Thursday, 19 December 2019

Ketika Jagoan Kecil Kita Jatuh Cinta


Cinta monyet adalah istilah yang sering dipakai untuk percintaan-pacaran remaja, dahulu cinta monyet diperuntukkan bagi anak SMA atau paling tidak anak SMP. Dahulu persepsi cinta monyet hanya sebatas cinta main-main saja, tidak serius. Ketika putus ya cari lagi, mungkin seperti itu. Namun saat ini. Seiring dengan semakin cepatnya perpindahan informasi, akibat tayangan TV yang tidak mendidik, akibat orang tua yang cenderung membebaskan anaknya, akibat buruknya teladan dari generasi sebelumnya, cinta monyet sudah menjalar kepada anak-anak SD, maka tak salah jika disebut sebagai cinta anak monyet. Pelakunya semakin kecil. Fenomena cinta anak monyet ini tentu membuat kita prihatin, pacaran yang merupakan pendekatan pada pintu zina jelas haram. Baik pelakunya anak SD, remaja, dewasa maupun sudah tua.
Fakta berbicara, usia baligh anak saat ini semakin cepat. Tak jarang anak perempuan kelas 4 SD sudah haid, tak jarang anak laki-laki kelas 5 SD sudah ihtilam. Secara fisik anak sudah dewasa namun secara pemikiran mereka belum mengerti konsekuensi dari baligh adalah dimulainya hisab atas amal mereka. Sebaliknya yang lebih dominan pada anak yang baligh di usia dini adalah ketidakmampuan mereka mengendalikan perasaan, terutama perasaan tertarik kepada lawan jenis. Jadilah kecil-kecil sudah  menjadi pelaku pacaran. Karena pelakunya masih kecil, dari segi keilmuaan mereka sangat minim. Namun dari segi gelora perasaan sulit dikendalikan, maka peluang mereka jatuh dalam dosa maksiat yang lebih besar lagi akan semakin terbuka lebar. Fenomen cinta anak monyet juga akan berpengaruh pada kualitas generasi yang akan datang. Potensi anak dalam memanfaatkan waktu untuk menimba ilmu akan terganggu, pikiran mereka terbelah.

Ketika Anak Jatuh Cinta
Kecil-kecil sudah pacaran, memang sangat membuat kita sebagai orang tua merasa prihatin. Namun menghadapi fakta seperti ini sebagai orang tua kita tidak akan bertindak gegabah apalagi mengambil tindakan keras penuh paksaan. Kita berusaha menyelami pikiran anak-anak kita, berusaha memahami apa yang mereka rasakan, bukan dalam rangka memaklumi namun untuk mencari solusi terbaik agar mereka tidak terus berada dalam masalah.
Jatuh cinta adalah salah satu naluri yang diberikan Allah SWT kepada makhluknya, yaitu sebagai bagian dari naluri melestarikan jenis, tanpa cinta dan kasih saying mungkin dunia ini akan kacau balau. Ketertarikan kepada lawan jenis adalah hal yang normal, namun bukan berarti boleh diumbar. Karena naluri adalah karunia dari Allah SWT maka sudah seharusnya pengaturan dan pemenuhannya juga disesuaikan dengan aturan dari Sang Pencipta. Termasuk pula menyikapi fenomena kecil-kecil sudah jatuh cinta dan berpacaran.
Oleh karena itu, ketika anak jatuh cinta, salah satu hal yang peru kita pahami adalah karakter naluri ini. Karakter naluri salah satunya adalah muncul karena adanya rangsangan dari luar. Tidak mungkin anak jatuh cinta jika belum mengenal lawan jenis, tidak mungkin anak tiba-tiba jatuh cinta tanpa didahului informasi pendukung, misal dari tayangan televisi yang hanya dihiasi tayangan sampah, bukannya menyajikan informasi bermanfaat, sinetron tak berkualitas dengan setting dunia remaja yang mengumbar perasaan. Apapun latar settingnya, mau sekolah, mau di rumah, mau di jalanan semuanya bercerita tentang cinta-cintaan. Tidak hanya TV, kebebasan mengakses internet juga memudahkan anak mendapatkan informasi termasuk pula tayangan-tayang vulgar yang menyebar dimana-mana. Maka, salah satu upaya yang bisa dilakukan oleh orang tua adalah meminimalisir anak untuk bersentuhan dengan informasi sampah. Ada banyak cara, mulai dari membatasi pemakaian telepon pintar, membatasi waktu menonton TV hingga memberikan pendampingan optimal, dengan kata lain kontrol orang tua sangatlah berperan. Jangan sampai orang tua malah senang dan tenang melihat anak nyaman dengan gadget di tangan atau duduk manis di depan TV.
Solusi lainnya adalah mengalihkan kesibukan anak kepada hal-hal positif dan produktif. Bermain bersama, belajar bersama, menghafal Alquran, menyibukkan diri dengan olahraga, mengikutkan anak pada kajian keislaman disesuaikan dengan umur dan lain sebagainya, inti dari solusi ini adalah tidak membiarkan anak menikmati dunianya sendiri, melibatkan mereka dalam interaksi social yang sehat sesuai syariat.
                Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah, menjadi sahabat bagi anak. Memberikan waktu terbaik kita untuk mendampingi buah hati. Memberikan informasi yang benar, memberikan ilmu sebagai bekal dalam kehidupan. Dengan kedekatan orang tua dan anak, anak tidak akan mencari tempat mencurahkan isi hati kepada orang lain apalagi kepada lawan jenis. Tidak mengekang anak namun tidak mengumbar anak, orang tua menjadi tempat curhat yang menyenangkan bagi anak, tidak langsung memarahi dan memvonis anak bersalah, namun berusaha menasehati dengan kasih sayang.
                Memang, saat ini tantangan dalam mendidik anak sangatlah luar biasa. Maka dibutuhkan kesungguhan orang tua dalam mendidik anak, memposisikan anak sebagai amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Juga diperlukan kepeduliaan lingkungan dan masyarakat, menciptakan masyarakat yang bersahabat dengan anak mutlak diperlukan. Masyarakat yang mempunyai visi mengedapankan berlomba dalam kebaikan, menyerukan yang makruf dan bersama mencegah kemungkaran. Dan yang tak kalah pentingnya adalah peran Negara. Kebijakan Negara yang membuat para orang tua sibuk mengejar materi, memberikan kebebasan akses informasi tanpa batas, dan ketidaktegasan dalam sistem sanksi sangat berpengaruh pada pola pengasuhan anak serta kualitas anak saat ini. Negara dengan kebijakan semakin liberal akan berdampak buruk pada proses pendidikan anak. Tentu hal ini tidak boleh kita biarkan. Pembiaran pada pelaksanaan sistem kapitalistik secular sama saja dengan mempertaruhkan masa depan bangsa ini, alih-alih melahirkan generasi beriman dan bertakwa, yang terjadi malah sebaliknya, melahirkan generasi yang menuntut kebebasan dan tidak mau terikat pada aturan Allah SWT, generasi yang maunya mengumbar hawa nafsu.

                Oleh karena itu, untuk melindungi generasi dari kerusakan moral dan menyelamatkan generasi demi masa depan diperlukan individu-individu yang bertakwa mempunyai komitmen untuk melaksanakan perntah Allah dan menjauhi seluruh laranganNya, masyarakat yang menjadikan syariat sebagai standar perbuatan dan Negara sebagai institusi utama menerapkan syariat terbaik dari Allah SWT secara menyeluruh. Dan ini membutuhkan perjuangan untuk melakukan perubahan. Maka harus kita mulai dari detik ini juga, demi masa depan di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam bishawab.

Wednesday, 18 December 2019

English Area, Honor Yourself By Speaking English




Judulnya buat keren-kerenan saja. Membaca di salah satu camp kursus b.inggris di Pare. Tulisan yang mantab.

Memang sudah biasa, banyak camp di Pare yang mewajibkan member camp untuk menggunakan bahasa inggris saat di english area. Bahkan terkadang ada sanksi “kejam”  bagi pelanggarnya.

Awal membaca tulisan tersebut, tersenyum saja. Tapi jujur bikin iri, sampai segitunya. Dan suasana  di camp pun ramai dengan obrolan berbahasa inggris, dan saya tambah diam seribu bahasa, tidak tahu harus ngomong apa.

Mengapa bikin iri? Membayangkan seandainya yang  banyak adalah arabic  area, pasti seru.

Seharusnya, jika muslim lebih semangat belajar bahasa arab. Karena bahasa arab adalah bahasa Alquran dan hadits, pedoman tertinggi seorang muslim. Bagaiman maksimal menjadikannya pedoman jika bahasanya tak dikuasai. Terutama bagi muslim yang bahasa induknya bukan bahasa arab.

Yang pasti, diabaikannya bahasa  arab adalah satu keberhasilan barat. Ada kesengajaan untuk membuat umat islammenjauh bahkan tak mengenal bahasa arab, minimal mengabaikannya. Setidaknya mereka berhasil membuat persepsi, yang  terpenting adalah belajar bahasa inggris, bukan bahasa arab. Ditambah dengan kelalaian umat islam dan keasyikan belajar bahasa selain arab, maka semakin sempurnalah bahasa arab jauh dari umat Islam.

 Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? ( QS : Al  Qamar [54] : 17) 

Terus apa yang harus dilakukan? Ya belajar bahasa arab mulai sekarang. Bulatkan tekad, niatkan dan berdoa semoga istiqamah dalam belajar. Tidak harus setiap hari, tapi pastikan menyediakan waktu khusus untuk belajar. Jangan terbelenggu dengan stigma bahasa arab itu sulit, husnudzan belajar bahasa itu mudah, nikmati proses belajarnya. Untuk yang sudah mempunyai sedikit ilmu, amalkan dan ajarkan, insya Allah akan semakin lekat dalam ingatan.


Pare, 18 Desember 2019

Tuesday, 10 December 2019

Belajar Khilafah Tidak Haram



Akhirnya, materi khilafah dan jihad sebagai salah satu syariat Islam dihilangkan dari materi pelajaran di sekolah.  Katanya tidak dihilangkan total, sekadar direvisi saja, atau tidak lagi masuk bahasan Fikih namun menjadi bahasan sejarah. Benar-benar rezim sekular, sedikitpun tidak menyisakan ajaran agama Islam untuk sekadar dipelajari atau bahkan untuk diterapkan. Memang sebuah kesengajaan, agar umat Islam tidak mengenal hukum Islam seputar khilafah dan jihad.  Untuk itu  tuduhan keji terus dilontarkan, di antaranya adalah khilafah sebagai sumber pepecahan dan jihad sebagai inspirasi terorisme. Opini negatif terus digulirkan kepada orang yang menyampaikan khilafah, sekadar mengkaji atau memperjuangkannya. Dibentuk stigma negatif bahwa orang yang menyampaikan khilafah telah melakukan hal jahat dan kriminal. Lagi-lagi sungguh narasi yang sangat keji. Padahal tidak ada satu aturan pun di negeri ini yang menyatakan bahwa khilafah dan jihad adalah hal yang terlarang untuk disampaikan. Namun  bisa jadi selanjutnya rezim akan menyiapkan aturan agar bisa menjatuhkan sanksi kepada orang yang menyampaikan khilafah.

Penguasa  semakin mengukuhkan diri sebagai rezim anti Islam. Mengapa bisa demikian? Padahal wakil presidennya adalah seorang yang digelari sebagai ulama. Jawabnya sederhana, karena negeri ini menerapkan sistem kapitalisme. Sistem yang lahir dari ideologi kapitalisme, mengambil sekularisme sebagai akidahnya dan menentukan aturan berdasarkan liberalisme. Aturan agama dipisahkan dari kehidupan dan kebebasan menjadi pijakan. Agamanya boleh Islam, namun tak boleh menerapkan syariat islam kaffah dalam kehidupan. Sehingga wajar, bagi rezim kapitalis, keberadaan Islam yang akan utuh diterapkan dalam naungan khilafah dianggap sebagai ancaman serius. Karena Islam adalah rival dari kapitalisme juga sosialisme-komunisme. Jika khilafah tegak, penguasa tidak akan bisa seenaknya sendiri bermesraan dengan pengusaha, tidak bisa lagi menjual kekayaan alam kepada asing, tidak akan bisa lagi menikmati banyak kemaksiatan yang legal di negeri ini, tidak akan bisa terus memalak rakyat, tidak bisa terus mengeruk keuntungan demi kepentingan pribadi dan kelompoknya. Ya, khilafah hanya akan menjadi ancaman bagi orang-orang yang tidak mau taat syariat.

Dengan masifnya upaya mencegah kebangkitan Islam, apa yang harus dilakukan? Bagi seorang mukmin, dunia adalah ujian, akankah menjadikan semakin dekat kepada Allah atau malah sebaliknya. Begitu juga ujian dalam dakwah menyampaikan khilafah yang resikonya memang berhadapan langsung dengan penguasa dzalim. Penguasa yang tidak segan mendzalimi, menyengsarakan dan jika perlu membinasakan rakyatnya sendiri meski dengan cara perlahan. Oleh karena itu, yangharus dilakukan adalah mempertebal keimanan, keyakinan bahwa khilafah adalah perintah Allah dan RasulNya, dan apa yang diperintah Allah dan RasulNya pasti sebuah kebaikan yang tidak akan pernah sia-sia. Semata meminta pertolongan kepada Allah, sekuat apapun tekanan manusia pasti ada batasnya.

Menyampaikan khilafah itu bukan perbuatan haram, sebaliknya, melarang menyampaikan khilafah adalah tindakah hina dan haram. Inilah pegangan yang tidak boleh lepas. Tunjukkan bahwa seorang muslim tidak akan mundur hanya karena gertakan manusia, buktikan bahwa perjuangan menyampaikan khilafah tidak akan berhenti. Buktikan bahwa buka khilafah yang membahayakan, namun kebijakan penguasa yang berdasar kapitalis-sekular yang sejatinya membuat dunia ini akan hancur.

Oleh karena itu, teruslah menyampaikan khilafah, belajar bagaimana khilafah menjadi solusi atas permasalahan umat, dan terus berjuang menegakkan khilafah, meski khilafah tegak saat nyawa sudah tidak dikandung badan, Allah sudah mencatat amal kita, dan begitu pula dengan bekas amal kita, akan tetap menjadi pahala untuk kita.


Pare, 10 Desember 2019 


Monday, 9 December 2019

Penderita AIDS Meningkat Saatnya Kembali Pada Syariat


Hari AIDS selalu diperingati setiap tahunnya, kampanye penanggulangan HIV/AIDS dan sosialisasi hak ODHA adalah dua agenda yang hampir tak pernah terlewatkan. Namun faktanya, bukannya menurun jumlah penderita HIV/AIDS dari tahun ke tahun malah semakin meningkat. Dan mirisnya penularan HIV/AIDS banyak terjadi di kalangan pelaku seks menyimpang terutama pelaku Lelaki Seks Lelaki (LSL) atau pasangan gay. Semakin membuktikan bahwa perilaku maksiat masih menjadi penyumbang utama angka penderita HIV/AIDS, juga menjadi evaluasi terhadap langkah pencegahan yang selama ini telah diambil, belum membuahkan hasil.

Dalam peringatan hari AIDS, juga selalu digembor-gemborkan tentang HAM bagi ODHA, kita selalu diingatkan agar tidak diskriminatif pada ODHA, juga termasuk di dalamnya menghormati keputusan penderita dari kalangan LSL atas pilihan hidup mereka. Sungguh kampanye dan ajakan yang sangat di luar nalar. Sudahlah nyata bermaksiat menjadi penderita penyakit menular namun masih saja minta diakui perilaku menyimpangnya. Maka ini pulalah yang membuat virus HIV/AIDS terus menular dengan lancar, karena rantai penularan yang utama, yaitu perilaku seks menyimpang juga penyalahgunaan jarum suntik narkoba tidak diputus. Malah diberi ruang.

Meningkatnya penderita HIV/AIDS yang didominasi pelaku maksiat atau korban dari perilaku maksiat seharusnya menjadi renungan bersama. Harus ada langkah tegas untuk mengatasi penularan penyakit mematikan ini. Negara sebagai pengurus rakyatnya secepatnya mengambil tindakan serius untuk memberikan perawatan maksimal kepada penderita HIV/AIDS, yang beresiko tinggi menularkan dikarantina untuk mendapatkan perawatan terbaik. Sedangkan rakyat yang sehat dijamin agar tidak tertular. Oleh karena itu, juga perlu tindakan tegas kepada pelaku kemaksiatan yang beresiko tingga tertular. Tentu bukan menjadikan HAM sebagai pertimbangan, namun menjadikan syariat sebagai acuan. Pelaku seks menyimpang tidak boleh dibiarkan, LSL adalah aktivitas maksiat yang pelakunya bisa dihukum mati, para pengguna narkoba juga layak mendapatkan sanksi, juga pelaku zina seharusnya dicambuk atau dirajam. Semua pintu penularan harus ditutup rapat. Dan jika masih saja ada yang tertular maka Negara wajib menjamin perawatannya, agar tidak menularkan kepada orang lain dan agar tetap menjalankan kewajiban sebagai seorang hamba, jika tidak bisa terselamatkan pun dalam kondisi yang terbaik, tetap mendapatkan hak sebagai manusia dan jika sebagai pelaku kemaksiatan meninggal setelah bertaubat. Semua warga negara pun bekerja sama semaksimal mungkin agar penyakit ini tidak terus menular, dengan aktif saling mengingatkan agar tidak terjerumus dalam kemaksiatan, saling menasehati untuk meraih ketakwaan. Semua mempunyai kesadaran untuk terikat syariat, tidak abai dengan larangan. Dengan keyakinan syariat pasti membawa maslahat kehidupan pun akan selamat.

Nur Aini, Guru
Pare Kediri Jawa Timur


Sunday, 8 December 2019

Khilafah Memang Diajarkan Di Sekolah


Heboh soal Fikih kelas 12 Madrasah Aliyah di Kediri yang memuat pertanyaan seputar khilafah, ada banyak tuduhan dan asumsi yang lucu bahkan malah dibua-buat atau memang berdasarkan informasi yang salah.

Soal disusupi ajaran HTI
Jelas sekali tidak ada tulisan HTI, namun dengan mudahnya menyalahkan HTI. Jika soal berisi pertanyaan seputar khilafah langsung dituduhkan sebagai bentuk penyusuan ide HTI maka ini sungguh salah kaprah. Khilafah adalah ajaran Islam, bukan ajaran HTI, bukan karangan HTI, HTI hanya menyampaikan saja. Maka jelas ini hendak mengkerdilkan khilafah sebagai bagian dari ajaran Islam. Seolah dengan dicabutnya BHP HTI yang dilakukan dengan dzalim, tanpa putusan pengadilan, maka ide yang didakwahkan HTI otomatis menjadi terlarang. Tidak. Khilafah adalah ajaran Islam, kewajiban dari Allah SWT, warisan Rasulullah saw. Sampai kiamat akan tetap seperti itu. Menuduh soal disusupi ide HTI hanya sebagai bukti kesengajaan pihak yang mempermasalahkan untuk menolak ajaran Islam. Pertanyaannya siapakah yang paling bernafsu memusuhi ajaran Islam? Tidak mungkin orang Islam yang saleh dan hanif.

Tentang Khilafah terus muncul dalam soal
Bagi guru yang biasa membuat soal, pengulangan kata apalagi menjadi judul sebuah bab dalam pelajaran itu hal yang lumrah. Bayangkan jika dalam satu mata ujian ada  50 soal sedangakan bahan ujian hanya  5 bab saja (padahal 5 bab dalam 1 semester itu sudah banyak), maka jika proporsional akan ada 10 soal dalam tiap babnya. Oleh karena itu jika bab yang dibahas adalah khilafah, maka sangat wajar jika kata khilafah terus berulang dan muncul. Ya memang babnya khilafah.

Khilafah kok masuk Fikih bukan SKI (Sejarah Kebudayaan Islam)
Khilafah adalah ajaran Islam, ada hukumnya, dan islam mengaturnya. Maka wajar khilafah masuk pelajaran Fikih, karena karakter pelajaran Fikih adalah mengupas hukum seputar perbuatan, benda atau ajaran. Beda dengan pelajaran SKI, lebih fokus pada sejarah. Membahas kronologis sebuah peristiwa. Jadi tidak perlu heran jika di pelajaran Fikih ada bab khusus seputar khilafah. Dan alur pelajaran Fikih adalah membahas definisi, dalil, hukum, dan tatacara. Sehingga jika babnya adalah khilafah maka yang akan dibahas adalah definisinya, dalil-dalil ,hukum menegakkannya, tata cara menegakkan, mengangkat khalifah sebagai pemimpin khilafah, hingga hikmah yang bisa diambil dari pelajaran yang telah dibahas. Kan lucu jika setelah membahas dalil, tata caranya kemudian disimpulkan kepada siswa : “Anak-anak pelajaran ini memang pernah dicontohkan dan diamalkan oleh Rasulullah dan para sahabat, tapi tidak perlu kita amalkan ya. Ini ajaran HTI, ini terlarang di Indonesia”. Paradox, orang Islam kok tidak boleh mengamalkan ajaran Islam, tidak boleh meneladani Rasulullah saw. Emang ini negara komunis? Emang ini negara secular? Jujur saja.

Mengajarkan Khilafah di Sekolah memang Mau bikin Indonesia seperti Suriah
Kalau ini adalah paranoid tingkat dewa, sudahlah tidak tahu realitas di Suriah malah membuat asumsi khayal. Bisa jadi memang kurang info, tidak paham bahwa yang membuat porak-poranda Suriah bukanlah Islam apalagi khilafah namun persaingan negara Barat yang sedang memanfaatkan situasi. Atau bisa jadi orang yang menuduh demikian telah terkontaminasi dengan informasi salah dan menisbatkan kekacauan di Suriah kepada ISIS yang mendeklarasikan sebagai Daulah Islam. Padahal bagi siapa saja yang mau berpikir sedikit mendalam, akan mudah mengetahui, salah satu tujuan isu ISIS diangkat adalah untuk memfitnah khilafah. Dan ini memang wajar, karena khilafah adalah momok yang ditakuti oleh musuh Islam. Maka musuh Islam akan berusahan sekuat tenaga untuk mencegahnya. Sudahlah dahulu khilafah dilenyapkan, dikubur di lubang yang sangat dalam agar tidak muncul ke permukaan bumi, masih saja ditambah dengan fitnah bahaya ketika khilafah bangkit. Khilafah itu sejatinya ajaran Islam, institusi yang bisa menyatukan umat Islam dan memfasilitasi penerapan Islam kaffah, menyeluruh. Dan saat Islam diterapkan secara kaffah akan mengantarkan rahmat untuk seluruh alam, bukan malah menghancurkan. Jadi siapa yang tidak senang khilafah tegak mewujudkan rahmat? Ya pasti orang yang sesungguhnya berbuat kerusakan.


Dan akhirnya, kehebohan soal ujian tentang  khilafah di Kediri semakin memantabkan langkah kemenag untuk menghapus materi khilafah dan perang dari pelajaran. Sungguh manusia lancang, ajaran Islam, syariat Allah dan RasulNya pun disembunyikan. Mengapa ini gencar dilakukan? Sambil menyelam minum air. Menghapus materi khilafah dan perang bertujuan menjauhkan umat Islam dari ajarannya, mencegah umat Islam mengenal dan menerapkannya, dan ini adalah kesempatan yang tepat untuk membuat kehebohan di tengah masyarakat, agar masyarakat tidak sempat memikirkan kegagalan rezim mengurus negara. 

Dengan langkah penghapusan materi khilafah di kurikulum, dengan stigma negatif terhadap khilafah dan para pengembannya apakah menghentikan dakwah menyampaikan khilafah? Jelas, TIDAK. Justeru dakwah khilafah akan semakin gencar, khilafah akan semakin menjadi perbincangan. Tekanan pun akan semakin dzalim, namun pertolongan Allah akan semakin dekat. Jadi, pilihannya hanya satu, terus maju untuk meraih kemenangan.

Pare, 8 Desember 2019



Tanggapan Tentang Hebohnya Soal Penilaian Akhir Semester Ganjil Fikih Kelas 12 di Kediri Yang Dimuat di FB Ag243


Pembuatan soal penilaian akhir semester itu biasanya ada ketentuan teknisnya. Pertama pembagian tugas penulis soal. Penentuan pembuat soal melalui rapat Kelompok Kerja Madrasah (KKM). Guru yang mendapat tugas akan diberikan pedoman penulisan, minimal berupa format kisi-kisi, dalam kisi-kisi setidaknya terdapat kompetensi dasar dan indikator. Yang keduanya merupakan bagian dari silabus mata pelajaran, sedangkan silabus pada umumnya guru langsung mengambil dari peraturan menteri yang sudah ada. Kedua, setelah selesai menulis soal, soal akan dikumpulkan ke KKM untuk selanjutnya ditelaah oleh tim khusus yang dibuat oleh KKM, cara paling mudah adalah melalui Kelompok Kerja Guru (KKG) mata pelajaran, yang memang sudah terbiasa mengajar pelajaran soal yang akan ditelaah. Telaah soal meliputi kesesuaian soal dengan kisi-kisi, bobot soal, proporsi soal, proporsi opsi pilihan ganda , kaidah EYD, hingga kunci soal dan lain sebagainya. Setelah ditelaah akan dikembalikan lagi kepada KKM. Ketiga, proses penggandaan. Yang berikutnya disalurkan kepada sekolah anggota KKM.

Jadi, ketika ada protes atau tuduhan sebuah soal fikih yang telah beredar di sekolah disusupi muatan yang dianggap tidak sesuai, maka yang perlu dievaluasi adalah peraturan menteri agama terkait pengembangan kurikulum, kerja KKM setempat, kerja KKG setempat, baru guru yang membuat soal. Tidak langsung terburu menuduh dan berpolemik tanpa memikirkan akibatnya. Usulan penarikan soal, pembuatan soal, ujian ulang itu usulan yang mengada-ada, mempersulit semua pihak. Seharusnya yang mengawali polemik tersebut mengedepankan proses pengkajian mendalam, bukan malah menimbulkan kontroversi yang sebenarnya tidak perlu bahkan berlebihan. 


Sedangkan kritik bagi pelapor pertama di antaranya, LBHNU ini seringkali menimbulkan kegaduhan mengatasnamakan banyak orang, misal dalam kasus PAS Ganjil Fikih kelas 12, menyatakan banyak keluhan dari wali siswa, harus diungkap berapa wali yang menolak dan berapa wali yang tidak mempermasalahkan. Pola ini menjadi kebiasaan LPBHNU, sekadar mengingatkan, beberapa waktu waktu yang lalu LPBHNU juga mengajukan penolakan terhadap sebuah acara kajian islam di Pare, yang berakhir pada pembatalan kajian, hampir sama salah satu alasannya, ditolak masyarakat sekitar, tidak sesuai dengan karakter masyarakat sekitar dan dikaitkan dengan HTI. Jelas seperti ini adalah alasan sepihak, penulis yang tinggal tidak jauh dari tempat acara, serta warga asli yang lama tinggal di sekitar tempat acara tidak menjumpai fakta asumsi tersebut. Apakah sebegitu rendahnya proses berpikir sebuah LBH?


Oleh karena itu, mari membiasakan diri untuk menelaah terlebih dahulu, tidak terjebak pada pendapat tanpa ilmu dan informasi. Untuk redaksi Ag243, jika memang apa yang ditayangkan di laman tersebut adalah tulisan jurnalistik, maka juga mempunyai kewajiban untuk memastikan apakah tulisan tersebut sudah sesuai dengan kaidah jurnalistik, sudahkah dimuat dengan kaidah berimbang, akurat dan bisa dipertanggungjawabkan? Semoga bisa menjadi bahan renungan kita semua untuk menuju Kediri lebih bermartabat. Aamiin.

Pare, 5 Desember 2019

Wednesday, 4 December 2019

Cinta Sejati Kepada Nabi



Akhirnya kepo juga, searching video full Gus Muwafiq. Kemudian melihat tanggapan dari beberapa ulama, di antaranya dari Buya Yahya, Habib Abu Bakar,  dan Habib Hanif. Dan akhirnya membaca lagi sirah nabawiyah Ibnu Hisyam. Semoga yang lain mempunyai kuota dan kelebihan rezeki, bisa nonton video full, bisa membeli kitab sirah.

Nabi Muhammad saw itu manusia istimewa, manusia paling agung di dunia, maka menisbatkan beliau dengan deskripsi yang cacat meski sedikit saja atau berupa dugaan saja, tentu patut dipertanyakan. Benarkah orang tersebut mempunyai ilmu? Dan jika ada yang membela orang tersebut juga patut dipertanyakan. Sebodoh itukah hingga membela orang yang ilmunya dipertanyakan?

Cinta sejati kepada nabi itu perlu bukti. Minimal mengenal beliau, membela beliau, dan jelas meneladani dalam setiap detail kehidupan. Menjadikan nabi sebagai teladan utama. Cara paling  mudah untuk mengenal nabi adalah dengan membaca kitab sirah. Namun bukan sembarang sirah, sirah yang ditulis para ulama hanif, bukan penafsiran dari ulama su’ , orang munafik, atau bahkan dari orang kafir.

Maka salah satu hikmah dari pelabelan rembes dan kemungkinan menjadi maling jambu kepada nabi, adalah memotivasi kita untuk semakin mengenal profil nabi. Tidak hanya berhenti  mengetahui profil saat kecil saja, namun profil beliau hingga nafas terakhir. Beliau anak yang terlahir dengan berbagai keistimewaan, besar dengan akhlak yang mulia, menjadi pedagang, suami, kepala keluarga, kepala negara, panglima perang, mengantarkan umat manusia kepada cahaya kemuliaan. Dan kita akan berusaha untuk mengambil seluruh bagian hidup Nabi untuk diamalkan dalam kehidupan.

Ketika ada yang memberikan label buruk kepada nabi, namun masih saja memaklumi bahkan membelanya, sungguh akan sangat merugi. Mari bertanya kepada diri sendiri, tidakkah ingin kelak bertemu Nabi, tidakkah kelak ingin bersama Nabi? Jika ingin, layakkah para pembela penista nabi bersama Nabi?



Pare, 4 Desember 2019

Tuesday, 3 December 2019

Tips Mengolah Daun Pepaya Jepang/Lotes

Daun lotes/pepaya jepang

Tips mengolah daun lotes

Ketika memetik langsung letakkan di keranjang hindari digenggam karena getah kadang menyebabkan gatal
Ketika mencuci juga diguyur di air mengalir
Sebelum diolah direbus terlebih dahulu, meski direbus saja colek sambel juga sudah enak
Saat merebus, masukkan daun saat air sudah mendidih, dan air sudah diberi garam sedikit, agar warna daun tetap hijau segar dan daun cepat layu, tidak kaku dan kasar

Setelah direbus silakan mau dimasak bumbu sesuai selera. Daun tetap dibiarkan utuh atau bisa juga dipotong kecil.

Bisa dioseng, dilodeh, dibumbu gule

Resep Rolade Tahu





Bahan rolade tahu :
Tahu
wortel
kubis
seledri
bawang pre
bumbu : garam, gula, merica, pala, bawang merang, bawang putih
tepung terigu
telur

cara membuat
campurkan bumbu yang sudah dihaluskan dengan tahu dan semua sayuran yang sudah diiris halus, beri campuran tepung terigu dan telur, semua komposisi sesuai selera.

bungkus dengan daun pisang, rebus, sekitar 30 menit, dinginkan
iris tipis, goreng dengan balutan telur kocok

Resep Sambel Pencit (Mangga Muda)


Bahan Sambel Pencit
1 buah mangga muda (pencit), kupas, dipasrah
4 kemiri , disangrai
1 ikan asin (klothok), dibakar
Cabe
Terasi
Garam (sesuaikan dg ikan asinnya, ada ikan asin yang asin banget)
Yang suka manis beri gula sedikit

Haluskan cabe, terasi, garam, kemiri, tambah sedikit air (usahakan air hangat biar tidak cepat basi), masukkan ikan asin bakar yg sdh dipotong kecil-kecil, masukkan pencit. Selesai



Tips merebus sayuran biar terlihat segar : sebelum memasukkan sayur ke air mendidih, tambahkan garam secukupnya.

Nonmuslim Tetap Hidup Saat Khilafah Tegak

Rasulullah tiba di Madinah, seluruh warga Madinah, muslim maupun nonmuslim menyambut beliau. Bahkan yang heboh saat pertama kali melihat kedatangan Rasulullah adalah salah seorang dari Yahudi. Setelahnya Rasulullah membangun masjid, di masjid tersebut Rasulullah mengatur banyak hal. Dan posisi Rasulullah di Madinah adalah kepala negara, bukan sekadar kepala kabilah. Rasulullah mulai mengatur urusan masyarakat Madinah yang heterogen saat itu. Ada Yahudi, orang-orang musyrik dan ada muslim dari kalangan muhajirin dan anshar. Kaum muslimin muhajirin dan anshar dipersaudarakan, dengan orang-orang kafir mengikat perjanjian, meminta mereka tunduk pada Rasulullah dan aturan Islam dalam kehidupan bermasyarakat, menjamin keselamatan mereka dan membiarkan mereka tetap pada agama asalnya, diijinkan untuk tetap menjalankan ajaran agama dalam hal keyakinan, makanan, pakaian dan perayaan keagamaan. Tidak ada paksaan untuk masuk agama Islam.

Namun seiring berjalannya waktu, beberapa kaum musyrikin, orang yahudi yang bersekongkol dengan orang munafik melakukan pengkhianatan kepada Rasulullah. Maka wajar jika tindakan tegas diambil untuk menyelesaikan permasalahan dengan mereka.

Apa yang terjadi di Madinah adalah bukti nyata bahwa ketika Islam tegak kondisi masyarakat Madinah tidak homogen, Madinah dihuni masyarakat dengan berbagai latar belakang. Namun Islam menjamin hak dan kewajiban seluruh warga negaranya. Memang tidak terjadi begitu saja. Ada baiat Aqabah pertama yang mengawali diutusnya Mushab bin Umair untuk berdakwah di Madinah, dan setelahnya Islam menjadi perbincangan di Madinah, banyak yang menerima Islam dan memeluknya, setahun setelahnya, ada baiat Aqabah kedua. Tekad bulat untuk menjadikan Rasulullah sebagai pemimpin di Madinah. Padahal Rasulullah bukan orang Madinah. Dan setelah Rasulullah wafat, para khalifah penggantinya pun tetap menjadi pengayom seluruh warga negaranya, jika semua dipaksa masuk Islam tentu saat ini tidak akan kita jumpai orang kafir di wilayah yang pernah dikuasai Islam.

Maka tudingan bahwa Negara Islam, Khilafah, akan memberangus agama lain membunuh orang kafir adalah tuduhan palsu. Memang benar, dalam hal kehidupan bermasyarakt dan bernegara nonmuslim harus tunduk pada aturan Islam. Selebihnya nonmuslim masih bebas memeluk agamanya. Ketentuan tunduk pada aturan Islam adalah sebagai konsekuensi perlindungan khilafah kepada mereka, dan di luar itu, islam adalah agama sempurna, agama terbaik dari Allah pencipta manusia dan seluruh alam semesta, yang paling tahu dengan karakter makhluknya, maka selama berstatus manusia akan tetap layak dan wajar jika harus tunduk pada ketentuanNya.

Jadi tak perlu ada kekhawatiran bagi nonmuslim saat khilafah tegak nanti, tak perlu termakan fitnah murahan dari orang-orang munafik dan orang kafir pendengki.

Oleh karena itu, bagi setiap muslim yang mengaku mencintai Nabi, merindukan bersama Nabi, tak layak meragukan sistem yang telah beliau wariskan, yaitu khilafah. Tak layak pula ridha dengan penistaan yang ditujukan kepada beliau, harus ada pembelaan. Harus ada sanksi tegas bagi orang yang telah merendahkan manusia mulia Rasulullah Muhammad saw. Pembelaan kepada Nabi akan terus terjadi, dan perjuangan untuk mewujudkan ssitem Islam, khilafah, tidak akan pernah berhenti. Semoga tahun depan sudah taka da reuni 212 lagi, semoga tahun depan Indonesia sudah menjadi bagian dari khilafah. Insya Allah dengan kesabaran menapaki dakwah Nabi pertolongan Allah akan semakin dekat. Aamiin ya rabbal ‘alamiin.

Pare, 3 Desember 2019





Monday, 2 December 2019

Kampung Inggris : Kerusakan di Depan Mata, Bagaimana Memperbaikinya?


Kembali nama Kampung Inggris tercoreng, Polres menangkap seorang mucikari dan pelacur online yang kesehariannya beroperasi di Pare, sedangkan kejadian tertangkapnya di Katang, masih di Kabupaten Kediri namun berjarak sekitar 20 km dari kota Pare. Artinya jangkauan operasional si pelacur sudah lumayan luas.  Beberapa hari kemudian muncul peristiwa lain, tawuran pendatang dengan warga kampung terjadi.

Penangkapan pelacur online memang tidak terlalu mengherankan, memang wajar jika di era digital kemaksiatan pun memanfaatkan teknologi. Jauh hari, sudah pernah mendengar cerita tentang pelacuran di Pare yang dilakukan oleh pendatang yang entah sengaja atau sekadar memanfaatkan waktu luang sambil kursus bahasa di Pare. Sudah pernah mendengar tentang tukang becak yang punya langganan anak kos, mengantarkan ke hotel dan tempat penginapan. Juga pernah mendengar seseorang yang memeriksakan diri ke dokter karena mengidap penyakit menular seksual, padahal mainnya sama cewek-cewek bersih dari Kampung Inggris. Sudah mendengar pula desas-desus beberapa tempat terutama kafe menjadi pilihan bertemunya para pelaku kemaksiatan baik berupa pelacuran atau transaksi narkoba. Memang tidak pernah secara langsung menjumpai, namun untuk kemaksiatan yang lain semisal zina, miras sudah pernah menjumpai akibatnya. Tiba-tiba ada yang hamil atau bahkan melahirkan padahal jelas belum menikah, pagi-pagi berpapasan dengan orang-orang sempoyangan bermata merah menerawang.

Sedangkan tawuran, juga bukan yang pertama terjadi, beberapa kali mendengar gesekan antar para pendatang, atau juga dengan warga sekitar. Memang bisa dibilang Pare tidak baik-baik saja.

Mengungkap hal seperti tidakkah akan semakin mencoreng nama Pare? Atau tidakkah berpikir pada sepinya banyak kursusan yang berimbas pada roda perekonomian? Bisa jadi iya, namun jika tidak diungkap bisa jadi ke depan akan semakin memprihatinkan.

Apa yang terjadi di Pare sebenarnya bukan hal yang mengherankan, wajar terjadi dalam sistem kehidupan masyarakat di negeri ini yang semakin bebas membiarkan kemaksiatan. Kerusakan yang menimpa Pare bisa terjadi di tempat lain. Namun bisa jadi cepatnya kerusakan akan menimpa Pare, mengingat Pare adalah tempat yang dikunjungi oleh orang dari seluruh penjuru nusantara bahkan beberapa dari luar negeri. Mereka datang ke Pare dengan latar belakang yang beragam. Ada yang sungguh-sungguh menuntut ilmu, sungguh-sungguh mencari rezeki ada pula yang bersungguh-sungguh bermaksiat di Pare. Namun satu kesamaan yang akan sangat membahayakan, sama-sama membawa pemikiran yang rusak. Pemikiran yang lahir dari sistem kufur, semisal kebebasan, gaya hidup hedonis, abai terhadap norma agama, individualistis, materialistis, dan secular. Yang inti dari semuanya itu adalah keengganan untuk terikat total pada aturan Allah SWT. Cinta dunia menjadi orientasi kehidupan. Sesuka hati menjalani kehidupan.

Apa yang harus dilakukan?
Setiap tempat yang kita tinggali maka akan menjadi tanggungjawab kita, bersama dengan yang lain mencegah kemungkinan keadaan yang semakin memburuk, memperbaiki apa yang sudah terlanjur buruk.semuanya harus peduli, tidak menjadikan kepentingan personal sebagai acuan, namun demi kebaikan bersama harus ada perubahan.

Mulai dari komitmen personal, baik warga asli, pendatang, pemilik kursusan dan semuanya, sadar bahwa hidup di dunia hanyalah sementara, ada akhirat yang menunggu, ada hari penghisaban. Sadar akan pentingnya menjadi individu yang bertaqwa, menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua laranganNya, taat syariat tanpa syarat, sepenuhnya tunduk pada aturanNya. Warga asli yang bertaqwa, pendatang yang saleh, pemilik kursusan yang bertaqwa akan memudahkan pencegahan kerusakan.
Para pengelola kursusan memperhatikan pergaulan anak kursusannya, para pemilik kos merasa bertanggungjawab atas semua anak kos yang tinggal, mengontrol benarkah semata tinggal atau dalam rangka menuntut ilmu, para penjual mengingatkan ketika ada yang melanggar aturan, warga bertanggungjawab atas tamu yang dating, pendatang meluruskan niat menuntut ilmu di Pare. Dan sebagainya, semua melakukan yang terbaik sesuai norma agama, dan semua saling menasehati dalam kebaikan, berusaha semaksimal mungkin mencegah kemungkaran. Menjalankan interaksi kehidupan semata dalam rangka ibadah kepada Allah, bukan semata relasi bisnis, bukan tegak prinsip semua senang asal ada uang.

Cukupkah pada komitmen personal? Tidak. Fakta sebuah tempat dihuni oleh masyarakat juga penting untuk diperhatikan. Masyarakat tidak sekadar sebagai kumpulan individu, namun masyarakat adalah sekumpulan individu yang berinteraksi dengan aturan, perasaan dan pemikiran yang sama. Jika saat ini ada kerusakan di Pare maka yang perlu dievaluasi adalah sikap individunya, aturan yang diterapkan, perasaan masyarakat  dan pemikirannya. Harus diakui, masyarakat Pare sudah bergeser menjadi individualis, aturannya pun tidak tegas, sangat longgar, bahkan banyak membiarkan kebebasan berperilaku. Sedangkan pemikirannya sangat beragam, yang tidak semuanya menjadikan syariat sebagai timbangan. Bahkan perilaku arogan, merasa benar sendiri, merasa sah menghentikan kebaikan yang yang tidak disukai sudah terjadi. Pembubaran kajian, ancaman kepada pemilik tempat agar tidak meminjamkan tempat untuk kajian keislaman sudah nyata terjadi. Lagi-lagi alasannya sangat absurd, merusak kebhinekaan, berpotensi menimbulkan kerusuhan, ditolak warga, disusupi ormas terlarang, membawa ajaran sesat dan alasan murahan lainnya, yang semuanya masih asumsi belaka, sama sekali tidak ada faktanya. Padahal nyata yang merusak Pare adalah gaya hidup rusak yang diadopsi dari Barat. Bukan yang berasal dari Islam. Dari sini semakin terang, rusaknya Pare adalah sebagai imbas dari perilaku orang-orang fasik, munafik atau bahkan orang-orang kafir yang tak peduli halal haram, materi yang dikejar tanpa peduli dampak negatifnya.

Maka tak cukup berhenti pada kesadaran personal dan kemauan masyarakat, aparat dan jajaran pimpinan daerah harus peduli, tidak boleh dzalim, harus adil, adil bermakna taat pada aturan Allah dan RasulNya, adil yang mengantarkan pada ketaqwaan.  Semua harus bergerak untuk melakukan perubahan.

Darimana memulai?
Kerusakan yang terjadi akibat diabaikannya hukum Allah tidak hanya terjadi saat ini saja, pada masa Rasulullah ada jaman jahiliyah, mereka mengetahui Allah sebagai AlKhaliq namun menyekutukanNya dan bahkan mencampakkan aturanNya. Namun pada akhirnya Rasulullah berhasil membalik jaman kegelapan tersebut menjadi jaman yang terang benderang, hanya dengan Islam. Bukan dengan demokrasi, bukan dengan kapitalisme, juga bukan dengan social-komunisme. Juga bukan dengan semangat gembar-gembor fanatisme nasionalisme dengan berbagai perangkatnya yang sering dikukuhkan sebagai harga mati.

Di tahapan pertama Rasulullah membina para sahabat dan orang-orang yang awal masuk Islam dengan akidah Islam, membekali dengan Alquran, mengajarkan hukum Islam. Menyiapkan mereka untuk menjadi manusia tangguh yang siap berinteraksi dengan masyarakat jahiliyah. Rasulullah berdakwah secara pemikiran, perang opini dan mengkritik kebiasaan dan aturan masyarakat Mekkah, sedikitpun tidak ada upaya mengorganisir para sahabat untuk melakukan perlawanan fisik, jika ada perlawanan fisik sifatnya personal saja. Maka saat ini sah-sah saja jika ada personal yang mempunyai kekuatan dan kekuasaan serta keberanian untuk mengerahkan upaya fisik, namun harus diingat, personal mempunyai keterbatasan, juga harus dipertimbangkan dampak jangka panjangnya. Sedangkan sebuah jamaah dakwah tidak diperkenankan dakwah secara fisik, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah saat berjamaah dengan para sahabat, berdakwah di Mekkah tanpa ada perintah berjamaah melakukan perlawanan fisik. Begitulah, selama fase Mekkah dimana umat islam belum mempunyai kekuatan sebuah Negara dakwah pemikiran dan politik saja yang dilakukan. Baru setelah fase Madinah aktivitas fisik semisal ekspedisi dan perang dilakukan.

Begitu pula saat ini yang bisa dilakukan, di saat umat Islam belum mempunyai Negara berdaulat yang diatur semata dengan hukum Islam maka sekaliber jamaah dakwah dengan anggota yang banyak pun tidak dibenarkan melakukan aktivitas fisik.

Dakwah pemikiran dan politik adalah sebuah proses menuju perubahan, dijalani dengan penuh kesabaran. Mengubah pemikiran masyarakat agar mau diatur dengan hukum Allah, mengubah perasaan umat agar merindukan khilafah sebagai warisan Rasulullah, dan mengenalkan syariat Islam sebagai aturan kehidupan adalah dakwah yang telah dicontohkan Rasulullah. Rasulullah telah berhasil, maka dengan keyakinan bahwa Rasulullah teladan terbaik insya Allah dakwah ini juga akan berhasil. Dakwah pemikiran dan politik menyampaikan kewajiban penerapan syariah secara kaffah dalam naungan khilafah. Namun harus dipahami, dakwah politik adalah dakwah yang beresiko berhadapan dengan penguasa dzalim, itu pasti. Jadi, jika saat ini dakwah terasa berjalan di atas duri, itu sebuah hal yang sangat mungkin terjadi, akan tetapi ketika keyakinan akan kemenangan Islam dan balasan bagi orang yang ikhlas menolong agama Allah menghujam ke relung hati, sakit yang terperi akan menjadi kondisi yang bisa dinikmati.
   
Dan ketika khilafah tegak, akan ada upaya sungguh-sungguh untuk melindungi semua warga negara dari potensi kerusakan dan merusak. Akan ada upaya tegas memberi sanksi setiap pelanggaran hukum. Tanpa pandang bulu mengakkan keadilan. Dengan begitu, tidak hanya Pare yang terselamatkan namun seluruh umat manusia. Oleh karena itu, mari bertindak local dengan visi global. Dimanapun tinggal teruslah mendakwahkan khilafah, dan jangan betada pada posisi menghalangi tegaknya khilafah, pasti gagal.


Pare, 2 Desember 2019

Sunday, 1 December 2019

Reuni 212 : Membela Nabi Tercinta, Mengingatkan Pentingnya Penerapan Islam Kaffah



Dan masih seperti tahun kemarin, masih di Pare saja. Namun selalu teriring doa untuk semua peserta, semoga menjadi catatan amal dalam membela nabi tercinta. Untuk yang sudah di Jakarta atau menuju ke sana, semoga diberi kesehatan dan kemudahan urusan. Aamiin.

Reuni 212 kali ini layak untuk dilaksanakan, aksi membela nabi tercinta yang telah dinista. Karena pelaku penista seperti biasa masih bebas berkeliaran tanpa tindakan untuk membuatnya jera, bahkan ini bukan penistaan yang pertama, jika lagi-lagi dibiarkan maka bisa jadi akan semakin sombong menista Islam dan ajarannya. Sungguh pembiaran yang bertolak belakang dengan para pengemban dakwah yang menyampaikan Islam kaffah. Umat islam terus dibombardir dengan tuduhan yang bukan-bukan, umat islam terus diawasi, dibatasi ruang geraknya. Ajarannya terus diobok-obok, dakwahnya terus ditekan. Ironinya yang melakukan itu semua adalah sebagian kaum muslimin juga. Ada apa sebenarnya?

Bisa jadi orang yang membenci Islam dan ajarannya, terutama khilafah, adalah orang yang tak paham, orang yang tak berilmu, atau bisa jadi orang yang tak sadar sedang dimanfaatkan, atau bisa jadi sudah berkomitmen menjadi pelayan musuh Islam. Karena tidak mungkin orang saleh begitu rendahnya memperlakukan saudara seimannya dengan terus mendzaliminya. Para pejabat yang mayoritas bagian dari umat Islam mempunyai satu suara yang sama, berkampanye melawan radikalisme, dan jelas radikalisme hanya dituduhkan kepada umat Islam. Dari sini jelaslah, isu radikalisme sengaja digulirkan untuk membungkam umat Islam saja, dan yang mempunyai keinginan kuat untuk membungkam umat Islam hanya ada dua, orang munafik atau orang kafir yang nyata kebenciannya kepada Islam. Maka, isu radikalisme sebenarnya bukan murni ide muncul dari umat Islam di negeri ini, namun ide yang sengaja dimunculkan musuh Islam, terutama Barat sebagai pengemban ideology kapitalisme yang sadar akan bahaya kebangkitan Islam melalui tegaknya Khilafah.

Para pengemban ideology kufurlah  (kapitalisme dan sosialis-komunis) yang berada di balik upaya mendzalimi umat Islam. Dengan berbagai cara. Oleh karena itu, umat Islam harus sadar, harus tahu bahwa kita mempunyai musuh bersama, musuh yang akan bergembira ketika kita terus tercerai berai dan bermusuhan. Terus berada dalam kondisi yang jauh dari penerapan Islam kaffah. Tak hanya itu, kita harus sadar bahwa apa yang terjadi saat ini dengan kondisi negeri yang karut marut juga sebagai akibat penerapan system kapitalisme dan abainya kita pada syariat Allah. Maka harus ada upaya untuk terus mengingatkan, bahwa kita butuh penerapan islam kaffah untuk menuju Indonesia berkah.

Pare, 1 Desember 2019

Monday, 25 November 2019

Sepurane Aku Gak Bakal Mundur Masio Alon-alon



Dua kali naik bis yang terakhir, ditemani lagu ini. Terakhir live, si mas pengamen suaranya lumayan. Naik bis jika ada pilihan jarang milih bagian tengah, tempat strategis mangkalnya pengamen, yang jarang naik bis bisa jadi ga tau pola ini, masuk akal sih, nyari tempat yang menjangkau depan dan belakang. Iya kalau suaranya enak didengar, atau pas ga lagi pusing tujuh keliling tidak masalah. Jika tidak, serasa gangguan yang luar biasa (semoga bisa jadi pertimbangan buat pengamen ). Suaramu yang tak merdu menyanyikan lagu picisan menyayat hatiku.

Mundur Alon-lon

Aku ngalah dudu mergo aku wis ra sayang
Aku mundur dudu mergo tresnoku wis ilang
Nanging aku iki ngerteni yen dirimu lebih sayang arek kae
Aku mundur alon alon mergo sadar aku sopo
Mung digoleki pas atimu perih
Aku mundur alon alon mergo sadar aku sopo
Mung dibutuhno pas atimu loro
Aku ngalah dudu mergo aku wis ra sayang
Aku mundur dudu mergo tresnoku wis ilang
Nanging aku iki ngerteni yen dirimu lebih sayang arek kae
Aku mundur alon alon mergo sadar aku sopo
Mung digoleki pas atimu perih
Aku mundur alon alon mergo sadar aku sopo
Mung dibutuhno pas atimu loro
Aku mundur alon alon mergo sadar aku sopo
Mung digoleki pas atimu perih
Aku mundur alon alon mergo sadar aku sopo
Mung dibutuhno pas atimu loro
Sumber: Musixmatch
Penulis lagu: ilux / huda


Akhirnya kepo juga, akhirnya nyari juga liriknya. Maafkan kalau diri ini slow respon meski sudah beberapa kali ada yang sering menyinggung tentang mundur alon-alon. Baru nyambung, ini to yang sering dinyanyikan kebanyakan orang.

Sebelum membahas tentang mundur alon-alon, satu pelajaran yang bisa diambil, sesuatu yang diulang-ulang pada akhirnya akan membuat penasaran, jadi ulang-ulang saja meski terkadang tak banyak yang mempedulikan. Apalagi untuk sebuah kebaikan, jangan bosan untuk terus mengulang, terus sampaikan. Hingga pada akhirnya banyak yang penasaran, mencari tahu, hingga sadar pentingnya kebaikan tersebut.

Kembali pada lagu Mundur Alon-alon, seperti biasa jika dari isinya sama sekali tak sepakat. Tentang interaksi pria dan wanita yang tak syar’i ya memang harus diakhiri. Apalagi jika terjadi seperti yang ada dalam lagu, Cuma buat ban serep saja, sudahlah tak halal disakiti lagi, aduh gak enak banget lah. Menurut saya, terkategori lagu cengeng lebay, gitu saja kok jadi pikiran. Hidup ini ga hanya tentang aku, kamu dan dia. Hidup ini tentang kita semua dan mereka semua. ada banyak masalah yang harus dipikirkan, ada banyak hal yang harus diselesaikan, ada banyak bekal yang harus dipersiapkan, demi kehidupan abadi di akhirat.

Tentang judul tulisan ini, Sepurane Aku Gak Bakal Mundur Masio Alon-alon, tentang sebuah komitmen yang tak akan diakhiri hanya karena desakan, cibiran, dan gangguan dari orang lain. Yaitu, dakwah menyampaikan penerapan syariat kaffah di bawah naungan khilafah.

Dakwah yang terus mendapat sorotan terutama dari rezim, terus berupaya menyasar para aktivis dan ide yang diembannya. Buku agama dirombak, khilafah tetap diakui sebagai bagian dari sejarah, namun sekadar sejarah yang divonis tak layak untuk diterapkan di negeri mayoritas muslim ini. Narasi radikalisme terus didengungkan. Opini negative seputar khilafah, bahaya orang-rang yang menyampaikan khilafah terus saja diboomingkan. Semua menteri, semua pejabat, semuanya diminta mewaspadai khilafah, mencapnya sebagai ide radikal yang hendak menghancurkan Indonesia. Harus disadari ini hanyalah narasi ilusi, tidak ada realitasnya. Jelas bukan khilafah yang membahayakan, namun perilaku penguasa yang berkolaborasi dengan pengusaha pemilik modal yang mendapat perlindungan dari aparat keamanan dan didukung kepentingan asing dan para komprador, disukseskan para penjilat dan warga yang tak mengerti apa-apa namun disupport dana yang luar biasa banyaknya. Narasi yang sejatinya digunakan untuk menutupi kegagalan rezim dalam merealisasikan janjinya, menutupi kebobrokan hasil penerpan system kapitalisme. Bukan dakwah khilafah yang membahayakan Indonesia, namun perilaku korup politisi, dzalimnya kebijakan penguasa yang tunduk pada kepentingan asing, tunduk pada arahan pemberi utang. Yang bahaya dan harus di waspadai itu rusaknya moral akibat gaya hidup liberal yang merusak bumi dan seisinya, bukan para pengemban dakwah yang mengajak untuk menerapkan syariat terbaik dari Allah.

Tekanan pun tak henti dilakukan. Persekusi hingga kedzaliman di luar nalar akal sehat menjadi langkah rendahan yang diambil rezim. Tujuannya satu, membuat para pengemban dakwah khilafah menyerah, atau minimal mundur pelan-pelan. Tapi maaf, dakwah khilafah tidak akan mundur meski selangkah. Mendakwahkan khilafah adalah kewajiban dari Allah, meneladani Rasulullah, aktivitas mulia. Dan jika tekanan itu terus diberikan, ada Allah yang akan menjaga, ada Allah Yang Maha Membalas semua perbuatan. Kebaikan akan dibalas, maka penghalang khilafah pun akan dibalas.

Tak ada kata menyerah atau bahkan sekadar mundur pelan-pelan dalam dakwah menyampaikan khilafah, yang ada adalah terus menambah semangat. Jadi percuma menghalangi dakwah khilafah, pasti gagal. Maka pilih jadi pendukung saja, jelas hasilnya. Islam pasti menang, khilafah pasti tegak.


Pare, 25 November 2019

Penyesatan Ajaran Islam Melalui Perombakan Buku Agama



Kementerian Agama mulai meluncurkan langkah yang kontroversial, salah satunya adalah rencana perombakan 155 buku agama yang memiliki konten materi khilafah. Tanpa basa-basi buku yang disasar untuk dirombak adalah buku agama Islam,  dengan jelas kemenag menyatakan bahwa buku agama yang selama bertahun-tahun telah diajarkan sebagai materi yang tak layak disampaikan. Padahal buku agama yang telah lama beredar juga merupakan buku yang sesuai kurikulum yang dibuat oleh pemerintah. Maka secara tidak langsung kementerian agama saat ini telah menyalahkan kurikulum yang telah disusun sebelumnya. Dan lebih jauh lagi, semua buku agama yang dibuat adalah buku yang telah disusun berdasarkan sumber kitab yang dikarang para ulama terdahulu, maka bisa dikatakan perombakan ini juga bentuk pernyataan bahwa apa yang selama ini disampaikan para ulama tentang syariat Islam adalah ajaran yang salah.
Alasan bahwa buku-buku tersebut telah menciptakan umat yang radikal hanyalah kamuflase saja, ada latar belakang yang lebih dari sekadar upaya deradikalisasi. Yaitu upaya penyesatan ajaran Islam. Dengan merombak buku agama, maka kementerian agama hendak membatasi informasi tentang ajaran agama Islam yang lengkap dan sempurna. Atau memperbolehkan ajaran agama disampaikan namun sebatas pengetahuan saja sembari melabeli ajaran Islan saat ini tidak cocok diterapkan. Salah satu ajaran Islam yang hendak dirombak adalah materi tentang khilafah. Maka dengan kata lain kemenag telah menyatakan bahwa khilafah yang merupakan warisan Rasulullah saw sebagai ajaran sebatas sejarah belaka, tidak bisa menjadi solusi dalam kehidupan manusia.
Perombakan buku agama merupakan langkah yang wajar bagi penguasa sekular. Penguasa yang abai dengan dengan penerapan syariat secara kaffah. Di satu sisi penguasa takut dengan penerapan ajaran Islam dalam semua aspek kehidupan, di sisi lain penguasa berupaya mencegah agar kesadaran umat Islam untuk kembali pada ajarannya tidak semakin meluas. Bahkan jika perlu mengkriminalisasi para penyampai khilafah, menciptakan islamophobia agar masyarakat semakin ketakutan dengan ajaran Islam. Jika kebijakan perombakan buku agama tetap dilakukan, maka jelas sudah bahwa rezim saat ini adalah rezim anti Islam, sehingga tak layak dipertahankan.

Nur Aini – Guru Madrasah
Pare Kediri Jawa Timur


Thursday, 14 November 2019

Kejamnya BPJS, Sukarela Kok Main Denda


Akhirnya keputusan untuk menaikkan iuran BPJS diambil oleh Negara meski diberlakukan tahun depan. Tidak hanya itu, penentuan jenis sanksi dan denda bagi penunggak iuran pun terus menuai kontroversi. BPJS mulai menampakkan wajah kejamnya dan menampakkan kegagalannya. BPJS perlahan akan terus menimbulkan masalah, maka seharusnya ada evaluasi menyeluruh dalam pelaksanaan sistem BPJS ini. Dan jika perlu secepatnya BPJS dihentikan.
Sejak awal BPJS adalah bentuk dari lepas tangannya negara dari tanggung jawab pelayanan kesehatan kepada warga negaranya. Atas nama gotong royong, ta’awun dan bantuan sukarela kepada sesama, negara mengumpulkan dana dari masyarakat demi pelayanan kesehatan. Padahal seharusnya negaralah yang berupaya memenuhi pelayan kesehatan rakyat dengan pelayanan terbaik, dan murah, bahkan menggratiskan. Karena kesehatan adalah kebutuhan pokok yang wajib dijamin negara, dan negara wajib memanfaatkan sumber ekonomi yang terkait hajat hidup rakyat untuk kepentingan seluruh warga negara. Namun ironi, bukannnya meningkatkatkan pelayanan, negara malah semakin memalak rakyat dengan kenaikan iuran. Paradoks, yang awalnya memotivasi warga negara untuk saling membantu namun malah berakhir pada melambungnya iuran dan kejamnya ancaman sanksi yang diberikan. Maka jelas, ini adalah bentuk lepas tangannya negara, negara hanya sebatas regulator, dan ini adalah karakter negara yang berpijak pada sistem kapitalisme. Oleh karena itu, jika kita menginginkan terlepas dari konsep batil dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan, maka kita harus mencari alternatif sistem pelayanan kesehatan selain solusi dari sistem kapitalisme yang mempunyai asas pelayanan yang tidak memanusiakan manusia, melainkan memperlakukan manusia sesuai dengan kekayaannya. Alternative tersebut adalah  khilafah.
Adapun konsep tata kelola pelayanan dan sistem kesehatan khilafah adalah konsep yang terpancar dari aqidah Islam, berasal dari Allah SWT Al Quran dan As Sunnah, dan apa yang ditunjuki keduanya. Yang terpenting di antaranya, adalah,
Pertama, kesehatan/pelayanan kesehatan merupakan pelayanan dasar publik yang bersifat sosial, bukan komersial.  Yang demikian karena Rasulullah saw telah bertutur, artinya, “Siapa saja yang ketika memasuki pagi hari mendapai keadaan aman kelompoknya, sehat badanya, memiliki bahan makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah menjadi miliknya”.  (HR Bukhari).  Ini di satu aspek, aspek yang lain, didasarkan pada perbuatan Rasulullah saw.  Yaitu ketika beliau dihadiahi seorang dokter, dokter tersebut dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan kaum muslimin. Kedua, pemerintah/negara telah diamanahkan Allah swt sebagai pihak yang bertanggungjawab penuh  menjamin pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan setiap individu masyarakat.  Diberikan secara cuma-cuma dengan kualitas terbaik, tidak saja bagi yang miskin tapi juga yang kaya, apapun warna kulit dan agamanya.   Tentang tugas penting dan mulia ini telah ditegaskan Rasulullah dalam tuturnya, yang artinya,”Imam (Khalifah) yang menjadi pemimpin manusia, adalah (laksana) penggembala.  Dan hanya dialah yang bertanggungjawab terhadap (urusan) rakyatnya.” (HR Al- Bukhari). Ketiga, pembiayaan yang bersifat mutlak oleh Negara. Keempat, konsep kendali mutu yang mengacu pada tiga strategi utama. Yaitu administrasi yang simple, segera dalam pelaksanaan, dan dilaksanakan oleh personal yang kapabel.  Yang demikian karena Rasulullah saw telah bersabda, artinya, “Sesungguhnya Allah swt telah mewajibkan berbuat ihsan atas segala sesuatu….”. (HR Muslim).


Thursday, 7 November 2019

Ada Kebaikan Dalam Ujian, Ikhlas dan Sabar


Jam tangan , merk tertentu tidak terlalu mahal, gelang sudah tidak original. Tak sengaja terlempar dan terbanting. Jarum detik tak bergerak, seperti biasa mencoba  menormalkan dengan memutar pengatur jarum, tetap mati. Bismillah, akhirnya memukul-mukulkan jam tangan  ke meja. Alhamdulillah jarum detik kembali bergerak. Dan berputar normal, tepat waktu.

Mungkin seperti itu juga dalam kehidupan, terkadang ada ujian, ada cobaan, butuh ujian lagi, ujian yang terasa menyakitkan, namun dengan keyakinan semua bisa diselesaikan. Hadapi dengan kesabaran dan keikhlasan

Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan. (QS Ali Imran 186).

“Sungguh menakjubkan perkaranya orang mukmin. Segala sesuatu yang terjadi padanya semua merupakan kebaikan. Ini terjadi hanya pada orang mukmin. Jika mendapat sesuatu yang menyenangkan dia bersyukur, maka itu kebaikan baginya. Jika mendapat keburukan dia bersabar, maka itu juga kebaikan baginya“ (H.R Muslim).

Btw, ketika memukul jam tangan ke meja, sudah pasrah jika memang sudah tak bisa digunakan. Jika sempat membawa ke tukang servis dan berharap ada rejeki untuk membeli yang baru. Namun Alhamdulillah, rezeki tak kan kemana, masih bisa dipakai.




Wednesday, 6 November 2019

Melibatkan Anak Dalam Dakwah Berjamaah, Salahkah?



Suasana dakwah yang semakin menggelora nampaknya semakin membuat gerah para penentang dakwah. Berbagai dalih dikeluarkan untuk mencegah masifnya dakwah. Salah satunya adalah kritikan pada pelibatan anak dalam aksi dakwah. Namun ada pula yang membela bahwa anak pun berhak berada di muka umum untuk menyampaikan pendapat. Sebagai muslim tentu tidak akan terpengaruh dengan opini murahan dalam rangka menghentikan dakwah. Melibatkan anak dalam dakwah berjamaah sudah dilakukan Rasulullah saw jauh  hari.
Di awal dakwahnya, Rasulullah saw mengajak orang-orang telah siap menerima  dakwahnya  tanpa  melihat  usia,  kedudukan,  jenis kelamin, dan asal usulnya. Beliau tidak pernah memilih-milih orang yang akan diseru kepada Islam, beliau mengajak semua umat manusia, menuntut kesiapan mereka untuk menerima Islam.  Banyak  yang masuk Islam. Beliau sangat bersemangat membina semua orang yang memeluk Islam dengan hukum-hukum agama dan meminta mereka untuk menghapalkan al-Quran.
Rasulullah saw membina dan mengorganisir para sahabat. Tidak sedikit di antara mereka yang masih berusia belasan tahun. ‘Ali bin Abi Thalib 8 tahun, Zubair binal-Awwam 8 tahun, Thalhah bin ‘Ubaidillah 11 tahun,  Arqam bin Abi al-Arqam 12 tahun, ‘Abdullah bin Mas’ud 14 tahun, Sa’ad bin Abi Waqash 17 tahun, Mas’ud bin Rabi’ah 17 tahun dan masih banyak lagi para sahabat yang berusia di bawah 18 tahun, yang jika berdasar UU Perlindungan Anak masih terkategori sebagai anak. Dengan fakta ini, akankah kita menuduh Rasulullah telah abai dengan hak anak dan telah mengeksplotasi anak? 
Setelah tiga tahun membina para sahabat, Rasullullah yakin sahabat sudah matang, ‘aqliyah islamiyah dan nafsiyah islamiyah telah terbentuk. Kemudian turunlah Surah Al Hijr ayat 94 : Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah kamu dariorang-orang yang musyrik. Dan para sahabat yang di antaranya anak-anak pun siap keluar dalam dua barisan menyampaikan Islam secara terbuka di sekitar Ka’bah.


Tuesday, 5 November 2019

Langkah Mudah Memulai Dakwah


Terkadang  pengemban dakwah merasa bingung ketika hendak memulai dakwah. Halyang wajar, namun jika dibiarkan bisa jadi akan berakhir pada kejumudan. Tak perlu gundah, kita punya teladan terbaik, Rasulullah saw. Ketika Rasulullah menerima wahyu pertama kali, beliau mengajak Khadijah ra. Masuk Islam, kemudian sepupunya  Ali bin Abi Thalib, pelayannya , Zaid. Berlanjut pada sahabat terdekat, Abu Bakar.  Abu Bakar pun mengajak para sahabatnya, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqash dan Thalhah bin Ubaidillah. Setelah itu, susul-menyusul orang-orang di Makkah memeluk  Islam. Dakwah terus bergulir,  Rasulullah tanpa lelah berkeliling dari satu rumah ke rumah, memanfaatkan setiap kesempatan untuk  menyampaikan dan mengajak orang lain masuk Islam.

Tidak hanya mengajak masuk Islam, Rasulullah juga membina orang-orang yang masuk Islam, bersama melaksanakan salat meski sembunyi-sembunyi. Semua bertujuan untuk menguatkan dan membentuk suasana berjamaah. Rasulullah menggembleng para sahabat dengan pemikiran Islam, hingga saat Allah memerintahkan untuk menyeru manusia secara langsung, berbekal iman yang kuat siap menghadapi semua resiko dakwah.

Demikianlah  awal dakwah Rasulullah. Beliau menyeru yang ada di sekitarnya terlebih dahulu, memanfaatkan hubungan dekat dan komunitas, memanfaatkan setiap kesempatan bertemu dengan orang lain. Begitu pula dengan kita. Memulai dakwah dengan mengajak orang terdekat kita, keluarga, kerabat dan sahabat. Juga  berinteraksi dengan orang yang sering bertemu baik di lingkungan tempat tinggal hingga lingkungan kerja. Mendakwahi semua orang yang kita jumpai. Maka tidak ada lagi alasan untuk bingung memulai langkah dakwah, kita manusia dan pasti hidup di tengah manusia lainnya, dan semua manusia berpeluang untuk menerima dakwah kita. Dengan motivasi ruhiyah, bahwa dakwah adalah kewajiban, apapun hasilnya dan resikonya, dakwah akan terus dilaksanakan. Hingga kematian yang menghentikan





Thursday, 24 October 2019

Tanpa Aspirasi Perlahan Demokrasi Mati



Entah apa yang merasuki rezim ini. Semakin hari semakin represif dan melakukan apa saja untuk membungkam siapapun yang tak sejalan dengan penguasa. Peringatan keras kepada ASN yang mengkritik pemerintah melalui media sosial, pencopotan jabatan beberapa anggota TNI karena status para istri, hingga proses hukum yang cepat atas para pengkritik dengan alasan ujaran kebencian. Belum lagi tindakan represif aparat  saat demonstrasi menyampaikan aspirasi. Rentetan peristiwa yang sangat bertolak belakang dengan klaim sebagai penguasa yang demokratis dan terpilih melalui pesta demokrasi. Kebebasan berpendapat yang dijamin dalam sistem demokrasi seolah hanya omong kosong belaka, sebatas jargon pemanis kata.

Namun dibungkamnya kebebasan berpendapat, perlahan namun pasti akan terjadi meski berada dalam sistem demokrasi. Kedok jahat demokrasi yang menjadi andalan sistem pemerintahan kapitalis sekular akan semakin terbuka. Sejatinya tidak ada kebebasan menyampaikan aspirasi dalam demokrasi, yang ada adalah usaha mempertahankan kekuasaan dengan segala cara dan menjamin kepentingan para pemilik modal saja. Kepentingan dan suara rakyat sama sekali tak mendapat ruang selama tidak berpihak pada penguasa. Tirani minoritas yang berkuasa akan menindas mayoritas. Dengan demikian kita tinggal menanti lonceng kematian demokrasi berbunyi.

Memang inilah wajah asli demokrasi, jargon dari, oleh dan untuk rakyat hanya kedok belaka, sejatinya para pemilik modallah yang menentukan segalanya, kritik dari rakyat hanya akan dianggap sebagai angin lalu,  bahkan jika perlu dikriminalkan. Sangat berbeda jauh dengan sistem Islam yang  membuka lebar pintu kritik, masukan dan muhasabah kepada penguasa. Dalam Islam, selama masih dalam koridor akidah dan hukum Islam, kritik atau muhasabah adalah kontrol pada penguasa di saat menjalankan amanahnya sebagai pengurus urusan rakyat. Sebagaimana yang dilaksanakan Rasulullah dan para khalifah terdahulu. Rasulullah saw tak sungkan meminta masukan dari para sahabat, seabagaimana Umar Khattab ra. menerima kritikan atas kebijakannya membatasi mahar, Muawiyah ra. yang tak marah dikritik Jariyah bin Qudama as-Sa’adi di depan menteri Romawi yang sedang berkunjung, dan masih banyak lagi peristiwa lainnya, dengan kesimpulan yang satu, penguasa yang menjalankan sistem Islam bukanlah pemimpin yang alergi mendengarkan aspirasi.