Friday, 12 February 2016

Indonesia Bisa, Lebih Hebat Lagi dengan Khilafah




Pertama kali naik kereta ke Yogya. Berangkat naik Kahuripan pulang naik Krakatau. Sama-sama kereta ekonomi. Waktu naik Kahuripan tidak terlalu memperhatikan, tapi sempat membaca di dekat pintu keluar  gerbong ada kotak P3K, dua bahasa, bahasa Inggris dan satunya tidak terlalu paham. Masih belum bisa membedakan tulisan Cina, Jepang dan Korea. Cari-cari di internet juga belum ketemu, Kahuripan buatan mana. Dari harga tiket memang lebih mahal Krakatau jadi secara fisik juga lebih bagus Krakatau, tapi tetap saja sama-sama tidak nyaman. Lebih sering pusing jika naik kendaraan dalam waktu lama.

Naik Krakatau dapat tempat dekat pintu keluar. Dengan jelas terlihat tulisan INKA, sesuai dengan profil Krakatau, memang buatan PT INKA. Sebagai orang yang awam tentang kereta, dan juga belum pernah merasakan semua kereta, sepertinya sudah lumayan bagus. Layak dibanggakan. Memang untuk lokomotifnya masih diproduksi GE Transportation ( CC201, CC203, CC206) (id.wikipedia.org).  

Bisa jadi masih banyak kekurangan, perlu perbaikan agar kualitasnya semakin baik, namun setidaknya perusahaan dalam negeri sudah bisa membuktikan bisa memproduksi alat transportasi yang bisa dimanfaatkan untuk rakyat Indonesia. Tinggal menunggu keseriusan dari pemerintah untuk memfasilitasi pengembangan dan penelitiannya agar produk yang dihasilkan semakin sempurna sesuai kebutuhan dan kemajuan jaman. Membutuhkan dukungan dari pemerintah sebagai pengambil kebijakan, akan mengembangkan potensi dalam negeri dengan perjuangan dan pengorbanan atau malah mengabaikannya dengan menggunakan produk luar negeri. SDM negeri ini pasti tak kalah dengan kualitas SDM luar negeri, banyak orang pintar di negeri ini.

Jadi ingat dengan proyek kereta cepat, proyek instan yang hanya menguntungkan asing dan semakin membuat negeri ini terjajah atas nama investasi dan alih teknologi. Yang pasti skema yang digunakan adalah business to business. Tidak mungkin asing dengan baik hati membangun negeri ini demi kemaslahatan rakyat. No free lunch. Yang pasti asing mengejar keuntungan, semakin membuat Indonesia tergantung dengan asing.

Sebuah kebijakan yang wajar diambil oleh penguasa yang menjalankan negeri ini berdasarkan system kapitalisme. Menggandeng asing, menyerahkan pengelolaan pada swasta asing, menjadikan pelayanan terhadap rakyat sebagai bisnis semata, bukan sebagai penguasa amanah yang bertanggungjawab atas urusan rakyat. Negara hanya sebagi regulator, inilah ciri khas Negara kapitalisme. Lepas tangan dari fungsi pelayan dan pengayom rakyat.

Konsep kapitalisme mengelola Negara sangat jauh berbeda dengan system Islam, Khilafah. Khilafah dipimpin Khalifah akan menjadi pelindung, perisai dan penjamin semua urusan rakyat. Tidak hanya sekadar memenuhi kebutuhan hidup, namun memastikan rakyatnya bisa menjalani hidup untuk semakin dekat dan beribadah kepada Allah.

Pengembangan alat transportasi strategis dalam Daulah Islam akan ditangani oleh Departemen Perindustrian. Departemen ini ada bukan hanya demi memenuhi keinginan manusia namun lebih kepada memenuhi seruan Allah untuk mengerahkan segala potensi dalam rangka menegakkan syariat Allah dan menggentarkan musuh.  Siapkanlah oleh kalian untuk menghadapi mereka kekuatan apa  saja yang  kalian  sanggupi dan  dari  kuda-kuda  yang ditambatkan untuk berperang; (yang dengan persiapan itu) kalian menggentarkan musuh Allah, musuh kalian, danorangorang selain mereka yang tidak kalian ketahui sedangkan Allah mengetahuinya. (TQS al-Anfal [8]: 60).

Maka Negara wajib mengerahkan segala potensinya berupa anggaran, SDM, fasilitas untuk membuat Negara mempunyai kekuatan nyata bukan kekuatan semu yang didukung oleh asing. negara melaksanakan itu semua semata karena Allah memerintahkan, bukan demi mencari keuntungan materi semata. Negara tidak boleh lepas tangan pada industry strategis, atau malah menyerahkannya kepada swasta asing, jika demikian sama saja Negara menyerahkan nyawanya kepada asing. tergantung pada asing.

Yang pasti dengan khilafah kemaslahatan umat akan diatur sesuai dengan syariah, pejabatnya pun akan berusaha amanah karena mereka sadar bahwa jabatan yang mereka dapatkan kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Semua kebiajakan berorientasi pada pelaksanaan syariah secara kaffah. Di dalam negeri menerapkan system Islam, di luar negeri berdakwah dan berjihad menyebarkan Islam demi mewujudkan Islam rahmatan lil’alamin.
Dengan Islam Indonesia akan menjadi negara yang mempunyai ideology kuat. Menjadi bangsa terbaik memberikan kebaikan dan menyebarkan kebaikan.


Pare, 12 Februari 2016

Tuesday, 9 February 2016

Meja Makan Kok di Teras Depan, Berbahagialah Al Ghuraba




Lebih dari satu orang bertanya,  kadang heran, kadang mengkritik. Intinya sama, satu set meja makan kok diletakkan di teras depan.

Tidak apa-apa, meja hadiah dari kerabat yang pindahan rumah, biar dalam rumah tidak tambah sumpek saja, di dapur juga sudah ada meja serbaguna. Di letakkan di teras barangkali lebih sering dipake duduk-duduk, lagian di teras juga sudah lama tidak ada kursi permanen. Dan jangan khawatir meja makannya selalu ada menunya, salah satu menu yang pasti ada adalah buletin Al Islam.

Meja makan memang seharusnya ada di ruang makan, dan hampir semua orang juga tahu itu. Maka wajar jika ada meja makan di teras depan menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak pada tempatnya. Memang tidak ada larangan dan tidak pula berdosa, terserah mau diletakkan di mana saja ya tetap bisa berfungsi.  Dan lama-kelamaan yang bertanya pun semakin berkurang.

Begitulah, sesuatu yang tidak biasa akan menarik perhatian jika tidak pada tempatnya. Dianggap aneh jika menyelisihi kebiasaan kebanyakan orang. Namun sayang terkadang itu tidak berlaku untuk hal-hal yang berkaitan dengan syariat Islam. Pacaran, hamil di luar nikah, mengumbar aurat, riba, mengagungkan kebebasan ( bebas meyakini kesesatan, bebas berpindah-pindah agama, bebas mencampuradukkan ajaran agama dll ), menyerahkan kepemilikan umum pada swasta/asing, kebijakan ekonomi yang berkiblat pada kapitalisme, lepas tangannya negara dari pengurus dan penjamin urusan umat, dicampakkannnya syariat Allah dan lain sebagainya. Padahal seharusnya menurut Islam tidak seperti itu.

Mengapa demikian?  Karena manusia kebanyakan tidak biasa dengan penerapan syariat Islam, tidak kenal dengan syariat Islam. Bahkan masyarakat sudah terbiasa dengan penerapan sistem yang bertentangan dengan Islam. Masyarakat sudah terbiasa dengan pemikiran dan aturan kapitalisme yang sudah sejak lama mencengkeram masyarakat dunia. Sejak kemunduran umat Islam pada abad kelima hijriyah, ketika pintu ijtihad dinyatakan ditutup sebagai akibat dari lemahnya pemikiran umat Islam, dan juga serangan bertubi-tubi yang dilancarkan musuh Islam, kondisi umat Islam semakin terpuruk. Dan semakin terhempas ketika Daulah Khilafah dihapus pada tahun 1924. Maka sejak saat itu tidak ada penerapan syariat secara menyeluruh, maka sangat wajar jika umat Islam sama sekali tidak kenal dan merasa asing dengan syariat dan ajarannya agamanya sendiri.

Sehingga saat ini perjuangan untuk kembali mengenalkan Islam dan juga menerapkan Islam secara menyeluruh memanglah tidak mudah. Dan bahkan sering dianggap sebagai tindakan yang aneh, asing. Lebih parah lagi, ada yang menganggapnya sebagai perjuangan yang ahistoris, utopis dan mendukung ide teroris.

Tidak apa-apa, jangan menyurutkan langkah. Bisa jadi memang umat saat ini belum paham, jadi terus saja berusaha memahamkan. Bisa jadi umat salah paham, maka teruslah berusaha untuk meluruskan. Bisa jadi umat mempunyai paham yang salah, maka teruslah berargumen dengan bijak jangan menyerah.

Suatu saat nanti kondisi akan berubah, yang tidak menerapkan syariat Islam lah yang aneh. Namun meski saat itu belum terjadi, terus berusaha untuk memperjuangkan Islam kaffah dalam naungan khilafah meski masyarakat masih belum biasa, meski ideolagi kufur terus berusaha menghalangi dan merusak umat. Terus memperbaiki agar semua sesuai dengan aturan Allah SWT. Berbahagia menjadi orang-orang yang memperbaiki.


Hadits yang diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad as-Saidi ra.,Rasulullah saw. bersabda:Islam muncul pertama kali dalam keadaan terasing dan akan kembali terasing sebagaimana mulainya, maka berbahagialah orang-orang yang terasing tersebut. Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, siapa al-ghuraba ini?” Rasulullah saw. bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang melakukan perbaikanketikamanusia sudah rusak.” (Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thabrâni dalam al-Kabir)


Yogya, 9 Februari 2016

Friday, 5 February 2016

Berbahagialah Para Pencari Nafkah


Penjual buah yang biasa keliling di Kampung Inggris

Allah SWT telah menetapkan bekerja untuk  mencari nafkah sebagai kewajiban bagi pria. Sebaliknya, bekerja untuk mencari nafkah bukan merupakan kewajiban bagi wanita, tetapi hanyasekadar mubah (boleh) saja. Jika dia menghendaki, dia boleh melakukannya; jika dia tidak  menghendakinya, dia  boleh untuk tidak melakukannya. Allah SWT berfirman:
“Hendaklah  orang  yang  mampu  memberi  nafkah  menurut kemampuannya.” (TQS ath-Thalâq [65]: 7)
 “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu.” (TQS al-Baqarah [2]: 233)
Jadi  Allah  menetapkan  bekerja  mencari  nafkah  sebagai kewajiban bagi pria.

Islam  telah  menetapkan  bahwa  urusan  kepemimpinan (qawwâmah) –di dalam rumah tangga,  pen– adalah diperuntukkan bagi pria  (baca: suami) atas wanita (baca:  istri).  Islam menetapkan para suami  memiliki  hak  kepemimpinan,  mengeluarkan  perintah  dan larangan. Allah SWT berfirman:
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah  telah  melebihkan  sebahagian  mereka  (laki-laki)  atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, makanasehatilah mereka  dan  pisahkanlah  mereka  di tempat  tidur  mereka,  dan pukullah  mereka.  Kemudian  jika  mereka  menta`atimu,  maka janganlah  kamu  mencari-cari  jalan  untuk  menyusahkan nya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”  (TQS an-Nisâ’ [4]: 3)

Allah SWT telah menjelaskan bahwa kepemimpinan dalam rumah  tangga  adalah  bagi  kaum  pria,  karena  Allah  SWT  telah menetapkan  berbagai  tambahan  taklif  kepada  mereka,  seperti pemerintahan, imamah shalat, perwalian dalam pernikahan dan hak menjatuhkan talak ada di tangan kaum pria. Allah SWT berfirman: “…oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki laki) atas sebahagian yang lain (wanita).” (TQS an-Nisâ’ [4]: 3)
Kepemimpinan tersebut juga dikarenakan berbagai beban yang telah digantungkan oleh Allah di pundak kaum pria berupa  taklif nafkah dalam  bentuk  mahar, makanan, pakaian  dan tepat  tinggal. Hal itu sebagaimana Allah berfirman: “Dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (TQS an-Nisâ’ [4]: 3)
Bab Kedudukan Wanita dan Pria di Hadapan Syariah, Sistem Pergaulan dalam Islam.

Bekerja mencari nafkah adalah perintah Allah kepada para pria ( suami ), sebuah perintah langsung dari Al Khalik sekaligus Al Mudabbir, tentu bukan perintah yang main-main. Dan tentu juga perintah yang istimewa dari Allah, dan sebagai balasannya juga sesuatu yang istimewa pula.

Dan ketika Allah mewajibkan sebuah aktivitas, maka juga disertai aturannya. Maka bekerja sebagai salah satu sebab kepemilikan harta juga ada syariatnya. Bekerja  yang diijinkan oleh hukum syara’adalah :
1.       Menghidupkan tanah mati ( ihya’ almawat )
2.       Menggali kandungan dalam perut bumi maupun udara
3.       Berburu
4.       Makelar
5.       Mudharabah ( kerjasama usaha yang menggabungkan hartamodal dengan tenaga)
6.       Musaqat ( mengairi lahan pertanian)
7.       Ijarah (kontrak kerja)
Penjelasan masing-masing poin ada dalam kitab Nidzamul Iqtishadiy ( Sistem Ekonomi Islam ).

Maka ketika tidak ada udzur syari’I tidak selayaknya seorang pria/suami/kepala rumah tangga tidak semangat mencari nafkah. Rasulullah saw juga pernah memuji tangan salah seorang sahabat yang kasar karena digunakan untuk mencari nafkah. Pujian dari manusia mulia.

Dan bekerja mencari nafkah juga disertai dengan konsep pemahaman terhadap rezeki. Yakin bahwa Allah Maha Kaya, Maha Pemberi Rezeki. Yakin bahwa rezeki akan turun dari langit dengan berbagai cara, selama tidak ada yang bisa menutup langit maka tidak akan ada yang bisa mencegah sampainya bagian rezeki kita. Berusaha sekuat tenaga, lillahi ta’ala seberapa pun hasilnya pasti ada balasannya. Jadi, semangatlah mencari nafkah, jadikan taklif hukum dari Allah sebagai ladang pahala.

Laki-laki pencari nafkah, laki-laki juga menjadi wali bagi para wanita : Tak Hanya Wali Nikah


Pare, 5 Februari 2016

Wednesday, 3 February 2016

Palentin, Fesbuk, dan Akuwa




To de poin, saya tidak merayakan palentin. Minimal ada empat alasan.
1.       Saya muslim, yakin 100%  Allah adalah Al Khaliq sekaligus Al Mudabbir ( Allah SWT Al Khaliq Al Mudabbir) dan Rasulullah saw teladan dalam kehidupan sama sekali tidak memerintahkan untuk merayakan palentin.
2.       Merayakan palentin itu terkategori tasyabuh bil kuffar alias menyerupai perbuatan orang-orang kafir. Dan tasyabuh bil kuffar itu hukumnya haram.
3.       Palentin itu faktanya setidaknya mengantarkan pada zina, mendekati zina hukumnya haram ( Qur’an surah Al Isra’ ayat 32).
4.       Palentine itu termasuk hadlarah alias peradaban kufur jadi haram bagi muslim mengambilnya.
Dan saya pun tidak akan memaksa orang lain untuk sependapat dengan saya, bagaimana pun juga amal manusia dimintai pertanggungjawaban sendiri-sendiri. Tapi sepemahaman saya seorang muslim wajib berdakwah, amar makruf nahi munkar. Jadi saya hanya bisa menyampaikan, keputusan ambil atau tidak silakan dipikir sendiri. Tapi kalo bisa ikut saya saja ya biar saya tidak sekadar dapat unta merah ( hadits dengan kata kunci hidayah dan unta merah).

Untuk bisa menerima alasan pertama harus benar-benar yakin dan paham bahwa memang Allah SWT satu-satunya Tuhan Dzat yang layak disembah. Yakin, iman dan paham mengapa harus beriman kepada Rasulullah saw dan rasul-rasul lain. Dan ini semua bisa jadi takkan terwujud hanya dengan membaca tulisan ini. Secara teori membutuhkan pertemuan minimal 4 x 2 jam, jam efektif santai, ga pake nglamun.

Begitu juga dengan alasan kedua, tidak akan bisa diterima begitu saja. Apalagi bagi pengusung paham liberal yang ogah mengotak-ngotakkan manusia atas dasar beriman dan kafir, juga bagi penganut sinkretisme, apalagi yang ga mau punya agama dan ga percaya Tuhan. Yang menganggap orang fanatik pada agama itu pemikirannya sempit, kuper, kurin, kurang piknik, merasa benar sendiri. Ya sudahlah gpp kalau dianggap begitu. Tapi jangan harap orang-orang yang ikhlas berdakwah lillahi ta’ala menyerah begitu saja ketika menghadapi orang semacam itu. Maju tak gentar pantang mundur, tapi tetep kuul n kalem. Sampaikan Islam dengan hikmah dan makruf jangan terbawa emosi. Jika terpaksa berdebat selalu ingat adab berbicara dan berdebat.

Sedangkan alasan ketiga, memerlukan keyakinan bahwa memang Alquran adalah kalamullah, mengambil tafsir ayat tidak berdasarkan hawa nafsu dan berusaha memahami dengan hati bersih dan pikiran jernih.
Untuk alasan keempat, ini yang akan menjadi bahasan yang ada kaitannya dengan fesbuk dan akuwa. Perayaan Palentin termasuk hadlarah kufur, dan seorang muslim haram mengambil hadlarah kufur.

Hadlarah atau peradaban adalah sekumpulan  mafahim (ide yang dianut dan mempunyai fakta)  tentang kehidupan , bersifat  khas,  terkait  dengan  pandangan  hidup. Perayaan Palentine lahir dari peradaban Barat yang menganggap kehidupan terpisah dari agama, peran agama diingkari dalam kehidupan, menjadikan kemanfaatan sebagai ukuran perbuatan. Tidak ada standar halal haram. Kebahagian diartikan sebagai usaha untuk mendapatkan sebanyak mungkin kenikmatan jasmani, serta tersedianya seluruh sarana kenikmatan tersebut. Manusia bebas melakukan apa saja selama dianggap ada manfaatnya dan mengantarkan pada kepuasan. Jadi wajar, dalam perayaan Palentin pasti isinya tidak jauh dari senang-senang. Memuaskan hawa nafsu dan maunya hepi, haram pun tak peduli.

Perayaan Palentin itu khas, ritualnya khas, aksesorisnya khas. Coba merayakan palentin dengan kataman quran, tukar ketupat opor, terus iktikaf di masjid. Pasti dianggap Joko Sembung naik ojek, alias gak nyambung jek. Yang dikampanyekan pun khas, kasih sayang yang khas. Yang ngeles biasanya dibumbui kasih sayang kan tanpa batas bisa kepada siapa saja, termasuk kerabat, keluarga dan orang tua. Ah orang kampungku bilang gombal mukiyo, nggedabrus, ngapusi.

Jadi perayaan palentin itu tidak mungkin lahir dari hadlarah Islam yang mempunyai pandangan tentang kehidupan yang berlawanan dengan hadlarah Barat. Islam menstandarkan perbuatan pada hukum syara, perbuatan terikat pada hukum syara bukan manfaat. Kebahagiaan itu ketika melakukan aktivitas yang diridlai Allah SWT bukan yang mengikuti hawa nafsu. Maka mengungkapkan benci dan cinta pun sesuai dengan aturan Allah (Cinta dan Benci Karena Allah ). Mungkin yang belum paham akan merasa begitu terkekang.  Tidak benar. Jika tidak percaya coba saja menjadi manusia yang taat aturan  Allah pasti hidup akan terasa istimewa.

Terus hubungannya sama fesbuk dan akuwa apa ?

Ada yang bilang. Tidak konsisten menolak palentin yang katanya dari Barat tapi asyik memanfaatkan  fesbuk yang juga dari Barat.
Ada juga yang bilang jangan minum akuwa, produk Barat, digunakan membantu Wahyudi membantai kaum muslimin. Tolak produk Barat. Tidak minum akuwa tapi pake fesbuk. Tidak konsisten juga kan.

Fesbuk dan akuwa itu terkategori madaniyah yang tidak khas.  Madaniyah adalah bentuk-bentuk fisik dari benda-benda yang terindera yang digunakan dalam berbagai aspek kehidupan. Bentuk-bentuk madaniyah yang menjadi produk kemajuan sains dan perkembangan teknologi/industri tergolong  madaniyah yang bersifat umum, milik seluruh umat manusia. Bentuk  madaniyah ini bukan milik umat tertentu, akan tetapi bersifat universal seperti halnya sains dan teknologi/industri. Fesbuk dan akuwa masuk kategori ini, boleh diambil. Sedangkan madaniyah yang merupakan produk akidah dan hadlarah kufur haram diambil, misalnya patung, salib, topi santa.

Lagi-lagi membutuhkan pembahasan yang tidak dalam sekejap mata, perlu bahas satu bab khusus dalam kitab Peraturan Hidup dalam Islam  . Intinya #YukNgaji biar ga mumet n salah ambil sikap dengan palentin, fesbuk dan akuwa. Btw, kenal kan sama palentin n akuwa ?


Pare, 3 Februari 2016

Monday, 1 February 2016

Allah SWT Al Khaliq Al Mudabbir




Memang membutuhkan perjuangan dan benar-benar berpikir dengan menggunakan akal untuk bisa sampai pada sebuah keyakinan bahwa Dzat Yang Maha Tinggi yang selayaknya disembah manusia hanyalah Allah SWT.  Bukan sekadar pembenaran di bibir saja, tapi pembenaran seyakin-yakinnya dan pasti tidak ada keraguan sedikitpun. Mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan adalah langkah awal untuk semakin mengimani dan taat.

Memilih Allah sebagai satu-satunya sesembahan bukan yang lain. Karena Allah Dzat Yang Maha Segalanya, Allah tidak diciptakan yang lain karena Allah bukan makhluk, Allah juga tidak menciptakan dirinya sendiri karena  jika menciptakan dirinya berarti Allah juga sebagai makhluk, jadi Allah itu bersifat azali dan wajibul wujud, tidak berawal dan berakhir, pasti ada dengan bukti alam semesta, manusia dan kehidupan yang merupakan hasil ciptaan atau makhluk. Allah itu tidak sama dengan makhlukNya. Hanya satu tidak beranak dan diperanakkan. Jika lebih dari satu maka ada bandingannya, jika beranak apa bedanya dengan makhluk?

Mengimani Allah sebagai Tuhan juga bukan perkara yang tiba-tiba, membutuhkan pemikiran cemerlang. Bagaimana asal semuanya dari tidak ada menjadi ada, bagaimana yang ada bisa tetap eksis dan ada yang hancur dalam sekejap mata, tentu itu  bukan kebetulan semata. Untuk apa semuanya ada, pasti segala sesuatu ada karena ada tujuannya, dan bagi manusia adakah  konsekuensi aktivitas dalam kehidupan, berakhir begitu saja dengan datangnya kematian, atau masih ada pertanggungjawabannya ?

Namun pemikiran cemerlang semata tidaklah cukup, karena bagaimana pun akal manusia terbatas. Dengan menyadari bahwa manusia dan makhluk lain terbatas rasa sombong pun akan tertundukkan. Yang terbatas pasti membutuhkan Dzat lain yang tidak terbatas. Di sinilah ego manusia diuji. Tetap teguh bahwa tidak ada Tuhan atau mengakui bahwa manusia hanyalah makhluk, makhluk yang pasti ada penciptanya, makhluk yang pasti punya kelemahan dan keterbatasan.

Dan tidak berhenti pada pengakuan bahwa Allah SWT Al-Khaliq, Allah sebagai pencipta. Allah SWT juga sebagai Al Mudabbir, Dzat Yang Memberi aturan. Dan semua yang berakal pasti tahu apa fungsi dan tujuan adanya aturan. Aturan ada untuk mengatur segala sesuatu. Dengan aturan akan tercipta keharmonisan, tanpa aturan semuanya akan berjalan sekehendaknya dan tentu berakhir pada kerusakan.

Karena Allah adalah pencipta semua manusia, maka aturan yang diberikan pun aturan yang cocok untuk semua manusia termasuk manusia yang tidak mengakui Allah sebagai Tuhan. Karena manusia diciptakan dengan akal dan potensi kehidupan yang sama. Semua manusia punya kebutuhan jasmani, semua manusia punya naluri dan yang paling mengetahui dengan itu semua tentunya Allah karena Allah yang menciptakannya.

Menggunakan dan mengakui bahwa aturan terbaik hanyalah dari Allah adalah konsekuensi iman kepada Allah SWT, maka keimanan itu perlu dibuktikan dalam kehidupan, yaitu dengan berusaha menerapkan aturan Allah dalam semua lini kehidupan. Memperjuangkan agar aturan Allah SWT, jika aturan Allah belum diterapkan secara sempurna. Itulah seharusnya yang menjadi idealisme orang-orang beriman. Namun ketika masih ada yang tidak mau dan belum paham bahkan malah sebaliknya menuduh idealisme itu sebagai sebuah pengkhianatan dan sesuatu yang berbahaya, menjadi sebuah perjuangan lagi untuk memahamkan, terus menyampaikan dengan cara yang baik. Menyampaikan argument, dalil dan alasannya. Berdiskusi dengan baik, tidak larut dalam debat kusir. Terus belajar mengkaji Islam menambah ilmu agar semakin bijak menyikapi permasalahan, semangat membaca, semangat  menyampaikan, tidak menutup diri dari kritik dan saran untuk memperbaiki diri. Tak lupa terus mengingat dan mengenal Allah SWT melalui asmaul husna agar semakin dekat kepada Allah SWT, tidak sekadar menghafal namun juga memahaminya.

Jadi, menerapkan aturan Allah dan memperjuangkannya agar bisa dilaksanakan di bumi adalah bagian dari keimanan kepada Allah, aktivitas mulia. Bukan sebuah kejahatan. Menerapkan aturan Allah Tuhan seluruh alam semesta.


Pare, 1 Februari 2016