Thursday, 31 May 2012

Peran Guru Menyelamatkan Generasi



Setiap tanggal 23 Juli bangsa ini selalu memperingati Hari Anak. Berbagai acara dibuat untuk mengingatkan kita bahwa anak adalah potret masa depan bangsa. Maka selayaknyalah kita memberikan perhatian lebih terhadap anak serta permasalahan yang berkaitan dengan anak.
a.      Potensi Anak
      Anak adalah sosok yang begitu istimewa. Anak juga adalah aset bagi kita baik di dunia maupun akhirat. Di dunia, anak merupakan potret masa depan suatu bangsa. Jika anak – anak kita saat ini adalah anak dengan kepribadian Islam yang tangguh, maka bisa dipastikan masa depan cerah sudah dalam genggaman. Dengan kepribadian yang tangguh akan terwujud generasi yang siap dalam menghadapi segala tantangan jaman. Sebaliknya, jika anak – anak kita saat ini adalah anak dengan kepribadian lemah, mudah terbawa arus, maka peluang anak untuk menjadi generasi pembebek yang tidak mandiri akan semakin besar, jika ini terjadi maka bisa dipastikan masa depan suram menunggu di depan mata.
      Selain sebagai aset di dunia, anak juga merupakan aset di akhirat bagi orang tua, karena jika anak kita adalah anak-anak yang sholeh maka doa mereka akan terus membuat pahala kita tetap mengalir meskipun kita telah meninggal. Subhanallah, sungguh anak adalah sosok istimewa yang diamanahkan Allah SWT kepada kita.
b.      Permasalahan Seputar Anak
Sebagai sosok yang sangat menentukan masa depan bangsa, anak juga menghadapi berbagai permasalahan . Kuatnya arus liberalisasi ( kebebasan ) tak pelak juga sangat berpengaruh pada kepribadian anak. Sering kita mendengar ucapan orang tua yang membandingkan masa kecil mereka dengan fakta anak saat ini “ Anak sekarang tidak mau prihatin, maunya enak terus”, “ Wah masak orang tua nyapu halaman, anak santai-santai saja bermain, malah cuek, ga punya tata karma “ , “ Ya Alloh Nak, disuruh nyari rumput sedikit saja sudah capek, bapak dulu nyari rumput sampai 2 sak “ dan masih banyak lagi keluhan orang tua terhadap anak-anak mereka.
Di sekolah, tak sedikit guru yang harus selalu mengelus dada ketika melihat perilaku siswa mereka “ Bu nyatetnya sedikit saja ya capek kalo terlalu banyak “, padahal mereka tahan berjam-jam jika main PS “ Pak nyapu halamannya segini saja ya “ padahal hanya menyapu sejengkal saja. “ Pak hafalannya jangan banyak-banyak ya “ padahal puluhan lagu mereka hafal. Itulah sedikit fakta yang dihadapi anak.
Selain itu, pengaruh lingkungan juga sering membuat anak menjadi korban tindakan kriminal. Sering kita dengar berita : anak diculik dan dibunuh, anak diperkosa, anak ditinggal ibunya tanpa makanan, anak ditelantarkan orang tua dll. Jika ini dibiarkan maka masa depan suram menunggu. Bagaimana mungkin akan ada masa depan cerah jika generasi penerusnya adalah generasi yang tidak mandiri, bermental tempe , tidak tahan banting serta tidak mendapat perlakuan yang layak ?
c.       Peran Guru Menyelamatkan Generasi
Memang anak adalah tanggung jawab orang tua, namun guru adalah orang tua kedua bagi anak. Karena hampir sebagian besar waktu anak dihabiskan di sekolah. Oleh karena itu guru juga sangat berperan dalam menyelamatkan generasi ini dari kerusakan.
Untuk mencetak generasi yang berkepribadian tangguh, guru juga harus mengevaluasi kualitas diri, bagaimana bisa mencetak generasi tangguh jika sang guru juga tidak berkepribadian tangguh ? Maka peran guru yang pertama adalah menjadi sosok panutan anak didiknya dengan menjadi insan yang berkepribadian Islam. Anak akan terbiasa disiplin jika guru disiplin, anak akan menjadi manusia yang bertanggungjawab jika gurunya adalah guru yang penuh tanggung jawab.
Selanjutnya, guru juga harus menganggap siswanya layaknya anak-anak mereka, bukan hanya sekedar sebgai anak didik yang diberi ilmu. Dengan anggapan ini maka guru akan memberikan hal-hal terbaik untuk anak didik mereka, bukankah orang tua selalu mengharapkan yang terbaik untuk anak mereka ?  Dengan begitu guru tidak akan menjerumuskan anak baik di dunia maupun di akhirat.
Oleh karena itu, agar guru bisa menjadi teladan juga mempunyai kepedulian tinggi terhadap anak didik maka ada beberapa karakter yang harus dimiliki  seorang pendidik : kasih sayang, sabar, cerdas, tawadhu’, bijaksana, pemberi maaf, berkepribadian kuat, serta yakin dengan tugas pendidikan. Dengan memliki karakter – karakter tersebut insya Allah guru akan sangat berperan dalam menyelamatkan generasi dari kehancuran.
Itulah beberapa peran yang bisa diambil oleh guru. Namun kerja sama dengan orang tua, juga dukungan sistem yang berlaku juga sangatlah penting. Seringkali fakta memprihatinkan terjadi, di sekolah anak dilatih kedisilpinan tetapi orang tua tidak peduli, atau bahkan sebaliknya. Begitu pula dengan lemahnya pengawasan Negara, anak dituntut menjadi generasi tangguh tapi tayangan televisi yang tidak berguna dibiarkan begitu saja, anak dituntut menjadi generasi kuat tapi makanan tak berkualitas ada dimana – mana.
Dengan demikian untuk menyelamatkan anak dari kehancuran, sangat diperlukan kerjasama dari orang tua, guru serta Negara yang menentukan kebijakan yang diterapkan kepada rakyat. Dan itu semua akan optimal jika semuanya distandarkan pada aturan Allah SWT yang merupakan aturan terbaik yang ada di dunia ini. Terakhir marilah kita renungkan firman Allah dalam Al Qur’an Surat  An Nisa’ ayat 9 : Dan takutlah kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah .  Wallahu a’lam bishowab

* Nur Aini – Guru MI Al Hidayah YPSM Tulungrejo Pare

Foto ditambahkan pada 21 Mei 2020

Wednesday, 14 March 2012

Negeri Pemalak


Negeri  Pemalak

Kemarin habis dari kantor pajak
Memang sepi tak berdesak
Tapi masih saja membuat dada ini sesak

Inilah negeri pemalak
Kaya miskin tua muda tak bisa mengelak
Apa pun kena pajak

Wis ngono rasane ngelak
Botol minuman yang kubawa hilang tanpa jejak
Yang tertinggal hanya plastik yang terkoyak

Beli barang kena ppn
Dapat tunjangan kena pph
Tinggal di bumi Allah kena pbb
Punya motor kena pkb

Beginilah negeri pemalak
Apbn sebagian besar dari pajak

Tapi tetap saja jadi negeri melarat
Karena pajak tak kembali pada rakyat

Petugas pajak ngembat
Digemplang konglomerat
Dikorupsi pejabat
Jadilah pajak tak bermanfaat

Beginilah negeri pemalak
pendapatan dari pajak
karena kapitalisme sistem yang dipijak

Beda dengan sistem islam
Sistem rahmat untuk alam

Sistem yang sangat hebat
Hanya yang mampu ditarik zakat

Fakir dapat jatah
Miskin tak perlu resah
Amil bisa sumringah

Muallaf jadi bahagia
Budak jadi merdeka
Yang berhutang pun gembira

Musafir tak perlu kuatir
Pejuang fii sabilillah tak perlu tersenyum getir
Tidak seperti veteran perang
Yang hanya bisa melihat orang lain senang

Beda lagi dengan jizyah
Yang diambil dari kafir ahlu dzimmah
Hanya diambil dari laki-laki dewasa yang mampu
Anak-anak, wanita pasti terharu
Karena mereka hidup di bawah naungan khilafah
Negara islam yang menerapkan seluruh aturan dari Allah

Jelas sudah bedanya
Kapitalisme membuat sengsara
Khilafah membuat bahagia

Pernikahan ideologis, dari mana harus memulai ???


Pernikahan ideologis, dari mana harus memulai ???
·         Mempersiapkan diri itu pasti, tak  perlu nunggu calon ada di depan mata.
·         Memilih calon istri atau suami.  Kriteria  syar’i tak perlu dipertimbangkan, boleh menetapkan criteria tambahan biar tidak sembarangan menerima atau menolak calon yang datang. Tetap gunakan standart syara’ bukan sekedar hawa nafsu.
·         Mempunyai gambaran visi misi tentang keluarga ideologis, ketika menginginkan keluarga yang dibangun berdasarkan ideology Islam maka mantabkan lah mabda’ Islam dalam diri. Mabda’ yang dibangun atas fikrah dan thariqoh yang shohih. Jangan baru terpikir ketika sudah benar2 menikah.
Minimal 3 poin di atas. Sudah banyak buku yang membahas. 
Namun itu terkait persiapan individu, satu hal yang kadang terlupakan adalah mempersiapkan keluarga kita  ( ayah, ibu, saudara dan keluarga besar ). Banyak sekali yang merasa sudah siap, calon pun sudah di depan mata namun dengan satu kalimat semua itu batal “ Keluarga tidak setuju “ (dengan alasan yang beragam ) gagal sudah satu rencana yang begitu matang tersusun. Atau pun jika tidak batal, akan membutuhkan perjuangan ekstra untuk memahamkan keluarga.
Karena menikah tidak hanya menyatukan 2 individu tapi juga menyatukan 2 keluarga besar, maka jangan mengabaikan keluarga.
Satu hal yang sangat terkait dengan keluarga ketika memulai pernikahan adalah penyelenggaraan pesta pernikahan. Dan seringkali fakta yang terjadi, perjuangan memahamkan keluarga baru dilakukan ketika calon sudah di depan mata, ketika cinta terlanjur berlabuh di hati…
Maksud hati memulai bahtera rumah tangga dengan walimatul ursy yang syar’I tapi apa daya keluarga tidak paham. Waktu  semakin mendesak, hati terlanjur jatuh cinta, usia semakin senja akhirnya mau saja dengan konsep walimah yang tidak syar’I (ikhtilat, tabbaruj, tercampur adat kufur).
Ironi keluarga ideologis yang dimulai dengan awalan yang tidak ideologis….
So, mempersiapkan segala sesuatu jauh2 hari, jangan baru belajar pernikahan syar’I ketika pernikahan sudah mendekati.
Pahamkan diri dan juga keluarga tentang konsep pernikahan syar’I jauh2 hari jangan nunggu lamaran terjadi.
Bekali diri tentang cara membangun keluarga mabda’I sejak awal. Jangan bingung cari tau bagaimana ngurus rumah tangga ketika sudah menikah, bingung ngurus suami ketika sudah bersuami, bingung dengan kehamilan ketika sudah hamil, bingung cara mendidik anak ketika sudah punya anak.
Sungguh langkah yang tidak terkonsep…
Bekali diri dengan ilmu insya Allah amal akan semakin mudah.
Bekali diri dg  ilmu tentang pernikahan (termasuk fikih nikah ) meski belum menikah
Bekali diri dg  ilmu menjadi istri sholihah atau suami sholih yag bertanggung jawab meski berstatus single
Bekali diri cara mendidik anak meski belum mempunyai anak
Jangan lupa sampaikan (dakwahkan )konsep syar’I tersebut kepada ayah ibu dan keluarga. Selain untuk mempermudah juga merupakan kewajiban kita memahamkan mereka.

Ilmu sudah punya, keluarga sudah paham, calon di depan mata… hemm…tinggal aplikasi… enak kan ??? Ga perlu stress… ga perlu nangis2 memohon kepada keluarga, ga perlu bersitegang menjelang hari H, ga perlu bermuram durja ketika walimah berlangsung.
Wajah ceria, bahagia, sumringah, senyum di bibir…karena semua berjalan sesuai hukum syara’…karena ridho Allah adalah tujuan utama…

Selalu akan ada bedanya orang berilmu dengan orang yang tidak berilmu.
Inti dari note ini adalah : MENCARI ILMU sebelum memulai suatu amal. Tidak hanya dalam urusan menikah…
Terkait pernikahan : MINIMAL katam buku system pergaulan dalam Islam.

Membaca
Mengikuti majelis ilmu
Berdiskusi
Berbagi pengalaman dengan praktisi….

Amal berbekal ilmu, semoga bisa merealisasikan…

Cerita tentang Sekolahku


Kali ini saya akan cerita tentang sekolah saya.
Sebuah lembaga pendidikan Madrasah Ibtidaiyah swasta di bawah naungan sebuah yayasan.
Bukan madrasah yang luar biasa, tetapi tetap saja bagi saya murid2 yang ada di madrasah ini adalah anak2 yang luar biasa. Anak2 generasi penerus negeri ini.
Madrasah sederhana dengan murid yang kemampuan ekonomi ortunya  menengah ke bawah.
Seperti sekolah lain, madrasah ini mempunyai struktur organisasi. Mulai dari Ketua yayasan dan pengurusnya, komite madrasah beserta pengurusnya dan yang tak kalah pentingnya adalah Kepala MI beserta struktur sekolah. Mulai dari wakil kepala, Bendahara, wali kelas,  dan guru.
Dalam setiap pembuatan program tahunan yang menyangkut kurikulum dan rencana madrasah lainnya, keterlibatan yayasan dan komite selalu tak terlewatkan. Meski kadang tidak terlibat langsung, tetap saja atas sepengetahuan komite dan yayasan, minimal ditunjukkan dengan tanda tangan persetujuan yang mereka berikan.
Dan satu hal yang sangat “menggoda” untuk disalahgunakan dalam system yang serba kapitalis ini adalah pengelolaan keuangan, termasuk di madrasah. Pengelolaan dana BOS, dana bantuan masyarakat, bantuan incidental dll. Namun setahu saya, selama ini pengelolaan keuangan tidak melulu dipegang satu orang. Setiap penerimaan dan pengeluaran minimal melibatkan bendahara dan Kepala. Dan pelaporannya selalu mengetahui ketua komite dan melibatkan dewan guru.
Dan ketika diperlukan rehab fasilitas atau menambah sarana semua dilaksanakan secara transparan meski yang menjalankan hanya satu orang. Misal guru olah raga membutuhkan tambahan alat, maka bisa mengajukan proposal, jika disetujui bisa belanja sendiri atau dibelanjakan waka sarpras. Simple tapi amanah.
Maka jika ada penyalahgunaan pengelolaan keuangan bisa terjadi karena :
1.       Ada kesepakatan antara pihak2 terkait yaitu bendahara, kepala, ketua komite dan yayasan serta dewan guru. Penyalahgunaan ini terkategori korupsi “berjamaah”. Yang berkonspirasi dan yang menikmati hampir semua elemen pengelola keuangan.
2.       Ada kesepakatan beberapa pihak saja dengan memalsukan persetujuan pihak lain.
3.       Kecurangan satu orang saja, bisa jadi bendahara saja, kepala saja, ketua komite saja atau ketua yayasan saja. Dan ini pun terjadi bisa karena satu orang tersebut sangat piawai atau dia tidak terlalu piawai tapi pihak lain begitu mudah untuk ditipu atau bahkan pihak lain begitu bodohnya. Namun kemungkinan ini sangat kecil karena dalam dunia pendidikan insya Allah orang2nya  ga bodoh2 amat. Apalagi gurunya. Masak  bodoh jadi guru ??? lagian sepertinya saya ga bodoh2 amat dech… J
Dan saya pun jadi mikir. Kalo ada bendahara parpol melakukan kecurangan masak tidak melibatkan pihak lain ???
Jika tidak melibatkan pihak lain, masak benar dia begitu pintar ???
Sampai2 yang lain ketika ditanya jawabannya selalu  “ SAYA TIDAK TAHU “
Sampai2 ketua dan dewan pembinanya tidak tahu, dan tidak mungkin lagi kalo ketua dan pembinanya adalah orang2 bodoh yang mudah ditipu.

Heran juga kalo ada korupsi di sebuah kementrian tapi menterinya ga tau apa2 ????

Hemmm…. apa perlu orang2 itu studi banding ke sekolahku yaaaa ????

Mungkin ada yang bilang, “ Itu kan sekolah bukan partai yang terdiri banyak orang wajar kan ???”
Ini kerjaan orang yang hobi ngeles… justru partai besar harusnya system audit maupun kontrolnya lebih canggih….


Tapi memang begitulah sifatnya system demokrasi kapitalis…hanya menciptakan manusia yang haus kekuasaan demi kepentingannya sendiri, bukan manusia yang amanah dalam melaksanakan tugas/jabatan, bukan manusia yang ingat dengat aturan Allah , karena aturan Allah akan begitu mudah dianulir ketika kalah dalam voting.

Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS: Al Madah 50)