Thursday, 26 October 2017

Tanggal Lahir James Watt dan Khilafah



Ditanya murid :
Student : “ Bu, James Watt itu lahirnya kapan?”
Me       : “ Wah, ga tahu. Siapa yang tanya? Memang di soal ditanya tanggal lahirnya?”
Student : “ Mboten Bu, biar tahu saja?”
Me       : “ Ooow, sebentar nyari dulu, nanya si mbah”


Berdasarkan pencarian di google James Watt lahir di Skotlandia 19  Januari 1736.


Biar tidak sekadar tahu, mari dilihat tahun kelahiran ilmuwan pada masa kekhilafahan, di saat system Islam menaungi hampir 2/3 dunia (sumber lupa, ini bahan bimbingan belajar siswa untuk pengetahuan umum agama Islam jika ada olimpiade)


Berikut ini daftar beberapa Ilmuwan Islam yang karya-karyanya sangat fenomenal pada masanya :
1. Al Zahrawi (930 – 1013 M) : Penggagas ilmu bedah & operasi gigi serta penemu kosmetika
2. Al Kindi :Psikolog pertama yang menerapkan terapi musik
3. Ibnu Sina (980 – 1037) : Pakar kedokteran yang menjelaskan 700 cara pembuatan obat
4. Al Jahiz (781-869 M) : Ahli Biologi pertama yang mengembangkan teori evolusi
5. Ibnu Al Baitar (abad 13 M) : Ahli farmakologi Penggagas obat yang berasal dari tumbuhan
6. Al Ghafiqi (Pakar Botani, wafat 1165 M) : Menggagas pemberian nama pada lebih dari 500 tumbuhan ke dalam 3 bahasa
7. Abu Ubaidah ( 728 – 825M ) : Ahli Zoologi yang pertama kali mempelajari secara intens tentang kuda, hampir 100 judul buku Ia buat.
8. Jabir Ibnu Haiyan : ( Ilmuwan kimia 721 – 815 M) : Disebut-sebut sebagai "Bapak Kimia Modern" = penemu sederet proses Kimia : penyulingan/ distilasi, kristalisasi, kalnasi, sublemasi, sekaligus penemu parfum pertama kali.
9. Khalid bin Yazid (wafat 709 M) : Penemu Potasium sebagai bahan utama pembuatan mesiu
10. Al Khawarizmi (Bapak Matematika (Aljabar, Kalkulus), Astronomi – (Abad 12 M)
Penemu angka 0, rumus linear dan kuadrat, penyusun tabel sinus dan tangen, pembuat peta globe untuk pertama kali
11. Abu Hasan al Uqlidisi (952 M) Ahli Aritmatika, penggagas operasi dasar bilangan
12. Abu Al Wafa' Pembuat Rumus Trigonometri : Sin 2x=2sin xcos x
13. Ibnu Rusyd (Ahli neuropharmakology) Penemu penyakit Parkinson
14. Ali Ibnu Al Tabari (AhliPsikologi) Orang Pertama yg menerapkan Psikoterapi
15. Al Biruni (11 M) Perintis psikologi eksperimental
16. Abu Zaid al-Balkhi ( 10 M) Pencetus Penyakit gangguan Jiwa
17. Ziyad bin abu Sufyan ( abad9) Penggagas jasa POS
18. Ibnu Batutah (abad 14 M) Pakar Geografi, yang menemukan tidak kurang dari 300 jalur laut
19. Al Zirikli (abad 10) Musisi Penemu alat musik piano
20. Ishaq Al Mausili (wafat 850M) Musisi Yang memperkenalkan Solmisasi (do,re,mi,fa,sol,la,si,do) untuk pertama kali
21. Ibnu Al Haitham (abad 10M) : Bapak Optik Sang Penemu Kamera Obscura,
22. Abu Raihan (1000 M) Ilmuwan pertama yang menemukan astrolabe mekanik,untuk menentukan sistem kalender bulan dan matahari
23. Abi Bakar isfahan (1235M) Penemu komputer analog
24. Al Jazari (1206-1210) Penemu Jam istana / jam astronomi,dan Pencipta Robot untuk pertama kali
25. Amr Ibn Bahr al-Jahiz Ahli Biologi Islam (776-868).


Para ilmuwan Islam lahir jauh hari sebelum bermunculannya ilmuwan Barat. Ilmuwan Islam lahir di saat Islam diterapkan dalam naungan khilafah, dimana syariat Islam diterapkan dalam semua aspek kehidupan. Akan tetapi di saat pemikiran umat Islam mulai melemah, syariat semakin diabaikan, timbangan ayunan sejarah mulai berat di Barat, bermunculan lah ilmuwan Barat setelah bertarung demi lahirnya kapitalisme. Secara legal agama tidak diterapkan dalam kehidupan. Wajar karena agama Nasrani bukanlah ideolagi, tidak mempunya fikrah dan thariqah, hanya sebatas aqidah ruhiyah yang tidak mempunyai solusi atas permasalahan dalam kehidupan.

Berbeda dengan Islam, Islam agama yang lengkap, Islam bukan sekadar aqidah ruhiyah, namun Islam juga sebuah ideology, mempunyai seperangkat aturan untuk diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Islam agama sempurna yang diberikan Allah SWT untuk umat manusia. Islam dijamin Allah bisa menjadi rahmat untuk seluruh alam.
Untuk bisa menjadi rahmat bagi seluruh alam, Islam harus diterapkan secara kaffah, yaitu dalam system khilafah.

Khilafah system yang diwariskan Rasulullah saw, diterapkan para sahabat dan para khalifah sesudahnya. Semua madzab sepakat khilafah adalah ajaran Islam. Maka menjadi kewajiban bagi umat Islam untuk mewujudkan khilafah, dengan keyakinan system warisan Rasulullah adalah yang terbaik. Dan pasti terwujud. Insya Allah dengan khilafah, umat manusia diperlakukan sesuai fitrahnya, bukan dibebaskan mengumbar hawa nafsu, bukan dibiarkan berkelakuan bak binatang.


Dengan khilafah, umat Islam akan menjadi umat terbaik, Islam dirasakan rahmatnya oleh seluruh alam. 


Pare, 26 Oktober 2017

Wednesday, 18 October 2017

Sayang, opo kowe krungu jerite atiku ?



Awal kali penasaran dengan lagu ini ketika ada paduan suara saat wisuda di sebuah universitas, ternyata ini lagunya.

Syairnya menurut saya ya retoris belaka, tak perlu ditanyakan lagi ,jeritan hati yang sangat mungkin tidak diketahui orang lain. Mau orang lain tau apa isi hati kita atau pikiran kita ya ucapkan secara lisan atau tulisan, tidak semua orang ngerti ilmu batin, apa yang tidak disampaikan ya tidak akan dimengerti.

Dan saat ini mungkin ada banyak jeritan rakyat yang  tak terucapkan, sudah bosan menyampaikan keluhan. Sekeras apapun jeritan rakyat sudah tak bisa menembus  pendengaran penguasa. Dan akhirnya bisa menjerit dalam hati saja.

Data terbaru dari BI per Agustus 2017 utang luar negeri Indonesia tercatat 4.590,9 triliun rupiah, tumbuh 4,7 persen  dibandingkan Juli 2017. Lagi-lagi rakyat kecil tak bisa membayangkan sebanyak apa uang 4500 triliun. Yang ditahu hanya pemerintah terus membangun infrastruktur yang tidak semuanya bisa dinikmati seluruh rakyat, rakyat tahunya kehidupan semakin sempit, pajak semakin melangit, rakyat tidak tahu apa saja yang sudah dujual pemerintah untuk membayar utang beserta bunganya.

Rakyat semakin sering disuguhi pencitraan dan pengalihan isu. Rakyat seringkali disuguhi ketidakadilan penguasa menegakkan hukum, rakyat seringkali disuguhi polemic kebijakan yang dikeluarkan dengan seenaknya sendiri.

Dan saat ini rakyat juga dimanfaatkan, dibenturkan agar tidak terjadi keharmonisan dalam kehidupan. Pengajian dibubarkan dibiarkan, Ustadz diusir dibiarkan, gesekan antar rakyat digalakkan. Biarlah rakyat sibuk dengan perpecahan sehingga tidak sempat mengalihkan pandangan terhadap kebijakan pemerintah.

Penguasa saat ini benar-benar semena-mena, syariat Allah diabaikan, hukum Allah dijadikan bahan olokan. Dan  salah satu kekejaman adalah pembubaran ormas HTI. Dengan semenang-menang  tanpa memberikan alasan yang jelas dan sah di pengadilan HTI langsung dibubarkan. Padahal tidak ada bukti kader HTI korupsi, tidak ada bukti anggota HTI menjual asset Negara, tidak ada bukti HTI berpihak pada asing. Sungguh kejam nian penguasa yang disetir kemauan para pemilik modal. Padahal ada banyak parpol yang kadernya jelas banyak terlibat korupsi, ada banyak ormas yang seringkali semena-mena, ada ormas yang nyata berbuat rusuh namun dibiarkan begitu saja. 

Maka, upaya untuk terus menolak PERPPU Ormas yang menjadai salah satu bukti kedzaliman penguasa akan terus dilakukan.

Aksi massa menolak PERPPU, menggalang dukungan masyarakat dan para tokoh, harus terus dilaksanakan. Bukan karena sakit hati, tetapi mencegah kemungkaran adalah sebuah kewajiban, menasehati agar tidak dzalim adalah sebuah kewajiban. Dakwah amar makruf nahi mungkar adalah perintah Allah, legalitasnya dari Allah, tidak akan berhenti meski manusia menghalangi.

Perlawanan nyata melawan kedzaliman penguasa akan terus dilakukan, perlawanan itu tidak akan berubah menjadi sekadar jeritan hati,menyampaikan opini dakwah secara nyata dengan selalu memohon kepada Allah, perlawanan penduduk bumi dan perlawanan dengan bantuan langit, pasti akan membuahkan hasil, karena Allah tidak akan pernah mengingkari janji.




Sunday, 1 October 2017

Sing Waras Kudu Ngalah ?


Sejak dulu insya Allah tidak masalah naik bis SK, tidak semua sopirnya ugal-ugalan namun lebih sering dapat yang ugal-ugalan. Dan sekarang meski SK sudah tidak ada, terakhir naik SR yang lumayan mahal, ternyata dapat sopir yang lihai, namun cenderung seenaknya sendiri. Naik SR sore hingga malam, membuat jantung deg-degan. Awalnya merasa tenang melihat kondektur yang nyantai dengan gaya si sopir, kondekturnya tidak banyak komen, tetap santai nulis dan sesekali  ngecek karcis. Berarti memang sudah terbukti sopirnya handal, gaya nyopirnya memang terasa halus tidak main banting setir. Tapi seringkali membuat kendaraan lain harus keluar jalur, baik kendaraan kecil maupun kendaraan super besar. Memang tidak sampai senggol sana-sini, tapi sepertinya kendaraan lain lebih memilih mengalah, daripada kalah dengan kenekadan sopir SR, lebih baik mereka mengalah meski resikonya harus keluar jalur, keluar badan jalan yang belum tentu aman, daripada bertabrakan dengan bis yang tidak mau ngalah dan lebih berpeluang banyak memakan korban. Marka jalan pun seringkali tidak digubris, marka tidak boleh mendahului tidak dipedulikan, terkadang mengagetkan kendaraan yang berlawanan arah. Benar-benar sing waras kudu ngalah. Meski tidak salah memilih mengalah. Memaklumi kelakuan kurang waras pihak lain.

Di jaman yang semakin karut marut seperti ini memang yang masih berpikir jernih harus mengalah, meski dalam posisi benar lebih memilih mengalah meski kesalahan selalu dicari-cari dan terkadang tidak masuk akal.

Dan akhir-akhir ini ada pihak yang selalu mau menang sendiri, apa yang dilakukan pihak yang tidak disukai selalu dianggap salah. Terutama jika itu terkait dengan aktivitas keislaman. Membela ulama dihalangi, membela Islam dipersulit, membantu umat Islam di negara lain dicurigai, menyampaikan Islam dikriminalisasi, kajian dibubarkan, ulama dikriminalkan. Dan umat Islam lebih memilih mengalah, dipersekusi tidak membalas, kajian dibubarkan tidak melawan, aksi dihalangi tidak terprovokasi. Lebih baik mengalah, daripada berbenturan dengan sudara seiman, daripada bermusuhan dengan saudara sebangsa. Lagi-lagi sing waras kudu ngalah.

Agenda terakhir adalah aksi 299, masih saja ada upaya yang terlihat disengaja. Menghambat perjalanan peserta dari luar kota, menggeledah peserta, meminimalisir fasilitas yang bisa dinikmati peserta. Dicitrakan sebagai aksi yang mengerikan, aksi yang menguras tenaga dan anggaran aparat, pemberitaan yang terpercaya pun tidak ada, pendistorsian informasi jumlah peserta dsb. Marahkah umat Islam yang berjuang membela agama dan menyampaikan ajaran Islam? Tidak. Lagi-lagi memilih mengalah. Sing waras pancen kudu ngalah, ora usah melu edan.

Teruslah menggunakan akal untuk berpikir, tidak mudah terprovokasi. Jika memang harus melawan gunakan aturan yang ada, terus terikat pada syariat, jangan sampai ikut-ikut gelap mata,tidak menggunakan akal untuk berpikir, cukuplah mereka yang lebih sesat daripada binatang ternak, menghalalkan segala cara untuk menghalangi dakwah Islam, membendung kebangkitan umat Islam. Cukuplah mereka yang merasa menang padahal sejatinya mereka melangkah menuju kekalahan, menuju terbukanya kedok jahatnya. Becik ketitik ala ketara. Kemenangan bagi orang yang beriman dan beramal saleh itu pasti,tak perlu diragukan lagi, sabar saja.

Pare, 1 Oktober 2017

Wednesday, 27 September 2017

Syariat Menyelamatkan Hingga Ke Akhirat



Surabaya, 23 September 2017
Alhamdulillah, pukul 6 pagi sudah menginjakkan kaki di kota pahlawan, acara dimulai jam 8. Masih ada waktu untuk melakukan aktivitas lain, salah satunya sarapan. Memilih di tempat terdekat dari parkiran, agar dekat membawa beberapa barang. Memilih tempat yang teduh, di sekitar ada beberapa pohon. Namun sayang bau pesing sangat menyengat. Pasti tempat yang sering digunakan untuk kencing, dan tersangka utamanya pasti para laki-laki. Padahal ruang terbuka. Sungguh perilaku yang tidak terpuji. Dan tempat peseing seperti itu bias dijumpai di banyak tempat, tidak peduli terbuka atau tertutup namun jika berpotensi sepi akan digunakan buang air kecil secara sembarangan.

Dan saya juga menduga kuat, sebagian besar pelaku kencing sembarangan adalah muslim, bagaimana pun ini adalah negeri muslim terbesar di dunia, maka peluang muslim menjadi pelaku aktivitas tidak terpuji seperti ini ya lebih besar. Tidak perlu malu mengakui.

Perjalanan pulang dari Surabaya menuju Pare, di daerah sekitar  Mojokerto perempatan sebelum puskesmas Kedundung, kiri jalan arah meninggalkan Surabaya. Banyak sekali penjual es tebu, dan sewaktu lewat, semua yang jaga wanita. Dan jenis pakaian serta gaya make up nya pun semua hampir sama. Mungkin sudah ditentukan oleh bos-bos mereka, standar penampilannya. Pakai baju minim, kaos mini, celana ketat, rambut rata-rata diluruskan (rebonding?). Dandanan menor. Entahlah apa yang ada dalam benak mereka, apa yang sebenarnya dijual, es tebu apa tubuh mereka?

Dua fakta yang sungguh membuat hati miris. Hal sepele yang sebenarnya secara keilmuan mudah dipahami. Adab buang air dan cara berpakaian syar’i. memang sangat wajar untuk negeri seperti Indonesia, negeri secular, meski beragama namun secara individu tidak ada upaya sekuat tenaga untuk mencari ilmu, masyarakat tak peduli dan Negara pun abai dengan ketakwaan rakyatnya. Semuanya dibiarkan bebas memilih syariat yang diinginkan ketika terkait dengan masalah individu. Menutup aurat boleh mengumbar aurat tidak dilarang. Kencing sembaranagan tidak ada sanksi tegas yang menjerakan. Padahal jika mau mengambil penguasa bias mengadopsi syariat Islam secara menyeluruh. Melegalkannya menjadi aturan perundang-undangan. Sebagaimana undang-undang yang ada, pemerintah juga berkewajiban untuk mensosialisasikan bagaimana syariat itu diterakan, ada kewajiaban Negara untuk mengedukasi rakyatnya agar kenal syariat. Dengan syariat kehidupan akan teratur, tindakan criminal bias diminimalisir, tindakan tidak terpuji bias dikurangi. Karena syariat Islam pasti membawa maslahat, menyelamatkan manusia di dunia hingga akhirat.

Syariat terkait hubungan manusia dengan dirinya sendiri, manusia dengan Allah dan syariat yang mengatur hubungan antar manusia. Mulai dari yang kecil semisal taharah, salat, tata cara interaksi sesama manusia. Hingga mengatur kebijakan penguasa. Semuanya ada dalam Islam. Karena Islam adalah agama yang sempurna, bukan sekadar agama ruhiyah namun juga sebuah jalan hidup. Maka semua yang hidup menjalani kehidupan layak diatur dengan Islam. Oleh karena itu, jika saat ini umat Islam tidak kenal dengan syariat Islam, sangat jauh dengan syariat bahkan ada yang membenci dan yang berusaha menghalangi, itu semua menjadi kewajiban sesama muslim juga untuk berdakwah, mendekatkan syariat kepada umat. Dan jelas ini membutuhkan aktivitas dakwah berjamaah dan terorganisir. PR umat Islam sangatlah banyak, memastikan semua manusia mengetahui bahwa Islam bias menjadi rahmat untuk seluruh alam.

Tidak hanya sebatas mendakwahkan, namun juga mengajak untuk menerapkan Islam secara kaffah. Menyeluruh, tidak pilih-pilih. Tentu ini membutuhkan kerja besar, berdakwah demi meninggikan agama Islam, berdakwah demi menerapkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan.

Namun, upaya dakwah untuk menyeru umat Islam agar kembali pada syariat Islam secara sempurna, akan terhambat jika aktivitas dakwah dibatasi. Dibatasi hanya menyeru pada masalah individu, padahal hukum Islam tegak atas tiga pilar : ketakwaan individu, control masyarakat dan Negara sebagai pelaksana. Jika hanya menyeru pada hukum-hukum seputar individu banyak syariat yang terabaikan terutama yang berkaitan dengan kehidupan public.

Dan saat ini, salah satu upaya untuk menghalangi dakwah Islam kaffah adalah terbitnya PERPPU No 2 tahun 2017 tentang ormas. Secara otoriter, perppu ini akan memberangus aktivitas yang berseberangan dengan penguasa dan para pemilik modal yang telah mengantarkan penguasa menuju kursi kekuasaannya. Secara sepihak penguasa akan mudah membubarkan organisasi-organisasi yang kritis memberi masukan pada kebijakan Negara, dengan anggapan menentang kebijakan penguasa. Jelas ini adalah ciri penguasa antikritik dan diktator. Oleh karena itu, perppu ini wajib ditolak. Perppu ini tidak boleh disahkan oleh DPR, perppu ini akan menghambat siapapun yang akan menyampaikan kebenaran, menyampaikan ajaran Islam secara menyeluruh. Maka siapapun itu, yang masih peduli dengan perubahan menuju kebaikan, wajib menolak PERPPU no 2 tahun 2017. 

Monday, 25 September 2017

Naungan Yang Dirindukan


Panas Luar Biasa Mengiringi Aksi Tolak Perppu No 2 Tahun 2017 tentang Ormas

Panas yang luar biasa di dunia belum seberapa jika dibanding dengan panas saat hari penghisaban, apalagi dibanding panasnya neraka.
Manusia pada hari kiamat akan berkeringat hingga mengalir di permukaan bumi setinggi tujuh puluh hasta dan akan meneggelamkan mereka sampai ke telinganya. (Mutafaq ‘alaih)
Hadits dari Abû Hurairah yang disepakati oleh al-Bukhâri dan Muslim, dari Nabi saw. beliau bersabda:
Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah di bawah naungan- Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu Pemimpin yang adil; Pemuda yang senantiasa beribadah kepada Allah semasa hidupnya; Seseorang yang hatinya senantiasa terpaut dengan Masjid; Dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah kerena Allah; Seorang lelaki yang diajak oleh seorang perempuan yang cantik dan berkedudukan untuk berzina tetapi dia berkata, “Aku takut kepada Allah!”; Seorang yang memberi sedekah tetapi dia merahasiakannya seolah-olah tangan kanannya tidak mengetahuiapa yang diberikan oleh tangan kirinya; dan seseorang yang mengingat Allah di waktu sunyi sehingga bercucuran air matanya.

Tugu Pahlawan Surabaya, 23 September 2017 (saat matahari melintas di garis khatulistiwa)
Jam di atas gedung kantor Gubernur Jatim terlihat jelas, menunjukkan pukul 08.00 WIB. Masih pagi, namun panas matahari sudah sangat menyengat. Beberapa saat kemudian pembawa acara membuka acara aksi damai Tolak Perppu No 2 Tahun 2017 tentang Ormas. Lantunan ayat Al Quran Surah Ali Imran 100-104 dan Annuur 55 ( jika tidak salah mengingat) mendinginkan suasana. Tergetar ketika mengingat Ali Imran 104, dakwah berjamaah sebuah kewajiban, namun salah satu ormas dakwah dibubarkan dengan semena-mena. Optimis saat mendengarkan Annur 55, janji Allah itu pasti. Kemenangan itu pasti akan tiba. Dilanjutkan dengan istigasah, entahlah rasa itu semakiin campur aduk. Tidak terima dengan perlakuan dzalim penguasa yang begitu semena-mena, namun tak pantas juga mengeluh apalagi menyerah, ketika terus melantunkan dzikir, semakin terasa manusia tidak ada apa-apanya, manusia lemah sedang Allah maha segalanya. Allah Maha Kuat, Allah Maha Kuasa.
Disusul dengan tausiyah dari banyak ulama, tidak semua tausiyah terdengar jelas, terkadang hanya sayup-sayup, gangguan sound system, namun tetap berharap mendapat berkah berada dalam majelis yang dihadiri para ulama yang mulia, orang-orang alim yang terbiasa taqarub kepada Allah SWT, setidaknya kami bersama dengan orang-orang yang wara’, orang yang mencintai Allah dan RasulNya, dan semoga kelak diakhirat dikumpulkan bersama mereka.
Semua sepakat bahwa kebijakan pemerintah mengeluarkan Perppu No 2 Tahun 2017 tentang Ormas adalah kedzaliman, sebuah upaya untuk membungkam aktivitas dakwah, membungkan kritik membangun, membungkam kebenaran. Di saat kebebasan begitu diagungkan, bahkan penerus komunisme semakin lantang bersuara, sungguh ironi ormas Islam yang tidak terbukti membahayakan negeri, tidak terbukti menciptakan gangguan, tidak terbukti merugikan apalagi terlibat dalam korupsi secara sepihak dibubarkan, tanpa ada putusan pengadilan. Kebijakan yang otoriter.
Salah satu ulama dalam tausiyahnya juga menegaskan, bahwa aksi damai ini bukan aksi bayaran, bukan aksi demi materi, tetapi aksi murni mengingatkan penguasa agar tidak dzalim, agar tidak menyesal di akhirat kelak.
Di sela tausiyah beberpa kali arroyah hitam besar melintas, bendera besar bertuliskan kalimat syahadat. Beberapa saat berada dalam naungan kain besar itu. Air mata menitik, akankan kelak mendapatkan naungan dari Allah, akankah kelak mendapat syafaat Rasulullah? Pantaskah menerima naungan jika syariat saja diabaikan?
Acara ditutup dengan doa, beberapa saat sempat menoleh ke arah panggung orasi, doanya “nggladrah” banyak sekali yang didoakan dan dimintakan kepada Allah, jelas redaksi kalimatnya tersusun sendiri, dan doa dilantunkan tanpa membaca teks. Hanya terbersit : “ Enaknya bisa bahasa Arab, bisa menyusun redaksi doa sesuai dengan keinginan, meski boleh tidak bahasa Arab, namun akan terasa syahdu ketika terucap dalam bahasa Arab, bahasa Islam). Memang ulama yang luar biasa, doanya tidak semata mendoakan diri sendiri tetapi mendoakan semua umat Islam dalam berbagai urusan.
Dan panas itu semakin menyengat, biarlah. Mungkin kulit akan semakin gosong. Namun setidaknya kelak akan menjadi saksi, bahwa kami benar-benar beraksi demi mencegah semakin dzalimnya penguasa. Kami tidak berdiam diri, kami tidak egois hanya mengurus kepentingan duniawi. Semoga aksi penolakan Perppu ormas bisa mengetuk hati penguasa. Bisa mengetuk anggota DPR bahwa perppu tersebut layak dicabut, bahwa perppu tersebut tidak layak disahkan. Jika penguasa nekat dengan kedzaliman, kelak naungan di saat tidak ada naungan selain dari Allah tidak akan mereka dapatkan. Naudzubillah mindzalik
Pare, 24 September 2017

Sunday, 24 September 2017

Bukan Alphard Yang Kuinginkan


Masjid Al Akbar Surabaya di parkiran berjajar mobil-mobil kecil salah satunya ini, mobil khusus sudah ada namanya.

Alhamdulillah awal pulang kampung masih membawa semangat dari kampus. Masih membawa semangat bonek arek-arek Suroboya, insya Allah bonek dalam hal positif.

Ada acara di Kota Kediri dan dapat jatah sebar undangan di Kota juga, padahal selama kecil sampai SMA belum pernah muter-muter Kediri. Belum mahir naik motor tapi nekat pinjam motor teman, belum tau seluk beluk Kediri tapi mencari alamat-alamat yang sudah diberi. Alhamdulillah, sebar undangan tuntas, meski lampu belakang motor jadi korban karena masih tidak lihai membawakan, namun Alhamdulillah yang punya motor dengan senang hati merelakan.

Pulang kampung, dengan medan dakwah yang jauh berbeda, terutama dalam hal transport. Jika tidak mempunyai kendaraan sendiri harus mengandalkan angkutan umum, dan sayangnya angkutan umumnya pun jarang dan lumayan menguras isi dompet. Jadilah seringkali kemana-mana ikut nebeng teman-teman yang sendirian atau jika memungkinkan meminjam motor. Alhamdulillah diberi teman-teman yang ringan membantu dan peduli. Dan ketika sudah ada motor juga berusaha memudahkan urusan teman-teman yang lain, berusaha memberi barengan ketika ada acara. Naik motor tidak hanya untuk diri sendiri. Tapi hebatnya lagi juga ada teman-teman lain, emak-emak hebat, punya anak satu, dua dan seterusnya tapi masih saja ringan membantu membonceng peserta kajian kemana pun dan siapa pun. Tidak memberi beribu alasan untuk naik sendiri, diantar suami, atau sudah membawa anaknya yang lebih dari satu, sehingga tidak bisa membonceng. Selalu berusaha memberi kesempatan orang lain untuk bisa bareng.

Namun motor punya keterbatasan, hanya bisa membonceng satu orang saja. Tetapi sering juga beberapa kali acara yang membonceng dua orang, kalo yang ini acara remaja, masih remaja dan masih langsing-langsing, bonceng dobel tidak terlalu masalah.

Jika ada acara dan yang ikut lebih dari satu, banyak, beda lagi masalahnya. Jika seperti ini seringkali baper, seandainya saja punya mobil pasti bisa bawa banyak orang. Pernah sampai mimpi bisa mengemudikan mobil minibus dengan lihai, mudah banget, tapi ya itu, di dalam mimpi. Karena malamnya mikir transportasi peserta untuk acara esok hari, yang belum beres. Peserta terus bertambah tapi belum dapat sewa kendaraan.

Alhamdulillah masih banyak menjumpai orang-orang yang dengan ringannya meminjamkan mobil atau malah menyopiri sendiri, mengantarkan kemana-mana.

Jika Allah mengijinkan bukan mobil kecil yang menjadi impian, bukan alphard yang kuinginkan. Kapasitasnya sedikit, tidak bisa berbagi dengan banyak orang. Lebih mengharapkan minibus dengan kapasitas jumbo. Bisa dimanfaatkan untuk memobilisasi banyak orang. Bisa ngobrol dengan banyak orang selama perjalanan.

Semoga bisa memanfaatkan seluruh potensi yang kita miliki untuk kebaikan, untuk dakwah, untuk bekal di akhirat. Bukan berlomba mengumpulkan harta demi kebanggaan semata.



Pare, 24 September 2017

Tuesday, 19 September 2017

Dari Alaska Menuju Munchen

Habis ada acara di Alaska lanjut ada kegiatan di Munchen.

Bukan Alaska di Amerika atau Munchen di Jerman, tapi semuanya adalah nama gedung di Pare. Mau ke London bisa, mau ke Paris juga ada. Tinggal pilih saja.

Pernah bingung dengan informasi seorang teman, meninggalkan pekerjaannya karena berencana mengambil bea siswa di Al Azhar, padahal katanya mau cari beasiswa di Australia atau Eropa, kok malah ke Mesir. Ternyata bukan Al Azhar Kairo, tapi nama salah satu kursusan di Pare.

Dan dalam waktu yang tak terlalu lama, dipamiti dua orang. Satu kembali ke Kairo dan satunya lagi melanjutkan sekolah ke Hungaria.

Kairo, ibu kota Mesir, Negeri Kinanah. Negeri yang melahirkan ribuan ulama mulia, pastilah tempat yang menyenangkan, setiap tempat selalu dihiasi majelis ilmu atau dihuni orang-orang yang mencintai ilmu. Masih dapat cerita dari dua orang saja, dari generasi yang berbeda namun ceritanya sama, di Kairo merasa malu jika tidak belajar atau sekadar memanfaatkan waktu untuk membaca buku dan Alquran. Sangat berbeda dengan kondisi di lingkungan tinggal, membaca dan tempat yang dipenuhi orang belajar itu sangat langka.

Budapest, ibu kota Hungaria, negeri di Eropa yang terkenal dengan keeksotikannya. Pernah menjadi bagian dari wilayah kekhilafahan, insya allah kelak akan kembali dalam pangkuan Islam.

Merantau demi ilmu, demi semakin mendekatkan kepada Allah SWT, demi meraih ridla Allah adalah aktivitas yang mulia. Selama dijalani sesuai dengan syariah akan mendapat berkah.

Namun tidak merantau dan hanya bisa berkutat di suatu tempat pun tidak masalah, selama melakukan aktivitas yang tidak berbeda, sama-sama tetap menuntut ilmu insya Allah juga akan tetap berkah.

Tidak hanya berhenti mengumpulkan ilmu, yang tak kalah pentingnya adalah mengamalkan ilmu dan mendakwahkan ilmu, terutama ilmu agama.

Jadi masalahnya bukanlah semata dimana kita berada, namun kesungguhan kita dalam menuntut ilmu, mengamalkannya dan mendakwahkannya adalah aktivitas yang selayaknya selalu dilakukan seorang muslim.

Bisa jadi belum mempunyai kesempatan untuk keliling ke berbagai tempat, hingga ke berbagai Negara, namun sungguh-sungguh menjalani hidup sesuai dengan syariat, tetap menuntut ilmu, serta istiqamah dalam dakwah adalah sebuah pilihan dan bisa diusahakan. Menjadi orang yang bermanfaat untuk masyarakat dimana  kita tinggal, berkontribusi dalam perubahan menuju ketaatan kepada Allah bisa dilakukan dimana saja kita berada.

Dan jika memang tidak berkesempatan melanglang buana, cukup menyiapkan bekal di akhirat sebanyaknya, semoga kelak diijinkan masuk surga. Di surga apapun bisa kita minta. Dan surga hanya untuk orang yang beriman dan beramal saleh, untuk orang-orang yang bertakwa, jadi berusahalah untk menjadi orang yang beriman, beramal saleh dan bertakwa. Melaksanakan Islam kaffah dalam naungan khilafah. Karena Islam kaffah tidak mungkin terwujud dalam system secular kapitalistik seperti saat ini. Maka perjuangan untuk mengajak diterapkan Islam secara menyeluruh harus terus dilakukan, hingga kiamat nanti. Apapun rintangannya, jangan menghentikan langkah perjuangan.

Saturday, 16 September 2017

HTI Selalu Berusaha Memperbaiki Bukan Merusak Negeri

#TolakPerppu No 2 Tahun 2017



Tiba-tiba ada pengumuman pembubaran HTI, dengan alasan HTI tidak berkontribusi dan malah membahayakan NKRI. Katanya akan diambil langkah hukum sesuai UU yang berlaku. Namun lagi-lagi memberi alasan karena kondisi genting dan darurat dikeluarkanlah PERPPU dan HTI menjadi ormas pertama yang dibubarkan berdasarkan PERPPU.

Di Mahkamah Konstitusi Mendagri memutar rekaman agenda HTI yang berlangsung tahun 2013, bukti bahwa HTI membahayakan negeri ini, bukti bahwa karena HTI Indonesia mengalami kondisi darurat dan genting. Padahal 4 tahun berlalu kegentingan karena agenda tahun 2013 yang dilaksanakan HTI  ternyata tidak terbukti. Entahlah, apa definisi genting dan darurat menurut penguasa saat ini, mungkin yang genting adalah posisi kekuasaan mereka yang semakin hari semakin terancam karena kebijakan yang bertentangan dengan janji-janji saat kampanye. Mungkin kedok mereka yang berkuasa demi kepentingan para pemilik modal semakin terkuak.

Langkah panik untuk mempertahankan kekuasaan dan mengkambinghitamkan HTI semakin menjadi, terakhir media yang terbeli berusaha mengaitkan HTI dengan kasus pelaku penghinaan terhadap Ibu Negara, bendera tauhid dicap sebagai bendera HTI. Sekali lagi jurnalis yang terbeli semakin memperlihatkan kebodohannya. Seolah bebal dengan penjelasn yang berulang, bendera tauhid putih dan hitam bukanlah bendera HTI, itu adalah panji Rasulullah, bendera persatuan umat Islam. Namun langkah jahat ini juga terdeteksi. Dilihat dari rekam jejak pelaku penghina Ibu Negara di media social, sangat jauh dari kriteria pengemban dakwah pejuang syariah dan khilafah. Jadi upaya untuk mengaitkan HTI dengan perilaku ujaran kebencian gagal total.

Tidak berhenti sampai di sini, menuduh HTI hendak makar dan anti pancasila dengan dalih HTI menyampaikan kewajiban khilafah terus diopinikan. Seolah muslim yang memperjuangkan tegaknya khilafah layak dicap sebagai pengkhianat, tindakannya terkategori jahat dan kriminal. Sungguh tuduhan yang sangat kejam. Khilafah adalah ajaran Islam, wajib disampaikan terlepas dari apapun tanggapan rakyat di negeri ini. Khilafah adalah system warisan Rasulullah saw dan para khulafaurrasyidin. Khilafah menjadi alternative jalan untuk memperbaiki negeri ini yang semakin terlilit hutang, ketergantungan pada asing semakin tinggi, dan kerusakan semakin menggila.

Dan salah satu hal yang sangat memprihatinkan adalah kasus KLB Narkotika di Kendari. Narkotika terus menyasar semua usia. Jenisnya semakin beragam dan mengerikan. Nasib generasi dipertaruhkan dengan ketidaktegasan sanki pengguna dan pengedar narkoba.


Jauh-jauh hari HTI sudah sering melakukan kegiatan pembinaan remaja, salah satunya adalah membentengi remaja dari pengaruh dan jebakan narkoba. Dalam setiap pembinaannya HTI selalu mengingatkan agar remaja memanfaatkan masa mudanya untuk mengukir prestasi, terus belajar dan berkontribusi untuk memperbaiki negeri. Tidak pernah sama sekali membina remaja untuk menjadi teroris, menjadi pelajar urakan yang hobi tawuran, menjadi pelajar pemalas yang hobi membangkang. Tidak pernah memotivasi untuk melakukan bom bunuh diri, mengangkat senjata untuk kudeta, membina generasi menjadi koruptor, menjadi penjahat dan kejahatan-kejahatan lainnya. Pembinaan HTI selalu mengingatkan semua umat Islam agar mengingat tujuan penciptaan manusia, hanya untuk beribadah kepada Allah SWT.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, HTI selalu mengingatkan bahaya investasi asing, bahasa privatisasai, bahaya penguasaan SDA oleh asing, bahaya hutang berbasis riba, bahaya liberalisme, bahaya disintregasi bangsa. Tidak pernah menyerukan makar, menghapus Insonesia dari peta dunia.

Maka kebijakan penguasa membubarkan HTI dengan tuduhan sepihak, karena HTI tidak pernah diminta konfirmasi, adalah kebijakan dzalim. Keluarnya PERPPU No 2 tahun 2017 adalah kebijakan yang melanggar konstitusi, memberangus aktivitas ormas yang kritis dengan kebijakan pemerintah, membuktikan pemerintah antikritik. Tidak hanya HTI yang akan seenaknya sendiri dibubarkan, bisa dipastikan setiap ormas yang berseberangan dengan penguasa akan menjadi calon kuat masuk daftar tunggu pembubaran. PERPPU Ormas akan memberangus kebebasan berserikat dan berkumpul. Oleh karena itu, PERPPU ini tidak layak disahkan oleh DPR, seharusnya MK membatalkan PERPPU ini. PERPPU No 2 tahun 2017 wajib ditolak.

HTI memang sudah dibubarkan, namun upaya untuk menyuarakan kebenaran akan terus dilakukan. Karena sampai kapan pun, dakwah amar makruf nahi munkar tetap wajib dijalankan.

Wednesday, 13 September 2017

Pendatang Baru, Tak Perlu Malu Berguru


 Naik bis di terminal awal keberangkatan, masih kosong. Memilih duduk di kursi penumpang paling depan, belakang Pak Sopir. Niat memperhatikan rute jalan yang dilalui. Bis mulai meninggalkan terminal. Sopir mengarahkan kernet bis, kernet baru pertama kali ikut bis. Diberi arahan seputar tugas dan aturan main sebagai kernet. Secara garis besar berpesan kepada kernet untuk bertanya jika tidak tahu dan jangan malu-malu teriak keras.

Beberapa tugas kernet yang langsung diinstruksikan Sopir kepada kernet baru :

Keluar terminal : teriak-teriak menyebutkan tujuan bis menawarkan ke setiap orang yang diduga akan naik bis.
Sopir : “ Nek ngomong sing banter, ojo isin. Kediri…Kediri..Surabaya…Surabaya… ! Sing banter!

Menyeberang : membantu sopir mengamankan jalan ketika bis menyeberang, melambaikan tangan agar kendaraan di belakang memperlambat kecepatan.
Sopir : “ Ayo tangane awe-awe, golekne dalan!”

Ada calon penumpang : membantu membawakan barang, membantu mengamankan penumpang menuju pintu bis, terutama ketika jalan rame.
Sopir : “ Ojo meneng ae, barange digawakne!”
Si kernet membantu membawakan barang penumpang, dibawakan ke bis
Sopir : “ Lho..lho…penumpang e ojo ditinggal, diewangi mlebu bis!”
Kernetnya kembali mendekati penumpang dan mempersilakan masuk.

Me : Mung mesam-mesem, nyawang Sopir cerewet dan kernet yang masih lugu.

Kondektur memberi beberapa lembar uang 2 ribuan.
Kondektur : “ Iki ngko diwehne wong-wong ning tower, catet nomor HP ne sing jogo tower. Iki ndang dicatet! ”
HP nya smartphone. He..he..baru kali ini lihat kernet or sopir pake smartphone. Biasanya pake HP biasa yang batrenya tahan banting. Buat telepon n sms teruuuus sepanjang perjalanan. Nyari info.

Me : bingung, apa maksudnya. Setelah melewati tower pertama baru paham. Tower itu istilah pos-pos tidak resmi yang dijaga seseorang, tugasnya memberi informasi bis yang sebelumnya sudah lewat dan memberi informasi bis setelahnya via sms. Sudah sampai mana bis-bis tersebut.

Menuju  tower kedua
Sopir : “ Duite ndang disiapne, ngarep ana tower. Wis ana sms rung bis ngarep ko ndi ?”
Kernet : “ Dereng”( Mengeluarkan HP nya), “ Ooo nggih pun sms, Bis A nyampe sini”

Sampe tower kedua
Kondektur : “Duite endi? Uncalno ae!”
Kernet mengeluarkan lembaran uang yang terlipat dua dan melemparnya, uang melayang.
Sopir : “ Duite diuntel-untel ben gak ngleyang”.

Sopir ngobrol ringan dengan kernet baru, kenetnya baru lulus SMA belum pengalaman dan sebelumnya juga belum pernah jadi kernet. Salut juga, sudah punya keberanian meski sepertinya belum hafal nama-nama tempat yang umum dijadikan tempat turun penumpang.

Kernet : “ Mangke setelah ini, ini nggih?”
Sopir : “ Ora bar iku, iku” . Menyebutkan dan membenarkan urutan tempat yang akan dilalui.

Sudah mulai keluar kota
Menurunkan penumpang : penumpang menyampaikan kepada kernet tujuan turunnya, kernet mengulang dengan keras agar sopir mendengar.
Sopir : “ Nek ana sing mudhun takoni mudhun endi, trus bengok sing banter aku ben ngerti”

Kernet : “ Pasar…pasar!”
Sopir : “Lha yo ngono, sing banter”.
Akhirnya ada pujian dari sopir.

Pendatang baru yang belum menguasai medan, bekerja dalam sebuah tim. Langsung terjun ke lapangan dengan mengikuti arahan-arahan atasan ( sopir dan kondektur) yang  telah berpengalaman dan jelas paham dengan medan yang akan dilalui. Bertanya ketika memang tidak tahu, mencari informasi. Taat dengan arahan-arahan, meski terkadang mendapat omelan. Untuk yang mengarahkan, tidak bosan mengingatkan. Demi kebaikan tim.


Pare, 13 September 2017


Saturday, 9 September 2017

Senyummu Menenangkanku

Habis gosok gigi di pinggir kali
Harusnya semua senyum sambil menunjukkan gigi

Di jalan depan rumah, bunyi mobil mengerem mendadak, diikuti bentakan orang di dalam mobil. Membentak pejalan kaki yang sepertinya memang kurang waspada. Ikut kaget juga, terutama dengan bentakan orang yang di dalam mobil, bukan membuat suasana tenang, malah membuat yang hampir tertabrak jadi salting.

Sepertinya bukan hanya sekali ini menemui orang yang hampir tabrakan berakhir dengan bentakan, makian atau sekadar pelototan mata.

Dan pernah juga hampir tertabrak atau menabrak. Jelas selalu kaget, jantung berdegup kencang. Tambah  keder lagi jika disertai dengan pelototan mata atau malah menyalahkan, apalagi kalo sebenarnya dalam posisi tidak salah, eee dibentak-bentak. Rasanya itu lho, bikin nyali ciut saja. Namun pernah juga hampir tabrakan tapi yang mau menabrak tersenyum dan bilang  : “ Ngapunten, maaf” . Alhamdulillah, minimal membuat hati tenang meski ndhredheg  puool. Dan itu pula yang terkadang saya lakukan ketika hampir tabrakan, terlepas siapa yang salah berusaha untuk mendahulukan senyum, jika kesalahan memang fatal biasanya hanya mengingatkan jangan membahayakan pengendara lain.

Begitulah, senyuman di saat keadaan tegang terkadang menjadi obat lara. Menenangkan jiwa. Adem, nyess. Tentu senyuman yang tulus, bukan senyuman atau malah tertawa tanpa makna, cuma pemanis saja, hambar.
Jangan sepelekan senyuman.

Engkau jangan menyepelekan  kebaikan sedikit pun, meski hanya sekadar bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri-seri.  (HR. Muslim).

Setiap  kebaikan  adalah shadaqah. Dan termasuk kebaikan jika engkau menemui saudaramu dengan wajah berseri, dan  jika engkau menuangkan air dari bejana milikmu pada bejana milik saudaramu. (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, ia berkata, “Hasan shahih”)

Senyummu di hadapan sahabatmu adalah shadaqah.  (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban, dalam Shahih-nya)

Tuesday, 5 September 2017

PR Menulis



Keterangan gambar (yang tidak ada hubungannya dengan tulisan) : Sari kedelai pemberian siswa. Bukan pertama kali diberi siswa, ada yang memberi sebuah jeruk, segenggam biscuit , sekotak nasi dsb. Padahal terkadang ngomel-ngomel sambil marah, saking juteknya dengan kelakuan mereka. Meski diceramahi dan sesekali dimarahi dengan polosnya maju ke meja guru : “ Bu, niki biscuit” , “Bu, saya kasih sari dele mau?”

Dahulu ketika SMA, salah seorang guru sejarah seringkali memberi tugas menyalin materi di buku, menulis tangan, sekali memberi tugas langsung berlembar-lembar, capek. Tapi secara pribadi lebih suka nulis saja, daripada mendengarkan cerita panjang lebar tentang sejarah. Bisa-bisa tidur pulas, membosankan. Lebih nikmat membaca sendiri. Setidaknya dengan menulis/menyalin otomatis didahului dengan membaca. 

Dan sekarang pun juga menerapkan cara yang sama untuk murid di sekolah, lebih sering memberi tugas menulis. Bukan karena malas menjelaskan, namun tipikal siswa yang masih perlu dilatih daya konsentrasi untuk mencerna materi yang dijelaskan. Sudah menerangkan ngalor ngidul ngetan ngulon,nggedabrus, jebulane sing diterangke gak ngerti babar pisan. Dan sesekali memberi PR menulis. 

Menerangkan secara singkat, meminta siswa menandai materi-materi penting yang harus dicatat. Memberi kesempatan siswa mencatat, baru memberi penjelasan tambahan. Lumayan, lebih bisa connect daripada tanpa pendahuluan menulis.

Menulis, apalagi dalam rangka meringkas materi, bisa menyelam sambil minum air. Menulis sekaligus membaca. Dan terkadang menulis tangan adalah cara yang ampuh untuk mengingat apa yang telah dibaca, rasanya berbeda dengan mengetik. Jadi jangan menganggap remeh aktivitas menulis (tangan). 
Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (TQS Al Kahfi 109).

Mari terus menulis (tangan) dan membuat tulisan. 




Wednesday, 16 August 2017

Jamilah Level 5



Baru tahu, ternyata kamera di HP saya ada option pengaturan hasil gambar. Salah satunya terkait hasil akhir wajah yang difoto, ada pilihan beauty level 1 sampai level 5. Semakin besar levelnya maka kulit akan terlihat semakin halus. Noda di wajah meski segede  gajah jadi hilang. Kok jadi su’udzan. Jangan-jangan yang suka upload hasil selfie di medsos pake yang level tertinggi. Makanya terlihat cantik dan ganteng, kinyis-kinyis, jamilah dan jamil.

Normal saja, manusia ingin terlihat sempurna tanpa cela. Ingin tampil menarik perhatian. Ketika share di medsos rasanya begitu berbunga ketika ada yang suka, apalagi jika yang suka berbeda jenis kelaminnya. Dan tambah gembira ketika komentar pujian membanjiri.

Di dunia nyata, sepertinya tidak jauh berbeda. Make up yang bisa menyulap wajah semakin banyak dijumpai. Wajah putih atau kuning menawan, noda tersamar, wajah pun tampak segar. Tapi ketika tidak ber make up, wuiih wajahnya terlihat pucat. Ternyata hanya kamuflase saja.

Dan tak jarang, demi terlihat sempurna mengeluarkan biaya yang lumayan banyak. Agar orang senang ketika melihat wajahnya, agar orang tertarik dan betah memandang. Dan tak jarang pula penampilan menarik menjadi syarat untuk beberapa pekerjaan. Dan persyaratan menarik ini selalu identic dengan wajah halus dan cantik.

Mengapa demikian ?
Mungkin karena standar penilaian terhadap seseorang hanya sebatas tampilan wajah. Wajah cantik dan tampan menjadi factor baik-buruknya seseorang untuk dijadikan teman, baik teman biasa, partner kerja hingga partner hidup.

Sebuah penilaian yang wajar muncul di tengah masyarakat yang pemikirannya secular, jauh dari standar Islam. Standar menarik dan “bermanfaat” menurut pemikiran secular adalah ketika menghasilkan materi sebanyaknya serta kepuasan nafsu. Termasuk penilaian terhadap penampilan. Penampilan yang menarik adalah dilihat dari wajah. Cantik itu menyenangkan, jelek itu layak dimarginalkan. Cantik itu bisa diuangkan, jelek itu membawa sial. Cantik itu membagakan, jelek itu memalukan.

Sungguh penilaian rendahan, menilai manusia hanya sebatas penampilan fisik.

Cantiknya wajah itu bukan prestasi manusia namun anugerah Allah SWT, tak layak sombong merasa cantik itu karena diri sendiri, tak perlu malu ketika paras tidak menarik dalam pandangan manusia.

Bentuk fisik dan wajah adalah qadla Allah SWT, manusia tidak bisa memilih bentuk wajah, hidung, mata, kulit dan lainnya. Manusia tinggal menerima apapun yang Allah berikan terkait qadla (ketetapan), dan manusia pun tidak diminta pertanggungjawaban atas wajah yang diberikan, namun dimintai pertanggungjawaban bagaimana menerima dan memperlakukan qadla Allah.

Tak perlu risau dengan penilaian manusia, apalagi dari manusia tidak beriman dan bertakwa. Cukup ridla dengan qadla Allah, karena ridla dan iman kepada qadla adalah satu rukun iman, penentu keimanan dan kekafiran. Yakin dengan balasan Allah kepada orang-orang beriman dan beramal saleh. Mengingat bahwa Allah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk dan menilai manusia dari derajat takwa, bukan fisik semata.

Sunday, 13 August 2017

Afwan anti bukan Jamilah

6 Januari 2012


“Huh gregeten aku sama temennya suamiku” gerutu seorang mbak.

“ Lho…lho..ada apa to mbak ? “ aku  bertanya.

“ Dari dulu minta tolong, katanya minta dicarikan akhwat calon istri. Dah aku tawari beberapa orang tetep aja menolak dengan alasan yang kurang jelas, eee… kemarin waktu didesak suamiku apa alasannya knp selalu menolak, alasannya sepele  banget “ . Katanya “ afwan saya cari yang  jamilah”.

“Enak men nek ngomong… dikira akhwat ga jamilah itu bisa milih apa . itu kan qodlo… yo wis lah sak karepe… ra bakalan tak golekne “.

“Ooo… ngono to ceritane “ he..he aku hanya bisa tersenyum….

Mari membuka, membaca dan memahami buku SISTEM PERGAULAN DALAM ISLAM BAB PERNIKAHAN, lumayan biar adem, tidak mengkambinghitamkan qadla yang telah ditetapkan Allah, kl memang  tidak jamilah mau gimana lagi. Masak harus ganti ijazah mulai dari TK, trus ganti akte kelahiran, trus njenang abang, tumpengan, kajate : jenengku ganti Jamilah.

Oplas,perawatan ini itu? Pake mahal bingit? Eman banget, masih ada kewajiban yang harusnya diselesaikan, tidak perlu pusing dengan qadla. PeDe aja, meski bukan jamilah.

Mengkaji bab pernikahan tsb ga harus nunggu “calon” ada di depan mata…
Sama seperti ketika kita membahas  ttg  “kematian” ga harus nunggu mati dulu to…?

Yang sudah “praktik “ buat evaluasi diri n ngasih ilmu ke orang lain…
Yang sudah menguasai tp blm “praktik” biar tambah ingat, sabar  dan tinggal mengaplikasikan…

Btw, kalo punya kriteria calon pasangan jamil or jamilah boleh aja, gpp.  Tapi perlu diingat fisik itu tidak abadi, jadikan iman dan taqwa yg utama.



Selamat membaca…^_^
Yang belum punya bukunya silakan inbox saya kirim filenya.
Barakallahufik….

Jamilah=cantik, ayu, bening, beautiful


Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya ( QS : At Tiin [95] : 4)

Monday, 7 August 2017

Jangan Lagi Menyalahkan Afi


Sekali lagi Asa Firda Nihaya atau yang lebih dikenal dengan Afi Nihaya Faradisa menuai kontroversi setelah mengunggah sebuah video. Video yang merupakan ungkapan curahan hati Afi dianggap menjiplak video Amanda Todd yang telah lebih dahulu bunuh diri. Kritikan pedas ditujukan kepada Afi semakin banyak. Setelah kasus plagiat tulisan, Afi dianggap belum tobat. Tidak hanya sekadar kritikan, hujatan pun semakin banyak dilontarkan. Bahkan ada yang meminta Afi untuk tidak lagi aktif di media sosial, ada juga yang menyalahkan pembiaran orang tua Afi atas perilaku Afi yang belum kapok untuk terus mencari sensasi. Cacian kasar pun kadang diungkapkan netizen yang telah habis kesabarannya, sudah tidak mentolerir lagi plagiat yang kembali terulang.

Afi memang salah, namun selayaknya hujatan kepadanya tidak dilanjutkan. Setidaknya cukup Afi saja yang salah dalam langkah, jangan lagi terbawa arus menghujat kesalahannya. Mari mengambil hikmah dari peristiwa ini. Remaja yang digadang memiliki pemikiran luar biasa ternyata tidak jauh berbeda dengan kebanyakan remaja lainnya, remaja alay dengan emosi labil. Mari sejenak merenungi mengapa ada remaja yang begitu percaya diri dengan kesalahan yang nyata tampak di depan mata namun sangat lamban mengucap kata maaf dan penyesalan bahkan dengan ringannya kembali mengulang kesalahan. Remaja seperti ini masih banyak di luar sana, Afi hanya salah satunya, bedanya Afi telah dibesarkan media massa.

Afi adalah salah satu contoh remaja yang pemikirannya teracuni pemikiran kufur, pemikiran liberal yang membebaskan akal manusia untuk berpendapat dan bersikap. Pemikiran liberal telah membuat Afi tidak yakin dan bangga dengan agama yang telah diwariskan dari orang tuanya. Pemikiran liberal telah mengacaukan logika berpikir Afi untuk tunduk sepenuhnya pada syariat yang telah ditetapkan Allah SWT dan Rasulullah saw. Orang semacam Afi merasa kebenaran adalah relatif, maka tak layak seorang muslim mengklaim bahwa ajaran agamanya yang paling benar. Secara tidak langsung pemikiran seperti ini telah memudarkan identitas muslim yang hakiki, tak perlu memegang teguh ajaran agama karena belum tentu benar menurut pandangan ajaran agama lain. Dan apa yang terjadi pada Afi juga terjadi pada sebagian generasi muda di negeri ini. Memang tidak semua sama seperti Afi, namun faktanya ada banyak remaja muslim yang mengalami krisis identitas sebagai muslim. Generasi yang maunya instan dalam segala hal, tidak mau bersusah payah dalam kehidupan, inginnya senang-senang tetapi enggan berjuang. Motto hidupnya pun tak jelas hanya sebatas muda foya-foya dan dipuja, tua kaya raya mati masuk surga, namun tak mau menapaki jalan takwa.

Sungguh fenomena remaja liberal yang tidak mau terikat pada syariat Allah semakin banyak dijumpai. Ricuh konser, tawuran pelajar, remaja membunuh, remaja memperkosa, remaja merampok, remaja punk semakin meningkat. Inilah yang juga seharusnya membuat kita miris, remaja alay dirusak remaja kritis dimanfaatkan untuk menghancurkan khasanah pemikiran Islam.

Remaja semisal Afi hanyalah salah satu korban sistem kapitalisme yang menjadi landasan dalam kebijakan di negeri ini. Apapun dilakukan untuk melanggengkan cengkeraman kapitalisme di negeri-negeri kaum muslimin. Pemikiran kufur terus dijejalkan pada generasi Islam, ini dilakukan untuk merusak pemikiran generasi, menjauhkan Islam dari anak-anak umat Islam, dan mencegah bangkitnya kembali Islam. Oleh karena itu, jangan lagi menyalahkan Afi hanya dengan menghujat perilakunya. Bagaimana pun juga jika Allah menghendaki masa depan Afi masih panjang, mari bersama mengasihani Afi, merangkulnya agar kembali pada pangkuan Islam. Bukan Afi semata yang salah, namun orang-orang di sekitarnya yang meracuni Afi dengan pemikiran liberal juga turut andil, dan kita yang tidak sepakat dengan Afi juga mempunyai kewajiban untuk mencegah agar pemikiran liberal tidak semakin menyebar. Dakwah amar makruf nahi munkar harus semakin digencarkan. Dan yang tak kalah pentingnya adalah melakukan perubahan menyeluruh. Sistem kapitalis sekular telah nyata membuat negeri ini jauh dari keberkahan. Mengajak rakyat untuk tidak lagi mengandalkan sistem kapitalis, mengajak untuk menerapkan Islam kaffah yang tidak akan pernah terwujud selama sistemnya masih berpijak pada kapitalisme. Sistem kapitalis hanya akan melahirkan generasi sekular yang abai dengan agama. Sebaliknya, dengan menerapkan sistem Islam, pemikiran generasi akan terjaga, akan lahir generasi berakhlak mulia, mengukir prestasi setinggi langit dan selalu menjadikan akhirat sebagai visi hidupnya. Dan gelar umat terbaik pun akan terwujud. Wallahu a’lam bishawab.  

Nur Aini

Guru Tinggal di Pare Kediri Jawa Timur

Wednesday, 2 August 2017

Akan Diingat Dengan Kebaikan Apa?


Keluarga besar Yayasan Ittihad Darul kembali berduka, H-1 Idul Fitri 1438 H, Hj. Siti Fatimah meninggal dunia. Beliau selama hidupnya mengabdikan diri di lingkungan Yayasan, berpuluh tahun di TK AlHidayah Bakti I, juga di MTs YPSM. Aktif di Wanita Islam, dan setelah purna pun juga tetap aktif dalam kegiatan yayasan.

Tidak hanya itu, Bu Siti juga istri Pak Kalend, pendiri BEC. BEC adalah pioneer kursus Bahasa Inggris di Pare. Sejak merintis hingga akhir hidupnya  selalu mendampingi Pak Kalend.

Tulisan ini tentu tidak bisa menceritakan apa saja amal baik Bu Siti, uncountable. Namun insya Allah beliau akan selalu dikenang dengan beribu kebaikan. Dan semoga amal beliau diterima Allah, dosanya diampuni, kuburnya dilapangkan dan di akhirat mendapat balasan surga.

Menulis ini karena mengingat, hari ini 40 hari sudah Bu Siti meninggalkan dunia. Dan kepergiannya pun seperti biasa, sebagaimana kematian yang lain, selalu membuat terkejut.

Meninggal Sabtu 24 Juni 2017, sore sekitar pukul 14 WIB. Padahal Jumat pagi masih sempat ngobrol dg beliau dan masih banyak kegiatan yang dilakukan. Sabtu sepanjang hari juga masih beraktivitas seperti biasa. Semoga husnul khatimah. Amiin.

Dan insya Allah akan ada banyak orang yang selalu mendoakan, karena semua menyaksikan banyak kebaikan yang telah dilakukan.

Bagaimana dengan kita ? Semoga masih ada kesempatan untuk selalu dalam kebaikan, taat sesuai syariat. Amiin.

Semoga demikian juga dengan pejabat negeri ini, semoga menyadari ada banyak kedzaliman telah mereka perbuat. Kebijakan kapitalis yang membuat asing memuji penguasa, kebijakan secular yang membuat moral semakin rusak, kebijakan liberal yang membuat rakyat semakin menderita. Kebijakan otoriter yang mengkriminalkan ulama, memojokkan pengemban dakwah, membubarkan ormas dakwah.

Semoga pejabat dzalim ini, masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri, hingga memang ajal telah tiba kebaikan yang dikenang, bukan kedzaliman atau bahkan rasa syukur umat karena kematian akhirnya menghentikan kesombongan penguasa dzalim ini.


Pare, 2 Agustus 2017

Monday, 24 July 2017

Jika Bertemu Dengan …

 Pernah membuat status :
Jika saya bertemu Pak Jokowi
Saya Cuma ingin nawari
Monggo ngaji tilawati
Gpp saya ngajari tanpa dibayari

Dan juga pernah menulis :
Jika bertemu Pak Wiranto atau Pak Tito saya akan minta tolong beliau-beliau untuk ngajari murid saya kelas 4 baca Yasin. Jika tidak bersedia saya ngajak murid kelas 6 untuk membacakan Yasin kepada beliau-beliau.


Mungkinkah bertemu dengan Pak Jokowi, Pak Wiranto atau Pak Tito?

Insya Allah mungkin saja, karena hanya di Pare - Kediri saja juga pernah bertemu / melihat secara dekat dengan beberapa orang pusat yang tak pernah menduga akan berkunjung ke Pare- Kediri. 

Khusus untuk Pak Jokowi, Pak Wiranto, atau Pak Tito toh jika tidak bertemu di dunia ya pasti di akhirat saya masih bisa meminta pertanggungjawaban mereka di hadapan Allah di Hari Penghisaban kelak, karena saya yakin 100% akhirat itu ada.


2014 setelah Gunung Kelud meletus, meski tidak berbincang tapi posisi saya sangat dekat dengan Presiden SBY, Menkokesra Agung Laksono, Wagub Jatim Gus Ipul. Saat itu berada di posko kesehatan TNI AL.

 Gus Ipul, baju coklat masker  hijau terbuka (Lapangan Wates 17/2/2014)



Tahun 2017, juga menghadiri pembukaan Aksioma tingkat Jatim di Lapangan Canda Bhirawa Pare, yang buka adalah Gus Ipul, memang kali ini hanya bisa melihat dari jauh.

Dan saat ini sedang hangat berita kebrutalan Israel di Palestina. Jelas membunuhi umat Islam di Palestina, tapi tidak ada yang mengirimkan tentara bala bantuan, bahkan gerakan pemuda yang pakaiannya mirip tentara yang hobinya membubarkan pengajian atas nama bela Negara juga tidak berbuat apa-apa.

Jadi ingat, tahun 2012 pernah bertemu dengan Ust. H. Ferry Nur, beliau saat itu adalah Sekjen KISPA  (Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina), saat itu sedang ada acara di BEC. Tanpa diundang beliau mampir ke rumah, bukan mau ada acara, mampir beli madu saja. Tapi ngobrolnya ngalor ngidul ngetan ngulon.


Dan beberapa kali ngobrol dengan anak-anak orang hebat tingkat nasional, sedang kursus di Pare, tidak meminta bertemu dengan mereka, kebetulan saja ngobrol dan akhirnya cerita A sampai Z. Meski belum ngobrol dengan orang tuanya, setidaknya punya link ke anaknya, minimal suatu saat jika bertemu bisa ada bahan SKSD, sok kenal sok dekat.



Jika memang saya tidak bisa bertemu dengan Pak Jokowi, Pak Wiranto atau Pak Tito,semoga yang berkesempatan bertemu bersedia membisiki beliau-beliau : “ Jadilah pemimpin yang amanah Pak! Ingat mati, ingat akhirat!”. Itu saja. Speechless dengan kebijakan mereka, dzalim.


Atau Gunung Kelud harus meletus lagi agar para pembesar datang ke Kediri?
Akankah menunggu bencana untuk peduli?
Akankah berpikir akhirat itu harus nunggu mati?
Sungguh sangat telat sekali


Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (Al A’raf 96)

Sunday, 23 July 2017

Merindukan Khalifah Umar Bin Khattab



Mengingat Kembali Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Kelas VI Semester I KTSP 2010, saat itu mendapatkan file ini untuk membuat KKM.
2.      Mengenal sejarah khalifah Umar bin Khottob
2.1    Menceritakan silsilah, kepribadian Umar bin Khattab dan perjuangannya dalam dakwah Islam.
Ø  Menyebutkan nama ayah dan ibu Umar bin Khattab
Ø  Menyebutkan asal suku/ klan/ bani Umar bin Khattab
Ø  Menentukan pertemuan nasab Umar bin Khattab dengan Nabi Muhammad Saw
Ø  Menyebutkan karakter sifat Umar bin Khattab
Ø  Menyebutkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki Umar bin Khattab
Ø  Menjelaskan kedudukan Umar bin Khattab dalam masyarakat kafir Quraisy
Ø  Menceritakan kisah masuk Islamnya Umar bin Khattab
Ø  Menceritakan perjuangan Umar bin Khattab setelah masuk Islam, yaitu menjadi pembela nabi/ pembela kaum yang tertindas
Ø  Menunjukkan sikap/ perilaku membela aqidah Islam dengan berani dan tegas
2.2    Menunjukkan contoh-contoh nilai-nilai positif dari kholifah Umar bin Khattab.
Ø  Menjelaskan latar belakang dibentuknya lembaga negara
Ø  Menyebutkan lembaga-lembaga Negara yang dibentuk khalifah Umar bin Khattab
Ø  Menyebutkan fungsi-fungsi lembaga Negara yang dibentuk kholifah Umar bin Khattab
Ø  Menjelaskan latar belakang ditetapkan kalender Islam
Ø  Menjelaskan alasan-alasan hijrah nabi ke Yatsrib dijadikan sebagai dasar penghitungan kalender Islam
Ø  Menyebutkan sahabat yang mengusulkan hijrah nabi ke Yatsrib ditetapkan sebagai awal penghitungan kalender Islam
Ø  Menceritakan kepedulian khalifah Umar bin Khattab kepada rakyatnya
Ø  Menjelaskan sikap khalifah Umar bin Khattab membela kaum lemah
Ø  Menunjukkan sikap/ perilaku peduli terhadap sesama, terutama pada kaum lemah
Ø  Memberi contoh ketegasan Umar dalam berdakwah
Ø  Memberi contoh keberanian khalifah Umar dalam memberantas kebatilan terhadap siapapun
Ø  Menunjukkan sikap/ perilaku keberanian menyampaikan hal yang benar sekalipun terasa pahit/ menyedihkan
Ø  Menyebutkan nama-nama sahabat yang yang ditugaskan berdakwah di Persia
Ø  Menceritakan peristiwa terjadinya Fathul Futuh (kemenangan terbesar) dalam berdakwah di Persia
2.3    Meneladani nilai-nilai positif dari kekholifahan Umar bin Khattab
Ø  Meneladani sifat keberanian khalifah Umar bin Khattab dalam memberantas kebatilan
Ø Menunjukkan  sikap/ perilaku  sederhana (wara’) dalam kehidupan sehari-hari

Apakah mengajarkan dan merindukan profil para khalifah sebagai pemimpin khilafah dianggap sebagai pengkhianat negeri?
Apakah menyampaikan khilafah sebagai bagian ajaran Islam itu layak dikriminalkan?


Dan saat ini benar-benar merindukan sosok pemimpin seperti Umar bin Khattab. Tegas namun wara’ dalam kehidupan. Merindukan pemimpin pengayom, yang tidak akan membiarkan rakyatnya hidup sengsara Merindukan pelindung Palestina, membiarkan semua agama hidup damai sejak pertama masuk dalam naungan khilafah.

Entahlah, tidak bisa mengungkapkan betapa besarnya rasa rindu ini kepada pemimpin mukmin yang memikirkan rakyatnya hingga akhirat. Pemimpin amanah yang bertakwa, takut kepada Allah, meneladani Rasulullah dalam semua aspek kehidupan, meneladani Rasulullah sebagai pemimpin Negara.

Tidak bisa banyak berkata dengan sikap pemimpin negeri ini yang begitu dzalimnya
Tidak bisa banyak berkata dengan aparat yang begitu piciknya
Tidak bisa banyak berkata dengan ulama su’ yang menukar akhirat dengan dunia
Tidak bisa banyak berkata dengan sikap aktivis yang menukar akhirat dengan receh yang tak ada nilainya
Tak bisa banyak berkata dengan sikap orang awam tak berilmu, dengan ringannya mengucap fitnah sia-sia

Mulut seolah tak bisa berbicara dengan mereka yang tertipu gemerlap dunia
Hampir-hampir tidak ingin berurusan dengan mereka yang mengira dunia ini tak ada akhirnya
Ingin diam saja dengan mereka yang mulutnya hanya berhias dusta
Ingin mengabaikan mereka yang sukanya mencari muka
Namun jika keburukan dibiarkan begitu saja kemungkaran akan semakin merajalela

Maka langkah untuk terus berada dalam jalan dakwah tidak akan berakhir
Meski celaan itu terus diucapkan oleh orang-orang pandir
Meski fitnahan terus dilempar oleh orang yang malas berpikir

Jalan dakwah ini akan terus ditapaki hingga mati
Sebagaimana dakwah Rasulullah yang tidak pernah berhenti
Karena dakwah memperjuangkan tegaknya Islam adalah jalan mulia yang seharusnya dititi

Tak perlu legalitas dari manusia dzalim nan kejam
Teruslah berjuang demi tegaknya Islam
Mewujudkan Islam sebagai rahmat untuk seluruh alam



Pare, 23 Juli 2017