Wednesday, 20 July 2016

Islam Kaffah Tidak dengan Demokrasi, Hanya dengan Khilafah (Masih Tentang Ikan dan Air)


Akhirnya menggunakan saluran pipa yang memang lumayan rumit. Alhamdulillah, akhirnya kolam kecil terisi. Sengaja mengisi lebih dari setengah biar jeda mengisi lagi agak lama. Keesokan harinya ngecek, lha kok airnya habis lagi, sisa ikan yang belum dipindahkan ada yang mati dan ada yang menggelepar hampir mati. Pasti ada yang tidak beres. Dengan pengamatan yang seksama akhirnya menemukan, kolamnya bocor. Karena kolam bawah, otomatis air merembes ke tanah. Ya wajar meski diisi ya surut lagi. Selama akar masalah tidak diatasi ya ga bakalan beres. Akhirnya membiarkan saja, dan ikan yang tersisa akhirnya mati semua. Ya sudah.

Pentingnya mencari akar masalah dan menyelesaikan masalah hingga ke akarnya.

Begitu pula dengan kondisi umat Islam saat ini. Mengalami berbagai masalah, semua bidang dan semua lini tak henti dirundung masalah. Sudah jelas peringatan dari Allah, kerusakan di bumi karena ulah manusia, kesempitan hidup karena berpaling dari syariatNya. Apalagi di negeri ini yang mendewakan demokrasi. Demokrasi yang memberikan kedaulatan membuat hukum di tangan manusia jelas menduakan syariat Allah. Demokrasi yang berlindung di balik suara rakyat tidak akan pernah memberi kesempatan penerapan Islam kaffah meski rakyat menghendaki. Karena demokrasi adalah penjaga kapitalisme sekuler, yang tak akan pernah mengijinkan aturan Allah diterapkan secara sempurna dalam seluruh aspek kehidupan. Demokrasi hanya akan menjadi jalan utopis menuju Islam kaffah. Selama demokrasi dan ideology kapitalisme masih dijadikan sandaran dalam perubahan, umat Islam akan terus terpuruk, karena memang akar masalah dari penderitaan umat adalah karena mereka hidup dalam cengkeraman kapitalisme. Umat manusia selayaknya hidup dalam system yang terbaik buatan al Khalik. 

Tahapan dakwah menuju tegaknya Khilafah : Tahapan Dakwah Menegakkan Khilafah
Pare, 19 Juli 2016

Islam Tanpa Syariah dan Khilafah, Seperti Ikan Tanpa Air


Hujan mengguyur sepanjang malam Minggu hingga seharian. Hanya bersela mendung dan gerimis. 

Kolam ikan masih dalam batas aman, tidak sampai meluber. Dan menganggap semua kolam dalam batas aman, belum perlu nambah air, namun ternyata ada satu kolam yang airnya hampir habis, dihuni sebagian ikan mujair besar dan sebagian lagi ikan kecil. Yang kecil masih bisa bertahan, apa daya yang berukuran lebih besar mati. Dan mati pun tidak cukup menghentikan “penderitaan”, berpindah ke kolam lele induk. Berganti tempat, untuk selanjutnya terkoyak dan dimangsa lele besar. Empat hari tanpa perhatian, terabaikan. 

Memang kolam berukuran kecil dan letakknya di bawah, kolam tanah makanya air lebih mudah terserap dan habis. Mujair juga tipe ikan yang tahan tanpa makanan, seharian tidak dikasih makan juga masih bertahan hidup, tapi semua ikan bisa dipastikan tidak bertahan tanpa air. Memang ada pipa saluran, tapi tidak termanfaatkan. Hanya menambah air secara manual tradisional. Dan ketika diabaikan lama-kelamaan pasti mati juga.

Tidak jauh berbeda, seorang muslim seharusnya hidup dalam masyarakat Islam, dalam masyarakat yang menerapkan sistem Islam, karena itulah yang seharusnya. Sudah bersyahadat, sudah mengikrarkan rukun Iman dan Islam maka seharusnya juga hidup dalam masyarakat yang sesuai dengan aturan aqidah Islam. Banyak ayat dan hadits yang mengingatkan serta mengajak umat Islam untuk menerapkan hukum Allah, untuk memutuskan semua perkara berdasarkan Al Quran dan Hadits, mencari ijma’ sahabat dan menggali hukum melalui ijtihad. Bukan malah menyerahkan pada manusia, atas nama demokrasi dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat membuat hukum tandingan mengabaikan aturan Tuhan.

Seharusnya umat Islam hidup menerapkan syariat, dan untuk menerapkan syariat secara menyeluruh tidak mungkin mengandalkan demokrasi kapitalis, mengagungkan kebebasan tapi tidak membebaskan umat Islam menerapkan syariat Islam secara menyeluruh. Umat Islam hanya akan bisa menerapkan syariat kaffah dalam sistem khilafah rasyidah. 

Membiarkan umat Islam terus hidup dalam sistem batil sama saja dengan mengantarkan umat pada kematian, meski perlahan dan terkadang tak merasakan namun akhirnya sangat menyakitkan. Umat terus menjadi mangsa pemilik modal, penjajah rakus dan menjadi bulan-bulanan kaki tangan pengusung ideologi sesat kapitalisme. Umat semakin sibuk dengan urusan bertahan hidup di dunia, menjadikan dunia segalanya dan sedikitpun tak terbersit berpikir tentang ketaatan pada Allah dan kehidupan kekal di akhirat. 

Mengajak umat untuk menerapkan Islam dan mengembalikan khilafah rasyidah ‘ala minhajinnubuwwah adalah upaya untuk mengembalikan bagaimana seharusnya umat Islam hidup sesuai dengan tujuan penciptaan manusia. 

Mengajak mengkaji Islam melalui pembinaan berjamaah, pembinaan intensif, berinteraksi dengan masyarakat. Mengajak para tokoh, menjalin ukhuwah islamiyah. Membongkar makar penjajah dan kaki tangannya. Tidak membiarkan negeri ini semakin hancur karena kerakusan manusia tanpa iman dan takwa. 

Mengajak untuk menegakkan khilafah, melanjutkan kehidupan Islam adalah sebuah keharusan, agar umat tidak semakin menderita, agar umat tidak semakin jauh dari aturan Islam. Agar janji Allah Islam  menjadi rahmatan lil’alamin terwujud.

Pare, 23 Juni 2016

Friday, 17 June 2016

Aturan dan Sanksi



Naik motor helm harus dipakai
Naik mobil harus mengenakan sabuk pengaman ditaati
Jika melanggar maka akan mendapat sanksi
Karena memang aturan itu beriringan dengan sanksi
Aturan tanpa sanksi ibarat macan tak bergigi
Tak ada efek jera sama sekali

Aturan dibutuhkah manusia dalam kehidupan
Agar semua berjalan dengan keteraturan
Aturan ada untuk mencegah kerusakan
Jika aturan diabaikan tunggu saja datangnya kehancuran

Dalam kehidupan aturan terbaik adalah dari ilahi
Mengatur seluruh sendi kehidupan tanpa ada satupun yang terlewati
Muslim sejati akan menaati aturan Allah dengan senang hati
Salat, zakat, puasa di antara aturan wajib yang ditaati
Tak ada satupun yang menyelisihi bahwa kewajiban seharusnya dijalani
Tawar-menawar seharusnya tak ada lagi
Kewajiban dilaksanakan di dunia sebagai bekal kehidupan hakiki

Islam menetapkan aturan sekaligus memberikan sanksi
Sebagai zawajir atau pencegah agar jera tak mengulangi
Sebagai zawabir atau penebus agar tidak mendapat siksa di akhirat nanti
Sanksi bisa berupa hudud, jinayat, ta’zir dan mukhalafat yang digali dari dalil syar’i

Hudud adalah sanksi atas kemaksiatan yang telah ditetapkan jenisnya oleh Allah SWT, di antaranya untuk kasus zina, liwath (homoseksual), pencurian, pembegalan, dan murtad. Allah SWT menetapkan larangan atas perbuatan-perbuatan tersebut sekaligus menentukan jenis hukumannya. Jinayat adalah sanksi untuk kasus penganiayaan dan serangan terhadap badan. Misalnya pembunuhan, penyerangan atas tubuh manusia.  Ta’zir adalah pelanggaran terhadap apa-apa yang telah ditentukan Allah namun tidak ditetapkan jenis sanksinya dan tidak termasuk dalam perkara hudud dan jinayat. Contoh perkara yang masuk kriteria ta’zir adalah perbuatan mendekati zina, meninggalkan salat, gangguan keamanan, melanggar kehormatan. Ta’zir ditetapkan secara ijtihad dan dilegalisasikan kepala negara. Sedangkan mukhalafat adalah sanksi atas pelanggaran yang tidak termasuk pada hudud, jinayat dan ta’zir. Mukhalafat semata kewenangan penguasa. Namun penguasa tetap dibatasi hukum syara’, kewenangan penguasa  tidak boleh menghalalkan yang haram, dan sebaliknya. Tidak boleh juga mewajibkan perbuatan yang mubah dan sunah dan seterusnya. Penguasa tetap menjadikan hukum syara’ sebagai standar. Contoh perkara yang menjadi kewenangan penguasa adalah pengelolaan baitul mal, pengaturan tata ruang, penetapan aturan administrasi kependudukan, ketertiban lalu lintas dan lain sebagainya. Jadi, Islam adalah agama yang lengkap, memberikan perintah dan larangan sekaligus menetapkan sanksi bagi pelanggarnya. Maka, Islam pun juga akan menetapkan apa saja yang diperlukan dalam rangka terlaksananya semua aturan dan menegakkan sanksi bagi setiap pelanggar.


Aturan dalam Islam dilaksanakan semata sebagai ketaatan kepada Allah SWT Sang Pencipta dan Pengatur segala urusan di dunia ini
Bukan demi menuruti hawa nafsu, bukan dipilih yang disukai ditinggalkan yang dibenci
Pelaksanaan aturan dan sanksi juga bukan karena kebebasan memilih dan dibenturkan dengan toleransi
Yang mengidentikkan ketaatan dengan pemaksaan dan pemberian sanksi sebagai wujud tidak toleransi dengan perbedaan serta bagian dari pelanggaran hak asasi
Bukan, itu semua lahir dari pemikiran yang salah para pendengki
Manusia membutuhkan aturan dari ilahi
Manusia membutuhkan kontrol dalam setiap perbuatannya tidak menuruti hawa nafsu sendiri

Itu semua dilakukan agar manusia tidak hidup dalam kekacauan
Pengambilan aturan yang diserahkan pada hawa nafsu manusia hanya akan membuat kerusakan
Maka aturan harus diambil dari Dzat Yang Menciptakan kehidupan

Namun saat ini, dimana sistem kapitalisme mencengkeram negeri muslim ini, pemikiran sekular merasuki benak kaum muslimin. Kebebasan diagungkan, syariat diabaikan dan dijadikan bahan ejekan. Tidak berpuasa tanpa udzur syar’i dianggap sebagai kebebasan, toleransi terhadap pelanggaran  dianggap sebagai sikap mulia, keinginan untuk berpegang teguh pada ketentuan syariat dianggap sebagai bentuk pemaksaan. Dalam sistem kapitalisme ini apa yang dilarang dan diperintahkan Allah dan Rasulullah bebas dipilih, bebas dilanggar, bebas diabaikan, tidak boleh dipaksakan dan bebas dicampakkan. Dan ini memang sudah menjadi konsekuensi dari penerapan sistem kapitalisme, memisahkan aturan agama dengan kehidupan. Jadi tidak mengherankan jika baru-baru ini, masyarakat dihebohkan dengan razia warung makanan. Terlepas dari cara yang kurang tepat, imbasnya melebar pada semakin kuatnya arus opini liberal. Desakan mencabut perda berbau syariah semakin menguat. Dan lagi-lagi ini wajar terjadi selama negeri ini  berpijak pada sistem kapitalisme yang dijaga demokrasi, negeri ini akan terus menginjak syariat selama tidak mengambil sistem Islam secara total.

Maka menjadi sebuah keharusan, menyadarkan umat bahwa kapitalisme dan demokrasi adalah biang keladi tumbuh suburnya pemikiran dan perilaku rusak, sesuka hati mencampakkan aturan ilahi. Menyadarkan bahwa umat Islam seharusnya hidup dalam sistem Islam bukan sistem kufur dan batil. Karena tidak mungkin hukum Islam tegak, diterapkan dan menjadi rahmatan lil’alamin selama sistem yang diambil adalah kapitalisme. Syariah hanya bisa diterapkan secara kaffah dalam sistem Islam, yaitu khilafah. Islam akan benar-benar menjadi rahmatan lil’alamin, menyelamatkan kehidupan manusia di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.

Pare, 17 Juni 2016

Sunday, 12 June 2016

Alangkah Ironi Negeri Demokrasi Sekular Ini



Film "Alangkah Lucunya Negeri Ini", hanya menonton sebentar, saat Bang Syamsul dikenalkan oleh Bang Muluk sebagai sarjana pendidikan yang akan mengajari anak-anak pencopet tentang pentingnya pendidikan. Hingga selesai, sedih dan menitikkan air mata saat Bang Muluk ditangkap satpol PP. Pesimis dengan kalimat penutup yang diambil dari UUD .

Sebuah pengorbanan untuk mengubah jalan hidup para pencopet, namun lagi-lagi tak bisa banyak berbuat. Tetap saja terjebak dalam system demokrasi secular kapitalistik. Demokrasi, hanya memperalat suara rakyat untuk membuat hukum sesuai hawa nafsu. Sekular, mengambil syariat hanya sebatas yang diinginkan, membuang yang lain padahal harusnya semua diamalkan. Kapitalistik, hanya menjadikan dunia sebagai orientasi, mengukuhkan para pemilik modal menenggelamkan kaum lemah.

Dan insya Allah hingga detik ini masih meyakini, hanya dengan system khilafah saja perubahan menjadi lebih baik akan terwujud. Ya, ujung-ujungnya akan selalu mengajak  umat Islam untuk memperjuangkan khilafah. Bukannya menutup  mata, tak peduli dengan apa yang sebenarnya dibutuhkan umat. Menjumpai dalam kehidupan fakta yang membuat sedih tak terperi. Pernah mengenal anak yang mengemis, mengamen, merokok dan terindikasi suka mencuri. Dan sekarang lebih sering menghabiskan waktu di lampu lalu lintas. Mengenal juga anak yang sering tidak masuk sekolah. Bantu ibunya mencari nafkah, kerja di pembibitan, memulung. Memanfaatkan waktu luang dengan mencari rumput, hampir tidak pernah bermain.

Insya Allah tidak hanya berdiam diri atau bahkan tak peduli. Berusaha mengembalikan pada solusi Islam. Solusi Islam yang bisa dilakukan sebagai individu, solusi yang menuntut kepedulian dari masyarakat, solusi yang membutuhkan peran Negara. Karena memang penerapan hukum Islam tegak atas tiga pilar. Individu yang bertakwa, masyarakat yang saling menolong, menasehati beramamar makruf nahi munkar, dan Negara yang mengurusi urusan rakyat, menjadi perisai bagi rakyat.

Kembali dengan masalah yang mendera negeri ini, salah satunya kemiskinan. seolah sulit sekali bagi orang miskin untuk bisa hidup tenang dan nyaman menjadi hamba Allah yang mendedikasikan hidup untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah. Secara fakta negeri ini memang tidak berhukum pada syariat Allah, negeri ini memilih jalan demokrasi untuk membuat aturan. Kapitalisme begitu mencengkeram pemikiran rakyat, seolah hidup ini hanya demi bertahan saja dari kondisi yang semakin menghimpit, seolah tak ada sedikitpun ruang untuk berpikir tentang bagaimana kehidupan di  akhirat.

Kemiskinan memang bisa muncul dalam system apapun, namun peluang kemiskinan sistemik sangat besar dalam system kapitalisme. Namun yang pasti, Islam bisa menyelesaikan masalah kemiskinan. Masalahnya tinggal kita mau mengambil solusi tersebut atau malah mengabaikan dan bahkan mencampakkan serta menganggapnya utopis belaka.

Memang untuk sekadar meyakini bahwa Islam bisa menjadi solusi atas semua masalah tidak mudah, apalagi hingga memperjuangkan Islam tegak dalam bingkai khilafah. Itu semua membutuhkan usaha, usaha untuk meyakinkan diri sendiri, mencari ilmunya, mengkaji Islam, usaha untuk mengajak orang lain untuk sama-sama meyakini dan bergabung dalam barisan perjuangan. Maka, keseriusan dan kesungguhan untuk terus mengenal Islam dan khilafah harus dilakukan. Sabar dan ikhlas meniti jalan ilmu dan dakwah, berpikir jernih dengan tuduhan rendahan. Benar-benar menimbang, tidak mudah terbawa arus. Dan itu akan terjaga ketika kita berada dalam lingkungan dan jamaah yang juga terus memberikan arahan. Maka merubahlah bersama jamaah dakwah yang menjaga keistiqamahan untuk selalu menjadikan kehidupan ini diatur dengan aturan Allah semata.

Tidak banyak yang bisa dijelaskan melalui tulisan ini, seharusnya menyediakan waktu khusus untuk mengobrol serius membicarakan permasalah dalam hidup ini. Membicarakan Islam dari A sampai Z. Sedikit-demi sedikit menguatkan diri, membekali dengan ilmu, berdakwah di tengah masyarakat dan memperjuangkan Negara yang akan menerapkan Islam kaffah.

#YukNgaji


Pare, 12 Juni 2016

Friday, 27 May 2016

Maafkan


Hari-hari ke depan sepertinya akan lebih sering menjumpai atau mendapati apem

Bisa jadi apem contong, apem panggang, apem kukus. Bahannya sama, tepung beras dengan pengembang tape singkong. Cetakannya pun mungkin akan beragam. Tapi statusnya tetap apem.

Apem, yang katanya berasal dari kata afwan bertansformasi jadi afem terus hasil akhirnya menjadi apem. Jika memang benar apem  dari kata afwan, tidak terlalu heran. Karena apem selalu ada di makanan yang dibagikan ketika waktu-waktu tertentu, misalnya ketika kirim doa ( masalah sampai pa tidak doa kepada orang yang meninggal, masuk bahasan lain). Yang memberi apem bermaksud meminta maaf kepada orang yang diberi apem. Dan hari-hari ke depan, di saat bulan Sya’ban mendekati Ramadan apem akan semakin banyak beredar. Menghadapi bulan Ramadan, masyarakat akan saling memaafkan, tidak hanya melalui pemberian apem, tapi juga sepaket nasi dengan lauk, orang kampung saya bilang megengan (ada filosofinya sendiri). 

Terlepas dari itu semua, meski saya tidak membuat apem, apalagi masalah kue saya ga suka rempong. Bagi saya makan nasi plus lauk kenyang itu lebih menyenangkan. Makan kue sekenyang apapun rasa kenyangnya beda. Maklum lidah n perut wong ndeso, belum makan nasi ya belum dikatakan makan. Saya juga hendak meminta maaf. Meski pernah mendengar, meminta maaf dan memaafkan itu sangat mudah di mulut, namun menerimanya tidak semudah saat mengatakan, whatever lah. 

Yang pasti Allah SWT sudah menjanjikan : 
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. ( Ali Imran 133-134)

Di bulan Sya’ban ini, Rasulullah menganjurkan umatnya untuk memperbanyak kebaikan dan tentu juga menghindari kemaksiatan. Meskipun itu dianggap ringan. Menipu, berbuat curang, tidak amanah, korupsi waktu, menjadikan materi sebagai tujuan, semangat ketika mendapat imbalan materi, menggunjing. Dan lain sebagainya. 


Di bulan Sya’ban ini, tetap berusaha semangat menjalani semua kewajiban, tak terkecuali istikamah dakwah menyampaikan khilafah. Jika perlu semakin menambah semangat. Karena khilafah adalah satu-satunya system yang akan memfasilitasi penerapan Islam secara menyeluruh, catat : menyeluruh, bukan parsial. Menerapkan hukum Allah yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya, manusia dengan Allah dan manusia dengan sesamanya, di bidang poleksosbudhankam. Bukan demokrasi, bukan kapitalisme, juga bukan social komunis yang memberi Islam tempat. Hanya sistem khilafah saja. 

Untuk yang menentang khilafah, maaf kami tidak menyerah
Untuk yang menghalangi penyebaran opini khilafah, maaf kami akan terus berdakwah
Untuk yang belum sepenuhnya sepakat dengan khilafah, maaf kami akan terus menjalin ukhuwah
Untuk yang masih salah paham dengan khilafah, maaf kami akan terus meluruskan yang salah
Untuk yang masih suka memfitnah, insya Allah kami akan terus bersikap ramah
Untuk yang sukanya memancing rusuh, insya Allah kami tidak akan merasa kalah

Pare, 27 Mei 2016

Tuesday, 24 May 2016

Mengunjungi Asrama Haji



Terakhir ada acara di Asrama Haji Sukolilo Surabaya bersamaan dengan acara manasik haji, ada yang masih muda namun lebih banyak yang tua, bahkan ada yang di atas kursi roda. Maka terinspirasi mengajak orang tua, yang memang belum berkesempatan menunaikan ibadah haji, masih daftar tunggu. Mumpung bapak ibu masih bisa berjalan sendiri, setidaknya tinggal mendampingi. Dan juga pelajaran Fikih kelas 5 juga ada bahasan Haji dan Umrah, jadi lumayan sedikit menguasai materi haji.  Jadilah mengunjungi Asrama Haji untuk sekadar main, dan sedikit ikutan latihan manasik. 

Mengunjungi asrama haji memang bukan untuk pertama kali, asrama haji lumayan dekat dengan kampus jaman kuliah dulu, juga sudah hafal daerahnya. Berhubung agak mendadak naik bis saja, tapi angkutan umumnya super lama sekali, super jarang sekali. Nunggunya lama banget, capek juga nunggu. Akhir-akhir ini memang jarang naik angkutan umum, apalagi di Pare. Jarang juga anguktannya. Namun jadi mikir, mungkin sepi penumpang, armada angkutan membatasi bis yang jalan. Mungkin hanya ramai kalo akhir minggu saja. Akhirnya naik bis Pare Surabaya (Patas) – turun PLN ganti bis Ijo- sampe Joyoboyo naik Lyn P, bener-bener napak tilas jaman kuliah. Pulang Alhamdulillah masih dapat travel, pesan pas berangkat. Surabaya, tambah padat saja kendaraannya, namun masih saja angkutan umumnya seadanya. Di satu sisi mobil bagus bersliweran, di sisi lain masyarakat kebanyakan harus rela berjejal dan kepanasan di angkutan umum. 

Kembali tentang haji, memang lagi tren paket umrah. Alhamdulillah, semoga sebanding dengan kesadaran untuk melaksanakan ibadah sunah. Ya, membutuhkan biaya tak sedikit, apalagi bagi orang yang hartanya pas-pasan. Semoga saja menjadi amal ibadah yang diterima Allah SWT. Tetapi masih saja ada yang umrah demi gaya hidup semata, umrah sebatas wisata religi. Umrah sebatas demi meningkatkan status social dalam pergaulan. Semoga orang-orang semisal ini mendapat hidayah. 

Namun tetap optimis, seiring berjalannya waktu, kesadaran untuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim semakin baik. Semoga juga diiringi dengan kesadaran untuk memberikan pelayanan terbaik bagi calon dan jamaah haji. Bukan pelayanan bermotif bisnis semata. Sebagaimana tren juga, memanfaatkan segala sesuatu demi teraih materi sebanyaknya. Tak peduli ibadah yang harusnya merealisasikan nilai ruhiah menjadi pelayanan yang mengejar nilai materi. Satu hal yang sangat mungkin terjadi saat pemikiran matre  mendominasi sebagian besar benak umat manusia. 

Semoga kesadaran untuk kembali menempatkan segala sesuatu sesuai dengan apa yang telah ditetapkan Allah semakin meningkat di tengah masyarakat. Masyarakat tidak lagi takut dengan penerapan syariat, masyarakat semakin rindu dengan penerapan Islam kaffah, semakin terbiasa dan mendukung perjuangan menegakkan khilafah yang akan mewujudkan Islam Rahmatan lil’alamin.


Pare, 24 Mei 2016

Wednesday, 18 May 2016

Kapitalisme : Haram Tapi Dinilai Dengan Materi Tinggi


Pagi-pagi memilah sawi, “nglelesi”. Sawi yang mau dibuang sama pemiliknya, satu becak dibuang di tempat penampungan sampah sementara. Sudah tidak laku, harganya murah sekali. Daripada pusing ngurusi lebih baik dibuang saja. Memang tidak sekali ini saja, sayuran tak ada harganya dibuang begitu saja. Tomat, terong, mentimun juga pernah dibiarkan begitu saja. Jadi ingat berita dulu pernah di Brebes bawang merah dibuang di jalan-jalan.

Sekitar jam sembilan, bertemu wali murid yang pernah membayar keperluan sekolah anaknya, mengangsur dengan recehan. Ya, benar-benar recehan. Memang pernah mendengar bagaimana wali murid tersebut nyari tambahan uang, tapi ga mau mikir macem-macem, pekerjaan utamanya tukang becak.

Siang, jam 13.20  sampai lebih jam 14.30, editing baner, ongkosnya hanya delapan ribu rupiah. Ya, hanya delapan ribu rupiah. Harga yang begitu murahnya untuk ketrampilan disain meski sederhana. Mungkin saya ga telaten, tidak mau dan tidak bisa, apalagi selama satu jam hanya dibayar segitu, dulu ikut bantu ngerjakan analisis regresi mahasiswa jurusan “borju’ salah satu ptn saja dibalas dengan 2 loyang pizza bermerek ukuran sedang (sangat berkesan karena untuk pertama kalinya makan pizza yang iklannya ada di tivi). Padahal tidak minta imbalan, tapi setidaknya jadi tahu segitu ya mereka yang merasa butuh berani merogoh koceknya. 

Berbeda lagi, ketika bunga gelombang cinta buming, bibitnya baru ukuran cm saja sudah jutaan. Belum lagi buming ikan lohan, batu akik. Hanya demi tumbuhan, ikan, dan batu orang rela mengeluarkan uang yang tak masuk akal, bisa buat beli beras untuk orang sekampung. 

Begitulah, harga dalam system ekonomi kapitalisme sangat mudah dipermainkan. Nilai barang dan saja tidak diukur berdasarkan seberapa manusia membutuhkan, tapi berdasarkan seberapa manusia menginginkan. Maka tak heran, dibuatlah opini dan persepsi agar manusia menginginkan barang atau jasa tertentu, dan ketika manusia merasa pada puncak keinginan mereka rela mengeluarkan uang berapa pun besarnya. 

Sungguh ironi, di satu sisi ada benda atau jasa yang membutuhkan usaha tetapi sangat tak bernilai namun di sisi lain barang atau jasa yang bukan penentu hidup dan mati begitu melambung harganya. Usaha, tenaga dan biaya yang telah dikeluarkan seolah tak diperhitungkan sama sekali dengan alasan persediaannya melimpah dan manusia tidak menginginkannya. Maka, membuang barang yang halal  begitu saja dianggap tidak masalah, menjual barang haram namun diinginkan dianggap sah-sah saja, memberikan jasa haram tidak menjadi permasalahan. Selama masih ada yang menginginkan semua layak dimanfaatkan. Tidak memperdulikan lagi status halal haram. Miras dianggap barang ekonomi yang layak dipasarkan karena manusia menginginkan, pelacuran dianggap sah sebagai cara mencari uang selama ada yang menginginkan dan bersedia mengganti dengan uang.

Dalam system kapitalisme yang berasas manfaat dan sekularisme, sangat mungkin terjadi pekerjaan halal dengan pengorbanan tinggi tak dianggap bernilai ekonomi dan tak patut dihargai  namun sebaliknya, pekerjaan tanpa pengorbanan atau dengan pengorbanan yang sangat kecil dibuat sedemikian rupa agar diinginkan sehingga layak diberikan penghargaan materi melimpah. Puas itu ketika keinginan terwujud, ingin itu ketika kepuasan teraih. Anggapan yang wajar, karena kebebasan lah yang menjadi pendorong. Dan lagi-lagi kebebasan adalah salah satu ajaran inti dari ideology kapitalisme. 

Jika ini terus dibiarkan, yang kuat akan semakin bebas memiliki dan mengendalikan, yang bermodal akan semakin mencengkeram atas nama investasi. Yang lemah akan semakin terpuruk, yang miskin akan semakin tersisihkan. Yang kaya bebas menghamburkan kekayaan, yang miskin semakin hidup terhimpit. Yang kaya berpesta membuang makanan, yang miskin mengais sisa makanan di tempat sampah. 

Jangan dibiarkan, harus ada perubahan.

Bersambung

Pare, 17 Mei 2016

Friday, 13 May 2016

Mengapa Khilafah Terus ?


Ehm..ehm..ehm.. sepertinya khilafah semakin hangat diperbincangkan. Baik yang sangat kontra, sedikit kontra, bilangnya netral saja, mendukung tapi malu-malu, ragu untuk mendukung tapi agak sepakat, pro dan mendukung dengan sepenuh jiwa. Mau pilih yang mana ? Ya terserah saja, yang penting ga masuk kriteria fitnah, ga masalah. Toh semua keputusan kita sendiri yang dimintai pertanggungjawaban. Putuskan semua dengan ilmu bukan semata karena hawa nafsu. Saya pribadi insya Allah masuk yang terakhir, dan semoga tetap istiqamah. Amin.

Mungkin ada yang bertanya, “ Ngomongnya khilafah terus, ga da kerjaan lain apa? “. Waduh, ga gitu juga kali, kalo saya sih banyak kerjaan, banyak juga yang dipikirkan. Namun ketika sudah berazam untuk berdakwah melanjutkan kehidupan Islam, maka menjadikan dakwah sebagai poros adalah sebagai konsekuensi dari keputusan tersebut. Jika tidak menjadikannya poros ya hasilnya belum tentu optimal. Aktivitas selain dakwah ya tetap jalan, dakwah itu salah satu kewajiban bagi muslim, masih ada kewajiban-kewajiban lain yang kelak juga akan dimintai pertanggungjawaban. Tapi juga bukan berarti beranggapan, lebih baik optimalkan kewajiban-kewajiban lain, dakwah biar dilakukan orang-orang yang mampu saja. Tidak. Terus melayakkn diri untuk menjadi pengemban dakwah. Agar tetap bisa menyampaikan Islam, mencegah kemungkaran. Kuatkan aqliyah dan nafsiyah, insya Allah apapun masalahnya, bisa terus dihadapi.

Atau ada yang berkata, “ Tidak usah khilafah terus lah, apa-apa kok solusinya khilafah”. Sistem kehidupan di dunia ini yang akan menentukan corak kehidupan bermasyarakat dan bernegara setidaknya ada tiga : komunisme, kapitalisme dan Islam. Ketiga system tersebut mempunyai cara pandang yang khas dalam memaknai kehidupan. Secara akidah komunisme tidak mengakui keberadaan Allah, maka wajar tidak mau pake hukum Allah. Kapitalisme, mengakui agama dan pencipta tapi ga mau pake aturan dari Allah dalam kehidupan bernegara, maka wajar jika kapitalisme mengambil demokrasi mengatasnamakan rakyat dalam menentukan hukum. Islam, menjadikan rukun iman sebagai landasan. Allah sebagai pencipta sekaligus pengatur, Malaikat sebagai “penghubung” antara Allah dan manusia, Nabi dan Rasul sebagai pembawa risalah, kitab suci sebagai pedoman dalam kehidupan, sadar bahwa yang dijalani di dunia hanya sementara dan akan dimintai pertanggungjawaban setelah datangnya kiamat, pasrah dengan qadla Allah berusaha untuk optimal menjalankan potensi yang ditakdirkan Allah. Diantara ketiga system itu, secara logis akan membuat seorang muslim kaffah dalam beragama ya hanya system Islam. Dan Islam akan menjadi corak kehidupan ketika sistemnya khilafah. Dengan khilafah, semuanya menjadi jelas. Tidak setengah-setengah, tidak seperti saat ini ketika kapitalisme menjadi system yang mencengkeram di negeri ini. Keinginan untuk menerapkan Islam akan selalu saja dijegal. jangan bawa-bawa Islam, jangan sok suci, jangan memaksakan kebenaran, adanya begini ya sudah jalani saja. Akan terus begitu. Hukum Islam yang mengatur semua lini kehidupan, baik hubungan manusia dengan dirinya, hubungan bermasyarakat dan hubungan dengan Allah hanya bisa diterapkan secara sempurna dalam system Islam. Bukan system yang lain. Yang belum sepakat dengan khilafah memang wajar, namun juga harus bertanya. Benarkah demokrasi warisan Nabi, benarkah sekulerisme yang menjadi jalan para sahabat, benarkah system Islam begitu kejam dan buruknya hingga tak layak diterapkan kembali. Benarkah demokrasi kapitalisme adalah system yang diridhoi Allah SWT.

Memang perlu waktu untuk meyakinkan bahwa seharusnya umat menuntut tegaknya khilafah bukan yang lainnya. Terus menyadarkan bukan malah menghentikan. Terus berada pada thariqah dakwah Rasulullah. Maka teruslah mengkaji agar semakin tahu bagaimana khilafah rasyidah tegak dengan metode yang syar’I, bagaimana khilafah bisa memberi solusi, bagaimana khilafah memperlakukan non muslim, bagaimana khilafah bisa mewujudkan Islam sebagai rahmat untuk seluruh alam.


Pare, 13 Mei 2016



Sunday, 8 May 2016

Dakwah, Menapaki Sirah Nabi



Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam jilid I, buku yang menjelaskan Sirah Rasulullullah saw, mulai dari Nasab Nabi Muhammad hingga Syair-syair di Perang Badar. Di buku ini pula dengan gamblang diceritakan perjalanan hidup Rasulullah. Awal dakwah Rasulullah saw menyampaikan Islam, stigma negative yang disematkan kepada beliau, siksaan, pengusiran, cacian, makian dan semua ujian dakwah. Rasulullah saw terus menyampaikan Islam, terus menyampaikan ajaran tauhid, terus mengajak manusia untuk menyembah dan melaksanakan perintah Allah SWT. Tidak peduli dengan penolakan kaum jahiliyyah, tidak peduli dengan hujatan. Berbekal keyakinan bahwa yang disampaikan adalah wahyu Allah, yang disampaikan adalah perintah Allah, yang disampaikan adalah ajakan untuk mengeluarkan manusia dari kebodohan. 

Dakwah Rasulullah tak berhenti, terus berdakwah apapun resikonya, terus menyampaikan apapun akibat yang diterima. Penolakan pembesar Qurasy tidak menyurutkan langkah, konspirasi menentang dakwah tidak membuat dakwah berhenti. Kematian dan siksaan pun menjadi resiko di depan mata. Dan sekali lagi, dakwah tidak berhenti.

Hingga pertolongan Allah SWT datang, baiat Aqabah I dan II serta sambutan penduduk Madinah menjadi puncak penerapan Islam. Dan setelah itu, Rasulullah mulai membuat strategi demi keberlangsungan dakwah. Menyelesaikan urusan dengan Yahudi, menyiapkan pasukan untuk menyelesaikan hambatan fisik yang menghalangi dakwah. Rasulullah berperang, terjun ke medan jihad, berada pada kancah pertumpahan darah. Bukan demi hobi perang dan kepuasan menumpahkan darah, namun demi memastikan tidak ada halangan fisik ketika dakwah menyampaikan Islam dilakukan.
Rasulullah juga menerapkan Islam di Madinah. Mengirimkan surat dakwah kepada kepala suku, kaisar, raja. Mengajak mereka untuk bersama tunduk pada hukum Allah SWT. Ketika mereka mau tunduk, maka seluruh jiwa, harta dan darah mereka akan dilindungi. 

Jika benar kita mencintai Rasulullah, jika benar kita menghendaki syafaat beliau di akhirat kelak, maka tidak ada pilihan lain, meneladani Rasulullah dalam semua aspek kehidupan adalah perkara yang mutlak. Menapaki jejak perjalanan hidup beliau, paham dengan konsekuensi yang akan diterima ketika menapaki jalan itu. Termasuk pula dalam dakwah, siap dengan semua hal yang dahulu juga pernah dirasakan Rasulullah. Dan itu pula yang dilakukan para sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in dan ulama-ulama saleh lainnya. 

Jadi, yakinlah. Menapaki jalan dakwah yang telah dicontohkan Rasulullah saw tidak akan pernah sia-sia. Apapun resikonya tetaplah pada jalan dakwah Rasulullah saw. Hingga syariat yang beliau bawa, kembali menjadi tuntunan dalam kehidupan di bumi milik Allah SWT ini. 


Pare, 8 Mei 2016

Thursday, 21 April 2016

Menegakkan – Melenyapkan – Mengembalikan Khilafah



07.05 am


Dua jam kemudian, 09.26 am


Akhirnya, semua terselesaikan . Sekitar 11.15 am
 ( gambar diambil sehari kemudian)

Rencana pembongkaran tembok identitas sekolah-yayasan memang sudah lama, namun baru terealisasi. Ketika akan dirobohkan, beberapa guru sempat bilang “ Sayang, ya. Padahal dulu buatnya biaya banyak”.
Sebenarnya tidak masalah, karena setelah dihancurkan akan diganti dengan yang lebih indah lagi.

Ini hanya bangunan fisik, membuatnya memakan waktu yang tidak sebentar, tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Namun menghancurkannya dalam sekejap mata, dan entahlah berapa lama akan kembali menjadi bangunan fisik yang lebih indah lagi. Namun itu semua akan selesai ketika dimulai.

Khilafah, satu-satunya sistem pemerintahan yang diwariskan Rasulullah saw, diteladankan para sahabat yang mulia. Manusia-manusia agung yang tetap berpegang teguh pada apa yang ditinggalkan Rasulullah saw, tidak terbersit sedikitpun melirik system yang lain.

Khilafah, mengakhiri jaman jahiliyah, mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju terang, mengangkat derajat manusia, mengembalikan manusia pada tujuan penciptaan. Semata beribadah kepada Allah SWT.
Khilafah, terus berjalan sejak Rasulullah wafat dan berakhir pada tahun 1924. Dakwah menyebarkan Islam di Mekah dilanjutkan penerapan secara kaffah di Madinah bukanlah perjuangan yang ringan, nyawa, harta, tenaga, pikiran semua dicurahkan. Mendapat siksaaan, diusir, diboikot, dicap sebagai orang gila, penyihir menghiasi perjalanan dakwah.

Dan khilafah tidak tiba-tiba lenyap begitu saja. Khilafah melemah karena lemahnya pemahaman Islam dan buruknya  penerapan Islam, baik karena factor internal umat Islam dan juga serangan dari musuh Islam. Segala upaya dikerahkan agar khilafah hancur lebur. Mulai dari perang salib, serangan misionaris, hingga serangan pemikiran dan politik. Pada waktu itu, apapaun kelompok dan latar belakangnya, Eropa bersatu menggaungkan Perang Salib. Eropa meracuni akal dengan segala sesuatu yang melecehkan hukum Islam, Islam digambarkan sebagai penghalang kemajuan manusia. Dan itu terus diwariskan kepada genarasi berikutnya. Dan akhirnya, melalui tangan anteknya, Eropa berhasil melenyapkan Khilafah. Sungguh bukan usaha yang sekejap mata, usaha menghancurkan dan melenyapkan khilafah diusahakan dengan sekuat tenaga. Iya, kaum kafir berhasil mengerahkan seluruh upaya untuk melenyapkan khilafah, namun itu semua hanya sia-sia belaka, mereka akan merugi.

Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan (QS. Al Anfal [8] : 36)

Tidak cukup dengan menghancurkan khilafah, upaya menghalangi tegaknya kembali khilafah terus mereka lakukan. Mencekoki pikiran umat dengan pemikiran kufur, menjauhkan umat dari syariat Islam. Menerapkan aturan kufur, mencengkeram dunia Islam dalam sistem kufur. Tidak berhenti sampai di sini, upaya memalingkan kaum muslimin dari pemikiran tentang khilafah. Menggambarkan khilafah sebagai sesuatu yang mengerikan, menakutkan, pejuangnya termasuk pelaku kriminal. Dan itu terus dilakukan hingga sekarang, mereka tidak akan menyerah.

Namun, upaya untuk kembali menegakkan khilafah tidak akan pernah surut. Memang bukan perjuangan yang mudah, bukan perjuangan tanpa rintangan. Terus menapaki tahapan dakwah yang telah diteladankan Rasulullah, tidak terpesona dengan dunia, tidak tergoda dengan iming-iming harta dan tahta.

Menegakkan khilafah bukan semata demi romantisme sejarah, memperjuangkan khilafah sebagai wujud ketaatan kepada Allah dan Rasulullah, bukti keimanan. Juga bukan karena egoisme golongan, karena khilafah itu untuk kebaikan umat manusia, menyelamatkan umat manusia dari kehancuran. Dengan syariah dan khilafah, Islam sebagai rahmatan lil’alamin akan terwujud.

Pare, 21 April 2016




Saturday, 9 April 2016

Ketergantungan Pada Wasilah

Ada 71 aplikasi tapi hanya beberapa saja yang sering dipakai.

Note tersimpan 16 Juni 2012

Wasilah adalah sarana yang bersifat fisik, yang biasa digunakan untuk melaksanakan aktivitas. Bisa dikatakan wasilah ini bersifat membantu menyelesaikan sebuah aktivitas. Wasilah bisa berganti-ganti sesuai dengan kemajuan teknologi. Sebagai contoh sarana komunikasi.  Dahulu sarana komunikasi masih sangat sederhana. Sekarang sudah semakin canggih, dengan kecanggihan tersebut seharusnya semakin membuat segala sesuatu menjadi begitu mudah. Namun bagaimana jika yang terjadi adalah ketergantungan pada sarana ? Akankah tetap menjadi mudah?
Dahulu ketika membuat janji dengan seseorang, jarang sekali membatalkan atau bahkan tidak pernah. Karena sulit membatalkan janji, belum ada ponsel belum bisa sms. Kalau mau membatalkan ya harus ketemuan. He..he..membatalkan janji pertemuan dengan harus bertemu dahulu ya mending pertemuan untuk membatalkan digunakan untuk merealisasikan janji to ???
Namun ketika sarana komunikasi begitu mudah, membatalkan janji juga begitu mudah.
“ Maaf saya ga jadi ke sana ada perlu”
“ Maaf bagaimana kalo pertemuannya diundur “
“ Maaf  besok saya ga bisa datang”
De el el...
Dahulu ada buku alamat untuk mencatat alamat dan no telp atau no ponsel, namun ketika ada HP dg fitur lengkap, semua janji,  no HP, alamat, no rek dengan mudah disimpan di HP akhirnya buku alamat dan note saku pun diabaikan.
Fatalnya ketika HP hilang atau rusak, hilang pula info-info yang tersimpan di HP. Akhirnya kalang kabut...
Oleh karena itu, meski kita punya HP, notebook, laptop dan sarana-sarana lain yang berfungsi sebagai penyimpan informasi back up data sangatlah penting. Minimal kita punya salinan berupa print out atau tulisan tangan. Sebelum nasi menjadi bubur, mari membiasakan memback up data yang kita punya, dengan berbagai cara tentunya.
NB : Note ini saya buat krn hbs dapat musibah. HP rusak padahal weekend biasanya banyak agenda. Ada banyak no yang tersimpan di memori HP dan belum sempat menyalin, padahal biasanya kalau dapat no baru langsung salin ke buku telp L .

Note end.

Dan sekarang, wasilah semakin berkembang. Smartphone sudah ada dalam genggaman tiap orang. Namun saya pribadi jujur belum mengoptimalkan semua aplikasi. Bisa dibilang masih kalah smart dengan smartphone. Dahulu , masih suka nguthek-nguthek, nyoba atur settingan. Sekarang paling-paling hanya memanfaatkan beberapa aplikasi saja. Terutama yang berhubungan dengan penyimpanan data. Menyimpan data baik online maupun offline mempermudah akses di mana pun kita berada. Medsos yang aktif hanya fb yang terhubung dengan twitter. WA untuk tulisan panjang, foto yang harus segera diedi t- upload, dan hanya tergabung dengan 2 grup saja,. Imel pertama kali di yahoo masih aktif, tambah lagi 2 imel di google. Untuk akun pribadi dan ngurus blog. Sudah itu saja.  Pernah ditanya pin BBM, cuma nyegir saja, ga punya.

Dan smartphone yang lumayan bagus harganya di atas satu juta, harga yang lumayan tinggi bagi saya. Jadi ketika ingin punya benda yang lumayan mahal sudah berencana sejak lama,karena harus nabung dulu. Dan benar-benar mikir, punya benda tersebut manfaatnya apa, kontribusi untuk dakwah dan akhirat  apa. Bukannya sok suci, tapi khawatir saja pas nanti ditanya di akhirat ga bisa jawab. Lebih malu lagi punya gadget dengan harga selangit  tapi masih berat  bersedekah, masih pelit mengeluarkan infak, masih mikir seribu kali ketika ada kesempatan beramal di jalan kebaikan.

Jangan jadi orang matre, menjadikan apa yang kita miliki semata untuk mendapatkan keuntungan yang bersifat materi saja. Apapun dipertimbangkan untung rugi materinya. Harta hanya untuk modal dunia saja, sayang.  Apalagi punya sesuatu hanya karena tren semata, rugi.

Semoga apapun yang kita miliki bisa membuat kita semakin paham dengan tujuan hidup, semakin memudahkan kehidupan abadi di akhirat kelak. Amin.





Pare, 9 April 2016

Wednesday, 6 April 2016

Menulis Saja, Terus Menulis

Daripada tidak ada gambarnya : Diambil dari catatan daftar isi buku.  Buku khusus untuk mencatat daftar isi buku teks, meski blm selesai baca minimal ingat daftar isinya


Beberapa hari tidak posting di sini, bukannya tidak menulis. Menulis dan mengirim ke media namun tidak ada yang dimuat. Tetap berusaha menulis, karena menulis adalah salah satu usaha untuk menyampaikan ide kepada orang lain.

Untuk sedikit menghibur, kembali membuka tulisan yang pernah dimuat. Setidaknya ini yang masih bisa terlacak di mesin pencari.


 Daripada tidak posting sama sekali, dan tidak ada yang dibaca, yang berminat silakan baca-baca tulisan tersebut ya, cuma bisa mesam-mesem, seperti itu tulisan saya dulu.

Semoga tetap istiqamah nulis. Amin


Pare, 6 April 2016

Friday, 1 April 2016

Ayo Membaca di Perpustakaan




Tidak punya buku bukan alasan untuk tidak membaca. Masih bisa meminjam kenalan, atau bisa memanfaatkan perpustakaan / taman baca umum. Tinggal membiasakan, mulai dengan target membaca buku ringan. Buat rencana buku apa yang akan dibaca tiap berkunjung ke perpustakaan. Informasi apa saja yang diinginkan, juga tidak perlu membutuhkan waktu yang sangat panjang. 30 menit hingga satu jam waktu yang lumayan untuk membaca.

Di perpustakaan yang lumayan besar, juga bisa memanfaatkan fasilitas digital dan akses internet. Semuanya gratis, tidak ada lagi dalih untuk malas membaca. Tetapkan frekuensi yang diinginkan, atur jadwal, penuhi kominten, ketika sudah terbiasa insya Allah semuanya akan terasa ringan.
Agar tidak mudah lupa, agar bacaan tidak menguap begitu saja tak ada salahnya menulis poin-poin pentingnya.

Untuk yang tinggal di Pare bisa memanfaatkan perpustakaan umum, Mas Trip. Selatan kantor Pos ada perempatan ambil ke barat, barat pegadaian Pare, depan gereja Advent. Koleksinya tidak selengkap perpustakaan di kota besar, tapi lumayan banyak.

Jika masih juga malas dan banyak alasan baca doa ini berulang


Baca juga PR Membaca

Pare, 1 April 2016

Thursday, 31 March 2016

FAQ Penutup Aurat






Kursi aja tambah cantik kalo pake baju tertutup, apalagi kamu


Mengapa selalu berkerudung?
Mengapa kerudungnya lebar?
Mengapa kerudungnya tidak pernah dimasukkan kerah leher?
Mengapa selalu pake baju terusan?
Mengapa bajunya selalu disambung?
Mengapa bajunya selalu longgar?
Mengapa bajunya gak pernah membentuk badan?

Memang selalu ada alasan di balik semua keputusan kita
Taat memakai seragam sekolah karena itu aturan dari sekolah
Taat memakai seragam kerja Karena itu aturan dari atasan
Mau memakai helm Karena itu kewajiban pengendara motor ( Mengapa Mau Pake Helm )
Termasuk mengapa harus menutup aurat, harusnya juga mempunyai alasan, tidak sekadar mengikuti tren semata.
Manusia diciptakan Allah SWT maka seharusnya manusia mengikuti aturan yang telah diberikan Allah SWT kepada makhluknya. Dan aturan Allah meliputi seluruh aspek kehidupan, termasuk pakaian yang seharusnya dikenakan.

Mengapa selalu berkerudung ?
Ya, selama di hadapan non mahram maka wanita wajib menutup auratnya. Yaitu seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan.
“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera  mereka, atau putera-putera  suami  mereka,  atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lakilaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan  laki-laki  yang  tidak  mempunyai  keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang  belum mengerti tentang aurat wanita.” (TQS an-Nûr [24]: 31)
“Sesungguhnya seorang anak perempuan jika telah haid (baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali wajah dan kedua tangannya hingga pergelangan tangan.” (HR Abû Dâwud).
Berkerudung adalah bagian dari menjalankan kewajiban menutup aurat di depan laki-laki asing non mahram. Kewajiban menutup aurat dibebankan kepada setiap wanita yang sudah haid. Jadi kalo di rumah dan tidak ada laki-laki asing non mahram (disebutkan dalam QS 24:31)  atau masih belum haid ya ga apa-apa tidak berkerudung.
Ini perintah Allah dan Rasulullah, jelas.
Jadi, yang tidak pake kerudung dalilnya apa?

Mengapa kerudungnya tidak pernah dimasukkan kerah leher?
Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.” (TQS an-Nûr [24]: 31)
Perintahnya jelas, kerudung itu menutupi dada, bukan dimasukkan ke dalam kerah leher, bukan diputer-puter di leher. Menutup dada sudah cukup, tidak harus lebar menutup seluruh badan.
Jadi, yang pake kerudung minimalis, dimasukkan kerah leher dalilnya apa?

Mengapa kerudungnya lebar?
Tidak selalu, punya kerudung lebar lebih banyak karena pemberian. Jika beli sendiri paling lebar 120cm, itu juga dalam rangka menyesuaikan postur tubuh dan biar lebih nyaman jika dipake naik motor, memperkecil peluang tersingkap.
Jadi silakan pake kerudung yang tidak lebar asal menutup dada dan tidak transparan

Mengapa selalu pake baju terusan?
Selain menutup aurat dengan memakai kerudung ( khimar ) yang dikenakan di hadapan non mahram muslimah juga wajib mengenakan jilbab, karena jilbab itu tidak sama dengan kerudung, jilbab itu bukan kerudung. Tetapi baju terusan yang menutup badan wanita, dikenakan dalam kehidupan umum ( jalan, sekolah, pasar dll).
“Hai  Nabi  katakanlah  kepada  isteri-isterimu,  anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. (TQS al-Ahzâb 33: 59)

Dari Ummu ‘Athiyah
Rasulullah SAW memerintahkan  agar kami mengeluarkan  para wanita yakni hamba-hamba sahaya perempuan, wanita-wanita yang sedang haid, dan para gadis yang sedang dipingit, pada hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Wanita-wanita yang sedang haid, mereka memisahkan  diri  tidak  ikut  menunaikan  shalat,  tetapi  tetap menyaksikan kebaikan dan (mendengarkan) seruan kepada kaum Muslim. Aku lantas berkata, “Ya Rasulullah, salah seorang di antara kami tidak memiliki jilbab.” Rasulullah pun menjawab, “Hendaklah saudaranya  memakaikan  jilbabnya  kepada  wanita  itu.” (HR Muslim).

Jilbab itu baju, yang dikenakan hingga menutup kaki, tidak berpotongan, dikenakan di luar baju harian/baju rumah (bukan pakaian dalam ya, berarti bajunya dobel). Wanita mengenakannya ketika keluar rumah. Jadi mengenakan pakaian atas berupa kerudung dan jilbab menutup tubuh bagian bawah.

Mengapa bajunya selalu disambung?
Kalo yang ini untuk menyiasati ,habisnya dapat bahannya atasan saja jadi disambung dengan bahan lain biar jadi baju terusan dan memenuhi syarat jilbab. Masalah warna sesuai selera saja, tidak perlu dipersulit. Yang penting warnanya nyambung.

Mengapa bajunya selalu longgar?
Mengapa bajunya gak pernah membentuk badan?
Namanya juga untuk menutup aurat, menutup apa yang memang tak boleh ditampakkan, ya harus totalitas. Pake baju ketat, membentuk badan ya sama saja masih menampakkan tubuh, dan masih bertabaruj menampakkan segala sesuatu yang menarik perhatian dan menimbulkan syahwat lawan jenis.
Kenapa longgar? Biar nyaman dipake jalan cepat, biar nyaman bergerak, biar mudah menggulung lengan ketika wudhu, biar cepat ketika melepasnya. Biar bisa jaga-jaga kalo harus lari, biar kalo naik motor bebek bisa bawa barang di depan, biar kalo dibonceng jarak jauh bisa naik “mbegagah”.
Baju lebar dan longgar agar badan yang semakin melar jadi tersamar.

Jadi, yang pakaiannya ketat apa bener niat menutup aurat ?

Kenapa susah-susah nutup aurat? Kenapa mau ribet? Kenapa pake aturan Allah? Kenapa yakin dengan Alquran? Kenapa? Kenapa? Ngaji sajalah.
#YukNgaji


Pare, 31 Maret 2016





Wednesday, 30 March 2016

Fakta Pengemis Yang Ironis

Anak itu menjadi pengemis
Sungguh membuat hati ini begitu miris
Tubuhnya lusuh, kurus berbalut baju tipis
Rambutnya acak-acakan jauh dari penampilan yang klimis

Anak itu menjadi pengemis, bukan pertama kali tahu fakta ini
Sebelumnya sudah mendapat cerita dari guru lain beberapa kali
Tapi baru kali ini melihat dengan mata sendiri
Tanpa merasa malu meminta uang pada pengguna jalan dengan santai

Bukannya diam tak berbuat apa-apa
Mulai dari wali kelas hingga kepala sekolah sudah mengingatkan dengan berbagai cara
Menjamin semua kebutuhan pendidikan dan menanggung semua biaya
Namun memang itu tak bisa menyelesaikan semua perkara
Pendidikan hanyalah satu masalah saja
Orang tua yang tidak bertanggung jawab dan keluarga yang tak peduli menjadi kendala
(Tulisan tersimpan 24 Oktober 2013)

Anak itu sudah lama tak masuk sekolah
Terakhir melihat di perempatan An Nur dengan konsisi  tambah parah
Beberapa kali melihat merokok dengan kusamnya wajah
Tak hanya sendiri tapi juga bersama anak lain yang  jelas bermasalah


Dan akhir-akhir ini eksploitasi anak kembali mencuat
Demi mencari uang  anak digunakan agar simpati didapat
Tanpa rasa bersalah memberi obat penenang  padahal kondisi sehat
Berdalih agar anak tidak rewel dengan santai meminta uang kepada orang yang lewat

Sungguh ini terjadi dan terus terjadi di negeri yang puluhan tahun memakai system demokrasi
Menyanjung kebebasan, mengabaikan hukum Allah dengan dalih tak sesuai aspirasi
Padahal semuanya berbalut pikiran busuk yang penuh konspirasi
Kapitalisme  sekuler mencengkeram pemikiran dan  menjarah semua potensi
Sampai rakyat pun tak bisa berpikir halal haram ketika mencari sesuap nasi
Seluruh anggota keluarga tanpa terasa tereksploitasi


Yang miskin semakin melarat
Yang kaya semakin melejit menjadi konglomerat
Pemilik modal semakin menyetir kebijakan penguasa dan pejabat
Rakyat kecil semakin tidak mendapat tempat
Swasta dan asing semakin menguasai sector-sektor yang seharusnya mudah dinikmati rakyat

Negara yang seharusnya mengurusi urusan umat hanya menjadi regulator saja
Berbagai harga diserahkan pada mekanisme  pasar dunia
Pembiayaan kesehatan dikumpulkan dengan cara memalak dan diserahkan ke badan swasta
Lepas tangannya Negara pada urusan umat semakin nyata
Inilah ciri utama Negara yang mengadopsi kapitalisme sebagai ideologinya



Sangat berbeda dengan sistem Islam yang  telah dijanjikan Allah SWT bisa menjadi rahmat untuk semua
Mengayomi seluruh umat manusia tanpa pandang suku, agama, ras dan bangsa
Semuanya mempunyai hak dan kewajiban yang  tak berbeda
Tunduk pada aturan Allah yang  pasti membawa kemaslahatan untuk seluruh warga
Memperlakukan manusia sesuai dengan fitrahnya
Menjaga kehormatan, harta, akal dan juga nyawa
Mempunyai sistem kehidupan yang  tiada dua
Sistem yang akan menebar keberkahan di setiap masa
Semua dilakukan demi kemuliaan dan mengangkat derajat manusia
Memastikan hidup demi meraih ridha Allah semata

Banyak masalah di negeri ini yang tidak bisa dikembalikan kepada solusi individu semata
Membutuhkan peran masyarakat dan kebijakan Negara
Karena permasalahan di semua bidang hampir merata
Bukan sekadar pergantian pemimpin melalui pemilu dan pilkada
Saatnya meninggalkan kapitalisme yang membuat manusia sengsara
Menggantinya dengan system sahih yang diridhai Allah ta’ala

Perjuangan menegakkan khilafah rasyidah ‘ala minhajinnubuwwah semakin menggema
Menolak, diam, melihat saja atau menjadi pejuangnya
Yang pasti semua pilihan ada konsekuensinya

Syariah dan Khilafah Mewujudkan #IslamRahmatanLilAlamin

Pare, 30 Maret 2016





Monday, 28 March 2016

Tidak Hanya Aku Melihat dan Aku Mendengar, Jangan Terlewatkan : Aku Mikir


Dulu waktu masih di Surabaya, sudah biasa mendengar isu seputar soto di kantin Pusat  ITS. Yang dicampur daging kucing lah, daging tikus lah, sampe katanya ada “CD” nya lah. Ah… ternyata itu tidak berpengaruh bagi saya. Tetep aja seneng soto kantin, apalagi ada yang nraktir tambah seneng banget.

Tapi ada dua jenis makanan yang awalnya suka banget tetapi ketika melihat dengan mata kepala sendiri jadi berbalik 180  derajat, blas gak gelem, jijik. Kangkung dan iwak pe asap. Gara-garanya lihat air yang digunakan mengairi kangkung di sekitaran kampus. Dan melihat dengan mata kepala sendiri lingkungan tempat manggang ikan di Kenjeran. Meski diberi gratisan, kalo itu di Surabaya, ogah. Dan sepertinya ini masih bertahan sampai sekarang, meski sekitaran ITS jadi bersih dan Kenjeran jadi cantik apalagi ada jembatan Suramadu. Bayangan itu masih ada.

Untuk masalah makanan, meski ada cerita mengerikan dan bombastis bagi saya tidak terlalu berpengaruh, lapar ya makan, selama dhahirnya halal dan thayyib ya makan saja.

Tapi ada juga yang baru dengar isu saja sudah ga mau, gak kolu. Ada juga yang suasana tidak mendukung nafsu makan jadi turun. Baru dengar saja sudah hilang nafsu makan, apalagi kalo lihat, mungkin ga makan berhari-hari.  Rugi kalo seperti ini, lapar ya makan.
(Heran dengan yang asal share ttg bakso tikus, kangkung berlintah, rokok mengandung babi. Memang bs jd membuat orang menjauhi, tp harusnya mikir lg. Bakso tikus, tikusnya butuh berapa ekor nangkepnya dmn. Perusahaan rokok di indonesia tdk mungkin ambil resiko pake babi dlm slh satu bahannya, pasti tdk laku, bagaimanapun jg mayoritas penduduk negeri ini muslim dan perokoknya juga berpeluang besar banyak muslimnya.  Lintah hidup di tumis kangkung terlalu aneh, hebat nian si lintah). 

Mendengar dan melihat, dua aktivitas yang sangat berpengaruh pada sikap yang akan diambil. Maka dua aktivitas ini sering disebut beriringan di dalam Alquran. Namun yang disebut lebih awal daripada melihat dan mendengar (mata dan telinga) adalah qalbu bermakna akal. Jadi mikir itu tidak boleh diabaikan. Ga asal main ambil kesimpulan dan tindakan. Apalagi terkait informasi yang belum tentu benar tidaknya. Teliti terlebih dahulu, cari pembandingnya, layakkah dijadikan rujukan, layakkah dibagikan kepada orang lain. Di dunia maya jangan terjebak info hoax, di dunia nyata jangan mencukupkan dengan “ katanya , katanya”.

Al-Baqarah
خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

7. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat
Al A'raaf
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

179. Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami dan mereka mempunyai mata tidak dipergunakannya untuk melihat , dan mereka mempunyai telinga tidak dipergunakannya untuk mendengar . Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Tetap kembali ke  tema utama : Syariah dan Khilafah Mewujudkan Islam Rahmatan Lil’alamin.
Saya percaya, dengan syariah yang diterapkan dalam system khilafah umat manusia bisa hidup lebih baik lagi.

Merasakan berdarah-darahnya khilafah saja tidak, menyaksikan dengan mata kepala sendiri juga tidak, bagaimana bisa percaya begitu saja dengan cap-cap negative seputar khilafah. Berpikir  sebelum menuduh khilafah itu sebagai bentuk system pemerintahan yang tak layak diterapkan.

Memang pernah mendengar dan membaca buruknya penerapan Islam meski systemnya khilafah dalam sebagian masa kekhilafahan, tapi ini bisa disikapi dengan tepat ketika mencari tahu bagaimana khilafah yang syar’i yang diperintahkan Allah dan Rasulullah saw. Mikir dan ngaji, bagaimana seharusnya khilafah tegak. Biar tidak asal menelan mentah-mentah informasi negatif seputar khilafah. Berpikirlah dengan informasi yang kita terima.

Mendengarkan ketika diajak ngaji, berdiskusi tentang khilafah.
Gunakan akal untuk berpikir, mencari informasi yang sahih.

Bagaimana pun juga ide khilafah semakin menggema, telinga pasti sudah mendengar, mata pasti sudah melihat upaya pengopinian penegakkan khilafah, maka pikirkanlah, mendukung, turut berjuang,  diam saja atau malah menolak.



Pare, 28 Maret 2016