Sunday, 6 January 2019

Catatan awal tahun 1 : Semangatmu Menyemangatiku

Sumber gambar : Anwariz.com

Akhir tahun 2018 yang luar biasa, Desember diawali sebuah agenda yang spektakuler, meski tak mengikuti langsung namun ikut merasakan suasana yang mengharu biru. 2 Desember, reuni 212, aksi bela tauhid. Lautan panji Rasulullah membanjiri Monas dan sekitarnya. Setelah setahun upaya mengenalkan panji Rasulullah banyak mengalami kendala, namun rencana Allah memang yang terbaik. Kegagalan bukan berarti akhir segalanya, namun ada jalan keberhasilan di depan mata yang sedikit tertunda. Persatuan umat pun semakin terajut. Berkumpulnya jutaan umat Islam tanpa sedikitpun keributan menjadi bukti bahwa Islam itu damai, umat Islam itu bukan pembuat masalah.

Dan akhir Desember 2018, aksi bela Uighur semakin menguatkan ukhuwah. Kesadaran bahwa ada kewajiban membela nasib saudara seakidah semakin membuncah, kesadaran akan butuhnya kekuatan pemersatu umat semakin menguat. Meski diiringi dengan persekusi dan kriminalisasi oleh rezim yang semakin menjadi, langkah membela umat Islam sedikitpun tidak surut.

Dan lagi-lagi memang tak langsung mengikuti, namun Alhamdulillah masih bisa memantau kabar beritanya, mengikuti informasi yang dibagi para saksi mata. Selain menjadi tahu, juga bersyukur masih banyak menjumpai teman yang meski tak berjumpa di dunia nyata, yang meski berpisah sekian lama, mereka masih istiqamah di jalan dakwah, masih istiqamah di jalan membela syariah. Dan semuanya mengikuti dan membagi informasi dengan semangatnya, bersama peserta lainnya. Bahagia itu melihat teman selalu istiqamah dalam kebaikan.

Lain lagi, mengikuti sebuah acara, atau bersama dalam forum dihadiri langsung oleh orang-orang yang penuh semangat, memberi nasehat dan motivasi, atau bahkan mengisi apapun itu dan yang menjadi peserta semangatnya sangat luar biasa, menjadi peristiwa yang sangat istimewa, semangat orang lain yang juga membuat diri ini semangat.
Di sinilah pentingnya bersama atau berteman dengan orang yang istiqamah, selalu bersama dengan orang yang semangat, secara tidak langsung akan membuat kita untuk juga bertahan dalam semangat. Maka jangan menyepelekan sebuah semangat, jangan mencibir orang yang selalu terus bersemangat meski kadang belum mengantarkan pada hasil terbaik, ketangguhannya menjaga semangat merupakan prestasi tersendiri. Dan begitu pula dengan diri kita, jagalah semangat, karena bisa jadi semangat kita akan menyemati orang lain.

Jadi kata kunci di awal tahun ini : Semangat
Semoga bisa istiqamah dalam kebaikan, semangat dalam kebaikan, meski hidup tak lepas dari permasalahan, yakinlah semangat itu pasti ada balasan, ketika semua dijalani dengan keikhlasan.


Pare, 6 Januari 2019

Friday, 4 January 2019

Catatan akhir tahun : Tak Perlu Menunggu Duda, Poligami Saja

Sumber gambar : voa-islam.id

Akhir tahun 2018. Dalam seminggu, dua kali ke Yogya, naik bis biasa. Satu kali jalan menghabiskan waktu sekitar 6 jam, maka total di dalam bis 24 jam. Dan selalu dalam bis diputar lagu dengan penyanyi hampir 90% wanita, jika 1 lagu berdurasi 5 menit maka selama satu kali jalan setidaknya menikmati 70 lagu, dan selama 2 kali PP total sektar 200 lagu, dengan asumsi ada pengulangan. Jadilah tahu macam Orkes Melayu, PH, nama artis, penciptanya. Dan tetap saja yang familiar Nella Kharisma dan Via Vallen saja. Dari segi penampilan jelas taka da yang syar’i, dari segi contain lirik lagu, banyak yang membuat tersenyum kecut, hampir semuanya berkisah tentang cinta, tapi dominan lebaynya. Hampir semua lagu versi koplo. Ada beberapa lagu yang isinya seputar peselingkuhan, kehidupan di jalanan, penyesalan ditinggal kekasih. Cuma tertarik dengan pilihan katanya saja, lumayan untuk menambah perbendaharaan kata. Ada juga lagu pop, namun tak jauh beda masih tentang percintaan. Yang pop ada Wali, Armada, Ada band dll.

Ada beberapa lagu yang isinya hampir mirip. Tentang pasangan kekasih yang harus berpisah karena yang lelaki menikah dijodohkan orang tuanya, ada wanita yang jatuh cinta pada lelaki yang sudah beristri. Lucunya dalam lagu tersebut ada yang mendoakan mantannya untuk segera menjadi duda agar bisa kembali dan menikah lagi dengannya, ada yang memilih bertahan selingkuh, menjalin hubungan gelap.. Waduhh…buyar tenan.

Sebenarnya tak harus menjadi jahat, mendoakan mantan menjadi duda, tak perlu bermaksiat dengan berselingkuh, juga tak perlu menjadi pelakor. Sederhana, poligami saja.

Jadi ingat pernah nonton FTV lupa judulnya dan lupa artisnya, maklum agak kudet kalo masalah artis. Tokoh utamanya Syahdu, Ifan dan Sofi. Syahdu dan Ifan awalnya pasangan kekasih namun Syahdu terlebih dahulu menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya namun nasib baik tak berpihak pada Syahdu. Suami Syahdu temperamental, sering berbuat kekerasan dan akhirnya mengusir Syahdu dan berakhir dengan perceraian. Syahdu masih menyimpan hanti kepada Ifan dan berharap bisa kembali kepada Ifan, namun karena Ifan sudah tidak berharap pada Syahdu, Ifan bersedia menikah dengan gadis pilihan ibunya, Sofi. Singkat cerita Syahdu down dan karena iba, Sofi meminta Ifan menikahi Syahdu, dan singkat cerita lagi, karena merasa dinomorduakan Syahdu menuntut lebih kepada Ifan yang membuat Ifan marah, Syahdu meninggalkan rumah Ifan, kembali ke kampung dalam kondisi hamil tanpa diketahui Ifan dan Sofi. Akhirnya Syahdu melahirkan, terkena kanker, meninggal. Anaknya diasuh Ifan dan Sofi yang memang belum diberi momongan. Simple bukan, selalu ada hikmahnya. Tapi namanya juga film, seharusnya realitasnya lebih simple lagi, selama menjadikan syariat sebagai pijakan.

Yang lebih penting, poligami itu mubah, boleh, pilihan. Bukan sebuah syariat yang melanggar HAM. Akan selalu ada maslahat dibalik sebuah syariat.

Sangat jauh dengan apa yang dituduhkan salah satu ketua partai bau kencur. Melarang kadernya berpoligami, sesumbar akan melarang poligami ketika duduk dalam kursi dewan. Dan parahnya lagi salah seorang pengurusnya secara sepihak menuduh poligami sebagai biang kerok perceraian, padahal jelas salah total. Angka perceraian lebih banyak terjadi pada pernikahan monogamy bukan poligami. Seenaknya berbicara atas nama data namun hakikatnya sedang memanipulasi data. Memang partai ini harus diwaspadai, jika perlu dilarang. Partai secular yang sombong. Menolak perda syariah, melarang poligami, dan terakhir menyeru seluruh kadernya mengucapkan selamat natal meski tidak beragama Kristen, jelas sekali pemikiran liberal yang mereka usung. Jika dibiarkan sepak terjangnya akan semakin ngawur. Bukan sekadar menginjak-injak syariat, bukan tak mungkin Islam akan semakin dihinakan.

Memang menerima syariat tidak semudah membalikkan tangan, membutuhkan proses, butuh ilmu. Dan memang akan lebih nyata tergambar ketika kita hidup dalam system islam, khilafah. Ada banyak masalah yang kecil peluangnya akan muncul. Naik bis berjam-jam ditemani music tak jelas, terjebak macet, tak ada wanita yang bebas mengumbar aurat menjual diri demi sesuap nasi, pemikiran merusak akan diminimalisir. Dan apapun yang tidak bertentangan dengan syariat bebas diamalkan. Salah satunya poligami. Syarat dan ketentuan tetap berlaku. Semua harus disertai ilmu.

Bagaimana, masih memilih menunggu dan mendokan agar secepatnya menduda? Atau pilih poligami saja?
Peace ya sis!

Pare, 4 Januari 2019



Wednesday, 2 January 2019

Catatan akhir tahun part 1: Muliakanlah Wanita



31 Desember 2018

🚍Angkot Pare – Jombang, pagi-pagi.
Seorang wanita tua dengan susah payah naik ke angkot, minibus.
Me : Badhe tindak pundi mbah ?
Nenek : Pasar  Cukir
Me : Dalemipun  pundi ?
Nenek : Keling ( sebuah desa di Kecamatan Kepung, sekitar 10 km dari Pare)
Me : Kok tebih blonjo teng Cukir
Nenek : Mboten blonjo, nyuwun.
Me : (Kaget dengan jawan polos si nenek)
Bla..bla..sedikit demi sedikit menyakan hal lain.
Nenek tersebut dalam seminggu mengunjungi tempat berbeda, lebih sering mengunjungi pasar, untuk meminta-minta. Masih punya keluarga. Itu saja infonya, tak tega dan sepertinya tak elok bertanya lebih banyak lagi, bisa  jadi akan mengingatkan hal yang tak layak diingat. Dan yang terpenting, sudah bisa tergambar, tidak hanya sekali ini menjumpai wanita-wanita yang memilih jadi peminta. Dan apalah daya diri ini, mengorek informasi namun tak bisa banyak membantu, berharap kerabatnya diberi kelimpahan rezeki, berharap sistem kapitalisme yang mencengkeram negeri ini segera tumbang, diganti dengan sistem Islam.

🚃 Sekitar pukul 16.50 – 18.15 (Shelter transjogja UNY)
Padahal baru pertama kali naik TJ, PeDe banget nunggu dan berharap TJ lewat, awalnya harap-harap cemas, tak lama ada beberapa orang yang juga menunggu, tapi hanya bertahan sekitar 30 menitan, dan saya masih setia menunggu. Hari semakin gelap jalanan sedikit sepi karena sudah masuk waktu maghrib. Ternyata jalanan hampir semua statusnya merah, macet dimana-mana. Dijemput juga pasti akan lama karena macet dimana-mana. Naik kendaraan online tidak menjamin drivernya perempuan, apalagi mobil/taksi, tak mungkin karena posisi sedang sendiri. Benar sekali jika Islam mewajibkan seorang wanita bersafar tidak sendirian, ditemani mahramnya. Meski sebenernya belum terkategori safar dan sudah berkali-kali ke yogya, pada akhirnya tak berkutik, mencoba mencari ojek pangkalan, mengunjungi gerombolan pengemudi ojek online. Sudah beberapa kali ketika terpaksa harus ngojek biasanya menyewa ojek lebih dari satu. Sewa dua motor, abang ojeknya boncengan saya naik sendiri. Biar tidak boncengan dengan nonmahram. Semua tidak mau, lumayan jauh dan resiko macet. Mending terima order yang dekat saja. Padahal sudah menawarkan harga yang  tidak murah.

Alhamdulillah mendapat no kontak ojek khusus wanita, meski sempat lost kontak dan agak ragu akhirnya datang juga.  Hujan deras. Awalnya kaget, drivernya ibu-ibu yang  tak muda dengan motor yang tak baru. Ibu tersebut meminta maaf karena terlambat. Hanya berucap :"iya..tidak apa-apa". Si ibu masih saja bercerita mengapa terlambat. Dan saya pun hanya tersenyum sambil mengangguk-angguk saja. Deal berangkat, meski hujan.  Dan benarlah, kendaraan padat merayap. Bismillah.

Sekitar pukul 20.20 an. Sepanjang jalan hanya memilih diam, sesekali mengobrol dengan driver. Pikiran melayang kemana-mana. Sedih saja, malam-malam masih saja seorang wanita menerima orderan, namun jika tak diterima bisa jadi tak membantu orang lain. Qimah / nilai yang hendak diraih, utamanya adalah qimah madiyah alias materi, namun tak bisa dipungkiri nilai kemanusiaan dan ruhiyah juga bisa diraih. Seandainya saja sistem Islam yang diterapkan, tak akan begini jadinya. Wanita tak harus berkutat pada hal-hal yang bisa membahayakan dirinya, seharusnya wanita dimuliakan, dijaga kehormatannya. Wanita tak wajib bekerja, tugas khususnya lebih banyak mengurus rumah, anak dan keluarganya. Wanita seharusnya hidup bersama jamaah wanita, ditemani para mahramnya.

Namun keadaan lah yang memaksa. Untuk sekedar ingin terikat pada hukum syara’ saja, misalnya tidak berkhalwat atau ikhltilat,  sulitnya luar biasa. Belum lagi dengan system ekonomi kapitalisme yang  tidak memanusiakan manusia, wanita juga terpaksa mencari tambahan nafkah keluarga. Akhirnya sampai tujuan, dan sebelum berpisah kembali driver meminta maaf karena keterlambatannya, bercerita saat menuju   titik penjemputan meski tahu terlambat, jika ternyata yang order tidak ada maka sadar itu salahnya. Wallahu a’lam belum pernah mengerti system pesanan jasa ojek perempuan, bagaimana mekanisme evaluasinya. Lagi-lagi perasaan ini tercabik, mungkin ibu drivernya memang butuh tambahan uang. Pukul 21.20 sampai tujuan, padahal biasanya sekitar 20 menitan saja.

🚌Dan seminggu ini dua kali ke yogya, karena memang tidak terencana, tiket KA ekonomi habis, naik bis saja. Dan memilih bis biasa. Murah meriah meski harus berlama-lama. Sekali perjalanan sekitar 6 jam naik bis. Dua kali PP berarti sekitar 24 jam menikmati suasana di dalam bis, yang semuanya selalu memutar tayangan music, dan hampir semuanya penyanyi wanita. Dengan penampilan yang mengumbar aurat dan lirik lagu picisan nan murahan . Meski pernah naik patas, juga diputar jenis music yang sama. Memaklumi saja, mungkin kru bis juga butuh teman, penumpang bisa tiduran, sedangkan kru bis terutama sopir harus tetap menjaga mata agar terbuka lebar. Kembali tentang artis panggung yang menemani perjalanan, kasihan mereka. Memang bisa jadi materi tercukupi, namun kehormatan mereka tercederai. Tak harusnya wanita seperti itu, menjual fisiknya demi materi.

Dan semua fakta ini akan sangat kecil terjadi ketika Islam yang diterapkan. Wanita dimuliakan, wanita dihormati, wanita diperlakukan agar siap mengemban tugas sebagai penyandang pemilik surga  di telapak kaki. Bukan tak ridho dengan pengorbanan dan perjuangan yang harus dilakukan seorang wanita saat ini, namun ini adalah kewajiban, kewajiban mengembalikan segala sesuatu pada tempatnya, menjalankan kehidupan sesuai aturan Allah, bukan sesuka hati menuruti hawa nafsu, bukan mengikuti arus sekularisasi yang menjauhkan umat dari aturan Allah. Menapaki jalan hidup ini sesuai arahan ilahi, dengan keyakinan aturan Allah yang terbaik, pasti ada maslhat di dunia, pasti menjadi penyelamat hingga ke akhirat.  Maka tak ada pilihan, bertahan untuk tetap terikat dengan hokum syara’, tidak menikmati terjerumus dalam kubangan system kapitalisme, dan yang tak kalah pentingnya, berjuang agar system Islam segera tegak, khilafah rasyidah ‘ala minhajinnubuwah. Dan perjuangan ini kewajiban semuanya, pria dan wanita.

Pare, 1 Januari 2019

Nb. Ket foto : Islamic Book Fair GOR UNY, @Khat.arts

Thursday, 20 December 2018

Melanjutkan Spirit Bela Tauhid : Menyatukan Umat Dalam Jalinan Ukhuwah



Segala puji hanya bagi Allah subhanahuwata’ala atas karuniaNya, karena hanya atas ijin Allah semata agenda umat Islam 2 Desember 2018 di Jakarta berlangsung damai dan lancar, tak ada yang layak jumawa atas kenikmatan ini. Acara yang diikuti jutaan umat Islam dari seluruh penjuru tanah air ini berhasil menarik simpati banyak pihak. Banyak sekali hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik bagi orang-orang yang merindukan indahnya penerapan Islam dalam kehidupan. Jutaan umat Islam berkumpul tanpa memandang latar belakang madzab, gerakan, pandangan politik, usia dan jenis kelamin. Semua berkumpul demi bertemu sekaligus meneguhkan komitmen untuk senantiasa membela agama Allah. Terlepas apapun motif terselubung, hendaknya semua mengedepankan prasangka baik, mendokan agar semua senantiasa dalam kebaikan.
Siapapun yang berhati bersih pasti akan terharu, bangga dan bahagia atas apa yang telah disuguhkan jutaan umat muslim, baik yang hadir maupun yang tidak. Memang yang hadir belum tentu semuanya dianggap sebagai pihak yang lebih mempunyai kepedulian terhadap agama Allah jika dibandingkan dengan yang tidak hadir, yang tidak hadir juga tetap mempunyai kontribusi dalam membela agama. Namun yang pasti pengorbanan para mujahid peserta aksi 212 2018 layak mendapatkan acungan jempol. Solidaritas yang tinggi, mengutamakan kepentingan saudaranya, membantu, meringankan, memberikan sekecil apapun yang dimiliki dan banyak yang yang tidak bisa disebutkan satu-persatu, telah membuka mata hati kita, umat Islam adalah umat yang satu, umat Islam bersaudara apapun latar belakangnya.
Tidak hanya dari peserta muslim, non muslim pun tidak sedikit yang mengikuti, memuji atau hanya sekadar berempati. Tidak ada rasa takut terhadap jutaan umat Islam yang sedang berkumpul. Cap radikal, intoleran, dan suka berbuat kerusakan sangat jauh dari fakta yang ada di depan mata. Ini juga menjadi bukti, Islam pasti akan menjadi rahmat bagi seluruh alam, siapapun akan merasakannya. Tak ketinggalan pihak keamanan yang sebelumnya menyiapkan kekuatan terbaiknya untuk menjaga keamanan dan ketertiban, bagi orang yang dengki mungkin terbersit dalam pikiran, mengapa aksi damai masih saja dijaga ribuan aparat. Husnudzan saja, semua ada untuk menjaga agar acara berjalan lancar dan aman. Ini pun terbukti. Peserta, polisi dan TNI semua bahu-membahu memberikan bantuan dan memudahkan peserta.
Yang tak kalah mengharukan adalah kecintaan umat Islam pada bendera tauhid, bendera Rasulullah, lambang persatuan umat. Jutaan bendera bertuliskan kalimat tauhid berkibar, bendera tauhid yang sebelumnya membuat heboh bangsa ini karena dibakar, dianggap sebagai bendera kelompok tertentu. Saat aksi bela tauhid, semua tanpa ragu mengibarkannya. Sekali lagi, hanya memuji kebesaran dan kemurahan Allah yang telah memberikan kesempatan bagi umat Islam di Indonesia untuk bersatu dalam satu pandangan, membela kehormatan bendera tauhid adalah kewajiban seluruh umat Islam.
Saat ini, tanggal 2 Desember 2018 sudah berlalu, berganti hari. Bukan berarti spirit aksi bela tauhid 212 juga berlalu begitu saja. Agenda 212 hanyalah awalan saja, masih ada tugas lain di hadapan seluruh umat Islam. Di Indonesia, umat Islam berhasil menyatukan komitmen untuk menguatkan ukhuwah, namun ukhuwah ini sebatas di satu negeri. Sedangkan umat Islam tak hanya di Indonesia. Masih banyak saudara sesama muslim yang tercerai berai, terusir, teraniaya, kelaparan hingga terlibat pada pertikaian. Muslim Rohingya masih tersiksa, pemukiman muslim Uighur semakin hancur, muslim Palestina terus dibombardir zionis Israel, muslim Yaman semakin terancam kelaparan, muslim Suriah masih terpecah belah. Dan tentu masih banyak lagi umat Islam yang belum bias menikmati rahmat Islam. Ini juga merupakan tanggung jawab muslim di Indonesiajuga muslim di seluruh penjuru dunia, karena muslim adalah saudara, ibarat satu tubuh, ibarat bangunan yang saling menguatkan.
Doa kita memang harus terus dilantunkan, bantuan harta juga bukan perkara yang boleh disepelekan. Akan tetapi itu semua belum cukup, belum menyelesaikan permasalahan umat Islam di berbagai negeri. Umat Islam membutuhkan kepedulian lebih, membutuhkan solusi tuntas, membutuhkan uluran kekuatan untuk memberikan perlindungan. Yaitu persatuan umat Islam dalam sebuah kepemimpinan. Menyatukan umat Islam dalam satu naungan kalimat tauhid. Memberikan seluruh potensi yang dimiliki demi saudara muslim di seluruh dunia. Ini bukanlah hal yang mustahil. Aksi 212 telah membuktikan, bahwa umat Islam bisa bersatu, bisa bersinergi satu sama lain, baik umat Islam pada umumnya maupun aparat yang jelas memiliki kekuatan nyata. Maka perjuangan selanjutnya adalah terus mendakwahkan kewajiban persatuan umat Islam, menyatukan yang wajib disatukan dan membiarkan apa yang memang boleh berbeda. Menyatukan umat Islam dalam satu kepemimpinan, yaitu khilafah, khilafah warisan Rasulullah yang diteruskan para sahabat dan generasi Islam setelahnya. Dengan khilafah yang dipimpin khalifah, umat Islam akan bersatu dan mempunyai pelindung karena imam atau khalifah adalah junnah, perisai yang akan membela seluruh umat Islam dan orang-orang yang tunduk pada kepemimpinan Islam.
Terakhir, perjuangan ini akan terus berlanjut, spirit membela kalimat tauhid harus terus berlanjut, menuju terajutnya ukhuwah hakiki seluruh umat Islam di dunia, menerapkan Islam kaffah, mewujudkan Islam sebagai rahmat untuk seluruh alam. Wallahu a’lam bishshawab.

Sunday, 2 December 2018

Akan Kemana Langkah Kaki Ini Berakhir?

Berjalan menuju Gelora 10 Nopember Surabaya
Muktamar Khilafah 2013



Pare – Kediri (tidak dalam satu waktu)
Menjelang perempatan Sambirejo, dari kejauhan sudah melihat lampu kuning menuju merah. Mengurangi kecepatan, namun ada yang mendahului dari kanan. Awalnya biasa saja, namun akhirnya penasaran. Seorang wanita dibonceng motor, terlihat santai banget, terlihat kakinya tidak menjuntai ke bawah sebagaimana biasa orang dibonceng, kakinya seperti terlipat, bersila. Dan akhirnya kepo, sedikit mendekat, lampu hijau menyala, masih kepo, berusaha menjaga jarak posisi di belakan motor yang bikin penasaran. Ternyata wanita tersebut tidak punya kaki, sudah gitu motor tidak jalan pelan lagi. Wanita tersebut mengandalkan tanggannya untuk pegangan, akhirnya terpisah di perempatan Gurah. Tidak tahu kemana wanita tersebut melanjutkan perjalanan. Perasaan naik motor tidak terlalu pelan juga, tapi tak bias mengejar laju motor yang membonceng wanita tersebut, kecepatanya memang di atas rata-rata, artinya wanita tersebut sudah terbiasa, tidak mengandalkan kaki untuk menjaga keseimbangan. Luar biasa.

Perempatan Paron menuju arah Pesantren, pertama kali melihat sesosok laki-laki tanpa kaki di tempat ini, wallahu a’lam apa yang sedang dilakukan, meski dulu di perempatan ini belok kiri jalan terus, sekarang belok kiri ikuti isyarat lampu, tetap saja tak bisa mengamati lebih lama, sudah lampu hijau. Sedikit kaget saja, terlihat santai meski tak punya kaki, meski badannya hanya separuh saja.

Pertigaan terminal lama menuju selatan, selalu mengambil tempat di kiri, sambil sedikit mencari ruang menuju ujung sebelum lampu lalin, mencari sela di antara kendaraan besar. Lebih sering dapat tempat di sekitar depan gang pertigaan masuk Banaran. Di situ ada warung, dan di situ pula sering melihat seseorang dengan tubuh bungkuk, ketika berdiri tak bisa tegak sempurna. Nah, kalo di sini, lampu merahnya lumayan lama, jadilah punya kesempatan tengok kanan-kiri mengamati suasana.

Memantau liputan seputar Aksi Bela Tauhid 212, ada beberapa yang memposting peserta dengan keterbatasan fisik namun semangatnya sangat luar biasa.

Apa yang dijumpai di Sambirejo, Paron ,Terminal Lama, dan di ABT 212 semuanya membuat diri ini berpikir. Mereka memang masih bisa bergerak kesana-kemari, namun tak bisa sebebas dan secepat orang yang mempunyai dua kaki sempurna. Tapi satu yang pasti, mereka tetap bergerak, mereka tidak diam di tempat, buktinya mereka ada di pinggir jalan atau di jalan, tidak di rumah saja. Maka, harusnya kita yang mempunyai dua kaki sempurna lebih semangat lagi daripada mereka yang diberi keterbatasan fisik, atau menunggu diuji dengan keterbatasan fisik baru menyadarinya? Yang pasti hisab atas orang yang punya kaki dengan yang tidak punya akan berbeda. Kaki kita akan dimintai pertanggungjawaban, sudah digunakan untuk apa saja. Mumpung masih ada kesempatan, mari bersama memperbaiki langkah kaki, semoga kaki kita digunakan untuk kebaikan di dunia, langkah kaki kita di dunia menentukan akhir langkah kita di akhirat.

Jadi apa yang harus dilakukan dengan kaki ini?
Untuk muslimah, pastikan ketika melangkah keluar rumah atau ketika berjumpa dengan nonmahram  kaki tertutupi, karena kaki termasuk aurat yang tak boleh diumbar. Abaikan cibiran sinis dari orang yang belum berilmu : sok suci, emang kakinya kenapa kok pakai kaos kaki, bikin ribet aja kemana-mana pakai kaos kaki dan sederet ungkapan yang harusnya tak terlontar.
Pastikan langkah kaki kita untuk kebaikan, bukan dihabiskan untuk kegiatan mubah atau bahkan haram.
Bersama dengan orang-orang saleh agar kaki kita terbawa untuk kesalehan juga. Menggunakan kaki untuk kebaikan merupakan salah satu cara untuk bersyukur atas nikmat Allah, insya Allah dengan begitu Allah akan menambah kenikmatan yang lainnya, yakinlah.

2013 Al Liwa' dan Ar Rayah hanya ada dalam acara HTI 
alhamdulillah saat ini sudah menjadi milik umat Islam


Pare, 2 Desember 2018

Persatuan Itu Tinggal Selangkah Lagi

#BelaTauhid212
#212BersatuDiBawahTauhid
#BenderaTauhidSatukanUmat



Alhamdulillah luar biasa, meski raga di Pare hati ini terus membersamai saudara-saudaraku yang mengikuti Aksi Bela Tauhid 212 di Jakarta.

Terharu dengan berbagai kisah mereka selama dalam perjalanan, Nampak jelas rona kebahagiaan dan kegembiraan. padahal ada harta yang telah mereka korbankan, ada tenaga dan waktu yang harus diberikan, namun tak ada balasan materi yang didapatkan, semua mempunyai satu tujuan, hadir dalam majelis dalam rangka mempererat persaudaraan dan menunjukkan pembelaan atas kalimat tauhid.

Suasana persatuan itu telah nampak jauh sebelum hari-H. Di perjalanan saling berbagi, salat berjamaah di stasiun, terminal, bahkan di atas kendaraan. Semua saling membantu, semua berusaha saling meringankan, meski awalnya tak mengenal, meski awalnya berbeda gerakan, berbeda ormas, semuanya merasa satu, sama-sama umat Islam.

Terharu pula ketika membaca reportase amatiran para peserta yang menyampaikan keikutsertaan non muslim, mereka non muslim namun ikut serta, mereka non muslim namun ikut memberi kemudahan. Benar-benar hanya bisa memuji Allah, karena hanya dengan kehendakNya sajalah semua ini terjadi.

Bahagia sekaligus bangga dengan sambutan masyarakat selama di perjalanan bahkan di Jakarta, seolah berlomba memberikan layanan terbaik untuk sesama saudara.
Tidak merasa takut karena aparat ada di mana-mana. Husnudzan mereka ada dalam rangka menjaga semua peserta.

Namun juga sedikit prihatin dengan berita yang beredar di media massa online, tuduhan dan fitnahan masih saja ada. Tuduhan murahan ABT 212 hanya demi mendukung paslon tertentu, hingga fitnahan menjadi massa bayaran, atau juga tuduhan kejam aksi yang ditunggangi ormas terlarang. Tidak apa, semoga pintu hidayah semakin terbuka untuk mereka.

Terlepas dari itu semua, persatuan umat semakin dekat. Dahulu aksi bela islam sukses menyatukan pandangan umat atas pentingnya kepemimpinan seorang muslim, dan kesadaran untuk membela Alquran serta ajaran Islam, dan saat ini kesadaran pembelaan terhadap kalimat tauhid, kalimat persatuan umat Islam juga semakin menguat. Insya Allah tinggal selangkah lagi menuju terwujudnya persatuan, maka bersabarlah dengan proses ini. Kembali luruskan niat, ini semua bukan demi kebanggaan, bukan semata demi unjuk kekuatan, namun ini semua demi menjalankan kewajiban, bersatu dalan naungan panji Rasulullah. Ini semua demi meraih ridha Allah, ikhlaskan dan tetap berada di jalan syariat. Sabar, pertolongan Allah semakin dekat, maka semakin mendekatlah kepada Allah, bukan malah mengabaikaNya.

Pare, 2 Desember 2018


Sambil memantau suasana stasiun Pasar Senen dari Pare
Terima kasih buat yang sudah kirim foto, sabar menunggu sang waktu, fii amanillah.

Friday, 30 November 2018

Merindukan Mantan

Sumber gambar : indozone. Id

Tak rela mantan bahagia seorang lelaki membunuh pacar mantan pacarnya
Tak tahan disakiti setelah putus pacaran bunuh diri
Karena sakit hati, foto mesra mantan pacar disebar di media social

Dan masih banyak lagi kisah sedih namun lebih tepatnya ironis, seputar permantanan. Wajar, sesuatu yang berawal tidak baik akan terus membuat perasaan tidak baik, karena pacaran adalah bentuk mendekati zina dan mendekati zina jelas haram hukumnya. Maka jalan satu-satunya untuk bisa melupakan mantan adalah dengan putus baik-baik, putus karena menginginkan hijrah, putus dalam rangka bertaubat. Jangan menikmati hubungan yang tak halal.

Memang tak mudah melupakan mantan, namun perasaan terhadap mantan adalah bagian dari naluri menyukai lawan jenis. Maka jika benar-benar ingin melupakan mantan, kembali mengingat karakter naluri, naluri itu munculnya karena ada rangsangan dari luar, naluri itu jika tidak dipenuhi tidak akan mengantarkan kematian, paling-paling hanya bikin gelisah.

Oleh karena itu, azam untuk melupakan mantan harus disertai dengan upaya untuk menghindari hal-hal yang bisa mengingat mantan, dan hal-hal yang membuka kenangan dan rasa rindu pada mantan. Ekstrimnya, lupakan, hapuskan ingatan tentang dia. Buang jauh-jauh semua hal yang bisa memunculkan rasa itu. Dan jangan sekali-kali menyebut namanya, delcon, block total. Tak perlu menyisakan sedikit memori, tak perlu menyimpan dalam ingatan, sepintas saja melihat fotonya atau sekadar namnya, tak menutup kemungkinan akan memunculkan bayangan. Dahulu sebelum mengenalnya semua baik-baik saja, begitu pula selanjutnya, akan kembali baik-baik saja.

Beda lagi jika sudah siap menuju pernikahan, halalkan saja. Atau terus yakin dan memohon kepada Allah Dzat yang maha membolak-balikkan hati, yakinlah jika jodoh pasti bertemu, jika tak jodoh ya tak akan bertemu, ikhlaskan.

Eh..eh…nulis ini karena ingat berita tentang bunuh diri gara-gara mantan, dan habis baca tentang seorang mantan sebuah ormas yang laris manis diundang untuk mengajak orang lain agar melakukan hal yang sama dengannya. Memang tidak ada hubungannya, tapi kata kuncinya tentang “MANTAN”.

Di sebuah situs berita memberitakan : Mantan anggota HTI mengajak para remaja agar meninggalkan ide khilafah. Ya Allah, jahat banget kan…
Khilafah itu warisan Rasulullah saw, masak iya mau dicampakkan. Dan setiap menjadi pembicara, mantan tersebut seolah bangga dan malah menjadikan statusnya sebagai mantan ormas dakwah sebagai sesuatu yang menjual agar sering diundang. Sudahlah, jika mantan maka lupakan saja, bukan malah sering menjadikan sebagai bahasan, bagaimana bisa melupakan mantan, bagaimana bisa move on?
Bukannya membuat orang lain simpati, bisa jadi malah membuat orang lain semakin penasaran, mengapa ormas tersebut terus dibicarakan, jangan-jangan memang mantan terindah yang seharusnya tidak ditinggalkan.

Dan juga melihat sebuah tayangan, upaya menghalangi aksi 212, menuduh aksi ditunggangi ormas terlarang HTI, mengatakan aksi 212 ajang kampanye khilafah yang bertentangan dengan Pancasila. Aduuh yang ini tambah jahat banget dech. Sudahlah HTI dicabut BHP nya masih saja dituduh macam-macam. Harusnya jangan sekali-kali mengakaitkan dengan HTI, jika begini bagaimana bisa masyarakat melupakan HTI jika terus disebut-sebut. Bisa-bisa malah membuat HTI diberi simpati, karena terus dikambinghitamkan. Jadi lupakan saja, jangan mengungkit-ungkit lagi, jika terus begini bikin semakin rindu saja sama mantan.

Atau…atau… sebenarnya mereka rindu berat dengan HTI?
Rindu dengan cerewetnya HTI yang mengingatkan kebijakan pemimpin yang dzalim
Rindu dengan pembelaan HTI terhadap  SDA yag terus dijarah asing
Rindu dengan solusi yang ditawarkan HTI
Tapi… ya sudahlah, mau dibilang apa saja, ini bukan masalah mantan terindah atau mantan yang menyakitkan, tapi ini adalah masalah ormas dakwah, dakwah adalah kewajiban. Bukan sebuah kebaikan menjadi mantan aktivis jamaah dakwah, mantan pelaku kebaikan jangan dibanggakan. Berdoa semoga istiqamah dalam dakwah, berdoa semoga menjadi mantan pelaku kemaksiatan, sudah bertaubat, dengan taubatan nasuha.

Pare, 30 November 2018

Wednesday, 28 November 2018

Karena Wanita Istimewa


Dipandang dari aspek kemanusiaan, pria  dan wanita mempunyai kedudukan yang sama di hadapan Allah, hanya derajat  ketakwaan yang membedakan. Namun dari aspek hak dan kewajiban ada hal-hal yang membedakan. Sama-sama wajib menutup aurat namun batasan aurat  pria dan wanita berbeda. Sama-sama wajib menuntut ilmu namun berbeda peran dalam ranah domestik rumah tangga. Dan masih banyak hal lain yang pengaturannya tidak sama antara pria dan wanita, bukan karena Islam diskriminatif namun memang Islam mengatur dengan aturan terbaik dan pasti cocok untuk karakter fitrah masing-masing, pria maupun  wanita.

Dalam rangka mengatur interaksi pria dan wanita, maka Islam juga mempunyai aturan. Apapun itu aturan ini adalah aturan yang terbaik, berasal dari Pencipta manusia, Dzat Yang Maha Tahu. Aturan tersebut di antaranya adalah larangan bagi wanita melakukan safar (dalam perjalan sehari semalam) tanpa mahram, menjadikan jamaah pria dan wanita berada dalam komunitas yang terpisah serta haramnya berkhalwat antara pria dan wanita yang bukan mahram. Ketentuan terakhir juga mempunyai konsekuensi dalam tempat-tempat khusus wanita harus berjamaah atau ditemani mahram. Misalnya saat dalam kendaraan pribadi, baik milik sendiri atau yang semisal ( carter offline maupun online). Secara sepintas terlihat tidak adil, mengapa pria seolah boleh sesuka hati namun wanita terlihat diatur dengan ketat. Akan tetapi sejatinya itu semua demi menjaga kehormatan wanita. Apalagi fakta saat ini dimana kebebasan begitu diagungkan, wanita bebas berbuat apa saja, diperbolehkan mengikuti apapun keinginannya. Maka bukan hal yang aneh jika pelecehan dan kekerasan terhadap wanita juga semakin meningkat, karena wanita seolah tak menghargai diri sendiri, bagaimana orang lain akan melindungi?

Secara logika, aturan ada untuk melindungi, begitu juga dengan syariat yang telah diberikan Allah dan RasulNya untuk para wanita, itu semua demi melindungi kehormatan wanita, karena wanita istimewa, karena wanita seharusnya dimuliakan. Maka ridhalah dengan semua aturan untuk kita, para wanita. Ikhlas melaksanakan aturan yang telah ditentukan, yakin inilah yang tebaik untuk kita.

Juga selayaknya wanita menempatkan dirinya dalam posisi yang mulia, tidak membiarkan dirinya “dinikmati” oleh orang-orang yang tidak halal. Menjaga interaksi dengan lawan jenis, menghindari campur baur laki-laki dan perempuan, tidak mengumbar aspek kehidupan pribadi, benar-benar menjaga kehormatan diri, menghindari berselfie maupun grupie hanya demi ingin diakui eksistensinya. Menjaga izzah dan iffah, bukan karena merasa sok suci, namun memang seperti itulah seharusnya. Bukan malah mengikuti gaya hidup wanita barat yang tak mau terikat dengan aturan. Dan yang terpenting adalah menyadari bahwa kita hidup semata untuk mengumpulkan bekal, bekal kehidupan hakiki, akhirat. Maka gelar tertinggi bagi seorang wanita hanya satu, menjadi wanita salehah.

Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita salehah (HR Muslim)

Pare, 28 November 2018


Monday, 19 November 2018

Tidak Hanya Sampah, Abu Pun Dibersihkan Dari Jalan Dakwah

Pasir Kelud, 2014


Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. Tetapi jika kamu menyimpang sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. Al Baqarah [2] : 208-209).

Hisab atas orang-orang yang lebih  mengetahui adalah hisab yang lebih berat, begitu pula hisab kepada aktivis pengemban dakwah Islam juga lebih berat dan lebih sulit dari pada umat-umat yang lain. Karena peringatan Allah atas orang-orang yang menyimpang setelah datangnya bukti nyata sangat keras. Maka seorang pengemban dakwah harus menyadari bahwa dia tidak boleh menyepelekan hal-hal syubhat apalagi menyepelekan kemaksiatan sekecil apapun. Dia harus membersihkan langkahnya, tidak hanya dari sampah  namun juga kotoran berupa debu.

Maka tak heran jika dalam sebuah jamaah dakwah, sebelum seseorang bergabung di dalamnya akan dipastikan tidak terlibat pada dosa besar. Tidak akan diijinkan seseorang bergabung dalam barisan jamaah ketika masih terlibat riba sekecil apapun jumlah ribanya, karena riba adalah salah satu dosa besar. Pun seseorang tidak akan dimasukkan dalam barisan dakwah ketika masih menjalin interaksi tidak halal. Tidak hanya berhenti di sini, orang-orang yang sudah masuk dalam jamaah pun akan terus diingatkan untuk terus membersihkan jalan dakwahnya dari abu yang mengotori, bahkan menghindari debu-debu dari abu yang kotor. Jalan dakwah ini harus bersih, pengembannya harus memastikan langkahnya tidak melanggar syariah, memastikan perilakunya sesuai dengan syariah dan segera membersihkan diri dari debu kotor dengan secepatnya bertaubat.

Sampah adalah kemaksiatan dan abu kotor adalah kemubahan. Maka tak layak seorang pengemban dakwah membiarkan diri menikmati abu kotor atau sekadar debu-debu dari abu yang kotor. Tak layak seorang pengemban dakwah disibukkan dengan kemubahan, mengedepankan perilaku mubah. Yang seharusnya dilakukan adalah fokus pada perjuangan dakwah. Fokus mendekatkan diri kepada Allah sembari terus memohon pertolongannya, fokus mengajak umat untuk mewujudkan tujuan dakwah, yaitu melanjutkan kehidupan Islam.

Menulis ini setelah membaca kumpulan tanya jawab Amir HT tentang Komunikasi Online Antara Laki-Laki Dan Perempuan, setelah membaca Pesan-pesan Menggugah Untuk Pengemban Dakwah : Waspadailah Perilaku Maksiat, Kemaksiatan Anda Berpengaruh Terhadap Jamaah Dakwah dan setelah diingatkan seputar tidak diijinkan seseorang yang terlibat riba bergabung dalam jamaah dakwah.
Semoga senantiasa menjadi pengingat, tidak hanya untuk menyelamatkan jamaah namun juga menyelamatkan diri ini dari balasan yang pedih di akhirat kelak.

Semoga menyadari bahwa sampah dan debu hanya akan membebani jamaah ini, maka pilihannya hanya satu, bersihkan debu-debu dari abu yang kotor dari jalan dakwah ini, tinggalkn kemaksiatan hindari menyibukkan diri dengan kemubahan.

Semoga kita terus bersabar di jalan dakwah ini hingga langkah dakwah berhenti semata karena Allah menghentikannya dengan datangnya ajal. Bersabarlah, karena pertolongan Allah untuk orang yang sabar di jalanNya sangatlah dekat.

Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.(QS. Ash Shaf [61] : 13)


Pare, 19 November 2018

Sunday, 18 November 2018

Hati- hati Berbuat Baik?


Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS Al Maidah ayat 2)

Suatu hari, dinihari membelah sunyinya malam. Menyusuri jalan berkelok yang menghubungkan Kediri dan Malang. Suasana gelap dengan jurang di pinggiran membuat kendaraan melaju pelan. Sesaat tiba di sebuah kelokan dengan jurang menganga di pinggir jalan, sorotan lampu mobil tertuju pada sesuatu, ada sepeda motor yang tergeletak di bibir jurang. Lampu dan mesin masih menyala, tak jauh, ada sesosok tergeletak dan tampak masih bergerak.  Inna lillahi, ada kecelakaan. Tak Nampak kendaraan lain, entahlah, tabrak lari atau kecelakaan tunggal.

Awalnya kendaraan kami memperlambat laju, namun sedikit demi sedikit menambah kecepatan dan akhirnya meninggalkan korban kecelakaan.

Sesak dada ini, kami tak berani menolong. Sang sopir yang sudah berpengalaman melanglang buana tidak mau berhenti. Sudah biarkan saja, jika menolong bisa-bisa akan mempersulit. Akan menjadi saksi berurusan dengan aparat, atau malah dituduh sebagai pihak yang mencelakai, karena tak ada saksi.

Dada bertambah sesak, kepala semakin pusing, sudahlah jalan membuat pening ada musibah tak mau menolon lagig. Segera mengirim pesan ke nomor kontak yang kerja di laka lantas di salah satu polres, menelpon salah satu radio yang rajin update kondisi lalu lintas. Semua tak merespon. Tak menyalahkan, memang saatnya istirahat. Setelah matahari terbit, baru ada respon. Namun tak bisa memberi informasi lengkap, TKP. Tidak hafal wilayah Malang dan keadaan yang gelap gulita, sulit menerka itu di daerah mana. Dan entahlah bagaimana nasib orang yang kecelakaan tersebut.

Ingatan melayang pada seseorang yang pernah hilang tanpa kabar, dan akhirnya ditemukan di sebuah RS, kecalakaan di malam hari di daerah yang sepi. Kartu identitas tidak sama dengan domisili tinggal, masuk RS dalam keadaan tidak sadar. Ditambah dengan buruknya pelayanan RS yang tidak mau mengambil resiko biaya dan tuduhan malpraktik, korban hanya diberi pertolongan darurat padahal ada tindakan operasi besar yang seharusnya dilakukan.
Bagaimana jika yang tadi dujumpai juga bernasib sama? Hanya bisa beristighfar dan berdoa, semoga segera mendapatkan pertolongan.

Dan bukan sekali merasa takut menolong. Seringkali saat berkendara sendiri, melintasi persawahan yang tak berujung, jauh dari kampung, menjumpai orang yang berjalan kaki. Jelas hendak ke tempat di ujung persawahan, dan pasti akan menempuh jarak yang tidak jauh. Sempat terpikir untuk berhenti dan menawari tumpangan, namun seringkali mengurungkan niat, hanya berani ketika yang terlihat secara fisik jelas. Jelas membutuhkan, memakai seragam sekolah, atau yang sepertinya tidak akan mampu berbuat anaiaya. Entahlah, standar sepihak yang sangat dipengaruhi dugaan dan asumsi. Tak berani menolong sembarang orang, khawatir malah dirugikan, takut jika malah dicelakai. Padahal belum pernah mengalami, hanya bermodal informasi yang bertebaran akan maraknya kejahatan di pinggir jalan. Enggan memberi kepada peminta karena pernah tau fakta pengemis yang berpura-pura, padahal belum tentu yang lain berperilaku sama

Menolong dalam kebaikan dan takwa, jelas sekali perintah dari Allah SWT. Rasulullah juga pernah bersabda bahwa seseorang yang memudahkan urusan saudaranya, menghilangkan kesulitan pada saudaranya maka akan dimudahkan dan dihilangkan kesulitannya di akhirat kelak, bukan balasan yang remeh temeh, namun balasan luar biasa di akhirat. Namun fakta berbicara lain, sistem hukum yang karut-marut, kriminalitas yang sering terjadi, pelayanan aparat yang tak sepenuh hati, seringkali membuat diri ini mengurungkan niat untuk sekadar membantu orang lain.

Apalagi dalam sistem sekular dan penguasa yang dzalim, keadaan bisa berbalik. Yang baik dikriminalisasi yang buruk disanjung setinggi langit, ketika standar yang digunakan sebatas kepentingan dan materi. Lihat saja yang mudah terindera, perlakuan kepada muslimah yang berkerudung lebar atau bercadar, seolah pantas dicurigai sebagai penebar kejahatan. Sedangkan perempuan pengumbar aurat dibiarkan leluasa tanpa hukuman. Atau kasus hukum yang tebang pilih. Semua yang berseberangan dengan penguasa, rakyat miskin yang tak berharta, pegawai yang tak punya kuasa begitu semena-mena diperlakukan di hadapan hukum. Sedangkan penista agama, pengujar kebencian lambat kasusnya ditangani atau malah menguap begitu saja. Asal berkoar-koar mereka Pancasila, mereka berteriak NKRI harga mati, meski faktanya korupsi, tak mengapa. Asal mendukung penguasa.

Penguasa yang dzalim. Dzalim adalah lawan dari adil, ketika adil bermakna melaksanakan segala sesuatu sesuai timbangan syariat maka dzalim sebaliknya, tidak menggunakan syariat sebagai timbangan, semena-mena, menggunakan hukum sesuai hawa nafsu. Sistem yang individualis ini seolah berpesan kepada kita, jangan berbuat baik. Urusi saja kepentingan sendiri. Jangan mencampuri urusan orang lain. Suasana keimanan sangatlah jauh, visi hingga ke akhirat tak terbersit dalam benak, yang ada adalah kepentingan dunia semata. Dan inilah karakter ideology kapitalisme, akidahnya secular, liberalism menjadi rujukan.

Memang membutuhkan waktu untuk memahami batilnya sistem kapitalisme, memang membutuhkan waktu untuk menyadari fakta rusaknya kapitalisme, namun langkah itu harus diawali dengan komitmen untuk mengkajinya secara khusus, mengkaji sistem Islam dan sistem lain, agar semakin paham apa yang seharusnya dilakukan, agar bisa memulai langkah perubahan.


Pare, 18 November 2018

Saturday, 17 November 2018

Membendung Kerusakan Moral Akibat Media Digital

Perkembangan teknologi, salah satunya media digital, seharusnya bisa mengantarkan manusia kepada peradaban mulia. Dengan kemajuan teknologi, semua menjadi mudah, akses informasi begitu cepat. Maka seharusnya peluang untuk mencetak manusia unggul di segala bidang pun akan semakin terbuka lebar.

Namun faktanya media digital di bawah cengkeraman sistem kapitalistik sekular, justru telah merusak generasi. Tak bisa dipungkiri, media digital saat ini telah membuat generasi menjadi bermental instan, generasi yang tidak mau berjuang demi sebuah cita-cita mulia. Mereka juga generasi yang rata-rata menginginkan kehidupan yang serba bahagia, penuh dengan hura-hura, mementingkan ekspresi pemuasan diri daripada berpikir panjang akan masa depan. Hingga wajar jika saat ini semakin mudah dijumpai dampak buruk pemanfaatan media digital.

Sebut saja di Surabaya, di mana pernah mencuat kasus pelacuran online dengan remaja sebagai objek yang dijual. Di internet semakin bertebaran video porno yang melibatkan siswa atau pun mahasiswa, baik mereka sebagai pelakunya ataupun sekadar sebagai pengunggah dan penikmat. Apalagi di media sosial, akun-akun pribadi dipenuhi dengan foto selfie tanpa makna, foto selfie mengumbar aurat, mengumbar kemesraan bersama pacar, dan bahkan tak sedikit yang berani berbagi konten porno. Dan terakhir, yang memprihatinkan kasus kehamilan belasan siswa SMP di Lampung.

Media digital pun tak jarang menjadi pemicu tawuran pelajar hanya karena terprovokasi status di media sosial. Bahkan grup-grup yang merusak moral juga semakin tumbuh subur. Grup LGBT, grup konten porno, grup pelacuran online dan grup lain yang serupa.

Tentu apa yang dilakukan para remaja tersebut bukan merupakan bagian kurikulum di sekolah tempat mereka belajar. Melainkan akibat kemudahan akses konten negatif di media digital, atau juga akibat lemahnya daya saring remaja terhadap informasi yang didapatkan. Mereka terlampau terbiasa menelan mentah-mentah informasi yang diterima.

Media, dalam pandangan Islam adalah bagian dari madaniyah yang bersifat umum karena merupakan bagian dari produk kemajuan sains atau kemajuan teknologi. Selama tidak dipengaruhi oleh hadlarah atau peradaban yang bertentangan dengan Islam, maka sah-sah saja dimanfaatkan oleh seorang muslim. Fatalnya, media digital yang saat ini menjadi ikon kemajuan dan menjadi tolak ukur kriteria remaja gaul sarat dengan hadlarah barat.

Media digital telah dimanfaatkan Barat untuk mencengkeram generasi umat Islam dan mengokohkan eksistensi kapitalisme di muka bumi. Media digital menjadi sarana yang efektif untuk mengkampanyekan gaya hidup liberal, hedonis dan individualistis. Tak heran jika pergaulan bebas semakin meningkat seiring dengan peningkatan pemanfaatan media digital oleh generasi.

Lihat saja, remaja saat ini dapat dengan mudah memperoleh semua informasi baik dan buruk melalui media digital. Gencarnya penyampaian pemikiran dan gaya hidup ala Barat disambut dengan suka cita oleh para remaja dengan menganggapnya sebagai bagian dari gaya hidup modern. Tanpa sadar para penikmat media digital telah masuk perangkap Barat, larut dengan ide-ide kebebasan.

Tak bisa dipungkiri, penguasaan Barat atas media digital merupakan salah satu strategi untuk menancapkan ide-ide mereka ke dalam benak kaum muslimin, terutama para remaja yang sedang semangat mencari jati diri dan mengekspresikan eksistensi diri. Dengan media digital mereka bisa mendapatkan apa saja dan menyebar apa saja yang dianggap berperan untuk mencuatkan eksistensi mereka. Bahkan, tak jarang, ada remaja yang menyengaja melakukan tindakan tak bermoral hanya demi ingin menjadi viral yang akhirnya terkenal. Mereka telah menghalalkan cara yang tidak lagi dianggap tabu selama apa yang diinginkan bisa terwujud. Inilah yang menjadi tujuan Barat ketika menguasai media digital dengan ide mereka.

Kebebasan semakin membuat remaja kehilangan kendali, mereka berasumsi semua boleh dilakukan. Aturan agama sama sekali tidak menjadi pertimbangan. Realita telah gamblang, betapa banyaknya remaja putri berkerudung namun seolah santai berzina. Mereka tanpa malu mengumbar kemesraan dan berzina di tempat umum. Ini sesuai target Barat, yakni mencetak generasi sekular. Tak ayal, mereka pun menjadi generasi beragama namun tidak sudi mengikuti aturan agama. Bahkan menganggap terikat syariat adalah bentuk kekolotan, ketinggalan jaman.

Mereka juga menjadi generasi yang bangga mencampakkan aturan agama sembari menjadi pelaku kemaksiatan. Buktinya, selalu ada rekaman perbuatan tak pantas yang dibuat sendiri oleh pelakunya dan disebar ke media. Benar-benar pikiran remaja seperti itu sudah rusak, urat malunya sudah putus. Yang menjadi standar kesenangan hanyalah terpuaskannya nafsu mereka.

Remaja juga kalangan yang begitu cepat menjiplak gaya hidup ala Barat, meski masuk lewat tayangan yang dikemas dalam gaya hidup Asia, ala Korea misalnya. Remaja begitu menikmati menghabiskan waktu dengan berselancar di dunia maya daripada melakukan ibadah yang ringan dan mudah semisal membaca Al-Quran dan menghadiri kajian Islam.

Demikianlah, jika kondisi-kondisi ini terus dibiarkan, tidak dicegah atau mencari solusi tuntasnya, maka kerusakan moral akibat pengaruh media digital yang telah dimanfaatkan Barat akan semakin meluas. Jika tidak segera diselesaikan, masalah ini akan menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja, menghancurkan peradaban manusia. Oleh karena itu harus ada upaya serius untuk membendung kerusakan ini.

Dalam hal ini, tentu tidak dengan jalan mengambil solusi Barat, solusi ala kapitalisme. Secara logika, Barat pasti tidak ingin cengkeraman mereka terlepas begitu saja, tak mungkin Barat akan memberikan solusi untuk menyelamatkan generasi umat Islam. Karenanya, hanya dengan kembali pada pandangan Islam saja semua akan bisa tuntas diselesaikan.

Islam tidak anti dengan kemajuan, Islam tetap menjadikan media sebagai sarana pendukung dalam kehidupan. Tentu bukan sarana untuk bermaksiat, namun sarana untuk menjadikan manusia semakin taat.

Dalam Islam, media adalah sarana efektif untuk menguatkan akidah yaitu dengan menjadikan media untuk menyebarkan informasi yang sesuai dengan aturan Allah SWT, media juga menjadi sarana untuk mencerdaskan umat. Dengan kekuatan akidah dan pencerdasan, umat akan semakin paham akan aturan Allah, maka mereka juga akan semakin mudah beramal berbekal ilmu.

Media selayaknya menjadi sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah bukan malah semakin membuat lalai dari mengingatNya.
Oleh karena itu, ada banyak hal yang bisa dilakukan umat Islam untuk membendung kerusakan moral akibat pengaruh media digital.

Secara individu, wajib senantiasa mengaitkan setiap perbuatan dengan hukum syara’, mendasarkan semua aktivitas berdasarkan tuntunan syara, bukan dengan menuruti hawa nafsu belaka. Memanfaatkan media sebagai sarana untuk menambah ilmu dan mendekatkan diri kepada Allah, karena semakin maju teknologi akan semakin mudah pula beribadah. Mudah mencari lokasi masjid, mudah mengakses kitab-kitab karya ulama, mudah bersedekah dengan transaksi aplikasi online, mudah membuat janji silaturahim, mudah menemukan kajian keislaman, dan beribu kemudahan lain yang bisa dimanfaatkan oleh individu. Namun itu semua juga membutuhkan modal kuatnya akidah dan bekal pemikiran Islam, dan jika saat ini belum terwujud suasana keimanan, maka menjadi tugas bagi pengemban dakwah untuk terus menguatkan akidah umat dan menyampaikan pemikiran Islam.

Dan yang tak kalah pentingnya adalah peran negara. Negara adalah pihak yang mempunyai kekuasaan dan kekuatan nyata untuk membuat kebijakan atas warga negaranya. Konten negatif di media digital akan dengan sangat mudahnya dikendalikan oleh negara. Penyediaan informasi positif juga akan mudah tersebar jika negara menggunakan kewenangannya. Dengan kekuatan hukumnya, negara akan memberi sanksi pihak-pihak yang mencoba memanfaatkan media digital untuk tindakan kriminal. Namun negara yang bisa menerapkan kebijakan tersebut, lagi-lagi bukanlah negara yang dikelola berdasarkan arahan Barat, yaitu negara kapitalis sekular.

Negara yang bisa membendung kerusakan moral akibat media digital dan membalikkan keadaan menjadikan media digital untuk mewujudkan manusia mulia yang dihiasi sikap takwa, adalah negara yang menjadikan Islam sebagai landasan dalam menetapkan sebuah kebijakan. Menjadikan aturan Allah dan Rasul-Nya sebagai pijakan. Dengan begitu, tidak hanya moral generasi yang terselamatkan, namun negara juga bisa mendakwahkan Islam ke seluruh penjuru dunia dan akhirnya terwujudlah Islam sebagai rahmat untuk seluruh alam.

Tuesday, 13 November 2018

Berjamaah Hingga Akhir Hayah



Berusaha menahan diri untuk tidak terbawa suasana, sengaja tidak ikutan share dan komentar, bukan karena tak peduli. Namun masih saja galau tingkat dewa ketika ada kabar duka yang tidak disangka. Merasa begitu cepatnya meninggalkan dunia. Ah..emang ada kabar duka yang tidak mendadak? Emang ada kematian yang dikabarkan sebelum nafas dicabut? Ya, tidak ada. Namun serasa masih terkaget-kaget dengan berita kematian padahal yang hidup pasti mati, padahal mati itu pasti.

Memang tidak mengenal dengan sangat dekat, akan tetapi masih ingat dengan forum terakhir bersamanya, sekitar  Dzulhijjah 1439 (lebih mengingat bulan hijriyahnya karena saat itu makan siangnya masih tak jauh dari menu daging kurban, saya sih gitu orangnya, ingatnya makanan melulu). Ingin mengingat yang ringan saja dulu.

Ceritanya  saat berforum, saya ada di bagian depan Mbak Isna di belakang. Forum santai tetapi bahasannya serius. Tiap peserta sudah diberi kotak konsumsi kue, tetapi panitia juga menyediakan camilan di piring-piring. Karena suguhan makanan hanya di depan, jadilah barisan belakang tidak bisa mengambil secara langsung makananan yang di piring. Kalau saya nggak usah ditanya, dimana ada makanan di situlah saya berada, he.he..just kidding. Mbak Isna sudah dalam keadaan hamil tua, masih energik, termasuk juga masih ngemil ini –itu. Jadi saat saya ambil makanan dia  dan teman yang disamping  ( soulmate dalam tim) bilangnya : “ Mbak mau juga…minta tolong ambilkan!” Jadilah saya tester, “ini rasanya begini mau juga?”, “ Ini rotinya kurang begini diambilkan tidak?”, "Ini enak lhoo...nih habiskan!". Bla…bla.. Jangan heran ya… saya itu bukan ahli masak-memasak tapi kalo ada makanan yang kurang imbang rasa dan bumbunya sepertinya masih tau, ini namanya pengkritik yang aslinya jauh dari kualitas yang dikritik.

Bulan berikutnya sudah tidak bertemu, soulmate nya yang mewakili, bulan berikutnya lagi soulmatenya sudah resmi menggantikan posisi Mbak Isna, dan ternyata posisi itu tergantikan selamanya.

Ya, kami dipertemukan Allah dalam suasana berjamaah dalam rangka menguatkan dakwah (bismillah semoga benar-benar menguatkan dakwah). Dakwah bersama jamaah, wajib atas laki-laki maupun perempuan, saat sehat maupun sakit. Namun tetap berjalan sesuai dengan koridor syariah. Dakwah berjamaah adalah salah satu aktiitas public  bagi seorang muslimah, maka tentu saja pelaksanaannya mempunyai rambu-rambu tersendiri. Di antaranya adalah tidak mengabaikan peran domestic dan keluar rumah dengan tetap terikat pada hukum syara’. Tidak ada alasan meninggalkan dakwah hanya karena membenturkan pada kewajiban domestic, yang seharusnya adalah mengatur semuanya, menyeimbangkan dan memastikan semua amanah baik di ranah domestic ( wanita sebagai al um warabbatul bait) dan ranah public bisa dijalankan  tanpa mengeleminasi salah satunya.

Bagi muslimah, ketika ada kepentingan di ranah rumah tangga tentu akan menjadi proiritasnya, namun bukan berarti ranah domestic melalaikan amanah di ranah public. Dan itu pula yang terlihat dari Mbak Isna, memang sesaat memindahkan amanah namun bukan berarti mengabaikan amanah, untuk sesaat ada yang harus diprioritaskan dengan tetap menjalankan aktivitas dakwah bersama jamaah.

Siapa yang menyangka, ternyata Allah berkehendak lain, Allah menjadikan amanah itu sebagai amanah terakhir  Mbak Isna, dan insya Allah akan selalu mengenangnya sebagai bagian dari tim jamaah dakwah, karena hingga akhir hayatnya Mbak Isna masih memegang amanahnya meski sementara diwakilkan, dan pastilah Allah Yang  Maha Tahu. Tidak ada amalan yang sia-sia di hadapan Allah ketika kita menjalankannya sesuai dengan syariah dan ikhlas.

Bersama jamaah, semuanya jadi indah. Saling melengkapi, membantu, memberi masukan dan meringankan. Bersama jamaah amanah menjadi lebih mudah. Maka tak selayaknya kita berlepas diri dari jamaah, sabarlah bersama jamaah. Bisa jadi kita akan menemui orang yang yang  tak cocok di hati, terkadang merasa berat dengan amanah, terkadang ingin mengistirahatkan diri. Tak apa, karena memang itu jamaah manusia bukan malaikat yang sempurna. Akan tetapi tetaplah bersabar, tetaplah istiqamah, tetaplah mengingatkan dalamkebaikan, tetaplah bersama jamaah, jangan melepaskan diri dari jamaah. Biarlah ajal yang mengeluarkan kita dari jamaah. Seperti Mbak Isna, tetaplah berjamaah hingga akhir hayah.

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. ( QS. Ali Imran ayat 104)



Pare, 13 November 2018

Monday, 22 October 2018

Serahkan Pada Ahlinya




Masih jam 9, ada janji jam 9.30.masih cukup waktu untuk isi bensin motor dulu.

SPBU ramai sekali, antrian lumayan panjang. Masih cukup waktu, tetap ikut antri.  Di depan masih ada satu antrian, siap-siap. Buka jok, susah. Posisi kunci tak bergerak, jok juga tak bergeming. Hingga antrian di depan selesai dan geser ke depan, hingga dibantu petuga SPBU, nihil. Jok tetap tak bisa dibuka. Ya sudah, bensin masih cukup, menuju bengkel langganan dekat rumah. Ternyata tidak bisa, bukan keahliannya katanya. Disarankan ke tukang kunci. Mengingat dengan keras dimana tukang kunci terdekat. Tidak ada, memang harus ke Pasar Pare.

Alhamdulillah buka, menyampaikan keluhan, dan tukang kunci bilang  : “ Selangkung mbak.” ( ongkosnya 25ribu)

Mengiyakan saja, lha saya diberi uang lebih dari itu juga belum tentu berhasil memperbaiki. Makanya saya itu jarang banget dan hampir tidak pernah menawar sesuatu. Ga bisa dan sering ga tega.

Mulailah tukang kunci bekerja, mengambil beberapa alat bantu, sekitar kunci dipukul-pukul. Khawatir juga sih, jangan-jangan malah rusak. Tapi santai sajalah, mereka lebih ahli. Jok bisa dibuka, sedikit bongkar dicari akar kerusakannya, diperbaiki, diberi pelumas coba beberapa kali sudah bisa, lancar. Beberapa bagian yang dibongkar dipasang lagi. Sekitar 30 menit, sudah beres. Nyoba beberapa kali buka tutup, Alhamdulillah sudah tidak ada masalah. Sebelum pulang ada yang datang juga ke tukang kunci, motornya stang terkunci. Meninggalkan tukang kunci, sudah tidak minat ke SPBU lagi, harus muter-muter dan lewat area upacara Hari Santri, pasti macet, juga belum tentu bensin cukup. Beli bensin botol, lumayan mahal. Dan beneran, sekitar Stadion Canda Bhirawa macet total.

Jadi kata kunci hari ini adalah : SERAHKAN PADA AHLINYA

Memang masalah kunci macet penyelesaiannya tidak terlalu rumit, namun memerlukan peralatan khusus, perlu bongkar pasang. Memperbaikinya cuma sebentar tapi bongkar pasangnya yang butuh keahlian. Bongkar saja mudah, pasangnya yang kadang susah

Jadi ingat pernah bongkar setrika, kipas angin Alhamdulillah bisa mengembalikan. Pernah juga bongkar kalkulator, karena cari buku petunjuknya belum ketemu, membuat  gambar kalkulatorsecara manual, posisi tombol, biar ketika mengembalikan tidak salah pasang. Tapi tetap saja lama banget.

Dan satu permasalahan yang saat ini sedang hangat, pilpres 2019. Memilih pemimpin bukan masalah sepele, sangat menentukan setidaknya kebijakan 5 tahun ke depan. Maka harus serius dengan calon yang ada. Pemilu 2019 nanti agak lebih mudah menganalisis untuk mmeutuskan siapa yang lebih layak menjadi pemimpin negeri ini, terlepas dari ketidaksepakatan dalam system suksesi pergantian pemimpin yang sebenarnya juga tidak akan banyak berpengaruh pada perubahan system, harus tetap bijak mempertimbangkan.

Paslon yang satu sepertinya lebih mudah untuk dinilai karena petahana, dan sudah melihat hasil kerjanya minimal melihat rekam jejak kebijakannya 4 tahun ke belakang. Dan itu tidak bisa ditutupi, begitu nyata di depan mata, kecuali bagi orang-orang yang mengedepankan cinta buta.
 Sedangkan calon lainnya memang belum bisa dinilai kinerjanya, jadi memang belum bisa memberi banyak kritikan hasil kerjanya.
Secara pribadi mempunyai kriteria yang akan menjadi pertimbangan.

Haram pilih pemimpin yang gagal mengurus rakyat. Keledai saja tidak akan jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Maka tinggal menelaah, apakah petahana yang ada sukses mengurus rakyat ?

Haram pilih pemimpin yang khianat dan ingkar janji sebagaimana difatwakan MUI. Anak kecil saja tahu, khianat dan ingkar janji adalah ciri dari orang munafik. Masak mau dipimpin orang munafik? Maka telaahlah kebijakannya, sudahkah sesuai dengan janjinya?

Haram pilih pemimpin represif anti Islam. Bagaimana mungkin muslim mempercayakan tampuk amanah kepemimpinan kepada orang yang seenaknya mencabut BHP ormas dakwah? Nekat melanggar pakem konstitusi demi melampiaskan kemarahan karena jagonya keok di pilkada. Memanfaatkan segelintir orang untuk mempersekusi ulama, cepat ambil tindakan saat umat Islam bergerak, namun begitu lambat ketika Islam dihinakan.

Haram pilih pemimpin yang antek asing dan aseng. Tinggal buka mata lebar-lebar, seberapa banyak SDA negeri ini semakin terkuras oleh asing, bagaimana IMF semakin menjerat dan menjerumuskan negeri ini ke kubangan riba yang begitu hina. Dan seberapa besar cengkraman aseng di negeri ini, membangun infrastruktur namun dalam bayang-bayang aseng.

Jadi, apakah yang saat ini gagal mengurus rakyat, ingkar janji dan khianat, represif anti Islam, begitu memihak pada asing dan aseng layak disebut sebagai AHLI ?

Ditanyain BPJS ngeles, katanya rindu didemo malah tak jantan menghadapi gebuk sana-sini, katanya agama tak boleh dicampuradukkan dengan politik malah memanfaatkan umat, rela mengeluarkan kocek demi acara tak penting hingga jago acting sampai sewa  pemeran pengganti, memuji jago ngegame yang bikin anak kecanduan. Pemimpin yang mempunyai menteri segala urusan. Dan lain sebagainya

Keputusan kembali pada diri kita, namun satu yang pasti, akhirat itu pasti ada, semua keputusan kita di dunia pasti ada balasannya.

Dan yang masih percaya dan ingin mendapatkan syafaat Nabi saw, masih memposisikan Baginda Rasul sebagai satu-satunya teladan terbaik, mari merenungkan beberapa pesan beliau berikut ini :

"Sebaik-baiknya pemimpin kalian ialah orang-orang yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian, juga yang kalian mendoakan kebaikan untuk mereka dan mereka pun mendoakan kebaikan untuk kalian. Sedangkan seburuk-buruk pemimpin kalian ialah orang-orang yang kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, juga yang kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian." (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya:
 (1) pemimpin yang adil,
 (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh,
 (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid,
 (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya,
 (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Aku benar-benar takut kepada Allâh.’
 (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta
 (7) seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.” (HR. Bukhari, no. 1423 dan Muslim, no. 1031)

 Rasulullah saw bersabda,” Aku mengkhawatirkan atas diri kalian enam perkara : kepemimpinan orang bodoh, jual beli hokum/pemerintahan, banyaknya polisi, pemutusan tali silaturahmi, orang muda yang tumbuh menjadikan Alquran layaknya nyayian, penumpahan darah ( HR Ahmad, Ibnu Abi Syaiban, Ath Thabarani)

Pare, 22 Oktober 2018

Friday, 12 October 2018

Guru Honorer Sampai Kapan Disia-sia?


Aksi para guru honorer semakin meluas di berbagai wilayah Indonesia, terutama di saat pendaftaran CPNS semakin dekat. Tuntutan mereka hampir sama, memprotes kebijakan penghentian pengangkatan guru PNS melalui jalur guru honorer dan meminta kejelasan posisi mereka. Kebijakan pemerintah yang tidak mengangkat guru PNS dari jalur honorer dianggap sebagai kebijakan yang dzalim, para guru honorer yang telah mengabdi hingga puluhan tahun seolah tidak dianggap keberadaannya, hanya karena ada peraturan teknis yang membuat para guru tersebut tidak boleh menjadi PNS. Tak ayal, aksi para guru honorer ini mengganggu proses mengajar di sekolah. Memang ironi, predikat pahlawan tanpa tanda jasa seolah dipahami sebagai profesia yang boleh disia-sia.

Mengapa guru honorer dan guru swasta begitu banyak bekerja namun tanpa perhatian serius? Padahal amanah mereka sama dengan guru PNS. Jawabnya cukup sederhana, karena dalam sistem kapitalisme, pendidikan bukanlah ladang basah untuk menghasilkan kekayaan. Bahkan dengan jahatnya, kapitalisme memanfaatkan pendidikan sebagai mesin pencetak buruh-buruh terdidik.

Pertimbangan untung rugi mengeluarkan dana besar untuk pengembangan pendidikan masih menjadi dasar kebijakan, maka wajar jika pemerintah dengan mudahnya mengabaikan nasib para guru yang merupakan salah satu komponen terpenting dalam penddidikan. Guru terus diperah untuk terus berada di sekolah dengan beban kerja yang melimpah namun tidak imbang dengan output pendidikan. Memang  benar, siswa berada cukup lama di sekolah, namun ternyata keluaran sekolah tidak otomatis menjadi manusia yang siap mengarungi kehidupan berbekal ilmu yang diperoleh di sekolah. Lihat saja, berapa banyak lulusan SMA yang siap berkarya mandiri berbekal ide cemerlang dibandingkan dengan lulusan SMA yang masih bingung akan kemana setelah lulus. Dan jika terjun ke dunia kerja, peluangnya hanya menjadi pegawai rendahan atau buruh saja. Karena untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi mereka harus berpikir seribu kali lagi.
Kembali pada masalah guru honorer, kebijakan pemerintah yang hanya berorientasi pada materi lah yang menjadi akar masalah buruknya perlakuan kepada guru. Guru tidak dianggap sebagai posisi mulia hanya karena tidak bisa menjadi mesin pencetak uang. Ini memang menjadi ciri khas dari sistem sekular. Dimana penghargaan terhadap manusia hanya berdasar pada banyaknya materi yang dihasilkan. Pandangan ini sangat jauh berbeda dengan pandangan Islam. Islam menjadikan pendidikan sebagai pilar peradaban mulia. Pendidiakn adalah sarana untuk mencetak generasi berkepribadian tangguh mewujudkan peradaban manusia yang sesuai dengan penciptaannya. Maka tak heran jika Islam juga menempatkan guru sebagai sosok yang sangat mulia, menempatkan guru sebagai arsitek peradaaban. Pandangan ini juga berpengaruh pada perlakuan Islam terhadap para guru. Dalam sistem Islam, negara akan memberikan perhatian yang khusus dalam bidang pendidikan, termasuk pula memperhatikan nasib para guru. Guru terus difasiltasi untuk meningkatkan kualitas diri, guru dimotivasi untuk meningkatkan kinerja dan guru dijamin kesejahteraannya. Itu semua karena guru adalah sosok mulia, manusia berilmu pencetak generasi penerus peradaban.
Maka jelas sudah, guru terutama honorer akan terus disis-sia selama negeri ini masih berpijak pada sistem kapitalis sekular. Gelar pahlawan tanpa tanda jasa hanya predikat pelipur lara, selebihnya mereka terus diminta bekerja tanpa dipedulikan kesejahteraannya, mereka terus diminta bersaing dengan profesi lain yang seharusnya tidak bisa disamakan. Karena tujuan pendidikan bukanlah untuk mencetak generasi penghasil materi, namun pendidikan bertujuan untuk mencetak generasi mulia pengukir peradan nan mulia juga. Oleh karena itu, untuk mengakhiri permasalahan yang melingkupi guru honorer, permasalahan yang dari dahulu seolah tak berujung, hanya satu solusinya, meninggalkan sistem sekular yang tidak memanusiakan guru honorer, mengakhirinya dan beralih pada sistem Islam. Hanya dengan sistem Islam manusia terutama guru akan kembali ditempatkan pada posisi mulia, karena aktivitas mendidik dan memberi ilmu adalah posisi yang istimewa dalam pandangan Islam.
Profesionalitas dan Kesejahteraan Guru dalam Nuangan Khilafah Islamiyah

Guru dalam Negara Khilafah Islamiyah mendapatkan penghargaan yang tinggi dari Negara termasuk pemberian gaji yang melampaui kebutuhannya. Diriwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah, dari Sadaqoh ad-Dimasyqi, dari al-Wadl-iah bin Atha; bahwasanya ada tiga orang guru di madinah yang mengajar anak-anak, dan Khalifah Umar bin Khaththab memberi gaji lima belas dinar (1 dinar = 4,25 gram emas; 15 dinar = 63.75 gram emas; bila saat ini harga 1 gram emas Rp 200rb, berarti gaji guru pada saat itu setiap bulannya sebesar Rp 12.750.000).  Subhanallah, dalam sistem Khilafah para guru akan terjamin kesejahteraannya dan dapat memberi perhatian penuh dalam mendidik anak-anak muridnya tanpa di pusingkan lagi untuk mencari tambahan pendapatan. 
Ternyata perhatian kepala negara kaum muslimin (Khalifah)bukan hanya tertuju pada gaji para guru dan biaya sekolah saja, tetapi juga sarana lainnya, seperti perpustakaan, auditorium, observatorium, dll.  Sarana dan prasarana pendidikan merupakan media yang digunakan untuk melaksanakan program dan kegiatan pendidikan.  Setiap kegiatan pendidikan harus dilengkapi dengan sarana-sarana fisik yang mendorong terlaksananya program dan kegiatan tersebut sesuai dengan kreativitas, daya cipta dan kebutuhan. Sarana itu dapat berupa buku-buku pelajaran, bangunan gedung sekolah/kampus, asrama siswa, perumahan staff pengajar/guru, perpustakaan, laboratorium, toko-toko buku, ruang seminar-auditorium tempat dilakukan aktivitas diskusi, majalah, surat kabar, radio, televisi, kaset, komputer, internet, dan lain sebagainya.  Semua sarana terebut diberikan secara cuma-cuma.
Sangat jelas adanya jaminan profesinalitas dan kesejahteraan guru dalam naungan khilafah Islam.  Selain mereka mendapatkan gaji yang sangat besar, mereka juga mendapatkan kemudahan untuk mengakses sarana-prasarana untuk meningkatkan kualitas kemampuan mengajarnya.  Hal ini akan menjadikan guru bisa fokus untuk menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan pencetak SDM yang dibutuhkan Negara untuk membangun peradaban yang agung dan mulia. Hanya dengan Khilafah Islamiyah semata problematika pendidikan termasuk memelihara Idealisme guru dapat terlaksana dengan baik dan sempurna.

Jadi, sampai kapan guru honorer disia-sia?
Sampai tegaknya khilafah

Monday, 1 October 2018

Bencana, Harusnya Cepat Kucurkan Dana Bukan Tebar Pesona

Respon cepat memberi bantuan bencana hanya akan terjadi ketika para penguasa negeri ini peka dan terbiasa membantu rakyat.

Bukan penguasa atau pejabat yang biasa mendahulukan pencitraan dan jawaban sesuka hati.

Mereka tidak peka dengan penderitaan orang lain, seringkali melempar tanggungjawab.

Lihat saja jawaban para menteri ketika rakyat susah dengan kebijakan mereka.

Maka tak heran ketika ada bencana, terutama di luar Jawa, lambat.

Dahulu saat Kelud meletus fokus negeri ini tertuju ke Kelud, padahal di saat yang sama Sinabung juga erupsi.

Pernah mendapat cerita dari relawan Kelud, bantuan bahan bangunan untuk renovasi bangunan diminta warga di tengah jalan, padahal diutamakan untuk masjid-mushala dan fasilitas publik. Sedikit memaklumi kondisi mental warga yg terkena bencana, hanya ingin bertahan hidup, itu saja.

Mengapa lambat memberi bantuan?
Bisa jadi tak tergambar apa yg harus dilakukan
Bisa jadi tak terbersit rasa peduli
Bisa jadi takut akan sengsara bersama pengungsi

Mengapa terus menunjuk penguasa?
Mengapa terus menuntut  penguasa?
Karena penguasa punya kuasa
Karena penguasa wajib mengurus seluruh rakyatnya

Apa yang bisa kita lakukan?
Berdoa
Membantu dana
Mengingatkan penguasa atas tugasnya
Berjuang demi perubahan
Perubahan menuju kemuliaan
Perjuangan mengembalikan penerapan syariat di muka bumi
Sudah cukup penderitaan
Sudah cukup hidup dalam keegoisan
Saatnya bersatu di bawah naungan khilafah

Pare, 1 Oktober 2018