Thursday, 30 July 2015

Poligami



Sedang heboh postingan ini



Nama memang sama, tapi itu bukan akun saya.

Tapi tak hendak membahas tentang poligami secara mendetail, sementara ini mengikuti pendapat yang ada dalam buku system pergaulan dalam Islam. Dibahas dalam satu bab khusus. Bisa dibaca disini http://hizbut-tahrir.or.id/2014/06/12/sistem-pergaulan-dalam-islam/ bab Poligami

Namun ada poin yang perlu menjadi perhatian khusus. Pertama, poligami adalah salah satu hal yang berkaitan dengan perbuatan manusia, dan setiap perbuatan terikat pada hukum syara’. Terkait dengan poligami, maka hukum asalnya adalah mubah, jadi boleh dilakukan juga boleh juga tidak dilakukan. Namun tetap memegang prinsip memilih kemubahan, apakah mendekati pada keutamaan ( sunah , wajib) atau malah mendekatkan pada keburukan ( makruh, haram).

Jadi terkait hukum poligami harus dikembalikan kepada hukum syara’, bukan penilaian pribadi dan perasaan. Terkadang karena tidak mau poligami, menghukuminya haram. Namun ketika ngebet poligami hukumnya jadi sunah atau malahan jadi wajib. Tetap berpijak pada hukum syara’.

Kedua, seringkali ada yang beranggapan jika poligami adalah sunah Rasul bermakna perbuatan yang jika dikerjakan berpahala jika ditinggalkan tidak apa-apa ( sunah  /  mandzub). Anggapan ini perlu diperjelas lagi. Harus jelas dan paham tentang makna as sunah, paham tentang meneladai perbuatan Rasulullah saw.

Secara detail bisa dibaca di buku system peraturan hidup dalam Islam http://hizbut-tahrir.or.id/2007/12/11/buku-buku-dalam-pdf/ bab  As-Sunah dan Meneladani Perbuatan Rasulullah SAW.
As sunah bermakna hadits nabi tidak selalu melahirkan hukum sunah/mandzub. Jadi apa yang berasal dari Rasulullah saw bisa  berupa hukum mubah, sunah, wajib, makruh dan haram. Jadi tidak bisa disimpulkan poligami yang juga pernah dijalani oleh Rasulullah saw otomatis hukumnya sunah. Meneladani perbuatan Rasulullah pun juga harus diteliti terlebih dahulu. Karena ada aktivitas yang khusus bagi Rasulullah saw saja, diantaranya adalah Rasulullah boleh menikahi lebih dari empat wanita.

Ketiga, poligami adalah salah satu diantara sekian banyak aktivitas yang dijalani manusia. Ada banyak aktivitas lain yang dilakukan manusia, dan semuanya terikat hukum syara’. Poligami adalah salah satu aktivitas yang dilaksanakan Rasulullah, namun Rasulullah juga banyak melakukan aktivitas lainnya. Jika ada yang menyimpulkan poligami berhukum sunah, tidak otomatis mengejar satu sunah saja. Masih banyak  aktivitas sunah lain yang bisa dikerjakan.

Terakhir, membiasakan diri untuk memahami dan menyikapi segala sesuatu dengan ilmu, terus belajar agar tepat mengambil sikap. Tak perlu gegabah langsung ikutan heboh. Tetap berpegang pada hukum Allah, tidak mengikuti hawa nafsu. Tetap memegang prinsip kaidah amal : berpikir terlebih dahulu, meraih tujuan yang dibenarkan syara’, meniatkan semata karena Allah SWT.

Pare, 30 Juli 2015

Thursday, 9 July 2015

Uangku Memenuhi Almari



                                             

                                                  https://ssl.gstatic.com/ui/v1/zippy/arrow_down.png

Catatan tersimpan 13 Juli 2013

Ingat dengan isu Gayus Tambunan yang katanya punya uang cash dan emas batangan yang disimpan di almari rumah. Tak terbayang berapa banyaknya.

Tak jauh beda saya pun juga punya almari di kamar. Tapi jauh berbeda untuk masalah isinya.
Astaghfirullah, almari pakaian yang hampir penuh. 

Apalagi beberapa waktu lalu sempat khilaf, ke book fair niat beli buku malah tergoda beli baju. Selalu saja pertimbangannya “ mumpung murah”. Rekor, ke book fair uang untuk beli buku tersaingi keperluan yang tak ada hubungannya dengan buku.

Jadilah almari tambah penuh, terpenuhi baju yang dibeli dengan uang. Jadilah “ almari itu penuh dengan uang yang berwujud pakaian”.

Pakaian adalah kebutuhan dasar manusia. Selain sebagai pelindung tubuh sekaligus untuk menutup aurat. Karena manusia yang menciptakan adalah Allah SWT secara otomatis menjalani hidup harusnya sesuai dengan aturan sang Pencipta, salah satunya menutup aurat.

Menutup aurat sudah ada standarnya.  Untuk wanita menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Untuk muslimah ada tambahan mengenakan jilbab di kehidupan umum. Jadi standarnya untuk muslimah dalam sekali keluar hanya butuh : kerudung, pakaian rumah, jilbab diatas pakaian rumah. Jadi minimal butuh 3 benda itu yang tampak luar( yang kecil-kecil belum masuk hitungan), dengan catatan baju rumah terusan. Jika terkategori pemalas atas super sibuk sempat nyucinya satu kali dalam seminggu paling banyak masing-masing hanya butuh 7+1 buah ( yang satu buat cadangan) untuk satu minggu. itu saja bisa diatur, beli jilbab dan kerudung dengan warna-warna netral atau senada jadi tidak perlu banyak-banyak. Pilih bahan yang mudah disetrika dan cepat kering tapi tetap nyaman, warna tak cepat pudar. Untuk yang punya bakat “tubuh melar” bisa disiasati dengan memodifikasi. Untuk yang kerja beda lagi, biasanya ada seragam tambahan, tidak masalah. Paling-paling tidak terlalu banyak jenisnya. Belum lagi yang punya balita atau kerja di sawah. Tetapi intinya memang tidak boleh malas, insya Allah pakaian tak banyak bukan masalah. Meski punya banyak koleksi tak mungkin kan mau dipake sekaligus. 

Terkadang untuk masalah baju ini, seringkali menguras anggaran. Seringkali beli baju baru bukan karena benar-benar tak ada baju, tetapi lebih karena keinginan. Tak sadar menjadi korban mode, korban tren warna dan lebih parah lagi jadi korban bisnis pakaian. Yang seharusnya menjadi pertimbangan adalah sesuai hukum syariah dan serasi. Tak perlu mengikuti kebiasaan selebritis yang tak tahu aturan urip ning dunyo kok sakpenake dhewe. 

Silakan menghitung pakaian di almari masing-masing ya? Jika memang sudah cukup, stop beli baju. Jika berlebihan segera berikan untuk orang yang membutuhkan.

beli baju buat anak saja yang memang dalam masa pertumbuhan jadi pasti perlu baju. 

Tuesday, 7 July 2015

Peran Masjid Demak dalam Pergerakan Dakwah




                                           srikayaku.wordpress.com

Membangun masjid adalah aktivitas fisik yang pertama kali dilakukan Rasulullah saw ketika  tiba di Madinah. Rasulullah saw membangun masjid di tempat penjemuran kurma milik Sahl dan Suhail, dua anak yatim dari Bani Najjar yang diasuh Muadz bin Afra’. Masjid dibangun di tempat tersebut dengan kerelaan Sahl dan Suhail. Kaum muslimin dari kaum Muhajirin dan kaum Anshar ikut terlibat dalam pembangunan masjid (Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, hlm. 449 ). Karena masjid adalah sentral negara resmi, dari sentral Negara resmi ini diundangkan undang-undang, di dalam sentral Negara resmi ini semua persoalan  didiskusikan, dari sentral Negara resmi  ini disiarkan semua keterangan, dan di dalam sentral Negara resmi ini diselesaikan setiap bentuk perselisihan dan permusuhan (Qol’ahji, Sirah Nabawiyah : Sisi Politis Perjuangan Rasulullah saw Sirah Nabawiyah, hlm. 149). Hal ini membuktikan bahwa masjid adalah sarana vital dalam dakwah Islam.

Begitu pula yang dilakukan para wali yang mendakwahkan Islam di Jawa. Raden Fatah, seorang pangeran Majapahit yang memimpin Kadipaten Bintoro (Demak ) dengan bantuan para wali mendirikan Masjid Demak pada tahun 1466. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim hingga Sunan Gunung Jati yang merupakan wali termuda bahu membahu membangun Masjid Demak. Di masjid para wali membina umat dengan tsaqofah Islam. Dan di masjid inilah para wali berkumpul untuk menyusun strategi gerak dakwah. Menyusun konsep untuk mengopinikan Islam di tengah masyarakat yang carut marut seiring dengan memudarnya kejayaan Majapahit. Majapahit semakin mundur sepeninggal Patih Gajah Mada, Hayam Wuruk sebagai raja saat itu tak bisa berbuat banyak. Perebutan tahta hingga berakhir dengan perang saudara tak terelakkan. Morat-mariting Paregreg (kekacauan perang saudara),  menjadi awal penderitaan rakyat. Perebutan kekuasan yang berlarut-larut membuat keadaan Majapahait semakin lumpuh.  Sawah ladang terbengkalai, lalu-lintas perdagangan kacau karena suap yang merajalela, perampokan meningkat sedangkan para punggawa malah saling curiga. Akibatnya rakyat hidup dalam ketakutan yang liar tanpa perlindungan. Tentu saja situasi ini menjadi perhatian para wali. Kondisi rakyat yang haus pencerahan dan perlindungan merupakan peluang yang sangat baik bagi dakwah  Islam pada rakyat yang sebelumnya sejahtera namun menderita dalam sekejap mata akibat ulah penguasa mereka. Masyarakat yang sudah tidak percaya lagi dengan para penguasa Majapahit sudah tidak tergoda untuk kembali bangkit dengan konsep Majapahit yang telah nyata membawa petaka. Rakyat menyadari sepenuh hati keberadaan mereka dalam tubuh Kerajaan Majapahit tak lebih dari budak yang dimanfaatkan untuk membangun lambang-lambang mercusuar Majapahit. Membangun candi-candi yang tersebar di seluruh wilayah, simbol agama lambang kemegahan Majapahit yang tidak ada hubungannya dengan  kesejahteraan rakyat. Jadilah mereka rakyat yang memeluk agama sebagaimana penguasa namun tak menikmati kesejahteraan sebagaimana penguasa mereka. Di sinilah  Islam muncul sebagai satu-satunya alternatif untuk membuat rakyat sejahtera. 

Raden Fatah sebagai pewaris  Majapahit, tidak tinggal diam menyaksikan huru-hara yang terjadi di Majapahit. Pada tahun 1478 pangeran muda yang masih berusia 23 tahun bangkit menyelamatkan negara Majapahit. Beliau tidak menemukan bumi Majapahit mampu mengemban pemulihan ketertiban dan keamanan negara. Maka beliau mengambil alih kepemimpinan negara dan memindahkan pusat pemerintahan di pantai utara Jawa, di Demak atau Bintoro. Raden Fatah seperti juga segolongan punggawa dan kawula Majapahit yang menyadari keadaan tidak melihat eksistensi ibukota Majapahit dapat dipertahankan. Wilwotikto sebagai ibu negara Majapahit telah ambruk. Maka harus dibangun lagi negara baru untuk menyelamatkan rakyat dan nusantara. Mengambil Islam sebagai dasar negara adalah hak Raden Fatah, seperti juga raja-raja Majapahit sebelumnya mengambil Hindu-Budha sebagai dasar negara. Kerajaan Demak berdiri dengan mendapat dukungan rakyat dan pembesar Istana, jika tidak dengan dukungan mereka pastilah Raden Fatah juga akan berakhir seperti ketika Bhre Wirabumi memproklamirkan dirinya sebagai raja Majapahit menggantikan Hayam Wuruk ayahnya, Bhre Wirabumi dipancung Wikramawardhana, iparnya. 

Kerajaan Demak berdiri untuk mengambil alih Majapahit. Kerajaan Demak dijalankan dengan Masjid Demak sebagai pusat roda pemerintahan. Raden Fatah menjadi raja Demak dengan gelar Sultan Al Fattah Alamsyah Akbar. Ayah Raden Fatah, Sri Kertabhumi raja Majapahit yang terakhir, tidak dibunuh, akan tetapi di bawa ke Demak untuk diselamatkan dari komplotan yang mendendam. Dia pun tidak dipaksa untuk menukar agama. Sedangkan Majapahit sendiri tetap ada, namun keberadaannya hanyalah sebagai bagian Demak. Majapahit di bawah kekuasaan Girindrawardhana tetap sebagai bagian Demak yang rakyatnya tetap bergama Hindu-Budha. Namun Girindrawardhana pada akhirnya berkhianat, dia bersengkokol dengan Portugis untuk melawan Demak (Zuhri, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, hlm. 245).

Demikianlah, Kerajaan Demak berdiri dengan perjuangan para wali yang didahului dengan proses dakwah. Bergerak memahamkan masyarakat tentang kerusakan sistem yang saat itu menaungi mereka. Bergerak dengan strategi matang yang disusun di markas dakwah, yaitu Masjid Demak. Dari sini terlihat jelas peran masjid sebagai sarana penting dalam pergerakan dakwah. Sebagaimana Rasulullah saw yang juga memulai eksistensi negara Islam dari masjid. Demikian juga para pengemban dakwah yang berjuang untuk menegakkan kembali negara Islam tidak boleh mengabaikan pentingnya masjid dalam dakwah. Belajar dari para walisongo yang telah berjasa dalam membangun masjid Demak juga Kerajaan Demak.

Namun seiring dengan hegemoni ide sekuler, masjid saat ini lebih identik sebagai  tempat pelaksanaan ibadah sholat saja. Oleh karena itu memanfaatkan masjid sebagai titik sentral gerakan dakwah, mengembalikan masjid sebagai pusat kajian Islam mutlak diperlukan. Bukan mengambil alih masjid secara fisik, namun mengembalikan fungsi masjid sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah. Memulai dakwah mengembalikan negara khilafah islamiyah dari masjid, yaitu dengan menggencarkan opini kewajiban menerapkan hukum Allah secara sempurna melalui kajian di masjid maupun ceramah dan khutbah, di saat umat Islam berkumpul, untuk sholat maupun sengaja datang ke masjid untuk mengkaji Islam. Dengan begitu masyarakat akan semakin tahu, paham dan akhirnya sadar bahwa sistem yang saat ini diterapkan adalah sistem rusak dan merusak sehingga mereka butuh perubahan, mereka sadar bahwa negara khilafah islamiyah adalah satu-satunya model terbaik negara yang menyejahterakan.

Daftar Bacaan :
Ibnu Hisyam. Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam I ( Terjemahan Fadhli Bahri, Lc) (Jakarta : PT Darul Falah). 2009.
Qol’ahji, Prof. DR. Muh Rawwas. Sirah Nabawiyah Sisi Politis Perjuangan Rasulullah saw. (Terjemahan tim A Izzah) ( Bogor: Al Azhar Press). Cetakan I. 2006
id.wikipedia.org. Kerajaan Demak, Masjid Demak, Walisongo.
Zuhri, KH. Saifuddin. Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia. (Bandung : PT Al Ma’arif). Cetakan II. 1980

Saturday, 4 July 2015

Petunjuk






2 kali tersesat di Kediri, tersesat benar-benar bingung tak tahu arah.
Pertama : dari arah Pare ke Gurah Kantor Pos belok kiri  lurus turus belok kiri tujuan ke smpn 2 Gurah, Alhamdulillah ketemu. Tapi pulangnya sok PD. Tidak kembali balik kanan arah sebaliknya. Terus lurus mengira nanti bisa dapat jalan tembus Adan-adan atau Sambirejo. Terus saja mengikuti jalan besar, tapi lama-lama kok semakin jauh tidak ketemu Adan-adan atau Sambirejo, akhirnya ambil arah belok kiri terus, hanya tahu dua arah saja, kiri dan kanan. Bingung dengan arah mata angin. Semakin lama malah tidak mengenal daerah. Mau kembali ke jalan utama juga sudah tidak hafal lagi. Akhrinya terus saja, lagi-lagi sok PD melihat kiri jalan di pagar tertulis  Kec. Pare, wah agak lega. Terus saja tapi kok ya tetap ga kenal daerah itu, kaget kanan jalan kok tulisannya Kec. Plosoklaten, semakin bingung. Tetap terus, tidak bertanya, tetap sok PD. Akhirnya menyerah juga ketika ada pertigaan, bingung harus ke kiri atau ke kanan. Ada orang di pinggir jalan, sebenernya malu, tapi biar tidak terlihat memalukan nanya arah ke RSUD Pare saja. Biar dikira mau jenguk orang sakit, waktu ditanya rumah mana hanya tersenyum. Btw, itu sudah nyampe Kec Puncu. Kalo lewat jalur menuju ke Wates, masih teringat dulu pernah nyampe sini.

Kedua, tersesat mencari Manisrenggo Kediri bablas sampe Ngadiluwih. Orang asli Kediri, kecil sampai besar tinggal di Kabupaten Kediri, tapi tersesat di Kediri, dan tersesat akibat kesalahan sendiri, sok PD dan malu bertanya. Insya Allah berusaha tidak mengulangi lagi.
                              Jalan bercabang, belok kiri. Sepertinya kalo terus muter lagi arah Pare

Dan 1 Juli kemarin, menuju SMPN 2 Plemahan Pare - Garuda  - Pertigaan Tegowangi dari Selatan. Sudah pernah lewat depan SMP tapi dari arah Ringinpitu, dari arah utara, itu saja juga bingung. Karena melewati sawah-sawah yang tentu penampakannya hampir sama, sulit diingat. SMPN 2 Plemahan juga tidak terlalu jauh dari Candi Tegowangi, dulu juga pernah ke Candi, ngonthel bahkan, tapi lewat jalur dalam, Singgahan –Gebang. 

                             Jalan bercabang, terus lurus. kalo ambi kiri sepertinya ke arah Payaman

Alhamdulillah, lancar tidak tersesat. Sejak awal sudah minta rute, dan berangkat lebih awal. Dan memang tidak sulit menemukan meski jalurnya bercabang . karena setiap cabang jalan ada papan penunjuk UPTD SMPN 2 Plemahan. Tapi nyampe SMPN 2 Plemahan kembali bingung arah mata angin. Sholat kiblatnya kok hadap Selatan ?

Tips mencari tempat yang belum tahu arahnya : bertanya rute secara rinci kepada yang sudah pernah dengan rute yang sama, jika perlu digambar. Paling penting lagi, tidak malu bertanya, meski berulang kali.

Pentingnya Petunjuk

Ketika menuju ke SMPN 2 Plemahan, Alhamdulillah sangat terbantu dengan papan penunjuk arah. Memang tidak terlalu besar, tapi tulisan tetap jelas terbaca. Bentuknya sama, jadi dari kejauhan sudah bias menebak ketika ada jalan bercabang, ow…di depan sudah terlihat tanda panah harus ke mana.
Dan tadi malam peringatan Nuzulul Qur’an. Al-Quran yang mulia adalah firman Allah Swt. Al-Quran diturunkan kepada Rasulullah, Muhammad saw., melalui wahyu yang  dibawa  oleh  Jibril,  baik  lafazh  maupun  maknanya; membacanya merupakan ibadah, sekaligus merupakan mukjizat yang sampai kepada kita secara mutawatir. Insya Allah semua akan sepakat bahwa Al Qur’an berfungsi sebagai penjuk hidup manusia, sebodoh-bodohnya muslim, se-ndableg-ndablegnya muslim insya Allah akan tetap takdzim kepada Al Qur’an. Membacanya adalah ibadah, bahkan pernah dapat ilmu, 3 hal yang melihatnya saja jika lillahi ta’ala bernilai ibadah, melihat al Quran, melihat Kakbah Baitullah dan melihat ulama shalih ( belum tahu dalilnya sich, dapat dari kajian Ahad Pagi).

Dan waktu peringatan kenegaraan, ada salah satu pejabat yang diwawancarai, “ Al Quran itu lengkap, mengatur seluruh aspek kehidupan bla…bla…” pernyataan yang baik. Tapi tidak diakhiri dengan ajakan, “ Ayo bersama kita amalkan seluruh isi Al Quran. Ayo ubah system negeri ini agar hukumnya sesuai dengan Al Quran”. Jadi hanya sebatas pujian omong kosong.

Omong kosong, yang jelas haram saja dibiarkan. Hutang ribawi masih menjadi penopang pengelolaan Negara, ingat jumlah utang Indonesia (baik pemerintah dan swasta), semakin tahun semakin bertambah. Akankah negeri ini berakhir seperti Yunani ?

Omong kosong, al Qur’an mewajibkan kencintaan utama kepada Allah dan Rasulullah. Menaati sabda baginda Rasul, salah satunya terkait pengelolaan sumber daya alam yang terkategori kepemilikan umum. Dengan ringannya pemerintah memanjakan Freeport dan membiarkan menjarah hingga puluhan tahun ke depan, keloyalan kepada pemilik modal, hukum Allah diabaikan

Omong kosong, orang yang paham al Quran akan menepati janji, tapi para pemimpin negeri ini telah mengkhianati janji untuk menyejahterakan bangsa. Sebentar lagi listrik tidak disubsidi, bbm sudah lama dicabut subsidinya, privatisasi sudah siap menanti.

Omong kosong, mau mengamalkan al Quran, maunya milih-milih ayat saja.
Al Baqarah :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالأنْثَى بِالأنْثَى فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ

178. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema'afan dari saudaranya, hendaklah mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah membayar kepada yang memberi ma'af dengan cara yang baik. Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,


كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

216. Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Belum lagi terkait dengan hukum individu. Beribu alasan tak mau menutup aurat, beribu alasan masih terlibat riba, beribu alasan tidak peduli dengan sesama manusia, beribu alasan melupakan akhirat terlena dengan dunia. Naudzubillah mindzalik
Quran Surat Thaha :
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

124. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".

Semoga, Ramadhan ini menjadikan kita lebih baik lagi, bias mencapai tujuan puasa, menjadi orang yang bertaqwa. Sebenar-benar taqwa adalah menerapkan hukum Allah dalam semua aspek kehidupan, namun fakta membuktikan system kapitalisme demokrasi tidak akan pernah memberi tempat pada penerapan Islam secara kaffah. Hanya daulah  islam, khilafah ‘ala minhajinnubuwwah.

Teruslah belajar, mengkaji Islam, hukum terkait Khilafah. Terus mengopinikan khilafah, menyadarkan umat akan kewajiban menegakkan khilafah.

Pare, 4 Juli 2015