Saturday, 28 July 2012

Sulit menulis = sulit berbicara ???


Mungkin ada yang bilang : “ Saya kesulitan kalo’ disuruh ngisi forum, grogi ngomong di depan orang banyak, buat tulisan saja lah “
Atau sebaliknya : “ Saya ngomong langsung saja ya, mbulet kalo lewat tulisan, malah tidak fokus “

Faktanya memang seperti itu. Ada yang begitu lihai menyampaikan ide lewat tulisan tapi tidak lancar menyampaikan lewat bahasa lisan. Ada pula yang lihai bersilat lidah namun ketika membuat tulisan alurnya acak-acakan.

Terkadang fakta tersebut dijadikan dalih untuk memaklumi diri. Tidak semua pandai ngomong, tidak semua pandai menulis.

Okelah kalo begitu... yang penting ketika Allah masih mengaruniakan suara, ketika Allah masih memberi jari-jemari atau bagian tubuh yang bisa digunakan untuk menulis jangan pernah bilang ga bisa ngomong, ga bisa nulis....

Bagi saya menulis dan berbicara tidaklah jauh berbeda, sama-sama bertujuan menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Kualitas tulisan atau perkataan tergantung apa yang disampaikan. Sekadar tulisan atau perkataan santai, guyon tanpa makna atau sesuatu yang bermuatan ide baik ide haq maupun ide batil.

Jadi, jika bisa ngomong mengapa tidak bisa membuat tulisan ?

Sama halnya dengan berbicara, tulisan adalah rangkaian kata yang menjadi pandangan penulis. Tulisan yang dibuat bisa dikatakan sebagai cerminan pemikiran / aqliyah seseorang. Maka tulisan belum bisa dikatakan sebagai cerminan seseorang, apalagi kepribadiannya. Karena kepribadian seseorang akan bisa dinilai jika diketahui pola pikir (aqliyah ) dan pola sikapnya (nafsiyah ).



Menulis tentulah tidak hanya butuh bondho nekat atau modal dengkul. Menulis membutuhkan ilmu, baik ilmu menulis maupun ilmu terkait apa yang akan ditulis. Sama halnya ketika berbicara, harus mikir dulu apa yang akan diomongkan, tidak asal njeplak... maka ketika kita menulis bisa dikatakan kita juga telah melalui proses belajar mencari ilmu sebagai modal menulis. Agar proses belajar tersebut hasilnya tetap bertahan akan lebih baik lagi jika kita buat dalam bentuk tulisan, tentu saja sesuai dengan apa yang kita pahami. Karena dengan menulis kita bisa mengikat ilmu...

Karena menulis tidak jauh berbeda dengan berbicara, maka konsekuensinya pun juga tidak jauh berbeda.

Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (QS. Ash Shaff [61] : 2-3)

Tulisan kita akan dimintai pertanggungjawaban sebagaimana perkataan kita. He..he...tidak bermaksud menakut-nakuti, biar terpacu untuk membuat tulisan berkualitas. Sama halnya ketika berbicara dengan orang, interaksikan ide berkualitas, ide yang membuat umat bangkit dengan ideologi Islam, ide yang membuat manusia rindu diterapkan syari’ah di bawah naungan khilafah, ide yang membuat manusia rindu ridho Allah SWT. Begitu juga harusnya dengan tulisan kita.

Tapi, tetap segala sesuatu memang terkadang harus dimulai dari yang mudah, dari yang ringan, dari yang kita bisa. Sekali lagi terkadang...bukan selalu...

So, never ending improvement...

Katakanlah: "Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)(QS. Al Kahfi [18] : 109)

Friday, 20 July 2012

Tak Harus ke Pare...

Liburan semester apalagi akhir tahun ajaran baru, Pare begitu rame. Dua jalan utama, jl. Anyelir dan Brawijaya macet total. Seumur-umur di Pare tak pernah terjebak macet. Mobil pengantar dimana-mana, bis, dan minibus parkir di sepanjang  jalan. Terlihat tak indah dipandang mata, jalan yang tidak lebar namun begitu dipenuhi kendaraan dan jg manusia. Terlihat jelas mobil-mobil yang berasal dari luar kota, plat S, W, N, AE, M, L, AB, B dll. Masjid di jl. Anyelir pun rame dengan para orang tua yang ishoma.  Memanfaatkan liburan untuk belajar bahasa Inggris, itu alasan mereka. Mumpung ada waktu.
Dan kursusan-kursusan pun hampir semuanya penuh. Ada yang menerima pendaftaran individu ada yang rombongan satu sekolah. Tak ketinggalan kursusan instan pun berdiri, untuk menampung membludaknya peminat.
Sepertinya Pare semakin rame sejak ada tayangan di TV yang meliput Kampung Bahasa Inggris Pare beberapa waktu lalu, tayangan profil Pare.
Sebuah fakta, di Jl. Anyelir saja yang panjang  jalan hanya sekitar 1 km ada puluhan (mungkin sekarang ratusan) tempat kursus. Kursus reguler, paket holliday, hingga camp plus program. Bagi yang sama sekali tidak punya info, bisa dipastikan akan bingung memilih. Seperti di Malioboro yang begitu banyak penjual dengan barang dagangan yang sama berderet di sepanjang  jalan, jika tak pandai menawar dan banyak tanya tak kan dapat barang yang sesuai dengan harganya (biasanya dapat barang yang terlalu mahal), tak jauh berbeda dengan memilih tempat kursus di Pare.
Sebenarnya, tempat kursus yang memberikan program berkualitas bisa dihitung dengan jari. Rata-rata kursusan tersebut adalah kursusan yang mempunyai program reguler, program yang dijalani dengan proses normal. Materi dan waktu yang berimbang, bukan materi padat dalam waktu singkat, bukan cara instan.
Sedangkan jika memasuki liburan seperti ini, program yang ditawarkan rata-rata adalah program holliday, program dengan masa belajar super singkat tapi materi super padat, maka sungguh jadi pemandangan biasa. Pagi jam 5 program sudah mulai, dan baru berakhir jam 10 malam. Jika tak kuat, kesehatan pun dipertaruhkan. Hampir setiap detik dan setiap hembusan nafas hanya mikir materi program (bahkan untuk meluangkan waktu 2 jam per minggu untuk ngaji pun sama sekali tak bisa, sungguh menyesakkan dada, ketika sms masuk “Maaf lagi ada program, kemarin belum selesai jadi lanjut hari Ahad”, bukan kecewa karena merasa tak dianggap, tapi prihatin dengan buruknya skala prioritas ). Tercengang ketika orang-orang yang sebelumnya kental dengan mabda’ Islam dengan entengnya bilang “ Mumpung di Pare, ambil program sebanyaknya” tidakkah terbersit “ Mumpung masih hidup, sayang melewatkan kesempatan untuk berjuang demi tegaknya agama Allah “ ?  Tambah melas lagi kalo da yang membatalkan janji karena lagi da program outbond, ngglethek...outbondnya di pemandian Surowono.... program pa seneng2 ????
Di Pare kata “program” sangat familiar. Setiap aktivitas yang berkaitan dengan kursus biasa disebut dengan program. Bisa bermakna program kursus, bisa juga program tambahan (lha wong rujakan dibilang program juga, gara2 sebelum/habis rujakan da sesi debate – biasanya program speaking). Biasanya yang seperti ini anak2 luar kota atau luar Jawa. Adaa aja acara “ashobiyahnya”. “ Afwan lagi rujak party mb, nanti agak telat yaaa....” . “ Mbak punya teflon ga...mau bikin pisang...(lupa namanya,  nama daerah di Sulawesai) “.
Dan fakta seperti liburan saat ini merupakan kesempatan emas untuk meraup keuntungan sebesarnya. Kursusan baru bermunculan, hanya buka program holliday. Tak sekadar memberi pelayanan kursus, layanan plus pun diberikan, kursus plus camp, plus makan, plus loundry, plus antar jemput, plus tiket PP, plus paket keliling Pare. Layanan satu atap.  Memang tidak semua di handle kursusan yang bersangkutan, share layanan. Satu kursusan biasanya punya link warung makan, loundry dan sarana transport khusus. Tapi banyak juga yang secara keseluruhan ditangani sendiri.
Hampir sama juga dengan di Malioboro, para tukang becak punya link toko sendiri.  Tukang becak akan mempromosikan dan mengantarkan penumpangnya ke toko linknya, dapat uang transport plus share dari pemilik toko, meski tak langsung diberikan. Itu juga yang terjadi di Pare.
Dan satu hal lagi. Fenomena yang lazim terjadi dalam sistem kapitalis yang kental dengan motivasi bisnis. Belajar yang merupakan kewajiban,terwarnai dengan ide kapitalis.  meski hanya belajar bahasa Inggris namun penuh dengan aroma bisnis.
Tempat kursus yang bermunculan hanya dimanfaatkan untuk meraup pundi-pundi rupiah. Hanya bermodal spanduk, poster, mini office jadilah tempat kursus yang menjanjikan program instan. Kualitas hampir tak bisa diandalkan, tempat kursus yang didirikan orang-orang semata bermotivasi bisnis. Akhirnya program yang diberikan pun hanya materi-materi yang  tak berkualitas. Biasanya tempat kursus seperti ini didirikan oleh para pendatang, mereka pernah kursus di Pare. Sewa rumah penduduk, hanya satu bulan untuk buka program, setelah itu berakhir tanpa bekas, dan ada juga yang berakhir dengan penuh masalah. Biaya sewa, loundry dan makan belum diberikan tetapi pemilik kursusan sudah melarikan diri tanpa jejak.
Tak hanya berhenti pada bisnis saja, sikap-sikap sekuler pun begitu kental. Pergaulan yang tidak dijaga, program sampai malam dengan laki-laki dan perempuan yang campur baur, umbar aurat yang tak terkendali karena kursusan sudah tidak mempunyai idealisme, terserah mereka mau berpakaian seperti apa yang penting belajar bahasa Inggris (padahal beberapa kursusan yang memang sudah ada sejak dulu selalu mewajibkan muridnya menutup aurat ). Semakin banyak yang daftar, semakin banyak keuntungan.
Metode belajar sekuler pun tak ketinggalan. Dalam program speaking, debat adalah materi wajib. Menyampaikan pendapat, mempertahankan pendapat untuk melatih keberanian berbicara, namun agar debat hidup seringkali tutor berpesan sejak awal, jangan bawa-bawa agama, jangan pake dalil agama,di sini bebas berpendapat. Kalo pake dalil agama kasihan yang tidak punya bekal, mereka pasti tak bisa mendebat. Jadilah debat hanya sekadar debat kusir untuk latihan tanpa diakhiri dengan solusi dan kesimpulan yang sesuai dengan hukum syara’, dan sengaja dibiarkan mengambang dengan dalih ini hanya belajar bukan kajian. Hampir mirip dengan program debat di salah satu TV swasta, dibiarakan mengambang, kesimpulan diserahkan pada individu. Tak boleh memaksakan pendapat.
Masih banyak lagi, permasalahan yang sebenarnya ingin mengungkapnnya, tapi yang pasti penuh dengan pelanggaran terhadap hukum syara’, permasalahan yang akan selalu muncul selama sistem yang diterapkan adalah sistem kapitalis.
Dan besar harapan semoga tulisan ini bisa membuat mata kita terbuka. Pare bukanlah satu-satunya tempat untuk belajar bahasa, bukan satu-satunya tempat yang kondusif untuk belajar bahasa. Dan yang lebih penting lagi, jangan sampai tergoda dengan Pare, yang akhirnya mengabaikan kewajiban utama umat Islam untuk menjadikan perjuangan penerapan syariah di bawah naungan khilafah sebagai poros. Karena tak sedikit, orang-orang yang sebelumnya berkomitmen untuk istiqomah di jalan dakwah melalaikan aktivitas dakwah dan terlena dengan program  belajar bahasa yang begitu padat. Tetaplah pada metode pembelajaran yang shahih, belajar karena iman dan taqwa, belajar untuk diamalkan, belajar dengan mendalam, yang konsekuensinya membutuhkan waktu tidak sebentar, proses belajar yang membutuhkan kesabaran dan keikhlasan, bukan belajar dengan instan.
Tips memilih kursus singkat
  1. Rekomendasi dari kenalan
  2. Cari info program yang sesuai dengan kebutuhan ( jadi datang ke Pare jgn bonek “ pingin belajar bahasa Inggris” tanpa tau program yang akan diambil). Speaking, grammar, translation,pronounciation, TOEFL. Sesuaikan dengan kebutuhan. Untuk melanjutkan study ke luar negeri, untuk buat karya ilmiah, untuk interview, atau hanya sekadar pingin ngomong.
  3. Pastikan info program sekaligus biaya dan masa belajarnya
  4. Saran saya sebagai orang asli Pare, pilih kursusan dengan pemilik dan tempat kursus (fasilitas ) yang jelas. Sebuah fakta, beberapa kursusan yang dikelola pendatang sementara  seringkali bermasalah. Salah satu cirinya, jika pernah dapat rekom dari teman kursusan A trus saat datang sendiri alamat sudah pindah maka menjadi salah satu indikasi hubungan pemilik kursusan dengan pemilik gedung/rumah yg dikontrak “kurang harmonis”. Jika tidak cocok dengan pemilik gedung bisa jadi tidak cocok dengan masyarakat sekitar.
  5. Pilih program yang dibutuhkan saja, jangan ambil program seharian penuh. Setiap hembusan nafas yang dipikir hanya materi program saja. Intinya tidak menjadikan kursus bahasa Inggris sebagai poros. Biasa saja, layaknya belajar atau kuliah. Tak perlu bernafsu ingin bisa dalam waktu singkat.
  6. Pilih camp yang syar’i. Pastikan pergaulan di camp terjaga. Memang camp terpisah namun untuk beberapa program kadang gabung. Bekali diri dengan hukum Islam agar tidak terjerumus pada pergaulan bebas. Prihatin kalo ngobrol dengan pamong atau orang dinkes, ngeri dengar cerita bobroknya pergaulan di Pare yang mayoritas pelakunya anak kos.
  7. Untuk pendaftaran online, usahakan ada kesepakatan jika ada yang tidak sesuai dengan promo, uang bisa diminta kembali.
  8. Hindari calo kursusan. Sebenarnya biaya kursus di Pare tidak terlalu mahal tapi ada beberapa orang yang mengeluhkan biayanya sangat mahal dan apa yang dirasakan tidak sesuai dengan biaya yang telah mereka keluarkan, dan ketika komplain ke tempat mereka kursus tak banyak membantu karena bisa jadi masalahnya tidak pada tempat kursus, tapi pada calonya. Calo mematok biaya tinggi. Mulai dari tiket PP, camp, tempat kursus sampai paket wisata (muter-muter Pare n Kediri, Garuda-Candi Surowono-Candi Tegowangi-SLG-Gunung Klotok-Gunung Kelud dll). Kalo ada anak kos yang mengeluh capek gara-gara muter-muter Kediri, hanya bisa ketawa... ndeso... lha wong muter2nya pake kreta kelinci ya jelas aja super capek. Pare tak seperti obyek wisata Yogya or Bali. Tak heran, biaya kursus hanya 600rb kena calo bisa-bisa 5jt. Begitulah calo...
  9. Yang terpenting, niatkan menuntut ilmu semata karena ridho Allah SWT.
NB : Tulisan yg harusnya publish pas liburan sekolah kemarin, tp tak sempat. Memanfaatkan liburan untuk “istirahat” sesuai saran banyak orang . Liburan di saat pergantian musim, sudah mengingat betul harus waspada, namun  telat antisipasi, dan akhirnya tetap “istirahat”. Tapi ini masuk  liburan PT, barangkali bs nambah info.
Sengaja ngetag temen2 yg di luar kota...Semoga bisa jadi masukan untuk orang2 yang "ngeyel" pingin ke Pare...

Tuesday, 5 June 2012

Saat Khilafah Berdiri, Siapa Kholifahnya ?

Saat Khilafah Berdiri, Siapa Kholifahnya ?
Soal:
Kalau nanti Khilafah berdiri, siapa yang akan menjadi khalifah kaum Muslim? Andai saja Amir atau anggota Hizbut Tahrir menjadi khalifah, bagaimana relasi keduanya sehingga dia tetap independen?
Jawab:
Jika Khilafah berdiri dengan izin dan pertolongan Allah, insya Allah yang diangkat menjadi khalifah adalah orang terbaik, setelah memenuhi syarat in’iqad: Muslim, balig, berakal, laki-laki, merdeka, adil dan mampu menjalankan seluruh kewajibannya sebagai Khalifah.[1] Adapun syarat lain, seperti keturunan Quraisy, mujtahid dan pemberani, hanyalah syarat pelengkap (afdhaliyyah); bukan syarat sah dan tidaknya seseorang menjadi khalifah.[2]
Hanya saja, siapakah yang paling layak di antara orang terbaik yang memenuhi kriteria tersebut? Tentu orang yang ikut berjuang menegakkan Khilafah, dan ketua partai politik, atau gerakan revolusioner yang berhasil mendapatkan mandat kekuasaan (istilam al-hukm) dari umat. Begitulah Nabi saw. mencontohkan dan begitulah sejarah membuktikan. Nabi saw. sendiri adalah ketua partai politik, yang dikenal dengan Hizbur Rasul, ketika masih di Makkah. Nabi saw. mendidik, mempersiapkan proses perubahan dan mewujudkan perubahan bersama para Sahabat yang menjadi anggota Hizbur Rasul hingga mendapatkan baiat pertama dan kedua dari kaum Aus dan Khazraj di ‘Aqabah, Mina. Wajar, jika kemudian Nabi saw. menjadi kepala Negara Islam pertama. Sebab, Baginda Nabi saw.-lah pejuang dan pemimpin para pejuang yang melakukan perubahan revolusioner tersebut.
Sejarah juga membuktikan hal yang sama. Revolusi Bolshevik dan Revolusi Iran adalah contoh nyata yang mengantarkan kedua pemimpin revolusioner ke tampuk kekuasaan. Hal yang sama juga bisa terjadi pada Hizbut Tahrir. Jika kelak Allah SWT memberikan pertolongan, umat pun akan menyerahkan mandat kekuasaan (istilam al-hukm) kepada Hizbut Tahrir dan pemimpin Hizb. Itu hal yang normal. Justru yang tidak normal, jika umat menyerahkan kekuasaannya kepada orang atau pemimpin partai, jamaah atau kelompok yang tidak berjuang menegakkan Khilafah. Sebab, jika ini terjadi maka ini akan menjadi musibah bagi Islam dan kaum Muslim, sebagaimana yang kini sedang berlangsung di Mesir, Tunisia dan Libya, misalnya.
Masalahnya kemudian, bagaimana relasi Khilafah dengan Hizbut Tahrir di satu sisi, ketika kekuasaan tersebut diserahkan kepada Hizbut Tahrir, dan relasi antara Amir atau anggota Hizbut Tahrir dengan Khilafah di sisi lain?
Mengenai posisi Hizbut Tahrir ketika Khilafah sudah berdiri, maka Hizbut Tahrir sebagai partai politik tetap dalam posisinya sebagai partai politik yang tetap berada di tengah-tengah umat, mendidik dan mengawal pemikiran dan perasaan umat (qawam al-ummah afkaraha wa hissaha) sehingga pemikiran dan perasaan tersebut tetap terjaga. Ini sebagaimana yang ditegaskan oleh Hizb dalam Qanun Idari-nya. Posisi ini tidak berubah hingga kapan pun.
Selain itu, Hizb juga mengambil posisi yang tegas, tidak berada dalam pemerintahan sebagai partai pemerintah (hizb hakim), maupun partai oposisi (hizb mu’aridh). Pasalnya, konsep partai berkuasa dan oposisi (hizb hakim wa mu’aridh) ini memang tidak dikenal dalam Islam. Hizb akan tetap berdiri dalam posisinya sebagai partai yang selalu melakukan tugas dan fungsinya, mengoreksi kebijakan penguasa (muhasabatu al-hukkam), jika kebijakan-kebijakan tersebut dianggap menyalahi ketentuan hukum syariah. Semua itu bukan dalam rangka mencari-cari kesalahan, atau bahkan menjatuhkan mereka, tetapi untuk melaksanakan amar makruf dan nahi munkar semata-mata karena Allah SWT.
Kedua posisi ini akan tetap dijaga dan diperankan oleh Hizb, baik ketika Khilafah dipimpin oleh anggota Hizb maupun bukan. Sebab, inilah tugas dan fungsi yang harus dilakukan oleh Hizb dalam rangka memenuhi seruan Allah SWT:
Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat (jamaah/partai) yang menyerukan kebajikan (Islam) serta melakukan amar makruf nahi mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung (QS Ali Imran [3]: 104).
Tugas yad’una ila al-khayr (menyerukan Islam) bisa bermakna mengajak orang non-Muslim agar memeluk Islam, atau mengajak orang Islam untuk menerapkan Islam dengan sempurna. Adapun tugas ya’muruna bi al-ma’ruf wa yanhauna ‘an al-munkar (melakukan amar makruf nahi mungkar) bisa dilakukan terhadap umat, dengan mendidik dan mengawal pemikiran dan perasaan umat (qawam al-ummah afkaraha wa hissaha), sehingga pemikiran dan perasaan tersebut tetap terjaga; bisa juga dilakukan terhadap penguasa, dengan mengoreksi kebijakannya (muhasabah al-hukkam), jika kebijakan-kebijakan tersebut dianggap menyalahi ketentuan hukum syariah.
Hizb tidak memposisikan diri sebagai oposisi karena dengan tegas Nabi melarangnya. ‘Ubadah bin Shamit menuturkan:
«بَايَعْنَا رَسُولَ اللهِ عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي الْعُسْرِ وَالْيُسْرِ وَالْمَنْشَطِ وَالْمَكْرَهِ وَعَلَى أَثَرَةٍ عَلَيْنَا وَعَلَى أَنْ لاَ نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ وَعَلَى أَنْ نَقُولَ بِالْحَقِّ أَيْنَمَا كُنَّا لاَ نَخَافُ فِي اللهِ لَوْمَةَ لاَئِمٍ»
Kami membaiat Rasulullah saw. untuk mendengar dan taat (kepada Baginda Nabi saw. selaku kepala negara), baik dalam kondisi susah, senang, lapang maupun terpaksa dan untuk mengalahkan kepentingan kami, juga agar kami tidak merebut urusan (kekuasaan) tersebut dari pemangkunya, serta kami hendaknya menyatakan kebenaran di manapun kami berada. Kami tidak takut terhadap cacian pencaci, semata-mata karena Allah SWT (HR Muslim).
Jadi, meski Hizbut Tahrir mendapatkan mandat kekuasaan (istilam al-hukm) dari umat, tidak berarti Hizb menjadi partai berkuasa. Sebab, penyerahan mandat (istilam al-hukm) tersebut merupakan fase transisi, dari umat kepada Hizb. Kemudian, Hizb akan menentukan siapa yang paling layak menjadi khalifah. Jika Amir Hizb yang dibaiat in’iqad untuk menduduki jabatan tersebut, tidak lain karena dialah orang yang paling layak. Setelah itu, Hizb akan tetap pada posisinya semula. Adapun Amir atau anggota Hizb yang telah dibaiat oleh umat sebagai khalifah kaum Muslim akan direlakan oleh Hizb untuk memimpin umat. Jabatan Amir yang beliau sandang pun dilepas, dan Hizb pun akan memilih kembali anggota terbaiknya untuk menjadi amirnya yang baru.
Dengan demikian, relasi Hizbut Tahrir di satu sisi dengan Khilafah dan Khalifah adalah tetap tidak berubah. Sebagai kekuatan politik yang berada di tengah-tengah umat, Hizb tetap solid dan memegang komitmen penuh untuk setia kepada Negara Khilafah, meski tetap kritis terhadap setiap kebijakan yang dijalankan oleh negara. Di sisi lain, relasi Hizb dengan Khalifah yang sebelumnya menjadi Amir Hizb tentu berubah, karena posisi Amirnya saat itu tidak lagi menjadi Amir Hizb, tetapi sudah menjadi Khalifah.
Dengan demikian, Khalifah pun bisa menjaga jarak yang sama antara Hizb dengan komponen umat yang lain. Tidak ada nepotisme, kolusi maupun balas budi. Sebab, masing-masing hanya berpikir menjalankan kewajibannya terhadap Islam dan kaum Muslim, semata-mata karena Allah SWT, bukan karena yang lain. [Ust Hafid Abdurrahman]
Catatan kaki:

[1] Al-‘Allamah Syaikh ‘Abdul Qadim Zallum, Nizham al-Hukm fi al-Islam, Dar al-Ummah, Beirut, cet VI, 2002 M/1422 H, hlm. 50-53.
[2] Ibid, hlm. 53.

Monday, 4 June 2012

Intelektual Penentu Perubahan



Sejarah membuktikan perubahan selalu dipelopori oleh kalangan intelektual. Islam jaya karena jasa Rasulullah yang berhasil mencetak generasi sahabat dengan daya pikir dan daya juang yang tinggi. Eropa lepas dari masa kegelapan karena kegigihan kaum cendekiawannya. Begitu juga dengan negeri ini. Kebangkitan nasional dipelopori kaum terpelajar, tumbangnya orde baru, orde lama serta reformasi juga tidak bisa dilepaskan dari peran intelektual. Karena memang selayaknya kalangan intelektual selalu mempunyai posisi terhormat dalam mewujudkan perubahan, intelektual adalah pendobrak kebangkitan peradaban. Namun sebuah fakta yang menyayat hati, keberadaan intelektual saat ini belum bisa memberikan sumbangsih untuk mewujudkan perubahan yang berarti di negeri ini. Setiap tahun sekolah meluluskan pelajar, perguruan tinggi meluluskan mahasiswa S1 sampai S3, bahkan para penyandang gelar profesor juga selalu ada. Akan tetapi seolah peran para intelektual tidak begitu optimal, terbukti dengan tidak berubahnya kondisi negeri ini. Indonesia masih saja terjajah secara ekonomi, sumber daya alam dikeruk asing. Rakyat masih saja belum sejahtera. Dan parahnya lagi, korupsi  yang semakin hari semakin merajalela pelakunya berasal dari kalangan intelektual.
Kegagalan Pendidikan Kapitalis
                Minimnya peran intelektual tidak bisa dilepaskan dari proses pembentukannya yaitu proses pendidikan. Dan proses pendidikan sangat berkaitan erat dengan sistem pendidikan. Fakta yang begitu nyata, dunia pendidikan saat ini disetir kapitalis. Pendidikan bermotif bisnis untuk meraih keuntungan materi sebanyak-banyaknya yang memang ciri dari ideologi kapitalis, selalu berpijak pada asas manfaat dengan menghalalkan segala cara. Maka output pendidikan pun juga sangat kental dengan ide-ide kapitalis. Sekolah atau kuliah dengan tujuan utama mencari kerja, tercetaklah lulusan bermental pekerja. Menuntut ilmu dengan prinsip sekuler mengabaikan aturan agama, melahirkan generasi pintar secara intelektual namun rapuh kepribadiannya. Muncullah pelajar yang biasa dengan pergaulan bebas, mahasiswa minim prestasi dan pegawai yang begitu mudah tergiur indahnya dunia.
                Tidak lagi mempedulikan prestasi apa yang akan diukir, kreasi apa yang akan dibuat dan inovasi apa yang dilahirkan demi kemajuan peradaban bangsa. Kaum intelektual terjebak pada pragmatisme. Kapitalisasi pendidikan mengakibatkan mahalnya biaya pendidikan, sehingga yang terpikir dalam benak adalah bisa lulus untuk mengembalikan modal dan berjuang bertahan hidup di tengah sulitnya keadaan. Akhirnya, intelektual pun mandul. Penemuan-penemuan sangat sedikit, penelitian hanya untuk menghabiskan anggaran, karya tulis dibuat hanya untuk menaikkan pangkat. Jadilah negeri ini semakin tergantung pada Barat. Tak berkutik ketika berbicara teknologi, kalah bersaing dalam hal  produk dan semakin terseret sebagai konsumen miskin.
Tak hanya terjebak pada bisnis pendidikan, pemikiran intelektual juga semakin terwarnai oleh ide-ide kapitalis sekuler yang mengagungkan kebebasan. Intelektual yang seharusnya menjadi motor perubahan mewujudkan peradaban mulia malah semakinmenjurumuskan generasi ke lembah nista. Ilmu yang tidak dikaitkan dengan syari’ah akibat ide sekuler hanya mencetak intelektual penghina ajaran agama. Kajian ilmiah menggugat hukum Allah bukanlah hal yang tabu. Dukungan terhadap kebebasan berekspresi, berpendapat, berkeyakinan dan kepemilikan pun semakin menguat.
Demikianlah buah pendidikan kapitalis, hanya melahirkan generasi pembebek, generasi rusak dan manusia individualis yang tidak peduli dengan kewajiban untuk terikat pada hukum syara’ secara sempurna.
Sistem Islam Mencetak Intelektual Cerdas Bertaqwa
Dalam Islam, pendidikan adalah kebutuhan primer bagi seluruh rakyat, bagian dari pelayanan umum dan kemaslahatan hidup terpenting serta kebutuhan asasi yang  harus dikecap oleh setiap manusia. Pendidikan diselenggarakan dengan biaya sangat murah bahkan gratis sehingga bisa dinikmati seluruh rakyat. Tujuan pendidikan bukan dalam rangka bisnis melainkan untuk membentuk manusia yang berkepribadian Islam, menguasai tsaqofah Islam,  serta menguasai sains-teknologi. Maka tak heran, dengan sistem pendidikan Islam lahirlah generasi cemerlang. Generasi hebat para pemimpin-panglima perang-mujahid , para faqih fiddin-mujtahid-ulama , ilmuwan sains-teknologi yang mampu membangun peradaban yang gemilang, penemu-penemu di berbagai bidang yang diakui dan diadopsi barat untuk kebangkitan Eropa.
Para imam madzhab dengan hasil ijtihad yang luar biasa sekaliber Imam Syafi’i dan imam madzhab lainnya, para perawi hadits yang mempunyai daya ingat tajam dan hafalan melimpah semisal Imam Bukhari, Imam Muslim dan lainnya,  Sholahuddin Al Ayubi dan Muhammad A Fatih para mujahid mulia. Di bidang astronomi ada Al-Khawārizmi, Ibn Jābir Al-Battāni , Abu Rayhān al-Biruni , serta Nāsir al-Dīn al-Tūsi. Ibn Al-Haytsam pakar fisika, Jābir ibn Hayyān dan Abu Bakr Zakariya al-Rāzi pakar kimia. Al-Kindi yang pertama kali mendemonstrasikan penggunaan ilmu hitung dan matematika dalam dunia medis dan farmakologi. Atau juga Al-Rāzi yang menemukan penyakit cacar (smallpox), Al-Khawarizmi, Ibn Sina dan lain-lain yang berjasa dalam pengembangan dunia kesehatan. Dengan prestasi yang gemilang mereka memajukan peradaban dunia melalui.
Dan satu hal yang tidak bisa dipungkiri, keberadaan generasi luar biasa tersebut tidak terlepas dari proses pendidikan yang mereka terima. Yaitu sistem pendidikan Islam.  Dan sistem pendidikan Islam akan berhasil jika berintegrasi dengan sistem lain seperti sistem politik, hukum, ekonomi dan lain-lain yang juga berdasarkan Islam dengan khilafah sebagai institusi utamanya . Maka menjadi kebutuhan sekaligus kewajiban bagi umat Islam, ketika menginginkan tercetaknya generasi cemerlang dan intelektual pendobrak kebangkitan peradaban yang harus dilakukan adalah dengan mewujudkan kembali khilafah. Dan tentu saja perjuangan menegakkan khilafah juga sangat membutuhkan peran intelektual, intelektual muslim yang rindu tegaknya sistem Islam.
Dengan demikian perubahan hakiki akan terjadi jika para intelektual muslim menjadikan akidah Islam sebagai landasan, menjadikan hukum Islam sebagai pijakan. Menjadikan pemikiran Islam untuk mengembangkan ilmu dan pengetahuan.

Thursday, 31 May 2012

Peran Guru Menyelamatkan Generasi



Setiap tanggal 23 Juli bangsa ini selalu memperingati Hari Anak. Berbagai acara dibuat untuk mengingatkan kita bahwa anak adalah potret masa depan bangsa. Maka selayaknyalah kita memberikan perhatian lebih terhadap anak serta permasalahan yang berkaitan dengan anak.
a.      Potensi Anak
      Anak adalah sosok yang begitu istimewa. Anak juga adalah aset bagi kita baik di dunia maupun akhirat. Di dunia, anak merupakan potret masa depan suatu bangsa. Jika anak – anak kita saat ini adalah anak dengan kepribadian Islam yang tangguh, maka bisa dipastikan masa depan cerah sudah dalam genggaman. Dengan kepribadian yang tangguh akan terwujud generasi yang siap dalam menghadapi segala tantangan jaman. Sebaliknya, jika anak – anak kita saat ini adalah anak dengan kepribadian lemah, mudah terbawa arus, maka peluang anak untuk menjadi generasi pembebek yang tidak mandiri akan semakin besar, jika ini terjadi maka bisa dipastikan masa depan suram menunggu di depan mata.
      Selain sebagai aset di dunia, anak juga merupakan aset di akhirat bagi orang tua, karena jika anak kita adalah anak-anak yang sholeh maka doa mereka akan terus membuat pahala kita tetap mengalir meskipun kita telah meninggal. Subhanallah, sungguh anak adalah sosok istimewa yang diamanahkan Allah SWT kepada kita.
b.      Permasalahan Seputar Anak
Sebagai sosok yang sangat menentukan masa depan bangsa, anak juga menghadapi berbagai permasalahan . Kuatnya arus liberalisasi ( kebebasan ) tak pelak juga sangat berpengaruh pada kepribadian anak. Sering kita mendengar ucapan orang tua yang membandingkan masa kecil mereka dengan fakta anak saat ini “ Anak sekarang tidak mau prihatin, maunya enak terus”, “ Wah masak orang tua nyapu halaman, anak santai-santai saja bermain, malah cuek, ga punya tata karma “ , “ Ya Alloh Nak, disuruh nyari rumput sedikit saja sudah capek, bapak dulu nyari rumput sampai 2 sak “ dan masih banyak lagi keluhan orang tua terhadap anak-anak mereka.
Di sekolah, tak sedikit guru yang harus selalu mengelus dada ketika melihat perilaku siswa mereka “ Bu nyatetnya sedikit saja ya capek kalo terlalu banyak “, padahal mereka tahan berjam-jam jika main PS “ Pak nyapu halamannya segini saja ya “ padahal hanya menyapu sejengkal saja. “ Pak hafalannya jangan banyak-banyak ya “ padahal puluhan lagu mereka hafal. Itulah sedikit fakta yang dihadapi anak.
Selain itu, pengaruh lingkungan juga sering membuat anak menjadi korban tindakan kriminal. Sering kita dengar berita : anak diculik dan dibunuh, anak diperkosa, anak ditinggal ibunya tanpa makanan, anak ditelantarkan orang tua dll. Jika ini dibiarkan maka masa depan suram menunggu. Bagaimana mungkin akan ada masa depan cerah jika generasi penerusnya adalah generasi yang tidak mandiri, bermental tempe , tidak tahan banting serta tidak mendapat perlakuan yang layak ?
c.       Peran Guru Menyelamatkan Generasi
Memang anak adalah tanggung jawab orang tua, namun guru adalah orang tua kedua bagi anak. Karena hampir sebagian besar waktu anak dihabiskan di sekolah. Oleh karena itu guru juga sangat berperan dalam menyelamatkan generasi ini dari kerusakan.
Untuk mencetak generasi yang berkepribadian tangguh, guru juga harus mengevaluasi kualitas diri, bagaimana bisa mencetak generasi tangguh jika sang guru juga tidak berkepribadian tangguh ? Maka peran guru yang pertama adalah menjadi sosok panutan anak didiknya dengan menjadi insan yang berkepribadian Islam. Anak akan terbiasa disiplin jika guru disiplin, anak akan menjadi manusia yang bertanggungjawab jika gurunya adalah guru yang penuh tanggung jawab.
Selanjutnya, guru juga harus menganggap siswanya layaknya anak-anak mereka, bukan hanya sekedar sebgai anak didik yang diberi ilmu. Dengan anggapan ini maka guru akan memberikan hal-hal terbaik untuk anak didik mereka, bukankah orang tua selalu mengharapkan yang terbaik untuk anak mereka ?  Dengan begitu guru tidak akan menjerumuskan anak baik di dunia maupun di akhirat.
Oleh karena itu, agar guru bisa menjadi teladan juga mempunyai kepedulian tinggi terhadap anak didik maka ada beberapa karakter yang harus dimiliki  seorang pendidik : kasih sayang, sabar, cerdas, tawadhu’, bijaksana, pemberi maaf, berkepribadian kuat, serta yakin dengan tugas pendidikan. Dengan memliki karakter – karakter tersebut insya Allah guru akan sangat berperan dalam menyelamatkan generasi dari kehancuran.
Itulah beberapa peran yang bisa diambil oleh guru. Namun kerja sama dengan orang tua, juga dukungan sistem yang berlaku juga sangatlah penting. Seringkali fakta memprihatinkan terjadi, di sekolah anak dilatih kedisilpinan tetapi orang tua tidak peduli, atau bahkan sebaliknya. Begitu pula dengan lemahnya pengawasan Negara, anak dituntut menjadi generasi tangguh tapi tayangan televisi yang tidak berguna dibiarkan begitu saja, anak dituntut menjadi generasi kuat tapi makanan tak berkualitas ada dimana – mana.
Dengan demikian untuk menyelamatkan anak dari kehancuran, sangat diperlukan kerjasama dari orang tua, guru serta Negara yang menentukan kebijakan yang diterapkan kepada rakyat. Dan itu semua akan optimal jika semuanya distandarkan pada aturan Allah SWT yang merupakan aturan terbaik yang ada di dunia ini. Terakhir marilah kita renungkan firman Allah dalam Al Qur’an Surat  An Nisa’ ayat 9 : Dan takutlah kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah .  Wallahu a’lam bishowab

* Nur Aini – Guru MI Al Hidayah YPSM Tulungrejo Pare

Foto ditambahkan pada 21 Mei 2020