Thursday, 16 March 2017

Bersedekah Memang Tidak Harus Menunggu Tegaknya Khilafah


Surat Al Mauun dan Hadits tentang menyayangi anak yatim adalah salah dua dari materi pelajaran Alquran Hadits kelas 5 semester 1. Sama-sama membahas tentang anak yatim, surat al mauun mengingatkan agar tidak menyakiti anak yatim, hadits tentang menyayangi anak yatim mengingatkan keutamaan menyayangi anak yatim.
Hadits riwayat Imam Bukhari

Dari Sahl bin Sa’ad r.a berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Saya dan orang yang memelihara anak yatim itu dalam surga seperti ini.” Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya serta merenggangkan keduanya.”

Sejauh apapun, sekuat apapun merenggangkan telunjuk dan jari tengah ya akan tetap berdekatan dan berdampingan, ini menunjukkan keistimewaan posisi orang-orang yang menyayangi anak yatim di samping Rasulullah saw.

Dan salah satu hal yang bisa dilakukan dalam rangka menyayangi anak yatim adalah dengan bersedekah memenuhi kebutuhan mereka. Ini bisa dilakukan siapa saja, asal ada niat pasti bisa terlaksana.

Namun mengelola harta anak yatim juga sebuah amanah yang berat, karena ada ancaman bagi orang-orang yang memakan harta anak yatim. Harus benar-benar dipastikan untuk memelihara anak yatim.

Dalam Islam, anak yatim perwaliannya kembali kepada walinya. Dan ibunya jika belum menikah lagi juga mendapat nafkah dari walinya. Jika wali tidak mampu menjadi tanggungan kerabat, jika kerabat tidak mampu menjadi kewajiban masyarakat sekitar, jika masyarakat sekitar tidak mampu maka Negara wajib mengambil alih. Karena Negara yang dipimpin oleh imam/khilafah berkewajiban mengurus urusan seluruh rakyatnya, karena khalifah adalah junnah, perisai bagi rakyatnya.

Namun fakta saat ini banyak yang tidak sesuai ketentuan hukum Allah. Tidak sedikit anak yatim yang terlantar, masih banyak ibu-ibu anak yatim harus membanting tulang memeras keringat menafkahi anak-anak mereka. Keluarga kurang peduli, masyarakat cuek individualis, negara berlepas tangan.

Secara individu ketika kita mampu kita bisa membantu, selama ada kemauan masih bisa mengingatkan orang yang mampu. Namun apalah daya seorang individu, hanya bisa membantu sejauh mata memandang, sejauh tangan bisa merentang, sejauh telinga bisa mendengar. Tidak mempunyai kekuatan yang lebih luas lagi.

Berbeda jika Negara yang mengurusi. Mengumpulkan data, memantau pengurusan anak yatim, menghukum wali yang mampu namun menelantarkan anak yatim, mengelola keuangan Negara, mengelola baitul mal dan lain sebagainya. Negara lah yang mempunyai kewenangan dalam menerapkan seluruh hukum yang telah diberikan Allah SWT dan Rasulullah saw. Dan ini hanya terjadi jika sistem kenegaraannya adalah Khilafah, bukan sistem republik, kerajaan atau yang lainnya.

Maka, bersedakah memang tidak harus menunggu tegaknya khilafah
Namun bersedekah untuk anak yatim akan lebih mudah, lebih optimal jika dalam pengelolaan Negara. Akan bisa menjangkau seluruh anak yatim di seluruh penjuru dunia. Tidak terbatas sekat nasionalisme, suku, ras dan agama. Selama menjadi warga Negara akan mendapatkan haknya. Memang bukan sembarang Negara, tapi yang dibutuhkan dan diwajibkan adalah Negara khilafah ‘ala minhaji nubuwwah.

Maka bersedakahlah
Maka berdakwahlah
Maka tegakkan dan perjuangkan  khilafah

Pare, 16 Maret 2017


Wednesday, 15 March 2017

Tidak Hanya Terduga Teroris Yang Ada di Kampung Inggris


Berita terakhir yang semakin melambungkan Kampung Inggris Pare adalah ditangkapnya terduga teroris di Jl. Asparaga Tulungrejo Pare [13/032017]. Saya pribadi tidak terlalu percaya dengan kinerja Densus dalam hal penangkapan dan penanganan kasus terorisme di Indonesia. Terorisme bermakna melakukan tindakan criminal yang melanggar hukum syara ‘ jelas tidak boleh dibiarkan, namun ketika terorisme sudah dilekatkan pada agama tertentu dan selalu yang menjadi sasaran adalah umat tertentu harus dipikirkan lagi. Untuk kepentingan siapa sebenarnya detasemen khusus yang lebih sering menembak mati orang yang belum tentu bersalah ? Mengapa selalu saja alasannya sama ketika berakhir dengan tewasnya terduga teroris ? Membahayakan. Dan jika tidak ditembak mati  dan ditangkap hidup-hidup namun ada yang disiksa sampai mati seperti kasus Siyono.   Terduga teroris juga manusia, punya akal dan perasaan, saya yakin masih ada jalan untuk menyadarkan pemikiran yang salah yang menjadi latar belakang tindakan mereka.

Kembali pada penangkapan terduga teroris di Pare. Daerah yang terkenal dengan Kampung Inggris memang sangat banyak pendatangnya. Maka wajar jika yang datang ke Pare mempunyai alasan yang beragam. Benar-benar menuntut ilmu, sekadar ingin tahu, mencoba mencari nafkah adalah contoh alasan yang tidak terlarang. Namun tidak hanya kebaikan saja yang datang ke  Pare, orang-orang dengan motif iseng bahkan jahat pun juga memanfaatkan kondisi Pare.

Datang bersama pacar, hamil di luar nikah meninggalkan anak di Pare juga ada
Datang dan pacaran dengan sesama pendatang, menghamili banyak pendatang juga ada
Datang dan pacaran dengan penduduk setempat, menghamili kemudian menghilang juga ada
Sengaja kursus dan tinggal satu kos dengan bendahara di kelasnya untuk mencuri uang yang dibawa bendahara. Terus berpindah kos dan kursus, modus untuk mengenal dengan membidik orang-orang yang membawa uang.
Datang membawa kebiasaan buruk sangat banyak.

Adanya Kampung Inggris di Pare adalah sebuah keuntungan juga sekaligus sebuah ujian. Jika dibiarkan tanpa ada kepedulian dari masyarakat dan pemerintah setempat maka akan semakin membuat kerusakan. Pembangunan yang tidak terkontrol, hanya mengejar materi akan merusak tata ruang wilayah, pembiaran terhadap system social kemasyarakatan akan mengantarkan pada kehancuran moral. Ini adalah resiko sebuah daerah yang menjadi tujuan para pendatang, dengan mobilitas tinggi.
Butuh kepedulian dari semua pihak. Tidak semata melihat peluang secara materi, tetapi juga mengantisipasi kemungkinan buruk.

Insya Allah bersambung

Pare, 15 Maret 2017




Saturday, 11 March 2017

Catatan Pengawas : Instansi Negeri, Sulit Menjaga Wudhu?



Mengawas bersama guru-guru yang sepertinya sudah biasa berjabat tangan antara guru laki-laki dengan guru perempuan. Memang  saat ini saya ambil pendapat, berjabat tangan dengan non mahram hukumnya mubah. Tapi berjabat tangan itu membatalkan wudhu. Kadang sayang jika tidak terpaksa harus berjabat tangan, wudhu batal.

Berjabat tangan dengan non mahram, mubah, Boleh diambil boleh tidak. Penjelasan lengkapnya bisa dibaca di Buku Sistem Pergaulan dalam Islam Bab Melihat Wanita, sbb :

Adapun berkaitan dengan masalah jabatan tangan (mushâfahah), maka sesungguhnya seorang pria boleh menjabat tangan wanita dan demikian pula sebaliknya, seorang wanita boleh menjabat tangan seorang pria; tanpa harus ada penghalang di antara kedua tangan mereka. Kebolehan ini  sesuai  apa  yang  dinyatakan  di dalam Shahîh al-Bukhârî yang bersumber dari ‘Ummu ‘Athiyah. ‘Ummu ‘Athiyah menuturkan:
“Kami membaiat Nabi SAW, lalu Beliau membacakan kepada kami “bahwa  mereka  tidak  akan  menyekutukan  sesuatupun  dengan Allah” (TQS. Mumtahanah [60]: 12),dan Beliau melarang kami
untuk meratap.  Maka  seorang wanita  di  antara  kami  menarik kembali tangannya.”




Baiat  tersebut  dilakukan  dengan  cara  berjabatan  tangan (mushâfahah). Kata ‘qabadhat yadahâ’(menarik kembali tangannya) maknanya adalah menarik kembali tangannya yang sebelumnya ia
ulurkan untuk melakukan baiat tersebut. Kenyataan wanita itu ‘menarik kembali tangannya’, pengertiannya bahwa wanita tersebut sebelumnya hendak membaiat Rasulullah SAW dengan cara berjabat tangan. Kata ‘maka salah seorang wanita di antara kami menarik kembali tangannya’, mafhumnya adalah bahwa wanita yang lain tidak menarik kembali tangan mereka.  Ini  berarti,  para  wanita  selain  wanita  tersebut  membaiat Rasulullah SAW dengan cara berjabat tangan (mushâfahah). Di samping itu, mafhum (pengertian) firman Allah SWT: “….Atau kalian telah menyentuh perempuan.” (TQS an-Nisâ [4]: 43) yang dinyatakan dengan lafazh umum yang mencakup seluruh wanita dari sisi bahwa sentuhan yang membatalkan wudhu, hal itu menunjukkan terbatasnya hukum pada masalah batalnya wudhu bagi pria karena menyentuh wanita. Mafhum dari ayat tersebut menunjukkan bahwa
menyentuh wanita tanpa disertai syahwat tidaklah haram. Maka demikian juga berjabatan tangan dengan wanita bukanlah sesuatu yang haram.

Lebih dari itu, telapak tangan wanita tidak termasuk aurat dan tidak diharamkan memandangnya tanpa disertai syahwat. Maka, menjabat tangan wanita tidak diharamkan.

Namun meskipun mubah, sikap terhadap hal mubah tetaplah tidah berubah.
Tidak semua mubah diambil begitu saja, memilih kemubahan yang mengantar pada terlaksananya kewajiban dan sunah. Meninggalkan yang mubah jika mendekatkan pada yang haram dan makruh

Catatan pengawas try out : 17 Feb 2017


Catatan Pengawas : Generasi Z, Namanya Semakin Panjang


Catatan selama mengawas uji coba ujian sekolah, pengawas silang antar sekolah
Salah satu perlengkapan yang ada dalam ruang ujian adalah album peserta. Berisi informasi peserta ujian yang ada dalam ruangan berupa : Nama, no ujian dan foto peserta.
Dan peserta ujian tahun ini jelas dari segi umur lahir di atas  tahun 2000, maka menurut salah satu pengelompokan generasi, mereka termasuk  generasi  Z. salah satu ciri generasi Z adalah generasi yang melek teknologi, kecil-kecil sudah makan tab, kecil-kecil sudah punya smartphone sendiri, kecil-kecil sudah pintar menjelajah dunia via internet.
Namun yang juga menjadi ciri generasi Z di Indonesia sepertinya adalah nama yang diberikan oleh orang tua mereka minimal dua kata. Jadi generasi Y mempunyai kecenderungan memberi nama anak-anak mereka dengan nama yang panjang dan generasi Z memiliki nama yang lebih panjang dari pada orangtuanya. Dan anehnya nama lengkap dan nama panggilan sering kali tidak nyambung. Biasanya diambil dari potongan nama, tapi semakin banyak saja yang tidak ada dalam nama lengkap, kadang malah singkatan.

Dulu nama orang hanya satu kata saja : Suhartono, Supartini, Mulyono, Katijah
Kemudian bertambah menjadi dua kata : Siti Badriyah, Ahmad  Susanto
Kemudian bertambah menjadi tiga kata
Kemudian bertambah menjadi empat kata

Yang puyeng yang dapat tugas nulis ijazah manual, kalo mau disingkat harus dengan persetujuan bahkan pernyataan ortu siswa.

Nama itu doa, harapan dan cita-cita, singkat, padat dan bermakna. Jika mengambil nama idola pastikan idola yang saleh dan sudah meninggal. Insya allah akan tetap menjadi teladan. Jangan idola dari kalangan artis, naudzubillah.
Jadi gimana gitu kalo manggil nama siswa : Ariel, jadi ingat artis bermasalah yang kembali menjadi idola padahal jelas pernah melakukan tindakan asusila.


Catatan pengawas try out : 18 Feb 2017

Thursday, 9 March 2017

Catatan Pengawas : Sekolah Negeri Legalisasi Sekularisasi?


Menunggu dan menjadi pengawas uji coba di SD Negeri di Pusat Kota

Hari pertama, ragu mengucapkan salam melihat mayoritas siswa yang dugaan kuat saya non muslim. Agak susah memalingkan pandangan / ghadwul bashar, kelas 6 bisa jadi anak-anaknya sudah baligh namun masih saja mengenakan celana pendek dan siswinya mengenakan rok di atas lutut.
Negeri dengan penduduk muslim terbesar namun sulit membedakan mana yang muslim mana yang bukan.

Di dunia Islam, upaya Barat untuk melakukan sekularisasi pendidikan sudah berlangsung sejak kemunduran umat Islam dan semakin gencar dilakukan setelah khilafah dilenyapkan. Sekularisasi pendidikan juga menimpa Indonesia, negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Sekularisasi  pendidikan di Indonesia terlihat sangat jelas. Sekularisasi ini berlangsung secara struktural, yaitu dengan adanya pemisahan jalur pendidikan agama di bawah Kementrian Agama dan pendidikan umum di bawah Kementrian Pendidikan Nasional. Sekularisasi kurikulum di Indonesia berkiblat pada Barat, sebagai pengemban utama ideologi kapitalisme yang memang akidahnya adalah sekular, memisahkan agama dari kehidupan, memisahkan ilmu agama dengan ilmu umum yang akhirnya  berujung pada pemisahan agama dalam sistem kenegaraan. Sekularisasi pendidikan terjadi dalam seluruh jenjang pendidikan, mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Dari pendidikan yang berasaskan pada sekularisme akan tercetak peserta didik yang pemikirannya sangat kental dengan ide -ide Barat, di antaranya adalah pemikiran moderat, liberal dan mengagungkan kebebasan berpendapat.

Dalam pendidikan dasar dan menengah, penanaman ide yang lahir dari asas sekular sudah berlangsung dalam proses pembelajaran. Salah satunya adalah dengan pembelajaran  yang  menekankan  pada  jawaban  divergen  yang memiliki kebenaran multi dimensi, proses pembelajaran ini sangat mengedepankan upaya membentuk peserta didik yang moderat dan toleran sesuai arahan Barat. Tidak boleh memaksakan pendapat meskipun itu benar menurut agama, harus menghargai pendapat meskipun bertentangan dengan hukum syara’. Peserta didik di sekolah negeri di bawah Kementrian Pendidikan Nasional juga diberi kebebasan dalam hal pemilihan seragam sekolah dan pengaturan interaksi siswa. Kebijakan yang membolehkan siswa tidak menutup aurat, terbiasa ikhtilat secara tidak langsung merupakan legalitas sekularisasi dalam dunia pendidikan. Jika di madrasah peserta didik diwajibkan memakai seragam yang menutup aurat maka di sekolah umum siswa bebas , boleh menutup aurat juga boleh mengumbar aurat, ini adalah keputusan pribadi yang tidak boleh dicampuradukkan dengan aturan agama. Hal ini sangat wajar terjadi karena memang salah satu prinsip penyelenggaraan pendidikan yang ada dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah pendidikan diselenggarakan secara demokratis, tentu saja demokratis bermakna menyerahkan kebenaran pada standar hawa nafsu manusia, bukan pada hukum syara’.

Membutuhkan perjuangan agar system pendidikan Islam segera diterapkan.

Catatan pengawas try out : 17 Feb 2017

Friday, 3 March 2017

اِلْتَزَمَ


Pertama kali mengetahui kata اِلْتَزَمَ bingung apakah ini termasuk isim atau fi’il, secara kasat mata terkecoh dengan keberadaan اَلْ di awal kata, yang merupakan salah satu ciri isim. Tetapi jika isim, mencarai arti  تَزَمَ  di kamus ternyata tidak ketemu. Sempat eyel-eyelan dengan teman, ustadzah yang ngajar hanya senyum-senyum saja. Ternyata masuk fi’il dengan wazan افْتَعَلَ. Menjadi fi’il tsulasiy mazid dengan menambahkan hamzah di awal dan ta’ di antara fa’ dan ain fi’il. Menunjukkan pengertian pengaruh atau akibat dari suatu perbuatan. Ada beberapa arti dari wazan ini, namun yang biasa adalah diartikan dengan menambahkan imbuhan ber- dari kata dasar nya.
Untuk الْتَزَمَ mempunyai arti mewajibkan atas dirinya / mengikatkan dirinya dengan .../berkewajiban
الْتَزَمَ – يَلْتَزِمُ-الْتِزَامًا

Iltizam adalah mashdar dari iltazama, maka jika seseorang sudah menetapkan iltizam, ini bermakna dirinya sendirilah yang mempunyai kesadaran untuk merealisasikan komitmennya, ini bukan paksaaan namun sebuah janji pada dirinya sendiri untuk memenuhi komitmennya. Misal sudah menetapkan iltizam memberikan harta untuk aktivitas dakwah maka ini adalah sebuah kewajiban yang  komitmennya muncul dari dirinya sendiri, sehingga jika iltizam tersebut sudah disampaikan kepada orang lain lain, orang lain juga harus mengingatkan agar iltizam itu direalisasikan. Iltizam adalah sebuah kewajiban, jika tidak direalisasikan menjadi sebuah “utang”.

Begitu juga ketika sudah beriltizam untuk mendedikasikan dirinya dalam sebuah aktivitas, dakwah misalnya, maka ketika dakwah itu tidak direalisasikan maka dia telah “utang” yang pertanggungjawabannya juga langsung kepada Allah, karena qimah/nilai yang hendak diraih dari aktivitas dakwah adalah nilai ruhiyah, sadar dakwah adalah konsekuensi sebagai hamba Allah, dakwah semata untuk mendapar ridla Allah.


Tuesday, 28 February 2017

Kasih Sayang Untuk Anak Punk


Fenomena anak punk di sepanjang jalan di berbagai tempat semakin memprihatinkan. Semakin lama jumlah mereka semakin banyak, semakin mudah ditemui di perempatan jalan besar. Sekadar duduk-duduk bergerombol, hingga mengamen di saat lampu merah menyala. Penampilan fisiknya pun juga sangat membuat hati miris. Atas nama anti kemapanan, mereka tampil apa adanya bahkan  cenderung dekil. Pemikiran sosialis sangat kental dalam keseharian mereka, selain anti kemapanan mereka juga mempunyai ikatan kuat terkait kebersamaan dan pemerataan dalam segala hal,senang bersama, susah bersama, menikmati apapun bersama-sama. Sepintas solidaritas di antara mereka begitu mengesankan. Namun kebersamaan mereka juga berlaku dalam hal kemaksiatan. Sudah menjadi rahasia umum, anak punk mendeklarasikan anti narkoba namun tidak dengan pergaulan bebas. Sudah menjadi sesuatu yang biasa terjadi di antara gerombolan anak punk bahwa mereka juga berbagi teman wanita, itu semua dilakukan tidak atas paksaan, murni berdasarkan kerelaan. Rela berbagi tubuh, atas nama kerelaan berbagi kebahagiaan. Tanpa disadari potensi penyebaran penyakit menular semakin bertambah. Salah satunya adalah menjadi potensi baru penularan HIV/AIDS.
Maka permasalahan anak punk tidak hanya menyisakan masalah sosial tetapi juga mengakibatkan permasalah kesehatan. Belum lagi jika perilaku anak punk yang sudah disertai dengan tindakan gangguan keamanan. Mengamen dengan ancaman merusak mobil pengendara di jalan, memalak, hingga pemaksaan anak punk yang baru bergabung untuk melayani senior mereka, jika tidak menurut pukulan dan tendangan melayang. Dan yang paling membahayakan adalah masa depan bangsa ini yang menjadi taruhan. Bagaimana tidak, anak-anak punk hampir semuanya masih muda, masih remaja, bahkan ada yang masih kecil. Banyak dari mereka yang  masih usia sekolah maupun kuliah. Bisa jadi awalnya mereka masih mengenyam pendidikan, namun lama-kelamaan mereka akan terbawa arus. Lama-lama mereka tidak ingin terikat dengan aturan apapun, mereka ingin bebas berbuat, ingin mencari jati diri sesuai dengan keinginan mereka, tidak ingin terkekang. Jika fenomena ini terus berlangsung, yang ada adalah generasi miskin ilmu, generasi yang tidak mempunyai visi kehidupan jauh ke depan.
Memang bukan permasalahan yang akan selesai semudah membalikkan telapak tangan, namun dengan ketegasan, kesabaran dan ketelatenan tren menjadi anggota kelompok punk  tidak akan terjadi lagi. Membutuhkan kerjasama berbagai puhak agar fenomena anak punk tidak semakin melebar di semua tempat, agar ketenangan terwujud, agar keresahan menjadi berkurang.

Memahami masalah
Semakin banyaknya remaja yang tertarik dengan kelompok-kelompok anak punk bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja. Hampir dalam semua kasus anak dan remaja lebih memilih menjadi anak punk , berawal dari permasalahan pribadi remaja tersebut. Baik karena masalah internal yang berasal dari diri sendiri semisal mereka sedang mencari jati diri, atau bisa juga karena permasalahan keluarga dan lingkungan. Namun satu hal yang sangat mungkin menjadi pemicu adalah kurangnya perhatian dan kasih sayang yang didapatkan anak, baik dari keluarga maupun dari lingkungannya. Apalagi seiring dengan semakin individualisnya masyarakat dan hanya menjadikan materi sebagai tolok ukur kebahagiaan, banyak orang tua yang mencukupkan diri memberi perhatian sebatas materi belaka. Menganggap pemberian materi adalah bentuk perhatian tertinggi, menganggap materi menjadi solusi untuk semua masalah. Padahal, remaja yang rentan dengan krisis jati diri membutuhkan perhatian yang lebih dari sekadar materi. Mereka membutuhkan teman berbagi, teman berdiskusi, teman mencurahkan rasa hati. Remaja juga membutuhkan apresiasi dari orang yang lebih dewasa, membutuhkan sarana untuk menyalurkan kreativitasnya. Jika ini semua tidak dipahami dan difasilitasi, wajar jika mereka mencari dengan usaha sendiri. Dan bergabung dalam komunitas punk menjadi salah satu pilihan.
Di mata remaja labil, komunitas anak punk seolah menjadi jawaban atas kegelisahan remaja yang merasa diabaikan, menjadi tempat yang nyaman untuk membagi permasalahan yang sedang dihadapi. Kebersamaan tanpa pandang status, berbagi dalam segala hal, tidak mempermasalahkan latar belakang menjadi daya tarik tersendiri. Remaja labil yang kurang kasih sayang, berada dalam keluarga yang tidak harmonis, berada dalam keluarga berkecukupan secara materi namun terasa hidup sendiri, bosan dengan rutinitas belajar di sekolah, tidak ingin terkekang aturan, menjadi faktor-faktor pemicu, jadilah mereka mencarinya  solusi di luar tempat biasa mereka hidup.
Di sisi lain, semakin masifnya pemikiran tentang kebebasan berperilaku, kebebasan berekspresi  menjadikan perilaku apapun menjadikan aktivitas apapun mendapat ruang. Termasuk pula dengan aktivitas komunitas anak punk. Memang bisa jadi berawal dari tingginya rasa solidaritas, namun lama-kelamaan solidaritas itu melampaui batas, hingga dalam kemaksiatan dan kejahatan. Dan ini terjadi juga dipicu pada pemahaman yang salah tentang kebebasan, kebebasan dianggap sebagai legalitas untuk melakukan apapun yang diinginkan.

Bergandengan Tangan Menyelesaikan Permasalahan
Tidak bisa dipungkiri, permasalahan yang muncul di komunitas anak punk bukanlah tanggung jawab remaja, orang tua, sekolah sebagai unsur pendidikan, dan negara saja. Semua elemen bertanggungjawab atas permasalahan yang didera anak bangsa. Karena nasib generasi penyambung estafet masa depan bangsa ini ada di pundak remaja. Mengabaikan kualitas generasi penerus sama saja dengan mempertaruhkan masa depan negeri ini.
Memberikan kasih sayang dan perhatian yang hakiki selayaknya dilakukan semua orang. Baik orang tua, keluarga, guru dan masyarakat. Kepedulian dan mau memahami permasalah remaja, tidak menghakimi secara sepihak di saat remaja khilaf berbuat. Membekali remaja dengan bekal agama, karena tidak ada satupun agama yang mengajarkan kejahatan, memerintahkan kerusakan dalam kehidupan. Dengan bekal agama, setidaknya remaja akan berbuat terbaik di dunia, remaja akan berpikir bahwa kelak perbuatan mereka akan dimintai pertanggungjawan di akhirat. Dengan bekal agama, remaja peduli dengan pahala dan dosa.
Kepeduliaan dari masyarakat juga sangat dibutuhkan, masyarakat yang acuh tak acuh dan permisif hanya akan memberikan kesempatan orang melakukan apapun yang diinginkan. Hidup dalam bermasyarakat ibarat orang yang berada di dalam perahu kapal. Orang yang berada di ruang bawah ketika akan mengambil air harus naik dan melalui orang yang di atas, jika orang yang di atas merasa terganggu sehingga membuat orang yang di bawah berpikir untuk melubangi saja perahu agar mudah dan tidak mengganggu penumpang di atas. Dan penumpang di atas membiarkan saja tindakan pelubangan perahu, yang terjadi adalah tenggelamnya perahu kapal, tenggelam lah seluruh penumpang. Begitu pula dengan permasalahan akibat maraknya komunitas anak punk. Ketidakpeduliaan masyarakat, merasa bahwa itu hanya masalah yang memang biasa terjadi lama-kelamaan akan merugikan semua pihak.
Dan yang tak kalah pentingnya adalah peran negara sebagai pengayom rakyat. Kebijakan Negara sangat berpengaruh pada apa yang terjadi di tengah masyarakat. Permasalahan ekonomi membuat orang  tua cenderung abai dengan anak, orang  tua sibuk membanting tulang memeras keringat. Kurikulum pendidikan yang tidak berpengaruh positif pada kepribadian siswa malah memberikan beban bagi siswa. Sistem sosial kemasyarakatan yang mengagungkan kebebasan memicu pergaulan bebas, rasa aman pun semakin langka. Ini permasalahan tataran sistemik yang membutuhkan kebijakan negara. Kebijakan ekonomi kapitalis liberal yang mengedepankan relasi pengusaha dan konsumen semakin membuat rakyat kecil semakin pontang-panting memenuhi kebutuhannya, karena subsidi semakin mengecil. Privatisasi semakin menggurita membuat harga-harga  semakin mahal, karena pemilik modal lah yang menentukan harga barang,  yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Pembiaran dan kurangnya ketegasan aparat semakin memperparah kondisi. Aparat seolah sudah lelah, razia tak membuat komunitas punk menyerah, akhirnya cenderung membiarkan selama tidak terjadi tindakan kriminal.
Itu semua adalah permasalahan-permasalahan yang secara tidak langsung semakin membuat generasi negeri ini menjadi generasi yang mudah stres, dan kebebasan serta ketidaksudian terkekang aturan menjadi pemicu remaja mencari pelarian. Oleh karena itu, perhatian atas permasalahan generasi yang salah satunya adalah maraknya komunitas punk menjadi tanggung jawab. Memberikan kasih sayang hakiki kepada remaja, mendampingi remaja di saat mencari jati diri,menasehati ketika ada yang kurang tepat, adakalanya tegas ketika memang ada pelanggaran. Kerjasama dari semua pihak diperlukan, demi menyelamatkan generasi, demi menyongsong masa depan cerah. 

Thursday, 23 February 2017

Pare 7


190217,  sekitar  17.15
Perjalanan SLG Pare, gerimis di SLG dan semakin deras, berteduh di dekat kantor kec.Gurah, memakai jas hujan. Langit yang gelap menumpahkan air ke bumi. Hujan semakin deras, jalan pun semakin tak terlihat. Sesekali kilat menyambar, terlihat jelas ketika memasuki  area persawahan. Tidak ada tempat berteduh lagi. Jalan yang dihiasi lubang menambah kekhawatiran. Alhamdulillah, melihat tanda Pare 7 km di Sambirejo , sudah tidak jauh lagi. Memasuki Pare, hanya hujan gerimis, masuk Pelem hanya tersisa bekas hujan.

Pare 7
Terlihat jelas, artinya 7 km lagi akan sampai di Pare, sudah sekitar setengah perjalanan dihitung dari SLG. Awalnya terasa jauh, khawatir dengan suasana jalan yang begitu gelap, sesekali tiba-tiba muncul mobil dari depan yang terasa mau menabrak karena batas jalan sudah tak terlihat. Terpikir untuk berhenti dan berteduh saja, namun mengurungkan niat, mengingat malam sudah mendekat, bisa-bisa akan semakin gelap. Namun akhirnya sampai juga di wilayah yang tidak hujan. Awalnya mengira semua wilayah hujan deras, namun ternyata tidak, memasuki Bendo hanya gerimis, Pelem malah tidak hujan. Andai saja memutuskan untuk berhenti dulu mungkin akan benar-benar kemalaman. Jika malam datang jelas pandangan akan berkurang, kecepatan pun juga berkurang. Sampai tujuan sudah malam.
Memang ada resiko ketika jalan tak terlihat, kendaraan dari arah berlawanan meski sudah menyalakan lampu  terkalahkan gelapnya suasana, tetapi ketika persiapan sudah dilaksanakan tak ada salahnya untuk terus melanjutkan perjalanan hingga sampai ke tujuan.

Ujian dalam perjalanan perjuangan
Masih belum pantas mengatakan berat rasanya mendapat ujian ketika berjuang. Belum seberapa dengan apa yang dirasakan Rasulullah saw beserta para sahabat di awal dakwah Islam. Mereka adalah manusia mulia yang sangat gigih perjuangannya, sangat besar pengorbanannya, sangat kuat keistiqamahannya.
Perjuangan untuk mengubah kejahiliyahan menuju kegemilangan, jika  mereka putus asa niscaya saat ini kita tidak menikmati nikmat Islam.
Begitu pula dengan sekarang, perjuangan untuk menerapkan Islam kaffah, perjuangan untuk menyadarkan demokrasi kapitalisme hanyalah kebatilan yang menyengsarakan juga membutuhkan pengorbanan dan kesabaran. Bisa jadi ujian  siap menghadang, namun ketika tanda-tanda dukungan dari umat semakin menguat secercah harapan siap menyongsong.
Perjuangan menegakkan khilafah adalah sebuah kemuliaan, meneladani Rasulullah dan para sahabat yang diridhai Allah
Perjuangan menegakkan khilafah adalah konsekuensi keimanan bukan tindakan kriminal
Perjuangan menegakkan khilafah bukan demi egoisme murahan namun demi cinta sejati, cinta karena Allah
Perjuangan menegakkan khilafah memang bukan perkara mudah, halangan pasti siap menghadang namun itu semua tidak akan menyurutkan langkah
Terus berjuang karena kemenangan itu pasti dating
Terus berjuang karena kemenangan itu janji Allah Dzat Yang Maha Menepati Janji
Terus menyiapkan bekal, terus mengusahakan amal, terus menyampaikan dengan interaksi yang sebenarnya, interaksi semata mengharapkan ridha Allah, abaikan saja celaan dari orang-orang yang suka mencela.


Wednesday, 15 February 2017

Memilih Pemimpin Pengayom di Dunia Penyelamat di Akhirat

Tidak Cukup Menolak Pemimpin Kafir Saja

Alhamdulillah, penolakan pemimpin kafir semakin menggema di nusantara. Para musuh Islam mulai gerah dan panik, berbagai upaya dilakukan untuk mengkriminalkan para penolak pemimpin kafir, akan tetapi semangat umat untuk menolak pemimpin kafir terus bergulir hingga muncul semangat untuk membela Islam. Namun penolakan terhadap pemimpin kafir saja belum cukup, juga belum menjadi solusi ketika berpuas diri dengan memilih pemimpin muslim. Masih ada syarat pemimpin yang seharusnya tidak boleh diabaikan. 

Pemimpin atau penguasa adalah orang yang sepenuhnya bertanggung jawab atas seluruh urusan umat. Perannya sangat penting. Dan Islam sebagai agama yang sempurna juga mempunyai aturan seputar pemimpin. Ada banyak hadits dari Rasulullah saw yang secara umum menyinggung masalah  kepemimpinan. Diantaranya sebagai berikut :
Sebaik-baik imam (pemimpin) kalian adalah yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian serta yang senantiasa kalian doakan  dan  mereka  pun  selalu  mendoakan  kalian.  (HR Muslim).

Sesungguhnya imam itu laksana perisai, dimana orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung dengannya. (HR Muslim).

Jadi pemimpin itu seharusnya yang kita cintai dan mencintai kita, bukan malah menyengsarakan. Pemimpin itu orang yang selalu kita doakan dan mendoakan kita agar selalu dalam kebaikan, bukan malah yang dituntut untuk segera turun jabatan, bukan orang yang tidak bisa mendoakan rakyatnya. Pemimpin itu seharusnya menjadi perisai dan pelindung rakyatnya, bukan malah mengorbankan rakyatnya demi kepentingan golongan dan para pemilik modal penyandang dana sehingga mereka bisa sampai pada tampuk kekuasaan. Juga bukan orang yang mengijinkan asing menguasai SDA dan mempengaruhi kebijakan dalam negeri.

Maka, sebagai seorang muslim memilih pemimpin bukanlah masalah sepele. Memilih pemimpin adalah sebuah perbuatan, dan perbuatan seorang muslim terikat pada hukum syara’. Seorang muslim harus menyandarkan pilihannya pada dalil, bukan sekadar melihat fakta sesaat, terjebak pada keadaan. Hingga akhirnya mengabaikan tuntunan dalam Alquran dan Hadits. Dibutuhkan idealisme yang kuat dan disertai dengan keyakinan bahwa ketentuan Allah SWT sajalah yang terbaik dan seharusnya diterapkan. Ketika memang keadaan belum memungkinkan, tidak terjebak pada kepentingan sesaat, namun sebaliknya terus berjuang dan berdakwah agar apapun yang menjadi keputusan tetap tidak bertentangan dengan ketentuan Allah SWT dan teladan Rasulullah saw.  

Oleh karena itu, ketika memang Islam sudah menentukan kriteria pemimpin yang seharusnya dipilih, kita seharusnya mendengarkan, taat dan melaksanakan dengan sepenuh hati. Tidak mencari-cari alasan untuk menolak. 

Kriteria Pemimpin 
Setidaknya ada tujuh syarat yang harus dipenuhi oleh pemimpin yang akan dipilih oleh seorang muslim. Satu saja syarat tidak terpenuhi maka tidak layak untuk dijadikan pemimpin. Syarat-syarat  tersebut adalah muslim, laki-laki, balig, berakal, merdeka, adil, mampu. 

Haram memilih pemimpin kafir, Allah SWT mengingatkan agar orang kafir sama sekali tidak diberi kesempatan untuk menjadi pengurus urusan umat. Sebagaimana firman Allah SWT : Allah sekali-kali tidak akan memberikan jalan kepada orangorang kafir untuk memusnahkan orang-orang Mukmin. (TQS an-Nisa’ [4]: 141). Haram memilih pemimpin perempuan karena Rasulullah memberitahukan tidak beruntungnya kaum yang dipimpin perempuan : Tidak akan pernah beruntung suatu kaum yang menyerahkanurusannya kepada perempuan. (HR al-Bukhari).

Haram pula menjadikan orang yang belum balig dan tidak berakal sebagai pemimpin. Telah diangkat pena (beban hukum) dari tiga golongan : dari orang gila hingga ia sembuh; dari orang yang tidur hingga ia bangun; dan dari anak-anak hingga ia balig.  (HR  Abu Dawud ). Haram menjadikan hamba sahaya sebagai pemimpin, karena hamba sahaya tidak mempunyai kewenangan mengatur dirinya sendiri apalagi mengurus urusan umat. Pemimpin yang dzalim, yang tidak adil dan tidak mau menerapkan hukum Allah tidak boleh menjadi pemimpin. Dan terakhir, pemimpin yang tidak mempunyai kemampuan dan kecakapan memimpin, haram hukumnya. Pemimpin yang mempunyai kemampuan akan menentukan kebijakan semata berdasarkan hukum Allah, tidak dalam pengaruh dan ketundukan pada pemikiran kufur dan arahan orang lain. 

Itulah kriteria pemimpin yang akan menjadi patokan abadi bagi seorang muslim, tidak ada kata kompromi terkait ketundukan pada ketentuan yang telah ditetapkan Allah SWT dan apa yang telah dicontohkan Rasulullah saw. Karena pilihan bagi seorang muslim hanya mendengar dan taat. Taat tanpa syarat. 

Demikianlah sikap seorang muslim dalam memilih pemimpin. Tidak gegabah dan berpuas diri dengan terpenuhinya beberapa syarat saja. Terus menguatkan keyakinan, menempa ketakwaan dengan melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan Allah. Ketika umat belum menerima syarat-syarat pemimpin dalam Islam, maka dibutuhkan upaya untuk menyadarkan dan mengajak umat untuk terus mengikatkan seluruh perbuatan pada hukum syara’. Mengajak umat untuk bersama meraih gelar takwa, hingga kelak lahirlah pemimpin yang bertakwa pula, yang bersedia memimpin untuk menerapkan syariat Allah SWT dalam kehidupan. Wallahu a’lam bishawab.



Friday, 10 February 2017

Februari Kelabu dan Wisata Jeglongan Sewu


Februari setiap tahun, waktunya membayar pajak kendaraan. Dan selalu saja setelah bayar pajak ada saja masalah di motor. Untuk tahun ini rem yang bermasalah. Jadilah biaya yang harus dikeluarkan untuk ngurusi motor selalu membengkak di bulan Februari.

Tahun ini bayar pajak bertepatan dengan hari Senin, seperti biasa, layanan di hari Senin hampir di  semua instansi pemerintah selalu diserbu banyak orang. Antrian membludak. Sambil nunggu giliran dipanggil, mendengarkan dengan cermat panggilan-panggilan dari petugas. Petugas menyebutkan nama, alamat dan jumlah pajak yang harus dibayar. Selama menunggu jumlah minimal yang terdengar sekitar Rp 175.000,00 yang paling banyak sekitar 3 juta. Jika dirata-rata Rp 250.000,- dan ada 150 orang pembayar maka uang masuk hari itu adalah Rp 37.500.000,-. Ini masih satu hari dan di satu kantor samsat.

Dan dari hasil baca-baca (masih belum lengkap), paling sedikit 10% Pajak yang masuk digunakan untuk fasilitas transportasi. Itu teorinya. Dan kalo ngomong anggaran, jika ada batas minimal paling-paling yang dialokasikan juga tidak terlalu jauh dari ketentuan, yang penting memenuhi tuntutan di UU yang berlaku.

Tentang fasilitas transportasi, yang sangat terlihat adalah kondisi jalan. Akhir-akhir ini marak istilah “jeglongan sewu”. Jalan dengan lubang yang sudah tak terhitung jumlahnya, atau kondisi jalan yang rusak parah. Beberapa waktu lalu yang menjadi sorotan adalah jalur Kediri Tulungagung. Dahulu ketika pertama kali ke Kampung Baru Kepung menuju arah pedalaman, juga sempat kaget dengan kondisi jalan yang mengenaskan. Padahal tarif pajak kendaraan bermotor sepertinya tidak dilihat alamat pemilik kendaraan.  Penentuan lebih dominan pada fisik kendaraan. Jadi meski kendaraan sama, pajak sama tapi bisa jadi merasakan fasilitas yang tidak sama.

Intinya komitmen penguasa tidak ada, untuk menjadi pengurus urusan umat, pengayom rakyat, pelayan warga sama sekali tidak berfungsi. Saling lempar tanggung jawab antar pemerintah daerah. Aset propinsi diabaikan pemprov, aset kabupaten diabaikan pemda, apalagi aset kecamatan dan desa, bisa jadi anggarannya tidak ada.


Bersambung 

Pare, 10 Februari 2017


Tentang pajak sudah pernah menulis : 

Saturday, 4 February 2017

Menyelamatkan Pendidikan

Tulisan tersimpan 30 April 2015 
Sudah kirim di media tapi tidak dimuat

Potret Buram Pendidikan
Dunia pendidikan kembali dikejutkan dengan  fakta yang memprihatinkan. Beredarnya undangan pesta bikini yang mencatut beberapa sekolah, dan fatalnya undangan tersebut bukanlah acara pertama, sebelumnya pernah terlaksana pesta bikini. Tidak hanya itu, kasus prostitusi yang melibatkan pelajar, pergaulan bebas yang berujung apada aborsi maupun pembuangan bayi semakin terkuak ke permukaan. Dan hampir semuanya lagi-lagi melibatkan pelajar. Belum lagi masalah perilaku pelajar di saat ujian. Mulai dari berburu kunci jawaban hingga menyiapkan contekan, setelah ujian dilanjutkan dengan coret-coretan dan konvoi melanggar aturan.
Sungguh ironi, status pelajar yang seharusnya menjadikan siswa sebagai kaum terpelajar sama sekali tidak tercermin dalam sebagian perilaku pelajar saat ini. Yang ada adalah pelajar yang lebih suka bersenang-senang daripada diberi tugas sekolah, pelajar yang lebih suka berfoya-foya daripada belajar, pelajar yang maunya keinginannya dipenuhi secara instan tanpa mau berjuang dan berkorban. Jika semua ini terus dibiarkan bangsa ini tidak akan mempunyai masa depan.

Sistem Sekular Merusak Pendidikan
            Perilaku pelajar yang semakin bebas dan sulit dikendalikan merupakan salah satu akibat dari semakin kuatnya sistem hidup yang sekular dan liberal. Siswa yang mengaku beragama tetapi tidak memahami aturan agama sehingga mengabaikan aturan tersebut, membuat pelajar semakin terjerembab dalam gaya hidup liberal, seolah mereka boleh bebas menentukan tindakan apa yang akan dilakukan. Bukan hanya masalah individu yang sekuler, sistem yang tercermin dalam aturan yang diterapkan di negeri ini juga cenderung memberi ruang gerak perilaku liberal pelajar.
            Bangsa ini sedang memanen hasil penerapan sistem sekuler yang jelas tidak menerapkan aturan Allah SWT  dalam tatanan kehidupan. Pendidikan yang seharusnya mencerdaskan kehidupan bangsa hanya melahirkan generasi yang rentan dengan permasalahan. Pendidikan yang seharusnya mencetak generasi yang bertakwa malah melahirkan pelajar yang ringan  melanggar norma agama. Pendidikan yang seharusnya menghasilkan manusia berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif dan mandiri malah membuat pelajar menjunjung tinggi perilaku bebas.
            Jadi bukan semata permasalahan individu, sistem pendidikan yang berorientasi pada tercetaknya generasi yang siap menghasilkan uang telah membuat tujuan menuntut ilmu bergeser. Menuntut ilmu agar bisa menyelesaikan masalah kehidupan dan mencari bekal di akhirat sudah tidak tergambar lagi.

Menjadikan Akidah Islam sebagai Asas Pendidikan
            Sistem sekular yang memisahkan agama dari kehidupan adalah akidah bagi ideologi kapitalisme. Ideologi kapitalisme memang mengakui keberadaan agama tapi melarang aturan agama diterapkan dalam berbagai lini kehidupan. Dalam sistem sekuler manusia dibiarkan beragama tetapi tidak perlu menerapkan aturan agama, maka tak heran yang ada adalah manusia-manusia yang tidak mengenal dan tidak paham aturan agama. Sungguh akidah sekuler tak layak diterapkan karena hanya mengkerdilkan aturan dari Allah SWT. Termasuk pula dalam bidang pendidikan.
            Pendidikan akan terselamatkan jika bangsa ini menjadikan akidah Islam sebagai asas. Keyakinan bahwa manusia adalah mahkluk yang diciptakan Allah SWT dan wajib terikat pada aturan Allah SWT menjadi landasan dalam penentuan kebijakan. Dengan asas akidah Islam akan tercetak pelajar yang berkepribadian kuat tidak mudah goyah dengan permasalahan yang dihadapi, pelajar yang akan terus mengembangkan diri karena yakin tak ada satu pun amalan yang akan sia-sia di hadapan Allah, terus berusaha dan optimis menatap masa depan.
            Namun, perjuangan mewujudkan pendidikan yang berasas akidah Islam juga harus diiringi dengan penerapan sistem Islam dalam semua aspek kehidupan, tidak parsial. Sistem yang dalam sejarah telah mengukir kegemilangan dengan melahirkan ilmuwan-ilmuwan hebat dalam berbagai bidang keilmuan. Ilmuwan yang ahli dalam agama juga ahli dalam IPTEK. Jadi sudah saatnya sistem Islam diterapkan di bumi Allah ini, bukan ideologi kapitalisme dengan sistem sekular dan liberalnya yang telah nyata menjerumuskan manusia ke derajat yang hina. Wallahu a’lam.

Nur Aini, Guru
Pare Kediri Jatim
           



Sakit


Sakit, bukan kondisi yang dirindukan, namun ketika memang Allah sudah menetapkan manusia tidak bisa berbuat apa-apa, di saat itulah kita harus menerima. Ridha dengan apa yang sudah ditetapkan Allah.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum  datang  kepadamu (cobaan) sebagaimana  halnya  orangorang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya  pertolongan  Allah  itu  amat  dekat.  (TQS.  alBaqarah [2]: 214)

Seorang muslim yang diuji dengan rasa sakit karena  duri atau yang lebih  dari  itu,  maka  Allah  pasti  akan  menebus  kesalahan-kesalahannya  karena  musibah itu,  sebagaimana  suatu  pohon menggugurkan daunnya. (Mutafaq ‘alaih).

Satu duri atau yang lebih dari itu, yang menimpa seorang mukmin, maka pasti dengan duri itu Allah akan mengurangi kesalahannya. Dalam satu  riwayat  dikatakan  “naqushshu”artinya kami  akan mengurangi. (Mutafaq ‘alaih)

Setiap musibah yang menimpa seorang mukmin, berupa  sakit yang berterusan, sakit yang biasa, kebingungan, kesedihan, kegundahan hingga  duri  yang  menusuknya,  maka  pasti  musibah  itu akan menjadi  penghapus  bagi  kesalahan-kesalahannya.  (Mutafaq‘alaih).

Namun bukan berarti penerimaan itu tidak disertai dengan upaya dan hanya diam tak berbuat. Sabar menerima ujian itu bukan berarti tidak berbuat apa-apa. Sabar dan ikhlas ketika dapat ujian, termasuk sakit, adalah sebuah kewajiban. Kewajiban ini tidak mengeleminasi kewajiban lain hingga kita memaklumi diri tidak menunaikan kewajiban lain.

Selalu mengingat perjuangan Rasulullah, pengorbanan dan kesabaran para sahabat dan salafus saleh. Mereka lah teladan terbaik dalam kehidupan.

Rasulullah manusia mulia yang dijamin masuk surga terus mengemban dakwah Islam hingga wafat
Abu Bakar Ash Shidiq  rela menahan sakit saat dalam pengejaran Quraisy dalam perjalanan menemani Rasululllah Hijrah demi keselamatan Rasulullah
Asma’ binti Abu Bakar dalam kondisi hamil menempuh perjalanan yang sulit untuk mengirim logistik Rasulullah dan Abu Bakar
Ali bin Abi Thalib tetap berangkat jihad dan menerima panji Rasulullah meski sakit mendera
Saad bin Muadz terus bertahan melindungi Rasulullah saat perang Khandaq meski tubuh terpanah, menunaikan amanah menyelesaikan masalah Bani Quraidzah

Saad bin Abi Waqas terus menunaikan tugas di medan jihad meski sakit yang teramat saat futuhat Qadisiyah.

Dan hari ini mengunjungi rumah sakit, mengunjungi pasien yang berbaring tak berdaya. Gerak dibatasi tak boleh kemana-mana. Selang infus dan oksigen menjuntai, terhubung ke tubuh yang lemah tak bertenaga. Saat itulah tubuh memang harus istirahat. Benar-benar tidak bisa berbuat apapun.

Terkadang malu, merasa sakit yang mendera adalah sesuatu yang luar biasa menyakitkan dan menyengsarakan, hingga memaklumi diri untuk menghentikan sejenak aktivitas yang terasa berat padahal wajib hukumnya. Malu dengan orang-orang mulia yang masih saja semangat meski tubuh tak punya daya. Malu dengan orang-orang yang tetap kuat saat ujian menyapa, dengan alasan yang terkadang terdengar klise di telinga : Bisa jadi ini adalah kesempatan terakhir untuk berbuat baik, kesempatan terakhir melaksanakan kewajiban.


Pare, 4 Februari 2017


`





Sunday, 22 January 2017

Rindu dan Tak Rindu

Ket. gambar : perjalanan Tulungagung -Kediri (Masuk wilayah Kras)


13 Januari 2017

SPBU Pelem Pare
Di belakang ada dua ibu-ibu berboncengan motor. Berebut membayar uang bensin. Yang memboceng tidak mau dibayari, sedangkan yang dibonceng bersikeras membayar. Sampai kasirnya bingung terima yang mana, akhirnya uang yang sampai di tangan kasar uang ibu yang dibonceng.

Tidak mengenal dua ibu yang berebut bayar, namun teringat dengan sebuah hadits Rasulullah saw saat perang Khaibar ( ada di bab Cinta Kepada Allah dan Rasul Nya, buku Pilar-pilar pengokoh Nafsiyah Islamiyah)
Berkata kepadaku Qutaibah bin Sa’îd, berkata kepadaku Ya’kub bin Abdurrahman dari Abû Hazim, ia berkata; Sahal bin Sa’ad ra. telah memberitahukan kepadaku bahwa Rasulullah saw. bersabda pada perang Khaibar, “Aku akan memberikan panji ini kepada seorang lelaki yang di atas tangannya Allah akan memberikan kemenangan. Ia telah mencintai Allah dan Rasul-Nya, Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya.” Berkata Sahal Bin Sa’ad, “Maka orang-orang pun pergi untuk tidur dan mereka bertanya-tanya di dalam hati mereka, siapakah di antara mereka yang akan diberikan panji oleh Rasulullah saw.” Ketika tiba waktu subuh, maka orangorang ramai menghadap Rasulullah saw. Semuanya berharap agar diberi panji oleh Rasulullah saw. Maka Rasul bersabda, “Dimanakah Ali bin Abi Thalib?” Dikatakan kepada Rasul, “Ia sedang sakit mata, Ya Rasulullah!” Kemudian  orang-orang pun mengutus seorang sahabat untuk membawa Ali bin Abi Thalib ke hadapan Rasulullah saw.  Kemudian Rasulullah  saw.  meludahi kedua  matanya  dan berdoa untuknya, maka sembuhlah ia hingga seolah-olah ia belum pernah sakit sebelumnya. Kemudian Rasul memberikan panji itu kepada Ali bin Abi Thalib. Lalu Ali berkata, “Ya Rasulallah!, aku akan memerangi mereka sampai mereka bisa seperti kita (memeluk Islam).”  Kemudian  Rasulullah  saw.  bersabda,  “Berangkatlah perlahan-lahan  hingga  engkau  berada  di  halaman  mereka, kemudian  ajaklah  mereka kepada  Islam  dan  kabarkan kepada mereka hak Allah yang merupakan kewajiban mereka. Maka demi Allah, sungguh jika Allah memberikan petunjuk kepada seorang manusia karena engkau, hal itu lebih baik bagi engkau daripada unta merah.” (Mutafaq ‘alaih).

Para sahabat harap-harap cemas, semoga yang mendapatkan kesempatan
Ali bin Abi Thalib menerima amanah, sakit tidak dijadikan alasan
Semua dilakukan demi kecintaan pada Allah dan Rasulullah yang tak ada bandingan

Merindukan orang-yang berebut dalam berbuat kebaikan
Merindukan orang-orang yang ringan menjalankan tugas yang diberikan
Merindukan orang-orang yang berharap mendapat amanah
Merindukan orang-orang yang tak suka mencari-cari alasan dengan berbagai hujah


Bogo, Plemahan

Menyapa para siswa yang sedang mengikuti kajian
Melingkar memegang Alquran di tangan
Membaca ayat Alquran secara bergantian
Memanfaatkan waktu yang masih dianugerahkan

Merindukan kajian remaja dengan pertanyaan polos khas remaja
Merindukan remaja saleh yang tidak ikut arus rusak yang sia-sia belaka

Merindukan para pecinta ilmu yang qana’ah
Merindukan para penuntut ilmu yang tak sekadar mengumpulkan tsaqafah


14 Januari 2017

Perjalanan Surabaya – Pare
Keluar ruang tunggu terminal, pandangan menyapu dari kiri ke kanan. Bis patas belum ada, namun yang antri sudah banyak sekali. Mengarahkan pandangan ke bis ekonomi. Alhamdulillah sudah ada. Tapi, bis yang sama ketika dulu masih sering PP Surabaya Pare 12 tahun yang lalu. Tanpa AC, kursinya sudah tidak normal, bagian samping sudah banyak lapisan yang berlubang, jarak antar kursi sangat sempit. Memilih bis ekonomi saja. Lebih suka dengan kendaraan tanpa AC ( maklum orang desa, naik kendaraan ber AC malah pusing tujuh keliling). Lagian Sabtu, akhir pekan. Meski naik patas jalanan pasti padat. Tidak ada bedanya. Tapi, dapat tempat duduk di bagian tengah, tempat favorit jika ada pengamen. Dan benar, beberapa kali ada pengamen. Dengan berbagai tipe, namun terlihat sehat-sehat. Dugaan kuat hampir semuanya seharusnya masih bisa mencari kerja yang lebih layak.

20 Januari 2017
Perjalanan perdana ke Tulungagung di tahun 2017
Meskipun sudah pernah merasakan sebelumnya namun sepertinya tidak separah ini.  Membuktikan apa yang selama ini menjadi keluhan para pendengar salah satu radio di Kediri. Jalur Kediri Tulungagung di Ngadiluwih, harus siap dengan segala jenis lubang di jalan. Lubang lebar, lubang dalam, lubang di pinggir, lubang di tengah, lengkap nian, jika tidak hati-hati sangat membahayakan.

Alat transportasi yang seadanya cenderung membahayakan tentu bukan yang dirindukan
Jalanan macet di akhir pekan tentu bukan keadaan yang diinginkan
Jalan berlubang di sana-sini harusnya segera ada perbaikan
Menjumpai orang-orang yang seolah sudah tidak mendapat tempat dalam mencari penghidupan

Merindukan pejabat yang amanah
Tak membiarkan rakyatnya sedikit pun mendapat masalah
Merindukan Umar bin Khaththab Sang Khalifah
Tak membiarkan seekor binatang terperosok di jalan
Memastikan rakyatnya terpenuhi hak yang seharusnya didapatkan
Tak merindukan pejabat daerah yang hanya mementingkan golongan



Pare, 21 Januari 2017

Saturday, 21 January 2017

Asal Tidak Matematika, Asal Tidak Islam


Asal Tidak Matematika
Selama pelajarannya bukan matematika siswa asyik menikmati. Selama bukan matematika mereka rela molor hingga lewat batas jam pulang. Begitulah, bagi sebagian besar siswa di tempat mengajar, pelajaran matematika masih dianggap sebagai momok. Sulit, membosankan dan membuat pusing. Padahal sudah dibuat penyampaian yang paling ramah. Tetap saja ketika bertemu angka apalagi soal cerita yang bertele-tele mereka sudah terburu phobi.

Ketika pelajaran matematika, maunya sebentar saja. Soal tidak usah banyak-banyak. Inginnya cepat diakhiri. Bisa dikatakan semangat untuk berpikir, mengasah logika dan menghadapi tantangan hampir menjadi semangat yang langka. Maunya instan ga pake mikir panjang.

Asal tidak matematika siswa betah mengikuti pelajaran. Tentu tidak akan dibiarkan, terus memotivasi, memperbaiki cara penyampaian kepada siswa, menggambarkan mudahnya matematika dan peran matematika dalam kehidupan mereka kelak. Insya Allah lama-lama mereka pasti paham. Jika tidak saat di sekolah dasar, semoga kelak di saat pemikiran mereka semakin dewasa mereka akan tahu mengapa harus belajar matematika, mengapa muslim harus berilmu, mengapa muslim harus semangat belajar. Sementara memaklumi saja, mereka masih sekolah di madrasah ibtidaiyah, sekolah dasar, jadi jika cenderung berpikir pendek itu berbanding lurus dengan usia mereka. Mereka belum sepenuhnya paham mengapa harus belajar matematika, mereka masih menuruti rasa takut pada kesulitan.

Asal Tidak Islam
Dan saat ini sedang ramai bendera merah putih yang dihiasi kalimat tauhid. Langsung saja dianggap sebagai tindakan yang tak terpuji, menodai lambang Negara. Padahal ketika merah putih dihiasi tulisan selain kalimat tauhid tidak masalah. Mau dihiasi apa saja tidak masalah, asal tidak berhubungan dengan Islam. Jika berhubungan dengan Islam seolah itu tindakan kejahatan yang luar biasa. Seolah apa yang berhubungan dengan Islam dianggap menodai negeri ini.

Menolak pemimpin kafir, meminta penista agama diadili, menggunakan kalimat tauhid penghias panji Rasulullah saw, mengibarkan ar rayah dan al liwa’ yang merupakan panji Rasulullah dianggap sebagai tindakan yang memaksakan kehendak, merusak kebinekaan, mengkhianati NKRI.

Membela diri dari kedzaliman, mempertahankan diri dari serangan, membela Alquran dan agama Islam dianggap sebagai kesewenangan dan tidak punya kepedulian. Suara ulama dan umat pun tak didengar. Karena semuanya ada membawa tuntutan Islam.

Sangat berbeda, penyerang jamaah salat Idul Fitri diundang ke Istana, para selebritis perusak generasi diajak duduk bersama dan para pelawak yang membuat hati mati karena hanya menyampaikan candaan yang penuh dusta didengarkan suaranya.

Ya, selama itu berlabel Islam akan ditolak dan sekuat tenaga akan dicari kesalahannya. Dan selama itu tidak menyandang label Islam, sekejam dan sebrutal apapun perbuatannya masih dikatakan sebagai bagian dari kebebasan. Asalkan bukan Islam tangan para pengkhianat rakyat akan terus terulur, siap melindungi, memfasilitasi dan menjamin apapun yang dilakukan.

Apa yang dilakukan kaki tangan kapitalis, sebenarnya menunjukkan ketakutan mereka pada kebangkitan Islam. Sedikit saja ada hal berbau Islam, mereka kalang kabut. Sikap reaktif untuk membendung Islam semakin membuktikan sebenarnya mereka tidak paham dengan Islam, atau mereka salah paham dengan Islam. Islam bukan agama dan ideology yang menakutkan dan harus ditakuti.
Islam adalah rahmat untuk seluruh alam, bukan sekadar rahmat untuk umat Islam. Islam adalah agama sempurna, mengatur seluruh aspek kehidupan. Islam tidak memaksa seluruh manusia untuk memeluk Islam, bahkan dalam system pemerintahan Islam, yaitu Khilafah, setiap warga Negara baik muslim maupun nonmuslim akan mendapat jaminan kehidupan. Islam membiarkan nonmuslim hidup dalam naungan daulah khilafah, menjamin hak mereka.

Jika ada upaya untuk mencitrakan Islam sebagai sesuatu yang menakutkan, dan semua yang berhubungan dengan Islam layak untuk dicurigai, dikriminalkan adalah upaya murahan, bukti ketidakmampuan terus  konsisten menjamin kebebasan. Bisa dikatakan, semuanya bebas berbuat, tapi jangan bawa-bawa Islam, meski hanya sebatas labelnya saja.

Apakah ketidakadilan terhadap Islam akan dibiarkan begitu saja? Tentu tidak. Apakah ketidakadilan terhadap Islam dihadapi saja dengan kekerasan? Tentu tidak. Umat Islam saat ini sedang menghadapi ujian, jika tidak menghadapi ujian dengan bijak hanya akan menimbulkan perpecahan. Dan persatuan umat akan semakin sulit diwujudkan, musuh Islam pun bertepuk tangan.

                Apa yang harus dilakukan? Berdakwah, menyeru pada Islam, mengajak pada kebaikan, mencegah kemungkaran. Berinteraksi dengan seluruh manusia yang ada di sekitar, memahamkan umat akan konsekuensi syahadat, kewajiban terikat pada syariat serta tunduk pada aturan Allah SWT dan Rasulullah saw. Mengingatkan, dunia bukan segalanya, ada akhirat yang menunggu. Menyampaikan hanya Islam yang layak diterapkan, hanya Islam yang akan memberikan rahmat untuk seluruh alam, bukan yang lain.

Pare, 20 Januari 2017



Tuesday, 10 January 2017

Maksiat Itu Begitu Dekat


Dahulu ketika memberi contoh akibat gaul bebas selalu dari kota besar  yang nun jauh di sana
Hamil di luar nikah, perselingkuhan, perbuatan zina kabar yang masih asing di telinga
Dahulu ketika melintas di Jalan Irian Barat  Surabaya  terasa gundah gulana
Benarkah ini jalan yang di malam hari terkenal dengan pangkalan waria
Dahulu kemaksiatan masih jarang dan langka
Dahulu pelaku maksiat masih malu menampakkan muka

Sekarang semuanya berbeda
Gaul bebas, zina, hamil di luar nikah seolah menjadi kemaksiatan yang biasa
Tak perlu memberi contoh jauh-jauh karena di dekat sini juga ada
Semalam ada kabar seseorang  digelandang polisi karena dituduh memperkosa
Padahal kabar burung yang beredar bukan perkosaan namun suka sama suka
Dan jalan Irba tidak hanya milik Surabaya karena Pare juga punya  jalan Jaya Wijaya

Kemaksiatan itu begitu  dekat di depan mata
Kebebasan perilaku itu semakin nyata
Dunia seolah dianggap segalanya
Akhirat seolah tidak ada

Liberalisme itu semakin menggurita
Pola pikir sekular memisahkan agama dari kehidupan diagungkan bak dewa
Kapitalisasi kemaksiatan menjadi jalan meraih harta
Semuanya sah-sah saja selama dianggap ada manfaatnya
Hukum syara’ dicampakkan begitu saja
Barang siapa melihat kemungkaran maka wajib mengubahnya
Dengan tangan/kekuasaan  jika kuasa dengan lisan jika bisa
Dan selemah-lemahnya iman hanya dengan berdoa
Terus berdakwah bersama jamaah hingga mengubah pemahaman salah yang ada
Bersama jamaah berdakwah politik dan pemikiran tidak terjebak aktivitas pragmatis  yang sia-sia
Mengajak umat agar menerapkan syariat dalam bingkai Negara
Terus muhasabah kepada penguasa
Mengingatkan agar menerapkan hukum Allah semata
Mengajak umat dan para pemilik kekuasaan untuk menegakkan khilafah rasyidah yang mulia
Sabar, ikhlas, istiqamah meski masalah mendera
Hingga kelak maut menjemput ketika mata menutup selamanya



Pare, 10 Januari 2017






Wednesday, 4 January 2017

Fitsa Hats, Hadlarah, Madaniyah, Af’al, Asy-ya’


Mengikuti tren kekinian
Insya Allah jika tidak salah mengingat hanya sekali makan fitsa dari fitsa hats, itu pun karena dapat hadiah, diberi dua paket, dan dimakan bareng-bareng dengan teman satu kos. Kesan pertama, enak tapi eneg. Memang ilat ndeso, paduan keju, sayuran, daging dan bahan fitsa bukanlah makanan paling nikmat di dunia, masih nikmat sambel penyet Pak Yoko di Gebang ( dipanggil pak Yoko karena salah satu tangan beliau tidak normal, katanya seperti Yoko di film Pendekar Rajawali, entahlah sudah agak lupa, film jaman masa kecil dulu), jualan Pak Yoko selalu laris manis.
Kembali pada mencuatnya fitsa hats, banyak sekali muncul ejekan, hujatan dan olokan.
Katanya tidak konsisten, menolak pemimpin kafir tapi bekerja pada orang kafir
Anti dengan orang kafir tapi pake produk orang kafir
Muncul juga cap-cap : otak udang, sumbu pendek, otak onta
Terkadang miris dengan orang-orang seperti ini, terkadang malah kasihan dengan orang-orang seperti ini. Namun setidaknya ini semakin membuka mata, dakwah menyampaikan pemikiran Islam amat sangat dibutuhkan saat ini. Agar tidak terus muncul pemikiran rendahan, berulang terus.
Harus terus belajar agar bisa bijak menyikapi masalah dan bijak menyampaikan ke tengah umat.
Harusnya berpikir dulu sebelum menyampaikan pendapat, harusnya belajar dulu bagaimana hukum fakta tersebut menurut Islam, karena Islam agama sempurna maka Islam bisa menjawab semua permasalahan, Islam bisa menyelesaikan semua permasalahan.
Harusnya belajar dulu :
Bagaimana hukumnya bekerja pada orang kafir
Bagaimana hukum seputar ijarah
Apa saja hukum seputar muamalah
Bagaimana hukum memanfaafkan benda ( asy ya')
Bagaimana hukum asal perbuatan (af’al) manusia
Apa saja yang terkategori hadlarah
Apa saja yang terkategori madaniyah
Bagaimana hukum mengangkat dan memilih peminpin kafir
Semoga bisa menjadi pengingat untuk terus belajar dan terus menyampaikan.

Serulah kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk ( TQS : An Nahl [16] : 25)

Pare, 4 Januari 2017



Monday, 2 January 2017

Tak Selamanya Mendung , Tak Selamanya Hujan



Ket gambar : 30 Desember 2016, kunjungan terakhir ke Tulungagung di tahun 2016
Ngadiluwih Kediri 09.14 am, menuju Tulungagung. Mendung  gelap di arah selatan dan hujan dari pagi hingga sore merata saat pulang. Tulungagung – Kediri – Pare.



Mendung  bisa jadi hujan
Kadang mendung tak berakhir hujan
Kadang terang setelah mendung menutupi awan

Jika hujan bersiaplah
Jika hujan tak perlu merasa susah
Jika terang  jangan dianggap tak ada masalah

Begitu juga dengan hidup di dunia
Kadang bahagia
Kadang duka
Namun tak selamanya bahagia itu ada
Namun tak selamanya duka menyapa
Bahagia dan duka beriring  datang pada waktunya

Kadang  rasa malas menggoda
Kadang rasa putus asa berkuasa
Kadang kegagalan mendera
Kadang masalah  serasa tak ada habisnya

Kadang bahagia membuat lupa diri
Kadang nikmat membuat  hati tertutupi
Kadang suka cita membuat lalai


Tak selamanya hidup itu terus bahagia
Tak selamanya hidup itu terus diselimuti duka
Menerima itu semua telah ditentukan waktunya
Menerima dengan ikhlas dan sabar ketika ujian tiba
Tetap bersyukur dan taat kepada Allah ketika bahagia

Tetap mengingat hidup di dunia hanya sementara
Tetap mengingat akhirat akan abadi selamanya


Pare, 2 Januari 2017