Saturday, 12 November 2016

Bela Alquran, Bukan Aksi Menggiring Bebek

Sumber : islampos.com

ENTAH apa yang sebenarnya ada pada benak para pendengki, para pembenci Islam , dan orang-orang munafik. Mereka terus saja melontarkan ejekan kepada umat Islam yang siap pasang badan demi membela Alquran. Aksi bela Islam dicemooh sebagai aksi para pembebek, aksi demi sebungkus nasi.
Muncul juga plesetan aksi bela Islam menjadi bela istri, aksi menggiring bebek. Tidak hanya olokan murahan, upaya menggembosi dan fitnah pun dimunculkan. Aksi bela Islam tidak perlu dilakukan karena akan ada tindak lanjut menangani masalah penistaan surah Almaidah. Aksi bela Islam dianggap sebagai aksi yang sia-sia belaka. Tak hanya berhenti di sini, tuduhan tanpa bukti mulai digulirkan. Fitnah bahwa para pendukung aksi hanya dimanfaatkan oleh rival Ahok , fitnah bahwa massa yang turun adalah masa bayaran, fitnah bahwa aksi bela Islam hanya ingin memecah belah persatuan bangsa Indonesia, hingga fitnah tanpa bukti bahwa aksi ini ditunggangi oleh teroris. Sungguh fitnah murahan namun begitu keji terdengar di telinga. Dengan ringannya dilontarkan tanpa satu pun bukti.
Bukan hal yang terlalu aneh, bisa jadi yang mengatakan bahwa aksi ini hanya demi sebungkus nasi dan demi bayaran, memang sudah biasa melakukan aksi dengan imbalan materi, atau malah menjadi pihak yang memnggerakkan massa dengan iming-iming materi. Sehingga wajar saja jika mereka berpikir dengan sudut pandang mereka. Bisa jadi orang-orang yang meremehkan aksi bela Islam adalah orang-orang yang ringan melecehkan Islam, orang-orang yang tidak mencintai Islam atau bahkan orang yang memusuhi Islam.
Maka wajar saja jika hanya cemoohan saja yang keluar dari mulut mereka. Tuduhan bahwa aksi ini ditunggangi teroris sehingga harus diwaspadai bisa jadi muncul dari pihak-pihak yang sengaja memperkeruh suasana, ingin menakut-nakuti masyarakat, dan ingin kembali memunculkan isu terorisme setelah lama para pemburu teroris tidak punya sasaran tembak. Ya, akan ada banyak kemungkinan mengapa upaya menghalangi, menghentikan atau bahkan menunggangi aksi bela Islam terus dilakukan. Namun, apapun yang menjadi latar belakangnya umat Islam tidak boleh menyurutkan langkah untuk membela Islam, membela Alquran, kalamullah yang tidak ada sedikit pun keraguan di dalamnya.
Semangat dan gelora umat untuk membela Islam harus terus dijaga. Menyikapi tuduhan dan fitnahan dengan kepala dingin, tidak tersulut emosi, tetap mengingat bahwa apa yang dilakukan semata dalam rangka meraih ridha Allah SWT, bukan yang lain. Umat Islam juga perlu disadarkan bahwa penista Alquran tidak boleh dibiarkan begitu saja tanpa diberi sanksi yang membuat jera.
Dengan begitu, orang tidak akan ringan mengoceh sesuka hati melecehkan serta menghina Alquran dan Islam. Dan yang tak kalah pentingnya adalah terus menyampaikan kepada umat bahwa sistem demokrasi kapitalis lah yang berperan besar pada terjadinya penistaan Islam, karena dalam sistem ini syariat Islam memang tidak mendapatkan ruang, dan sebagai gantinya kebebasan diagungkan. Termasuk kebebasan berpendapat, tak peduli apakah sesuai atau tidak dengan syariat Allah SWT.
Menuju aksi bela Islam, umat harus tetap tenang menapaki langkah amar maruf nahi munkar. Tetap menggalang kekuatan serta kesolidan umat untuk membela Islam, sehingga para musuh dan pendengki akan berpikir seribu kali memanfaatkan keadaan untuk memecah belah umat. Apapun yang dilakukan orang-orang munafik tidak akan bisa menyelamatkan mereka di akhirat kelak. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Annisa ayat 145, Sesungguhnya orang-orang munafik itu pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.
Terakhir, apapun hambatannya dan apapun hasilnya, mari tetap luruskan niat dan ikhlaskan apapun hasilnya, sembari terus berikhtiar agar para penista agama tidak semakin semena-mena dan Islam mendapatkan kemuliaan dengan diterapkan dalam serluruh aspek kehidupan. Hingga kelak semua umat manusia manusia akan berbondong-bondong masuk Islam dan merasakan Islam sebagai rahmat untuk seluruh alam. Hingga kelak di akhirat Alquran yang akan menjadi saksi pembelaan kita terhadap Alquran dan Islam. Wallahu a’lam []Bela Alquran, Bukan Aksi Menggiring Bebek

Melawan Lewat Tulisan

Sumber : visimuslim.net

Penolakan umat terhadap pemimpin kafir, tuntutan umat agar tangkap Ahok, penista  Al Quran semakin menyebar di berbagai tempat, tidak hanya di Jakarta. Namun berita aksi umat menyampaikan penolakan dan tuntutan tak satupun menghiasi media massa besar di Indonesia, terutama media massa sekular.  Malah sebaliknya, media sekular  terus mengumbar perilaku oknum muslim untuk semakin menjatuhkan Islam. Fakta penolakan pemimpin kafir dialihkan dengan tipuan perusakan taman. Aksi ribuan manusia sama sekali tak mendapat tempat, namun tindakan kriminal seorang muslim selalu diumbar, ledakan petasan diberitakan sebagai aksi terorisme yang dilekatkan dengan gerakan Islam. 

Maka penulis katakan bahwa media terhadap sikap gerakan-gerakan Islam memiliki dua sikap: Pertama, memuji dan terus-terus menyorotinya. Kedua, melakukan perang pemikiran dan membuat berbagai tuduhan melalui media, sementara pada saat yang sama melakukan pemboikotan media dan tidak menyorotinya. Sementara fakta yang sesungguhnya bahwa sikap media-baik internasional maupun regional-terhadap gerakan Islam yang kritis adalah mencela dan membuat berbagai tuduhan, sementara pada saat yang sama tidak menyorotinya, bahkan lebih dari itu media justru melakukan pemutarbalikan fakta dan pendistorsian.

Jika kita tahu bahwa media-media, baik yang lahir di Barat maupun di negeri-negeri kaum Muslim memiliki tujuan yang sama, yaitu memoles citra pemikiran kapitalis, memperkokoh pilar-pilar negara-negara boneka Barat yang ada di dunia Islam ini, serta menyerukan agar ikut berpartisipasi bersama rezim-rezim boneka yang ada di negeri-negeri kaum Muslim, maka di sinilah penulis membuat gambaran tentang kebijakan media ini dan sikapnya terhadap partai idelogis yang berlawanan arus dengan pemikiran Barat, dan berusaha menggulingkan para anteknya di negeri-negeri kaum Muslim, serta berusaha mendirikan pemerintahan Islam, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Barat atau pemikirannya.
Tidak hanya fakta yang disembunyikan, pemikiran Islam pun tidak diberikan tempat. Seruan agar Islam diterapkan dicap sebagai ujaran kebencian, penggunaan istilah dalam Islam dianggap sebagai pelanggaran SARA. Memang itulah komitmen musuh-musuh Islam. Membungkam opini Islam, menyerang Islam, merusak pemikiran umat, menjauhkan umat dari kesadaran Islam dan menghalangi kembalinya khilafah Islam. Berbagai upaya dan makar akan terus dilakukan, namun keyakinan bahwa Allah sajalah sebaik-baik pembuat makar akan terus menancap kuat. Akan tetapi keyakinan saja tidak cukup. Harus ada langkah nyata untuk melawan media sekular. Dan salah satu langkah tersebut adalah dengan semakin menggencarkan penyebaran opini dan pemikiran Islam ke tengah umat melalui tulisan.

Melawan melalui tulisan adalah sebuah kesempatan  yang sayang untuk dilewatkan. Tren masyarakat saat ini yang mulai gandrung dan senantiasa memantau informasi melalui media online juga media sosial adalah sebuah peluang. Peluang ini bisa dimanfaatkan, tentu dengan tulisan yang menyampaikan informasi yang layak untuk dipertanggungjawabkan. Tulisan yang membuat masyarakat semakin merindukan kehidupan yang diatur oleh Islam, tulisan yang semakin mendekatkan manusia pada tujuan penciptaan manusia, semata untuk beribadah kepada Allah SWT. Juga tulisan yang semakin menyadarkan bahwa kondisi saat ini harus diubah, aturan dan sistem yang saat ini menaungi manusia tak layak dipertahankan. 

Bukan tidak mungkin dengan tulisan opini Islam dan kesadaran Islam akan semakin menguat dan menjadi nyata di tengah umat. Agar opini dan kesadaran Islam menjadi kekuatan nyata, maka tulisan yang disampaikan ke tengah umat adalah tulisan yang menyampaikan Islam sebagai ideologi, tulisan yang mengajak umat untuk senantiasa mengikuti dan menganalisa peristiwa politik sehingga membuat umat terbiasa berpikir politis. Dengan demikian, umat akan bisa menghadapi serangan media sekular yang  tidak semata menjegal opini dan perjuangan Islam, namun juga terus menyerang umat melalui tulisan dalam rangka mengokohkan ideolagi kapitalisme dalam benak umat. Topeng pujian dan sanjungan keberhasilan kapitalisme memperbaiki negeri ini harus disingkap. Kelemahan dan batilnya kapitalisme harus ditunjukkan. Demokrasi yang diagungkan, liberalisme yang didewakan dan kebijakan neoliberal yang menjadi pijakan harus dibongkar kebusukannya. Serangan media sekular terhadap akidah dan syariat Islam serta khilafah harus diluruskan dengan memberikan pandangan yang benar menurut Islam. Ketika di satu sisi pemikiran Islam ideologis terus disampaikan dan serangan terhadap Islam dihadapi dengan benar, maka ini adalah dua hal beriringan yang bisa membuat opini dan kesadaran umat akan pentingnya penerapan Islam yang membutuhkan perjuangan juga akan semakin menguat. 

Terakhir, menulis adalah salah satu aktivitas dari banyak aktivitas yang dilakukan dalam rangka mendakwahkan dan membumikan syariat Islam. Menulis tidak mengeleminasi kewajiban lain dalam dakwah, namun menjadi pendamping  serta pelengkap dalam dakwah menyebarkan opini Islam. Menulis juga sebuah aktivitas yang akan dimintai pertanggungjawaban. Sebagaimana perkataan yang diucapkan, tulisan yang tertoreh juga akan menjadi ancaman bagi pelakunya ketika tidak mengamalkan, Allah mengingatkan :  Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (QS. Ash Shaff [61] : 2-3). Semangat melawan lewat tulisan juga diimbangi dengan dakwah secara lisan, kontak langsung dengan umat melalui perkataan, serta senantiasa mengingat untuk menyelaraskan antara tulisan, ucapan dan perbuatan. Dengan begitu, tidak ada celah yang bisa dimanfaatkan oleh oleh para pembenci Islam untuk menjatuhkan, menghancurkan bahkan menghalangi tegaknya Islam di muka bumi. Dengan pertolongan Allah, perjuangan mengopinikan Islam akan membuahkan hasil dengan diterapkannya Islam secara menyeluruh dalam bingkai Khilafah. Melawan Lewat Tulisan

Saturday, 22 October 2016

Lelaki Mulia, Didamba Manusia Dirindukan Surga



Dahulu saat kuliah hampir tidak pernah “berkeliaran” di sekitar masjid kampus saat pelaksanaan atau selesai shalat Jumat. Namun karena ada keperluan, melintasi masjid kampus saat buyaran shalat  Jumat, subhanallah, banyak sekali jamaahnya. Dan penampilan fisiknya pun tidak ada yang lusuh dan kumal, wajah-wajah lelaki yang selesai ibadah ( Masjid Manarul Ilmi, ITS)

Juga jarang keluar rumah saat masjid dekat rumah buyaran shalat jumat, namun sekali melihat, luar biasa, jalanan dipenuhi para lelaki. Dan penampilan fisik mereka pun juga luar biasa, berpakaian rapi, bersarung, berbaju koko, berkopyah, menyandang sajadah (Masjid Darul Falah, Tulungrejo Pare)

Dan hari ini, berpapasan dengan ratusan santri dari sebuah ponpes. Semuanya berkopyah dan berbaju koko putih, memakai sarung yang sama corak dan warnanya, melangkah beriringan, sesekali bersenda gurau ( Masjid Agung An Nuur Pare)

Setidaknya masih menjadi penyejuk mata, meski jumlahnya masih jauh dari para penonton sepak bola, jauh dari penonton konser SID .

Sungguh menjadi pemandangan yang mengharukan, di saat gelar umat terbaik begitu jauh di mata, di saat  banyak pemuda yang tak peduli dengan agama karena pengaruh sekularisme, meski itu hanya di hari Jumat dan hari tertentu saja. Masih ada penampilan menyejukkan meski sebatas fisik saja.

Namun penampilan fisik saja belum cukup. Masih jauh dari sosok mulia  sahabat nabi.
Abu Bakar Ash Shidiq ucapan dan perbuatannya begitu mulia
Umar bin Khatab keberanian dan ketegasannya tiada tara
Utsman bin Affan ramah dan lemah lembut tiada duanya
Ali bin Abi Thalib gudang  ilmu yang bijaksana
Abdurrahman bin Auf mendermakan seluruh hartanya dan tetap kaya
Mushab bin Umair lelaki tampan pelaksana shalat jumat pertama
Saad bin Muadz yang kematiannya menggoncang Arsy Nya
Khalid bin Walid sang panglima keberaniannya bak singa
Khabab bin Arts menjadi sarana hidayah untuk Umar dengan membaca surah Thaha
Abdullah bin Masud  dirindukan Rasulullah  karena merdunya suara
Itulah sebagian lelaki mulia yang mendukung perjuangan Rasulullah bahkan banyak  diantaranya sudah dijamin masuk surga.
Mereka memang beruntung, mulia karena menjumpai Rasulullah dalam hidupnya. Namun masih ada kesempatan untuk menjadi lelaki mulia diridhoi ilahi dan dirindukan surga. Lelaki yang senantiasa berpegang teguh pada syariat Allah dan Rasulullah, lelaki yang senantiasa melakukan perbaikan di saat yang lainnya melakukan kerusakan.
Hadits  yang  diriwayatkan  dari  Sahal  bin  Sa’ad  as-Saidi  ra., Rasulullah saw. bersabda:
Islam  muncul  pertama kali dalam  keadaan terasing dan  akan kembali  terasing  sebagaimana  mulainya,  maka  berbahagialah orang-orang yang terasing tersebut. Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah,  siapa  al-ghuraba  ini?”  Rasulullah  saw.  bersabda, “Mereka adalah orang-orang  yang melakukan perbaikanketika manusia sudah rusak.”  (Hadits  ini  diriwayatkan  oleh  athThabrâni dalam al-Kabir).
Al-Ghuraba dalam hadits tersebut bukanlah para sahabat, karena mereka  datang  setelah  ada  manusia  yang  merusak  metode kehidupan yang dibawa Rasulullah saw. Sedangkan para sahabat ra. Tidak merusak metode kehidupan Rasul, dan metode  tersebut belum rusak di jaman para sahabat.
Maka berbagialah orang-orang yang terasing, tidak hanya lelaki. Semua yang tetap berpegang teguh pada Islam, memperjuangkan Islam, menegakkan Islam dalam bingkai khilafah. Di saat Islam diabaikan, di saat khilafah dianggap sebagai pengkhianatan pada pahlawan. Di saat kapitalisme dan demokrasi diamalkan padahal hanya mengantarkan pada kerusakan.


 Pare, 22 Oktober 2016



Saturday, 15 October 2016

Merindukan Saad bin Muadz



اهْتَزَّ عَرْشُ الرَّحْمَنِ لِمَوْتِ سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ
‘Arasy ar-Rahman bergetar karena kematian Saad bin Muadz (HR al-Bukhari dari Jabir ra).

Pertamakali penasaran dengan sosok Saad bin Muadz adalah ketika mengkaji kitab Daulah Islam, Bab Dakwah di Madinah ( di bab ini juga terpesona dengan duta pertama dalam Islam, Mushab bin Umair, dan sampai sekarang pun masih penasaran dengan surah yang dibacakan Mushab bin Umair di hadapan Usaid bin Hudhair dan Saad bin Muadz).

Saad bin Muadz, seorang tokoh di Madinah
Kekuasaan dan kehebatannya tidak membuat dia menolak hidayah
Sejak masuk Islam bertekad bulat mempersembahkan hidupnya di jalan dakwah
Dalam Perang Uhud menjadi pelindung Rasulullah
Dalam Perang Khandaq terus bertahan meski terluka karena panah
Menjadi pemutus yang adil dalam masalah pengkhianatan Bani Quraidzah

Tidak menginginkan mati sebelum melaksanakan amanah terakhir
Ketika meninggal kebahagiaan di wajahnya terukir
Meninggal di hadapan Rasulullah yang turut hadir

Kematiannya menggetarkan arasy ar Rahman
Bukti bahwa beliau bukan orang  sembarangan
Demi tegaknya Islam kedudukan dan kekuasaan diserahkan
Tunduk pada syariat dan rela bergabung dalam perjuangan
Tetap istiqamah hingga datangnya kematian

Sungguh kemuliaan dan kebahagiaan baginya
Menjadi pembela Islam adalah kebahagiaan tiada tara
Layak mendapatkan balasan berupa surga
Dan kita pun bisa meneladaninya
Terus berjuang dan berkorban demi ridho Allah ta’ala
Menapaki jejak Rasulullah dan para sahabatnya
Hingga kematian yang akan menghentikan langkah kita


Pare, 15 Oktober 2016



Friday, 14 October 2016

Wong Cilik Tak Berkutik Karena Wong Licik


Mengenang Mbak Harti – Meninggal di Hari Kartini

Hari ini dapat kabar Mbak Harti meninggal dunia. Mbak Harti penjual tempe yang biasa keliling di kampung. Tidak hanya berjualan tempe, Mbak Harti juga berjualan berbagai macam makanan. Nasi kuning, nasi goreng, bothok, sayur jadi, berbagai gorengan dan kue-kue lain.

Pare, 21 April 2015

Dan hari ini teringat juga dengan Pak Surip, penjual tahu keliling yang sudah empat puluh hari lebih meninggal.
Mbak Harti dan Pak Surip ini bukan sekadar pedagang, tapi juga “pengusaha kecil”. Tempe dan tahu yang mereka jual buatan sendiri. Mereka adalah contoh orang yang istiqamah dalam menjual jenis dagangan, bahkan usaha mereka adalah usaha turun-temurun, mewarisi usaha keluarga. Ya, mereka lah potret orang-orang yang tetap bertahan dengan usaha halal, jalan hidup mereka penuh liku. Mbak Harti, perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga. Pak  Surip hingga usia tua tetap setia dengan jualan tahunya. Tak jarang terucap keluhan ketika harga kedelai melambung tinggi, namun seringkali mereka hanya bisa pasrah menerima.

Nasib wong cilik yang tak berkutik karena wong licik. 
Sepertinya bukan hanya Mbak Harti dan Pak Surip yang  mengalami permasalahan seperti ini, merasa sebagai wong cilik yang tak bisa berbuat banyak dengan garis ekonomi yang harus dijalani. Masih banyak yang lebih susah lagi. Nasib orang-yang yang bermodal lemah, akan terus menjadi bulan-bulanan dan mangsa empuk bagi para pemilik modal yang lebih besar. Dan ini hal yang wajar terjadi di negeri yang mengambil sistem ekonomi kapitalis dalam mengelola perekonomian Negara.

Sebuah keadaan yang menjadi konsekuensi ketika kapitalisme menjadi pijakan
Atas nama investasi, asing diberi kewenangan merampok kekayaan
Atas nama kemandirian subsidi bagi rakyat tidak diberikan
Atas nama kebebasan  pulau pun digadaikan
Jadilah pemilik modal sebagai penentu kebijakan
Hanya saat pemilu suara rakyat dipedulikan
Setelah menjabat rakyat pun diabaikan
Detelah berkuasa memalak rakyat dengan pajak dan menjadikannya dalam apbn sebagai penopang
Cara haram pun tidak masalah yang penting harta berkembang
Menumpuk harta hanya demi senang-senang
Tak peduli orang lain susah yang penting perut sendiri kenyang
Syariat sama sekali tidak mendapat ruang

Maka perubahan yang dibutuhkan tidak cukup sekadar ganti penguasa atau ganti orang
Negeri ini membutuhkan perubahan di segala bidang
Perubahan sistemik, bukan sekadar bongkar pasang
Memang bukan perubahan seperti membalikkan tangan yang gampang
Perubahan yang membutuhkan daya juang
Perjuangan yang bukan sekadar mengisi waktu luang

Perjuangan mewujudkan janji Allah yang pasti
Perjuangan sebagai konsekuensi akidah yang telah diimani
Sebagai bukti amal di dunia ini
Menjadi bekal di akhirat nanti

Pare, 14 Oktober 2016





Friday, 7 October 2016

Mengapa Bisa Menikmati Bapernya Tum Hi Ho ?



Penasaran dengan lagu ini karena :

Berseliweran postingan salawat versi tum hi ho

Pernah lihat acara di TV penyanyinya dikomentari komentator, membawakan lagu ini dengan penjiwaan yang bagus

Searching lagu Tu Meri eee Tum Hi Ho juga muncul, ada murid yang nanya boleh tidak buat tampilan dengan iringan lagu Tu Meri. Berhubung belum ngerti yang mana lagunya, spontan jawab ga boleh, cari yang lainnya. Akhirnya pake kun anta, tidak masalah. Setidaknya agak ngerti isi lagu kun anta. Alhamdulillah, larangan saya tidak sia-sia. Ternyata klip Tu Meri mengerikan.

Btw, biar ga penasaran sama tum hi ho,  ini lho lirik dan artinya :
Hum tere bin ab reh nahin sakte
Aku tanpamu kini tak dapat hidup
Tere bina kya wajood mera
Tanpamu apalah arti keberadaanku
Tujh se judaa gar ho jaayenge
Bila kelak aku berpisah denganmu
To khud se hi ho jaayenge judaa
Maka aku juga akan berpisah dari diriku
Kyonki tum hi ho
Karena hanya kamu
Ab tum hi ho
Kini hanya kamu
Zindagi ab tum hi ho
Kehidupanku kini hanya kamu seorang
Chain bhi, mera dard bhi
Ketenanganku jua, deritaku jua
Meri aashiqui ab tum hi ho
Romansaku kini hanya kamu seorang
Tera mera rishtaa hai kaisa
Seperti apa hubungan kita berdua
Ik pal door gawaara nahin
Tak dapat jauh barang sekejap saja
Tere liye har roz hain jeete
Untukmu setiap hari aku bertahan hidup
Tujhko diya mera waqt sabhi
Telah kuberikan seluruh waktuku kepadamu
Koi lamha mera naa ho tere bina
Tiada sedikitpun waktuku tanpa kehadiranmu
Har saans pe naam tera
Di tiap helaan napasku ada namamu
Tere liye hi jiya main
Hanya untukmu aku hidup
Khud ko jo yoon de diya hai
Telah kuserahkan diriku padamu seperti ini
Teri wafaa ne mujhko sambhaala
Kesetiaanmu lah yang telah menjagaku
Saare ghamon ko dil se nikaala
Menghapus seluruh duka dari dalam hati
Tere saath mera hai naseeb juraa
Bersamamu nasibku terjalin
Tujhe paake adhoora na raha
Setelah mendapatkanmu diriku menjadi sempurna

Halah lagu gombal, lebay

Tapi, meski banyak yang gak ngerti artinya, karena dibawakan dengan mendayu-dayu sepertinya banyak yang baper kalo mendengar lagu ini. Apalagi yang tahu artinya dan imannya lemah bisa jadi klepek-klepek dech. Kenapa? Ya saking seringnya diperdengarkan dan sering didaulat sebagai lagu romantic jadilah orang-orang yang terjebak cinta semu sangat menikmatinya. Ditambah lagi dengan rusaknya pemikiran, hidup ini hanya untuk kepuasan dan mengejar dunia, kloplah lagu ini menjadi lagu wajib bagi pelaku pacaran.

Begitulah, sesuatu yang diulang-ulang dan terus diberikan informasi yang baik tentang hal tersebut maka akan banyak yang tertarik. Meski pada awalnya merasa asing. Dan sebaliknya, ketika sesuatu dijauhkan, tidak pernah digambarkan atau bahkan diberikan informasi yang buruk, maka ketidaktahuan dan kebencian yang akan muncul.

Itu juga yang terjadi dengan umat Islam, syariah dan khilafah .
Umat Islam jauh dari syariat Islam, tidak kenal  syariat, bahkan ada yang menganggapnya sebagai aturan yang kejam, tidak berperikemanusiaan, kuno, mundur, banyak melanggar HAM.

Apalagi khilafah, tahu saja tidak tapi sudah antipati
Sedikit saja mendengar tentang khilafah serasa alergi
Ada informasi negative tentang khilafah langsung mengamini
Ada yang berjuang demi tegakknya khilafah dianggap tidak tahu diri

Memang tak bisa membuat orang yang terlanjur salah paham dengan khilafah, paham dan berubah dalam sekejap mata
Namun, tetap harus memulai menyampaikan meski membutuhkan waktu yang lama
Hingga suatu saat khilafah menjadi perbincangan dimana-mana
Hingga suatu saat khilafah dirindukan siapa saja
Hingga kelak Allah mewujudkan janjiNya












Wednesday, 5 October 2016

Macam dan Tanda I'rab




Macam I’rab ada empat :

Rafa’
Nashab
Jar
Jazm
I’rab rafa’ dan nashab bisa berlaku untuk fi’il dan isim. I’rab  jar hanya ada pada isim, I’rab jazm hanya pada fi’il. Jadi tidak ada isim yang dijazmkan dan fi’il yang dijarkan.


Tanda I’rab tidak selalu diketahui melalui harakat, namun bisa  diketahui dari huruf dan dengan menghilangkan huruf akhir


Tuesday, 27 September 2016

Makna Lafadz


Alquran adalah kitab yang berbahasa Arab, untuk memahaminya langkah awalnya adalah paham makna lafadz. Salah satunya huruf jar min. Dan min (مِنْ) adalah salah satu huruf yang mempunyai ragam fungsi dan maksud, yaitu :

Ibtida’ alghayah : permulaan tujuan. Bisa permulaan tempat atau waktu. Misalnya :
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS. Al Isra’ [17] : 1)

لا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ
Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguh-nya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa , sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih. (QS. At Taubah [9] : 108)

Tab’idh : sebagian. Misalnya :

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran [3] : 104)

Bayan : penjelasan. Misalnya :

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu ( QS. Al Anfal [8]: 60)

Za’idah : tambahan, yang tidak berarti apa-apa. Misalnya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu ( QS.al Mumtahanah [60]: 1)

Badal : pengganti. Misalnya :

أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الآخِرَةِ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلا قَلِيلٌ
Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia  sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal keni'matan hidup di dunia ini diakhirat hanyalah sedikit ( QS. At Taubah [9]: 38)

Sumber:
Ushul Fikih : Membangun Paradigma Berfikir Tasyri'i ( Drs. Hafidz Abdurrahman, MA)

Monday, 19 September 2016

Semua Ini Bisa Diubah


Shubuh di Batang , cahaya matahari mulai menerangi, mulai memasuki Pekalongan. Di depan ada pick up plat G, kecil tapi diisi banyak penumpang, sepertinya para buruh tani, selain mereka ada alat perontok padi. hanya satu dua yang duduk, selebihnya berdiri, untuk menyiasati agar pickup yang kecil itu muat untuk banyak orang. Dinginnya pagi seolah tak dirasa, berkilo-kilo meter angin menerpa. Entah berapa jauh lagi perjalanan yang harus mereka tempuh. Mungkin karena dimakan usia kecepatan pickup tak bisa mengimbangi kendaraan lain.


Menunggu di terminal Cirebon, di samping ada penjual ketoprak lontong. Sang penjual melayani seorang pembeli, bukan makanan cepat saji. Menghaluskan bumbu, memotong berbagai bahan, baru memberikan kepada pembeli. Lama, belum ada lagi pembeli.


Penjual mie ayam, berangkat dari rumah jam 4 sore, terkadang baru pulang jam 1 dinihari. Tidak pulang sebelum bener-benar sepi pembeli.

Memandang daftar  gaji  guru swasta, hanya ratusan ribu. Padahal ilmu yang diberikan tetaplah sama , tak mungkin korupsi ilmu. Mereka juga punya tanggungan keluarga.

Tukang becak kayuh, ketika jalan menanjak kayuhannya semakin melemah. Nafas pun memburu.

Memang kehidupan di dunia ibarat perputaran roda, kadang di bawah kadang di atas. Namun  ketika kapitalisme mencengkeram, roda itu seolah tak berputar. Yang di bawah semakin lemah dan terlindas, yang di atas semakin pongah. Yang haram begitu menggoda, yang halal begitu sulitnya.

Hidup dalam cengkeraman kapitalisme hanya mengantarkan pada kesempitan hidup di dunia.
Suasana materialistis , jauh dari suasana keimanan dan ketaqwaan semakin menambah sesaknya dada.

Kedekatan kepada Sang Pencipta hanya menjadi urusan pribadi. Selebihnya Negara tak mengurusi
Halal haram sudah tak peduli, demi bertahan hidup apapun dijalani
Ada yang menghamburkan uang untuk kemaksiatan
( baca berita imigran yang jadi PSK dan pelanggannya macan dan tante kesepian yang rela membayar hingga puluhan juta)
Ada yang begitu ringan menyuap dengan ratusan juta
( ngenes otk ketua DPD)
Pemakan bangkai saudaranya sendiri didukung sekuat tenaga
(lagi heboh dukung-mendukung presenter gossip)
Sempat kagum dengan suasana taman kota Batang yang dihiasi kalimat thoyyibah
( tapi tadi baca berita 3 lokalisasi besar di Batang yang hingga kini masih bertahan)

Bukannya tak ikhlas dengan masalah, namun ini semua bisa diubah
Tentu tak berharap pada kapitalisme demokrasi yang seharusnya dibuang ke tempat sampah
Tak berharap pula pada social komunis yang selalu berakhir dengan tumpahan darah
Masalah ini muncul karena kita berpaling pada syariah
Atas nama toleransi Islam diminta mengalah
Padahal seharusnya Islam tegak dalam system khilafah

Perjuangan mengembalikan Islam dicap sebagai pengkhianat
Perjuangan menegakkan kalimat Allah dianggap sesat

Pejuang khilafah dianggap berpikiran sempit tak punya ilmu hanya bermodal khayalan tak nyata
Pejuang syariah dihina selalu saja diibaratkan seperti onta
Pejuang Islam diminta pindah saja ke jazirah Arabia
Sungguh perkataan rendahan  yang penuh dusta

Namun itu  semua tidak akan menghentikan langkah
Terus menyampaikan Islam dengan dakwah
Menyeru dengan nasihat dan hikmah
Menyampaikan pendapat dengan dalil syara’ sebagai hujah
Menjadikan Rasulullah sebagai satu-satunya uswah
Yakin dengan janji dan pertolongan  Allah yang telah dijanjikan untuk hamba yang selalu istiqamah

Pare, 19  September 2016





Sunday, 4 September 2016

Menghormati Akidah Orang Kafir dan Tetap Taat Allah Tidak Menjadikan Mereka Penguasa


Tidak perlu canggung menggunakan kata kafir untuk orang yang tidak memilih Islam sebagai agamanya. Tetapi memang sedikit memaklumi ada yang kurang nyaman menggunakan sebutan kafir. Bukan semata salah kaum muslimin. Ini adalah sebagian dampak dari upaya musuh-musuh Islam sejak berabad-abad yang lalu menjauhkan Bahasa Arab dari potensi Islam. Jika sudah terbiasa dengan bahasa Arab yang notabene adalah bahasa al Quran insya Allah tidak masalah, penyebutan kafir itu betebaran di banyak ayat.

Allah SWT dengan jelas menggunakan kata kafir untuk ahlul kitab dan musyrikin, bahkan mereka dilabeli sebagai seburuk-buruk makhluk. 

Al Bayyinah
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

6. Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.

Namun bukan berarti sikap seorang muslim boleh tidak baik kepada orang orang kafir. Dalam surat al kafiruun yang lagi-lagi dengan jelas menggunakan kata kafir, seorang muslim diwajibkan untuk menghormati dalam hal akidah. Menghormati bukan berarti mencampuradukkan ajaran agama, akan tetapi menghormati keyakinan mereka, tidak memaksa mereka untuk mengikuti keyakinan kita.

Al Kaafiruun
قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ

1. Katakanlah: "Hai orang-orang kafir,


لا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ

2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.


وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ

3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.


وَلا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ

4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,


وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ

5. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.


لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

6. "Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku".

Dalam Islam juga ada larangan untuk memaksa orang-orang kafir masuk Islam.
Al-Baqarah
لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

256. Tidak ada paksaan untuk agama ; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Seorang muslim juga boleh bermuamalah dengan orang kafir selama akad yang dibuat tidak melanggar syariat. Boleh juga bekerjasama dalam tim muamalah yang dimiliki atau dipimpin oleh orang kafir. Namun terkait dengan kepemimpinan negara (hukam) atau kekuasaan  maka haram hukumnya menjadikan orang kafir sebagai pemimpin.
وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلا
Allah sekali-kali tidak akan memberikan jalan kepada orangorang kafir untuk memusnahkan orang-orang Mukmin. (TQS an-Nisa’ [4]: 141).
Pemerintahan (kekuasaan) merupakan jalan yang paling kuat  untuk  menguasai  orang-orang  yang  diperintah. Pengungkapan  dengan  kata  “lan”  yang  ber fungsi  untuk menyatakan selamanya  (li ta’bîd) merupakan qarînah(indikasi) untuk menyatakan larangan tegas orang kafir memegang suatu pemerintahan  atas  kaum Muslim, baik  menyangkut jabatan Khilafah ataupun selainnya. Karena Allah telah mengharamkan adanya jalan bagi orang kafir untuk menguasai kaum Mukmin maka haram hukumnya kaum Muslim menjadikan orang kafir sebagai penguasa atas mereka.
An Nisaa'
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَنْ تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُبِينًا

144. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu'min. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah ?



Pare, 4 September 2016

Friday, 2 September 2016

Masjid dan Perpustakaan

Catatan tersimpan 6 Januari 2012

Perpustakaan Pusat ITS 
(Sumber gambar : Fb Prof Joni Hermana)

Mengingat catatan ini karena ada yang menanyakan tentang kesan dan manfaat perpustakaan.

Masjid dan Perpustakaan, dua tempat yang selalu ingin saya singgahi ketika mengunjungi sebuah kampus.

Karena bagi saya dua tempat tersebut menurut saya bisa menjadi indicator untuk sedikit tau semangat  dan kepribadian para mahasiswanya.

Masjid mewakili nafsiyah dan perpustakaan mewakili aqliyah.
Sungguh mengenaskan jika masjid sepi
Sungguh ironi jika perpustakaan sepi

Dan masjid serta perpustakaan juga bisa menjadi indicator kepedulian pihak kampus. Bagaimana mahasiswa betah di masjid kalo masjid  tidak nyaman ? Bagaimana mau ke perpustakaan kalo fasilitasnya minim dan tak menarik hati ?

Masjid yang penuh kenangan
Masjid Manarul ‘Ilmi ITS : pertama kali mengenal mabda’ Islam

Masjid Kampus B Unair : pertama kali mengenal semangat yang luar biasa untuk segera menerapkan Islam dalam naungan Khilafah agar umat Islam tidak selalu dilecehkan

Masjid Kampus Ketintang UNESA : pertama kali mensyukuri bisa kuliah di ITS ( karena tau untuk pertama kalinya kondisi UNESA yang  ternyata lebih tidak menyenangkan daripada  ITS…maaf utk temen-temen UNESA ^_^)

Masjid Kampus IAIN Sunan Ampel : pertama kali bertemu seseorang yang dengan semangat menggugah kesadaran umat akan pentingnya kesatuan umat agar umat terlindungi dan terjaga.

Masjid Kampus UM : pertama kalinya transit di masjid kampus yang  terletak di Malang. Beberapa kali ke Malang blas ga pernah mampir kampus.

Masjid Kampus STIE Hamfara : pertama kali tau masjid kampus yang paling  sederhana ( masih dalam proses soalnya…)
Masjid Kampus UIN SuKa : pertama kali tau masjid kampus lux yang identik dengan sarang JIL

Masjid Kampus IPB Darmaga : pertama kali berkunjung  ke kampus di Jawa Barat, agak tidak sesuai dengan bayangan yang  selama ini tersimpan. Serasa ada yang hilang meski pertama kali mengunjunginya dan baru terjawab setelah beberapa hari kemudian .

Update : 25 Feb 2018
UMY Yogya  : sementara ini paling salut, masjid KH Ahmad Dahlan letaknya dekat dengan Perpus KH Mas Mansur. Mengingatkan, muslim itu harusnya ingat masjid sealigus tdk mengabaikan tsaqafah. Iman dan IPTEK sekaligus dapat.

Sebelah kiri perpus, sebelah kanan yg ada menara masjid kampus -UMY

Tentang perpustakaan, berhubung belum pernah keliling Indonesia apalagi dunia, ya Perpustakaan Pusat ITS masih menduduki peringkat pertama yang paling mengesankan. 

Tapi saat ini faktanya sudah kembali ke kampung halaman, bagaimanapun juga berusaha menyesuaikan dan berusaha memelihara keinginan untuk tetap mengasah aqliyah atau pola pikir. Apalagi tinggal di daerah tidak seperti tinggal di kota besar atau lingkungan kampus. Tidak banyak yang punya koleksi buku, bondho nyari pinjaman gratis agak susah, sama-sama senasib tidak punya buku. 

Jadilah perpustakaan daerah kabupaten sebagai tempat alternatif. Memang  tidak selengkap perpustakaan di ibu kota propinsi namun lumayan sangat membantu. Di Pare ada perpustakaan daerah “ MAS TRIP “ koleksi buku lumayan banyak, ada dua koran harian, fasilitas wi-fi dan sesekali ada pelatihan untuk umum. Silakan dimanfaatkan, sayang  jika tidak pernah atau jarang ke perpustakaan.

Pare, 2 September 2016 




Thursday, 1 September 2016

Sekuat Apapun Barat Merintangi, Khilafah Janji Allah Yang Pasti Kembali


Lima bulan, rencana dua bulan

Sebuah bab dalam buku Daulah Islam : Upaya Merintangi Tegaknya Daulah Islam. Setelah Mustafa Kamal mengumumkan dihapusnya khilafah, diusirnya khalifah dan digantinya Turki menjadi Republik, umat Islam tidak diam begitu saja. Masih ada yang mengingatkan Mustafa agar mau mengembalikan Khilafah, masih ada yang berusaha mengopinikan bahwa umat Islam haram tanpa khilafah. Namun dengan kejam Mustafa membungkam bahkan membunuh orang-rang yang mencoba mengingatkan agar Turki tidak menghapus Khilafah. Dunia Islam pun disibukkan dengan perdebatan rendahan tentang nasionalisme Turki, nasionalisme Arab, Negara bangsa. Manakah di antaranya yang lebih baik, padahal semuanya sama saja, ide sesat yang lahir dari pemikiran kufur. Muncul juga gerakan-gerakan politik, namun gerakan mereka juga dalam rangka menggaungkan nasionalisme.

Barat yang digawangi Inggris, Perancis dan Amerika tidak berdiam diri. Jauh hari sebelum  khilafah dihapuskan, Inggris sudah membentuk opini umum, bahwa khilafah tidak layak dipertahankan. Turski saatnya membebaskan diri dari bangsa lain dan berhenti mengurusi Negara lain. Turki harus mempunyai pemerintahan yang merdeka, dan Arab didorong menuntut kemerdekaan dari Daulah Utsmaniyah. Itu semua dilandasi dengan pemahaman nasionalisme kebangsaan. Hasilnya, tuntuan membentuk Negara yang merdeka bermunculan di negeri-negeri kaum muslimin. Turki, Mesir, Irak, Suriah, Libanon, Palestina, kawasan Timur  Yordania,  Hijaz,  Najd,  dan  Yaman.  Para  politisi  yang menjadi  antek- antek  kafir  penjajah  mengadakan  berbagai muktamar  dan kongres  di setiap  negara  tempat mereka tinggal. Mereka  semua  menuntut  kemerdekaan  dari  Turki  ( Daulah Utsmaniyahn). Jelas, ini bertujuan untuk memecah belah umat Islam dalam sebuah Negara bangsa yang dibangun atas nasionalisme. Barat juga menggambarkan bahwa dalam Islam tidak ada system pemerintahan, Islam hanyalah sebatar agama kependetaan dan kepausan yang tak layak mengatur politik dan pemerintahan. Umat Islam dibuat malu menyebut dan menuntut kembalinya khilafah. Ide mengembalikan khilafah dianggap sebagai ide yang mundur, kolot dan jumud yang tidak mungkin diususlkan oleh kaum terpelajar dan pemikir. Dan begitulah, umat Islam hingga saat ini masih terpecah belah dalam Negara bangsa yang menjadikan nasionalisme sebagai ikatan, umat Islam hingga saat ini masih menganggap khilafah sebagai sesuatu yang menakutkan dan utopis. Pejuangnya layak dicap sebagai pengkhianat dan dihukum karena melanggar undang-undang (yang memang diadopsi dari Barat yang jelas bertentangan dengan syariah Islam). 

Perjuangan Barat menghancurkan Khilafah berlangsung selama ratusan tahun, memasuki tahun 1900 mereka memulai menuai hasil. Dunia Islam semakin terpuruk, penerapan hukum Islam sangat buruk dan paham-paham asing mulai memenuhi benak kaum muslimin. Dan ini juga terjadi di Indonesia, penjajah mulai mempengaruhi pola pikir rakyat Nusantara. Dalam sejarah, perjuangan pahlawan pada masa kerajaan Islam digambarkan sebagai perjuangan rendahan yang bersifat kedaerahan, dan sporadic  padahal mereka berjuang dengan motivasi jihad. Namun pengkhianatan bangsawan antek penjajah lah yang membuat perjuangan para syuhada semakin memudar. Materi dan janji duniawi penjajah membutakan mata mereka.

Mulailah berdiri gerakan-gerakan modern, Sarekat Dagang Islam (1906) dan Muhammadiyah (1912) adalah gerakan politik umat Islam yang pada awal berdirinya sebagai respon menghadapi kesewenangan VOC dan Belanda. Juga dalam rangka membendung penjajahan politik ekonomi, berdiri di saat Khilafah dalam ambang kehancuran dan ketika khilafah benar-benar dihapus (bisa dibuktikan dengan tahun berdirinya). Disusul juga dengan berdirinya NU (1926) sebagai bentuk respon bangkitnya para ulama atas runtuhnya khilafah utsmaniyah. 
 Ada juga gerakan nasional yang mengopinikan kebangkitan nasional, inilah cikal bakal mengguritanya ide nasionalisme di negeri ini, negeri yang sebelumnya kental dengan Islam dan pernah menjalin hubungan dengan daulah Utsmaniyah di Turki. 1908, gerakan nasionalisme mulai menggaung, khilafah di ujung tanduk, bersamaan dengan upaya Mustafa Kemal menghapus kekuasaan politik khalifah. 1928, deklarasi kebangsaan Indonesia ditandai dengan sumpah pemuda. 1945, puncak diproklamasikan Indonesia sebagai sebuah Negara bangsa yang dibangun atas nasionalisme, mencabik-cabik syariat Islam atas nama toleransi. Dan hingga saat ini deklarasi ini diperingati dengan euphoria, padahal ini adalah titik awal cengkeraman ikatan nasionalisme. Apakah ini muncul dengan tiba-tiba ? Tidak. Barat memecah belah umat Islam dan mencegahnya bersatu kembali. Barat sudah merencanakan jauh-jauh hari. Rancangan Barat yang diawali Inggris dan Perancis yang terus dilanjutkan dengan Amerika terus berjalan hingga saat ini. Umat Islam terkotak-kotak dalam Negara dengan ikatan semu nasionalisme.  Bentuk dan system negeri ini dianggap final, padahal realitasnya hanya mengantarkan umat pada penjajahan gaya baru, bukan penjajahan fisik namun penjajahan ideologi kapitalis. SDA dijarah atas nama investasi dan swastanisasi. Pemikiran rakyat dirusak atas nama kebebasan, Negara lepas tangan mengurusi dan melayani rakyat atas nama kemandirian.  

Ketika saat ini khilafah kembali digaungkan, dan ada yang menganggapnya sebagai ide asing, bentuk pengkhianatan, dan utopis, maka bukan hal yang mengherankan. Barat sudah berabad-abad mencuci otak umat Islam, yang benar dicap salah, yang salah dianggap benar. Membalikkan ini semua tentu tidak mudah. Namun Barat yang motivasinya salah saja bisa bertahan dalam kebatilan, maka tentu umat Islam tidak boleh kalah dan menyerah. Terus berjuang, bukan dalam rangka membalas dendam, namun lebih dari itu, berjuang menegakkan dan mengembalikan system khilafah karena memang ini perintah Allah, warisan Rasulullah saw, jalan perjuangan para sahabat, tabi’in dan tabiut tabiin. 

Mencintai negeri ini tidak dengan mempertahakan ikatan semu nasionalisme, tapi mengembalikan negeri ini agar diatur dengan aturan Allah, karena Indonesia Milik Allah.