Sunday, 22 January 2017

Rindu dan Tak Rindu

Ket. gambar : perjalanan Tulungagung -Kediri (Masuk wilayah Kras)


13 Januari 2017

SPBU Pelem Pare
Di belakang ada dua ibu-ibu berboncengan motor. Berebut membayar uang bensin. Yang memboceng tidak mau dibayari, sedangkan yang dibonceng bersikeras membayar. Sampai kasirnya bingung terima yang mana, akhirnya uang yang sampai di tangan kasar uang ibu yang dibonceng.

Tidak mengenal dua ibu yang berebut bayar, namun teringat dengan sebuah hadits Rasulullah saw saat perang Khaibar ( ada di bab Cinta Kepada Allah dan Rasul Nya, buku Pilar-pilar pengokoh Nafsiyah Islamiyah)
Berkata kepadaku Qutaibah bin Sa’îd, berkata kepadaku Ya’kub bin Abdurrahman dari Abû Hazim, ia berkata; Sahal bin Sa’ad ra. telah memberitahukan kepadaku bahwa Rasulullah saw. bersabda pada perang Khaibar, “Aku akan memberikan panji ini kepada seorang lelaki yang di atas tangannya Allah akan memberikan kemenangan. Ia telah mencintai Allah dan Rasul-Nya, Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya.” Berkata Sahal Bin Sa’ad, “Maka orang-orang pun pergi untuk tidur dan mereka bertanya-tanya di dalam hati mereka, siapakah di antara mereka yang akan diberikan panji oleh Rasulullah saw.” Ketika tiba waktu subuh, maka orangorang ramai menghadap Rasulullah saw. Semuanya berharap agar diberi panji oleh Rasulullah saw. Maka Rasul bersabda, “Dimanakah Ali bin Abi Thalib?” Dikatakan kepada Rasul, “Ia sedang sakit mata, Ya Rasulullah!” Kemudian  orang-orang pun mengutus seorang sahabat untuk membawa Ali bin Abi Thalib ke hadapan Rasulullah saw.  Kemudian Rasulullah  saw.  meludahi kedua  matanya  dan berdoa untuknya, maka sembuhlah ia hingga seolah-olah ia belum pernah sakit sebelumnya. Kemudian Rasul memberikan panji itu kepada Ali bin Abi Thalib. Lalu Ali berkata, “Ya Rasulallah!, aku akan memerangi mereka sampai mereka bisa seperti kita (memeluk Islam).”  Kemudian  Rasulullah  saw.  bersabda,  “Berangkatlah perlahan-lahan  hingga  engkau  berada  di  halaman  mereka, kemudian  ajaklah  mereka kepada  Islam  dan  kabarkan kepada mereka hak Allah yang merupakan kewajiban mereka. Maka demi Allah, sungguh jika Allah memberikan petunjuk kepada seorang manusia karena engkau, hal itu lebih baik bagi engkau daripada unta merah.” (Mutafaq ‘alaih).

Para sahabat harap-harap cemas, semoga yang mendapatkan kesempatan
Ali bin Abi Thalib menerima amanah, sakit tidak dijadikan alasan
Semua dilakukan demi kecintaan pada Allah dan Rasulullah yang tak ada bandingan

Merindukan orang-yang berebut dalam berbuat kebaikan
Merindukan orang-orang yang ringan menjalankan tugas yang diberikan
Merindukan orang-orang yang berharap mendapat amanah
Merindukan orang-orang yang tak suka mencari-cari alasan dengan berbagai hujah


Bogo, Plemahan

Menyapa para siswa yang sedang mengikuti kajian
Melingkar memegang Alquran di tangan
Membaca ayat Alquran secara bergantian
Memanfaatkan waktu yang masih dianugerahkan

Merindukan kajian remaja dengan pertanyaan polos khas remaja
Merindukan remaja saleh yang tidak ikut arus rusak yang sia-sia belaka

Merindukan para pecinta ilmu yang qana’ah
Merindukan para penuntut ilmu yang tak sekadar mengumpulkan tsaqafah


14 Januari 2017

Perjalanan Surabaya – Pare
Keluar ruang tunggu terminal, pandangan menyapu dari kiri ke kanan. Bis patas belum ada, namun yang antri sudah banyak sekali. Mengarahkan pandangan ke bis ekonomi. Alhamdulillah sudah ada. Tapi, bis yang sama ketika dulu masih sering PP Surabaya Pare 12 tahun yang lalu. Tanpa AC, kursinya sudah tidak normal, bagian samping sudah banyak lapisan yang berlubang, jarak antar kursi sangat sempit. Memilih bis ekonomi saja. Lebih suka dengan kendaraan tanpa AC ( maklum orang desa, naik kendaraan ber AC malah pusing tujuh keliling). Lagian Sabtu, akhir pekan. Meski naik patas jalanan pasti padat. Tidak ada bedanya. Tapi, dapat tempat duduk di bagian tengah, tempat favorit jika ada pengamen. Dan benar, beberapa kali ada pengamen. Dengan berbagai tipe, namun terlihat sehat-sehat. Dugaan kuat hampir semuanya seharusnya masih bisa mencari kerja yang lebih layak.

20 Januari 2017
Perjalanan perdana ke Tulungagung di tahun 2017
Meskipun sudah pernah merasakan sebelumnya namun sepertinya tidak separah ini.  Membuktikan apa yang selama ini menjadi keluhan para pendengar salah satu radio di Kediri. Jalur Kediri Tulungagung di Ngadiluwih, harus siap dengan segala jenis lubang di jalan. Lubang lebar, lubang dalam, lubang di pinggir, lubang di tengah, lengkap nian, jika tidak hati-hati sangat membahayakan.

Alat transportasi yang seadanya cenderung membahayakan tentu bukan yang dirindukan
Jalanan macet di akhir pekan tentu bukan keadaan yang diinginkan
Jalan berlubang di sana-sini harusnya segera ada perbaikan
Menjumpai orang-orang yang seolah sudah tidak mendapat tempat dalam mencari penghidupan

Merindukan pejabat yang amanah
Tak membiarkan rakyatnya sedikit pun mendapat masalah
Merindukan Umar bin Khaththab Sang Khalifah
Tak membiarkan seekor binatang terperosok di jalan
Memastikan rakyatnya terpenuhi hak yang seharusnya didapatkan
Tak merindukan pejabat daerah yang hanya mementingkan golongan



Pare, 21 Januari 2017

Saturday, 21 January 2017

Asal Tidak Matematika, Asal Tidak Islam


Asal Tidak Matematika
Selama pelajarannya bukan matematika siswa asyik menikmati. Selama bukan matematika mereka rela molor hingga lewat batas jam pulang. Begitulah, bagi sebagian besar siswa di tempat mengajar, pelajaran matematika masih dianggap sebagai momok. Sulit, membosankan dan membuat pusing. Padahal sudah dibuat penyampaian yang paling ramah. Tetap saja ketika bertemu angka apalagi soal cerita yang bertele-tele mereka sudah terburu phobi.

Ketika pelajaran matematika, maunya sebentar saja. Soal tidak usah banyak-banyak. Inginnya cepat diakhiri. Bisa dikatakan semangat untuk berpikir, mengasah logika dan menghadapi tantangan hampir menjadi semangat yang langka. Maunya instan ga pake mikir panjang.

Asal tidak matematika siswa betah mengikuti pelajaran. Tentu tidak akan dibiarkan, terus memotivasi, memperbaiki cara penyampaian kepada siswa, menggambarkan mudahnya matematika dan peran matematika dalam kehidupan mereka kelak. Insya Allah lama-lama mereka pasti paham. Jika tidak saat di sekolah dasar, semoga kelak di saat pemikiran mereka semakin dewasa mereka akan tahu mengapa harus belajar matematika, mengapa muslim harus berilmu, mengapa muslim harus semangat belajar. Sementara memaklumi saja, mereka masih sekolah di madrasah ibtidaiyah, sekolah dasar, jadi jika cenderung berpikir pendek itu berbanding lurus dengan usia mereka. Mereka belum sepenuhnya paham mengapa harus belajar matematika, mereka masih menuruti rasa takut pada kesulitan.

Asal Tidak Islam
Dan saat ini sedang ramai bendera merah putih yang dihiasi kalimat tauhid. Langsung saja dianggap sebagai tindakan yang tak terpuji, menodai lambang Negara. Padahal ketika merah putih dihiasi tulisan selain kalimat tauhid tidak masalah. Mau dihiasi apa saja tidak masalah, asal tidak berhubungan dengan Islam. Jika berhubungan dengan Islam seolah itu tindakan kejahatan yang luar biasa. Seolah apa yang berhubungan dengan Islam dianggap menodai negeri ini.

Menolak pemimpin kafir, meminta penista agama diadili, menggunakan kalimat tauhid penghias panji Rasulullah saw, mengibarkan ar rayah dan al liwa’ yang merupakan panji Rasulullah dianggap sebagai tindakan yang memaksakan kehendak, merusak kebinekaan, mengkhianati NKRI.

Membela diri dari kedzaliman, mempertahankan diri dari serangan, membela Alquran dan agama Islam dianggap sebagai kesewenangan dan tidak punya kepedulian. Suara ulama dan umat pun tak didengar. Karena semuanya ada membawa tuntutan Islam.

Sangat berbeda, penyerang jamaah salat Idul Fitri diundang ke Istana, para selebritis perusak generasi diajak duduk bersama dan para pelawak yang membuat hati mati karena hanya menyampaikan candaan yang penuh dusta didengarkan suaranya.

Ya, selama itu berlabel Islam akan ditolak dan sekuat tenaga akan dicari kesalahannya. Dan selama itu tidak menyandang label Islam, sekejam dan sebrutal apapun perbuatannya masih dikatakan sebagai bagian dari kebebasan. Asalkan bukan Islam tangan para pengkhianat rakyat akan terus terulur, siap melindungi, memfasilitasi dan menjamin apapun yang dilakukan.

Apa yang dilakukan kaki tangan kapitalis, sebenarnya menunjukkan ketakutan mereka pada kebangkitan Islam. Sedikit saja ada hal berbau Islam, mereka kalang kabut. Sikap reaktif untuk membendung Islam semakin membuktikan sebenarnya mereka tidak paham dengan Islam, atau mereka salah paham dengan Islam. Islam bukan agama dan ideology yang menakutkan dan harus ditakuti.
Islam adalah rahmat untuk seluruh alam, bukan sekadar rahmat untuk umat Islam. Islam adalah agama sempurna, mengatur seluruh aspek kehidupan. Islam tidak memaksa seluruh manusia untuk memeluk Islam, bahkan dalam system pemerintahan Islam, yaitu Khilafah, setiap warga Negara baik muslim maupun nonmuslim akan mendapat jaminan kehidupan. Islam membiarkan nonmuslim hidup dalam naungan daulah khilafah, menjamin hak mereka.

Jika ada upaya untuk mencitrakan Islam sebagai sesuatu yang menakutkan, dan semua yang berhubungan dengan Islam layak untuk dicurigai, dikriminalkan adalah upaya murahan, bukti ketidakmampuan terus  konsisten menjamin kebebasan. Bisa dikatakan, semuanya bebas berbuat, tapi jangan bawa-bawa Islam, meski hanya sebatas labelnya saja.

Apakah ketidakadilan terhadap Islam akan dibiarkan begitu saja? Tentu tidak. Apakah ketidakadilan terhadap Islam dihadapi saja dengan kekerasan? Tentu tidak. Umat Islam saat ini sedang menghadapi ujian, jika tidak menghadapi ujian dengan bijak hanya akan menimbulkan perpecahan. Dan persatuan umat akan semakin sulit diwujudkan, musuh Islam pun bertepuk tangan.

                Apa yang harus dilakukan? Berdakwah, menyeru pada Islam, mengajak pada kebaikan, mencegah kemungkaran. Berinteraksi dengan seluruh manusia yang ada di sekitar, memahamkan umat akan konsekuensi syahadat, kewajiban terikat pada syariat serta tunduk pada aturan Allah SWT dan Rasulullah saw. Mengingatkan, dunia bukan segalanya, ada akhirat yang menunggu. Menyampaikan hanya Islam yang layak diterapkan, hanya Islam yang akan memberikan rahmat untuk seluruh alam, bukan yang lain.

Pare, 20 Januari 2017



Tuesday, 10 January 2017

Maksiat Itu Begitu Dekat


Dahulu ketika memberi contoh akibat gaul bebas selalu dari kota besar  yang nun jauh di sana
Hamil di luar nikah, perselingkuhan, perbuatan zina kabar yang masih asing di telinga
Dahulu ketika melintas di Jalan Irian Barat  Surabaya  terasa gundah gulana
Benarkah ini jalan yang di malam hari terkenal dengan pangkalan waria
Dahulu kemaksiatan masih jarang dan langka
Dahulu pelaku maksiat masih malu menampakkan muka

Sekarang semuanya berbeda
Gaul bebas, zina, hamil di luar nikah seolah menjadi kemaksiatan yang biasa
Tak perlu memberi contoh jauh-jauh karena di dekat sini juga ada
Semalam ada kabar seseorang  digelandang polisi karena dituduh memperkosa
Padahal kabar burung yang beredar bukan perkosaan namun suka sama suka
Dan jalan Irba tidak hanya milik Surabaya karena Pare juga punya  jalan Jaya Wijaya

Kemaksiatan itu begitu  dekat di depan mata
Kebebasan perilaku itu semakin nyata
Dunia seolah dianggap segalanya
Akhirat seolah tidak ada

Liberalisme itu semakin menggurita
Pola pikir sekular memisahkan agama dari kehidupan diagungkan bak dewa
Kapitalisasi kemaksiatan menjadi jalan meraih harta
Semuanya sah-sah saja selama dianggap ada manfaatnya
Hukum syara’ dicampakkan begitu saja
Barang siapa melihat kemungkaran maka wajib mengubahnya
Dengan tangan/kekuasaan  jika kuasa dengan lisan jika bisa
Dan selemah-lemahnya iman hanya dengan berdoa
Terus berdakwah bersama jamaah hingga mengubah pemahaman salah yang ada
Bersama jamaah berdakwah politik dan pemikiran tidak terjebak aktivitas pragmatis  yang sia-sia
Mengajak umat agar menerapkan syariat dalam bingkai Negara
Terus muhasabah kepada penguasa
Mengingatkan agar menerapkan hukum Allah semata
Mengajak umat dan para pemilik kekuasaan untuk menegakkan khilafah rasyidah yang mulia
Sabar, ikhlas, istiqamah meski masalah mendera
Hingga kelak maut menjemput ketika mata menutup selamanya



Pare, 10 Januari 2017






Wednesday, 4 January 2017

Fitsa Hats, Hadlarah, Madaniyah, Af’al, Asy-ya’


Mengikuti tren kekinian
Insya Allah jika tidak salah mengingat hanya sekali makan fitsa dari fitsa hats, itu pun karena dapat hadiah, diberi dua paket, dan dimakan bareng-bareng dengan teman satu kos. Kesan pertama, enak tapi eneg. Memang ilat ndeso, paduan keju, sayuran, daging dan bahan fitsa bukanlah makanan paling nikmat di dunia, masih nikmat sambel penyet Pak Yoko di Gebang ( dipanggil pak Yoko karena salah satu tangan beliau tidak normal, katanya seperti Yoko di film Pendekar Rajawali, entahlah sudah agak lupa, film jaman masa kecil dulu), jualan Pak Yoko selalu laris manis.
Kembali pada mencuatnya fitsa hats, banyak sekali muncul ejekan, hujatan dan olokan.
Katanya tidak konsisten, menolak pemimpin kafir tapi bekerja pada orang kafir
Anti dengan orang kafir tapi pake produk orang kafir
Muncul juga cap-cap : otak udang, sumbu pendek, otak onta
Terkadang miris dengan orang-orang seperti ini, terkadang malah kasihan dengan orang-orang seperti ini. Namun setidaknya ini semakin membuka mata, dakwah menyampaikan pemikiran Islam amat sangat dibutuhkan saat ini. Agar tidak terus muncul pemikiran rendahan, berulang terus.
Harus terus belajar agar bisa bijak menyikapi masalah dan bijak menyampaikan ke tengah umat.
Harusnya berpikir dulu sebelum menyampaikan pendapat, harusnya belajar dulu bagaimana hukum fakta tersebut menurut Islam, karena Islam agama sempurna maka Islam bisa menjawab semua permasalahan, Islam bisa menyelesaikan semua permasalahan.
Harusnya belajar dulu :
Bagaimana hukumnya bekerja pada orang kafir
Bagaimana hukum seputar ijarah
Apa saja hukum seputar muamalah
Bagaimana hukum memanfaafkan benda ( asy ya')
Bagaimana hukum asal perbuatan (af’al) manusia
Apa saja yang terkategori hadlarah
Apa saja yang terkategori madaniyah
Bagaimana hukum mengangkat dan memilih peminpin kafir
Semoga bisa menjadi pengingat untuk terus belajar dan terus menyampaikan.

Serulah kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk ( TQS : An Nahl [16] : 25)

Pare, 4 Januari 2017



Monday, 2 January 2017

Tak Selamanya Mendung , Tak Selamanya Hujan



Ket gambar : 30 Desember 2016, kunjungan terakhir ke Tulungagung di tahun 2016
Ngadiluwih Kediri 09.14 am, menuju Tulungagung. Mendung  gelap di arah selatan dan hujan dari pagi hingga sore merata saat pulang. Tulungagung – Kediri – Pare.



Mendung  bisa jadi hujan
Kadang mendung tak berakhir hujan
Kadang terang setelah mendung menutupi awan

Jika hujan bersiaplah
Jika hujan tak perlu merasa susah
Jika terang  jangan dianggap tak ada masalah

Begitu juga dengan hidup di dunia
Kadang bahagia
Kadang duka
Namun tak selamanya bahagia itu ada
Namun tak selamanya duka menyapa
Bahagia dan duka beriring  datang pada waktunya

Kadang  rasa malas menggoda
Kadang rasa putus asa berkuasa
Kadang kegagalan mendera
Kadang masalah  serasa tak ada habisnya

Kadang bahagia membuat lupa diri
Kadang nikmat membuat  hati tertutupi
Kadang suka cita membuat lalai


Tak selamanya hidup itu terus bahagia
Tak selamanya hidup itu terus diselimuti duka
Menerima itu semua telah ditentukan waktunya
Menerima dengan ikhlas dan sabar ketika ujian tiba
Tetap bersyukur dan taat kepada Allah ketika bahagia

Tetap mengingat hidup di dunia hanya sementara
Tetap mengingat akhirat akan abadi selamanya


Pare, 2 Januari 2017

Saturday, 31 December 2016

Catatan akhir tahun : Belajar Ikhlas, Merencanakan Apa Yang Akan Dilakukan


Keterangan Gambar : 4 orang tim biru yang dari awal hingga akhir acara hanya duduk di depan, tidak pergi kemana pun. Seolah diam namun melalui perjuangan merekalah opini sampai kepada peserta dan selain peserta yang memantau lewat media. Apalagi tim biru lainnya malah "bersembunyi di ruang sunyi" . Senjata mereka pena, kamera, laptop dan smartphone tp yang pegang tentunya lebih smart. Diam bukan berarti tak bekerja, tak terlihat bukan berarti tak berbuat. Ikhlas lah, malaikat yang akan mencatat (Kongres Ibu Nusantara 4 Kediri).


Dua cuplikan yang diambil dari kitab Daulah Islamiyah

Daulah Islam berdiri dengan kuat karena kekuatan Islam. Daulah Islam berhasil membebaskan negeri-negeri di dunia yang sangat luas hanya dalam kurun waktu kurang dari satu abad. Padahal, sarana yang digunakan hanya kuda dan unta. Semua bangsa dan umat yang dibebaskan tunduk kepada Islam dalam  waktu yang sangat singkat. Padahal alat-alat dan sarana penyebarannya sangat terbatas, yakni hanya lidah dan pena. Harus diingat bahwa yang merealisir hal itu semua dengan sangat cepat adalah Islam yang telah menjadikan negara memiliki kekuatan tersebut. (Kelemahan Daulah Islam, Daulah Islam)

Pada tahun 1834 M, delegasi-delegasi misionaris sudah tersebar luas di seluruh Syam. Di Desa ‘Antsurah, Libanon, dibuka satu fakultas. Kemudian dari Malta dikirimkan delegasi-delegasi Amerika ke Beirut untuk mencetak buku-buku sekaligus menyebarkannya. Seorang misionaris Amerika yang sangat terkenal, Willie Smith, menggerakkan misi ini dengan fenomenal. Di Malta, aktivitas misionarisnya mendapat sambutan. Dia menguasai aspek penerbitan buletin-buletin. ( Serangan Misionaris, Daulah Islam)

Dahulu sarana dakwah Rasulullah dan para sahabat begitu sederhana. Berbekal kuda dan unta, bermodal lidah dan pena, Islam menyebar ke seluruh dunia, itu semua karena kekuatan Islam . dengan Islam semua menyebar dengan cepat. Tidak peduli keterbatasan yang ada, kekuatan pemikiran Islam menjadi pendorong untuk menjadikan Islam tersebar ke berbagai penjuru dunia.

Dan musuh Islam pun juga menyadarinya. Dengan menguasai aspek penerbitan, menguasai opini, musuh Islam menyerang pemikiran umat Islam, umat Islam yang saat itu mengalami kemunduran berpikir mendapat serangan telak, serangan pemikiran dan politik yang akhirnya meluluhlantakkan khilafah terakhir.

Dan sekarang, memperjuangkan kembali kehidupan Islam, penerapan Islam kaffah dalam bingkai khilafah menjadi tugas seluruh umat Islam. Memanfaatkan potensi yang dimiliki untuk menyebarkan Islam. Melalui dakwah lisan maupun tulisan, menginteraksikan ide-ide secara langsung ke tengah umat. Hingga umat mempunyai kesadaran Islan, hingga Islam menjadi opini di tengah manusia. Saat itulah umat akan meminta Islam diterapkan secara sempurna dengan sukarela. Dengan dakwah dan kontak terus menerus di tengah umat, menguasai opini, menyampaikan Islam dengan uslub-uslub terbaik. Merencanakan langkah, mengevaluasi apa yang telah dilakukan, memperbaiki kekukarangan, merealisasikan rencana dan hasil perbaikan. Bukan sekadar berbekal semangat, juga perlu kebulatan tekad, kesungguhan dalam mencurahkan tenaga,pikiran, berkorban harta, bahkan mempertaruhnkan nyawa.

Namun memperjuangkan Islam akan lebih mudah dan ringan ketika kita ada dalam jamaah. Bekerja dengan potensi masing-masing, ikhlas dengan amanah, optimal menjalankan amanah, memberikan yang terbaik, saling memudahkan, saling meringankan. Menyadari itu bukan demi orang lain, namun semata demi ridha Allah, demi memperberat timbangan amal saleh di  akhirat kelak. Demi menyelamatkan diri sendiri di akhirat kelak, demi naungan yang hanya diberikan Allah untuk orang-orang yang taat tanpa syarat.

Muhasabah akhir tahun, mengevaluasi apa saja yang sudah dilalui, merencakana apa yang akan dilakukan. Tidak menjalani hidup apa adanya, mengalir begitu saja. Namun berupaya merencakan sebaik mungkin, karena usaha untuk memberikan yang terbaik itulah yang kelak dimintai pertanggungjawaban.



Pare, 31 Desember 2016

Friday, 30 December 2016

Pantang Menyerah Meski Semua Berubah

Tulisan tersimpan 9 Sep 2012, lima tahun yang lalu. Semoga tetap ingat

Kampus Perjuangan
Kampus, sebuah tempat yang tidak boleh diremehkan perannya dalam melahirkan agen perubah. Karena kampus adalah tempat penggemblengan para pemuda untuk menjadi kaum intelektual. Dan di kampus pula lahirlah aktivis dakwah. Bukan aktivis yang asal bergerak, namun para aktivis yang terbentuk di kampus adalah aktivis yang hampir semuanya mempunyai idealisme luar biasa. Tak mau melewatkan kesempatan yang dimiliki begitu saja. Memanfaatkan tiap detik untuk menempa diri. Kegiatan berbau akademik terus dijalani. Kuliah, praktikum, belajar, asistensi, ikut seminar di sana-sini dan segudang agenda lain  terjadwal dengan rapi.  Tak ketinggalan aktivitas di luar kuliah. Nanti sore kasih les privat, nanti malam bahasa Arab, besok malam kajian tafsir, besoknya lagi kajian ulumul qur’an besok pagi-pagi brieving buletin, besok lagi ngaji, besok lagi kontak ke teman, besok lagi kontak ke dosen, besok lagi main ke toko buku, begitulah seterusnya. Menjalani hari demi hari dengan penuh semangat.

Tak hanya itu, di kampus suasana pun begitu kondusif. Teman seperjuangan yang banyak, bekerjasama untuk menyukseskan agenda demi agenda, saling mengunjungi untuk sekedar silah ukhuwah, berdiskusi, meminjam buku, saling memotivasi hingga sharing masalah pribadi. Tak ada teman di kosan bisa main ke tempat kos lain, tak kuat sendiri bisa memilih rumah pembinaan. Ah ... emang enak kalo rame-rame... . Begitu juga dengan interaksi dan kontak dakwah. Kantin, masjid, lobi perpustakaan, taman, ruang kuliah, ruang dosen  adalah tempat-tempat nyaman untuk menyampaikan ide. Masalah fasilitas tak perlu dipusingkan,  bisa dipastikan di kampus fasilitas dan sarana bisa diandalkan. Gedung dengan teknologi super tinggi dan sarana transportasi yang mudah, mendukung gerak dakwah. Mempercepat arus informasi. Up date info cepat sekali, mau beli buku tinggal melangkahkan kaki. Buku, majalah, tabloid, buletin datang tepat waktu. Mau ke mana pun juga ada angkot yang memfasilitasi, mau keluar pagi, sore atau malam tak perlu khawatir tidak bisa pulang.

Begitulah suasana kampus yang pernah kujalani, perjuangan berat melawan ide kufur bisa dinikmati. Semangat perjuangan dalam dakwah senantiasa bergelora di hati. Namun, tak dapat dipungkiri terkadang onak dan duri pun menyapa, tapi itu semua bisa cepat teratasi. Karena teman seperjuangan yang selalu ada di samping untuk menyemangati di kala hati sedang gundah dan di saat idealisme sedikit goyah.

Kampung yang tak seindah kampus
Menjadi mahasiswa abadi tentu bukan menjadi cita-cita seorang mahasiswa. Lulus tepat waktu dengan nilai membanggakan adalah harapan setiap mahasiswa. Kalau pun molor tidak sampai DO. Dan adakalanya ketika ijazah sudah di tangan, kita memilih untuk kembali ke kampung halaman. Dengan berbagai alasan tentunya.
Sengaja pulang kampung dengan kesadaran sendiri, menemani orang tua yang renta atau sakit-sakitan, menikah, memutuskan bekerja di kampung, atau bahkan sudah bosan di kampus. Sepertinya kemungkinan yang terakhir jarang banget dech...

Pulang kampung, itulah yang menjadi keputusan diri ini beberapa tahun yang lalu. Insya Allah dengan alasan yang syar’i. Sebelum mengambil keputusan, ngobrol dengan senior, sharing kelebihan dan kekurangan pindah tempat tinggal yang secara otomatis pindah lahan dakwah. Akhirnya tanpa keraguan sedikit pun, menargetkan untuk pulang kampung. Mulai mengumpulkan informasi tentang kampung halaman. Meski kampung sendiri, bukan tak mungkin kita sudah tak mengenali. Karena sebelum kuliah, ketika belum mengenal dunia dakwah hampir tak pernah peduli dengan realitas kampung halaman. Cuek dan begitu egois, yang penting menjalani hidup, masalah masyarakat emang gue pikiran. Perubahan fasilitas, kebijakan pemerintah daerah, perubahan masyarakat adalah sebagaian informasi yang harus ada di tangan. Tak hanya itu, informasi seputar agenda dakwah pun harus tahu. Mengontak teman seperjuangan yang sudah terlebih dahulu bergerak di daerah. Bagaimana kajian rutinnya, dimana saja biasa mengadakan agenda publik, bagaimana kontak tokohnya, bagaimana tanggapan masyarakat terhadap dakwah khilafah, tokoh mana saja yang sudah merespon, bagaimana responnya, bagaimana kuantitas SDM pengemban dakwah, bagaimana penyebaran tempat tinggal mereka. Itu semua dilakukan ketika belum pindah. Sedia payung sebelum hujan. Mengenal lahan dakwah sebelum terjun itulah yang menjadi tujuan. Jika suasana kampung halaman tak jauh berbeda dengan kampus mungkin tak menjadi masalah, namun jika kampung halaman hanyalah daerah kecil minim fasilitas, apalagi terpencil sungguh itu akan menjadi masalah.

Menyiapkan tempat tinggal yang kondusif. Juga tak boleh diabaikan. Memang kembali tinggal dengan keluarga, namun sekali lagi bisa jadi kita adalah sosok yang berbeda antara dulu ketika meninggalkan rumah dan sekarang ketika kembali ke rumah. Pemikiran berbeda, sikap berbeda, penampilan fisik yang berubah dan tentu saja aktivitas yang tak sama.

Memanfaatkan saat-saat pulang ke rumah untuk ngobrol dengan orang tua dan keluarga besar. Menginteraksikan ide, memahamkan keluarga dan meminta dukungan mereka, karena bagaimana pun juga mereka adalah orang-orang terdekat yang seharusnya tak menghambat aktivitas. Mencari info pekerjaan karena dengan status sarjana tak mungkin berharap banyak masih diberi uang oleh orang tua. Mencoba mandiri meski belum bisa mengandalkan diri sendiri, namun yang pasti ada Allah Yang Maha Kaya, jadilah pekerjaan bukan masalah yang perlu dipusingkan.

Rajin mengumpulkan makalah, contoh undangan mulai dari yang gaul hingga undangan resmi, mengumpulkan proposal berbagai agenda, mengumpulkan banyak bukti fisik. Mungkin kelak bisa dimanfaatkan.Barangkali di kampung semua itu tak ada. Jika di kampus, mungkin tinggal pinjam, tinggl ngopi, tinggal minta tolong ke anggota tim. Mudah dech....
Akhirnya, hari itu pun tiba. Kembali pulang setelah sekian lama meninggalkan kampung halaman. Awalnya kangen dengan teman-teman kuliah yang masih bertahan di kampus, kangen dengan teman seperjuang, rindu dengan para senior yang sabar membimbing dalam dakwah, rindu mengikuti agenda-agenda dakwah di kampus. Ingin ikut masirah, ingin ikut mabit, ingin ngisi kajian remaja yang dulu dihandle.

Kembali ke kampung halaman yang meski termasuk kota kecamatan namun dakwah belum tergarap dengan optimal, daerah dengan SDM pengemban dakwah yang masih sedikit. Sempat kaget  ketika pertama kali ngaji di tempat yang jauh ke pelosok. Dulu jarang sekali pergi jauh dari rumah. Jarang naik naik angkutan, dan tak punya motor.  Pertama kali mengunjungi sebuah daerah, masih satu kabupaten namun belum pernah mengunjunginya. Sebuah desa yang jaraknya sekitar 15 km dari Pare. Naik angkutan oper dua kali. Di saat naik angkot pertama hati sudah was-was, lamaaaa sekali angkot tidak muncul, dan pelaaan banget jalannya. Sudah gitu tidak tahu lagi mana itu Bogo. Dan lebih takut lagi angkotnya sepi penumpang dan jalurnya kanan-kiri adalah persawahan orang Jawa bilang bulak. Alhamdulillah sampai juga di Bogo, menunggu di perempatan Bogo, sambil nunggu angkutan kedua yang juga lamaaa tak muncul-muncul. Mengamati seorang remaja berseragam SMP, dia duduk di hadapan penjual VCD sambil tangannya memilih-milih. Ikut penasaran, sedikit-demi sedikit melangkah mendekat. Ooo...ternyata CD film dan lagu. Dari covernya sudah kelihatan mengerikan “ wanita mengumbar aurat”, hampir semuanya begitu.  Padahal bisa dibilang saat itu Bogo adalah daerah yang belum ramai, ironis penyebaran VCD perusak generasi ternyata sudah menjangkau pelosok daerah. Belum sepenuhnya bisa optimal dalam gerak dakwah eee...tantangan sudah di depan mata. Bagaimana pun juga ini adalah sebuah pilihan yang telah diambil. Namun terkadang masih saja keputusan pindah dari kampus ke kampung  menjadi pemicu lemahnya gerak dakwah.

Di kampung, suasana dakwah tak begitu ramai, teman seperjuangan tak banyak, tempat tinggal pun cenderung menyebar. Jadilah seolah berjuang sendiri tanpa teman di sisi. Bergabung dengan saudara seperjuangan yang mempunyai kebiasaan dan uslub berbeda. Ditambah lagi ketika pulang kampung dengan status single dan belum mempunyai penghasilan sendiri padahal orang tua sudah tak membiayai. Kelimpungan mencari kerja. Sebelumnya ketika meninggalkan kampung untuk kuliah atau bekerja di kota belum mengenal dakwah memperjuangkan khilafah. Sebelumnya hanya menjadi manusia biasa yang tak peduli masalah umat, cuek dengan realitas di sekitar, menjadi anak manja yang kemana-mana selalu diantar. Merasa asing di kampung halaman. Tidak hanya itu, keluarga yang belum terkontak dan belum paham dengan dakwah tak jarang menjadi kendala dalam dakwah. Dilarang sering keluar rumah, tidak diberi fasilitas, hingga ancaman pengusiran ketika masih bersikukuh dalam dakwah.

Di pelosok, fasilitas sangat minim. Kajian keislaman sangat jarang. Toko buku nan jauh di mata, buletin dan majalah sering datang terlambat. Informasi begitu lambat. Tempat kajian sangat jauh membutuhkan pengorbanan waktu, biaya, dan tenaga.  Masyarakat belum terbiasa menerima hal-hal baru. Masyarakat masih menganggap asing dakwah khilafah. Belum lagi harus berhadapan dengan sebagian masyarakat yang berpemahaman salah. Jadilah pengemban dakwah merasa tak bisa mengembangkan diri dan tak berkutik ketika berinteraksi dengan orang-orang yang cenderung tak peduli dengan orang baru. Akhirnya bingung harus berbuat apalagi. Dan idelisme pun mulai tergerus. Ya sudahlah...mungkin harus ikut arus. Bukannya menjadi sosok yang mendobrak semangat tetapi malah menjadi beban. Astaghfirullah...semoga tak terbersit lagi dalam hati.

 Ketika ketidaknyamanan akibat tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan baru terus berlanjut tidak menutup kemungkinan semangat dakwah akan semakin tergerus. Tak hanya karena permasalahan yang berkaitan dengan faktor lingkungan namun bisa juga karena permasalahan pribadi yang semakin membelit. Sungguh merasa prihatin dan dada terasa sesak ketika mendapat berita seseorang yang baru pindah tak mau ngaji lagi. Alasannya beragam, tidak dihubungi berbulan-bulan, terlanjur sibuk dengan kegiatan lain, dilarang keluarga, tidak mempunyai sarana sehingga terisolasi. Tidak siap dengan tantangan baru, tidak kuat dalam memberikan pengorbanan. Tidak siap dengan suasana baru. Hanya menangis sendiri menyesali diri. Dan penyesalan pun menyusup ke dalam relung hati, bertanya lagi tepatkah keputusan ini ?


Anugerah terindah
“Dek di mana pun kita berada, insya Allah itu adalah tempat terbaik yang diberikan Allah ke kita “ Satu pesan yang tak pernah terlupakan. Berusaha bangkit di saat diri ini terpuruk. Tak boleh menyerah. Go..go..semangat !!! Han Ji En dalam K-Drama Full House yang kafir saja bisa semangat menjalani hidup masak pengemban dakwah mlempem ketika disapa ujian... bukannya menjadikannya sebagai teladan hanya berusaha menyemangati diri ... sekali lagi go..go semangat !!!

Meski banyak yang berubah harus tetap isriqomah. Merintis kajian remaja, mengajukan proposal ke sekolah. Memanfaatkan link yang sudah ada. Alhamdulillah...tak terlalu mendapat masalah. Salah satu kelebihan berdakwah di kampung adalah rasa persaudaraan yang masih erat. Jika di kampus tetangga radius 500 m saja bisa jadi tak kenal, tapi di kampung radius 10 km insya Allah masih kenal. Jadilah SKSD alias sok kenal sok dekat jadi jurus andalan dalam berinteraksi, meski belum tahu nama tapi tahu rumahnya. Ngobrol dengan gayeng, memanfaatkan momen pertemuan untuk menyampaikan ide. Naik angkot dengan durasi yang lama digunakan untuk ngorol dengan penumpang, nunggu angkot yang super lama juga dimanfaatkan. Meminjam masjid juga lebih mudah karena memang sudah kenal. Tentu saja itu tak bisa dilakukan dalam sekejap mata, terus menerus berinterakasi dan kontak.

Tak berpuas diri, mulai latihan bergerak di kampung dengan obyek dakwah yang heterogen. Dengan keterbatasan SDM jadilah tim serba bisa. Bisa ngisi kajian remaja, bisa ngisi kajian ibu-ibu yang jenis kajiannya beragam. Sekedar majelis ta’lim, yasinan, bahkan seminar. Meski sudah dibentuk tim khusus masih saja semua harus terjun bersama. Yang menggarap  sekolah ya harus kontak ke masyarakat, yang kontak ke birokrat juga harus kontak ke kalangan ustadzah. Mau menolak ? Bisa- bisa dakwah berhenti sama sekali. Beda dengan di kampus dulu,  lebih banyak menjumpai obyek dakwah yang homogen. Dengan tim spesialis.  Obyek dakwah heterogen, masalah yang di hadapi pun juga heterogen. Mengisi kajian ibu-ibu juga sekaligus menghadapi masalah yang dihadapi para ibu. Demikianlah, menjalani hari demi hari di tempat baru dengan sabar.

Selalu mengingat tujuan setiap aktivitas, yaitu meraih ridha Allah. Menjadikannya bekal dalam menjalani kehidupan. Menjadikan motivasi ruhiyah sebagai satu-satunya penyemangat. Karena sekecil apa pun yang dilakukan tak kan pernah sia-sia di hadapan Allah. Dan seberat apa pun masalah masih ada Allah Yang Maha Besar yang akan menolong orang-orang yang berjuang menegakkan hukum Islam. Meski tak sedikit yang berguguran di jalan dakwah, sedikit pun tak ada niat untuk mengendurkan langkah atau bahkan menghentikan langkah. Ketika kegagalan mendera, ketika rasa lelah menyapa, ketika hambatan di depan mata jangan menyerah begitu saja, jangan merasa menjadi orang yang paling menderita di seluruh dunia. Mengingat perjuangan Rasulullah manusia mulia, mengingat penderitaan kaum muslimin dan mengingat bagaimana para pengemban dakwah yang tak lepas dari ujian. Mulai dari siksaan fisik hingga penghilangan nyawa. Sudahkah itu semua dirasakan ?

Dan yang tak boleh diabaikan. Selalu menjalani kehidupan dengan melaksanakan kaidah sababiyah. Termasuk ketika menjalani aktivitas dakwah di tempat baru. Karena perpindahan tempat dakwah bisa jadi tak bisa dihindari. Entah itu karena sudah terencana maupun pindah secara mendadak. Maka menyiapkan segala sesuatu jauh-jauh hari mutlak diperlukan. Jangan hanya bermodal semangat saja. Membekali diri dan menguatkan motivasi diri. Tetap tsiqah dalam tahapan dakwah, menjalani dengan penuh kesabaran. Selalu mengevaluasi diri dan tak lupa mengembangkan kemampuan secara mandiri, dan yang tak kalah pentingnya adalah menjalani itu semua dengan kontinyu dan disiplin.

Tak lupa selalu menjaga kerja sama dengan saudara seperjuangan, saling membantu, saling memotivasi, perjuangan akan terasa indah ketika ada ukhuwah. Subhanallah semuanya bisa dilaksanakan bersama jamaah dakwah. Karena di mana pun pengemban dakwah berada, itulah tempat terbaik yang dianugrahkan Allah SWT, sebuah nikmat yang harus disyukuri dengan mengoptimalkan potensi diri. Tak peduli di kampus atau di kampung, di kota atau di desa, di pusat kota atau pelosok, dakwah menyadarkan umat tentang penerapan syariah di bawah naungan khilafah harus terus dilakukan. Meski tak tersorot media namun tetap saja itu semua sangat berarti dalam menyiapkan umat.
Masalah pekerjaan ? Tak perlu khawatir, sekali lagi Allah Maha Kaya, binatang melata saja diberi rezeki apalagi manusia yang dikaruniai akal. Memang tak semudah di kampus atau di kota. Tak pernah lelah mencoba, melamar pekerjaan hingga berusaha berwiraswasta. Gagal coba lagi, gagal lagi mencoba lagi begitu seterusnya.
Begitulah, tak ada kata menyerah bagi pengemban dakwah. Selama hayat masih di kandung badan terus menjadikan dakwah sebagai poros. Terus menginteraksikan ide Islam ke seluruh penjuru dunia. Hingga Allah meminta kembali nyawa kita, hingga maut menjemput. 

Sunday, 18 December 2016

Tujuh Pelajaran-Hikmah Kisah Para Nabi dan Rasul Untuk Pengemban Dakwah



Sejumlah pelajaran dan hikmah yang bisa dijadikan dasar penelitian dan pijakan lebih lanjut oleh para pengemban dakwah dalam melakukan pengkajian dan penyelidikan kisah-kisah para Nabi dan para Rasul :

Pertama, di antara yang paling penting diperlukan oleh seorang pengemban dakwah adalah keteguhan dalam dakwah. Hal itu karena banyaknya rintangan dan kesulitan yang bakal dihadapinya; banyaknya siksaan dan tekanan yang bakal dialaminya; dan banyaknya godaan atau hasutan yang bakal ditawarkan kepada dirinya.

Kedua, di antara yang paling penting yang dibutuhkan seorang pengemban dakwah adalah sikap sabar atas berbagai pendustaan dan penyiksaan manusia yang ditimpakan kepada dirinya. Sikap sabar yang menghiasi dirinya secara terus-menerus akan mendatangkan pertolongan Allah. Tanpa sikap sabar, Allah tidak akan menolongnya, dan tidak akan pernah memuliakanya.

Ketiga, seorang pengemban dakwah wajib untuk beramal semata-mata ikhlas karena Allah; tidak mencari imbalan atau balasan berupa harta, pangkat, maupun tujuan-tujuan duniawi lainnya. Sebab, ketika ia beramal dengan amal para Nabi, yakni mengemban dakwah, sudah seharusnya ia pun meneladani keteladanan yang mereka tunjukkan.

Keempat, di antara kewajiban terbesar bagi setiap pengemban dakwah adalah menjauhi sikap memperturutkan hawa nafsu serta memenuhi berbagai keinginan dan syahwat di atas keteguhannya dalam memegang dan terikat dengan kebenaran. Sebab, semua itu merupakan kesesatan yang sangat nyata. Setiap pengemban dakwah juga tidak boleh menjadi sesat dan menyesatkan.

Kelima, setiap pengemban dakwah wajib meyakini janji Allah berupa pertolongan, meyakini akan berpindahnya kepemimpinan di muka bumi kepada mereka, serta meyakini bahwa mereka akan mampu mengalahkan orang-orang yang durhaka, takabur, zalim, dan sekular. Semua itu harus diyakini sebagai suatu hakikat yang nyata, yang mesti tertanam secara mendalam dalam dirinya, serta sebagai sesuatu yang niscaya, meskipun dia sendiri mungkin tidak akan merasakan atau bahkan menyaksikannya. Bagi seorang pengemban dakwah, sudah cukup jika ia meyakini janji Allah Swt, berupa pertolongan-Nya dengan memandang bahwa pertolongan tersebut sebagai suatu hakikat yang nyata dan pasti terjadi.

Keenam, wajib untuk berhukum hanya kepada syariat Allah, baik dalam perundang-undangan maupun dalam persiapan menghadapi peperangan; tidak tunduk pada akal-akal mereka yang terbatas dalam membuat perundang-undangan dan tidak melakukan berbagai persiapan dalam menghadapi peperangan dengan mengabaikan aspek ruhiah dan petunjuk Allah.

Ketujuh, sesungguhnya seorang pengemban dakwah wajib untuk mengemban dakwah dengan penuh kekuatan, teguh, dan bersifat menantang, tanpa mempedulikan lagi berbagai akibat dan bahaya yang bakal menimpa dirinya. Ia semata-mata menjadikan dakwah dan kemaslahatannya sebagai target dan tujuan hidupnya. Ia pun menyadari bahwa rasa takut kepada manusia, bersikap lemah, dan mencari selamat, justru akan menjauhkannya dari berbagai kesuksesannya dalam dakwah serta menjauhkannya dari keridhaan dan pertolongan Allah.

Pengemban Dakwah, Kewajiban dan Sifat-sifatnya
Kisah Para Nabi dan Rasul
(Mahmud Abdul Latif Uwaidah) 

Thursday, 15 December 2016

Lawan Penjajahan Kapitalisme Timur!

Tulisan Oktober 2016 di visimuslim.net

Oleh : Nur Aini
Aktivis Forum Guru Ideologis
(Kampung Inggris Pare-Kediri)

Presiden Joko Widodo mengundang 20 ekonom untuk datang ke Istana Merdeka, Kamis (22/9). Presiden mengundang mereka untuk berdiskusi mengenai perkembangan perekonomian dunia. Terkait kondisi ekonomi di dalam negeri, Jokowi mengakui bahwa kegiatan ekonomi di Indonesia masih banyak yang bergantung pada APBN. Namun begitu, menurut dia, jika ingin menstimulasi pertumbuhan ekonomi yang lebih besar, pemerintah harus mampu menarik investasi sebanyak-banyaknya (Republika.co.id, 22/09/16). 

Dengan kata lain Jokowi mengatakan bahwa investasi asing harus dikejar agar kegiatan ekonomi tidak bergantung pada APBN. Ini artinya Negara akan menyerahkan pembiayaan kegiatan ekonomi dan pembangunan kepada swasta dan asing, jadi Negara akan berlepas tangan. Arah kebijakan ekonomi ala kapitalis semakin terlihat jelas. Pembangunan berbasis utang luar negeri berkedok investasi.  Tentu ini akan semakin membuat Indonesia tercengkeram dengan penjajahan asing atas nama investasi. Dan sudah menjadi rahasia umum, yang akan semakin untung dengan investasi di Indonesia adalah China. 

Catatan 
Indonesia perlu mewaspadai misi terselubung dibalik dominasinya atas sejumlah proyek infrastruktur. Namun sayangnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak memahami misi terselubung China (Tiongkok). Yang mengherankan, Jokowi begitu mudahnya memberikan proyek infrastruktur tanpa memiliki pemahaman geopolitik. Salah satu bentuk intervensi yang paling strategis yang dilakukan oleh institusi asing untuk menanamkan kepentingannya dalam suatu negara adalah mendesain sistem, kelembagaan dan regulasi serta mencetak sumberdaya manusia yang mampu menjaga dan menjalankannya.
Campur tangan ekonomi China ini merupakan bagian dari kerjasama Indonesia-China yang ditandatangani tahun lalu. Melalui China Development Bank (CDB) dan Industrial and Commercial Bank of China (ICBC), Pemerintah China berkomitmen memberikan utang US$ 50 miliar atau setara Rp 700 triliun (US$ 1= Rp 14 ribu). Utang itu untuk pembangunan infrastruktur nasional seperti pembangkit listrik, bandara, pelabuhan, kereta cepat dan kereta api ringan (LRT-Light Rail Transit).
Bisa dipastikan investasi China di Indonesia akan semakin melambung. Komitmen investasi China di Indonesia tercatat terjadi pada tahun 2015 lalu, yakni senilai 22,678 miliar dollar AS. Sementara itu, pada periodeJanuarihinggaFebruari 2016, komitmeninvestasi China di Indonesia mencapai 3,202 miliar dollar AS (Kompas.com, 21/03/16). Dan realisasinyapada semester pertamatahun 2016 sudahmenembuspadaangka 8 miliar dollar AS (bisnis.com, 08/09/16). 

Melambungnya investasi China di Indonesia bukanlah kabar gembira. Investasi hanyalah kedok belaka. Investasi sebenarnya adalah penjajahan nyata di negeri ini. Apa yang dipinjamkan China ke Indonesia akan dibayar mahal rakyat Indonesia. China akan benar-benar menguasai pembangunan megaproyek di Indonesia, yang konsekuensinya adalah dominannya perusahaan-perusahaan China dari mulai perencanaan, pengadaan barang dan jasa, hingga konstruksi. Barang-barang yang terkait dengan konstruksi infrastruktur seperti mesin-mesin dan baja serta pekerja ahli hingga pekerja kasar akan membanjiri Indonesia, sebagai konsekuensi dari pemberian utang. Padahal sebagian besar barang tersebut sebenarnya amat melimpah di Indonesia. Pada akhirnya, rakyat hanya bisa menonton saja atau bahkan hanya bias menjadi konsumen yang terus diperas. 

Menurut Sri Bintang, Cina mendapat angin segar dengan kepemimpinan Jokowi yang mendapat dukungan pengusaha Cina maupun keturunannya yang ada di Indonesia. Kata Sri Bintang, para pengusaha Cina sudah menyiapkan warganya dengan membuat apartemen, perumahan dan menyiapkan tenaga kerja. “Karena itu, orang-orang Cina di Indonesia bisa menjadi penduduk nomor dua sesudah suku Jawa. Tentulah ini akan menjadi migrasi besar dunia setelah bule-bule Eropa Barat berimigrasi ke Amerika Serikat dan Australia pada sekian abad lalu,” ungkap Sri Bintang. (https://www.intelijen.co.id/ini-dia-skenario-penjajahan-cina-di-nkri-era-rezim-jokowi/)

Penjajahan China sebagai Kapitalisme Timur itu mendapat jalan lebar karena strategi pembangunan yang ditempuh rezim saat ini secara hakiki tidak berbeda dengan rezim-rezim sebelumnya. Berkedok investasi, Pemerintah terus menumpuk utang yang bisa menenggelamkan negeri ini.Kemandirian negeri ini tergadai karena komitmen utang mensyaratkan berbagai hal yang menguntungkan pemberi utang, namun merugikan negara pengutang dan rakyatnya. Apalagi semua utang itu disertai riba yang jelas diharamkan oleh syariah. Penjajahan oleh Kapitalisme Timur dilakukan atas sektor-sektor yang selama ini belum disentuh oleh Kapitalisme Barat. Alhasil, lengkaplah penjajahan atas negeri ini. Hampir tidak ada sektor yang luput dari penjajahan Kapitalisme Barat dan Timur. [VM]

Monday, 5 December 2016

Mana Hapus Saya ?


Sebelumnya heboh dengan penggunaan kata “pakai” dan  “tidak pakai”, muncullah pro kontra, muncul analisis dari berbagai pihak. Tidak ketinggalan ahli bahasa pun banyak yang berkomentar. Namun sekarang sudah mereda, bungkam dengan aksi jutaan umat Islam membela Islam, semuanya kompak menuntut ditangkapnya penista agama.

Sebenarnya tidak harus menjadi ahli bahasa, cukup dengan pengamatan fakta kekinian (penolakan pemimpin kafir, penolakan pemimpin arogan), rekam perilaku orang yang mengucapkan yang memang sudah biasa ngomong asal ceplos, kasar dan terkesan tanpa pikir panjang,orang sudah tahu maksud ucapan yang mencantut surah Almaidah ayat 51.

Lain bahasan namun masih sedikit berhubungan. Terkait dengan kemampuan berbahasa saat ini.
Minat Baca Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara ( Minat Baca Indonesia  )
Kemampuan berbahasa lisan dan tulisan, membaca, menulis di negeri ini memprihantinkan, orang lebih suka bertanya jawaban secara langsung, to the point ga pake bertele-tele minta jawaban singkat. Ibarat orang minta fatwa langsung, tidak mau tau dalil-dalilnya. Bahasa lisan pun terucap tanpa pikir panjang.

Contohnya tidak perlu jauh-jauh. Di sekolah seringkali siswa meminta ditunjukkan secara instan jawaban sebuah soal pertanyaaan : " Bu, ini jawabannya ada di halaman berapa?". Bukannya berusaha mencari sendiri dulu.Contoh lain terkait penggunaan kata, entah dari mana asalnya, siapa yang memberi contoh. Ada kebiasaan pada murid-murid saya di sekolah, dengan ringannya mengucap : “ Mana hapus saya?”. Mungkin sebenarnya yang dimaksud adalah : “ Mana penghapus saya ?”

Penggunaan sebuah kata baik secara pilihan kata maupun pengucapan akan sangat berpengaruh pada arti kata, terutama untuk bahasa-bahasa yang memang mempunyai khasanah bahasa yang luar biasa melimpah. Di antaranya adalah bahasa Jawa dan bahasa Arab.Untuk bahasa Indonesia memang khasanah bahasanya tidak terlalu banyak, namun tetap ada kaidah yang harus diperhatikan'

Kembalii pada masalah " Mana hapus saya?", sepele namun fatal jika ditinjau dari segi arti. Hapus bentuk dasar, bisa menjadi kata kerja perintah. Yang pasti bukan kata benda, baru menjadi kata benda ketika mendapat imbuhan pe-. 

Dalam tata bahasa Arab, kata dibagi menjadi fiil, isim dan huruf. Secara mudahnya fiil = kata kerja, isim = kata benda, huruf = kata sambung (definisi sederhana). Jika diurai lebih mendetail dalam sharaf, bentuk  kata bisa berubah, perubahannya berupa tashrif lughawi (berdasarkan pelaku) dan tashrif istilahi(makna kata). Jelas ada perbedaan tulisan/harakat dan maknanya. Tasrif Lughawi dan Istilahi


Dengan memperhatikan tata bahasa akan jelas jenis katanya, kedudukan, makna, dan maksudnya.
Jadi, mari belajar bahasa, terutama bahasa Arab.


Pare, 5 Desember 2016

Wednesday, 30 November 2016

Catatan Hari Guru : Akan Kutemani Hingga ke Langit

Foto tahun 2012 : Juara 1 pidato Bahasa Arab- Bahasa Inggris Kec Pare
(Murid terus menuju langit, guru tetap ada di bumi, masih menjadi guru, ada yang sudah almarhum)

Tulisan dikirim ke Lomba Menulis untuk Guru : Guru Bermutu Menginspirasi Sepanjang Waktu ( Indonesia Bermutu, 2015)

Dahulu ketika masih kecil, ketika ditanya apa cita-cita kita mungkin tidak semuanya menjawab menjadi guru. Namun apapun jawaban kita dahulu, faktanya saat ini kita adalah seorang guru. Mengajar dan mendidik siswa menjadi kegiatan utama kita. Dengan penuh keyakinan mengabdikan diri untuk masa depan cerah negeri ini. Mendedikasikan seluruh tenaga, waktu, kemampuan dan seluruh ilmu untuk mencerdaskan anak bangsa.
Akan tetapi, apapun cita-cita masa kecil dahulu tidak akan menghentikan langkah kaki untuk terus menjadi yang terbaik. Dan menemani siswa menjadi generasi terbaik pula.

Raihlah Cita-cita Setinggi Langit !
                Raihlah cita-citamu setinggi langit ! Sepenggal kata mutiara untuk terus memotivasi setiap insan, terus berusaha mengejar cita-cita yang diinginkan. Cita-cita meski setinggi langit, selama ada kemauan dan usaha akan sangat berpeluang terwujud.
                Sungguh suasana yang mengharukan ketika siswa kita menyampaikan cita-cita mereka. Ada yang menjawab ingin menjadi guru, menjadi dokter, menjadi tentara, menjadi arsitek, menjadi pasukan pemadam kebakaran dan lain sebagainya. Semuanya menyampaikan cita-cita mulianya, tidak ada satupun yang menginginkan menjadi orang yang tak berguna. Tidak ada yang bercita-cita menjadi pencuri, perampok, pembunuh bayaran, koruptor dan pekerjaan hina lainnya. Ya, semuanya ingin menjadi yang terbaik meski faktanya saat mereka menuntut ilmu mereka menjadi anak istimewa yang terkadang malas mengerjakan tugas dan tak jarang membolos tanpa alasan yang jelas. Tetap saja, mereka ingin menjadi yang terbaik.
                Akan tetapi meraih cita-cita tentu tak semudah membalikkan telapak tangan. Membutuhkan keseriusan dan kejelasan jalan yang akan ditapaki. Mewujudkan cita-cita tak selamanya berjalan tanpa hambatan. Membutuhkan keseriusan dan bimbingan.
                Dan sebagai guru, tak pernah sedikitpun ada keinginginan untuk membendung cita-cita siswanya. Guru pasti akan mendukung cita-cita mulia setiap muridnya. Bukan sebagai pelampiasan karena dahulu tidak berhasilkan merealisasikan cita-cita, tetapi sebagi kewajiban memberikan arahan terbaik untuk siswa. Guru akan terus memotivasi siswanya untuk mengejar cita-cita mereka meski setinggi langit pun.



Jalan Menanjak Menapaki Tangga Menuju Cita-cita
                Mencerdaskan siswa, menjadikan siswa sebagai generasi terbaik yang berguna bagi agama, bangsa dan Negara adalah sebagian dari idealisme seorang guru. Sebuah idealisme yang tak mudah diwujudkan. Terutama de tengah tantangan jaman dan keterbatasan fasilitas pendidikan. Tak bisa dipungkiri, masih saja ada sekolah yang menghadapi berbagai kendala. Guru berjuang dengan keterbatasan dimana-mana.
                Ada sekolah yang inputnya siswa berkemampuan seadanya, bahkan “buangan” dari sekolah-sekolah favorit. Di sekolah seperti ini perjuangan guru akan lebih berat jika dibandingkan dengan sekolah yang siswanya adalah pilihan, masuk dengan saringan tingkat kemampuan tertentu. Mengantarkan siswa dengan kemampuan rendah menggapai cita-cita mereka tentu tidak mudah. Namun, sebagai guru harus tetap mempunyai keyakinan, tetap optimis, tanpa putus asa mendidik siswa. Selama mereka adalah manusia dengan kemampuan normal, bukan anak berkebutuhan khusus, pasti ada jalan untuk membuat mereka menjadi yang terbaik. Di sinilah perjuangan dan pengorbanan guru dibutuhkan, mengubah stigma “garbage in garbage out”. Bagaimana pun latar belakang input siswa, selama mereka manusia yang berakal pasti ada peluang membuat mereka paham dan bisa menyerap materi pelajaran. Memang membutuhkan energi lebih jika dibandingkan dengan mengajar siswa pintar. Jadi ketika ada guru yang berhasil mengantarkan anak didiknya meraih hasil yang terbaik padahal “modal” inputnya hanya pas-pasan, sungguh perjuangan yang luar biasa. Setidaknya satu tangga menuju cita-cita telah terlewati.
                Adakalanya, guru mengajar di sekolah dengan fasilitas dan sarana terbatas. Sudahlah bantuan negara tidak optimal diberikan, orang tua pun kadang tak peduli dengan pendidikan. Jadilah guru harus berjuang ekstra. Dengan capaian kurikulum yang sama namun fasilitas tak sama kadang akan berpengaruh pada proses belajar mengajar. Sekolah dengan fasilitas lengkap, bersih dan aman adalah harapan setiap siswa dan guru. Dengan begitu proses belajar mengajar tidak akan banyak menghadapi kendala. Namun sebaliknya, sekolah dengan fasilitas serba kurang, gedung yang tak layak bukanlah kondisi yang diharapkan. Akan tetapi ketika memang kondisi itu terjadi, tetap saja seorang guru tidak akan berputus asa. Berusaha melakukan perbaikan dengan berkomunikasi dengan pejabat setempat, juga terus semangat mengajar. Tak sedikit pun terbersit tak memberi ilmu meski sarana tak mendukung. Dari sinilah akan lahir guru-guru tangguh, kreatif dan mempunyai daya juang tinggi. Keadaan menempa guru untuk tetap memberikan yang terbaik bagi siswanya. Dan guru-guru yang berjuang dengan keterbatas fasilitas adalah guru yang luar biasa, tidak menyerah meski banyak aral menghadang langkah.
                Dan masih banyak lagi hambatan dan ujian dalam rangka mendampingi siswa menapaki tangga cita-cita setinggi langit, apapun kendalanya perjuangan dan pengorbanan guru mutlak diperlukan.

Ketika Mereka Sukses Meraih Cita-cita
                Dan ada saatnya nanti siswa akan sukses mewujudkan cita-cita. Lulus SD, SMP, SMA dan terus menuntut ilmu, terus belajar menempa diri dalam kehidupan. Terus berusaha meraih asa. Tak sedikit yang mempunyai prestasi yang luar biasa, tak sedikit yang menjadi orang hebat. Dan guru masih menjadi guru. Masih tetap setia dengan amanah di pundak. Siap mengantarkan siswa berikutnya untuk menyongsong cita-cita mereka. Kembali mengulang langkah perjuangan. Mengambil hikmah ketika kegagalan menyapa, tak berjumawa ketika kesuksesan di depan mata.
                Ketika siswa sukses meraih cita-cita, tak ada sedikitpun pikiran untuk meminta mereka mengingat jasa guru. Tak ada niatan untuk meminta balasan. Tetap mendoakan agar mereka menjadi lebih baik lagi, tetap menyimpan rasa bangga. Juga tidak ada rasa dengki mengapa mereka bisa mengejar cita-cita sampai ke langit akan tetapi guru masih tetap menginjakkan kaki di bumi.
                Dan guru tidak berhenti mengantarkan satu, dua, tiga siswa saja. Puluhan, ratusan bahkan ribuan siswa lain untuk meraih cita-cita mereka. Dan ketika lagi-lagi siswa meraih kesuksesan, guru kembali bersyukur. Bukan materi yang diminta, tetapi tetap ikhlas menunggu balasan pahala yang mengalir dari amalan ilmu yang bermanfaat. Tidak menyesal dengan seluruh pengorbanan karena kelak Allah SWT akan membalas sekecil apapun amal yang telah dilakukan.

Guru, Tetap Bertahan Meski Ujian Menerpa
                Terkadang tak semua berjalan sesuai keinginan. Bagaimana pun guru juga manusia biasa tempat salah dan khilaf. Kecewa ketika kenyataan tak sesuai harapan, sedih ketika ujian mendera. Tak semua siswa rajin belajar, tak semua siswa sukses, dan ada saja yang memilih jalan yang jauh dari kebaikan. Tidak hanya itu, terkadang kesolidan tim guru diuji. Keberhasilan siswa bukanlah keberhasilan satu guru saja, namun keberhasilan semua guru yang terlibat dalam pembelajaran. Mulai dari jenjang yang paling rendah hingga jenjang tertinggi, juga guru untuk setiap pelajaran. Semua bahu-membahu mengantarkan seluruh siswa menuju hasil yang terbaik.
                Oleh karena, guru harus terus mengingat tugas mulianya, pantang menyerah dengan semua hambatan yang mendera. Meluruskan niat dan meningkatkan kemampuan, agar guru bias mencetak generasi mulia berprestasi dan juga guru bisa menjadi sosok  yang layak diteladani. Memang bukan perjuangan yang mudah, namun akan selalu ada jalan bagi orang-orang yang optimis dan selalu ada jalan bagi orang-orang yang serius mewujudkan keinginan mulia. Insya Allah pada saatnya nanti perjuangan, pengorbanan dan kesungguhan akan berbuah manis.

Matematika Menjadi Biasa
                Secercah harapan pasti ada meski di tengah gelap gulita. Seperti itulah awal mengajar matematika. Pelajaran yang menjadi momok bagi siswa, menganggap matematika pelajaran yang sulit dan membingungkan, terutama bagi siswa dengan kemampuan yang pas-pasan. Maka wajar jika jarang mendapat perhatian. Tak dilirik ketika disandingkan dengan pelajaran menggambar bebas atau pelajaran olahraga yang begitu menyenangkan. Dan tak mengherankan prestasi akademik di bidang matematika pun tak pernah ditorehkan.
                Sekali, dua kali mengirim siswa dalam olimpiade matematika hampir tak  ada hasil. Selalu kandas di babak penyisihan. Namun, sudah seharusnya kegagalan menjadi pelajaran, tidak berhenti untuk mencari pengalaman. Kembali mengevaluasi cara membimbing siswa, memperbaiki kualitas mengajar. Agar siswa paham dan menjadikan matematika sebagai pelajaran yang mudah dan menyenangkan.
                Guru tidak malu untuk terus berguru dan bertanya kepada guru lain yang telah berpengalaman. Sabar menjalani proses pembelajaran meski membutuhkan waktu yang tidak sebentar, meski hasil terkadang jauh di mata. Alhamdulillah, dengan pengalaman yang ada disertai dengan usaha seberkas sinar terang mulai nampak. Siswa mulai tertarik dan menyukai matematika. Kompetisi di bidang matematika sudah menjadi hal biasa, soal sederhana hingga soal sulit menjadi makanan sehari-hari. Dan akhirnya prestasi itu di genggaman tangan.
                Tahun 2015, setelah sepuluh tahun mengajarkan matematika akhirnya bisa menuju ibu kota Indonesia. Bukan semata untuk berjalan-jalan saja, namun mengikuti kompetisi di bidang matematika dan studi Islam.
                Mengunjungi ibu kota bagi siswa di desa adalah pengalaman yang istimewa. Mengunjungi kota besar setelah sekian lama hanya menikmati suasana kampung. Terpana dengan gedung yang menjulang, fasilitas yang lengkap dan canggih. Terheran-heran melihat mesin otomatis yang mengeluarkan botol minuman di stasiun kereta api, terheran-heran dengan stasiun besar yang selalu ramai dengan penumpang. Dan sungguh pengalaman yang luar biasa ketika bersama para finalis pilihan dari seluruh penjuru nusantara. Ya, begitu bersyukur dan bangga menjadi peserta dari daerah yang berhasil berjuang menuju final di ibu kota. Apalagi untuk mengikuti kompetisi matematika yang sebelumnya menjadi pelajaran yang begitu mengerikan untuk siswa di sekolah biasa. Alhamdulillah.

Tak Berhenti di Prestasi Akademik
                Semua siswa istimewa, sebuah keyakinan yang akan memotivasi untuk tetap percaya dengan kemampuan yang dimiliki setiap siswa. Memang tak semua siswa berprestasi di bidang akademik, maka di sinilah diperlukan kejelian seorang guru, mendampingi siswa meraih prestasi di bidang yang diminati. Tetap sabar menemukaan kelebihan seorang siswa agar bisa mengasahnya, menyemangati siswa bahwa mereka bisa memberikan hasil yang terbaik.
                Memanfaatkan ekstrakurikuler sebagai ajang mengasah prestasi. Menekuni bidang yang diminati dan disukai. Terus berlatih dan tak lelah mengikuti kompetisi untuk menguji kemampaun dan menambah pengalaman. Ada banyak ekstrakurikuler yang bisa dijadikan pilihan. Akan lebih baik lagi jika fokus dalam satu atau dua bidang saja. Menjadikan sekolah mempunyai ikon yang khas. Sekolah yang selalu juara lomba UKS, sekolah yang selalu juara dalam setiap Jambore Pramuka, sekolah yang selalu juara pidato, sekolah yang selalu juara menyanyi, sekolah yang kreatif mendaur ulang, dan lain sebagainya. Karena memang tak semua semua mempunyai kelebihan di bidang akademik, akan tetapi dengan kesabaran menekuni dan membiasakan dengan sebuah keterampilan tak mustahil prestasi akan bisa ditorehkan.
                Demikianlah, guru akan selalu menemani siswanya mewujudkan cita-citanya, meski ke langit tertinggi pun. Guru akan terus berusaha mendampingi siswanya menapaki tangga, dengan harapan, mereka menjadi manusia yang berguna bagi agama, bangsa dan negara. Demi masa depan cerah di dunia dan akhirat.

                

Thursday, 17 November 2016

Move on, Akhirat Menanti

dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir (QS Yusuf 87)

Tulisan tersimpan di folder my plan :

Sebelum menghapus sms di HP ada beberapa sms yang menarik
Sms masuk malam-malam :
“ Bu saya mau tanya…, sy ini baru ptus bu sama pacar sya, dan sya ga bisa nglupain dia. Tp dlm hati sya, sya ingin meneruskan cita2 sya. Bgaimana cranya agar sya smangat dan tdk trus mnerus ingat sma mantan sya?”

Sms lain :
“ Bu saya itu suka sama seseorang, sbelum nya saya itu gk pernah suka sama dia. Namun ketika saya mulai punya perasaan ke dia lalu kt jadian. Setelah satu bulan hub saya mulai pudar sering berantem, namun ketika sy tanya status kt dia malah jwb bahwa kita itu gk pernah pacaran n hanya sbatas teman. Saya merasa ditipu dan di php in bu. Tlg saya bu :’(“
“Dia tetanggaan sama sy bu, sulit melupakan. Tiap hari ketemu. Apa nomor hp nya saya buang saja ya?”
Bla…bla..bla…

Me ( to de poin saja) : Ya lupakan, buang aja ke laut J


Kl ingat sms curhatan remaja alay ababil gitu sering senyum-senyum sendiri. Anak sekarang ga pusing mikirin pelajaran malah lebay mslh pacar.

Kl jawab sms lebay itu kadang-kadang sambil mengernyitkan dahi, puas ga ya dengan jwb saya, secara tidak pernah mengalami patah hati. Jawabnya juga ga pake ngalor ngidul. Udah putusin aja, udah focus belajar,udah ketemuan yuk kopdar sm saya. Yuk ngaji saja. Jawabnya ga pernah neko-neko.

Tapi dugaan saya, mereka puas dengan jawaban saya. Buktinya kl ada masalah lain masih tanya, bahkan ada yang merekomkan ke teman lain.

Pernah ada sms lain :
“ Benar ini dengan Bu Nur ? Kata temen saya Bu Nur bisa dicurhati ya?”
Ha..ha.. bisa saja

Terkadang prihatin juga, hampir semua sms konsultasi remaja/pelajar  yang masuk itu masalah pacaran. Minta tips biar bisa move on.
Yang mikirin si dia terus, ga konsen pelajaran, malas sekolah, malas ini itu dsb. Walah…walah ga kasihan sama gurunya apa? Gurunya cemut-cemut mikir murid biar paham pelajaran, eee muridnya malah mikirin pacar.
Anak sekarang ada masalah dengan pacar saja merasa seolah dunia berakhir, tanpa pikir panjang larut dalam permasalahan. Padahal hidup itu pasti ada ujian, hidup itu pasti ada masalah, tinggal berusaha untuk menghadapi dan mencari solusi, selebihnya pasrahkan kepada Dzat Yang Maha Segalanya. Hasbunallah  wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir

Hidup di dunia itu hanya sekali
Harusnya dimanfaatkan agar  tak disesali
Menyesal di dunia mungkin masih bisa diperbaiki
Namun sesal di akhirat tak bisa kembali

Kembali mengingat kita berasal dari mana
Kembali mengingat untuk apa  kita hidup di dunia
Kembali mengingat ke mana setelah kematian menyapa

Kita berasal dari Allah maka hidup hanya untuk beribadah kepadaNya
Kita di akhirat kan dihisab dengan balasan surga atau neraka

Maka pastikan hidup kita nafas kita hanya untuk Allah semata
Kegagalan, kesulitan, musibah dan ujian jadikan penguat iman sebelum tutup usia
Jangan pernah putus asa pada rahmat Allah ketika gagal mendera
Selalu mengingat di akhirat ada kebahagiaan tiada tara
Juga ada siksa abadi yang tiada akhirnya



Utang Luar Negeri, Siapa Yang Menikmati?

Sumber gambar : www.jatimtech.com

Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Agustus 2016 tercatat sebesar 323,0 miliar dolar AS (Republika.co.id, 18/10/16). Jika 1 dolar AS senilai dengan Rp 13.000,00  maka hutang luar negeri Indonesia sekitar Rp 4.000 T.  Sungguh utang yang jumlahnya sangat banyak. dan tidak semua rakyat mengetahui untuk siapa utang sebanyak itu, siapa yang menikmati. Karena faktanya kondisi negeri ini tidak semakin baik. Kemiskinan masih menghiasi, rakyat kecil harus berjuang sekuat tenaga untuk bisa bertahan hidup di negeri sendiri, sedangkan para pemilik modal semakin menumpuk harta kekayaan. Lagi-lagi rakyat kecil hanya bisa gigit jari, bahkan lebih parahnya lagi harus ikut menanggung menopang APBN dengan kebijakan pajak yang tak ubahnya sebagai pungutan dari tukang palak.
Tidak hanya berhenti pada pertanyaan siapa yang menikmati utang luar negeri, tingginya luar negeri seharusnya diwaspadai . Pertama, semakin banyak utang Indonesia maka semakin tinggi pula bunga utang yang menjadi tanggungan. Maka negeri ini akan semakin terbelit dengan utang. Membayar bunganya saja selalu membuat kalang kabut, apalagi utang pokoknya yang juga terus bertambah. Sudah susah mendapat dosa lagi, karena jelas bunga utang adalah masuk riba yang diharamkan Allah SWT.  Kedua, pembangunan Indonesia semakin bergantung pada luar negeri, hal ini akan berpengaruh pada mental rakyat yang akan terbiasa menjadi bermental penghutang. Ketiga, negeri ini akan semakin dikendalikan  oleh lembaga keuangan yang memberi pinjaman atau dikendalikan oleh negara   yang memberikan kontribusi paling besar dalam memberi pinjaman. Maka wajarlah jika beberapa subsidi dicabut karena dianggap membebani anggaran dan tidak membentuk kemandirian rakyat. Ini merupakan konsekuensi yang akan selalu mengiringi karena begitulah pandangan dalam kapitalisme. Negara cukup sebagai regulator saja, tidak boleh ikut campur tangan.

Negeri ini harus segera menghentikan utang ribawi. Penguasa perlu mengevaluasi pengeluaran yang tidak untuk kepentingan rakyat banyak, kegiatan ekonomi makro dikaji ulang, karena tidak menyentuh ekonomi rakyat sama sekali. Negara harus menempatkan pengelolaan kekayaan alam sesuai dengan syariat. Tidak boleh ada privatisasi kepemilikan umum, tidak menyerahkan pengelolaan SDA kepada swasta dan asing. Pembangunan dan dana difokuskan pada sektor riil yang memang menjadi aktivitas nyata seluruh rakyat. Dan yang paling penting adalah mengubah sistem perekonomian neoliberal yang saat ini menjadi acuan kebijakan, menjadi sstem perekonomian yang didasarkan pada akidah Islam, semata menjadikan hukum Allah sebagai standar. Sistem yang memandang manusia mempunyai fitrah mulia, bukan sistem yang  menjadikan manusia hidup untuk saling bersaing mendapatkan materi sebanyaknya. Dengan syariat Islam, janji Allah yang menjadikan Islam sebagai rahmat untuk seluruh alam akan terwujud.

Wednesday, 16 November 2016

Semangat Membela Islam, Jangan Pernah Padam



Berawal dari aksi menolak Ahok, opini pun semakin bergulir menjadi menolak pemimpin kafir. Karena memang begitulah seharusnya. Bukan hanya sekadar kesadaran menolak Ahok, umat Islam juga mempunyai kesadaran bahwa orang kafir tidak layak dijadikan pemimpin, orang kafir haram diangkat sebagai pemimpin dalam urusan pemerintahan. Terlepas dari pihak-pihak yang memanfaatkan kesempatan untuk semakin menenggelamkan rival politiknya, penolakan pemimpin kafir semakin menggema. Maka wajarlah jika orang yang merasa dipojokkan menjadi panas. Upaya defensif pun dilakukan. Mengecam mahasiswa yang turut mengkampanyekan pemimpin kafir, menuduh masyarakat mulai terpengaruh isu SARA, hingga tanpa pikir panjang dan memang sudah menjadi kebiasaan berucap tanpa rasa sopan mencemooh orang-orang yang menggunakan ayat Alquran sebagai landasan. Dan akhirnya muncullah gelombang protes agar Ahok ditangkap, dan lagi-lagi tidak berhenti pada tuntutan tangkap Ahok, opini pun bergulir pada tuntutan penista Alquran. Karena memang itulah yang seharusnya dilakukan, bukan demi menjegal Ahok menjadi gubernur, tetapi demi membela kehormatan Alquran yang merupakan kalamullah. Aksi besar-besaran yang melibatkan jutaan umat Islam tidak bisa dibendung, semua menuntut ditangkapnya orang yang menistakan Alquran.
Namun musuh Islam tidak membiarkan. Upaya untuk membalikkan opini pun terus mereka lakukan. Media sekular bungkam ketika aksi benar-benar dilaksanakan secara damai, tetapi langsung semangat memberitakan ketika terjadi kericuhan, aparat pun tak segan bertidak tanpa rasa hormat sedikit pun kepada para ulama yang juga mengikuti aksi. Tindakan keji membubarkan peserta aksi dengan ringan dilakukan, rakyat menjadi sasaran kebrutalan aparat. Akhirnya korban pun berjatuhan. Sungguh rendahan apa yang dilakukan orang-orang yang buta dengan dunia, kebenaran sama sekali tak dihiraukan. Penguasa pun seolah hilang  ingatan dengan apa yang dulu pernah dilakukan demi mengemis jabatan. Dahulu ketika kampanye, ulama didatangi demi mendapatkan dukungan, rakyat diberi janji manis, akan tetapi ketika kekuasaan dalam genggaman dunia begitu membutakan, ulama dan rakyat yang hendak menyampaikan tuntutan sama sekali tidak dihargai. Dengan berbagai alasan peserta aksi tak ditemui.
Tidak hanya berhenti di sini, upaya untuk mengalihkan permasalahan, memutarbalikkan fakta terus dilakukan. Mencitrakan diri sebagai pihak yang difitnah dan didzalimi, mencari celah dengan polemik permainan kata, serta melaporkan balik beberapa peserta aksi yang dianggap melakukan provokasi. Media sosial mulai diserang oleh akun abal-abal, pemikiran umat mulai digoyahkan. Tidak ada fakta penistaan agama, aksi damai direncanakan oleh aktor politik, seruan membela Islam dan tuntutan penangkapan penista Alquran disebut sebagai ujaran kebencian. Kasus  penistaan agama dialihkan dengan opini penyelidikan aliran dana aksi, penangkapan aktivis HMI, hingga tuntutan balik kepada Buni Yani, itu semua dilakukan agar fokus umat beralih. Dan bisa jadi pada akhirnya nanti tidak ada vonis bersalah pada penista Alquran. Media sekular pun sangat bernafsu untuk memecah belah umat dan mengalihkan perhatian masyarakat. Media hanya mengangkat sisi buruk aksi damai yang sulit ditemukan. Pengkaitan aksi dengan penjarahan bisa dipatahkan, akhirnya berita murahan yang mereka suguhkan, salah satunya adalah menjadikan jaket sang presiden sebagai pusat perhatian. Akhirnya, tanpa disadari, tindakan hukum terhadap  penista Alquran tidak segera dilakukan, malah sebaliknya semakin diulur.
Bukan hanya mengulur, keengganan untuk secepatnya memproses tuntutan tangkap penista Alquran semakin nampak. Hal ini sangat wajar, karena sulit bagi para pemuja kebebasan, pengagung demokrasi dan pengusung pemikiran liberal untuk mengakui bahwa apa yang dilakukan Ahok adalah sebuah penistaan terhadap Alquran. Bagi mereka apa yang dilakukan Ahok adalah sebuah bentuk kebebasan berpendapat. Bukan sebuah pelanggaran yang layak diberi sanksi, bahkan malah diberi tempat atas nama kebebasan. Lagi-lagi ini bukanlah sesuatu yang mengherankan, malah seharusnya semakin membuka mata umat Islam. Untuk menuntut keadilan atas penista Alquran sangat sedikit peluangnya akan terlaksana dalam Negara yang menerapkan sistem demokrasi kapitalis. Menista satu ayat saja tak akan berarti, karena dalam sistem demokrasi, Alquran yang merupakan sumber hukum bagi seorang muslim saja dicampakkan, jadi mencampakkan satu ayat saja bukan hal yang asing.

                Negeri ini sudah semakin jauh dari hukum Allah SWT, kebijakan penguasa semakin mengokohkan ideologi kapitalisme. Penistaan terhadap Alquran hanyalah satu dari seribu masalah yang akan terus bermunculan ketika negeri ini masih menerapkan ideolagi kapitalisme. Ideologi yang tegak atas pemisahan agama dari kehidupan, ideologi yang mengagungkan kebebasan dan mencampakkan aturan Tuhan. Kesempitan dalam hidup akan terus mengiringi selama peringatan Allah tidak dipedulikan. Surah Al Maidah ayat 51 adalah salah satu ayat yang dinistakan, masih ada ribuan ayat lain yang akan terus dinistakan selama sistem kufur yang menjadi naungan. Oleh karena itu, perjuangan membela Islam tidak boleh padam. Tidak hanya membela penistaan terhadap satu ayat saja, umat harus membela seluruh isi Alquran dengan menuntutnya untuk diterapkan dalam kehidupan. Bukan demi sentimental keagamaan, namun demi sebuah keyakinan pada pesan terakhir Rasulullah saw, agar umat Islam berpegang teguh pada Alquran dan Hadits demi keselamatan di dunia dan akhirat. Juga untuk merealisasikan janji Allah SWT bahwa Islam bisa menjadi rahmat untuk seluruh alam, yaitu ketika seluruh aspek kehidupan diatur berdasarkan syariat Islam. Umat seharusnya semakin sadar, Islam akan terus dilecehkan dan direndahkan selama demokrasi dijadikan tumpuan harapan dalam melakukan perubahan, dan hal ini hanya bisa diakhiri ketika sistem Islam yang diterapkan. Islam hanya bisa diterapkan secara kaffah ketika sistem khilafah yang menaungi. Sehingga pembelaan terhadap Islam juga harus diiringi dengan upaya mengembalikan kehidupan Islam yang hanya akan terwujud jika khilafah tegak. Oleh karena itu, sembari membela satu ayat yang dinistakan, perjuangan untuk menerapkan ribuan ayat Alquran dalam kehidupan tidak boleh dihentikan, hingga janji Allah SWT untuk memenangkan Islam terwujud, hingga kematian menjemput, hingga kelak di akhirat tak ada rasa takut, dan surga pun siap menyambut. Wallahu a’lam

Tulisan paska 411 yang tak termuat di media lain, ya sudah di sini saja.


Pare, 16 November 2016