereka yang hobinya teriak cinta mati sama NKRI dan menjadi sosok ter Pancasilais.

Namun, dengan serangan yang bertubi-tubi bahkan dengan sanksi dan persekusi yang dialami, apakah perjuangan menegakkan khilafah akan berhenti? Jelas TIDAK.

Para pejuang khilafah sudah berkomitmen untuk istiqamah di jalan dakwah, langkahnya tidak akan goyah hanya karena tawaran materi. Meski terus dibuli, langkah menebar kebaikan secara personal maupun bersama jamaah dakwah akan terus dilakukan. Perjuangan menegakkan khilafah bukanlah perjuangan yang remeh-temeh, bukan perjuangan yang pantas untuk diulur, dikendorkan apalagi dihentikan. Ada janji dari Allah yang sudah menghunjam ke hati, ada kewajiban dari Allah yang telah terpatri dalam jiwa, perjuangan menegakkan khilafah hanya akan berhenti ketika nafas sudah tidak di kandung badan. Dan jika ajal telah menjemput namun khilafah belum tegak juga, ada pahala jariyah yang akan terus mengalir, maka taka da yang sia-sia dengan perjuangan menegakkan khilafah.

Jangan khawatir, para pejuang khilafah tidak akan mudah berpindah ke lain hati hanya karena persekusi. Dan jika ada yang tergoda dunia, mungkin karena lemahnya hati mereka, membuat akhirat tak lagi menjadi visi hidup.
Dan alhamdulillah, dalam silsilah terlahir dari keturunan yang semoga terjaga dari label pengkhianat bangsa apalagi pengkhianat agama. Bukan terlahir dari para pendahulu yang mudah berpindah ke lain hati hanya karena urusan duniawi. Dan jika tersemat gelar radikal, ekstrimis dan fundamentalis tidak masalah jika selama itu keluar dari mulut para penjajah dan komprador.

Dan kami akan terus berjuang demi melanjutkan  kehidupan Islam dengan menerapkan Islam kaffah dalam naungan khilafah. Kami yakin, orang tua, kakek-nenek, buyut kami yang dahulu juga mencurahkan segala usaha untuk mengusir penjajah, yang berusaha sekuat tenaga meninggikan kalimat Allah pasti akan bangga dengan perjuangan ini. Dan yang terpenting, kelak di akhirat semoga kami dikumpulkan dengan para nabi dan sahabat, serta orang-orang saleh, orang-orang yang berpegang teguh pada Alquran dan Assunah, orang yang mengajak untuk berhukum hanya dengan hukum Allah. Aamiin.

Pare, 15 Agustus 2019

Tuesday, 13 August 2019

Sorry Bro, Kita Horang Kayah, Ga Minat Jadi Penumpang Gelap



Masih gagal move on saja mereka, HTI lagi-lagi dicatut. Sebelumnya yang bawa bendera tauhid auto detected sebagai simpatisan HTI, lha sekarang dituduh jadi penumpang gelap. Diki-dikit kok HTI, eh..tapi..eh..HTI itu maunya ga dikit-dikit, HTI itu maunya banyak, total, kaffah menerapkan syariah dalam naungan khilafah.

Sorry banget, kita horang kayah, punya banyak dana karena SK gerak HTI itu langsung dari Allah perintahnya jelas ada dalam Alquran surat Ali Imran ayat 104. Jadi yang menjamin kekayaan orang HTI juga otomatis Allah, dan setiap orang  yang  beriman pasti yakin Allah Maha Kaya, Allah Maha Pemberi Rezeki. Apalagi Allah juga sudah menjamin siapa saja yang menjadi penolong agamaNya pasti akan ditolong oleh Allah.

Sekali lagi, kita ga minat jadi penumpang gelap dalam system demokrasi yang melanggengkan ideology kapitalisme. Demokrasi itu sudah bikin dunia umat Islam gelap gulita, jadi ga perlu jadi penumpang gelap, kita memilih jalan terang saja. Jalan yang telah diteladankan Rasulullah saw dalam meraih perubahan hakiki. Sedikitpun tak berkompromi dengan system kufur. HTI sudah punya protap baku dalam mewujudkan tujuannya, melangsungkan kehidupan Islam. Ada metode dakwah yang tak akan berubah meski gempuran jargon demokrasi yang busuk terus dilancarkan, meski iming-iming harta, tahta dan wanita terus ditawarkan, sekali lagi TIDAK akan mengubah komitmen untuk terus menapaki jalan Rasulullah, sahabat, tabi’in, tabiut tabiin dan manhaj salafus saleh. Sama sekali tak akan berubah, apalagi hanya dengan tawaran menu nasi goreng

Tahapan dakwah Hizbut Tahrir itu jelas, terang-benderang tidak ada yang  disembunyikan. Ada tiga tahan dakwah yang terus diperjuangkan Hizbut Tahrir.  Pertama,Tahap Tatsqif (pembinaan dan pengkaderan) yaitu Membina dan membekali kader-kader dakwah HT dengan Tsaqofah Islam yang telah diadopsi dan ditetapkan oleh HT  dalam rangka membentuk kerangka tubuh partai. Kedua, Tahap Tafa’ul(interaksi) dengan umat agar mampu mengemban Islam sehingga umat menjadikan Islam sebagai perkara utama  dalam kehidupannya serta berusaha menerapkan Islam dalam realitas kehidupan. Ketiga,Tahap istilamul hukmi (menerima kekuasaan ) dari umat untuk menerapkan Islam secara kaffah dan praktis  dan mengemban risalah Islam keseluruh dunia

Dalam setiap tahapan memang tidak sim salabim dilakukan dalam waktu singkat dengan sedikit aktivitas, ada banyak hal yang bisa dilakukan, terus belajar mengkaji Islam, mengajak semua yang ada di sekitar untuk mengenal Islam kaffah. Terus menyampaikan solusi islam atas semua permasalahan kehidupan, menjadikan Islam sebagai standar semua perbuatan, menjadikan penerapan Islam kaffah sebagai misi bersama. Dan terakhir menerima kepercayaan dari umat untuk memegang kekuasaan dalam rangka menerapkan syariah, sebagaimana kaum muslimin di Madinah mempercayakan kepemimpinan atas Madinah kepada Nabi Muhammad saw. Dan langkah kongkritnya adalah bersama HTI mengkaji system Islam. Pasti akan diberikan semua rahasia ide HT, tidak ada yang dikorupsi. Semua dijelaskan berdasarkan dalil syar’i.

Dan jika saat ini masih banyak yang memfitnah sana-sini, sok tahu dengan HTI padahal belum mengkaji, mengandalkan informasi sepihak dari para pembenci namun terus saja mencaci dan mengancam, sorry saja, tidak ngefek. Apalagi ada yang sukanya mengkambinghitamkan HTI, sudahlah percuma, bukannya menenggelamkan HTI, malah semakin membuat pengemban dakwahnya berusaha keras mencari cara agar opini dakwah terus eksis.

Tuduhan HTI menjadi penumpang gelap, akan mensuriahkan Indonesia, akan mengkudeta penguasa dengan kudeta yang berdarah-darah, memecah belah bangsa, menghilangkan Indonesia, dan sederet tuduhan murahan lainnya, itu semua hanya asumsi belaka. Terucap dari mulut tanpa ilmu yang terbungkam rapat dengan gemerlap materi dunia. Lahir dari antek kapitalis yang tak rela dunia sejahtera dalam naungan khilafah. Muncul dari pendengki jahat yang tak ingin kekuasaannya berakhir. Berasal dari musuh Islam yang tak akan rela Islam jaya.

Jadi kalo mau bawa-bawa HTI, yang elegan dikitlah. Masak horang kayah dituduh jadi penumpang gelap, seperti orang miskin saja yang mengemis harta demi dunia yang murah harganya, untuk ditukar dengan akhirat. Sorry, ga level!


Pare, 13 Agustus 2019