Tuesday, 28 February 2017

Kasih Sayang Untuk Anak Punk


Fenomena anak punk di sepanjang jalan di berbagai tempat semakin memprihatinkan. Semakin lama jumlah mereka semakin banyak, semakin mudah ditemui di perempatan jalan besar. Sekadar duduk-duduk bergerombol, hingga mengamen di saat lampu merah menyala. Penampilan fisiknya pun juga sangat membuat hati miris. Atas nama anti kemapanan, mereka tampil apa adanya bahkan  cenderung dekil. Pemikiran sosialis sangat kental dalam keseharian mereka, selain anti kemapanan mereka juga mempunyai ikatan kuat terkait kebersamaan dan pemerataan dalam segala hal,senang bersama, susah bersama, menikmati apapun bersama-sama. Sepintas solidaritas di antara mereka begitu mengesankan. Namun kebersamaan mereka juga berlaku dalam hal kemaksiatan. Sudah menjadi rahasia umum, anak punk mendeklarasikan anti narkoba namun tidak dengan pergaulan bebas. Sudah menjadi sesuatu yang biasa terjadi di antara gerombolan anak punk bahwa mereka juga berbagi teman wanita, itu semua dilakukan tidak atas paksaan, murni berdasarkan kerelaan. Rela berbagi tubuh, atas nama kerelaan berbagi kebahagiaan. Tanpa disadari potensi penyebaran penyakit menular semakin bertambah. Salah satunya adalah menjadi potensi baru penularan HIV/AIDS.
Maka permasalahan anak punk tidak hanya menyisakan masalah sosial tetapi juga mengakibatkan permasalah kesehatan. Belum lagi jika perilaku anak punk yang sudah disertai dengan tindakan gangguan keamanan. Mengamen dengan ancaman merusak mobil pengendara di jalan, memalak, hingga pemaksaan anak punk yang baru bergabung untuk melayani senior mereka, jika tidak menurut pukulan dan tendangan melayang. Dan yang paling membahayakan adalah masa depan bangsa ini yang menjadi taruhan. Bagaimana tidak, anak-anak punk hampir semuanya masih muda, masih remaja, bahkan ada yang masih kecil. Banyak dari mereka yang  masih usia sekolah maupun kuliah. Bisa jadi awalnya mereka masih mengenyam pendidikan, namun lama-kelamaan mereka akan terbawa arus. Lama-lama mereka tidak ingin terikat dengan aturan apapun, mereka ingin bebas berbuat, ingin mencari jati diri sesuai dengan keinginan mereka, tidak ingin terkekang. Jika fenomena ini terus berlangsung, yang ada adalah generasi miskin ilmu, generasi yang tidak mempunyai visi kehidupan jauh ke depan.
Memang bukan permasalahan yang akan selesai semudah membalikkan telapak tangan, namun dengan ketegasan, kesabaran dan ketelatenan tren menjadi anggota kelompok punk  tidak akan terjadi lagi. Membutuhkan kerjasama berbagai puhak agar fenomena anak punk tidak semakin melebar di semua tempat, agar ketenangan terwujud, agar keresahan menjadi berkurang.

Memahami masalah
Semakin banyaknya remaja yang tertarik dengan kelompok-kelompok anak punk bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja. Hampir dalam semua kasus anak dan remaja lebih memilih menjadi anak punk , berawal dari permasalahan pribadi remaja tersebut. Baik karena masalah internal yang berasal dari diri sendiri semisal mereka sedang mencari jati diri, atau bisa juga karena permasalahan keluarga dan lingkungan. Namun satu hal yang sangat mungkin menjadi pemicu adalah kurangnya perhatian dan kasih sayang yang didapatkan anak, baik dari keluarga maupun dari lingkungannya. Apalagi seiring dengan semakin individualisnya masyarakat dan hanya menjadikan materi sebagai tolok ukur kebahagiaan, banyak orang tua yang mencukupkan diri memberi perhatian sebatas materi belaka. Menganggap pemberian materi adalah bentuk perhatian tertinggi, menganggap materi menjadi solusi untuk semua masalah. Padahal, remaja yang rentan dengan krisis jati diri membutuhkan perhatian yang lebih dari sekadar materi. Mereka membutuhkan teman berbagi, teman berdiskusi, teman mencurahkan rasa hati. Remaja juga membutuhkan apresiasi dari orang yang lebih dewasa, membutuhkan sarana untuk menyalurkan kreativitasnya. Jika ini semua tidak dipahami dan difasilitasi, wajar jika mereka mencari dengan usaha sendiri. Dan bergabung dalam komunitas punk menjadi salah satu pilihan.
Di mata remaja labil, komunitas anak punk seolah menjadi jawaban atas kegelisahan remaja yang merasa diabaikan, menjadi tempat yang nyaman untuk membagi permasalahan yang sedang dihadapi. Kebersamaan tanpa pandang status, berbagi dalam segala hal, tidak mempermasalahkan latar belakang menjadi daya tarik tersendiri. Remaja labil yang kurang kasih sayang, berada dalam keluarga yang tidak harmonis, berada dalam keluarga berkecukupan secara materi namun terasa hidup sendiri, bosan dengan rutinitas belajar di sekolah, tidak ingin terkekang aturan, menjadi faktor-faktor pemicu, jadilah mereka mencarinya  solusi di luar tempat biasa mereka hidup.
Di sisi lain, semakin masifnya pemikiran tentang kebebasan berperilaku, kebebasan berekspresi  menjadikan perilaku apapun menjadikan aktivitas apapun mendapat ruang. Termasuk pula dengan aktivitas komunitas anak punk. Memang bisa jadi berawal dari tingginya rasa solidaritas, namun lama-kelamaan solidaritas itu melampaui batas, hingga dalam kemaksiatan dan kejahatan. Dan ini terjadi juga dipicu pada pemahaman yang salah tentang kebebasan, kebebasan dianggap sebagai legalitas untuk melakukan apapun yang diinginkan.

Bergandengan Tangan Menyelesaikan Permasalahan
Tidak bisa dipungkiri, permasalahan yang muncul di komunitas anak punk bukanlah tanggung jawab remaja, orang tua, sekolah sebagai unsur pendidikan, dan negara saja. Semua elemen bertanggungjawab atas permasalahan yang didera anak bangsa. Karena nasib generasi penyambung estafet masa depan bangsa ini ada di pundak remaja. Mengabaikan kualitas generasi penerus sama saja dengan mempertaruhkan masa depan negeri ini.
Memberikan kasih sayang dan perhatian yang hakiki selayaknya dilakukan semua orang. Baik orang tua, keluarga, guru dan masyarakat. Kepedulian dan mau memahami permasalah remaja, tidak menghakimi secara sepihak di saat remaja khilaf berbuat. Membekali remaja dengan bekal agama, karena tidak ada satupun agama yang mengajarkan kejahatan, memerintahkan kerusakan dalam kehidupan. Dengan bekal agama, setidaknya remaja akan berbuat terbaik di dunia, remaja akan berpikir bahwa kelak perbuatan mereka akan dimintai pertanggungjawan di akhirat. Dengan bekal agama, remaja peduli dengan pahala dan dosa.
Kepeduliaan dari masyarakat juga sangat dibutuhkan, masyarakat yang acuh tak acuh dan permisif hanya akan memberikan kesempatan orang melakukan apapun yang diinginkan. Hidup dalam bermasyarakat ibarat orang yang berada di dalam perahu kapal. Orang yang berada di ruang bawah ketika akan mengambil air harus naik dan melalui orang yang di atas, jika orang yang di atas merasa terganggu sehingga membuat orang yang di bawah berpikir untuk melubangi saja perahu agar mudah dan tidak mengganggu penumpang di atas. Dan penumpang di atas membiarkan saja tindakan pelubangan perahu, yang terjadi adalah tenggelamnya perahu kapal, tenggelam lah seluruh penumpang. Begitu pula dengan permasalahan akibat maraknya komunitas anak punk. Ketidakpeduliaan masyarakat, merasa bahwa itu hanya masalah yang memang biasa terjadi lama-kelamaan akan merugikan semua pihak.
Dan yang tak kalah pentingnya adalah peran negara sebagai pengayom rakyat. Kebijakan Negara sangat berpengaruh pada apa yang terjadi di tengah masyarakat. Permasalahan ekonomi membuat orang  tua cenderung abai dengan anak, orang  tua sibuk membanting tulang memeras keringat. Kurikulum pendidikan yang tidak berpengaruh positif pada kepribadian siswa malah memberikan beban bagi siswa. Sistem sosial kemasyarakatan yang mengagungkan kebebasan memicu pergaulan bebas, rasa aman pun semakin langka. Ini permasalahan tataran sistemik yang membutuhkan kebijakan negara. Kebijakan ekonomi kapitalis liberal yang mengedepankan relasi pengusaha dan konsumen semakin membuat rakyat kecil semakin pontang-panting memenuhi kebutuhannya, karena subsidi semakin mengecil. Privatisasi semakin menggurita membuat harga-harga  semakin mahal, karena pemilik modal lah yang menentukan harga barang,  yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Pembiaran dan kurangnya ketegasan aparat semakin memperparah kondisi. Aparat seolah sudah lelah, razia tak membuat komunitas punk menyerah, akhirnya cenderung membiarkan selama tidak terjadi tindakan kriminal.
Itu semua adalah permasalahan-permasalahan yang secara tidak langsung semakin membuat generasi negeri ini menjadi generasi yang mudah stres, dan kebebasan serta ketidaksudian terkekang aturan menjadi pemicu remaja mencari pelarian. Oleh karena itu, perhatian atas permasalahan generasi yang salah satunya adalah maraknya komunitas punk menjadi tanggung jawab. Memberikan kasih sayang hakiki kepada remaja, mendampingi remaja di saat mencari jati diri,menasehati ketika ada yang kurang tepat, adakalanya tegas ketika memang ada pelanggaran. Kerjasama dari semua pihak diperlukan, demi menyelamatkan generasi, demi menyongsong masa depan cerah. 

Thursday, 23 February 2017

Pare 7


190217,  sekitar  17.15
Perjalanan SLG Pare, gerimis di SLG dan semakin deras, berteduh di dekat kantor kec.Gurah, memakai jas hujan. Langit yang gelap menumpahkan air ke bumi. Hujan semakin deras, jalan pun semakin tak terlihat. Sesekali kilat menyambar, terlihat jelas ketika memasuki  area persawahan. Tidak ada tempat berteduh lagi. Jalan yang dihiasi lubang menambah kekhawatiran. Alhamdulillah, melihat tanda Pare 7 km di Sambirejo , sudah tidak jauh lagi. Memasuki Pare, hanya hujan gerimis, masuk Pelem hanya tersisa bekas hujan.

Pare 7
Terlihat jelas, artinya 7 km lagi akan sampai di Pare, sudah sekitar setengah perjalanan dihitung dari SLG. Awalnya terasa jauh, khawatir dengan suasana jalan yang begitu gelap, sesekali tiba-tiba muncul mobil dari depan yang terasa mau menabrak karena batas jalan sudah tak terlihat. Terpikir untuk berhenti dan berteduh saja, namun mengurungkan niat, mengingat malam sudah mendekat, bisa-bisa akan semakin gelap. Namun akhirnya sampai juga di wilayah yang tidak hujan. Awalnya mengira semua wilayah hujan deras, namun ternyata tidak, memasuki Bendo hanya gerimis, Pelem malah tidak hujan. Andai saja memutuskan untuk berhenti dulu mungkin akan benar-benar kemalaman. Jika malam datang jelas pandangan akan berkurang, kecepatan pun juga berkurang. Sampai tujuan sudah malam.
Memang ada resiko ketika jalan tak terlihat, kendaraan dari arah berlawanan meski sudah menyalakan lampu  terkalahkan gelapnya suasana, tetapi ketika persiapan sudah dilaksanakan tak ada salahnya untuk terus melanjutkan perjalanan hingga sampai ke tujuan.

Ujian dalam perjalanan perjuangan
Masih belum pantas mengatakan berat rasanya mendapat ujian ketika berjuang. Belum seberapa dengan apa yang dirasakan Rasulullah saw beserta para sahabat di awal dakwah Islam. Mereka adalah manusia mulia yang sangat gigih perjuangannya, sangat besar pengorbanannya, sangat kuat keistiqamahannya.
Perjuangan untuk mengubah kejahiliyahan menuju kegemilangan, jika  mereka putus asa niscaya saat ini kita tidak menikmati nikmat Islam.
Begitu pula dengan sekarang, perjuangan untuk menerapkan Islam kaffah, perjuangan untuk menyadarkan demokrasi kapitalisme hanyalah kebatilan yang menyengsarakan juga membutuhkan pengorbanan dan kesabaran. Bisa jadi ujian  siap menghadang, namun ketika tanda-tanda dukungan dari umat semakin menguat secercah harapan siap menyongsong.
Perjuangan menegakkan khilafah adalah sebuah kemuliaan, meneladani Rasulullah dan para sahabat yang diridhai Allah
Perjuangan menegakkan khilafah adalah konsekuensi keimanan bukan tindakan kriminal
Perjuangan menegakkan khilafah bukan demi egoisme murahan namun demi cinta sejati, cinta karena Allah
Perjuangan menegakkan khilafah memang bukan perkara mudah, halangan pasti siap menghadang namun itu semua tidak akan menyurutkan langkah
Terus berjuang karena kemenangan itu pasti dating
Terus berjuang karena kemenangan itu janji Allah Dzat Yang Maha Menepati Janji
Terus menyiapkan bekal, terus mengusahakan amal, terus menyampaikan dengan interaksi yang sebenarnya, interaksi semata mengharapkan ridha Allah, abaikan saja celaan dari orang-orang yang suka mencela.


Wednesday, 15 February 2017

Memilih Pemimpin Pengayom di Dunia Penyelamat di Akhirat

Tidak Cukup Menolak Pemimpin Kafir Saja

Alhamdulillah, penolakan pemimpin kafir semakin menggema di nusantara. Para musuh Islam mulai gerah dan panik, berbagai upaya dilakukan untuk mengkriminalkan para penolak pemimpin kafir, akan tetapi semangat umat untuk menolak pemimpin kafir terus bergulir hingga muncul semangat untuk membela Islam. Namun penolakan terhadap pemimpin kafir saja belum cukup, juga belum menjadi solusi ketika berpuas diri dengan memilih pemimpin muslim. Masih ada syarat pemimpin yang seharusnya tidak boleh diabaikan. 

Pemimpin atau penguasa adalah orang yang sepenuhnya bertanggung jawab atas seluruh urusan umat. Perannya sangat penting. Dan Islam sebagai agama yang sempurna juga mempunyai aturan seputar pemimpin. Ada banyak hadits dari Rasulullah saw yang secara umum menyinggung masalah  kepemimpinan. Diantaranya sebagai berikut :
Sebaik-baik imam (pemimpin) kalian adalah yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian serta yang senantiasa kalian doakan  dan  mereka  pun  selalu  mendoakan  kalian.  (HR Muslim).

Sesungguhnya imam itu laksana perisai, dimana orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung dengannya. (HR Muslim).

Jadi pemimpin itu seharusnya yang kita cintai dan mencintai kita, bukan malah menyengsarakan. Pemimpin itu orang yang selalu kita doakan dan mendoakan kita agar selalu dalam kebaikan, bukan malah yang dituntut untuk segera turun jabatan, bukan orang yang tidak bisa mendoakan rakyatnya. Pemimpin itu seharusnya menjadi perisai dan pelindung rakyatnya, bukan malah mengorbankan rakyatnya demi kepentingan golongan dan para pemilik modal penyandang dana sehingga mereka bisa sampai pada tampuk kekuasaan. Juga bukan orang yang mengijinkan asing menguasai SDA dan mempengaruhi kebijakan dalam negeri.

Maka, sebagai seorang muslim memilih pemimpin bukanlah masalah sepele. Memilih pemimpin adalah sebuah perbuatan, dan perbuatan seorang muslim terikat pada hukum syara’. Seorang muslim harus menyandarkan pilihannya pada dalil, bukan sekadar melihat fakta sesaat, terjebak pada keadaan. Hingga akhirnya mengabaikan tuntunan dalam Alquran dan Hadits. Dibutuhkan idealisme yang kuat dan disertai dengan keyakinan bahwa ketentuan Allah SWT sajalah yang terbaik dan seharusnya diterapkan. Ketika memang keadaan belum memungkinkan, tidak terjebak pada kepentingan sesaat, namun sebaliknya terus berjuang dan berdakwah agar apapun yang menjadi keputusan tetap tidak bertentangan dengan ketentuan Allah SWT dan teladan Rasulullah saw.  

Oleh karena itu, ketika memang Islam sudah menentukan kriteria pemimpin yang seharusnya dipilih, kita seharusnya mendengarkan, taat dan melaksanakan dengan sepenuh hati. Tidak mencari-cari alasan untuk menolak. 

Kriteria Pemimpin 
Setidaknya ada tujuh syarat yang harus dipenuhi oleh pemimpin yang akan dipilih oleh seorang muslim. Satu saja syarat tidak terpenuhi maka tidak layak untuk dijadikan pemimpin. Syarat-syarat  tersebut adalah muslim, laki-laki, balig, berakal, merdeka, adil, mampu. 

Haram memilih pemimpin kafir, Allah SWT mengingatkan agar orang kafir sama sekali tidak diberi kesempatan untuk menjadi pengurus urusan umat. Sebagaimana firman Allah SWT : Allah sekali-kali tidak akan memberikan jalan kepada orangorang kafir untuk memusnahkan orang-orang Mukmin. (TQS an-Nisa’ [4]: 141). Haram memilih pemimpin perempuan karena Rasulullah memberitahukan tidak beruntungnya kaum yang dipimpin perempuan : Tidak akan pernah beruntung suatu kaum yang menyerahkanurusannya kepada perempuan. (HR al-Bukhari).

Haram pula menjadikan orang yang belum balig dan tidak berakal sebagai pemimpin. Telah diangkat pena (beban hukum) dari tiga golongan : dari orang gila hingga ia sembuh; dari orang yang tidur hingga ia bangun; dan dari anak-anak hingga ia balig.  (HR  Abu Dawud ). Haram menjadikan hamba sahaya sebagai pemimpin, karena hamba sahaya tidak mempunyai kewenangan mengatur dirinya sendiri apalagi mengurus urusan umat. Pemimpin yang dzalim, yang tidak adil dan tidak mau menerapkan hukum Allah tidak boleh menjadi pemimpin. Dan terakhir, pemimpin yang tidak mempunyai kemampuan dan kecakapan memimpin, haram hukumnya. Pemimpin yang mempunyai kemampuan akan menentukan kebijakan semata berdasarkan hukum Allah, tidak dalam pengaruh dan ketundukan pada pemikiran kufur dan arahan orang lain. 

Itulah kriteria pemimpin yang akan menjadi patokan abadi bagi seorang muslim, tidak ada kata kompromi terkait ketundukan pada ketentuan yang telah ditetapkan Allah SWT dan apa yang telah dicontohkan Rasulullah saw. Karena pilihan bagi seorang muslim hanya mendengar dan taat. Taat tanpa syarat. 

Demikianlah sikap seorang muslim dalam memilih pemimpin. Tidak gegabah dan berpuas diri dengan terpenuhinya beberapa syarat saja. Terus menguatkan keyakinan, menempa ketakwaan dengan melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan Allah. Ketika umat belum menerima syarat-syarat pemimpin dalam Islam, maka dibutuhkan upaya untuk menyadarkan dan mengajak umat untuk terus mengikatkan seluruh perbuatan pada hukum syara’. Mengajak umat untuk bersama meraih gelar takwa, hingga kelak lahirlah pemimpin yang bertakwa pula, yang bersedia memimpin untuk menerapkan syariat Allah SWT dalam kehidupan. Wallahu a’lam bishawab.



Friday, 10 February 2017

Februari Kelabu dan Wisata Jeglongan Sewu


Februari setiap tahun, waktunya membayar pajak kendaraan. Dan selalu saja setelah bayar pajak ada saja masalah di motor. Untuk tahun ini rem yang bermasalah. Jadilah biaya yang harus dikeluarkan untuk ngurusi motor selalu membengkak di bulan Februari.

Tahun ini bayar pajak bertepatan dengan hari Senin, seperti biasa, layanan di hari Senin hampir di  semua instansi pemerintah selalu diserbu banyak orang. Antrian membludak. Sambil nunggu giliran dipanggil, mendengarkan dengan cermat panggilan-panggilan dari petugas. Petugas menyebutkan nama, alamat dan jumlah pajak yang harus dibayar. Selama menunggu jumlah minimal yang terdengar sekitar Rp 175.000,00 yang paling banyak sekitar 3 juta. Jika dirata-rata Rp 250.000,- dan ada 150 orang pembayar maka uang masuk hari itu adalah Rp 37.500.000,-. Ini masih satu hari dan di satu kantor samsat.

Dan dari hasil baca-baca (masih belum lengkap), paling sedikit 10% Pajak yang masuk digunakan untuk fasilitas transportasi. Itu teorinya. Dan kalo ngomong anggaran, jika ada batas minimal paling-paling yang dialokasikan juga tidak terlalu jauh dari ketentuan, yang penting memenuhi tuntutan di UU yang berlaku.

Tentang fasilitas transportasi, yang sangat terlihat adalah kondisi jalan. Akhir-akhir ini marak istilah “jeglongan sewu”. Jalan dengan lubang yang sudah tak terhitung jumlahnya, atau kondisi jalan yang rusak parah. Beberapa waktu lalu yang menjadi sorotan adalah jalur Kediri Tulungagung. Dahulu ketika pertama kali ke Kampung Baru Kepung menuju arah pedalaman, juga sempat kaget dengan kondisi jalan yang mengenaskan. Padahal tarif pajak kendaraan bermotor sepertinya tidak dilihat alamat pemilik kendaraan.  Penentuan lebih dominan pada fisik kendaraan. Jadi meski kendaraan sama, pajak sama tapi bisa jadi merasakan fasilitas yang tidak sama.

Intinya komitmen penguasa tidak ada, untuk menjadi pengurus urusan umat, pengayom rakyat, pelayan warga sama sekali tidak berfungsi. Saling lempar tanggung jawab antar pemerintah daerah. Aset propinsi diabaikan pemprov, aset kabupaten diabaikan pemda, apalagi aset kecamatan dan desa, bisa jadi anggarannya tidak ada.


Bersambung 

Pare, 10 Februari 2017


Tentang pajak sudah pernah menulis : 

Saturday, 4 February 2017

Menyelamatkan Pendidikan

Tulisan tersimpan 30 April 2015 
Sudah kirim di media tapi tidak dimuat

Potret Buram Pendidikan
Dunia pendidikan kembali dikejutkan dengan  fakta yang memprihatinkan. Beredarnya undangan pesta bikini yang mencatut beberapa sekolah, dan fatalnya undangan tersebut bukanlah acara pertama, sebelumnya pernah terlaksana pesta bikini. Tidak hanya itu, kasus prostitusi yang melibatkan pelajar, pergaulan bebas yang berujung apada aborsi maupun pembuangan bayi semakin terkuak ke permukaan. Dan hampir semuanya lagi-lagi melibatkan pelajar. Belum lagi masalah perilaku pelajar di saat ujian. Mulai dari berburu kunci jawaban hingga menyiapkan contekan, setelah ujian dilanjutkan dengan coret-coretan dan konvoi melanggar aturan.
Sungguh ironi, status pelajar yang seharusnya menjadikan siswa sebagai kaum terpelajar sama sekali tidak tercermin dalam sebagian perilaku pelajar saat ini. Yang ada adalah pelajar yang lebih suka bersenang-senang daripada diberi tugas sekolah, pelajar yang lebih suka berfoya-foya daripada belajar, pelajar yang maunya keinginannya dipenuhi secara instan tanpa mau berjuang dan berkorban. Jika semua ini terus dibiarkan bangsa ini tidak akan mempunyai masa depan.

Sistem Sekular Merusak Pendidikan
            Perilaku pelajar yang semakin bebas dan sulit dikendalikan merupakan salah satu akibat dari semakin kuatnya sistem hidup yang sekular dan liberal. Siswa yang mengaku beragama tetapi tidak memahami aturan agama sehingga mengabaikan aturan tersebut, membuat pelajar semakin terjerembab dalam gaya hidup liberal, seolah mereka boleh bebas menentukan tindakan apa yang akan dilakukan. Bukan hanya masalah individu yang sekuler, sistem yang tercermin dalam aturan yang diterapkan di negeri ini juga cenderung memberi ruang gerak perilaku liberal pelajar.
            Bangsa ini sedang memanen hasil penerapan sistem sekuler yang jelas tidak menerapkan aturan Allah SWT  dalam tatanan kehidupan. Pendidikan yang seharusnya mencerdaskan kehidupan bangsa hanya melahirkan generasi yang rentan dengan permasalahan. Pendidikan yang seharusnya mencetak generasi yang bertakwa malah melahirkan pelajar yang ringan  melanggar norma agama. Pendidikan yang seharusnya menghasilkan manusia berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif dan mandiri malah membuat pelajar menjunjung tinggi perilaku bebas.
            Jadi bukan semata permasalahan individu, sistem pendidikan yang berorientasi pada tercetaknya generasi yang siap menghasilkan uang telah membuat tujuan menuntut ilmu bergeser. Menuntut ilmu agar bisa menyelesaikan masalah kehidupan dan mencari bekal di akhirat sudah tidak tergambar lagi.

Menjadikan Akidah Islam sebagai Asas Pendidikan
            Sistem sekular yang memisahkan agama dari kehidupan adalah akidah bagi ideologi kapitalisme. Ideologi kapitalisme memang mengakui keberadaan agama tapi melarang aturan agama diterapkan dalam berbagai lini kehidupan. Dalam sistem sekuler manusia dibiarkan beragama tetapi tidak perlu menerapkan aturan agama, maka tak heran yang ada adalah manusia-manusia yang tidak mengenal dan tidak paham aturan agama. Sungguh akidah sekuler tak layak diterapkan karena hanya mengkerdilkan aturan dari Allah SWT. Termasuk pula dalam bidang pendidikan.
            Pendidikan akan terselamatkan jika bangsa ini menjadikan akidah Islam sebagai asas. Keyakinan bahwa manusia adalah mahkluk yang diciptakan Allah SWT dan wajib terikat pada aturan Allah SWT menjadi landasan dalam penentuan kebijakan. Dengan asas akidah Islam akan tercetak pelajar yang berkepribadian kuat tidak mudah goyah dengan permasalahan yang dihadapi, pelajar yang akan terus mengembangkan diri karena yakin tak ada satu pun amalan yang akan sia-sia di hadapan Allah, terus berusaha dan optimis menatap masa depan.
            Namun, perjuangan mewujudkan pendidikan yang berasas akidah Islam juga harus diiringi dengan penerapan sistem Islam dalam semua aspek kehidupan, tidak parsial. Sistem yang dalam sejarah telah mengukir kegemilangan dengan melahirkan ilmuwan-ilmuwan hebat dalam berbagai bidang keilmuan. Ilmuwan yang ahli dalam agama juga ahli dalam IPTEK. Jadi sudah saatnya sistem Islam diterapkan di bumi Allah ini, bukan ideologi kapitalisme dengan sistem sekular dan liberalnya yang telah nyata menjerumuskan manusia ke derajat yang hina. Wallahu a’lam.

Nur Aini, Guru
Pare Kediri Jatim
           



Sakit


Sakit, bukan kondisi yang dirindukan, namun ketika memang Allah sudah menetapkan manusia tidak bisa berbuat apa-apa, di saat itulah kita harus menerima. Ridha dengan apa yang sudah ditetapkan Allah.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum  datang  kepadamu (cobaan) sebagaimana  halnya  orangorang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya  pertolongan  Allah  itu  amat  dekat.  (TQS.  alBaqarah [2]: 214)

Seorang muslim yang diuji dengan rasa sakit karena  duri atau yang lebih  dari  itu,  maka  Allah  pasti  akan  menebus  kesalahan-kesalahannya  karena  musibah itu,  sebagaimana  suatu  pohon menggugurkan daunnya. (Mutafaq ‘alaih).

Satu duri atau yang lebih dari itu, yang menimpa seorang mukmin, maka pasti dengan duri itu Allah akan mengurangi kesalahannya. Dalam satu  riwayat  dikatakan  “naqushshu”artinya kami  akan mengurangi. (Mutafaq ‘alaih)

Setiap musibah yang menimpa seorang mukmin, berupa  sakit yang berterusan, sakit yang biasa, kebingungan, kesedihan, kegundahan hingga  duri  yang  menusuknya,  maka  pasti  musibah  itu akan menjadi  penghapus  bagi  kesalahan-kesalahannya.  (Mutafaq‘alaih).

Namun bukan berarti penerimaan itu tidak disertai dengan upaya dan hanya diam tak berbuat. Sabar menerima ujian itu bukan berarti tidak berbuat apa-apa. Sabar dan ikhlas ketika dapat ujian, termasuk sakit, adalah sebuah kewajiban. Kewajiban ini tidak mengeleminasi kewajiban lain hingga kita memaklumi diri tidak menunaikan kewajiban lain.

Selalu mengingat perjuangan Rasulullah, pengorbanan dan kesabaran para sahabat dan salafus saleh. Mereka lah teladan terbaik dalam kehidupan.

Rasulullah manusia mulia yang dijamin masuk surga terus mengemban dakwah Islam hingga wafat
Abu Bakar Ash Shidiq  rela menahan sakit saat dalam pengejaran Quraisy dalam perjalanan menemani Rasululllah Hijrah demi keselamatan Rasulullah
Asma’ binti Abu Bakar dalam kondisi hamil menempuh perjalanan yang sulit untuk mengirim logistik Rasulullah dan Abu Bakar
Ali bin Abi Thalib tetap berangkat jihad dan menerima panji Rasulullah meski sakit mendera
Saad bin Muadz terus bertahan melindungi Rasulullah saat perang Khandaq meski tubuh terpanah, menunaikan amanah menyelesaikan masalah Bani Quraidzah

Saad bin Abi Waqas terus menunaikan tugas di medan jihad meski sakit yang teramat saat futuhat Qadisiyah.

Dan hari ini mengunjungi rumah sakit, mengunjungi pasien yang berbaring tak berdaya. Gerak dibatasi tak boleh kemana-mana. Selang infus dan oksigen menjuntai, terhubung ke tubuh yang lemah tak bertenaga. Saat itulah tubuh memang harus istirahat. Benar-benar tidak bisa berbuat apapun.

Terkadang malu, merasa sakit yang mendera adalah sesuatu yang luar biasa menyakitkan dan menyengsarakan, hingga memaklumi diri untuk menghentikan sejenak aktivitas yang terasa berat padahal wajib hukumnya. Malu dengan orang-orang mulia yang masih saja semangat meski tubuh tak punya daya. Malu dengan orang-orang yang tetap kuat saat ujian menyapa, dengan alasan yang terkadang terdengar klise di telinga : Bisa jadi ini adalah kesempatan terakhir untuk berbuat baik, kesempatan terakhir melaksanakan kewajiban.


Pare, 4 Februari 2017


`





Sunday, 22 January 2017

Rindu dan Tak Rindu

Ket. gambar : perjalanan Tulungagung -Kediri (Masuk wilayah Kras)


13 Januari 2017

SPBU Pelem Pare
Di belakang ada dua ibu-ibu berboncengan motor. Berebut membayar uang bensin. Yang memboceng tidak mau dibayari, sedangkan yang dibonceng bersikeras membayar. Sampai kasirnya bingung terima yang mana, akhirnya uang yang sampai di tangan kasar uang ibu yang dibonceng.

Tidak mengenal dua ibu yang berebut bayar, namun teringat dengan sebuah hadits Rasulullah saw saat perang Khaibar ( ada di bab Cinta Kepada Allah dan Rasul Nya, buku Pilar-pilar pengokoh Nafsiyah Islamiyah)
Berkata kepadaku Qutaibah bin Sa’îd, berkata kepadaku Ya’kub bin Abdurrahman dari Abû Hazim, ia berkata; Sahal bin Sa’ad ra. telah memberitahukan kepadaku bahwa Rasulullah saw. bersabda pada perang Khaibar, “Aku akan memberikan panji ini kepada seorang lelaki yang di atas tangannya Allah akan memberikan kemenangan. Ia telah mencintai Allah dan Rasul-Nya, Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya.” Berkata Sahal Bin Sa’ad, “Maka orang-orang pun pergi untuk tidur dan mereka bertanya-tanya di dalam hati mereka, siapakah di antara mereka yang akan diberikan panji oleh Rasulullah saw.” Ketika tiba waktu subuh, maka orangorang ramai menghadap Rasulullah saw. Semuanya berharap agar diberi panji oleh Rasulullah saw. Maka Rasul bersabda, “Dimanakah Ali bin Abi Thalib?” Dikatakan kepada Rasul, “Ia sedang sakit mata, Ya Rasulullah!” Kemudian  orang-orang pun mengutus seorang sahabat untuk membawa Ali bin Abi Thalib ke hadapan Rasulullah saw.  Kemudian Rasulullah  saw.  meludahi kedua  matanya  dan berdoa untuknya, maka sembuhlah ia hingga seolah-olah ia belum pernah sakit sebelumnya. Kemudian Rasul memberikan panji itu kepada Ali bin Abi Thalib. Lalu Ali berkata, “Ya Rasulallah!, aku akan memerangi mereka sampai mereka bisa seperti kita (memeluk Islam).”  Kemudian  Rasulullah  saw.  bersabda,  “Berangkatlah perlahan-lahan  hingga  engkau  berada  di  halaman  mereka, kemudian  ajaklah  mereka kepada  Islam  dan  kabarkan kepada mereka hak Allah yang merupakan kewajiban mereka. Maka demi Allah, sungguh jika Allah memberikan petunjuk kepada seorang manusia karena engkau, hal itu lebih baik bagi engkau daripada unta merah.” (Mutafaq ‘alaih).

Para sahabat harap-harap cemas, semoga yang mendapatkan kesempatan
Ali bin Abi Thalib menerima amanah, sakit tidak dijadikan alasan
Semua dilakukan demi kecintaan pada Allah dan Rasulullah yang tak ada bandingan

Merindukan orang-yang berebut dalam berbuat kebaikan
Merindukan orang-orang yang ringan menjalankan tugas yang diberikan
Merindukan orang-orang yang berharap mendapat amanah
Merindukan orang-orang yang tak suka mencari-cari alasan dengan berbagai hujah


Bogo, Plemahan

Menyapa para siswa yang sedang mengikuti kajian
Melingkar memegang Alquran di tangan
Membaca ayat Alquran secara bergantian
Memanfaatkan waktu yang masih dianugerahkan

Merindukan kajian remaja dengan pertanyaan polos khas remaja
Merindukan remaja saleh yang tidak ikut arus rusak yang sia-sia belaka

Merindukan para pecinta ilmu yang qana’ah
Merindukan para penuntut ilmu yang tak sekadar mengumpulkan tsaqafah


14 Januari 2017

Perjalanan Surabaya – Pare
Keluar ruang tunggu terminal, pandangan menyapu dari kiri ke kanan. Bis patas belum ada, namun yang antri sudah banyak sekali. Mengarahkan pandangan ke bis ekonomi. Alhamdulillah sudah ada. Tapi, bis yang sama ketika dulu masih sering PP Surabaya Pare 12 tahun yang lalu. Tanpa AC, kursinya sudah tidak normal, bagian samping sudah banyak lapisan yang berlubang, jarak antar kursi sangat sempit. Memilih bis ekonomi saja. Lebih suka dengan kendaraan tanpa AC ( maklum orang desa, naik kendaraan ber AC malah pusing tujuh keliling). Lagian Sabtu, akhir pekan. Meski naik patas jalanan pasti padat. Tidak ada bedanya. Tapi, dapat tempat duduk di bagian tengah, tempat favorit jika ada pengamen. Dan benar, beberapa kali ada pengamen. Dengan berbagai tipe, namun terlihat sehat-sehat. Dugaan kuat hampir semuanya seharusnya masih bisa mencari kerja yang lebih layak.

20 Januari 2017
Perjalanan perdana ke Tulungagung di tahun 2017
Meskipun sudah pernah merasakan sebelumnya namun sepertinya tidak separah ini.  Membuktikan apa yang selama ini menjadi keluhan para pendengar salah satu radio di Kediri. Jalur Kediri Tulungagung di Ngadiluwih, harus siap dengan segala jenis lubang di jalan. Lubang lebar, lubang dalam, lubang di pinggir, lubang di tengah, lengkap nian, jika tidak hati-hati sangat membahayakan.

Alat transportasi yang seadanya cenderung membahayakan tentu bukan yang dirindukan
Jalanan macet di akhir pekan tentu bukan keadaan yang diinginkan
Jalan berlubang di sana-sini harusnya segera ada perbaikan
Menjumpai orang-orang yang seolah sudah tidak mendapat tempat dalam mencari penghidupan

Merindukan pejabat yang amanah
Tak membiarkan rakyatnya sedikit pun mendapat masalah
Merindukan Umar bin Khaththab Sang Khalifah
Tak membiarkan seekor binatang terperosok di jalan
Memastikan rakyatnya terpenuhi hak yang seharusnya didapatkan
Tak merindukan pejabat daerah yang hanya mementingkan golongan



Pare, 21 Januari 2017

Saturday, 21 January 2017

Asal Tidak Matematika, Asal Tidak Islam


Asal Tidak Matematika
Selama pelajarannya bukan matematika siswa asyik menikmati. Selama bukan matematika mereka rela molor hingga lewat batas jam pulang. Begitulah, bagi sebagian besar siswa di tempat mengajar, pelajaran matematika masih dianggap sebagai momok. Sulit, membosankan dan membuat pusing. Padahal sudah dibuat penyampaian yang paling ramah. Tetap saja ketika bertemu angka apalagi soal cerita yang bertele-tele mereka sudah terburu phobi.

Ketika pelajaran matematika, maunya sebentar saja. Soal tidak usah banyak-banyak. Inginnya cepat diakhiri. Bisa dikatakan semangat untuk berpikir, mengasah logika dan menghadapi tantangan hampir menjadi semangat yang langka. Maunya instan ga pake mikir panjang.

Asal tidak matematika siswa betah mengikuti pelajaran. Tentu tidak akan dibiarkan, terus memotivasi, memperbaiki cara penyampaian kepada siswa, menggambarkan mudahnya matematika dan peran matematika dalam kehidupan mereka kelak. Insya Allah lama-lama mereka pasti paham. Jika tidak saat di sekolah dasar, semoga kelak di saat pemikiran mereka semakin dewasa mereka akan tahu mengapa harus belajar matematika, mengapa muslim harus berilmu, mengapa muslim harus semangat belajar. Sementara memaklumi saja, mereka masih sekolah di madrasah ibtidaiyah, sekolah dasar, jadi jika cenderung berpikir pendek itu berbanding lurus dengan usia mereka. Mereka belum sepenuhnya paham mengapa harus belajar matematika, mereka masih menuruti rasa takut pada kesulitan.

Asal Tidak Islam
Dan saat ini sedang ramai bendera merah putih yang dihiasi kalimat tauhid. Langsung saja dianggap sebagai tindakan yang tak terpuji, menodai lambang Negara. Padahal ketika merah putih dihiasi tulisan selain kalimat tauhid tidak masalah. Mau dihiasi apa saja tidak masalah, asal tidak berhubungan dengan Islam. Jika berhubungan dengan Islam seolah itu tindakan kejahatan yang luar biasa. Seolah apa yang berhubungan dengan Islam dianggap menodai negeri ini.

Menolak pemimpin kafir, meminta penista agama diadili, menggunakan kalimat tauhid penghias panji Rasulullah saw, mengibarkan ar rayah dan al liwa’ yang merupakan panji Rasulullah dianggap sebagai tindakan yang memaksakan kehendak, merusak kebinekaan, mengkhianati NKRI.

Membela diri dari kedzaliman, mempertahankan diri dari serangan, membela Alquran dan agama Islam dianggap sebagai kesewenangan dan tidak punya kepedulian. Suara ulama dan umat pun tak didengar. Karena semuanya ada membawa tuntutan Islam.

Sangat berbeda, penyerang jamaah salat Idul Fitri diundang ke Istana, para selebritis perusak generasi diajak duduk bersama dan para pelawak yang membuat hati mati karena hanya menyampaikan candaan yang penuh dusta didengarkan suaranya.

Ya, selama itu berlabel Islam akan ditolak dan sekuat tenaga akan dicari kesalahannya. Dan selama itu tidak menyandang label Islam, sekejam dan sebrutal apapun perbuatannya masih dikatakan sebagai bagian dari kebebasan. Asalkan bukan Islam tangan para pengkhianat rakyat akan terus terulur, siap melindungi, memfasilitasi dan menjamin apapun yang dilakukan.

Apa yang dilakukan kaki tangan kapitalis, sebenarnya menunjukkan ketakutan mereka pada kebangkitan Islam. Sedikit saja ada hal berbau Islam, mereka kalang kabut. Sikap reaktif untuk membendung Islam semakin membuktikan sebenarnya mereka tidak paham dengan Islam, atau mereka salah paham dengan Islam. Islam bukan agama dan ideology yang menakutkan dan harus ditakuti.
Islam adalah rahmat untuk seluruh alam, bukan sekadar rahmat untuk umat Islam. Islam adalah agama sempurna, mengatur seluruh aspek kehidupan. Islam tidak memaksa seluruh manusia untuk memeluk Islam, bahkan dalam system pemerintahan Islam, yaitu Khilafah, setiap warga Negara baik muslim maupun nonmuslim akan mendapat jaminan kehidupan. Islam membiarkan nonmuslim hidup dalam naungan daulah khilafah, menjamin hak mereka.

Jika ada upaya untuk mencitrakan Islam sebagai sesuatu yang menakutkan, dan semua yang berhubungan dengan Islam layak untuk dicurigai, dikriminalkan adalah upaya murahan, bukti ketidakmampuan terus  konsisten menjamin kebebasan. Bisa dikatakan, semuanya bebas berbuat, tapi jangan bawa-bawa Islam, meski hanya sebatas labelnya saja.

Apakah ketidakadilan terhadap Islam akan dibiarkan begitu saja? Tentu tidak. Apakah ketidakadilan terhadap Islam dihadapi saja dengan kekerasan? Tentu tidak. Umat Islam saat ini sedang menghadapi ujian, jika tidak menghadapi ujian dengan bijak hanya akan menimbulkan perpecahan. Dan persatuan umat akan semakin sulit diwujudkan, musuh Islam pun bertepuk tangan.

                Apa yang harus dilakukan? Berdakwah, menyeru pada Islam, mengajak pada kebaikan, mencegah kemungkaran. Berinteraksi dengan seluruh manusia yang ada di sekitar, memahamkan umat akan konsekuensi syahadat, kewajiban terikat pada syariat serta tunduk pada aturan Allah SWT dan Rasulullah saw. Mengingatkan, dunia bukan segalanya, ada akhirat yang menunggu. Menyampaikan hanya Islam yang layak diterapkan, hanya Islam yang akan memberikan rahmat untuk seluruh alam, bukan yang lain.

Pare, 20 Januari 2017



Tuesday, 10 January 2017

Maksiat Itu Begitu Dekat


Dahulu ketika memberi contoh akibat gaul bebas selalu dari kota besar  yang nun jauh di sana
Hamil di luar nikah, perselingkuhan, perbuatan zina kabar yang masih asing di telinga
Dahulu ketika melintas di Jalan Irian Barat  Surabaya  terasa gundah gulana
Benarkah ini jalan yang di malam hari terkenal dengan pangkalan waria
Dahulu kemaksiatan masih jarang dan langka
Dahulu pelaku maksiat masih malu menampakkan muka

Sekarang semuanya berbeda
Gaul bebas, zina, hamil di luar nikah seolah menjadi kemaksiatan yang biasa
Tak perlu memberi contoh jauh-jauh karena di dekat sini juga ada
Semalam ada kabar seseorang  digelandang polisi karena dituduh memperkosa
Padahal kabar burung yang beredar bukan perkosaan namun suka sama suka
Dan jalan Irba tidak hanya milik Surabaya karena Pare juga punya  jalan Jaya Wijaya

Kemaksiatan itu begitu  dekat di depan mata
Kebebasan perilaku itu semakin nyata
Dunia seolah dianggap segalanya
Akhirat seolah tidak ada

Liberalisme itu semakin menggurita
Pola pikir sekular memisahkan agama dari kehidupan diagungkan bak dewa
Kapitalisasi kemaksiatan menjadi jalan meraih harta
Semuanya sah-sah saja selama dianggap ada manfaatnya
Hukum syara’ dicampakkan begitu saja
Barang siapa melihat kemungkaran maka wajib mengubahnya
Dengan tangan/kekuasaan  jika kuasa dengan lisan jika bisa
Dan selemah-lemahnya iman hanya dengan berdoa
Terus berdakwah bersama jamaah hingga mengubah pemahaman salah yang ada
Bersama jamaah berdakwah politik dan pemikiran tidak terjebak aktivitas pragmatis  yang sia-sia
Mengajak umat agar menerapkan syariat dalam bingkai Negara
Terus muhasabah kepada penguasa
Mengingatkan agar menerapkan hukum Allah semata
Mengajak umat dan para pemilik kekuasaan untuk menegakkan khilafah rasyidah yang mulia
Sabar, ikhlas, istiqamah meski masalah mendera
Hingga kelak maut menjemput ketika mata menutup selamanya



Pare, 10 Januari 2017






Wednesday, 4 January 2017

Fitsa Hats, Hadlarah, Madaniyah, Af’al, Asy-ya’


Mengikuti tren kekinian
Insya Allah jika tidak salah mengingat hanya sekali makan fitsa dari fitsa hats, itu pun karena dapat hadiah, diberi dua paket, dan dimakan bareng-bareng dengan teman satu kos. Kesan pertama, enak tapi eneg. Memang ilat ndeso, paduan keju, sayuran, daging dan bahan fitsa bukanlah makanan paling nikmat di dunia, masih nikmat sambel penyet Pak Yoko di Gebang ( dipanggil pak Yoko karena salah satu tangan beliau tidak normal, katanya seperti Yoko di film Pendekar Rajawali, entahlah sudah agak lupa, film jaman masa kecil dulu), jualan Pak Yoko selalu laris manis.
Kembali pada mencuatnya fitsa hats, banyak sekali muncul ejekan, hujatan dan olokan.
Katanya tidak konsisten, menolak pemimpin kafir tapi bekerja pada orang kafir
Anti dengan orang kafir tapi pake produk orang kafir
Muncul juga cap-cap : otak udang, sumbu pendek, otak onta
Terkadang miris dengan orang-orang seperti ini, terkadang malah kasihan dengan orang-orang seperti ini. Namun setidaknya ini semakin membuka mata, dakwah menyampaikan pemikiran Islam amat sangat dibutuhkan saat ini. Agar tidak terus muncul pemikiran rendahan, berulang terus.
Harus terus belajar agar bisa bijak menyikapi masalah dan bijak menyampaikan ke tengah umat.
Harusnya berpikir dulu sebelum menyampaikan pendapat, harusnya belajar dulu bagaimana hukum fakta tersebut menurut Islam, karena Islam agama sempurna maka Islam bisa menjawab semua permasalahan, Islam bisa menyelesaikan semua permasalahan.
Harusnya belajar dulu :
Bagaimana hukumnya bekerja pada orang kafir
Bagaimana hukum seputar ijarah
Apa saja hukum seputar muamalah
Bagaimana hukum memanfaafkan benda ( asy ya')
Bagaimana hukum asal perbuatan (af’al) manusia
Apa saja yang terkategori hadlarah
Apa saja yang terkategori madaniyah
Bagaimana hukum mengangkat dan memilih peminpin kafir
Semoga bisa menjadi pengingat untuk terus belajar dan terus menyampaikan.

Serulah kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk ( TQS : An Nahl [16] : 25)

Pare, 4 Januari 2017



Monday, 2 January 2017

Tak Selamanya Mendung , Tak Selamanya Hujan



Ket gambar : 30 Desember 2016, kunjungan terakhir ke Tulungagung di tahun 2016
Ngadiluwih Kediri 09.14 am, menuju Tulungagung. Mendung  gelap di arah selatan dan hujan dari pagi hingga sore merata saat pulang. Tulungagung – Kediri – Pare.



Mendung  bisa jadi hujan
Kadang mendung tak berakhir hujan
Kadang terang setelah mendung menutupi awan

Jika hujan bersiaplah
Jika hujan tak perlu merasa susah
Jika terang  jangan dianggap tak ada masalah

Begitu juga dengan hidup di dunia
Kadang bahagia
Kadang duka
Namun tak selamanya bahagia itu ada
Namun tak selamanya duka menyapa
Bahagia dan duka beriring  datang pada waktunya

Kadang  rasa malas menggoda
Kadang rasa putus asa berkuasa
Kadang kegagalan mendera
Kadang masalah  serasa tak ada habisnya

Kadang bahagia membuat lupa diri
Kadang nikmat membuat  hati tertutupi
Kadang suka cita membuat lalai


Tak selamanya hidup itu terus bahagia
Tak selamanya hidup itu terus diselimuti duka
Menerima itu semua telah ditentukan waktunya
Menerima dengan ikhlas dan sabar ketika ujian tiba
Tetap bersyukur dan taat kepada Allah ketika bahagia

Tetap mengingat hidup di dunia hanya sementara
Tetap mengingat akhirat akan abadi selamanya


Pare, 2 Januari 2017

Saturday, 31 December 2016

Catatan akhir tahun : Belajar Ikhlas, Merencanakan Apa Yang Akan Dilakukan


Keterangan Gambar : 4 orang tim biru yang dari awal hingga akhir acara hanya duduk di depan, tidak pergi kemana pun. Seolah diam namun melalui perjuangan merekalah opini sampai kepada peserta dan selain peserta yang memantau lewat media. Apalagi tim biru lainnya malah "bersembunyi di ruang sunyi" . Senjata mereka pena, kamera, laptop dan smartphone tp yang pegang tentunya lebih smart. Diam bukan berarti tak bekerja, tak terlihat bukan berarti tak berbuat. Ikhlas lah, malaikat yang akan mencatat (Kongres Ibu Nusantara 4 Kediri).


Dua cuplikan yang diambil dari kitab Daulah Islamiyah

Daulah Islam berdiri dengan kuat karena kekuatan Islam. Daulah Islam berhasil membebaskan negeri-negeri di dunia yang sangat luas hanya dalam kurun waktu kurang dari satu abad. Padahal, sarana yang digunakan hanya kuda dan unta. Semua bangsa dan umat yang dibebaskan tunduk kepada Islam dalam  waktu yang sangat singkat. Padahal alat-alat dan sarana penyebarannya sangat terbatas, yakni hanya lidah dan pena. Harus diingat bahwa yang merealisir hal itu semua dengan sangat cepat adalah Islam yang telah menjadikan negara memiliki kekuatan tersebut. (Kelemahan Daulah Islam, Daulah Islam)

Pada tahun 1834 M, delegasi-delegasi misionaris sudah tersebar luas di seluruh Syam. Di Desa ‘Antsurah, Libanon, dibuka satu fakultas. Kemudian dari Malta dikirimkan delegasi-delegasi Amerika ke Beirut untuk mencetak buku-buku sekaligus menyebarkannya. Seorang misionaris Amerika yang sangat terkenal, Willie Smith, menggerakkan misi ini dengan fenomenal. Di Malta, aktivitas misionarisnya mendapat sambutan. Dia menguasai aspek penerbitan buletin-buletin. ( Serangan Misionaris, Daulah Islam)

Dahulu sarana dakwah Rasulullah dan para sahabat begitu sederhana. Berbekal kuda dan unta, bermodal lidah dan pena, Islam menyebar ke seluruh dunia, itu semua karena kekuatan Islam . dengan Islam semua menyebar dengan cepat. Tidak peduli keterbatasan yang ada, kekuatan pemikiran Islam menjadi pendorong untuk menjadikan Islam tersebar ke berbagai penjuru dunia.

Dan musuh Islam pun juga menyadarinya. Dengan menguasai aspek penerbitan, menguasai opini, musuh Islam menyerang pemikiran umat Islam, umat Islam yang saat itu mengalami kemunduran berpikir mendapat serangan telak, serangan pemikiran dan politik yang akhirnya meluluhlantakkan khilafah terakhir.

Dan sekarang, memperjuangkan kembali kehidupan Islam, penerapan Islam kaffah dalam bingkai khilafah menjadi tugas seluruh umat Islam. Memanfaatkan potensi yang dimiliki untuk menyebarkan Islam. Melalui dakwah lisan maupun tulisan, menginteraksikan ide-ide secara langsung ke tengah umat. Hingga umat mempunyai kesadaran Islan, hingga Islam menjadi opini di tengah manusia. Saat itulah umat akan meminta Islam diterapkan secara sempurna dengan sukarela. Dengan dakwah dan kontak terus menerus di tengah umat, menguasai opini, menyampaikan Islam dengan uslub-uslub terbaik. Merencanakan langkah, mengevaluasi apa yang telah dilakukan, memperbaiki kekukarangan, merealisasikan rencana dan hasil perbaikan. Bukan sekadar berbekal semangat, juga perlu kebulatan tekad, kesungguhan dalam mencurahkan tenaga,pikiran, berkorban harta, bahkan mempertaruhnkan nyawa.

Namun memperjuangkan Islam akan lebih mudah dan ringan ketika kita ada dalam jamaah. Bekerja dengan potensi masing-masing, ikhlas dengan amanah, optimal menjalankan amanah, memberikan yang terbaik, saling memudahkan, saling meringankan. Menyadari itu bukan demi orang lain, namun semata demi ridha Allah, demi memperberat timbangan amal saleh di  akhirat kelak. Demi menyelamatkan diri sendiri di akhirat kelak, demi naungan yang hanya diberikan Allah untuk orang-orang yang taat tanpa syarat.

Muhasabah akhir tahun, mengevaluasi apa saja yang sudah dilalui, merencakana apa yang akan dilakukan. Tidak menjalani hidup apa adanya, mengalir begitu saja. Namun berupaya merencakan sebaik mungkin, karena usaha untuk memberikan yang terbaik itulah yang kelak dimintai pertanggungjawaban.



Pare, 31 Desember 2016

Friday, 30 December 2016

Pantang Menyerah Meski Semua Berubah

Tulisan tersimpan 9 Sep 2012, lima tahun yang lalu. Semoga tetap ingat

Kampus Perjuangan
Kampus, sebuah tempat yang tidak boleh diremehkan perannya dalam melahirkan agen perubah. Karena kampus adalah tempat penggemblengan para pemuda untuk menjadi kaum intelektual. Dan di kampus pula lahirlah aktivis dakwah. Bukan aktivis yang asal bergerak, namun para aktivis yang terbentuk di kampus adalah aktivis yang hampir semuanya mempunyai idealisme luar biasa. Tak mau melewatkan kesempatan yang dimiliki begitu saja. Memanfaatkan tiap detik untuk menempa diri. Kegiatan berbau akademik terus dijalani. Kuliah, praktikum, belajar, asistensi, ikut seminar di sana-sini dan segudang agenda lain  terjadwal dengan rapi.  Tak ketinggalan aktivitas di luar kuliah. Nanti sore kasih les privat, nanti malam bahasa Arab, besok malam kajian tafsir, besoknya lagi kajian ulumul qur’an besok pagi-pagi brieving buletin, besok lagi ngaji, besok lagi kontak ke teman, besok lagi kontak ke dosen, besok lagi main ke toko buku, begitulah seterusnya. Menjalani hari demi hari dengan penuh semangat.

Tak hanya itu, di kampus suasana pun begitu kondusif. Teman seperjuangan yang banyak, bekerjasama untuk menyukseskan agenda demi agenda, saling mengunjungi untuk sekedar silah ukhuwah, berdiskusi, meminjam buku, saling memotivasi hingga sharing masalah pribadi. Tak ada teman di kosan bisa main ke tempat kos lain, tak kuat sendiri bisa memilih rumah pembinaan. Ah ... emang enak kalo rame-rame... . Begitu juga dengan interaksi dan kontak dakwah. Kantin, masjid, lobi perpustakaan, taman, ruang kuliah, ruang dosen  adalah tempat-tempat nyaman untuk menyampaikan ide. Masalah fasilitas tak perlu dipusingkan,  bisa dipastikan di kampus fasilitas dan sarana bisa diandalkan. Gedung dengan teknologi super tinggi dan sarana transportasi yang mudah, mendukung gerak dakwah. Mempercepat arus informasi. Up date info cepat sekali, mau beli buku tinggal melangkahkan kaki. Buku, majalah, tabloid, buletin datang tepat waktu. Mau ke mana pun juga ada angkot yang memfasilitasi, mau keluar pagi, sore atau malam tak perlu khawatir tidak bisa pulang.

Begitulah suasana kampus yang pernah kujalani, perjuangan berat melawan ide kufur bisa dinikmati. Semangat perjuangan dalam dakwah senantiasa bergelora di hati. Namun, tak dapat dipungkiri terkadang onak dan duri pun menyapa, tapi itu semua bisa cepat teratasi. Karena teman seperjuangan yang selalu ada di samping untuk menyemangati di kala hati sedang gundah dan di saat idealisme sedikit goyah.

Kampung yang tak seindah kampus
Menjadi mahasiswa abadi tentu bukan menjadi cita-cita seorang mahasiswa. Lulus tepat waktu dengan nilai membanggakan adalah harapan setiap mahasiswa. Kalau pun molor tidak sampai DO. Dan adakalanya ketika ijazah sudah di tangan, kita memilih untuk kembali ke kampung halaman. Dengan berbagai alasan tentunya.
Sengaja pulang kampung dengan kesadaran sendiri, menemani orang tua yang renta atau sakit-sakitan, menikah, memutuskan bekerja di kampung, atau bahkan sudah bosan di kampus. Sepertinya kemungkinan yang terakhir jarang banget dech...

Pulang kampung, itulah yang menjadi keputusan diri ini beberapa tahun yang lalu. Insya Allah dengan alasan yang syar’i. Sebelum mengambil keputusan, ngobrol dengan senior, sharing kelebihan dan kekurangan pindah tempat tinggal yang secara otomatis pindah lahan dakwah. Akhirnya tanpa keraguan sedikit pun, menargetkan untuk pulang kampung. Mulai mengumpulkan informasi tentang kampung halaman. Meski kampung sendiri, bukan tak mungkin kita sudah tak mengenali. Karena sebelum kuliah, ketika belum mengenal dunia dakwah hampir tak pernah peduli dengan realitas kampung halaman. Cuek dan begitu egois, yang penting menjalani hidup, masalah masyarakat emang gue pikiran. Perubahan fasilitas, kebijakan pemerintah daerah, perubahan masyarakat adalah sebagaian informasi yang harus ada di tangan. Tak hanya itu, informasi seputar agenda dakwah pun harus tahu. Mengontak teman seperjuangan yang sudah terlebih dahulu bergerak di daerah. Bagaimana kajian rutinnya, dimana saja biasa mengadakan agenda publik, bagaimana kontak tokohnya, bagaimana tanggapan masyarakat terhadap dakwah khilafah, tokoh mana saja yang sudah merespon, bagaimana responnya, bagaimana kuantitas SDM pengemban dakwah, bagaimana penyebaran tempat tinggal mereka. Itu semua dilakukan ketika belum pindah. Sedia payung sebelum hujan. Mengenal lahan dakwah sebelum terjun itulah yang menjadi tujuan. Jika suasana kampung halaman tak jauh berbeda dengan kampus mungkin tak menjadi masalah, namun jika kampung halaman hanyalah daerah kecil minim fasilitas, apalagi terpencil sungguh itu akan menjadi masalah.

Menyiapkan tempat tinggal yang kondusif. Juga tak boleh diabaikan. Memang kembali tinggal dengan keluarga, namun sekali lagi bisa jadi kita adalah sosok yang berbeda antara dulu ketika meninggalkan rumah dan sekarang ketika kembali ke rumah. Pemikiran berbeda, sikap berbeda, penampilan fisik yang berubah dan tentu saja aktivitas yang tak sama.

Memanfaatkan saat-saat pulang ke rumah untuk ngobrol dengan orang tua dan keluarga besar. Menginteraksikan ide, memahamkan keluarga dan meminta dukungan mereka, karena bagaimana pun juga mereka adalah orang-orang terdekat yang seharusnya tak menghambat aktivitas. Mencari info pekerjaan karena dengan status sarjana tak mungkin berharap banyak masih diberi uang oleh orang tua. Mencoba mandiri meski belum bisa mengandalkan diri sendiri, namun yang pasti ada Allah Yang Maha Kaya, jadilah pekerjaan bukan masalah yang perlu dipusingkan.

Rajin mengumpulkan makalah, contoh undangan mulai dari yang gaul hingga undangan resmi, mengumpulkan proposal berbagai agenda, mengumpulkan banyak bukti fisik. Mungkin kelak bisa dimanfaatkan.Barangkali di kampung semua itu tak ada. Jika di kampus, mungkin tinggal pinjam, tinggl ngopi, tinggal minta tolong ke anggota tim. Mudah dech....
Akhirnya, hari itu pun tiba. Kembali pulang setelah sekian lama meninggalkan kampung halaman. Awalnya kangen dengan teman-teman kuliah yang masih bertahan di kampus, kangen dengan teman seperjuang, rindu dengan para senior yang sabar membimbing dalam dakwah, rindu mengikuti agenda-agenda dakwah di kampus. Ingin ikut masirah, ingin ikut mabit, ingin ngisi kajian remaja yang dulu dihandle.

Kembali ke kampung halaman yang meski termasuk kota kecamatan namun dakwah belum tergarap dengan optimal, daerah dengan SDM pengemban dakwah yang masih sedikit. Sempat kaget  ketika pertama kali ngaji di tempat yang jauh ke pelosok. Dulu jarang sekali pergi jauh dari rumah. Jarang naik naik angkutan, dan tak punya motor.  Pertama kali mengunjungi sebuah daerah, masih satu kabupaten namun belum pernah mengunjunginya. Sebuah desa yang jaraknya sekitar 15 km dari Pare. Naik angkutan oper dua kali. Di saat naik angkot pertama hati sudah was-was, lamaaaa sekali angkot tidak muncul, dan pelaaan banget jalannya. Sudah gitu tidak tahu lagi mana itu Bogo. Dan lebih takut lagi angkotnya sepi penumpang dan jalurnya kanan-kiri adalah persawahan orang Jawa bilang bulak. Alhamdulillah sampai juga di Bogo, menunggu di perempatan Bogo, sambil nunggu angkutan kedua yang juga lamaaa tak muncul-muncul. Mengamati seorang remaja berseragam SMP, dia duduk di hadapan penjual VCD sambil tangannya memilih-milih. Ikut penasaran, sedikit-demi sedikit melangkah mendekat. Ooo...ternyata CD film dan lagu. Dari covernya sudah kelihatan mengerikan “ wanita mengumbar aurat”, hampir semuanya begitu.  Padahal bisa dibilang saat itu Bogo adalah daerah yang belum ramai, ironis penyebaran VCD perusak generasi ternyata sudah menjangkau pelosok daerah. Belum sepenuhnya bisa optimal dalam gerak dakwah eee...tantangan sudah di depan mata. Bagaimana pun juga ini adalah sebuah pilihan yang telah diambil. Namun terkadang masih saja keputusan pindah dari kampus ke kampung  menjadi pemicu lemahnya gerak dakwah.

Di kampung, suasana dakwah tak begitu ramai, teman seperjuangan tak banyak, tempat tinggal pun cenderung menyebar. Jadilah seolah berjuang sendiri tanpa teman di sisi. Bergabung dengan saudara seperjuangan yang mempunyai kebiasaan dan uslub berbeda. Ditambah lagi ketika pulang kampung dengan status single dan belum mempunyai penghasilan sendiri padahal orang tua sudah tak membiayai. Kelimpungan mencari kerja. Sebelumnya ketika meninggalkan kampung untuk kuliah atau bekerja di kota belum mengenal dakwah memperjuangkan khilafah. Sebelumnya hanya menjadi manusia biasa yang tak peduli masalah umat, cuek dengan realitas di sekitar, menjadi anak manja yang kemana-mana selalu diantar. Merasa asing di kampung halaman. Tidak hanya itu, keluarga yang belum terkontak dan belum paham dengan dakwah tak jarang menjadi kendala dalam dakwah. Dilarang sering keluar rumah, tidak diberi fasilitas, hingga ancaman pengusiran ketika masih bersikukuh dalam dakwah.

Di pelosok, fasilitas sangat minim. Kajian keislaman sangat jarang. Toko buku nan jauh di mata, buletin dan majalah sering datang terlambat. Informasi begitu lambat. Tempat kajian sangat jauh membutuhkan pengorbanan waktu, biaya, dan tenaga.  Masyarakat belum terbiasa menerima hal-hal baru. Masyarakat masih menganggap asing dakwah khilafah. Belum lagi harus berhadapan dengan sebagian masyarakat yang berpemahaman salah. Jadilah pengemban dakwah merasa tak bisa mengembangkan diri dan tak berkutik ketika berinteraksi dengan orang-orang yang cenderung tak peduli dengan orang baru. Akhirnya bingung harus berbuat apalagi. Dan idelisme pun mulai tergerus. Ya sudahlah...mungkin harus ikut arus. Bukannya menjadi sosok yang mendobrak semangat tetapi malah menjadi beban. Astaghfirullah...semoga tak terbersit lagi dalam hati.

 Ketika ketidaknyamanan akibat tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan baru terus berlanjut tidak menutup kemungkinan semangat dakwah akan semakin tergerus. Tak hanya karena permasalahan yang berkaitan dengan faktor lingkungan namun bisa juga karena permasalahan pribadi yang semakin membelit. Sungguh merasa prihatin dan dada terasa sesak ketika mendapat berita seseorang yang baru pindah tak mau ngaji lagi. Alasannya beragam, tidak dihubungi berbulan-bulan, terlanjur sibuk dengan kegiatan lain, dilarang keluarga, tidak mempunyai sarana sehingga terisolasi. Tidak siap dengan tantangan baru, tidak kuat dalam memberikan pengorbanan. Tidak siap dengan suasana baru. Hanya menangis sendiri menyesali diri. Dan penyesalan pun menyusup ke dalam relung hati, bertanya lagi tepatkah keputusan ini ?


Anugerah terindah
“Dek di mana pun kita berada, insya Allah itu adalah tempat terbaik yang diberikan Allah ke kita “ Satu pesan yang tak pernah terlupakan. Berusaha bangkit di saat diri ini terpuruk. Tak boleh menyerah. Go..go..semangat !!! Han Ji En dalam K-Drama Full House yang kafir saja bisa semangat menjalani hidup masak pengemban dakwah mlempem ketika disapa ujian... bukannya menjadikannya sebagai teladan hanya berusaha menyemangati diri ... sekali lagi go..go semangat !!!

Meski banyak yang berubah harus tetap isriqomah. Merintis kajian remaja, mengajukan proposal ke sekolah. Memanfaatkan link yang sudah ada. Alhamdulillah...tak terlalu mendapat masalah. Salah satu kelebihan berdakwah di kampung adalah rasa persaudaraan yang masih erat. Jika di kampus tetangga radius 500 m saja bisa jadi tak kenal, tapi di kampung radius 10 km insya Allah masih kenal. Jadilah SKSD alias sok kenal sok dekat jadi jurus andalan dalam berinteraksi, meski belum tahu nama tapi tahu rumahnya. Ngobrol dengan gayeng, memanfaatkan momen pertemuan untuk menyampaikan ide. Naik angkot dengan durasi yang lama digunakan untuk ngorol dengan penumpang, nunggu angkot yang super lama juga dimanfaatkan. Meminjam masjid juga lebih mudah karena memang sudah kenal. Tentu saja itu tak bisa dilakukan dalam sekejap mata, terus menerus berinterakasi dan kontak.

Tak berpuas diri, mulai latihan bergerak di kampung dengan obyek dakwah yang heterogen. Dengan keterbatasan SDM jadilah tim serba bisa. Bisa ngisi kajian remaja, bisa ngisi kajian ibu-ibu yang jenis kajiannya beragam. Sekedar majelis ta’lim, yasinan, bahkan seminar. Meski sudah dibentuk tim khusus masih saja semua harus terjun bersama. Yang menggarap  sekolah ya harus kontak ke masyarakat, yang kontak ke birokrat juga harus kontak ke kalangan ustadzah. Mau menolak ? Bisa- bisa dakwah berhenti sama sekali. Beda dengan di kampus dulu,  lebih banyak menjumpai obyek dakwah yang homogen. Dengan tim spesialis.  Obyek dakwah heterogen, masalah yang di hadapi pun juga heterogen. Mengisi kajian ibu-ibu juga sekaligus menghadapi masalah yang dihadapi para ibu. Demikianlah, menjalani hari demi hari di tempat baru dengan sabar.

Selalu mengingat tujuan setiap aktivitas, yaitu meraih ridha Allah. Menjadikannya bekal dalam menjalani kehidupan. Menjadikan motivasi ruhiyah sebagai satu-satunya penyemangat. Karena sekecil apa pun yang dilakukan tak kan pernah sia-sia di hadapan Allah. Dan seberat apa pun masalah masih ada Allah Yang Maha Besar yang akan menolong orang-orang yang berjuang menegakkan hukum Islam. Meski tak sedikit yang berguguran di jalan dakwah, sedikit pun tak ada niat untuk mengendurkan langkah atau bahkan menghentikan langkah. Ketika kegagalan mendera, ketika rasa lelah menyapa, ketika hambatan di depan mata jangan menyerah begitu saja, jangan merasa menjadi orang yang paling menderita di seluruh dunia. Mengingat perjuangan Rasulullah manusia mulia, mengingat penderitaan kaum muslimin dan mengingat bagaimana para pengemban dakwah yang tak lepas dari ujian. Mulai dari siksaan fisik hingga penghilangan nyawa. Sudahkah itu semua dirasakan ?

Dan yang tak boleh diabaikan. Selalu menjalani kehidupan dengan melaksanakan kaidah sababiyah. Termasuk ketika menjalani aktivitas dakwah di tempat baru. Karena perpindahan tempat dakwah bisa jadi tak bisa dihindari. Entah itu karena sudah terencana maupun pindah secara mendadak. Maka menyiapkan segala sesuatu jauh-jauh hari mutlak diperlukan. Jangan hanya bermodal semangat saja. Membekali diri dan menguatkan motivasi diri. Tetap tsiqah dalam tahapan dakwah, menjalani dengan penuh kesabaran. Selalu mengevaluasi diri dan tak lupa mengembangkan kemampuan secara mandiri, dan yang tak kalah pentingnya adalah menjalani itu semua dengan kontinyu dan disiplin.

Tak lupa selalu menjaga kerja sama dengan saudara seperjuangan, saling membantu, saling memotivasi, perjuangan akan terasa indah ketika ada ukhuwah. Subhanallah semuanya bisa dilaksanakan bersama jamaah dakwah. Karena di mana pun pengemban dakwah berada, itulah tempat terbaik yang dianugrahkan Allah SWT, sebuah nikmat yang harus disyukuri dengan mengoptimalkan potensi diri. Tak peduli di kampus atau di kampung, di kota atau di desa, di pusat kota atau pelosok, dakwah menyadarkan umat tentang penerapan syariah di bawah naungan khilafah harus terus dilakukan. Meski tak tersorot media namun tetap saja itu semua sangat berarti dalam menyiapkan umat.
Masalah pekerjaan ? Tak perlu khawatir, sekali lagi Allah Maha Kaya, binatang melata saja diberi rezeki apalagi manusia yang dikaruniai akal. Memang tak semudah di kampus atau di kota. Tak pernah lelah mencoba, melamar pekerjaan hingga berusaha berwiraswasta. Gagal coba lagi, gagal lagi mencoba lagi begitu seterusnya.
Begitulah, tak ada kata menyerah bagi pengemban dakwah. Selama hayat masih di kandung badan terus menjadikan dakwah sebagai poros. Terus menginteraksikan ide Islam ke seluruh penjuru dunia. Hingga Allah meminta kembali nyawa kita, hingga maut menjemput. 

Sunday, 18 December 2016

Tujuh Pelajaran-Hikmah Kisah Para Nabi dan Rasul Untuk Pengemban Dakwah



Sejumlah pelajaran dan hikmah yang bisa dijadikan dasar penelitian dan pijakan lebih lanjut oleh para pengemban dakwah dalam melakukan pengkajian dan penyelidikan kisah-kisah para Nabi dan para Rasul :

Pertama, di antara yang paling penting diperlukan oleh seorang pengemban dakwah adalah keteguhan dalam dakwah. Hal itu karena banyaknya rintangan dan kesulitan yang bakal dihadapinya; banyaknya siksaan dan tekanan yang bakal dialaminya; dan banyaknya godaan atau hasutan yang bakal ditawarkan kepada dirinya.

Kedua, di antara yang paling penting yang dibutuhkan seorang pengemban dakwah adalah sikap sabar atas berbagai pendustaan dan penyiksaan manusia yang ditimpakan kepada dirinya. Sikap sabar yang menghiasi dirinya secara terus-menerus akan mendatangkan pertolongan Allah. Tanpa sikap sabar, Allah tidak akan menolongnya, dan tidak akan pernah memuliakanya.

Ketiga, seorang pengemban dakwah wajib untuk beramal semata-mata ikhlas karena Allah; tidak mencari imbalan atau balasan berupa harta, pangkat, maupun tujuan-tujuan duniawi lainnya. Sebab, ketika ia beramal dengan amal para Nabi, yakni mengemban dakwah, sudah seharusnya ia pun meneladani keteladanan yang mereka tunjukkan.

Keempat, di antara kewajiban terbesar bagi setiap pengemban dakwah adalah menjauhi sikap memperturutkan hawa nafsu serta memenuhi berbagai keinginan dan syahwat di atas keteguhannya dalam memegang dan terikat dengan kebenaran. Sebab, semua itu merupakan kesesatan yang sangat nyata. Setiap pengemban dakwah juga tidak boleh menjadi sesat dan menyesatkan.

Kelima, setiap pengemban dakwah wajib meyakini janji Allah berupa pertolongan, meyakini akan berpindahnya kepemimpinan di muka bumi kepada mereka, serta meyakini bahwa mereka akan mampu mengalahkan orang-orang yang durhaka, takabur, zalim, dan sekular. Semua itu harus diyakini sebagai suatu hakikat yang nyata, yang mesti tertanam secara mendalam dalam dirinya, serta sebagai sesuatu yang niscaya, meskipun dia sendiri mungkin tidak akan merasakan atau bahkan menyaksikannya. Bagi seorang pengemban dakwah, sudah cukup jika ia meyakini janji Allah Swt, berupa pertolongan-Nya dengan memandang bahwa pertolongan tersebut sebagai suatu hakikat yang nyata dan pasti terjadi.

Keenam, wajib untuk berhukum hanya kepada syariat Allah, baik dalam perundang-undangan maupun dalam persiapan menghadapi peperangan; tidak tunduk pada akal-akal mereka yang terbatas dalam membuat perundang-undangan dan tidak melakukan berbagai persiapan dalam menghadapi peperangan dengan mengabaikan aspek ruhiah dan petunjuk Allah.

Ketujuh, sesungguhnya seorang pengemban dakwah wajib untuk mengemban dakwah dengan penuh kekuatan, teguh, dan bersifat menantang, tanpa mempedulikan lagi berbagai akibat dan bahaya yang bakal menimpa dirinya. Ia semata-mata menjadikan dakwah dan kemaslahatannya sebagai target dan tujuan hidupnya. Ia pun menyadari bahwa rasa takut kepada manusia, bersikap lemah, dan mencari selamat, justru akan menjauhkannya dari berbagai kesuksesannya dalam dakwah serta menjauhkannya dari keridhaan dan pertolongan Allah.

Pengemban Dakwah, Kewajiban dan Sifat-sifatnya
Kisah Para Nabi dan Rasul
(Mahmud Abdul Latif Uwaidah) 

Thursday, 15 December 2016

Lawan Penjajahan Kapitalisme Timur!

Tulisan Oktober 2016 di visimuslim.net

Oleh : Nur Aini
Aktivis Forum Guru Ideologis
(Kampung Inggris Pare-Kediri)

Presiden Joko Widodo mengundang 20 ekonom untuk datang ke Istana Merdeka, Kamis (22/9). Presiden mengundang mereka untuk berdiskusi mengenai perkembangan perekonomian dunia. Terkait kondisi ekonomi di dalam negeri, Jokowi mengakui bahwa kegiatan ekonomi di Indonesia masih banyak yang bergantung pada APBN. Namun begitu, menurut dia, jika ingin menstimulasi pertumbuhan ekonomi yang lebih besar, pemerintah harus mampu menarik investasi sebanyak-banyaknya (Republika.co.id, 22/09/16). 

Dengan kata lain Jokowi mengatakan bahwa investasi asing harus dikejar agar kegiatan ekonomi tidak bergantung pada APBN. Ini artinya Negara akan menyerahkan pembiayaan kegiatan ekonomi dan pembangunan kepada swasta dan asing, jadi Negara akan berlepas tangan. Arah kebijakan ekonomi ala kapitalis semakin terlihat jelas. Pembangunan berbasis utang luar negeri berkedok investasi.  Tentu ini akan semakin membuat Indonesia tercengkeram dengan penjajahan asing atas nama investasi. Dan sudah menjadi rahasia umum, yang akan semakin untung dengan investasi di Indonesia adalah China. 

Catatan 
Indonesia perlu mewaspadai misi terselubung dibalik dominasinya atas sejumlah proyek infrastruktur. Namun sayangnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak memahami misi terselubung China (Tiongkok). Yang mengherankan, Jokowi begitu mudahnya memberikan proyek infrastruktur tanpa memiliki pemahaman geopolitik. Salah satu bentuk intervensi yang paling strategis yang dilakukan oleh institusi asing untuk menanamkan kepentingannya dalam suatu negara adalah mendesain sistem, kelembagaan dan regulasi serta mencetak sumberdaya manusia yang mampu menjaga dan menjalankannya.
Campur tangan ekonomi China ini merupakan bagian dari kerjasama Indonesia-China yang ditandatangani tahun lalu. Melalui China Development Bank (CDB) dan Industrial and Commercial Bank of China (ICBC), Pemerintah China berkomitmen memberikan utang US$ 50 miliar atau setara Rp 700 triliun (US$ 1= Rp 14 ribu). Utang itu untuk pembangunan infrastruktur nasional seperti pembangkit listrik, bandara, pelabuhan, kereta cepat dan kereta api ringan (LRT-Light Rail Transit).
Bisa dipastikan investasi China di Indonesia akan semakin melambung. Komitmen investasi China di Indonesia tercatat terjadi pada tahun 2015 lalu, yakni senilai 22,678 miliar dollar AS. Sementara itu, pada periodeJanuarihinggaFebruari 2016, komitmeninvestasi China di Indonesia mencapai 3,202 miliar dollar AS (Kompas.com, 21/03/16). Dan realisasinyapada semester pertamatahun 2016 sudahmenembuspadaangka 8 miliar dollar AS (bisnis.com, 08/09/16). 

Melambungnya investasi China di Indonesia bukanlah kabar gembira. Investasi hanyalah kedok belaka. Investasi sebenarnya adalah penjajahan nyata di negeri ini. Apa yang dipinjamkan China ke Indonesia akan dibayar mahal rakyat Indonesia. China akan benar-benar menguasai pembangunan megaproyek di Indonesia, yang konsekuensinya adalah dominannya perusahaan-perusahaan China dari mulai perencanaan, pengadaan barang dan jasa, hingga konstruksi. Barang-barang yang terkait dengan konstruksi infrastruktur seperti mesin-mesin dan baja serta pekerja ahli hingga pekerja kasar akan membanjiri Indonesia, sebagai konsekuensi dari pemberian utang. Padahal sebagian besar barang tersebut sebenarnya amat melimpah di Indonesia. Pada akhirnya, rakyat hanya bisa menonton saja atau bahkan hanya bias menjadi konsumen yang terus diperas. 

Menurut Sri Bintang, Cina mendapat angin segar dengan kepemimpinan Jokowi yang mendapat dukungan pengusaha Cina maupun keturunannya yang ada di Indonesia. Kata Sri Bintang, para pengusaha Cina sudah menyiapkan warganya dengan membuat apartemen, perumahan dan menyiapkan tenaga kerja. “Karena itu, orang-orang Cina di Indonesia bisa menjadi penduduk nomor dua sesudah suku Jawa. Tentulah ini akan menjadi migrasi besar dunia setelah bule-bule Eropa Barat berimigrasi ke Amerika Serikat dan Australia pada sekian abad lalu,” ungkap Sri Bintang. (https://www.intelijen.co.id/ini-dia-skenario-penjajahan-cina-di-nkri-era-rezim-jokowi/)

Penjajahan China sebagai Kapitalisme Timur itu mendapat jalan lebar karena strategi pembangunan yang ditempuh rezim saat ini secara hakiki tidak berbeda dengan rezim-rezim sebelumnya. Berkedok investasi, Pemerintah terus menumpuk utang yang bisa menenggelamkan negeri ini.Kemandirian negeri ini tergadai karena komitmen utang mensyaratkan berbagai hal yang menguntungkan pemberi utang, namun merugikan negara pengutang dan rakyatnya. Apalagi semua utang itu disertai riba yang jelas diharamkan oleh syariah. Penjajahan oleh Kapitalisme Timur dilakukan atas sektor-sektor yang selama ini belum disentuh oleh Kapitalisme Barat. Alhasil, lengkaplah penjajahan atas negeri ini. Hampir tidak ada sektor yang luput dari penjajahan Kapitalisme Barat dan Timur. [VM]

Monday, 5 December 2016

Mana Hapus Saya ?


Sebelumnya heboh dengan penggunaan kata “pakai” dan  “tidak pakai”, muncullah pro kontra, muncul analisis dari berbagai pihak. Tidak ketinggalan ahli bahasa pun banyak yang berkomentar. Namun sekarang sudah mereda, bungkam dengan aksi jutaan umat Islam membela Islam, semuanya kompak menuntut ditangkapnya penista agama.

Sebenarnya tidak harus menjadi ahli bahasa, cukup dengan pengamatan fakta kekinian (penolakan pemimpin kafir, penolakan pemimpin arogan), rekam perilaku orang yang mengucapkan yang memang sudah biasa ngomong asal ceplos, kasar dan terkesan tanpa pikir panjang,orang sudah tahu maksud ucapan yang mencantut surah Almaidah ayat 51.

Lain bahasan namun masih sedikit berhubungan. Terkait dengan kemampuan berbahasa saat ini.
Minat Baca Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara ( Minat Baca Indonesia  )
Kemampuan berbahasa lisan dan tulisan, membaca, menulis di negeri ini memprihantinkan, orang lebih suka bertanya jawaban secara langsung, to the point ga pake bertele-tele minta jawaban singkat. Ibarat orang minta fatwa langsung, tidak mau tau dalil-dalilnya. Bahasa lisan pun terucap tanpa pikir panjang.

Contohnya tidak perlu jauh-jauh. Di sekolah seringkali siswa meminta ditunjukkan secara instan jawaban sebuah soal pertanyaaan : " Bu, ini jawabannya ada di halaman berapa?". Bukannya berusaha mencari sendiri dulu.Contoh lain terkait penggunaan kata, entah dari mana asalnya, siapa yang memberi contoh. Ada kebiasaan pada murid-murid saya di sekolah, dengan ringannya mengucap : “ Mana hapus saya?”. Mungkin sebenarnya yang dimaksud adalah : “ Mana penghapus saya ?”

Penggunaan sebuah kata baik secara pilihan kata maupun pengucapan akan sangat berpengaruh pada arti kata, terutama untuk bahasa-bahasa yang memang mempunyai khasanah bahasa yang luar biasa melimpah. Di antaranya adalah bahasa Jawa dan bahasa Arab.Untuk bahasa Indonesia memang khasanah bahasanya tidak terlalu banyak, namun tetap ada kaidah yang harus diperhatikan'

Kembalii pada masalah " Mana hapus saya?", sepele namun fatal jika ditinjau dari segi arti. Hapus bentuk dasar, bisa menjadi kata kerja perintah. Yang pasti bukan kata benda, baru menjadi kata benda ketika mendapat imbuhan pe-. 

Dalam tata bahasa Arab, kata dibagi menjadi fiil, isim dan huruf. Secara mudahnya fiil = kata kerja, isim = kata benda, huruf = kata sambung (definisi sederhana). Jika diurai lebih mendetail dalam sharaf, bentuk  kata bisa berubah, perubahannya berupa tashrif lughawi (berdasarkan pelaku) dan tashrif istilahi(makna kata). Jelas ada perbedaan tulisan/harakat dan maknanya. Tasrif Lughawi dan Istilahi


Dengan memperhatikan tata bahasa akan jelas jenis katanya, kedudukan, makna, dan maksudnya.
Jadi, mari belajar bahasa, terutama bahasa Arab.


Pare, 5 Desember 2016