Tuesday, 27 September 2016

Makna Lafadz


Alquran adalah kitab yang berbahasa Arab, untuk memahaminya langkah awalnya adalah paham makna lafadz. Salah satunya huruf jar min. Dan min (مِنْ) adalah salah satu huruf yang mempunyai ragam fungsi dan maksud, yaitu :

Ibtida’ alghayah : permulaan tujuan. Bisa permulaan tempat atau waktu. Misalnya :
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS. Al Isra’ [17] : 1)

لا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ
Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguh-nya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa , sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih. (QS. At Taubah [9] : 108)

Tab’idh : sebagian. Misalnya :

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran [3] : 104)

Bayan : penjelasan. Misalnya :

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu ( QS. Al Anfal [8]: 60)

Za’idah : tambahan, yang tidak berarti apa-apa. Misalnya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu ( QS.al Mumtahanah [60]: 1)

Badal : pengganti. Misalnya :

أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الآخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلا قَلِيلٌ
Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia  sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal keni'matan hidup di dunia ini diakhirat hanyalah sedikit ( QS. At Taubah [9]: 38)

Sumber:
Ushul Fikih : Membangun Paradigma Berfikir Tasyri'i ( Drs. Hafidz Abdurrahman, MA)

Monday, 19 September 2016

Semua Ini Bisa Diubah


Shubuh di Batang , cahaya matahari mulai menerangi, mulai memasuki Pekalongan. Di depan ada pick up plat G, kecil tapi diisi banyak penumpang, sepertinya para buruh tani, selain mereka ada alat perontok padi. hanya satu dua yang duduk, selebihnya berdiri, untuk menyiasati agar pickup yang kecil itu muat untuk banyak orang. Dinginnya pagi seolah tak dirasa, berkilo-kilo meter angin menerpa. Entah berapa jauh lagi perjalanan yang harus mereka tempuh. Mungkin karena dimakan usia kecepatan pickup tak bisa mengimbangi kendaraan lain.


Menunggu di terminal Cirebon, di samping ada penjual ketoprak lontong. Sang penjual melayani seorang pembeli, bukan makanan cepat saji. Menghaluskan bumbu, memotong berbagai bahan, baru memberikan kepada pembeli. Lama, belum ada lagi pembeli.


Penjual mie ayam, berangkat dari rumah jam 4 sore, terkadang baru pulang jam 1 dinihari. Tidak pulang sebelum bener-benar sepi pembeli.

Memandang daftar  gaji  guru swasta, hanya ratusan ribu. Padahal ilmu yang diberikan tetaplah sama , tak mungkin korupsi ilmu. Mereka juga punya tanggungan keluarga.

Tukang becak kayuh, ketika jalan menanjak kayuhannya semakin melemah. Nafas pun memburu.

Memang kehidupan di dunia ibarat perputaran roda, kadang di bawah kadang di atas. Namun  ketika kapitalisme mencengkeram, roda itu seolah tak berputar. Yang di bawah semakin lemah dan terlindas, yang di atas semakin pongah. Yang haram begitu menggoda, yang halal begitu sulitnya.

Hidup dalam cengkeraman kapitalisme hanya mengantarkan pada kesempitan hidup di dunia.
Suasana materialistis , jauh dari suasana keimanan dan ketaqwaan semakin menambah sesaknya dada.

Kedekatan kepada Sang Pencipta hanya menjadi urusan pribadi. Selebihnya Negara tak mengurusi
Halal haram sudah tak peduli, demi bertahan hidup apapun dijalani
Ada yang menghamburkan uang untuk kemaksiatan
( baca berita imigran yang jadi PSK dan pelanggannya macan dan tante kesepian yang rela membayar hingga puluhan juta)
Ada yang begitu ringan menyuap dengan ratusan juta
( ngenes otk ketua DPD)
Pemakan bangkai saudaranya sendiri didukung sekuat tenaga
(lagi heboh dukung-mendukung presenter gossip)
Sempat kagum dengan suasana taman kota Batang yang dihiasi kalimat thoyyibah
( tapi tadi baca berita 3 lokalisasi besar di Batang yang hingga kini masih bertahan)

Bukannya tak ikhlas dengan masalah, namun ini semua bisa diubah
Tentu tak berharap pada kapitalisme demokrasi yang seharusnya dibuang ke tempat sampah
Tak berharap pula pada social komunis yang selalu berakhir dengan tumpahan darah
Masalah ini muncul karena kita berpaling pada syariah
Atas nama toleransi Islam diminta mengalah
Padahal seharusnya Islam tegak dalam system khilafah

Perjuangan mengembalikan Islam dicap sebagai pengkhianat
Perjuangan menegakkan kalimat Allah dianggap sesat

Pejuang khilafah dianggap berpikiran sempit tak punya ilmu hanya bermodal khayalan tak nyata
Pejuang syariah dihina selalu saja diibaratkan seperti onta
Pejuang Islam diminta pindah saja ke jazirah Arabia
Sungguh perkataan rendahan  yang penuh dusta

Namun itu  semua tidak akan menghentikan langkah
Terus menyampaikan Islam dengan dakwah
Menyeru dengan nasihat dan hikmah
Menyampaikan pendapat dengan dalil syara’ sebagai hujah
Menjadikan Rasulullah sebagai satu-satunya uswah
Yakin dengan janji dan pertolongan  Allah yang telah dijanjikan untuk hamba yang selalu istiqamah

Pare, 19  September 2016





Sunday, 4 September 2016

Menghormati Akidah Orang Kafir dan Tetap Taat Allah Tidak Menjadikan Mereka Penguasa


Tidak perlu canggung menggunakan kata kafir untuk orang yang tidak memilih Islam sebagai agamanya. Tetapi memang sedikit memaklumi ada yang kurang nyaman menggunakan sebutan kafir. Bukan semata salah kaum muslimin. Ini adalah sebagian dampak dari upaya musuh-musuh Islam sejak berabad-abad yang lalu menjauhkan Bahasa Arab dari potensi Islam. Jika sudah terbiasa dengan bahasa Arab yang notabene adalah bahasa al Quran insya Allah tidak masalah, penyebutan kafir itu betebaran di banyak ayat.

Allah SWT dengan jelas menggunakan kata kafir untuk ahlul kitab dan musyrikin, bahkan mereka dilabeli sebagai seburuk-buruk makhluk. 

Al Bayyinah
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

6. Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.

Namun bukan berarti sikap seorang muslim boleh tidak baik kepada orang orang kafir. Dalam surat al kafiruun yang lagi-lagi dengan jelas menggunakan kata kafir, seorang muslim diwajibkan untuk menghormati dalam hal akidah. Menghormati bukan berarti mencampuradukkan ajaran agama, akan tetapi menghormati keyakinan mereka, tidak memaksa mereka untuk mengikuti keyakinan kita.

Al Kaafiruun
قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ

1. Katakanlah: "Hai orang-orang kafir,


لا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ

2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.


وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ

3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.


وَلا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ

4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,


وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ

5. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.


لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

6. "Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku".

Dalam Islam juga ada larangan untuk memaksa orang-orang kafir masuk Islam.
Al-Baqarah
لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

256. Tidak ada paksaan untuk agama ; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Seorang muslim juga boleh bermuamalah dengan orang kafir selama akad yang dibuat tidak melanggar syariat. Boleh juga bekerjasama dalam tim muamalah yang dimiliki atau dipimpin oleh orang kafir. Namun terkait dengan kepemimpinan negara (hukam) atau kekuasaan  maka haram hukumnya menjadikan orang kafir sebagai pemimpin.
وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلا
Allah sekali-kali tidak akan memberikan jalan kepada orangorang kafir untuk memusnahkan orang-orang Mukmin. (TQS an-Nisa’ [4]: 141).
Pemerintahan (kekuasaan) merupakan jalan yang paling kuat  untuk  menguasai  orang-orang  yang  diperintah. Pengungkapan  dengan  kata  “lan”  yang  ber fungsi  untuk menyatakan selamanya  (li ta’bîd) merupakan qarînah(indikasi) untuk menyatakan larangan tegas orang kafir memegang suatu pemerintahan  atas  kaum Muslim, baik  menyangkut jabatan Khilafah ataupun selainnya. Karena Allah telah mengharamkan adanya jalan bagi orang kafir untuk menguasai kaum Mukmin maka haram hukumnya kaum Muslim menjadikan orang kafir sebagai penguasa atas mereka.
An Nisaa'
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَنْ تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُبِينًا

144. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu'min. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah ?



Pare, 4 September 2016

Friday, 2 September 2016

Masjid dan Perpustakaan

Catatan tersimpan 6 Januari 2012

Perpustakaan Pusat ITS 
(Sumber gambar : Fb Prof Joni Hermana)

Mengingat catatan ini karena ada yang menanyakan tentang kesan dan manfaat perpustakaan.

Masjid dan Perpustakaan, dua tempat yang selalu ingin saya singgahi ketika mengunjungi sebuah kampus.

Karena bagi saya dua tempat tersebut menurut saya bisa menjadi indicator untuk sedikit tau semangat  dan kepribadian para mahasiswanya.

Masjid mewakili nafsiyah dan perpustakaan mewakili aqliyah.
Sungguh mengenaskan jika masjid sepi
Sungguh ironi jika perpustakaan sepi

Dan masjid serta perpustakaan juga bisa menjadi indicator kepedulian pihak kampus. Bagaimana mahasiswa betah di masjid kalo masjid  tidak nyaman ? Bagaimana mau ke perpustakaan kalo fasilitasnya minim dan tak menarik hati ?

Masjid yang penuh kenangan
Masjid Manarul ‘Ilmi ITS : pertama kali mengenal mabda’ Islam

Masjid Kampus B Unair : pertama kali mengenal semangat yang luar biasa untuk segera menerapkan Islam dalam naungan Khilafah agar umat Islam tidak selalu dilecehkan

Masjid Kampus Ketintang UNESA : pertama kali mensyukuri bisa kuliah di ITS ( karena tau untuk pertama kalinya kondisi UNESA yang  ternyata lebih tidak menyenangkan daripada  ITS…maaf utk temen-temen UNESA ^_^)

Masjid Kampus IAIN Sunan Ampel : pertama kali bertemu seseorang yang dengan semangat menggugah kesadaran umat akan pentingnya kesatuan umat agar umat terlindungi dan terjaga.

Masjid Kampus UM : pertama kalinya transit di masjid kampus yang  terletak di Malang. Beberapa kali ke Malang blas ga pernah mampir kampus.

Masjid Kampus STIE Hamfara : pertama kali tau masjid kampus yang paling  sederhana ( masih dalam proses soalnya…)
Masjid Kampus UIN SuKa : pertama kali tau masjid kampus lux yang identik dengan sarang JIL

Masjid Kampus IPB Darmaga : pertama kali berkunjung  ke kampus di Jawa Barat, agak tidak sesuai dengan bayangan yang  selama ini tersimpan. Serasa ada yang hilang meski pertama kali mengunjunginya dan baru terjawab setelah beberapa hari kemudian .

Update : 25 Feb 2018
UMY Yogya  : sementara ini paling salut, masjid KH Ahmad Dahlan letaknya dekat dengan Perpus KH Mas Mansur. Mengingatkan, muslim itu harusnya ingat masjid sealigus tdk mengabaikan tsaqafah. Iman dan IPTEK sekaligus dapat.

Sebelah kiri perpus, sebelah kanan yg ada menara masjid kampus -UMY

Tentang perpustakaan, berhubung belum pernah keliling Indonesia apalagi dunia, ya Perpustakaan Pusat ITS masih menduduki peringkat pertama yang paling mengesankan. 

Tapi saat ini faktanya sudah kembali ke kampung halaman, bagaimanapun juga berusaha menyesuaikan dan berusaha memelihara keinginan untuk tetap mengasah aqliyah atau pola pikir. Apalagi tinggal di daerah tidak seperti tinggal di kota besar atau lingkungan kampus. Tidak banyak yang punya koleksi buku, bondho nyari pinjaman gratis agak susah, sama-sama senasib tidak punya buku. 

Jadilah perpustakaan daerah kabupaten sebagai tempat alternatif. Memang  tidak selengkap perpustakaan di ibu kota propinsi namun lumayan sangat membantu. Di Pare ada perpustakaan daerah “ MAS TRIP “ koleksi buku lumayan banyak, ada dua koran harian, fasilitas wi-fi dan sesekali ada pelatihan untuk umum. Silakan dimanfaatkan, sayang  jika tidak pernah atau jarang ke perpustakaan.

Pare, 2 September 2016 




Thursday, 1 September 2016

Sekuat Apapun Barat Merintangi, Khilafah Janji Allah Yang Pasti Kembali


Lima bulan, rencana dua bulan

Sebuah bab dalam buku Daulah Islam : Upaya Merintangi Tegaknya Daulah Islam. Setelah Mustafa Kamal mengumumkan dihapusnya khilafah, diusirnya khalifah dan digantinya Turki menjadi Republik, umat Islam tidak diam begitu saja. Masih ada yang mengingatkan Mustafa agar mau mengembalikan Khilafah, masih ada yang berusaha mengopinikan bahwa umat Islam haram tanpa khilafah. Namun dengan kejam Mustafa membungkam bahkan membunuh orang-rang yang mencoba mengingatkan agar Turki tidak menghapus Khilafah. Dunia Islam pun disibukkan dengan perdebatan rendahan tentang nasionalisme Turki, nasionalisme Arab, Negara bangsa. Manakah di antaranya yang lebih baik, padahal semuanya sama saja, ide sesat yang lahir dari pemikiran kufur. Muncul juga gerakan-gerakan politik, namun gerakan mereka juga dalam rangka menggaungkan nasionalisme.

Barat yang digawangi Inggris, Perancis dan Amerika tidak berdiam diri. Jauh hari sebelum  khilafah dihapuskan, Inggris sudah membentuk opini umum, bahwa khilafah tidak layak dipertahankan. Turski saatnya membebaskan diri dari bangsa lain dan berhenti mengurusi Negara lain. Turki harus mempunyai pemerintahan yang merdeka, dan Arab didorong menuntut kemerdekaan dari Daulah Utsmaniyah. Itu semua dilandasi dengan pemahaman nasionalisme kebangsaan. Hasilnya, tuntuan membentuk Negara yang merdeka bermunculan di negeri-negeri kaum muslimin. Turki, Mesir, Irak, Suriah, Libanon, Palestina, kawasan Timur  Yordania,  Hijaz,  Najd,  dan  Yaman.  Para  politisi  yang menjadi  antek- antek  kafir  penjajah  mengadakan  berbagai muktamar  dan kongres  di setiap  negara  tempat mereka tinggal. Mereka  semua  menuntut  kemerdekaan  dari  Turki  ( Daulah Utsmaniyahn). Jelas, ini bertujuan untuk memecah belah umat Islam dalam sebuah Negara bangsa yang dibangun atas nasionalisme. Barat juga menggambarkan bahwa dalam Islam tidak ada system pemerintahan, Islam hanyalah sebatar agama kependetaan dan kepausan yang tak layak mengatur politik dan pemerintahan. Umat Islam dibuat malu menyebut dan menuntut kembalinya khilafah. Ide mengembalikan khilafah dianggap sebagai ide yang mundur, kolot dan jumud yang tidak mungkin diususlkan oleh kaum terpelajar dan pemikir. Dan begitulah, umat Islam hingga saat ini masih terpecah belah dalam Negara bangsa yang menjadikan nasionalisme sebagai ikatan, umat Islam hingga saat ini masih menganggap khilafah sebagai sesuatu yang menakutkan dan utopis. Pejuangnya layak dicap sebagai pengkhianat dan dihukum karena melanggar undang-undang (yang memang diadopsi dari Barat yang jelas bertentangan dengan syariah Islam). 

Perjuangan Barat menghancurkan Khilafah berlangsung selama ratusan tahun, memasuki tahun 1900 mereka memulai menuai hasil. Dunia Islam semakin terpuruk, penerapan hukum Islam sangat buruk dan paham-paham asing mulai memenuhi benak kaum muslimin. Dan ini juga terjadi di Indonesia, penjajah mulai mempengaruhi pola pikir rakyat Nusantara. Dalam sejarah, perjuangan pahlawan pada masa kerajaan Islam digambarkan sebagai perjuangan rendahan yang bersifat kedaerahan, dan sporadic  padahal mereka berjuang dengan motivasi jihad. Namun pengkhianatan bangsawan antek penjajah lah yang membuat perjuangan para syuhada semakin memudar. Materi dan janji duniawi penjajah membutakan mata mereka.

Mulailah berdiri gerakan-gerakan modern, Sarekat Dagang Islam (1906) dan Muhammadiyah (1912) adalah gerakan politik umat Islam yang pada awal berdirinya sebagai respon menghadapi kesewenangan VOC dan Belanda. Juga dalam rangka membendung penjajahan politik ekonomi, berdiri di saat Khilafah dalam ambang kehancuran dan ketika khilafah benar-benar dihapus (bisa dibuktikan dengan tahun berdirinya). Disusul juga dengan berdirinya NU (1926) sebagai bentuk respon bangkitnya para ulama atas runtuhnya khilafah utsmaniyah. 
 Ada juga gerakan nasional yang mengopinikan kebangkitan nasional, inilah cikal bakal mengguritanya ide nasionalisme di negeri ini, negeri yang sebelumnya kental dengan Islam dan pernah menjalin hubungan dengan daulah Utsmaniyah di Turki. 1908, gerakan nasionalisme mulai menggaung, khilafah di ujung tanduk, bersamaan dengan upaya Mustafa Kemal menghapus kekuasaan politik khalifah. 1928, deklarasi kebangsaan Indonesia ditandai dengan sumpah pemuda. 1945, puncak diproklamasikan Indonesia sebagai sebuah Negara bangsa yang dibangun atas nasionalisme, mencabik-cabik syariat Islam atas nama toleransi. Dan hingga saat ini deklarasi ini diperingati dengan euphoria, padahal ini adalah titik awal cengkeraman ikatan nasionalisme. Apakah ini muncul dengan tiba-tiba ? Tidak. Barat memecah belah umat Islam dan mencegahnya bersatu kembali. Barat sudah merencanakan jauh-jauh hari. Rancangan Barat yang diawali Inggris dan Perancis yang terus dilanjutkan dengan Amerika terus berjalan hingga saat ini. Umat Islam terkotak-kotak dalam Negara dengan ikatan semu nasionalisme.  Bentuk dan system negeri ini dianggap final, padahal realitasnya hanya mengantarkan umat pada penjajahan gaya baru, bukan penjajahan fisik namun penjajahan ideologi kapitalis. SDA dijarah atas nama investasi dan swastanisasi. Pemikiran rakyat dirusak atas nama kebebasan, Negara lepas tangan mengurusi dan melayani rakyat atas nama kemandirian.  

Ketika saat ini khilafah kembali digaungkan, dan ada yang menganggapnya sebagai ide asing, bentuk pengkhianatan, dan utopis, maka bukan hal yang mengherankan. Barat sudah berabad-abad mencuci otak umat Islam, yang benar dicap salah, yang salah dianggap benar. Membalikkan ini semua tentu tidak mudah. Namun Barat yang motivasinya salah saja bisa bertahan dalam kebatilan, maka tentu umat Islam tidak boleh kalah dan menyerah. Terus berjuang, bukan dalam rangka membalas dendam, namun lebih dari itu, berjuang menegakkan dan mengembalikan system khilafah karena memang ini perintah Allah, warisan Rasulullah saw, jalan perjuangan para sahabat, tabi’in dan tabiut tabiin. 

Mencintai negeri ini tidak dengan mempertahakan ikatan semu nasionalisme, tapi mengembalikan negeri ini agar diatur dengan aturan Allah, karena Indonesia Milik Allah. 


Monday, 22 August 2016

Informasi Kursus Bahasa di Pare

Ada ratusan tempat kursus di Pare, sebagian besar kursus Bahasa Inggris,  karena itulah Pare dikenal sebagai Kampung Inggris. Ada dua jenis program kursus, regular dan holiday. Progaram regular di sebagian besar kursusan dimulai tanggal 10 dan 25 tiap bulannya. Tapi ini tidak berlaku untuk BEC, BEC hanya membuka pendaftaran 4 kali dalam satu tahun. Sedangkan program regular waktunya bisa menyesuaikan permintaan, hanya dibuka saat liburan semester sekolah maupun kuliah. Jenis program kursusan juga bermacam-macam, bisa diprioritaskan sesuai kebutuhan.

Untuk tempat kos bisa dipilih, kos tanpa program tambahan atau camp yang biasanya disertai dengan program tambahan, baik program mandiri camp atau program camp yang berhubungan dengan tempat kursus.

Fasilitas di Pare juga sudah lumayan lengkap, untuk seputar Pare bisa dijangkau dengan sepeda, sepeda bisa dibeli atau sewa perbulan.
Beberapa informasi tempat kursus bisa dicari di sini :
1. BEC
2. Mr. Bob
5. ELFAST
10. HAKIM LC
12. PEACE
Website tersebut bisa jadi tidak aktif update informasi.
Sementara ini dulu, kapan-kapan update lagi. 

Yang perlu info lanjut atau bantuan lain silakan kirim no HP via email : nurulshofwah@gmail.com. Insya Allah bisa nanya-nanya lanjut via sms ( untuk yang benar-benar butuh info, tidak melayani yang sekedar iseng apalagi minta pulsa )


Wednesday, 10 August 2016

Peran Keluarga Mewujudkan Tujuan Pendidikan



Tak bisa dipungkiri keluarga adalah tempat pertama bagi anak untuk mendapatkan pendidikan.  Dari keluarga anak mendapatkan bekal untuk menjalani kehidupan di lingkungan yang lebih luas. Apa yang didapatkan anak dalam keluarga akan berpengaruh pada sikap anak. Maka setianp anggota keluarga harus  mengoptimalkan peran masing-masing agar selanjutnya anak siap menerima pendidikan formal. 

Ketika anak mulai menempuh pendidikan formal di sekolah, peran keluarga tetap diperlukan. Keluarga tidak boleh hanya bergantung pada sekolah atau bahkan lepas tangan dan pasrah sepenuhnya pada sekolah. Diperlukan sinergi yang baik antara keluarga dan sekolah agar tujuan pendidikan untuk mencetak generasi cerdas IPTEK , bertakwa kepada Tuhan dan siap terjun dalam kancah kehidupan bisa terwujud. Memang peran keluarga dalam menguatkan pendidikan tidak selalu sama dalam setiap jenjang pendidikan. Yang tetap sama apapun jenjang pendidikannya adalah  keteladanan dan pendampingan. 

Namun seiring dengan berjalannya waktu, dengan berbagai macam kesibukan, keluarga seolah tidak lagi bisa bersinergi dengan sekolah. Meskipun sekolah, masih saja ada anak yang bermasalah. Terlibat gaul bebas, tindakan kriminal, tawuran dan lain-lain. Maka kerja sama keluarga dan sekolah untuk menyukseskan tujuan pendidikan mutlak diperlukan.

Peran Keluarga di TK dan Sekolah Dasar
TK dan Sekolah Dasar ( SD ) adalah pendidikan formal pertama bagi anak. Di TK anak sudah mulai belajar hidup bersosialisasi. Dalam jenjang ini wali siswa harus telaten memantau perkembangan anak. Terutama terkait dengan kemandirian. Lebih sering bertanya kepada guru agar tidak terlewat permasalahan yang dihadapi anak, sekecil apapun masalahnya. Kontrol aktivitas anak di sekolah dilakukan setiap hari, dengan bertanya langsung kepada anak apa saja yang telah dipelajari di sekolah dengan bahasa santai atau melalui buku penghubung siswa yang mencatat kegiatan siswa selama di sekolah.

Hampir sama dengan di TK, di SD perkembangan hasil pendidikan anak di sekolah juga perlu diperhatikan secara harian. Namun anak usia SD lebih kritis, bisa membandingkan apa yang diajarkan guru di sekolah dengan fakta yang mereka temui dalam keluarga. Anak akan cenderung menuntut agar keluarga juga melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan di sekolah. Pembiasaan kebaikan di sekolah juga dicontohkan dalam kehidupan di rumah. Ketika di sekolah anak dibiasakan disiplin, mengerjakan segala sesuatu dengan memperhatikan target, menjaga akhlak mulia, dan lain sebagainya, kebaikan-kebaikan ini seharusnya juga menjadi hal yang biasa juga ditemui dan dilakukan di rumah. Sehingga anak bisa melaksanakan hal-hal baik secara berkelanjutan, di manapun berada. Komunikasi intensif antara wali siswa dengan guru kelas juga diperlukan secara berkala. Berbagai informasi tentang perkembangan sikap dan ilmu anak bisa didapatkan dari guru kelas, baik melalui buku komunikasi maupun dengan berkunjung secara berkala ke sekolah. 

Menjadi Sahabat Anak SMP
Berbeda lagi dengan peran yang bisa dilakukan keluarga dalam jenjang SMP dimana anak  berada dalam masa puber. Anak lebih ekspresif, mencari jati diri dan merasa sudah dewasa sehingga tak mau urusannya dicampuri. Di jenjang ini teman pergaulan akan sangat berpengaruh pada perilaku anak. Membuat geng, mudah tersulut emosinya, mencari perhatian dengan berbagai cara, mudah meniru menjadi hal biasa pada anak usia SMP. Maka peran keluarga pada jenjang ini adalah sebagai sahabat.
Sahabat adalah orang yang enak diajak mengobrol, sabar mendengar ketika ada masalah dan tidak mudah menghakimi. Keluarga harus mengambil posisi ini agar anak nyaman. Tidak merasa dikekang atau tak diperhatikan. Pada masa pendidikan ini, pengarahan bakat anak mulai dilakukan. Anak sudah mulai bisa bertanggung jawab dengan pilihan aktivitas mereka. Hal ini bisa dilakukan dengan mendorong anak untuk aktif dalam ekstrakurikuler yang mereka senangi. Dengan demikian pendidikan di jenjang SMP ini bisa dilalui dengan serius namun menyenangkan.

Gaul Mendampingi Anak SMA
Semakin tinggi jenjang pendidikan anak maka semakin berbeda pula fakta masa remaja orang tua dengan anak, maka agak kurang bijak jika menyamakan keduanya. Tak bisa dipungkiri dengan semakin majunya teknologi kehidupan pun semakin modern. Ketika anak sudah masuk SMA, orang tua tidak boleh ketinggalan jaman, agar orang tua bisa mengimbangi ilmu dan pengetahuan anaknya. 
Mengetahui apa saja yang menjadi kesulitan anak, membantu memberi solusi kekinian, memahami permasalahan remaja, memberikan kepercayaan selama anak melakukan kebaikan. Dengan ini, anak akan lebih bisa menikmati pendidikan masa SMA dan mulai berpikir dewasa untuk terus melanjutkan kehidupan.

Demikianlah, peran keluarga untuk menguatkan pendidikan dan meraih tujuan pendidikan sangatlah diperlukan. Sinergi keluarga dan sekolah sebagai unsur utama pendidikan akan bisa membantu mencetak generasi mulia dan berprestasi yang siap mengharumkan nama bangsa, siap meneruskan tampuk kepemimpinan menuju negara hebat. 

Saturday, 6 August 2016

Menutup dan Mengakhiri Lokalisasi



Ngobrol dengan seorang ibu tentang tuntutan penutupan lokalisasi di Kediri, ibu ini  biasa ngobrol dengan purel. Purel, sebenarnya tugas utamanya pelayan di kafe, tapi banyak tugas plus nya. Ngeri juga dengar cerita dari ibu tersebut. Sudah bukan rahasia lagi, purel-purel tersebut juga melayani keinginan para lelaki hidung belang. Ironinya lagi, purel yang diajak ngobrol si ibu hampir semuanya tidak malu jadi purel, malah sering ngajak remaja-remaja cantik untuk mengikuti jejaknya. Dengan enteng bilang : “ Kerja dalam hitunga jam uang ratusan ribu hingga jutaan sudah ada dalam genggaman”. Bahkan ada yang sudah dinikahi (meski kadang secara siri), masih saja ada yang rela kembali, lagi-lagi alasannya menurut saya kurang ajar banget. Katanya ingin main, kangen minum, kangen dugem. Jika benar mayoritas purel seperti ini, bisa jadi alasan ekonomi hanya kambing hitam saja. Lebih banyak yang termotivasi menuruti hawa nafsu. Nafsu mencari materi dengan mudah namun tidak halal, nafsu menikmati dunia. Maka tak heran, ada yang memilih menjadi pelacur dan beroperasi di lokalisasi, tempat legal

Kembali pada masalah penutupan lokalisasi, lokalisasi di negeri ini adalah tempat legal menjajakan diri, tempat legal berzina. Tak ada ceritanya penggrebekan pasangan zina di lokalisasi. Yang ada adalah razia di hotel, tempat kos, kawasan wisata, tempat umum. Karena bukan tempatnya, karena mengganggu kepentingan umum. Jika zina dilakukan di tempat pribadi ataupun di tempat “ yang telah disediakan” tidak dianggap sebagai pelanggaran, tidak bisa langsung dipidanakan. Pelacur dan pelanggannya hanya divonis mengidap penyakit sosial, paling banter sanksinya sebatas sanksi sosial. Tidak ada standar halal haram. Yang  rai gedhek, muka tembok, muka badak, muka beton pasti akan cuek, tidak peduli. Jadi sanksi sosial tidak akan pernah menjadi solusi. 

Harus ada penyelesaian sistemik, karena pemicunya juga sistemik. Setidaknya dua masalah besar yang harus menjadi perhatian, system ekonomi dan dan system social kemasyarakatan.  Pemicu ekonomi muncul karena kebijakan ekonomi yang berbasis kapitalis neolib. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Pengelolaan SDA diserahkan kepada swasta dan asing, Negara lepas tangan. Perekonomian difokuskan pada sector non riil, sector riil yang lansung bersentuhan dengan masyarakat dianaktirikan. Penerimaan Negara bertumpu pada pajak, semua rakyat kena palak. Atas nama investasi, asing menguras kekayaan. Atas nama pinjaman luar negeri asing mengobok-obok kebijakan. Atas nama kemandirian, subsidi dicabut, pelayanan kebutuhan pokok dibisniskan. Hubungan penguasa dengan rakyat tidak mengedepankan pelayanan tapi sebatas meraih keuntungan sebesarnya bagi penguasa sebagai pemilik kebijakan. Simbiosis mutualisme hanya berlaku bagi penguasa dan pemilik modal yang mempengaruhi kebijakan. Rakyat kecil hanya dianggap sebagai parasit yang yang membebani Negara, menggerogoti anggaran belanja Negara. Dan akhirnya rakyat dituntut untuk mandiri, rakyat harus menguras tenaga, memutar akal, memeras keringat, membanting tulang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akhirnya halal haram pun tak pernah jadi pertimbangan. Solusinya, tinggalkan system ekonomi kepitalis yang saat ini mencengkeram negeri ini. Terapkan system perekonomian Islam yang jelas berasal dari Allah SWT dan menempatkan manusia sesuai dengan fitrahnya. Tidak mengumbar manusia untuk memuaskan keinginannya. Mengajak manusia produktif dalam kehidupan, memenuhi kebutuhan, mengejar kebahagiaan dunia tanpa mengabaikan masa depan hakiki di akhirat. 

Kedua, masalah social kemasyarakatan yang dipicu oleh rusaknya akidah umat. Tak bisa dipungkiri, Indonesia adalah Negara muslim terbesar di dunia, maka pelacur dan pelanggannya pun juga bisa jadi mayoritas muslim. Namun sayangnya umat ini seolah sudah terbiasa dengan masalah social ini. Pergaulan bebas semakin marak, perzinaan sudah bukan hal yang tabu, sah-sah saja mencari mangsa di lokalisasi. Konsep pergaulan yang benar, relasi pria dan wanita yang syar’I sangat jauh dari pemikiran umat. Akidah sekuler, memisahkan agama dari kehidupan tertancap kuat dalam benak umat. Syariat Allah diabaikan, Rasulullah diingat sebatas salawatan namun tidak dijadikan teladan dalam seluruh aspek kehidupan. Jadi tak heran jika masih banyak pelaku zina penyuka STMJ, salat terus maksiat jalan. Di bulan Ramadan mereka menghentikan kegiatan di luar Ramadan aksi semakin digencarkan. 

Solusinya satu, terapkan system Islam dalam naungan khilafah. Umat Islam seharusnya hidup dalam system Islam bukan system kufur kapitalisme. Sebagai individu, berlomba dalam kebaikan, mengajak umat bersama menerapkan syariat. Bersama jamaah dakwah melakukan aktivitas politik dan edukasi pemikiran menyadarkan umat, mengingatkan penguasa agar mengatur urusan umat dengan syariat. Menuju tegaknya memang bukan proses yang mudah, namun langkah yang mutlak diperlukan. Wajib dilakukan penyadaran umat, bahwa umat harus mengambil Islam sebagai ideologi. Penyadaran oleh individu juga oleh jamaah dakwah sebagai institusi pemikiran. Menyadarkan umat ko bahwa Negara seharusnya menjadi institusi penerap hukum Allah SWT. 

Negara ini membutuhkan perubahan mendasar, dari tidak menerapkan hukum Islam  menjadi Negara yang menerapakan Islam, yang akan menjadi rahmat untuk seluruh alam. Islam hanya bisa diterapkan secara sempurna jika sistemnya khilafah. Bukan yang lain. Maka teruslah mengenal system khilafah, teruslah menyampaikan khilafah, hingga saat Allah mengijinkan khilafah tegak umat ridlo menerima. 

Monday, 1 August 2016

BAGAIMANA MEMBANGKITKAN UMAT ISLAM SAAT INI

Diambil dari buku Hadis Shiyam :

Kebangkitan adalah meningkatnya taraf pemikiran. Sedangkan –makna klebangkitan yang diartikan sebagai- meningkatkan taraf perekonomian tidak termasuk kebangkitan. Alasannya, Kuwait, yang perekonoimiannya maju dan berkembang sebagaimana halnya negara-negara Eropa, seperti Swedia, Belanda, Belgia, akan tetapi negara-negara Swedia, Belanda dan Belgia mampu bangkit, sementara Kuwait tidak mampu bangkit. Begitu pula meningkatnya perilaku akhlak tidak dapat digolongkan bangkit. Alasannya, kota Madinah saja yang saat ini termasuk kota-kota di dunia yang perilaku akhlaknya tinggi, akan tetapi tidak bangkit. Alasan lainnya, kota Paris yang terkenal perilaku akhlaknya yang rendah, akan tetapi mampu bangkit. Oleh karena itu kebangkitan itu adalah meningkatnya taraf pemikiran.
  Kebangkitan itu bisa benar (shahih), bisa juga keliru. Amerika, Eropa, dan Rusia –misalnya- adalah negara-negara yang mengalami kebangkitan, tetapi kebangkitannya tidak benar. Karena kebangkitannya tidak didasari oleh asas yang bersifat ruhiy. Kebangkitan yang benar (shahih) adalah meningkatnya taraf berpikir yang didasarkan pada asas ruhiy. Jika kebangkitan itu tidak didasarkan pada asas ruhiy, memang mampu bangkit, tetapi kebangkitannya tidak termasuk kebangkitan yang benar. Dan kebangkitan apapun macamnya, tetap tidak dapat disebut kebangkitan yang benar selama tidak didasarkan pada asas pemikiran Islam. Jadi, kebangkitan yang shahih itu hanya kebangkitan Islam. Karena hanya Islam sajalah yang berdasarkan asas ruhiy.
Metode untuk mencapai kebangkitan itu adalah dengan menegakkan pemerintahan yang di dasarkan pada pemikiran. Bukan didasarkan pada peraturan, perundangan ataupun hukum. Penegakkan negara yang berdasarkan pada perundangan dan hukum, tidak mungkin mencapai kebangkitan. Malah sebaliknya, jika itu yang terjadi sangat membahayakan kebangkitan itu sendiri. Jadi, tidak mungkin kebangkitan itu diraih melainkan dengan menegakkan pemerintahan dan kekuasaan atas dasar pemikiran.
Dari pemikiran inilah muncul pemecahan-pemecahan praktis untuk menanggulangi segala persoalan kehidupan. Dengan kata lain, dari pemikiran tersebut keluar segala bentuk peraturan, perundangan dan hukum. Eropa tatkala mengalami kebangkitan, kebangkitannya didasarkan pada suatu pemikiran. Yaitu pemisahan urusan agama dengan negara (sekularisme), dan kebebasan. Begitu pula Amerika, tatkala mengalami kebangkitan, kebangkitannya di dasarkan pada suatu pemikiran, yaitu sekularisme dan kebebasan. Rusia, tatkala mengalami kebangkitan, kebangkitannya didasarkan pada suatu pemikiran, yaitu materi dan perubahan/evolusi materi. Yakni perubahan sesuatu dengan sendirinya dari suatu keadaan, ke keadaan lain yang lebih baik. Rusia menegakkan pemerintahannya pada tahun 1917 M yang di dasarkan pada pemikiran semacam ini. Jadilah Rusia bangkit. Negeri Arab tatkala mengalami kebangkitan, kebangkitannya didasarkan pada pemikiran Islam. Hal ini tampak tatkala diutusnya Rasulullah saw dengan membawa risalah dari Allah. Di atas landasan ini ditegakkan pemerintahan dan kekuasaan. negeri Arabpun bangkit tatkala mereka meyakini dan berpegang teguh pada pemikiran Islam, dan di atasnya di bangun pemerintahan dan kekuasaan.
Semua ini merupakan argumen yang pasti, bahwa metode untuk mencapai kebangkitan adalah dengan menegakkan pemerintahan di atas suatu pemikiran. Bukti lain yang menunjukkan bahwa menegakkan pemerintahan di atas dasar peraturan, perundangan dan hukum tidak mampu mencapai kebangkitan, adalah apa yang dilakukan Mustafa Kamal di Turki. Ia menegakkan pemerintahan di atas dasar peraturan dan perundangan-undangan untuk meraih kebangkitan. Seraya mengambil peraturan-peraturan dan perundang-undangan Barat. Kemudian di atasnya dibangun pemerintahan. Ia menjalankannya sekuat tenaga secara praktis, melalui tangan besi. Meskipun demikian, tetap saja tidak mampu meraih kebangkitan. Turiki tetap tidak mampu bangkit, malah mengalami kemunduran. Jadilah Turki salah satu negeri yang mundur Padahal Lenin yang muncul hampir bersamaan dengan Mustafa Kamal. Namun, Lenin mampu membangkitkan Rusia menjadi negara yang kuat. Bahkan sekarang ini tergolong negara yang terkuat. Sebabnya tiada lain, karena Lenin mendirikan pemerintahan di atas landasan suatu pemikiran, yaitu pemikiran Komunisme. Dari pemikiran ini muncul pemecahan-pemecahan terhadap problematika kehidupan sehari-hari, berupa peraturan dan perundang-undangan yang dijadikan solusi terhadap segala bentuk problematika –dalam bentuk hukum yang bersandar pada pemikiran tersebut-. Dengan kata lain, dari pemikiran ini dibangunlah pemerintahan. Oleh karena itu mampu meraih kebangkitan. Pada tahun 1917 M, Lenin membangun pemerintahan Rusia di atas landasan suatu pemikiran. Rusiapun bangkit. Sementara pada tahun 1924 M, Mustafa Kamal membangun pemerintahan di atas landasan peraturan dan perundang-undangan untuk membangkitkan Turki, akan tetapi tidak mampu. Malah Turki menjadi terbelakang, disebabkan pemerintahan dibangun di atas landasan peraturan dan perundang-undangan. Ini adalah faktor yang tidak berhasil membangkitkan Turki, bahkan membahayakan.
Contoh lainnya adalah apa yang dilakukan oleh Gamal Abdunnaser di Mesir. Sejak tahun 1952 M pemerintahannya dibangun di atas landasan peraturan dan perundang-undangan. Pertama-tama sistem pemerintahan dirubah menjadi sistem pemerintahan Republik, menggantikan sistem kerajaan. Kemudian dilakukan land reform dengan membag-bagikan lahan pertanian. Setelah itu berpaling pada peraturan-peraturan Sosialis, sehingga negaranya disebut dengan negara Sosialis. Tetapi kebangkitan tidak pernah mampu diwujudkan. Malahan Mesir saat ini sudah termasuk negeri-negeri terbelakang dari sisi pemikiran, ekonomi dan politiknya, dibandingkan dengan sebelum tahun 1952 M. Yaitu sebelum terjadi kudeta militer. Begitu pula anggota-anggota parlemennya saat ini, dibandingkan dengan anggota-anggota parlemen (saat itu dinamakan Majlis Umat) sebelum tahun 1952 M kemampuan pemikiran dan politiknya sangat berbeda. Perubahan yang terjadi di Mesir, tetap tidak mampu membangkitkannya. Karena pemerintahannya dibangun di atas landasan peraturan dan perundang-undangan. Yang mampu membangkitkan hanyalah pemerintahan yang dibangun berlandaskan pada suatu pemikiran.
Walaupun demikian, bukan berarti bahwa menegakkan pemerintahan di atas dasar suatu pemikran, dilakukan dengan kudeta militer, mengambil alih pemerintahan dan dibangun di atas landasan suatu pemikiran. Hal ini tidak akan mampu membangkitkan, dan pemerintahan seperti itu tidak mungkin bertahan lama. Yang harus dilakukan adalah mendidik/memahamkan umat, atau mendidik/memahamkan kelompok terkuat di masyarakat dengan pemikiran yang ditujukan untuk membangkitkan umat. Mengadopsi pemikiran tersebut dalam kehidupan, dan arah perjalanan kehidupan di dasarkan pada pemikiran ini. Pada saat yang sama dibangun pemerintahan melalui umat, yang berdasarkan pada pemikiran tersebut. Jika ini dilakukan akan tercapailah kebangkitan yang pasti. Jadi, pada dasarnya kebangkitan itu bukan bertumpu pada mengambil alih pemerintahannya, tetapi menyatukan umat dengan suatu pemikiran. Menjadikan pemikiran tersebut sebagai arah kehidupannya. Kemudian menguasai pemerintahan dan dibangun di atas landasan pemikiran tersebut. Dengan demikian, pengambilalihan kekuasaan bukan tujuan. Dan hal ini tidak boleh dijadikan sebagai tujuan. Ia hanya layak dijadikan sebagai metode (thariqah) untuk mencapai kebangkitan. Selama pendiriannya di dasarkan pada suatu pemikiran, maka kebangkitan akan dapat diraih.
Contoh yang paling gamblang adalah apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw. Tatkala Allah membangkitkannya dengan risalah Islam, beliau menyeru umat manusia kepada akidah Islam. Ini tidak lain berarti menyeru kepada suatu pemikiran. Dan tatkala penduduk kota Madinah dari kalangan kabilah Aus dan Khadzraj dapat disatukan dengan akidah Islam –yaitu dengan suatu pemikiran-, maka jadilah mereka memiliki arah yang menuntun kehidupan mereka. Kemudian pemerintahan Madinah pun diambil alih, dan didirikan di atas dasar akidah Islam. Demikianlah Rasulullah saw bersabda:
»اُمِرْتُ اَنْ اُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُوْلُوْا لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهُ فَاِذَا قَالُوْهاَ عَصَمُوْا مِنِّي دِماَءَهُمْ وَاَمْوَالَهُمْ اِلاَّ بِحَقِّهَا«
Aku diperintahkan untuk memerangi manusia, sampai mereka mengatakan ‘laa ilaha illallah Muhammad Rasulullah’, Apabila mereka mengucapkannya, maka terpeliharalah darahnya, hartanya, kecuali –ditumpahkan dan diambil-dengan cara yang hak.

Hadits ini menyeru pada suatu pemikiran. Maka kebangkitanpun dapat diraih di kota Madinah, yang menjalar ke kawasan Arab, lalu melebar kepada bangsa-bangsa yang memeluk Islam. Yaitu meyakini pemikiran tersebut. Dan para penguasanya mengatur dan mengurus urusan rakyat dengan berpijak pada pemikiran tersebut.
Tidak diragukan lagi, umat Islam di seluruh pelosok negeri saat ini mengalami kemerosotan. Umat sudah berusaha bangkit sejak lebih dari 100 tahun lalu. Namun kebangkitan tidak juga kunjung berhasil hingga saat ini. Sebabnya adalah, pemerintahan yang ada berdiri di atas dasar peraturan dan perundang-undangan. Pemerintahan itu –baik berdiri di atas landasan peraturan dan perundang-undangan selain Islan (peraturan kufur) seperti yang terjadi pada kebanyakan negera Muslim saat ini, atau berdiri di atas landasan peraturan dan perundang-undangan Islam dan hukum-hukum syara’, seperti yang dilakukan di sedikit negeri Muslim seperti Yaman sebelum revolusi Salal- semuanya mengalami kemunduran. Tidak mampu bangkit. Karena memang pemerintahannya dibangun di atas peraturan, tidak dibangun di atas suatu pemikiran. Meskipun pemerintahan itu dibangun di atas landasan peraturan Islam maupun hukum-hukum syara’, tetap tidak akan mampu bangkit. Yang mampu membangkitkannya hanyalah jika pemerintahan itu dibangun di atas landasan pemikiran Islam, yaitu akidah Islam. Negara yang dibangun di atas landasan Laa ilaha illallah Muhammad Rasulullah, negara seperti itulah yang mampu bangkit. Jika suatu negara dibangun berlandaskan pada madzhab Abu Hanifah, atau bersandar pada buku karangan Thahthawi, atau berdasarkan pada hukum-hukum syara’, maka negara tersebut sama sekali tidak akan mampu bangkit. Karena sandaran-sandaran tersebut layaknya peraturan dan perundang-undangan, yang tidak mendatangkan kebangkitan sedikitpun. Jadi, negara harus berdiri di atas landasan Laa ilaha illallah Muhammad Rasulullah. Setelah itu barulah mengambil hukum-hukum syara’ dengan anggapan hal itu adalah perintah Allah. Lalu diterapkan. Itupun karena mengikuti perintah dan larangan Allah. Jadi, bukan karena adanya kelayakan, bermanfaat, atau ada maslahat, atau alasan-alasan lainnya. Semua itu harus dianggap sebagai sesuatu yang datang dan berasal dari wahyu Allah. Dan diambil dari makna Laa ilaha illallah Muhammad Rasulullah. Jika demikian halnya, maka kebangkitan dapat diraih.
Umat Islam saat ini, jika mereka menghendaki kebangkitan mau tidak mau harus menjadikan akidah Islam sebagai asas yang menjadi arahan kehidupan mereka. Di atasnya dibangun pemerintahan dan kekuasaan. Kemudian menyelesaikan seluruh problematika keseharian mereka dengan hukum-hukum yang terpancar dari akidah tadi. Yaitu dengan hukum-hukum syara’, sebagai bagian dari perintah dan larangan Allah. Bukan dengan anggapan lainnya. Jika ini yang dijalankan, maka kebangkitan pasti akan muncul. Bahkan kebangkitan yang shahih, bukan sekedar bangkit. Umat Islam pun mampu menggapai puncak kegemilangannya lagi, meraih kembali kepemimpinan internasional untuk yang kedua kalinya.
Demikianlah tata cara membangkitkan umat Islam saat ini dengan kebangkitan yang shahih. Wahai kaum muslimin, dari sinilah kita mulai.


Wednesday, 20 July 2016

Islam Kaffah Tidak dengan Demokrasi, Hanya dengan Khilafah (Masih Tentang Ikan dan Air)


Akhirnya menggunakan saluran pipa yang memang lumayan rumit. Alhamdulillah, akhirnya kolam kecil terisi. Sengaja mengisi lebih dari setengah biar jeda mengisi lagi agak lama. Keesokan harinya ngecek, lha kok airnya habis lagi, sisa ikan yang belum dipindahkan ada yang mati dan ada yang menggelepar hampir mati. Pasti ada yang tidak beres. Dengan pengamatan yang seksama akhirnya menemukan, kolamnya bocor. Karena kolam bawah, otomatis air merembes ke tanah. Ya wajar meski diisi ya surut lagi. Selama akar masalah tidak diatasi ya ga bakalan beres. Akhirnya membiarkan saja, dan ikan yang tersisa akhirnya mati semua. Ya sudah.

Pentingnya mencari akar masalah dan menyelesaikan masalah hingga ke akarnya.

Begitu pula dengan kondisi umat Islam saat ini. Mengalami berbagai masalah, semua bidang dan semua lini tak henti dirundung masalah. Sudah jelas peringatan dari Allah, kerusakan di bumi karena ulah manusia, kesempitan hidup karena berpaling dari syariatNya. Apalagi di negeri ini yang mendewakan demokrasi. Demokrasi yang memberikan kedaulatan membuat hukum di tangan manusia jelas menduakan syariat Allah. Demokrasi yang berlindung di balik suara rakyat tidak akan pernah memberi kesempatan penerapan Islam kaffah meski rakyat menghendaki. Karena demokrasi adalah penjaga kapitalisme sekuler, yang tak akan pernah mengijinkan aturan Allah diterapkan secara sempurna dalam seluruh aspek kehidupan. Demokrasi hanya akan menjadi jalan utopis menuju Islam kaffah. Selama demokrasi dan ideology kapitalisme masih dijadikan sandaran dalam perubahan, umat Islam akan terus terpuruk, karena memang akar masalah dari penderitaan umat adalah karena mereka hidup dalam cengkeraman kapitalisme. Umat manusia selayaknya hidup dalam system yang terbaik buatan al Khalik. 

Tahapan dakwah menuju tegaknya Khilafah : Tahapan Dakwah Menegakkan Khilafah
Pare, 19 Juli 2016

Islam Tanpa Syariah dan Khilafah, Seperti Ikan Tanpa Air


Hujan mengguyur sepanjang malam Minggu hingga seharian. Hanya bersela mendung dan gerimis. 

Kolam ikan masih dalam batas aman, tidak sampai meluber. Dan menganggap semua kolam dalam batas aman, belum perlu nambah air, namun ternyata ada satu kolam yang airnya hampir habis, dihuni sebagian ikan mujair besar dan sebagian lagi ikan kecil. Yang kecil masih bisa bertahan, apa daya yang berukuran lebih besar mati. Dan mati pun tidak cukup menghentikan “penderitaan”, berpindah ke kolam lele induk. Berganti tempat, untuk selanjutnya terkoyak dan dimangsa lele besar. Empat hari tanpa perhatian, terabaikan. 

Memang kolam berukuran kecil dan letakknya di bawah, kolam tanah makanya air lebih mudah terserap dan habis. Mujair juga tipe ikan yang tahan tanpa makanan, seharian tidak dikasih makan juga masih bertahan hidup, tapi semua ikan bisa dipastikan tidak bertahan tanpa air. Memang ada pipa saluran, tapi tidak termanfaatkan. Hanya menambah air secara manual tradisional. Dan ketika diabaikan lama-kelamaan pasti mati juga.

Tidak jauh berbeda, seorang muslim seharusnya hidup dalam masyarakat Islam, dalam masyarakat yang menerapkan sistem Islam, karena itulah yang seharusnya. Sudah bersyahadat, sudah mengikrarkan rukun Iman dan Islam maka seharusnya juga hidup dalam masyarakat yang sesuai dengan aturan aqidah Islam. Banyak ayat dan hadits yang mengingatkan serta mengajak umat Islam untuk menerapkan hukum Allah, untuk memutuskan semua perkara berdasarkan Al Quran dan Hadits, mencari ijma’ sahabat dan menggali hukum melalui ijtihad. Bukan malah menyerahkan pada manusia, atas nama demokrasi dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat membuat hukum tandingan mengabaikan aturan Tuhan.

Seharusnya umat Islam hidup menerapkan syariat, dan untuk menerapkan syariat secara menyeluruh tidak mungkin mengandalkan demokrasi kapitalis, mengagungkan kebebasan tapi tidak membebaskan umat Islam menerapkan syariat Islam secara menyeluruh. Umat Islam hanya akan bisa menerapkan syariat kaffah dalam sistem khilafah rasyidah. 

Membiarkan umat Islam terus hidup dalam sistem batil sama saja dengan mengantarkan umat pada kematian, meski perlahan dan terkadang tak merasakan namun akhirnya sangat menyakitkan. Umat terus menjadi mangsa pemilik modal, penjajah rakus dan menjadi bulan-bulanan kaki tangan pengusung ideologi sesat kapitalisme. Umat semakin sibuk dengan urusan bertahan hidup di dunia, menjadikan dunia segalanya dan sedikitpun tak terbersit berpikir tentang ketaatan pada Allah dan kehidupan kekal di akhirat. 

Mengajak umat untuk menerapkan Islam dan mengembalikan khilafah rasyidah ‘ala minhajinnubuwwah adalah upaya untuk mengembalikan bagaimana seharusnya umat Islam hidup sesuai dengan tujuan penciptaan manusia. 

Mengajak mengkaji Islam melalui pembinaan berjamaah, pembinaan intensif, berinteraksi dengan masyarakat. Mengajak para tokoh, menjalin ukhuwah islamiyah. Membongkar makar penjajah dan kaki tangannya. Tidak membiarkan negeri ini semakin hancur karena kerakusan manusia tanpa iman dan takwa. 

Mengajak untuk menegakkan khilafah, melanjutkan kehidupan Islam adalah sebuah keharusan, agar umat tidak semakin menderita, agar umat tidak semakin jauh dari aturan Islam. Agar janji Allah Islam  menjadi rahmatan lil’alamin terwujud.

Pare, 23 Juni 2016

Friday, 17 June 2016

Aturan dan Sanksi



Naik motor helm harus dipakai
Naik mobil harus mengenakan sabuk pengaman ditaati
Jika melanggar maka akan mendapat sanksi
Karena memang aturan itu beriringan dengan sanksi
Aturan tanpa sanksi ibarat macan tak bergigi
Tak ada efek jera sama sekali

Aturan dibutuhkah manusia dalam kehidupan
Agar semua berjalan dengan keteraturan
Aturan ada untuk mencegah kerusakan
Jika aturan diabaikan tunggu saja datangnya kehancuran

Dalam kehidupan aturan terbaik adalah dari ilahi
Mengatur seluruh sendi kehidupan tanpa ada satupun yang terlewati
Muslim sejati akan menaati aturan Allah dengan senang hati
Salat, zakat, puasa di antara aturan wajib yang ditaati
Tak ada satupun yang menyelisihi bahwa kewajiban seharusnya dijalani
Tawar-menawar seharusnya tak ada lagi
Kewajiban dilaksanakan di dunia sebagai bekal kehidupan hakiki

Islam menetapkan aturan sekaligus memberikan sanksi
Sebagai zawajir atau pencegah agar jera tak mengulangi
Sebagai zawabir atau penebus agar tidak mendapat siksa di akhirat nanti
Sanksi bisa berupa hudud, jinayat, ta’zir dan mukhalafat yang digali dari dalil syar’i

Hudud adalah sanksi atas kemaksiatan yang telah ditetapkan jenisnya oleh Allah SWT, di antaranya untuk kasus zina, liwath (homoseksual), pencurian, pembegalan, dan murtad. Allah SWT menetapkan larangan atas perbuatan-perbuatan tersebut sekaligus menentukan jenis hukumannya. Jinayat adalah sanksi untuk kasus penganiayaan dan serangan terhadap badan. Misalnya pembunuhan, penyerangan atas tubuh manusia.  Ta’zir adalah pelanggaran terhadap apa-apa yang telah ditentukan Allah namun tidak ditetapkan jenis sanksinya dan tidak termasuk dalam perkara hudud dan jinayat. Contoh perkara yang masuk kriteria ta’zir adalah perbuatan mendekati zina, meninggalkan salat, gangguan keamanan, melanggar kehormatan. Ta’zir ditetapkan secara ijtihad dan dilegalisasikan kepala negara. Sedangkan mukhalafat adalah sanksi atas pelanggaran yang tidak termasuk pada hudud, jinayat dan ta’zir. Mukhalafat semata kewenangan penguasa. Namun penguasa tetap dibatasi hukum syara’, kewenangan penguasa  tidak boleh menghalalkan yang haram, dan sebaliknya. Tidak boleh juga mewajibkan perbuatan yang mubah dan sunah dan seterusnya. Penguasa tetap menjadikan hukum syara’ sebagai standar. Contoh perkara yang menjadi kewenangan penguasa adalah pengelolaan baitul mal, pengaturan tata ruang, penetapan aturan administrasi kependudukan, ketertiban lalu lintas dan lain sebagainya. Jadi, Islam adalah agama yang lengkap, memberikan perintah dan larangan sekaligus menetapkan sanksi bagi pelanggarnya. Maka, Islam pun juga akan menetapkan apa saja yang diperlukan dalam rangka terlaksananya semua aturan dan menegakkan sanksi bagi setiap pelanggar.


Aturan dalam Islam dilaksanakan semata sebagai ketaatan kepada Allah SWT Sang Pencipta dan Pengatur segala urusan di dunia ini
Bukan demi menuruti hawa nafsu, bukan dipilih yang disukai ditinggalkan yang dibenci
Pelaksanaan aturan dan sanksi juga bukan karena kebebasan memilih dan dibenturkan dengan toleransi
Yang mengidentikkan ketaatan dengan pemaksaan dan pemberian sanksi sebagai wujud tidak toleransi dengan perbedaan serta bagian dari pelanggaran hak asasi
Bukan, itu semua lahir dari pemikiran yang salah para pendengki
Manusia membutuhkan aturan dari ilahi
Manusia membutuhkan kontrol dalam setiap perbuatannya tidak menuruti hawa nafsu sendiri

Itu semua dilakukan agar manusia tidak hidup dalam kekacauan
Pengambilan aturan yang diserahkan pada hawa nafsu manusia hanya akan membuat kerusakan
Maka aturan harus diambil dari Dzat Yang Menciptakan kehidupan

Namun saat ini, dimana sistem kapitalisme mencengkeram negeri muslim ini, pemikiran sekular merasuki benak kaum muslimin. Kebebasan diagungkan, syariat diabaikan dan dijadikan bahan ejekan. Tidak berpuasa tanpa udzur syar’i dianggap sebagai kebebasan, toleransi terhadap pelanggaran  dianggap sebagai sikap mulia, keinginan untuk berpegang teguh pada ketentuan syariat dianggap sebagai bentuk pemaksaan. Dalam sistem kapitalisme ini apa yang dilarang dan diperintahkan Allah dan Rasulullah bebas dipilih, bebas dilanggar, bebas diabaikan, tidak boleh dipaksakan dan bebas dicampakkan. Dan ini memang sudah menjadi konsekuensi dari penerapan sistem kapitalisme, memisahkan aturan agama dengan kehidupan. Jadi tidak mengherankan jika baru-baru ini, masyarakat dihebohkan dengan razia warung makanan. Terlepas dari cara yang kurang tepat, imbasnya melebar pada semakin kuatnya arus opini liberal. Desakan mencabut perda berbau syariah semakin menguat. Dan lagi-lagi ini wajar terjadi selama negeri ini  berpijak pada sistem kapitalisme yang dijaga demokrasi, negeri ini akan terus menginjak syariat selama tidak mengambil sistem Islam secara total.

Maka menjadi sebuah keharusan, menyadarkan umat bahwa kapitalisme dan demokrasi adalah biang keladi tumbuh suburnya pemikiran dan perilaku rusak, sesuka hati mencampakkan aturan ilahi. Menyadarkan bahwa umat Islam seharusnya hidup dalam sistem Islam bukan sistem kufur dan batil. Karena tidak mungkin hukum Islam tegak, diterapkan dan menjadi rahmatan lil’alamin selama sistem yang diambil adalah kapitalisme. Syariah hanya bisa diterapkan secara kaffah dalam sistem Islam, yaitu khilafah. Islam akan benar-benar menjadi rahmatan lil’alamin, menyelamatkan kehidupan manusia di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.

Pare, 17 Juni 2016

Sunday, 12 June 2016

Alangkah Ironi Negeri Demokrasi Sekular Ini



Film "Alangkah Lucunya Negeri Ini", hanya menonton sebentar, saat Bang Syamsul dikenalkan oleh Bang Muluk sebagai sarjana pendidikan yang akan mengajari anak-anak pencopet tentang pentingnya pendidikan. Hingga selesai, sedih dan menitikkan air mata saat Bang Muluk ditangkap satpol PP. Pesimis dengan kalimat penutup yang diambil dari UUD .

Sebuah pengorbanan untuk mengubah jalan hidup para pencopet, namun lagi-lagi tak bisa banyak berbuat. Tetap saja terjebak dalam system demokrasi secular kapitalistik. Demokrasi, hanya memperalat suara rakyat untuk membuat hukum sesuai hawa nafsu. Sekular, mengambil syariat hanya sebatas yang diinginkan, membuang yang lain padahal harusnya semua diamalkan. Kapitalistik, hanya menjadikan dunia sebagai orientasi, mengukuhkan para pemilik modal menenggelamkan kaum lemah.

Dan insya Allah hingga detik ini masih meyakini, hanya dengan system khilafah saja perubahan menjadi lebih baik akan terwujud. Ya, ujung-ujungnya akan selalu mengajak  umat Islam untuk memperjuangkan khilafah. Bukannya menutup  mata, tak peduli dengan apa yang sebenarnya dibutuhkan umat. Menjumpai dalam kehidupan fakta yang membuat sedih tak terperi. Pernah mengenal anak yang mengemis, mengamen, merokok dan terindikasi suka mencuri. Dan sekarang lebih sering menghabiskan waktu di lampu lalu lintas. Mengenal juga anak yang sering tidak masuk sekolah. Bantu ibunya mencari nafkah, kerja di pembibitan, memulung. Memanfaatkan waktu luang dengan mencari rumput, hampir tidak pernah bermain.

Insya Allah tidak hanya berdiam diri atau bahkan tak peduli. Berusaha mengembalikan pada solusi Islam. Solusi Islam yang bisa dilakukan sebagai individu, solusi yang menuntut kepedulian dari masyarakat, solusi yang membutuhkan peran Negara. Karena memang penerapan hukum Islam tegak atas tiga pilar. Individu yang bertakwa, masyarakat yang saling menolong, menasehati beramamar makruf nahi munkar, dan Negara yang mengurusi urusan rakyat, menjadi perisai bagi rakyat.

Kembali dengan masalah yang mendera negeri ini, salah satunya kemiskinan. seolah sulit sekali bagi orang miskin untuk bisa hidup tenang dan nyaman menjadi hamba Allah yang mendedikasikan hidup untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah. Secara fakta negeri ini memang tidak berhukum pada syariat Allah, negeri ini memilih jalan demokrasi untuk membuat aturan. Kapitalisme begitu mencengkeram pemikiran rakyat, seolah hidup ini hanya demi bertahan saja dari kondisi yang semakin menghimpit, seolah tak ada sedikitpun ruang untuk berpikir tentang bagaimana kehidupan di  akhirat.

Kemiskinan memang bisa muncul dalam system apapun, namun peluang kemiskinan sistemik sangat besar dalam system kapitalisme. Namun yang pasti, Islam bisa menyelesaikan masalah kemiskinan. Masalahnya tinggal kita mau mengambil solusi tersebut atau malah mengabaikan dan bahkan mencampakkan serta menganggapnya utopis belaka.

Memang untuk sekadar meyakini bahwa Islam bisa menjadi solusi atas semua masalah tidak mudah, apalagi hingga memperjuangkan Islam tegak dalam bingkai khilafah. Itu semua membutuhkan usaha, usaha untuk meyakinkan diri sendiri, mencari ilmunya, mengkaji Islam, usaha untuk mengajak orang lain untuk sama-sama meyakini dan bergabung dalam barisan perjuangan. Maka, keseriusan dan kesungguhan untuk terus mengenal Islam dan khilafah harus dilakukan. Sabar dan ikhlas meniti jalan ilmu dan dakwah, berpikir jernih dengan tuduhan rendahan. Benar-benar menimbang, tidak mudah terbawa arus. Dan itu akan terjaga ketika kita berada dalam lingkungan dan jamaah yang juga terus memberikan arahan. Maka merubahlah bersama jamaah dakwah yang menjaga keistiqamahan untuk selalu menjadikan kehidupan ini diatur dengan aturan Allah semata.

Tidak banyak yang bisa dijelaskan melalui tulisan ini, seharusnya menyediakan waktu khusus untuk mengobrol serius membicarakan permasalah dalam hidup ini. Membicarakan Islam dari A sampai Z. Sedikit-demi sedikit menguatkan diri, membekali dengan ilmu, berdakwah di tengah masyarakat dan memperjuangkan Negara yang akan menerapkan Islam kaffah.

#YukNgaji


Pare, 12 Juni 2016