Saturday, 4 July 2015

Petunjuk






2 kali tersesat di Kediri, tersesat benar-benar bingung tak tahu arah.
Pertama : dari arah Pare ke Gurah Kantor Pos belok kiri  lurus turus belok kiri tujuan ke smpn 2 Gurah, Alhamdulillah ketemu. Tapi pulangnya sok PD. Tidak kembali balik kanan arah sebaliknya. Terus lurus mengira nanti bisa dapat jalan tembus Adan-adan atau Sambirejo. Terus saja mengikuti jalan besar, tapi lama-lama kok semakin jauh tidak ketemu Adan-adan atau Sambirejo, akhirnya ambil arah belok kiri terus, hanya tahu dua arah saja, kiri dan kanan. Bingung dengan arah mata angin. Semakin lama malah tidak mengenal daerah. Mau kembali ke jalan utama juga sudah tidak hafal lagi. Akhrinya terus saja, lagi-lagi sok PD melihat kiri jalan di pagar tertulis  Kec. Pare, wah agak lega. Terus saja tapi kok ya tetap ga kenal daerah itu, kaget kanan jalan kok tulisannya Kec. Plosoklaten, semakin bingung. Tetap terus, tidak bertanya, tetap sok PD. Akhirnya menyerah juga ketika ada pertigaan, bingung harus ke kiri atau ke kanan. Ada orang di pinggir jalan, sebenernya malu, tapi biar tidak terlihat memalukan nanya arah ke RSUD Pare saja. Biar dikira mau jenguk orang sakit, waktu ditanya rumah mana hanya tersenyum. Btw, itu sudah nyampe Kec Puncu. Kalo lewat jalur menuju ke Wates, masih teringat dulu pernah nyampe sini.

Kedua, tersesat mencari Manisrenggo Kediri bablas sampe Ngadiluwih. Orang asli Kediri, kecil sampai besar tinggal di Kabupaten Kediri, tapi tersesat di Kediri, dan tersesat akibat kesalahan sendiri, sok PD dan malu bertanya. Insya Allah berusaha tidak mengulangi lagi.
                              Jalan bercabang, belok kiri. Sepertinya kalo terus muter lagi arah Pare

Dan 1 Juli kemarin, menuju SMPN 2 Plemahan Pare - Garuda  - Pertigaan Tegowangi dari Selatan. Sudah pernah lewat depan SMP tapi dari arah Ringinpitu, dari arah utara, itu saja juga bingung. Karena melewati sawah-sawah yang tentu penampakannya hampir sama, sulit diingat. SMPN 2 Plemahan juga tidak terlalu jauh dari Candi Tegowangi, dulu juga pernah ke Candi, ngonthel bahkan, tapi lewat jalur dalam, Singgahan –Gebang. 

                             Jalan bercabang, terus lurus. kalo ambi kiri sepertinya ke arah Payaman

Alhamdulillah, lancar tidak tersesat. Sejak awal sudah minta rute, dan berangkat lebih awal. Dan memang tidak sulit menemukan meski jalurnya bercabang . karena setiap cabang jalan ada papan penunjuk UPTD SMPN 2 Plemahan. Tapi nyampe SMPN 2 Plemahan kembali bingung arah mata angin. Sholat kiblatnya kok hadap Selatan ?

Tips mencari tempat yang belum tahu arahnya : bertanya rute secara rinci kepada yang sudah pernah dengan rute yang sama, jika perlu digambar. Paling penting lagi, tidak malu bertanya, meski berulang kali.

Pentingnya Petunjuk

Ketika menuju ke SMPN 2 Plemahan, Alhamdulillah sangat terbantu dengan papan penunjuk arah. Memang tidak terlalu besar, tapi tulisan tetap jelas terbaca. Bentuknya sama, jadi dari kejauhan sudah bias menebak ketika ada jalan bercabang, ow…di depan sudah terlihat tanda panah harus ke mana.
Dan tadi malam peringatan Nuzulul Qur’an. Al-Quran yang mulia adalah firman Allah Swt. Al-Quran diturunkan kepada Rasulullah, Muhammad saw., melalui wahyu yang  dibawa  oleh  Jibril,  baik  lafazh  maupun  maknanya; membacanya merupakan ibadah, sekaligus merupakan mukjizat yang sampai kepada kita secara mutawatir. Insya Allah semua akan sepakat bahwa Al Qur’an berfungsi sebagai penjuk hidup manusia, sebodoh-bodohnya muslim, se-ndableg-ndablegnya muslim insya Allah akan tetap takdzim kepada Al Qur’an. Membacanya adalah ibadah, bahkan pernah dapat ilmu, 3 hal yang melihatnya saja jika lillahi ta’ala bernilai ibadah, melihat al Quran, melihat Kakbah Baitullah dan melihat ulama shalih ( belum tahu dalilnya sich, dapat dari kajian Ahad Pagi).

Dan waktu peringatan kenegaraan, ada salah satu pejabat yang diwawancarai, “ Al Quran itu lengkap, mengatur seluruh aspek kehidupan bla…bla…” pernyataan yang baik. Tapi tidak diakhiri dengan ajakan, “ Ayo bersama kita amalkan seluruh isi Al Quran. Ayo ubah system negeri ini agar hukumnya sesuai dengan Al Quran”. Jadi hanya sebatas pujian omong kosong.

Omong kosong, yang jelas haram saja dibiarkan. Hutang ribawi masih menjadi penopang pengelolaan Negara, ingat jumlah utang Indonesia (baik pemerintah dan swasta), semakin tahun semakin bertambah. Akankah negeri ini berakhir seperti Yunani ?

Omong kosong, al Qur’an mewajibkan kencintaan utama kepada Allah dan Rasulullah. Menaati sabda baginda Rasul, salah satunya terkait pengelolaan sumber daya alam yang terkategori kepemilikan umum. Dengan ringannya pemerintah memanjakan Freeport dan membiarkan menjarah hingga puluhan tahun ke depan, keloyalan kepada pemilik modal, hukum Allah diabaikan

Omong kosong, orang yang paham al Quran akan menepati janji, tapi para pemimpin negeri ini telah mengkhianati janji untuk menyejahterakan bangsa. Sebentar lagi listrik tidak disubsidi, bbm sudah lama dicabut subsidinya, privatisasi sudah siap menanti.

Omong kosong, mau mengamalkan al Quran, maunya milih-milih ayat saja.
Al Baqarah :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالأنْثَى بِالأنْثَى فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ

178. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema'afan dari saudaranya, hendaklah mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah membayar kepada yang memberi ma'af dengan cara yang baik. Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,


كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

216. Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Belum lagi terkait dengan hukum individu. Beribu alasan tak mau menutup aurat, beribu alasan masih terlibat riba, beribu alasan tidak peduli dengan sesama manusia, beribu alasan melupakan akhirat terlena dengan dunia. Naudzubillah mindzalik
Quran Surat Thaha :
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

124. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".

Semoga, Ramadhan ini menjadikan kita lebih baik lagi, bias mencapai tujuan puasa, menjadi orang yang bertaqwa. Sebenar-benar taqwa adalah menerapkan hukum Allah dalam semua aspek kehidupan, namun fakta membuktikan system kapitalisme demokrasi tidak akan pernah memberi tempat pada penerapan Islam secara kaffah. Hanya daulah  islam, khilafah ‘ala minhajinnubuwwah.

Teruslah belajar, mengkaji Islam, hukum terkait Khilafah. Terus mengopinikan khilafah, menyadarkan umat akan kewajiban menegakkan khilafah.

Pare, 4 Juli 2015

Wednesday, 1 July 2015

Apa Kabar Dunia ?




                                                        Muktamar Khilafah 1434 H



Apa Kabar Dunia ?
Ah akhir-akhir  ini sibuk dengan rutinitas melakukan aktivitas itu-itu saja
Sibuk ngurusi rumah, keluarga dan kerja
Tak sempat dan bahkan tak peduli dengan kabar berita
Urusan pribadi saja sudah membuat pusing kepala
Mana sempat mikir masalah yang tejadi di luar sana

Apa Kabar Dunia ?
Ternyata banyak peristiwa mencengangkan terjadi
Heboh pembunuhan kejam anak tak berdosa di Bali
Wakil rakyat ribut menuntut milyaran dana aspirasi
Semakin banyak pejabat yang terjerat kasus korupsi
Tawuran dan bentrok warga sudah jadi berita sehari-hari

Apa Kabar Dunia ?
Rohingya kembali terusir dari negeri sendiri terombang-ambing di lautan
Suhu panas tak hanya melanda India tapi juga menimpa Pakistan
Israel semakin membabi buta menyerang Palestina dalam berbagai kesempatan

Apa Kabar Dunia ?
Amerika nyata meresmikan pengakuan pernikahan sesama jenis
Pejuang HAM dan demokrasi semakin optimis
Kebebasan berperilaku dijamin akan laris manis
Lama-lama tak hanya LGBT yang semakin eksis
Perilaku menyimpang dan kriminal lain akan menuntut hak yang sama persis

Apa Kabar Dunia ?
Wajar saja kabar dunia begitu merana
Sistem Kapitalisme yang langgeng dalam ketiak demokrasi semakin merajalela
Ini demokrasi, kedaulatan membuat hukum ada pada manusia
Ini demokrasi, kebebasan menjadi tonggak utama
Ini demokrasi, kebebasan berbuat sesuka hati, menuruti hawa nafsu sudah biasa
Ini demokrasi, asal semua suka akan dilegalkan Negara
Ini demokrasi, semua bebas berbuat apa saja asal bukan penerapan hukum Allah SWT yang diminta

Mau protes dengan kekejaman dan kebobrokan ini tapi masih mempertahankan demokrasi, hanya akan berakhir sia-sia
Mau berkoar-koar menolak tapi sebatas seruan individu dan perubahan parsial, hanya semakin menguras tenaga
Ini permasalahan sistemik lakukan perubahan sistemik juga, sistem kapitalisme jelas menjadi biangnya
Jangan mempertahankan system buatan manusia ini, gantinya hanya system Khilafah saja
Satu kata, satu perjuangan, satu tujuan. Menerapkan syariat Islam menjadi tujuan bersama

Mengubah dunia jahiliyyah menjadi mulia sebagaimana contoh Rasulullah
Membina umat dengan kekuatan aqidah dan memperkuat tsaqafah
Melakukan pergolakan pemikiran, membongkar makar kaum kafir, mengingatkan penguasa dengan muhasabah
Mencari ilmu, belajar dengan sungguh-sungguh, memahami Islam, meneladani sirah dengan istiqamah halaqah
Kontak, interaksi, mengajak umat,aktivitas bertarget,dengan terus melakukan dakwah
Terus menyadarkan sesama rakyat kecil, menggandeng tokoh umat, mengontak ahlu al quwwah
Mengajak semuanya untuk menerapkan system khilafah ‘ala minhaj an nubuwwah


Pare, 1 Juli 2015

Saturday, 27 June 2015

Tidak Berbeda



Takziyah, ibu salah seorang teman meninggal dunia.

Ngobrol dengan kerabatnya, bercerita ada seorang temannya yang selama ini bekerja di salah satu bank swasta terkenal di negeri ini berencana mengundurkan diri, sudah bersiap alih profesi. Memilih menjadi penjual makanan. Katanya setelah mengenal Hizbut Tahrir tidak mau kerja di bank. 

Bukan pertama kalinya mendengar berita seperti ini, orang-orang yang memilih tidak lagi kerja di bank yang menerapkan system ribawi, setelah berinteraksi dengan teman-teman HT. 

Agak tergelitik dengan pernyataan kerabat teman saya, “ Kenal orang HT jadi ga mau kerja di bank lagi”. Sebenarnya tidak harus kenal atau mengkaji di HT, selama muslim seharusnya juga menjauhkan dari hal-hal yang memang dilarang Islam. Kerja di bank sebenarnya tidak masalah selama aktivitasnya diperbolehkan. Namun, memang sudah menjadi fakta yang tak terelakkan, bank yang ada saat ini lebih banyak yang aktivitasnya ribawi. Dan jelas sekali Al Qur’an dengan tegas mengharamkan riba, “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), “Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba,” padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. [TQS Al Baqarah (2): 275].

Selain itu Rasulullah juga mengingatkan :
“Satu dirham riba yang dimakan seseorang, dan dia mengetahui (bahwa itu adalah riba), maka itu lebih berat daripada enam puluh kali zina”. (HR Ahmad dari Abdullah bin Hanzhalah).

“Riba itu mempunyai 73 pintu, sedang yang paling ringan seperti seorang laki-laki yang menzinai ibunya, dan sejahat-jahatnya riba adalah mengganggu kehormatan seorang muslim”. (HR Ibn Majah).

 “Rasulullah saw melaknat orang memakan riba, yang memberi makan riba, penulisnya, dan dua orang saksinya. Belia bersabda; Mereka semua sama”. (HR Muslim)

Jelas sekali, riba haram. Selama muslim Al Qur’an nya sama dan Nabinya juga sama Nabi Muhammad saw, tentu yang menjadi rujukan sama. Dan seharusnya sikapnya pun juga sama. Tidak harus ngaji di HT, tidak harus kenal dengan HT. 

Cerita lain, dari teman yang audiensi ke salah satu ormas. Ketika menyampaikan latar belakang berdirinya Hizbut Tahrir, yaitu dalam rangka memenuhi seruan Allah dalam surat Ali Imran ayat 104 : Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.

Tanggapan salah satu pengurus dengan nada bercanda, “ Lho itu kan ayat kita”. Ya, iyalah. Semua organisasi dakwah yang berjuang amar makruf nahi munkar pasti mengetahui ayat ini. Sama-sama jamaah dakwah Islam ya sama pula dasar hukumnya.termasuk Hizbut Tahrir.

Ada juga cerita tentang seorang peserta #RapatdanPawaiAkbar Mei kemarin, ketika dibagikan lembar tulisan istighasah. Nyeletuk; “ Lho kok tiru-tiru istighasah yo, dongane podho yo…”.

Memang istighasah – isti’anah, meminta pertolongan kepada Allah SWT seharusnya dilakukan semua muslim, dan doa nya pun maktsurat, wajar jika sama. Lha wong memintanya juga sama-sama kepada Allah SWT, untuk kebaikan tidak ada salahnya tiru-meniru. Selama didasarkan pada ilmu, insya Allah akan menjadi amal shalih.

Ya memang tidak ada yang aneh dengan Hizbut Tahrir, hukum yang disampaikan dan diamalkan adalah hukum Islam. Yang diperjuangkan juga apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw, bukan yang lain. Jadi jika masih ada yang salah paham dengan Hizbut Tahrir, menuduh sesat, menyimpang, mengkhianati perjuangan pahlawan yang syahid, tidak mencintai Indonesia dan tuduhan lainnya, bisa dipastikan orang tersebut belum kenal dan paham sepenuhnya dengan aktivitas Hizbut Tahrir. 

Insya Allah akan selalu menjadi salah satu agenda Hizbut Tahrir, memperkenalkan diri dan menyampaikan ide yang diemban. Siap berinteraksi dengan umat. Karena yang diperjuangkan Hizbut Tahrir adalah hukum Allah, bukan yang lain. 

Pare, 27 Juni 2015

Silakan mengenal HTI di sini

Website : www.hizbut-tahrir.or.id
Youtube : http://www.youtube.com/htiinfokom
Google+ : https://plus.google.com/+HizbuttahrirOrIdOfficial
Facebook : https://www.facebook.com/hizbindonesia
Twitter : https://twitter.com/hizbuttahrirID
Instagram : https://instagram.com/hizbuttahririd


Monday, 22 June 2015

1,5 jam di Terminal Mojokerto




                                              Sumber gbr : syababindonesia.com



16 Juni 2015, 3 – 4.30 pm
Posisi sudah di dalam terminal, menunggu bis jurusan Pare. Satu pun tak ada, bahkan patas pun juga tak masuk terminal. Bis jurusan Pare baru ada setelah 1,5 jam menunggu. Penuh, tidak dapat tempat duduk. Cerita dari penumpang yang sudah naik dari Surabaya, juga nunggu 2 jam. Armada bis Surabaya Pare memang sedikit ditambah dengan volume kendaraan yang sangat padat, jadilah bis sangat terlambat.

Selama di terminal Mojokerto hanya duduk diam dan sedikit ngobrol. Duduk di ruang tunggu penumpang, ada calon penumpang lainnya. Tetapi lebih banyak yang duduk-duduk adalah para pedagang asongan dan pengamen. Pedagang asongannya lebih banyak bapak-bapak, sedangkan pengamennya banyak wanita dengan make up yang cenderung menor. Mendengar obrolan dan guyonan para pedagang dan pengamen.

Sudah sore, pedagang asongan berbagi bis untuk dinaiki pulang, ada yang mengatur pembagian urutan jatah bis. Dalam satu bis tidak boleh ada pedagang yang sejenis, hanya ada 1 pengamen. Mungkin biar tidak saingan dan awak bus membatasi penjual dan pengamen yang ikut numpang gratis. Berhubung jarak kedatangan antar bis lama sepertinya mereka gelisah, berarti mundur juga jadwal kepulangan mereka.

Mendengar obrolan para pengamen, ada satu pengamen laki-laki yang gaulnya dengan pengamen ibu-ibu, tiba-tiba duduk di lantai di depan para ibu. Ada sesuatu di tangannya yang berusaha dibukanya, lotion pemutih wajah, setelah berhasil membuka langsung ambil di telapak tangannya dan mengoles ke wajah, padahal tangannya terlihat kotor, kukunya hitam-hitam. Salah satu ibu menyeletuk “ Gak pantes arek lanang kok nganggo pemutih, wajahmu tambah nggilani lho”. Pengamen laki-laki sepertinya cuek, ambil cermin dan meratakan lotion ke seluruh wajahnya dan sebagian leher. Ada ibu lain yang nimbrung “ Anakku yo tak tukokne koyo ngono”. Hanya membatin “ Lotion mahal, susah-susah ngamen hanya buat beli barang tidak penting”.

Obrolan mereka selama satu jam lebih seputar hasil ngamen dan jualan, mengeluh alat musiknya rusak. Diselingi guyon dan berbicara kotor, saling menggoda, saling mengejek, tangan rangkul sana rangkul sini tidak risih, seolah biasa dengan pergaulan yang tidak layak dilakukan antar non mahram.

Tidak bisa menyalahkan mereka. Perilaku mereka cerminan pemikiran mereka, mereka berpikir apa yang dilakukan sah-sah saja, tidak salah. Dan apa yang mereka lakukan dianggap sudah biasa. Jauh dari perilaku akhlak mulia, jauh dari obrolan bermutu ilmiah dan visioner. Omongannya dangkal tak berarah, ra nggenah blas.

Memang sudah biasa, dalam system kapitalisme. Pikirannya hanya materi, tidak terlalu ambil pusing dengan halal haram yang dikerjakan. Perekonomian yang hanya memihak para pemilik modal, orang miskin harus membanting tulang demi pendapatan yang sedikit namun biaya hidup semakin melambung. Negara hanya berperan sangat sedikit. Fungsi Negara sebagai pengurus urusan umat jauh api dari panggang. Negara hanya regulator, ciri Negara neolib, rakyat dibiarkan dengan permasalahan mereka sendiri, tak memberi solusi menyeluruh. Padahal banyak dari masyarakat yang tak terdidik, tak biasa berpikir kritis dan cemerlang. Seolah hidup hanya untuk mencari sesuap nasi demi keluarga. Sudah titik, tidak mikir jauh ke depan, ke depan hingga akhirat.

Begitulah, masyarakat terbentuk dari individu yang berinteraksi, mempunyai perasaan, pemikiran dan aturan hidup yang sama. Ketika sistem yang melingkupi mereka adalah system kapitalis sekuler individualis materialistis, maka itu pula yang terbentuk dalam masyarakat. Masyarakat kebanyakan hanya mengikuti arus. Apapun perubahannya, mereka ikut saja.

Ya sudahlah, setidaknya kelak ketika perubahan yang terwujud adalah perubahan yang sahih, syar’I mereka juga akan mengikuti dan lama-lama menjadi terbiasa.

Terus saja berusaha melakukan perubahan yang syar’I, perubahan yang telah dicontohkan Rasulullah saw, mengubah masyarakat jahiliyyah menjadi masyarakat mulia. Rasulullah tidak berjuang demi langgenggnya kebatilan, tapi Rasulullah berjuang menghilangkan kebatilan. Kapitalisme itu batil, demokrasi itu ide kufur tak layak dipertahankan, tak layak diperjuangkan. Terus saja meyakinkan bahwa yang layak diterapkan hanya system khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. Khilafah yang dijalankan berdasarkan metode kenabian. Negara yang diatur sebagaimana Rasulullah dan para khulafa’ rasyidin menjalaninya. Terus saja belajar, khilafah tidak hanya 30 tahun saja, khilafah bukan kerajaan, khilafah tidak utopis. Teruslah bersabar menapaki tahapan dakwah Rasulullah saw. Tak perlu mundur karena celaan, terus memperbaiki cara berinteraksi, terus menambah ilmu, sabar dengan ujian.

Perjuangan ini tidak hanya demi diri sendiri yang akan mempertangunggjawabkan amalan sendiri di akhirat kelak, tetapi juga demi umat, mereka berhak hidup dalam system yang mulia, umat berhak hidup dalam rangka  beribadah kepada Allah dalam berbagai aspek kehidupan, umat berhak menyandang gelar umat terbaik. 

Pare, 22 Juni 2015

Wednesday, 17 June 2015

Sama dan Beda ( Jalan dan Alun-alun Jombang – Bangil – Jogja )




Hampir di semua daerah, tidak hanya di Jombang, Bangil dan Jogja letak alun-alun selalu berdekatan dengan masjid, pusat pemerintahan, pasar dan kampung kauman.  Mirip dengan apa yang dicontohkan Rasulullah saw. Sejak hijrah ke Madinah, pertamakali yang dibangun adalah Masjid Nabawi, rumah Rasulullah sebagai kepala Negara juga tidak jauh dari masjid Nabawi. Dan Rasulullah menjalankan roda pemerintahan dengan masjid sebagai pusatnya.

Dahulu pada masa kesultanan Islam alun-alun adalah tanah kosong yang luas, biasa digunakan untuk berbagai kegiatan. Terutama aktivitas yang berkaitan antara hubungan penguasa dan rakyat, tempat rakyat menyalurkan aspirasi, tempat penguasa bertemu rakyat, tempat eksekusi hukuman pelaku criminal dll.Dan sekarang, hampir semua alun-alun jadi taman kota. Penguasanya Cuma butuh suara rakyat pas pemilu saja, habis itu lupa dengan janji saat kampanye, aspirasi rakyat hanya ditampung saja tanpa tindak lanjut yang berarti. Kebijakan pun tak sesuai kehendak mayoritas rakyat, kebijakan hanya menguntungkan segelintir orang yang dulu menjadi penyandang dana kampanye. Ga perlu alun-alun lagi, apalagi di mata pengembang tanah luas pasti tak kan dibiarkan begitu saja. Coba amati sekitar  alun-alun, pasti ada mall, supermarket atau setidaknya minimarket.

Berhubung belum pernah mengunjungi banyak tempat, hanya tahu beberapa tempat saja.

Jombang - Bangil
Sekitar alun-alaun Jombang dan Bangil sepanjang  jalannya dihiasi tulisan asmaul husna, semoga selalu mengingat maknanya. Bukan sekadar hiasan saja. Jombang dan Bangil suasana wilayahnya hampir sama. Banyak ponpes, madrasah dan ma’had. Sama-sama layak mendapat julukan kota Santri, semoga menjadi motivasi untuk tetap mempertahankan perilaku santri yang selalu terikat dengan aturan Allah SWT. 

Jombang – Jogja
Di beberapa ruas jalan utama di Jombang Jogja sama-sama ada tulisan kalimat thayyibah, di Jogja dulu menjumpai di lingkar selatan, menuju terminal Giwangan.

Bangil – Jogja
Jika di Jogja semua nama jalan disertai tulisan huruf Jawa honocoroko, maka nama jalan di Bangil disertai tulisan Arab pego. Di jogja melestarikan tulisan Jawa, di Bangil melestarikan tulisan Arab.

Jadi ingat dengan cerita seorang nenek di majelis taklim, mengaku buta huruf. Bilanganya tidak bisa baca tulis, hanya bisa nulis dan baca Arab pego saja. Jadi menurut pemahaman nenek tersebut jika hanya bisa baca tulis Arab pego masih dikatakan buta huruf, dan dulu tidak ikut sekolah PBH pemberantasan buta huruf. Dulu juga pernah dengar langsung dari seseorang yang pernah menjadi guru PBH, tugasnya adalah mengajar huruf latin. Terjadi pada saat penjajahan Belanda. Jadi Belanda melatih beberapa guru yang kemudian para guru  inilah yang kemudian mengajari masyarakat. Sepertinya baik hati sekali penjajah Belanda, rela mendidik bangsa jajahannya. Iya, baik hati jika Belanda memberi setulus hati, itu jika tetap membiarkan tulisan Arab dipertahankan, meski dengan tambahan yang lain (tulisan latin )  . Tapi ternyata tidak, ada maksud jahat di balik semua taktiknya. PBH hanyalah sarana untuk menjauhkan rakyat Indonesia dari tulisan Arab, bangsa ini mengenal tulisan Arab jauh sebelum Belanda datang. Karena memang sudah menjadi kelebihan Islam, ketika melakukan dakwah dan futuhat berhasil melebur dengan masyarakat. Karena Islam tidak datang untuk menjajah tetapi untuk mengajak masyarakat menjemput hidayah, maka dengan dakwah memahamkan umat dengan Islam meengajarkan Al Qur’an dan bahasa Arab, Islam dengan mudah diterima siapa saja. Dengan penyatuan potensi Islam dan Bahasa Arab,kokohlah posisi Islam.

Kembali pada PBH, atas nama pemberantasan buta huruf, tulisan Arab semakin tidak dikenal bangsa ini. Kemampuan berbahasa Arab dan kebiasaan menulis Arab semakin menurun. Maka kedekatan dan pemahaman terhadap Al Qur’an dan Hadits yang berbahasa Arab semakin jauh. Jika tidak memahami Al Qur’an dan Hadits maka wajar jika akhirnya semakin jauh dari tuntunan Al Qur’an dan Hadits. Dan akhirnya seperti saat ini, umat Islam semakin jauh dari syariat Islam yang jelas berasal dari Allah SWT dan Rasulullah saw.

Berhasillah penjajah Barat, melemahkan umat Islam. Mencengkeram pemikiran umat, mencekoki dengan pemikiran kapitalisme. Jauh dari bahasa Arab, jauh dari Al Qur’an, jauh dari Hadits dan asing dengan syariat Islam. Umat tidak bisa membedakan antara hadlarah-peradaban dengan madaniyah- yang mubah diambil.

Maka jika bangsa ini benar-benar ingin lepas dari penjajahan, harus melepas dan meninggalkan semua pemikiran dan peradaban warisan penjajah. Penjajah dulu yang membawa pemikiran kapitalis sekuler, berhasil ditancapkan kepada rakyat jajahan, hingga saat ini. Ide Negara bangsa – nation state lahir dari pemikiran yang diarahkan Barat. Bukan warisan dan cita-cita para pejuang pengusir penjajah yang ikhlas berjihad demi mempertahankan bumi pertiwi.

Jika mencintai Indonesia tentu tidak akan membiarkan kapitalisme, neoliberalisme, neoimperialisme semakin kokoh bercokol di negeri tercinta ini. Kembali memperjuangkan cita-cita para syuhada yang telah menumpahkan darah demi mengusir penjajah, berjuang semata demi tegaknya hukum Allah, tidak rela kehormatan bangsa ini diinjak  penjajah  .

Ideology kapitalisme hanya akan bisa dilawan dengan ideology juga, tentu bukan ideology social komunis yang kita pilih. Hanya ideology Islam saja satu-satunya pilihan. Dan ideology Islam akan sempurna dalam system Khilafah, menerapkan syariah Islam untuk mewujudkan rahmat bagi seluruh alam, mengayomi semua warga negaranya tak membedakan agama, suku dan bangsa. 



Pare, 17 Juni 2015